Anda di halaman 1dari 23

KERANGKA DASAR

Definisi
Kerangka dasar pemetaan suatu daerah, merupakan syarat mutlak bagi pemetaan, karena
seluruh titik obyek pemetaan diacukan pada posisi titik kerangka dasar. Ini berarti, bila tidak
ada titik kerangka dasar, maka setiap obyek muka bumi berdiri terpisah dengan lainnya
(sendiri-sendiri) tanpa dapat dinyatakan secara bersamaan, karena posisi relatif satu obyek
dengan lainnya tidak ditentukan.
Dengan demikian fungsi kerangka dasar pemetaan, antara lain adalah:

Sebagai acuan/referensi bagi setiap obyek yang dipetakan

Sebagai pemersatu obyek-obyek muka bumi ataupun pemetaan-pemetaan lokal


(masing-masing berdiri sendiri)

Sebagai acuan/referensi dalam:


Pembangunan atau pelaksanaan rencana
Pemetaan kembali daerah
Pemeliharaan hasil konstruksi
Memantau/monitoring obyek muka bumi

KERANGKA DASAR HORIZONTAL


Metoda Poligon

Metoda poligon ini, merupakan metoda yang umum digunakan, di mana pada
bentuknya menyerupai rangkaian metoda Polar. Walaupun demikian, tidak berarti
setiap titik poligon mempunyai parameter azimuth secara langsung. Azimuth setiap
sisi poligon, diwakili oleh sudut-sudut yang dibentuk jurusan/sisi poligon yang
bersangkutan. Azimuth ini baru diperoleh dari hitungan.

A
5
3
1
2

Pada poligon, parameter yang diukur adalah sudut dan jarak, sehingga hal ini yang
membeda-kan metoda poligon ini dari metoda polar. Pada Gambar 18, semua sudut
dan jarak diukur,yaitu 4 (empat) sudut dan 5 (lima) jarak sisi.

Seluruh hitungan poligon, merupakan hitungan yang berangkai, sehingga dituntut


ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena kesalahan yang dilakukan saat awal
akan mempengaruhi hasil hitungan berikutnya.

TEKNIS PELAKSANAAN PENGUKURAN KERANGKA DASAR HORIZONTAL


METODE POLIGON
Kelengkapan Alat
Alat yang harus dibawa ketika melakukan pengukuran kerangka dasar horizontal, antara lain:
a.

ETS 1 buah
Fungsi: untuk mengukur bacaan sudut dan jarak antara ETS dan reflektor.

b.

Statif 3 buah
Fungsi: digunakan untuk tempat berdirinya alat. Dibutuhkan tiga buah untuk
masing-masing ETS dan reflektor.

c.

Reflektor 2 buah
Fungsi: untuk memantulkan laser yang dikeluarkan oleh ETS.

d.

Baterai cadangan 1 buah


Fungsi: untuk berjaga-jaga apabila baterai habis.

e.

Payung 1 buah
Fungsi: untuk melindungi ETS dari paparan sinar matahari.

f.

Papan jalan dan alat tulis 1 buah


Fungsi: untuk membantu dalam mencatat data.

g.

Kalkulator 1 buah
Fungsi: untuk melakukan perhitungan yang diperlukan dalam rangka kontrol
kualitas hasil ukuran.

Persiapan Pengukuran
a.

Centering dan Leveling Alat ETS

a. D
3
i
g. D
D
r
i
i
i
Pilih tiga patok berurutan untuk mendirikan statif. Dimana di titik yang ada rdi
k
r
i
a
tengah atau ititik 2 adalah tempat ETS dan sisanya untuk
tempat berdiri reflektor
k
n
k
(titik 1 dan 3).
a
a
n
s
Pasang ETSndi atas statif kemudian putar sekrup pengunci
pada statif. Ketinggian
t
s
alat disesuaikan dengan pembidik atau pengukur. a
s
t
Angkat dan tgerakkan dua kaki statif sambil melihatttitik patok melalui centering
a
i
t
optik sampaia benang centering mendekati titik patok.
Apabila
benang
centering
f
i
t
sudah mendekati titik patok, tancapkan kembali dua kaki statif yang diangkat
f tadi.
i
s
Atur nivo tabung
dengan cara menaik-turunkan kakie statif. Setelah nivo tabung
f
s
tepat ditengah, atur nivo kotak dengan memutar tigag sekrup A,B,C secara secara
e
i
s
searah dan bersamaan
sampai gelembung udara nivot kotak tepat di tengah g
e
i
i
lingkaran g
t
g
i
i
Kemudian, cek
kembali apakah benang centering optik
a masih tepat berada di atas
t
g
i
titik patok. Apabila
tidak tepat lagi, longgarkan sekrup pengunci ETS dan a
t
g
gerakkan ETS secara perlahan sambil melihat pada ecentering optik sampai benang
t
a
m
centering optik benar-benar tepat berada di atas titikppatok. Bila sudah tepat e
m
a
kencangkantkembali sekrup pengunci ETS
p
e
t
a
Cek apakahmnivo kotak masih di tengah, jika belum lakukan penyesuaian dengan
t
d
kaki statif p
i
a
Cek apakah gelembung nivo tabung berubah atau tidak.
Jika tidak, lakukan d
p
t
i
a
penyesuaian dengan menggunakan kiap seperti sebelumnya
p
s
d
a
Lakukan perulangan langkah diatas untuk mendirikan
a reflektor.
i
s
n
p
a
g
n
a
n
g
s
y
n
a
a
y
n
a
g
a
l
n
a
a
y
l
t
a
a

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

k
u

Menghitung Kesalahan Indeks dan Kolimasi Alat ETS

Lakukan pengecekan salah indeks dan salah kolimasi.


