Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI HEWAN (BI2103)

PENGENALAN MIKROSKOP, BAHASA ANATOMI,


DAN ANATOMI HEWAN INVERTEBRATA
Tanggal Praktikum: 31 Agustus 2016
Tanggal Pengumpulan: 7 September 2016

Disusun oleh:
Nadia Fairuz Aprilia
10615038
Kelompok 10

Asisten:
Kinanti Prestiasani/10613066

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sangat penting untuk mengetahui cara penggunaan mikroskop
karena mikroskop adalah peralatan yang paling sering digunakan dan
sangat bermanfaat di laboratorium. Dengan menggunakan mikroskop bisa
didapat perbesaran jadi memungkinkan untuk melihat organisme ukuran
mikro dan struktur yang tak terlihat dengan mata telanjang. Mikroskop
memungkinkan perbesaran dalam kisaran seratus kali sampai ratusan ribu
kali. (Michael J, 1986)
Bidang pembelahan merupakan hal yang sangat berguna bagi orang
yang bekerja dalam bidang ilmu Biologi. Terutama dalam membuat
laporan dan jurnal bahasa yang digunakan dalam bidang pembelahan
tentunya berbeda dengan bahasa sehari hari supaya tidak terjadi salah
persepsi atau sebagainya dan agar dimengerti oleh orang dari berbagai
negara. Dalam praktikum ini dilakukan pengamatan anatomi internal dan
eksternal pada udang, cumi cumi, jangkrik dan cacing tanah. Keempat
hewan tersebut sudah mewakili anatomi organ hewan invertebrata pada
kelasnya secara umum. Pembelajaran tentang anatomi ini dapat membuat
kita mengetahui dan memilih hewan untuk percobaan tertentu yang
dibutuhkan. Selain itu juga jika hewan tersebut menjadi musuh atau hama,
kita sudah tau cara untuk melawan atau mengatasinya dengan melihat
karakteristik dari hewan tersebut.

1.2

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan cara menggunakan mikroskop cahaya dan mikroskop
bedah
2. Menentukan berbagai nama bagian tubuh manusia di bagian
permukaan (superficial anatomy)
3. Menentukan posisi anatomi dan bidang pembelahan pada hewan
bipedal dan quadripedal
4. Menentukan berbagai jenis tipe rongga tubuh
5. Menentukan morfologi, lokasi dan nama nama organ penyusun pada
hewan invertebrata yang mewakili kelompok Arthropoda (jangkrik),
Crustacea (udang), Oligochaeta (cacing) dan Cephalopoda (cumi).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perbedaan Mikroskop Cahaya dan Mikroskop Stereo


Terdapat dua jenis mikroskop berdasarkan pada penampakan objek
yang diamati, yaitu mikroskop cahaya dan mikroskop bedah / stereo.
Sedangkan menurut sumber cahayanya mikroskop dibedakan menjadi
mikroskop cahaya dan mikroskop elektron (Bima, 2005). Dalam pratikum
ini akan dibahas dua jenis mikroskop, yaitu mikroskop cahaya dan
mikroskop bedah (stereomicroscope). Kedua mikroskop ini menggunakan
cahaya sebagai sumbernya.

2.1.1 Mikroskop Cahaya


Mikroskop ini biasanya dipakai untuk mengamati objek yang
mikro dalam bentuk preparat. Mikroskop cahaya memiliki tiga sistem
lensa yaitu lensa objektif, lensa okuler dan kondensor. Lensa okuler pada
mikroskop ada dua tipe yaitu berbentuk lensa tunggal (monokuler) atau
ganda (binokuler). Objek diterangkan oleh sumber cahaya melalui
kondensor. Kondensor membantuk memfokuskan cahaya pada spesimen.
Selanjutnya bayangan dari spesimen bisa diperbesar oleh lensa objektif
dengan perbesaran yang diinginkan. Setelah itu, hasil dari perbesaran
tersebut dapat diamati melalui lensa okuler (Abramowitz, 2003).
2.1.2 Mikroskop Bedah
Mikroskop ini dipakai untuk mengamati benda-benda yang tidak
terlalu halus, bisa tebal maupun tipis, maupun transparan atau tidak.
Mikroskop ini mempunyai dua sumber cahaya, yaitu lampu atas dan

bawah sesuai dengan kebutuhan dalam penggunaannya. Mikroskop bedah


memliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Memiliki dua lensa objektif dan dua lensa okuler sehingga didapatkan
bayangan tiga dimensi dari pengamatan dua mata.
2. Perbesaran tidak terlalu kuat, tetapi memiliki medan pandang yang luas
dan gerak kerja yang panjang, sehingga benda yang diamatai cukup jauh
dan dapat digunakan untuk pembedahan.(Yudiarti et al., 2004)

Gambar 2.1 Mikroskop Cahaya

Gambar 2.2 Mikroskop Bedah

(https://casweb.ou.edu)

(http://www.hometrainingtools.com)

2.2 Posisi Anatomi dan Bidang Pembelahan


Menurut Palupi (1995), bidang (seksio) tubuh adalah bidang datar
imajiner yang menembus tubuh untuk menunjukkan poin-poin rujukan.
Bidang-bidang tersebut adalah:
a. Bidang sagital, membagi tubuh menjadi bagian kanan dan kiri
-

Bidang midsagital, membagi bagian tubuh kanan dan kiri sama besar.

Bidang parasagital, membagi tubuh menjadi dua bagian (bagian kiri


dankanan) tidak sama besar.

b. Bidang frontal atau koronal adalah salah satu bidang di bagian kanan
bidang sagital. Bagian ini membagi bagian tubuh atau organ menjadi
bagian depan dan belakang.

c. Bidang transversal (horizontal) membagi tubuh menjadi bagian atas dan


bawah.

Gambar 2.3 Bidang Pembelahan Tubuh


(Martini, 2012)
Posisi anatomis tubuh digunakan sebagai rujukan agar hubungan
dengan seluruh bagian tubuh dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bagian anterior dari tubuh (ventral pada binatang) merupakan bagian
depan tubuhatau bagian perut.
2. Posterior adalah bagian belakang (pada binatang disebut dorsal).
3. Superior adalah mengarah ke kepala atau bagian tertinggi.
4. Inferior adalah arah menjauhi kepala dan mengarah ke bagian bawah
tubuh.
5. Lateral mengarah ke samping, menjauhi garis tengah imajiner tubuh.
6. Proksimal mengacu pada bagian suatu struktur yang mendekati garis
tengah dari tubuh.
7. Distal berarti paling jauh dari garis tengah imajiner tubuh atau menjauhi
titik asal.

8. Superfisial berarti setiap bagian manapun yang dekat dengan permukaan


tubuh.
9. Dalam berarti terletak di dalam bagian internal tubuh.

Gambar 2.4 Bagian Tubuh Ditampilkan Dalam Posisi Anatomis


(Martini, 2012)
2.3 Anatomi Hewan Invertebrata
2.3.1 Anatomi Jangkrik
Jangkrik termasuk dalam kelas Insecta dan phylum Arthropoda.
Kelas insekta ini, dapat dibedakan bagian tubuhnya menjadi tiga bagian,
yaitu kepala, thoraks, dan adomen. Insekta berbeda dengan kelas pada
Arthropoda lainnya, ia memiliki tiga pasang kaki dan dua pasang sayap
dibagian thorax. Pada kepalanya, terdapat sepasang antenna dan sepasang
mata majemuk. Pembeda antara jangkrik jantan dan betina adalah pada
betina terdapat ovipositor diabdomennya.