Cara:
1.

Nyalakan ETS, bidik reflektor di titik 1. Set ETS dalam mode pengukuran slope
distance (SD)

2.

Catat bacaan vertikal dan bacaan horizontal (biasa) Putar agar ETS dalam kondisi luar
biasa, catat bacaan vertikal dan horizontal (luar biasa) catat hasil di formulir. Lakukan
repetisi sebanyak tiga kali.

Prosedur Pengukuran
Setelah alat ETS dan reflektor centering levelling, maka selanjutnya dapat dilakukan
pengukuran terhadap target
1. Ukur nilai sudut vertikal, jarak (SD) dan sudut horizontal titik 1 dan 3 dengan
membidik simpul benang reflektor.
2. Pembidikan biasa dilakukan dengan mengarahkan ETS ke simpul benang di reflektor.
3. Pembidikan luar biasa dilakukan dengan memutar kepala ETS sebesar 360 o pada
sumbu horizontal dan memutar kepala ETS sebesar 360 o pada sumbu vertikal.
Usahakan pemutaran dilakukan selalu searah jarum jam, guna menjaga kualitas
sumbu putar ETS.
4. Bidik titik 1 dalam keadaan biasa, catat bacaan SD, vertikal, dan horizontal.
5. Bidik titik 3 dalam keadaan biasa, catat bacaan SD, vertikal, dan horizontal.
6. Bidik titik 3 dalam keadaan luar biasa, catat bacaan SD, vertikal dan horizontal.
7. Bidik titik 1 dalam keadaan luar biasa, catat bacaan SD, vertikal dan horizontal.
8. Teknis pengukuran titik 1 dan 3 akan dijelaskan dalam Ketentuan Teknis Pengukuran
dan Ketentuan Teknis Lapangan.

Ketentuan Teknis Pengukuran


1. Periksa hasil ukuran terhadap toleransi sudut dalam hasil bacaan biasa (Biasa) dan
sudut dalam hasil bacaan luar biasa(Luar Biasa):
Biasa Luar Biasa 20
Jika tidak memenuhi toleransi, maka lakukan pengukuran ulang.

2. Lakukan pengukuran sudut simpul, sudut yang berada di simpul antar seksi
pengukuran dengan alat (ETS dan reflektor) yang sama dan dilakukan oleh setiap
kelompok yang terkait dalam waktu yang bersamaan.
3. Setiap sudut simpul yang didapatkan harus menenuhi toleransi (a+b+c = 3600 10) ;
a, b, dan c adalah sudut simpul. Hasil pengukuran sudut simpul dari setiap kelompok
ini dirata-ratakan untuk mendapatkan sudut simpul rata-rata.

Ketentuan Teknis Lapangan


1. Setiap anggota kelompok harus memakai pakaian yang aman, yang terdiri dari helm,
rompi, dan sepatu tertutup.
2. Setiap kelompok harus menjaga keselamatan alat dan memperhatikan cuaca saat
melakukan praktikum. Alat harus dipayungi apabila cuaca sedang terik, praktikum
harus dihentikan pada saat hujan, alat harus dibersihkan setelah selesai melakukan
praktikum, dan harus ditaruh dengan baik di tempat alat.
3. Pengukuran salah indeks harus dilakukan di tempat praktikum dan dilakukan dua kali
setiap melakukan pengukuran yaitu sebelum memulai praktikum dan sesudah
praktikum.
4. Pengukuran sudut dalam keadaan teropong biasa dan luar biasa. Pada saat melakukan
bidikan dalam keadaan biasa, bidik target yang berada di sebelah kiri, kemudian putar
teropong searah jarum jam dan bidik target yang berada di sebelah kanan. Untuk
mendapatkan kedudukan luar biasa,putar alat 180o (gerakan horizontal) dan
teropong. Bidik target yang berada di sebelah kanan, kemudian putar teropong
berlawanan arah dengan jarum jam dan bidik target yang berada di sebelah kiri.
5. Pengukuran dan pembacaan data untuk KDH (centering, pmbacaan sudut dan jarak)
dilakukan oleh satu orang saja. Hal ini ditujukan untuk menghasilkan data yang
konsisten sehingga nantinya akan mendapatkan hasil pengkuran yang akurat dan
presisi.
6. Pencatatan data dilakukan oleh satu orang saja untuk menjaga keakuratan data.
7. Setelah data dicatat, pengukur diminta mengulangi kembali untuk menyebutkan data
bacaan pengukuran. Hal ini ditujukan untuk menghindari terjadinya kesalahan
pembacaan dan pencatatan data hasil pengukuran.
8. Pengukuran sudut simpul dilakukan dengan alat yang sama dan dilakukan oleh
kelompok yang terkait dengan seksi yang membentuk simpul dalam waktu
pengukuran yang sama. Sehingga, kelompok-kelompok yang terkait membuat jadwal

tertentu untuk melakukan pengukuran sudut simpul bersama-sama. Hal ini ditujukan
untuk menghasilkan data yang akurat dan presisi.
9. Jika terjadi gerimis atau hujan segera payungi alat ETS dan masukkan ETS ke dalam
box begitu pula reflektor. Prioritaskan pemindahan alat ETS karena ETS sangat
sensitif akibat adanya komponen elektronik.

Pengisian Formulir Pengukuran


1. Pengisian formulir pengukuran ditulis dengan menggunakan pulpen / pena
2. Penulisan hasil bacaan (ukuran) disarankan tidak terlalu besar namun terbaca jelas
sehingga tersisa bagian yang kosong untuk mengoreksi hasil ukuran yang salah
dengan hasil ukuran yang benar akibat kesalahan pembacaan ukuran atau kesalahan
penulisan bacaan
3. Koreksi penulisan yang benar cukup dicoret dan diganti dengan angka yang benar
seperti 180010 lalu diganti dengan 180020
4. Sudut bacaan ditulis sampai satuan detik bulat, seperti jika hasil sudut terukur
4402015,02 maka cukup ditulis menjadi 4402015
5. Pada bagian identitas, harus diisi secara lengkap dan jelas
6. Apabila terdapat medan pengukuran yang tidak cukup memungkinkan untuk
melakukan pengukuran (atau kurang yakin dapat melakukan pengukuran pada medan
tersebut), beri tanda berupa keterangan pada daerah tersebut
Buat sketsa kerangka (untuk pengukuran) agar memudahkan analisis data, seperti mengecek
hasil sudut dalam dan sudut luar

PENGOLAHAN DATA
Pengolahan Data Untuk masing-masing Kring (Metode Bowditch)
1. Menghitung salah indeks dan kolimasi alat
Koreksi Salah Indeks (Si)

Untuk sudut zenith:

Salah indeks (si) =

Untuk sudut miring:

Salah indeks (si) =

+ 360
2

2

Koreksi Salah Kolimasi (Sc)


=

+ 180 sin
2


Jika nilai luLB + 180o> luB = + sin dan =
sin

Jika nilai luLB + 180o< luB = sin dan =


+ sin

2. Mengoreksi bacaan vertikal dengan salah indeks dan bacaan horizontal dengan
salah kolimasi
Salah Kolimasi

Salah Indeks

Keterangan:
= Sudut vertikal setelah dikoreksi

= Sudut horizontal setelah dikoreksi

= Sudut vertikal ukuran

= Sudut horizontal ukuran

Salah indeks dan salah kolimasi yang digunakan adalah salah indeks dan kolimasi
rata-rata
3. Menghitung sudut horizontal biasa dan luar biasa serta rata-rata sudut horizontal
=
=

+
2

4. Mengecek hasil pengukuran sesuai spesifikasi teknis pengukuran

Selisih sudut biasa dan luar biasa < 20

Toleransi Sudut Simpul ETS 360 -Ssimpul

< 10

5. Menghitung jarak horizontal (HD) yang diperoleh dari jarak miring (SD)
Untuk sudut vertikal sebagai sudut zenit:
HD = SD sin z
Untuk sudut vertikal sebagai sudut miring:
HD = SD cos m
Sudut vertikal yang digunakan adalah sudut vertikal yang telah dikoreksi dengan
salah indeks.
6. Menghitung salah penutup sudut berdasarkan syarat geometri polygon tertutup
7. Syarat geometrik poligon, khusus untuk bentuk ini, dapat dituliskan sebagai berikut :
0 =

u (m-2).180o F

(untuk sudut dalam)

0 =

u (m+2).180o F

(untuk sudut luar)

, atau :

u (m 2).180o (sudut dalam)

F =
F =

u (m + 2).180o (sudut luar)

8. Menghitung koreksi sudut


K = F
Hitungan azimuth, dilakukan berdasarkan besar sudut yang telah dikoreksi.

i = ui + K
i = sudut di titik i setelah dikoreksi.
uI = sudut ukuran di titik i
Kkoreksi sudut di titik i

9. Menghitung salah penutup absis dan ordinat


10. Besar koreksi untuk setiap beda absis atau beda ordinat adalah:

Kx ij =

Dij

KYij =

Fx

Dij
D

FY

di mana:
KXij ; KYij = koreksi absis / ordinat untuk beda absis/ordinat sisi i-j
i, j

= titik-titik poligon

Dij

= jarak poligon sisi i-j

= jumlah jarak polygon

11.

FY =

Hitung Beda absis dan ordinat (x & y)


Xij = Xiju + Kxij

12.