Gambar 2.5 Anatomi Internal dan Eksternal Jangkrik


(Fox, 2001)

2.3.2 Anatomi Udang


Udang termasuk subphylum crustacea dan phylum arthropoda.
Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu cephalothorax
(kepala dan thorax), dan abdomen. Pada kepala udang memiliki sepasang
antena dan sepasang antenula. Udang bernafas dengan menggunakan
insangnya. Udang memiliki 5 pasang kaki sejati dan 5 pasang kaki semu
yang memiiki fungsi tertentu.

Gambar 2.6 Anatomi Eksernal dan Internal Udang


(https://www.ncsu.edu/)
2.3.3 Anatomi Cumi cumi
Cumi-cumi merupakan kelas cephalopoda dan phylum mollusca.
Ciri khas dari cumi-cumi adalah kepala berada dikaki dan kaki berada

dikepala. Pada kepala cumi-cumi terdapat tentakel atau lengan (arm).


Tempurung pada cumi-cumi berevolusi menjadi panjang, tipis, dan
merupakan lembaran protein yang disebut pen.

Gambar 2.7 Anatomi Eksternal dan Internal Cumi-Cumi


(www.csub.edu)
2.3.4. Anatomi Cacing Tanah
Cacing tanah merupakan kelas oligochaeta dan phylum annelida.
Tubuh cacing tanah bersegmen-segmen. Cacing tanah bergerak dengan
gerakan peristaltik. Cacing tanah memilik seta pada setiap segmennya
yang berfungsi sebagai otot. (Pechenik, 1991)

Gambar 2. Anatomi Eksternal dan Internal Cacing Tanah


(http://faculty.sdmiramar.edu)

BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang dipakai dalam praktikum ini terdapat dalam
Tabel 3.1
Tabel 3.1 Alat dan bahan praktikum
Alat
Mikroskop cahaya
Mikroskop bedah
Scalpel
Gunting bedah
Jarum pentul
Jarum jara
Pinset
Baki dan papan styrofoam

Bahan
Jangkrik
Udang
Cumi
Cacing

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Mikroskop Cahaya
Dinyalakan lampu dan gunakan perbesaran lensa objektif terkecil
dulu. Lalu letakkan preparat di atas meja objek dan preparat mulai diamati
dengan

menggunakan

perbesaran

lensa

objektif

terkecil

dahulu.

Diturunkan lensa objektif sampai ke dekat permukaan preparat tersebut.


Dinaikkan lensa objektif pelan-pelan dengan menggerakkan makrometer,
sambil

preparat

menggunakan

diamati.

mikrometer.

Difokuskan
Kemudian

bayangan
dibuka

tersebut

dengan

diafragma

sampai

pembukaan besar, lalu ditutup pelan-pelan sambil preparat diamati. Dibuka


kembali diafragma sampai pembukaan besar, kemudian diperkecil pelanpelan sampai ditemukan bayangan yang paling kontras dari objek.

3.2.2

Mikroskop Stereo / Bedah


Disambungkan ke sumber tegangan lalu dinyalakan sumber
cahaya. Digunakan cahaya dari bawah preparat jika objek berupa preparat
tipis. Jika objek berupa benda padat (cahaya tidak dapat menembusnya),
digunakan cahaya dari atas preparat. Kemudian diletakkan objek
pengamatan di atas papan preparat dan digunakan penjepit untuk menahan
objek. Selanjutnya diatur posisi lensa okuler agar mata dapat mengamati
melalui mikroskop dengan nyaman. Digunakan focus knob untuk
mempertajam gambar hingga objek terlihat fokus. Digeser objek hingga
tampak dalam lingkaran terang jika tidak terlihat apapun.

3.2.3

Prosedur Pembedahan Jangkrik


Diamati anatomi eksternal lalu ditempatkan dengan bagian dorsal
menghadap ke atas. Diutuskan semua kaki dengan diputar atau digunakan
gunting kemudian disisipkan gunting bedah pada segmen terkhir abdomen.
Diotong eksoskeleton dari segmen terakhir abdomen hingga kepala
sepanjang sisi dorsal. Selanjutnya dibuka potongan tersebut dan tahan
dengan jarum pentul hingga anatomi internal jangkrik terlihat. Terakhir
diamati anatomi internal.