FX =

Yij = Yiju + KYij

Menghitung koordinat kerangka dasar


Xj = Xi + Xij
Yj = Yi + Yij

Pengolahan Data untuk Seluruh Kring dengan menggunakan Metoda DELL


Hitung perataan metoda DELL, merupakan metoda praktis yang ditujukan untuk
menyederhanakan hitungan perataan, terutama dalam penerapannya di bidang rekayasa yang
dapat mempermudah hitungan.
Persyaratan dalam hitungan perataan Metoda DELL:
1. Jumlah kring jaringan tidak lebih dari 10 kring
2. Sebaiknya jarinngan dinyatakan dalam bentuk sketsa
3. Salah penutup setiapkring dihitung dengan arah hitungan yang sama (sebaiknya
searah jarum jam) dengan menggunakan syarat geometrik jaringan.
4. Dalam setiap kring, sudah harus ditentukan seksi seksi ukuran (seksi ukuran =
ukuran antar titik simpul).
5. Titik simpul jaringan, dapat ditambahkan, untuk seksi yang terlalu panjang (terlalu
banyak datanya)
6. Setiap pertemuan antara 2 buahkring, harus dinyatakan sebagai suatu seksi yang
dinyatakan dalam bentuk titik simpul.
7. Hasil ukuran setiap seksi harus tertulis dengan nilai yang jelas, serta arah ukuran
tersebut (terutama beda tinggi)
8. Setiap seksi, ditulis dengan penamaan sesuai arah hitungan
9. Hitung perataan akan memberikan nilai koreksi untuk setiap seksi
Ketentuan perhitungan Metoda DELL:
1. Hitungan dilakukana searah jarum jam
2. Setiap kring dalam jaringan tersebut dibagi dalam seksi seksi yang dibatasi oleh
pertemuan kring
3. Untuk sudut, bobot titik pertemuan kring/batas seksi adalah dari berat titik lainnya
yang terdapat pada seksi tersebut sehingga koreksi sudut yang terrdapat pada suatu
seksi sama besar kecuali pada titik pertemuan antar seksi diberi koreksi nya.
4. Koreksi pada seksi yang merupakan batas antar kring sama besar tapi mempunyai
tanda yang berbeda
5. Koreksi untuk selisih absis dan ordinat berbanding luruus dengan jarak
6. Jumalah sudut di titik sentral harus tetap 3600.
Langkah Persiapan Metoda DELL
1. Menyatakan hasil ukuran pada sketsa
2. Buat tabel perhitungan

3. Tuliskan nama nama seksi, sesuai dengan arah hitungan. Seksi yang sama pada
kring berbeda, akan dituliskan terbalik
4. Tuliskan panjang seksi ataupun banyak sudut pada seksi tersebut :
-

Untuk hitungan koreksi sudut, hitung jumlah sudut dengan menyatakan sudut
untuk setiap titik simpul

Untuk hitungan koreksi beda absis, beda ordinat atau beda tinggi, dinyatakan
dalam panjang/jarak setiap seksi

5. Hitung jumlah sudut/ jarak untuk seluruh kring


6. Hitung prosentase (%) setiap seksi terhadap kring
7. Tuliskan slah penutup setiap kring
Langkah Umum Hitungan Metoda DELL
Ketentuan umum dalam perataan sudut maupun jarak. Maka dapat diperhatikan butir butir
berikut:
1. Metoda DELL, merupakan cara iterativ (berulang dengan cara serupa), sehingga/
sampai salah penuup setiap kring sebesar 0
2. Pemberian koreksi setiap seksi, disesuaikan dengan prosentase seksi terhadap kring
yang bersangkutan.
3. Perhitungan koreksi setiap seksi, dimulai dari kring dengan nilai salah penutup
terbesar.(tidak memperhatikan tanda salah penutup)
4. Koreksi berlawanan tanda dengan salah penutup
5. Setelah menghitung koreksi seksi setiap kring, periksa seksi yang sama pada kring
lain.
6. Berikan koreksi yang sama tersebut (tanda berlawanan) dengan seksi yang telah
dikoreksi pada kring lain. Hal ini dilakukan untuk setiap iterasi.
7. Hitung kembali salah penutup setiap kring (KSPi), dengan menjumlahkan salah
penutup terakhir dan jumlah koreksi
= 1 + KOi
Dimana: KSPi
KSP-1

= salah penutup iterasi i


= salah penutup iterasi sebelum i

KOi = jumalah koreksi seksi iterasi i


8. Ulangi langkah serupa pada butir 2, sehingga seluruh kring memiliki salah penutup 0
9. Jumlahkan koreksi setiap seksi
10. Jamlahkan koreksi setiap kring

11. Lakukan pemeriksaan:


-

Jumlah koreksi tiap kring = - salah penutup kring tersebut

Seksi yang sama pada kring berbeda, mendapat koreksi dengan nilai sama (tanda
berlawanan)

12. Periksa kembali hitungan bila terdapat perbedaan.


13. Koreksi setiap seksi akan dibagikan untuk setiap bagian titik titik pada seksi yang
bersangkutan dengan cara pemberian koreksi yang telah dibahas pada metoda
metoda pengukuran.
Tahapan hitungan perataan sudut:
1. Menghitung salah penutup sudut tiap kring.
2. Menghitung jumlah sudut dari masing masing seksi
3. Menghitung prosentase seksi dalam setiap kring yaitu jumlah sudut seksi dibagi
jumlah sudut kringnya dikali 100% dengan pembulatan ke bawah pada seksi batas dan
sebaliknya.
4. Menghitung koreksi sudut dimulai dari salah penutup kring yang terbesar nilai atau
angkanya (ingat bahwa koreksi sudut berbanding terbalik terhadap jarak)
5. Mengulangi hitungan, dimulai dari sisa salah penutup yang terbesar nilai atau
angkanya sampai semua sisa salah penutup kring menjadi nol.
6. Menjumlahkan, koreksi dari setiap hitungan
7. Kontrol:
-