3.2.4

Prosedur Pembedahan Udang


Diamati anatomi eksternal lalu ditempatkan dengan bagian dorsal
menghadap ke atas. Disisipkan gunting bedah pada segmen terakhir
abdomen. Kemudian dipotong eksoskeleton dari segmen terakhir abdomen
hingga kepala sepanjang sisi dorsal. Selanjutnya dibuka potongan tersebut
hingga anatomi internal terlihat. Terakhir diamati anatomi internal.

3.2.5

Prosedur Pembedahan Cumi - cumi


Diamati anatomi eksternal lalu ditempatkan di atas papan
styrofoam dengan bagian ventral menghadap ke atas. Dipotong bagian
posterior mantel, yang lebih ventral dari sifon, hingga bagian paling
anterior secara lurus. Lalu dibuka mantel yang telah dipotong dan ditahan
menggunakan jarum pentul hingga anatomi internal terlihat. Kemudian
diamati anatomi internal.

3.2.6

Prosedur Pembedahan Cacing Tanah


Diamati anatomi eksternal lalu ditempatkan di atas papan
styrofoam dengan bagian dorsal menghadap ke atas. Dibuat potongan kecil
pada klitelum, sekitar segemen ke-33. Lalu dari potongan kecil tersebut,
dipotong bagian dorsal hingga segmen ke-1 (anterior). Kemudian dibuka
potongan tersebut dan ditahan menggunakan jarum pentul hingga anatomi
internal terlihat. Diamati anatomi internal.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Berikut adalah hasil pengamatan pembedahan jangkrik, cumi-cumi,
cacing tanah dan udang pada praktikum ini.
Anatomi Eksternal
Jangkrik

Anatomi Internal

Literatur

Gambar 4.2 Anatomi


Internal Jangkrik
(Dokumentasi Pribadi,
Gambar 4.1 Anatomi
Eksternal Jangkrik
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Keterangan Gambar :
1. Cerci
2. Antenna
3. Mata majemuk
4. Femur
5. Tibia
6. Tarsus
7. Head
8. Thorax
9. Abdomen

2016)
Keterangan Gambar :
1. Lambung
2. Gizzard
3. Badan malpighi

Gambar 4.1 Anatomi Eksternal dan


Internal Jangkrik
(Fox, 2001)

10. Palpus
11. Ovipositor
Udang

Gambar 4.4 Anatomi


Eksternal Udang
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Keterangan Gambar :
1. Mata majemuk
2. Antenna
3. Antenula
4. Pereopods
5. Pleopods
6. Telson
7. Uropod
8. Mandibula
9. Cephalothorax
10. Abdomen
11. Rostrum

Gambar 4.5 Anatomi


Internal Udang
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Gambar 4.6 Anatomi Eksternal dan
Keterangan Gambar :
1. Intestine
2. Brain
3. Heart
4. Digestive gland

Internal Udang
(https://www.ncsu.edu/)

Cumi cumi

Gambar 4.7 Anatomi


Eksternal Cumi-cumi
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Keterangan Gambar :
1. Mata

Gambar 4.8 Anatomi


Internal Cumi-cumi
(Dokumentasi Pribadi,
2016)

2. Arm
3. Tentakel

Keterangan Gambar :

4. Mantel

1. Insang

5. Fin

2. Ink sac

6. Siphon

3. Ginjal
4. Cecum
5. Testis
6. Otak

Gambar 4.9 Anatomi Eksternal dan


Internal Cumi-cumi

(www.csub.edu)

Cacing Tanah

Gambar 4.10 Anatomi


Eksternal Cacing Tanah
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Keterangan Gambar :

Gambar 4.11 Anatomi


Internal Cacing Tanah

Gambar 4.12 Anatomi Eksternal

(Dokumentasi Pribadi,

dan Internal Cacing Tanah

2016)

(http://faculty.sdmiramar.edu)

1. Klitelum
2. Prostomiun
3. Anus

Keterangan Gambar :
1. Vesikula seminalis
2. Gizzard
3. Intestine

Berikut adalah hasil pengamatan beberapa jaringan epitel yang


diamati pada praktikum ini:
Perbesara
n dan Jenis

40 kali

100 kali

400 kali

Epitel

Epitel Pipih
Selapis

Gambar 4.13 Epitel

Gambar 4.15 Epitel

Pipih Selapis

Gambar 4.14 Epitel

Pipih Selapis Perbesaran

Perbesaran 40 kali
(Dokumentasi Pribadi,

Pipih Selapis Perbesaran

400 kali
(Dokumentasi Pribadi,

2016)

100 kali
(Dokumentasi Pribadi,

2016)

2016)

Literatur

Gambar 4.16 Epitel

Epitel Pipih

Pipih Selapis

Selapis

Perbesaran 40 kali
pada Paru-paru
(scanning power)
(http://www2.highlands
.edu/)

Gambar 4.17 Epitel

Gambar 4.18 Epitel

Pipih Selapis Perbesaran

Pipih Selapis Perbesaran

100 kali pada Paru-paru

400 kali pada Paru-paru

(low power)
(http://www2.highlands.

(high power)
(http://www2.highlands.

edu/)

edu/)

Epitel
Silindris
Selapis

Gambar 4.21 Epitel

Gambar 4.19 Epitel


Silindris Selapis

Gambar 4.20 Epitel

Silindris Selapis

Perbesaran 40 kali

Silindris Selapis

Perbesaran 400 kali

(Dokumentasi Pribadi,
2016)

Literatur
Epitel
Silindris
Selapis

Gambar 4.22 Epitel


Silindris Selapis
Perbesaran 40 kali
pada Usus (scanning
power)
(http://www2.highland
s.edu/)

Perbesaran 100 kali


(Dokumentasi Pribadi,
2016)

(Dokumentasi Pribadi,
2016)

Gambar 4.23 Epitel

Gambar 4.24 Epitel

Silindris Selapis

Silindris Selapis

Perbesaran 100 kali pada

Perbesaran 400 kali

Usus (low power)


(http://www2.highlands.

pada Usus (high power)


(http://www2.highlands.

edu/)

edu/)

Epitel
Kubus
Selapis

Gambar 4.25 Epitel


Kubus Selapis
Perbesaran 40 kali
(Dokumentasi Pribadi,
2016)

Gambar 4.26 Epitel


Kubus Selapis

Gambar 4.27 Epitel

Perbesaran 100 kali


(Dokumentasi Pribadi,

Kubus Selapis

2016)

Perbesaran 400 kali


(Dokumentasi Pribadi,
2016)

Literatur
Epitel
Kubus
Selapis
Gambar 4.28 Epitel
Kubus Selapis

Gambar 4.29 Epitel

Gambar 4.30 Epitel

Kubus Selapis

Kubus Selapis

Perbesaran 40 kali
pada Ginjal (scanning
power)
(http://www2.highland
s.edu/)

Perbesaran 100 kali pada


Ginjal (low power)
(http://www2.highlands.
edu/)

Perbesaran 400 kali


pada Ginjal (high
power)
(http://www2.highlands.
edu/)

4.2 Pembahasan

Mikroskop cahaya mempunyai lensa objektif sebanyak tiga buah


dengan perbesaran 4x, 10x, dan 100x sehingga perbesaran maksimal yang
bisa ditampilkan oleh mikroskop cahaya yaitu 400x. Sedangkan
mikroskop bedah atau stereo hanya memiliki pembesaran 7 hingga 30 kali.
Untuk objek yang diamati, mikroskop cahaya hanya bisa menampilkan
objek dalam bentuk dua dimensi atau preparat, lain halnya dengan
mikroskop bedah yang memiliki ruang ketajaman lensa jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan mikroskop cahaya sehingga dapat dilihat bentuk tiga
dimensi dari objek tersebut.
Bagian utama pada mikroskop bedah hampir sama dengan
mikroskop cahaya. Lensa terdiri dari lensa okuler dan lensa obyektif.
Lensa obyektif berfungsi untuk membentuk bayangan pertama, lensa ini
menentukan struktur dan bagian mikro yang akan terlihat pada banyangan
akhir. Lensa okuler merupakan lensa mikroskop yang terdapat di bagian
ujung atas tabung yang berdekatan dengan mata pengamat. Lensa ini
berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa
obyektif dan perbesaran bayangan yang dapat terbentuk oleh lensa okuler
berkisar 4 sampai 25 kali.

Pada mikroskop cahaya makrometer digunakan untuk mengatur


jarak lensa dengan meja preparat agar diperoleh bayangan yang jelas
sedangkan mikrometer untuk mengatur fokus bayangan agar hasil gambar
terlihat tajam. Meja dan penjepit preparat menjadi tempat untuk preparat
diamati dan dijepit supaya tidak bergeser. Lalu terdapat diafragma atau
kondensor yang berfungsi untuk mengatur agar cahaya dari sumber terpusat
pada objek yang akan diamati. Ada pula revolver untuk mengatur lensa
perbesaran

yang

akan

digunakan

dan

tabung

atau

badan

yang

menghubungkan lensa okuler dan objektif.

Pada mikroskop stereo atau bedah terdapat eyepiece yang


digunakan untuk melihat bayangan perbesaran objek, fungsi eyepiece ini
sama dengan lensa okuler pada mikroskop cahaya. Lalu terdapat diopter
untuk mengatur perbedaan fokus antara mata kanan dan kiri sehingga
terbentuk bayangan perbesaran yang jelas. Lensa yang memperbesar
bayangan objek yang terbentuk yaitu lensa objektif. Kemudian ada focus
knob yang digunakan untuk menggerakan lensa naik dan turun untuk
mendapat hasil gambar yang diinginkan. Lighting pada mikroskop stereo
atau bedah bisa dari dua sumber maupun satu sumber. Dan terdapat meja
dan penjepit preparat yang sama fungsinya dengan yang terdapat pada
mikroskop cahaya.

Berikut adalah bagian-bagian dari mikroskop cahaya dan


mikroskop bedah:

Mikroskop Cahaya

Mikroskop Bedah

(https://casweb.ou.edu)

(http://www.hometrainingtools.com)

Pada praktikum ini digunakan hewan invertebrata karena mudah untuk


diamati anatomi internal dan eksternalnya. Fungsi fisiologis organ tubuhnya pun
hampir sama dengan manusia dan hewan. Jangkrik, udang, cumi cumi, dan
cacing tanah sudah mewakili anatomi umum dari kelompoknya masing masing.
Jangkrik merupakan serangga yang termasuk dalam filum arthropoda.
Tubuh jangkrik dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kepala, toraks, dan
abdomen. Pada kepala jangkrik terdapat sepasang antena yang digunakan jangkrik
untuk sensor rasa dan bau. Mata majemuk berguna untuk melihat ke segala arah
sedangkan mata tunggal digunakan untuk membedakan intensitas cahaya. Lalu di
bagian kepala terdapat labrum (bibir atas), labium (bibir bawah), mandibula
(gigi), dan organ lain yang berfungsi sebagai lidah yaitu palpus. Pada bagian toraks
atau dada terdapat dua pasang sayap yaitu satu pasang sayap depan (fore wing) dan satu
pasang sayap belakang (hind wing). Lalu ada juga tiga pasang kaki yang menjadi alat
gerak dari jangkrik tersebut. Satu pasang kaki merupakan jumping legs yang

berfungsi untuk melompat jauh dan mengawali posisi terbang. Pada jangkrik
betina terdapat ovipostor dibagian posterior untuk jalan keluar ovum supaya bisa
memindahkan telur saat akan fertilisasi (Pechenik, 1991).

Udang termasuk dalam subfilum crustacea. Tubuh udang dibagi menjadi


dua bagian, yaitu bagian cephalothorax (kepala dan thorax) dan abdomen. Kepala
dan thorax udang dilapisi oleh cangkang kepala atau carapace. Bagian depan
meruncing yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada kepala udang, terdapat
sepasang antenna dan sepasang antenula. Perbedaan antenna dan antenula dari
segi fungsimya adalah antenna merupakan organ perasa karena tidak memiliki
setae chemosensory sedangkan antenula memiliki sensori tersebut. Jadi
memungkinkan udang untuk melacak jejak kimia dengan antenule. Lalu pada
udang terdapat sepasang mata majemuk. Di bagian kepala terdapat sepasang alat

pembantu rahang yaitu maxilliped. Kemudian pada segmen segmen tubuhnya


terdapat lima pasang kaki jalan (pereopoda) dan terdapat lima pasang kaki semu
(pleupod) sebagai aliran pernafasan. Selanjutnya terdapat uropod dan terakhir
telson sebagai ekor. (Pechenik, 1991).
Cumi cumi termasuk dalam kelas cephalopoda. Tubuh cumi-cumi dapat
dibedakan atas kepala , leher, dan badan. Mulutnya berada di tengah-tengah,
dikelilingi oleh tentakel tentakel. Tentakel panjang digunakan untuk menangkap
mangsa dan berenang. Pada setiap tentakel terdapat alat penghisap atau sucker. Di
sisi kiri dan kanan tubuhnya terdapat sirip atau fin yang penting untuk
keseimbangan tubuh. Pada dinding permukaan dorsal cumi cumi memiliki
eksoskeleton yaitu pen yang menopang dan memberi bentuk tubuh. Cumi-cumi
bergerak dengan menggunakan tentakel dan dengan menyemprotkan air dari
rongga mantel yaitu sifon atau funnel sebagai tempat keluar dan masuknya air.
Alat kelamin ada di dekat ujung rongga mantel dekat saluran yang terbuka kearah
corong sifon. Cumi cumi betina menghasilkan telur yang akan dibuahi di dalam
rongga mantel. Kemudian, telur yang sudah dibuahi dibungkus dengan kepsul dari
bahan gelatin. Telur yang menetas menghasilkan cumi-cumi muda berukuran kecil
(Jasin, 1984). Cumi cumi juga memiliki ink sac yang berhubungan dengan
sistem pencernaan. Inc sac menghasilkan cairan tinta hitam yang akan
disemburkan dalam keadaan bahaya untuk menghindar dari musuhnya.
Cacing tanah atau Lumbricus terrestris termasuk dalam kelas oligochaeta.
Cacing tanah memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Cacing
memiliki tubuh yang bersegmen segmen, antara satu segmen dengan segmen
lainya terdapat sekat yang disebut seta yang berfungsi sebagai otot pada alat gerak
cacing. Otot cacing terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang
(longitudinal) (Kimball, 1998). Mulut cacing atau prostomium berfungsi sebagai
saraf perasa, membantu cacing untuk sensor cahaya dan dapat menanggapi
rangsangan dari benda dan lingkungan sekitar. Lalu terdapat bagian yang menebal
pada tubuh cacing yang disebut klitelum. Klitelum adalah tempat telur dideposit

dan aktif membuat kokon (egg capsule). Cacing tanah merupakan hewan
hermafrodit (Pechenik, 1991).

BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum modul pengenalan mikroskop, bahasa


anatomi dan anatomi hewan invertebrata ini adalah :
1. Bagian yang ada pada mikroskop cahaya adalah : lensa okuler, lensa
objektif, makrometer, mikrometer, meja preparat, penjepit preparat,
diafragma atau kondensor, sumber cahaya, revolver lensa, badan atau
tabung, dan lengan mikroskop. Sedangkan pada mikroskop bedah bagian
bagiannya adalah: eyepiece, diopter, lensa objektif, stage, lighting, focus
knob, meja dan penjepit preparat. Cara menggunakan mikroskop cahaya
dan mikroskop stereo dengan mengikuti langkah-langkah seperti yang
tertulis di cara kerja.
2. Berikut adalah bagian dari superficial anatomy tubuh manusia yaitu :
cranial, orbital, nasal, buccal, sternal, axillary, antecubital, antebrachial,
umbilical, volar, pedal, patellar, femoral, inguinal, iliac, brachial,
mammary, pectoral, deltoid, cervical, pariental, occipital, scapular,
lumbar, sacral, gluteal dan perineal.

3. Berikut adalah macam-macam istilah bagi posisi anatomi : superior


(bagian atas, lebih tinggi, mendekati kepala), inferior (bagian bawah,
lebih rendah, menuju kaki), anterior (arah depan tubuh), posterior (bagian
punggung), ventral (bagian perut tubuh), dorsal (bagian punggung),
medial (mendekati daerah sumbu panjang tubuh), lateral (menjauhi sumbu
panjang tubuh), superficial (di permukaan), deep (jauh dari permukaan
tubuh), cranial (bagian kepala), proximal (mendekati daerah pelekatan),

distal (menjauhi daerah pelekatan) dan caudal (bagian ekor). Bidang


pembelahan pada hewan terdapat tiga macam, yaitu: transversal, sagital
(midsagital dan parasagital), dan frontal.
4. Jangkrik mempunyai dua pasang sayap yaitu sayap depan (fore wing) dan
sayap belakang (hind wing), sepasang compound eye, sepasang antenna,
jumping leg dan dua pasang kaki lain, dan ovipositor yang merupakan alat
reproduksi jangkrik betina.
Cacing tanah memiliki prostomium, klitelum dan seta tiap segmennya.
Udang memiliki dua jenis antena yaitu sepasang antenna dan sepasang
antenula, rostrum, lalu pada udang terdapat mata majemuk di kepalanya.
Terdapat juga lima pasang kaki jalan (pereopoda) dan lima pasang kaki
semu (pleupod). Udang mempunyai uropod dan terakhir telson.
Pada cumi-cumi terdapat empat pasang leg, dan sepasang tentakel. Pada
bagian kepalanya terdapat siphon atau funnel dan juga mata. Terdapat pen
didalam tubuhnya sebagai eksoskeleton dan juga fin di samping bagian
ventral cumi-cumi. Cumi-cumi juga memiliki inc sac yang merupakan
alat pertahanan dirinya terhadap musuh.

DAFTAR PUSTAKA

Alan, Hale. 2007. Microscopes.


http://www.celestron.com/c3/images/files/downloads/1211246798_micro
copesinfo.pdf. Diakses pada 5 September 2016
Chapman RF. 1998. The insects, Structure and function, 4 th Edition.
Cambridge Univ. Press, Cambridge. 769 pp.
D.L. Gilbert, W. J. (1990). Squid as Experimental Animals. New York: Plenum
Press.
Fenner A. Chace, Jr. & Donald P. Abbott (1980). "Caridea: the shrimps". In
Robert Hugh Morris, Donald Putnam Abbott & Eugene Clinton Haderlie.
Intertidal Invertebrates of California. Stanford University Press. pp. 567
576.
Fried, George Hademenos.2005.Biologi Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga
Hickman, C.P. 2004. Integrated Principles of Zoology. New York : Mc Graw Hill
Martini, Frederich.H., Nath, Judi.L., dan Bortholomew, E.F. 2012. Fundamentals
of Anatomy and Physiology 9th Edition. San Fransisco : Pearson
Pechenik, J.A. 1991. Biology of The Invertebrates 2nd edition. USA :
Wm.C.Brown Publishers
Siegfried Weisenburger, V. S. (2014). "Light Microscopy: An ongoing
contemporary revolution". 1-37.