Jumlah koreksi seksi setiap kring = - salah penutup kringnya

Koreksi di seksi batas sama besar tapi berbeda tanda

8. Tiap sudut mendapat koreksi sebesar nilai, koreksi sudut seksi tersebut dibagi
banyaknya sudut di seksi tersebut. (ingat bahwa sudut di batas seksi, mendapat nilai
dari setiap seksinya.
9. Melakukan kontrol syarat geometris untuk sudut segibanyak.
Tahapan hitungan perataan absis dan ordinat
1. Menghitung salah penutup absis dan ordinatnya.
2. Menghitung jarak tiap seksi
3. Menghitung prosentase seksi dalam setiap kring yaitu jarak seksi dibagi jarak
kringnya dikali 100% dengan pembulatan ke bawah pada seksi batas dan sebaliknya.
4. Menghitung koreksi absis dan koreksi ordinat dimulai dari salah penutup kring yang
terbesar nilai atau angkanya (ingat bahwa koreksi ini berbanding lurus terhadap jarak)

5. Mengulangi hitungan, dimulai dari sisa salah penutup yang terbesar nilai atau
angkanya, sampai semua sisa salah penutup kring menjadi nol.
6. Menjumlahkan, koreksi dari setiap hitungan
7. Kontrol:
-

Jumlah koreksi seksi setiap kring = - salah penutup kringnya

Koreksi di seksi batas sama besar tapi berbeda tanda

8. Tiap antar titik diberi koreksi sebesar: (jarak antar titik tersebut dibagi jarak seksinya)
dikali koreksi seksi tersebut.
9. Melakukan kontrol syarat geometris poligon tertutup untuk absis dan ordinat.
10. Setelah perhitungan perataan absis dan ordinat selesai, maka akan diperoleh data X
dan Y yang telah terkoreksi untuk setiap titik. Maka koordinat titik titik kerangka
dasar dapat ditentukan.
Tahapan perataan beda tinggi:
1. Menghitung salah penutup beda tinggi
2. Menghitung jarak tiap seksi
3. Menghitung prosentase seksi dalam setiap kring yaitu jarak seksi dibagi jarak
kringnya dikali 100% dengan pembulatan ke bawah pada seksi batas dan sebaliknya.
4. Menghitung koreksi bedda tinggi dimulai dari salah penutup kring yang terbesar nilai
atau angkanya (ingat bahwa koreksi ini berbanding lurus terhadap jarak)
5. Mengulangi hitungan, dimulai dari sisa salah penutup yang terbesar nilai atau
angkanya sampai semua sisa salah penutup kring menjadi nol.
6. Menjumlahkan, koreksi dari setiap hitungan
7. Kontrol:
-

Jumlah koreksi seksi setiap kring = - salah penutup kringnya

Koreksi di seksi batas sama besar tapi berbeda tanda

8. Tiap antar titik diberi koreksi sebesar: (jarak antar titik tersebut dibagi jarak seksinya)
dikali koreksi seksi tersebut.
9. Melakukan kontrol syarat geometris poligon tertutup untuk beda tinggi.

Pengolahan Data untuk Seluruh Kring dengan menggunakan Metoda Least Square
Metoda Kuadrat Terkecil adalah salah satu metoda yang paling popular dalam
menyelesaikan masalah hitung perataan. Aplikasi pertama perataan kuadrat terkecil adalah
dalam hitungan masalah astronomi oleh C. F. Gauss. Keunggulan dari sisi praktis makin
nyata setelah berkembangnya komputer elektronik, formulasi teknik hitungan dalam notasi
matriks, dan hubungannya dengan konsep kuadrat terkecil itu ke statistik.
Model fungsional umum tentang sistem yang akan diamati harus ditentukan terlebih
dahulu sebelum merencanakan pengukuran. Model fungsional ini ditentukan menggunakan
sejumlah variabel (baik parameter maupun pengamatan) dan hubungan diantara mereka.
Selalu ada jumlah minimum variabel bebas yang secara unik menentukan model tersebut.
Sebuah model fisis, bisa saja memiliki beberapa model fungsional yang berlainan, tergantung
dari tujuan pengukuran atau informasi yang diinginkan. Jumlah minimum variabel dapat
ditentukan setelah tujuan pengukuran berhasil ditetapkan, tidak terikat pada jenis pengukuran
yang perlu dilakukan.

Langkah Umum Hitungan Metode Kuadrat Terkecil


1. Metode Kuadrat Terkecil merupakan metode perhitungan untuk mencari nilai koreksi
yang minimum, sehingga dibutuhkan ukuran lebih.
2. Sebelum memulai perhitungan, periksa hasil pengukuran untuk mengetahui apakah
terdapat kesalahan blunder atau tidak sesuai dengan syarat geometris poligon
pengukuran dan jumlah titik pengukuran yang digunakan.
3.

Buat persamaan koreksi V dari tiap hasil pengamatan.

4. Lakukan perhitungan metode least square dalam bentuk matriks dengan formula
=
Dengan V merupakan matriks koreksi, A merupakan matriks koefisien, X merupakan
matriks hasil, dan F merupakan matriks yang berisi data pengukuran
5. Untuk mencari nilai matriks X, gunakan formula =

6. Matrik W merupakan matriks diagonal berisi pembobotan (weight) untuk tiap ukuran
pengamatan. Pembobotan dapat diperoleh dengan

1
2

atau

7. Setelah didapat nilai X, hitung nilai koreksi terhadap hasil pengukuran :


=
8. Hitung nilai pengukuran setelah diberi koreksi dengan formula
=+

9. Lakukan kontrol hitungan untuk perhitungan sudut, jumlah sudut dalam 1 kring =
360o. untuk perhitungan beda tinggi, jumlah beda tinggi dalam 1 kring = 0.

Metode Schreiber
Cara ini disebut juga cara kombinasi karena dalam cara ini digabungan antara cara reiterasi
dan repetisi, Cara ini lebih menguntungkan dipakai dalam pengukuran triangulasi karena arah
yang tidak terlihat dapat dikombinasi dengan arah-arah yang terlihat dengan cara diukur
sudut tunggal.
Ditujukan untuk pengukuran sudut dengan banyak arah/jurusan target > 2, dengan
pengukuran tidak sepenuh lingkaran.
Metode ini dilakukan sebagai berikut :
-

Tiap tiap sudut tunggal diukur masing masing tersendiri.

Tiap tiap arah digabungkan dengan arah arah lainnya sehingga membentuk sudut

Untuk menyempurnakan,Schreiber melaksanakan sebagai berkut:


Dari r arah, tiap- tiap digabungkan denagan (r-1) arah lainnya, menjadi sudut yang jumlah
seluruhnya r(r-1) sudut sudut.
Contoh:
r = 4 maka x 4 x 3 = 6 sudut sehingga dapat diukur dengan repetisi atau reiterasi

KERANGKA DASAR VERTIKAL


Kelengkapan Alat
Alat yang harus dibawa ketika melakukan pengkuran sipatdatar, antara lain:
a. Waterpass/Sipatdatar 1 buah
b. Statif 1 buah
c. Rambu ukur 2 buah
d. Stratpot 2 unit
e. Formulir pengukuran
f. Papan jalan dan alat tulis 1 set
g. Payung
h. Kalkulator
Persiapan Pengukuran
a. Penempatan Alat
1. Dirikan rambu ukur pada dua titik yang akan diukur beda tingginya dengan
menggunakan stratpot.
Seluruh kegiatan pengukuran KDV wajib menggunakan stratpot. Penggunaan stratpot
harus konsisten dan stratpot harus ditancapkan ke dalam tanah sehingga stratpot datar
dengan permukaan tanah. Jika rambu depan menggunakan stratpot maka rambu
belakang juga harus menggunakan stratpot.
2. Letakkan alat sipat datar di antara titik rambu didirikan.
a) Tempatkan pada tempat yang relatif stabil.
b) Tempat alat tidak harus pada garis lurus atau sejajar dari kedua rambu.
c) Tempatkan alat sipat datar sedemikian rupa, sehingga kira-kira jarak ke rambu
belakang dan depan sama.
d) Jika tempat yang akan digunakan berada pada medan yang miring, letakkan 2
kaki statif di bagian yang lebih rendah dan 1 kaki di bagian yang lebih tinggi
3. Setelah alat sipat datar didirikan, atur menggunakan statif terlebih dahulu untuk
menempatkan gelembung nivo mendekati lingkaran tengah.
4. Gunakan bantuan kiap untuk menempatkan gelembung nivo tepat pada lingkaran
tengah.
b. Pembacaan Rambu
Prosedur pembacaan rambu dilakukan dengan membaca bacaan tengah dari rambu
belakang terlebih dahulu, kemudian bacaan atas, dan bacaan bawah. Setelah itu baru
membaca rambu muka dengan urutan pembacaan benang yang sama.

1. Pastikan nilai orde desimeter (dm) pada pembidikan, yaitu nilai yang ditunjukan
dengan angka
2. Tentukan nilai orde centimeter (cm), dengan melihat posisi benang tengah pada kotak
merah ke berapa.
3. Tentukan nilai orde millimeter (mm), dengan memperkirakan posisi benang.
4. Ulangi untuk pembacaan benang atas dan bawah.
5. Lakukan dengan satu kali pembidikan.

Pada contoh di samping:


Untuk benang tengah, Orde desimeter = 14, orde
centimeter = 5 , dan orde millimeter = 5 karena

BA

BT

diperkirakan tepat berada di tengah kotak merah.


Sehingga bacaan untuk benang tengah 1,455 m.

BB

Sedangkan untuk benang atas dan bawah masing masing


memiliki nilai 1,445 m dan 1,465 m.

Fungsi bacaan atas dan bacaan bawah adalah:

Pemeriksaan (checking) Bacaan Tengah


BA + BB = 2 BT

Jarak optis dapat diperoleh dengan adalah


D = 100 x (BA-BB).

BA adalah bacaan benang atas


BB adalah bacaan benang bawah

c. Kesalahan Garis Bidik


Kesalahan yang besar pengaruhnya dalam pengukuran metoda ini adalah kesalahan garis
bidik, yaitu kesalahan akibat dari pendataran garis bidik yang tidak baik.
Besar salah garis bidik, diamati dengan cara sebagai berikut:
Alat ditempatkan condong pada rambu pertama (lihat Gambar 31.), lakukan
pendataran alat
Lakukan pembacaan data, yang terdiri dari BT, BA dan BB ke arah kedua rambu
Pindahkan alat pada tempat II (condong ke rambu kedua), lakukan pendataran alat
Lakukan pembacaan data, yang terdiri dari B, BA dan BB ke arah kedua rambu

C =

(BT1 BT2) (BT1 BT2)


(D1 D2) (D1 D2)

mm
M

(4.9)

di mana:
C = besar kesalahan garis bidik
Di = 100 ( BAi BBi )
i = dudukan i ( 1 ,2I )
Bila C = 1 mm/m, berarti besarnya kesalahan pembacaan BT adalah 1 mm.
untuk jarak alat ke rambu sebesar 1 m. Untuk jarak ke rambu adalah 10 m.,
maka kesalahan pembacaan adalah sebesar 10 mm.
Prosedur Pengukuran
Setelah melakukan penempatan dan pendataran (levelling) alat, langkah-langkah yang harus
dilakukan untuk pengkuran KDV adalah sebagai berikut:
a. Pengukuran dilakukan dengan membidik rambu belakang terlebih dahulu, kemudian
mencatat benang tengah, benang atas, dan benang bawah dalam satu kali pembidikan.
Pembacaan bacaan tengah, atas, dan bawah dilakukan sekaligus dengan mata tetap
melihat ke teropong.
b. Pengukuran dilakukan dengan mengarahkan alat ke rambu depan, kemudian
membidiknya, dan melakukan pencatatan sama seperti sebelumnya.
c. Melakukan double stand, dengan cara memindahkan sedikit posisi alat sipat datar dan
melakukan levelling kembali.
d. Jumlah slag dalam satu seksi harus berrjumlah genap.
e. Pembidikan dilakukan terhadap rambu muka terlebih dahulu, kemudian mencatat benang
tengahnya saja.
4 langkah di atas dilakukan pada setiap slag

f. Pengukuran dilakukan dengan memindahkan semua alat ke posisi pengukuran slag


berikutnya. Untuk alat rambu ukur, gunakan sistem rambu loncat.
Sistem ini dapat memperkecil/menghilangkan pengaruh kesalahan yang bersumber dari
peralatan yaitu salah nol rambu dan perbedaan titik tempat rambu dari titik sebelumnya.
g. Ulangi langkah a s.d. f.

Ketentuan Teknis Pengukuran


a. Jarak rambu dengan alat sipat datar minimal 2,5 m dan maksimal 100 m.
b. Perbedaan jarak maksimum alat sipat datar ke rambu muka maksimum 5% dari jarak alat
sipat datar ke rambu belakang dalam satu slag.
c. Titik garis bidik terendah yaitu minimal 0,2 meter dan maksimal 2,5 meter.
d. Pembacaan ketiga benang diafragma (BA, BT, BB) toleransi kontrol bacaan harus
memenuhi:
|(+)| 2

BT = Bacaan Benang Tengah


BA = Bacaan Benang Atas
BB = Bacaan Benang Bawah
e. Beda tinggi pada stand 1 dan stand 2, toleransi perbedaan yang diperbolehkan harus
memenuhi:
|| 2
BT1 = Beda tinggi yang diperoleh dari pengukuran stand 1
BT2 = Beda tinggi yang diperoleh dari pengukuran stand 2

Jika nilai beda tinggi pada stand 1 dan stand 2 lebih dari 2 mm, membuat stand 3
dengan prosedur yang sama dengan double stand dan hanya dibaca bacaan tengahnya
saja kemudian dipilih 2 bacaan dengan selisih terkecil untuk dirata-ratakan.
f. Pengukuran dilakukan dengan pergi-pulang pada satu hari yang sama, dan toleransi
yang diperbolehkan untuk perbedaan ketinggian antara pengukuran pergi dan
pengukuran pulang harus memenuhi:

d = Jarak pergi atau pulang pengukuran (km)


Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran pergi atau pulang.
g. Perhitungan toleransi pergi dan pulang dilakukan untuk metode yang sama yaitu sipat
datar
h. Toleransi salah penutup untuk satu kring untuk setiap pengukuran pergi dan pengukuran
pulang harus memenuhi:
=
d = Jarak pergi atau pulang pengukuran (km)
Jarak yang digunakan adalah jarak terpendek dari pengukuran pergi atau pulang.

Ketentuan Teknis Lapangan


a. Setiap kelompok harap mematuhi titik awal dilaksanakannya praktikum yang sudah
disepakati dalam briefing sebelum praktikum berlangsung.
b. Untuk pengukuran pada seksi yang dilakukan oleh 2 kelompok, jumlah slag yang
digunakan untuk melakukan pengukuran beda tinggi pada seksi tersebut harus sama.
c. Setiap kelompok diharap memperhatikan durasi praktikum total dalam melaksanakan
praktikum pengukuran KDV secara pergi pulang. Jika durasi sudah menunjukkan
setengah dari durasi total praktikum diharap segera melakukan pengukuran KDV untuk
sesi pulang. Atau dengan kata lain durasi total dibagi menjadi dua untuk melaksanakan
pengukuran KDV sesi pergi dan pulang.
d. Pengukuran kesalahan garis bidik dilakukan dua kali setiap melakukan pengukuran yaitu
sebelum memulai praktikum dan setelah praktikum. Nilai koreksi garis bidik yang akan
digunakan dalam proses perhitungan adalah hasil rata-rata dari kedua pengukuran.
e. Setiap kelompok harap memperhatikan kondisi cuaca saat melakukan pengukuran, jika
langit dirasa mulai mendung diharapkan segera melakukan pengukuran pulang. Jika
sudah terlanjur hujan pengukuran harap dihentikan, jika memungkinkan untuk menunggu
hingga reda kembali silahkan melanjutkan pengukuran ulang, tetapi jika pengukuran
tidak bisa dilanjutkan pengukuran harus diulang dari awal. Tetapi data hasil pengukuran
sebelumnya jangan dihilangkan, dan bisa digunakan sebagai pembanding data praktikum
selanjutnya.
f. Seluruh kegiatan pengukuran KDV harus menggunakan stratpot dengan ketentuan
stratpot ditancapkan di tanah sehingga rata dengan permukaan tanah

g. Setiap rambu harap diletakkan di atas stratpot.


h. Karena rambu tidak dilengkapi dengan nivo maka cara memegang rambu harap
diperhatikan sehingga benar-benar tegak, cara memegang ini diharapkan dengan
menggunakan kedua tangan tanpa menutupi bacaan saat pembidikan pada rambu.
i. Jika cuaca sedang panas dan terik, diharapkan untuk memayungi alat sipat datar yang
digunakan.
j. Pengukuran dan pembacaan data untuk KDV (levelling, pembacaan benang) dilakukan
oleh satu orang saja. Hal ini ditujukan untuk menghasilkan data yang konsisten sehingga
nantinya akan mendapatkan hasil pengkuran yang akurat dan presisi.
k. Pencatatan data dilakukan oleh satu orang saja untuk menjaga keakuratan data.
l. Setelah data dicatat, pengukur diminta mengulangi kembali untuk menyebutkan data
bacaan pengukuran. Hal ini ditujukan untuk menghindari terjadinya kesalahan
pembacaan dan pencatatan data hasil pengukuran.

Pengisian Formulir Pengukuran


a. Untuk semua pengisian formulir, diharapkan ditulis dengan menggunakan bolpoin.
b. Tulisan tidak terlalu besar (masih ada space kosong, sehingga bisa dipakai untukmenulis
ketika terjadi kesalahan pembacaan/penulisan), tidak terlalu kecil, dan jelas untuk dibaca
c. Jika terjadi kesalahan dalam penulisan pada formulir cukup dicoret tanpa
menghilangkannya.
d. Pengisian data pada formulir untuk bacaan tengah, atas, dan bawah serta jarak dan beda
tinggi menggunakan satuan meter.
e. Penulisan data hingga ketelitian mm (3 angka dibelakang koma).
f. Bagian identitas harap diisi dengan lengkap.
g. Jika ada medan yang sulit dan pengukuran tidak yakin, berilah tanda berupa keterangan
pada tempat tersebut.
h. Pembaca rambu diharapkan menggunakan angka yang jelas tanpa menyebutkan jenis
angka ratusan, puluhan atau satuan.
Contoh: 1,580 m dibaca satu koma lima delapan nol.
i. Setiap kelompok diwajibkan membuat sketsa pengukuran dan disertakan dalam formulir
pengukuran.

Pengolahan Data
a. Jarak optis dapat diperoleh dengan

D = 100 x (BA-BB)
b. Beda tinggi
Untuk menyatakan perbedaan tinggi dari slag adalah sebagai berikut:
=
dimana:
= beda tinggi slag
= bacaan benang tengah rambu belakang
= bacaan benang tengah rambu muka
c. Koreksi garis bidik pada beda tinggi slag
Berdasarkan nilai kesalahan garis bidik yang sudah didapatkan dan nilai bedat tinggi
setiap slag, maka untuk koreksi pada beda tinggi slag dapat dituliskan sebagai berikut:

=
.

dimana:
= beda tinggi slag setelah dikoreksi (mm)

= beda tinggi slag ukuran (mm)

= jarak alat ke rambu belakang (m)


= jarak alat ke rambu muka (m)
C = besar salah garis bidik (mm/m)
d. seksi (beda tinggi yang akan ditentukan) dinyatakan sebagai:
=

dimana:
= beda tinggi seksi.
= jumlah beda tinggi slag yang sudah terkoreksi dalam satu seksi tersebut.
e. Hitungan ketinggian titik
Untuk menghitung ketinggian suatu titik dari titik ikat diterapkan persamaan:
= +
dimana:
= ketinggian titik yang akan ditentukan ketinggiannya
= ketinggian titik yang telah diketahui ketinggiannya
= beda tinggi hasil ukuran
f. Hitungan rangkaian seksi dengan koreksi

Apabila pengukuran terdiri dari beberapa seksi yang titik awal dan titik akhirnya berupa
titik ikat maka akan timbul syarat geometri yang harus dipenuhi sebagai berikut:

=
dimana:
= ketinggian titik akhir pengukuran
= ketinggian titik awal pengukuran

= jumlah beda tinggi ukuran tiap seksi

= salah penutup ketinggian


Bentuk kring yang digunakan menyebabkan titik awal pengukuran akan sama dengan
titik

akhir

pengukuran

sehingga: