Anda di halaman 1dari 11

Kajian Performa Sistem Pemisahan Filtrasi Jenis Plate and Frame: Pengaruh

Tekanan dan Konsentrasi Terhadap Filtrat Yang Dihasilkan


Dr. Eka Sari, ST., MT., Brilliant Pratama Putra, Dian Afianti
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jalan Jenderal Sudirman Km. 3 Cilegon 42435, Banten, Indonesia
ABSTRAK: Filtrasi adalah proses pemisahan partikel zat padat dari fluida dengan jalan
melewatkan fluida tersebut melalui suatu medium penyaring, dapat dikatakan juga sebagai
septum. Tujuan percobaan ini adalah menentukan volume dan waktu filtrasi padatan dalam
fluida dengan medium tertentu dan variasi tertentu. Aplikasinya di dalam industri, contohnya
industri MSG, filtrasi digunakan untuk memisahkan enzim hasil dari mikroba dengan enzim
Bactosoytone yang bersih. Prosedur percobaannya adalah membuat variasi konsentrasi
larutan CaCO3 dengan 20 liter air, mengaduknya di dalam tangki, kemudian diberikan variasi
tekanan pada masing-masing konsentrasi menuju filter plate and frame 2 pasang. Setelah itu
mencatat waktu dan volume filtrat juga massa cake dalam filtrat. Membuat grafik efisiensi,
grafik massa, dan grafik tahanan. Dari hasil percobaan, pada tekanan 1,5 kg/cm 2 dan 3 variasi
konsentrasi CaCO3 adalah hasil terbaik karena menunjukkan hasil yang efektif dan sesuai
teori pada filtrasi, khususnya pada konsentrasi 2% dengan nilai efisiensi air 91,2%; nilai
efisiensi padatan dalam filtrate 2.46%; nilai 0,028x1010 m/kg; dan nilai Rm 3,39x1011 m-1.
Kata kunci: filtrasi, efisiensi, plate and frame

1.

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Proses filtrasi bertujuan memisahkan
padatan dan campuran fase cair dengan
driving force, perbedaan tekanan sehingga
mendorong cairan melewati lapisan
medium filter. Pada umumnya penerapan
teknologi filtrasi pada industri kimia
terutama dilakukan untuk memperbaiki
sifat dan karakteristik fisika dan kimia
cake yang terakumulasi pada medium
filter. Pada umumnya dipisahkan dari
medium cake yang terakumulasi pada
medium filter dengan penambahan aditif
tertentu. Padatan lain yang biasa
ditambahkan adalah filter aid. Tanpa filter
aid terakumulasi cake pada medium filter
sangat sedikit karena terbawa aliran cross
flow yang besar. Aplikasi dari proses
filtrasi ini dapat ditentukan pada salah satu

proses setelah ion exchange dimana resin


yang terbawa akan masuk ke filter,
contohnya pabrik plastik. Dengan adanya
praktikum filtrasi ini, dapat menunjang
ilmu dan mahasiswa yang nantinya akan
berguna ketika berada dalam industri.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah percobaan ini adalah
apa saja factor-faktor yang mempengaruhi
laju filtrasi, bagaimanakah laju fitrasi jika
konsterasi slurry dan tekanan operasi
divariasikan.
1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah mendapatkan
nilai efisiensi terbaik dari beberapa variasi,
nilai , dan nilai Rm serta efisiensi yang
dihasilkan ditinjau dari banyaknya air dan
padatan.
1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup percobaan ini adalah


menggunakan bahan CaCO3 dan air
dengan metode filtrasi plate and frame di
Laboratorium Operasi Teknik Kimia FT.
Untirta
2.

Tinjauan Pustaka

Filtrasi (penyaringan) adalah proses


pemisahan partikel zat padat dari fluida
dengan jalan melewatkan fluida tersebut
melalui suatu medium penyaring dapat
dikatakan juga sebagai septum, dimana zat
padat itu tertahan. Istilah medium
penyaring disebut juga medium berpori
(filter cloth). Dalam operasi filtrasi,
paritkel padatan tersuspensi dlaam cairan
atau gas dihilangkan secara fisika atau
mekanis dengan cara melewatkannya
melalui medium penyaring tersebut. Di
dalam campuran zat cair, partikel-partikel
padat tersuspensi dapat berupa partikel
yang sangat halus (beberapa m, partikel
tegar (rigid) atau plastis, berbentuk bulat
atau beragam dan partikel agregat atau
individual (diskrit). Filter medium
(medium penyaring) adalh bahan padat
berpori yang berfungsi menahan partikelpartikel padatan berukuran lebih besar dan
meloloskan partikel padat berukuran lebih
kecil dari diameter porinya bersama-sama
dengan cairan. Beberapa filter medium
yang sering digunakan antara lain seperti
nilon, dacron cloth, kawat baja gulungan
tahan karat berbentuk coil, kain kasa, dan
lain-lain.
Dalam industri, filtrasi ini meliptui
beragam operasi mulai dari penapisan
sederhana sampai separasi yang amat
rumit. Fluidanya mungkin berupa zat cair
atau gas, arus yang berharga mungkin
fluidanya, tetapi bisa pula zat padatnya,
atau bahkan kedua-duanya. Terkadang
tidak ada di antara keduanya yang
berharga, seperti limbah padat yang harus
dipisahkan dari limbah cair sebelum
dibuang.
Dalam
filtrasi
industri,

kandungan zat padat dapat mencapai


jumlah yang sangat tinggi. Kadang-kadang
umpan
itu
dimodifikasi
dengan
pemanasan, rekristalisasi, atau dengan
menambah bahan penolong filtrasi (filter
aid) seperti, selulosa, kapur giling atau
tanah diatomea. Selain dapat membantu
melencarkan proses penyaringan atau
meningkatkan laju filtrasi, filter aid juga
dapat mempertinggi umur (life time)
medium filter dan menghilangkan zat
warna dan bau yang terdapat dalam cairan.
Fluida mengalir melalui medium
filter oleh karena adanya perbedaan
tekanan yng melintas pada medium. Oleh
karena itu, ada filter yang beroperasi pada
tekanan yang lebih tinggi dari tekanan
atomsfer di sebelah hulu medium filter da
nada yang vakum di sebelah hilir. Tekanan
di atas tekanan atmosfer dapat disebabkan
oleh gaya gravitasi yang bekerja pada
suatu kolom zat cair, oleh pompa atau
blower, atau oleh gaya sentrifugal.
Kebanyakan filter industri adalah
filter tekanan atau filter vakum. Alat itu
ada yang kontinu ada pula yng nonkontinu,
bergantung
pada
cara
mengeluarkan zat padatnya, steady atau
terputus-putus. Pada filter tak kontinu,
aliran zat cair yang melalui piranti iru
adalah kontinu pada sebagian besar
siklusnya, tetapi aliran itu harus diputusputuskan
secara
periodik
guna
memungkinkanzat padat yang terkumpul
itu dikeluarkan. Dalam filter kontinu,
pengeluaran zat padat maupun zat cair
berlangsung secara kontinu tanpa terputusputus selama alat itu beroperasi.
Filter
dapat
dikelompokkan
menjadi 2 golongan, yang pertama adalah
filter klarifikasi (clarifying filter) dan filter
ampas (cake filter).
1. Filter klarifikasi
Filter ini dikenal juga sebagai filter
hamparan tebal (deep bed filter),

karena partikel-partikel zat padat


diperangkap di dalam medium
filter ini dan biasanya tidak ada
lapisan zat padat yang terlihat dari
permukaan medium. Filter ini
biasanya
digunakan
untuk
memisahkan zat padat yang
kuantitasnya
kecil
dan
menghasilkan gas yang bersih atau
zat cair yang bening, seperti
minuman. Klarifikasi berbeda
dengan penapisan karena pori
medium filter ini jauh lebih besar
dari partikel, harus dipisahkan
partikel-partikel itu ditangkap oleh
gaya-gaya permukaan dan dibuat
tidak bisa bergerak di dalam
saluran aliran dan walaupun
mengakibatkan diameter efektif
saluran itu menjadi lebih kecil,
namun biasanya tidak samapai
menyebabkan saluran itu buntu.
2. Filter ampas
Filter ampas digunakan untuk
memisahkan zat padat yang
kuantitasnya besar dalam bentuk
ampas atau kristal ataupun lumpur.
Biasanya filter ini diperlengkapi
untuk pencucian zat padat dan
untuk mengeluarkan sebanyaksebanyaknya sisa zat cair dari zat
padat itu sebelum zat padat itu
dikeluarkan dari filter. Medium
filter pada filter ini relative lebih
tipis dibandingkan dengan yang
digunakan dalam medium filter
klarifikasi. Pada awal filtrasi ini
sebagian partikel padat masuk ke
dalam pori medium dan tidak dapat
bergerak lagi, tetapi segera setelah
itu bahan itu terkumpul pada
permukaan septum. Setelah periode
pendahuluan yang berlangsung
beberapa saat itu, zat padat itulah
yang melakukan filtrasi. Bukan
septum lagi. Ampas itu terlihat
mengumpul sampai ketebalan

tertentu pada permukaan itu dan


harus sewaktu-waktu dikeluarkan.
Untuk memaksa cairan melewati medium
diperlukan gaya pendoong dalam bentuk:
1. Gaya berat (filtrasi gravitasi)
Penyaring gravitasi umum dalam
pengolahan
air
dimana
suatu
penyaring pasir digunakan untuk
menjernihkan air sebelum deionisasi
dan destilasi. Medium penyaring dapat
terdiri atas lapisan pasir atau cake bed,
atau untuk tujuan-tujuan khusus, suatu
komposisi yang mengandung asbes,
serat-serat selulosa, arang aktif, tanah
diatome, atau pemabntu penyaring
lain. Pemurnian ai dalam skala suatu
medium penyaring dalam bentuk
lilin-lilin berlubang. Cairan masuk
dari sisi luar melalui keramik berpori
ke dalam bagian lilin yang berlubang
(kosong). Filter ini tersusun atas
tangki-tangki yang bagian bawahnya
berlubang-lubang dan diisi dengan
pasir-pasir berpori dimana fluida
mengalir secara laminar. Filter ini
digunakan untuk proses fluida dengan
kuantitas besar dan mengandung
sedikit padatan. Hal yang ahrus
diperhatikan dalam filter gravitasi,
bongkahan-bongkahan kasar (batu
atau kerikil) diletakkan bagian atas
balok berpori (cake) untuk menahan
materiateri kecil yang ada di
atasnya (pasir, dll.). Materi yang
berbeda ukurannya harus diletakkan
dengan membentuk lapisan-lapisan
sehingga dapat bercamput dan ukuran
untuk setiap materi harusnya sama
untuk menyediakan pori-pori dan
kemampuan yang maksimal.
2.

Penyaring vakum
Filtrasi vakum adalah teknik untuk
memisahkan produk yang solid dari
campuran reaksi pelarut atau cair.
Campuran padat dan cair dituangkan

3.

melalui kertas filter dalam corong


Buchner. Padatan yang terperangkap
oleh filter dan cairan tersebut ditarik
melalui corong ke dalam labu dengan
raung hampa. Proses pemisahan
dengan teknik ini sangat tepat
dilakukan, jika jumlah partikel
padatnya lebih besar dibandingkan
cairannya. Penyaring vakum dipakai
untuk suatu ukuran, jarang digunakan
untuk pengumpulan endapan-endapan
kristal atau penyaring steril. Penyaring
vakum kontinu dapat menangani
beban kotoran yang tinggi dan pada
suatu basis volume, dalam hal biaya
cairan yang disaring per gallon murah.
Dalam mengerjakan system penyaring
drum kontinu, vakum dipakai untuk
drum (tong) tersebut, dan cairan
mengalir melalui lejur kontinu. Zat
padar dikumpulkan pada akhir lajur
tersebut.
Penyaring tekanan
Tekanan penyaring kerangka dan
penyaring lempeng merupakan yang
paling sederhana dan paling banyak
digunakan. Filter ini terdiri dari
seperangkat
lempengan
yang
dirancang untuk memberi sederetan
kompartemen untuk pengumpulan zat
padat. Lempengan tersebut ditutup
dengan medium filter seperti kanvas.
Slurry umpan masuk ke dalam
masing-masing
lempengan
dan
medium filternya dengan tekanan,
cairannya lewat melalui kanvas dan
keluar melalui pipa keluaran dan
meninggalkan zat padat basah di
antara
lempengan
tersebut.
Lempengan press yang digunakan ada
yang berbentuk bujur sangkar atau
lingkaran, ada yang terletak vertical
dan horizontal. Tetapi umumnya
lempengan untuk zat padat itu
dirancang dengan membuat tekukan
pada permukaan lempeng, atau dalam
bentuk plate dan frame. Lempengan

dan bingkai itu didudukkan secara


vertical pad arak logam dengan
medium filter dipasang menutupi
setiap bingkai dan dirapatkan dengan
bantuan sekrup dan rem hidraulik.
Bubur umpan masuk pada satu ujung
rakitan lempeng dan bingkai tersebut.
Slurry mengalir melalui saluran yang
terpasang memanjang pada salah satu
sudut rakitan, dari sudut tersebut
melalui saluran tambahan mengalr ke
dalam masing-masing. Di sini zat
padat itu diendapkan di atas
permukaan pelat. Cairan mengalir
menembus kain filter, melalui alur
atau gelombang pada permukaan
lempeng, sampai keluar press filter.
Sesudah filter itu dirakit, slurry
dimasukkan dari pompa atau tangki
pendorong pada tekanan 3-10 atm.
Filtrasi lalu diteruskan sampai tidak
ada lagi zat cair yang keluar dan
tekanan filtrasi naik secara signifikan.
Hal ini terjadi bila bingkai sudah
penuh dengan zat padat sehingga
slurry tidak dapat masuk lagi. Filter
itu disebut jammed. Setelah itu, cairan
pencuci dapat dialirkan untuk
membersihkan zaat padat dari bahanbahan pengotor yang dapat larut. Cake
tersebut kemudian ditutup dengna uap
atau udara untuk membuang sisa zat
cair. Jika cake terlalu rapat, sebagian
besar cairan pencuci tidak efektig
membersihkan cake. Jika diinginkan
pencucian sampai benar-benar bersih,
biasanya dibuat slurry lagi dengan
cake yang belum tercuci sempurna.
Hukum Darcy menghubungkan
laju partikel padatan melalui lapisan
berpori dengan pressure drop yang
menyebabkan aliran tersebut.

Dimana,
v = laju alir padatan dalam campuran
cairannya
k = konstanta proporsionalitas (konstanta
permeabilitas Darcy)
P = pressure drop melalui kedua pelat
L = ketebalan pelat
= viskositas cairan
hanya berlaku saat kondisi:
Faktor-faktor yang mempengaruhi
hasil filtrasi:
1. Ketebalan lapisan media filter
Semakin tebal lapisan media filter,
maka luas permukaan penahan
partikel semakin besar dan jarak yang
ditempuh air semakin panjang.
2. Suhu air
Pengaruh suhu terhadap kekentalan
dan reaksi
3. Kecepatan filtrasi
Kecepatan aliran akan mempengaruhi
prose penahan mekanisme terhadap
bahan-bahan tersuspensi
4. Kualitas air
Semakin rendah kualitas air yang akan
di filter, maka akan semakin
memerlukan
pengolahan
yang
kompleks.
Fungsi alat filtrasi:
1. Proses pemisahan zat padat atau zat
padat halus, baik yang tersuspensi
maupun koloid dari fluida dengan
menggunakan media berpori
2. Removal
terhadap
zat
padat,
kandungan bakteri, menghilangkan
warna, rasa, bau, besi, dan mangan
Pada filtrasi dengan media berbutir,
terdapat mekanisme filtrasi sebagai
berikut.
1. Penyaring mekanis
2. Sedimentasi
3. Adsorpsi atau gaya elektromagnetik
4. Koagulasi dalam filter bed
5. Aktivitas biologis
Salah satu filter udara adalah HEPA
(High Efficiency Particulate Arresting).
HEPA dapat menyaring 99,3% partikel
yang berukuran lebih besar dari 0,3

mikrometer di udara. Terbuat dari lapisan


filter berpori.
Adapula komposit berpori yang dapat
dibuat bahan yang mudah didapat seperti
menggunakan
campuran
cult
dan
polyethylene glycol. Komposit berpori ini
bertindak sebagai filter spesifik, sehingga
hanya molekul-molekul tertentu saja yang
dapat melewati filter.
Saat ini aliran air diinduksikan oleh
beda potensial listrik dan tidak dibatasi
oleh ukuran pori dalam pemisahan air
dalam lumpur (slurry) dengan efisiensi
yang baik, dinamakan Electrodewatering
(EDW).
3.

Metode Percobaan

3.1 Diagram Alir


3.1.1 Persiapan alat
Memastkan tangki
pencampur tidak bertekanan

Memastikan kain penyaring


plate dan frame terpasang

Mengeratkan rangkaian sel


penyaring

Menutup kerangan dan masukkan


suspensi
G

Mengatur motor pengaduk


Gambar 1. Persiapan alat
3.1.2 Pelaksanaan percobaan
Memasukkan air dan CaCO3
ke dalam tangki

Mengaduk suspensi hingga


homogen
Membuka valve masukan
suspensi setelah tekanan sesuai
Mencatat waktu dan volume
filtrate yang ditampung
Mengaduk seluruh volume filtrat

Mengambil 200 mL sampel


filtrat
Gambar 2. Pelaksanaan percobaan
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan
filtrasi ini antara lain:
a) Tangki pencampur
b) Motor pengaduk
c) Plate dan Frame
d) Penampung filtrate
e) Gelas ukur
f) Gelas beker
g) Kertas saring
h) Spatula
i) Neraca analitik
j) Pompa vakum

3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam
percobaan filtrasi adalah air dan CaCO3.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Persiapan alat
Memastikan tangki pencampur tidak
bertekanan memastikan, memastikan
bahwa valve udara dalam posisi tertutup.

Memastikan kain penyaring pelat dan


frame telah terpasang dengan benar,
memperhaitkan lubang-lubang saluran
suspense dan filtrate jangan sampai
terbaik. Mengeratkan rangkaian sel
penyaring
dengan
mengencangkan
himpitan yang diberikan. Menutup valve
dan menaikkan suspense, mengatur motor
pengaduk
pada
kedudukan
yang
diinginkan.
3.3.2 Pelaksanaan percobaan
Membuat suspensi CaCO3 dan air
sebanyak 20 liter. Memasukkan suspensi
ke dalam tangki pencampur dab menutup
dengan rapat menyalakan motor pengaduk
agar suspensi homogeny, membuka valve
udara sampai sesuai. Membuka valve
suspense, mencatat waktu dan volume
filtrate yang ditampung sampai filtrasi
tidak ada yang keluar selama penyaringan.
Memastikan motor pengaduk dan
membongkar rangkaian plate dan frame.
Mengaduk seluruh filtrate yang diperoleh,
kemudian mengambil sampel 200 mL
kemudian disaring. Hasil penyaring
kemudian dikeringkan lalu menimbang
hasil cake dalam filtrat.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel percobaan ini antara lain volume
filtrat sebagai variabel terikat, tekanan dan
konsentrasi suspense sebagai variabel
bebasnya.

3.5 Gambar Alat

Gambar 3. Rangkaian alat filtrasi


4. Pembahasan
Percobaan filtrasi dengan 2 pasang plate
dan frame ini memakai bahan yaitu air dan
padata berupa CaCO3. Dimana tujuan
filtrasi ini menyaring padatan tersebut.
Grafik-grafik di bawah diperoleh dan hasil
pengambilan data selama percobaan.
Pengambilan data dilakukan dengan
mencatat waktu pada setiap 1 liter filtrate
yang dihasilkan. Data-data tersebut
diperoleh dalam 12 kali percobaan dengan
variasi berbeda, yaitu variasi tekanan 1;
1,5; 1,75; dan 2 kg/cm2 dengan konsentrasi
1%; 1,5%; dan 2%. Setiap percobaan
menghasilkan kurva yang berbeda akibat
variasi tadi. Masing-masing kurva
menampilkan trendline dimana sebuah
garis lurus (linear) ax + b dan dijadikan
sebagai data baru dalam menentukan
tahanan cake maupun tahanan media filter.

Gambar 6. Grafik t/V vs V konsentrasi 2%


Pada ketiga gambar umumnya
menunjukkan garis lurus ke atas, hal ini
membuktikan
bahwa
waktu
yang
diperlikan untuk menghasilkan filtrate
dengan volume tertentu akan semakin
lama. Hal ini disebabkan karena cake yang
terbentuk pada permukaan media filter dan
menjadi tahanan (filter) bagi cake
berikutnya menghalangi jalan masuk air
melalui filter.
Hubungan tahanan cake () dan
tahanan media filter (Rm) dngan besarnya
perubahan tekanan adalah berbanding
lurus, dibuktikan dengan rumus:

Gambar 4. Grafik t/V vs V konsentrasi 1%

Gambar 5. Grafik t/V vs V konsentrasi


1,5%

Gambar 7. Grafik vs tekanan

Gambar 8. Grafik Rm vs tekanan


Oleh karena itu, semakin besar perubahan
tekanan akan memperbesar tahanan cake
maupun media filter. Pada Gambar 5
ditunjukkan bahwa trendline tekanan 1
kg/cm2 berada di atas tiga variasi tekanan
lainnya. Hal ini disebabkan laju alair slurry
yang rendah dan membuat laju filtrasi
semakin lama, sehingga hasil t/V menjadi
semakin besar. Pada percobaan peruabahan
tekanan, kurva dan Rm naik-turun.
Faktor penyebabnya antara lain:
1. Sulitnya mempertahankan beda
tekanan agar slurry konstan
2. Masih banyak padatan yang
tertahan dalam tangki berpengaduk
3. Cepatnya pengendapan cake saat
adanya
perubahan
tekanan,
sehingga terdapar menunjukkan hal
tersebut
Apabila dilakukan dalam kondisi
konsentrasi berbeda, perubahan dan Rm
tidak berbanding lurus dengan peningkatan
konsentrasi slurry, justru berbanding
terbalik. Menurut rumus:
Cs = Cs ( +mCs)
yang menyatakan bahwa konsentrasi cake
di filtrate (Cs) berbanding lurus dengan
fraksi konsentrasi di umpan (Cx), maka
dengan rumus:

tahanan cake () semakin kecil maka hal


itu dikarenakan konsentrasi yang semakin
besar.

Gambar 9. Grafik vs konsentrasi

Gambar 10. Grafik Rm vs konsentrasi


Selain itu, pengaruh besarnya
konsentrasi akan memperbesar viskositas
slurry itu sendiri dan menghambat laju alir
slurry. Sehingga ketika operasi filtrasi
berlangsung, slurry yang tertahan oleh
cake dan media filter tidak memberi beban
besar dan nilai dan Rm pun menjadi
turun. Ditunjukkan dalam Gambar 9 dan
Gambar 10 dimana kurva variasi
cenderung turun. Kurva yang mendekati
baik adalah saat perubahan konsentrasi
dengan tekanan 1,5 kg/cm2 dan saat
perubahan tekanan dengan konsentrasi
1,5% karena hampir sesuai teori, yaitu
mengalami perubahan tahanan sesuai
perubahan variasi yang
dijelaskan
sebelumnya. Naik-turunnya kurva pada
Gambar 9 dan 10 disebabkan oleh faktor
yang sama pada Gambar 7 dan 8.
Faktor-faktor penyebab dan tidak
stabilnya
data
yang
diperoleh
mempengaruhi efisiensi filtrasi. Efisiensi
filtrasi didapatkan dengan 2 sudut
pandang, efisiensi padatan dan efisiensi
air. Efisiensi padatan adalah rasio massa
padatan yang dihasilkan atau berada di
filtrat dengan massa padatan di umpan
yang dilarutkan dalam 20 liter air.

Sedangkan efisiensi air adalah rasio air di


dalam filtrate dengan air yang dimasukkan
sebagai umpan yaitu 20 liter namun
ditinjau dari massanya. Dari 12 kali
percobaan, efisiensi filtrasi yang baik
adalah ketika tekanan 1,5 kg/cm2 pada
bebrapa konsentrasi yang divariasikan.
Hasilnya ditunjukkan dalam Gambar 11
dimana air yang dihasilkan 80-90%,
sedangkan padatan CaCO3 dalam filtrat
10%. Selain dilihat dari hasil filtrasinya,
jika ditinjau dari daya mesinnya yang
digunakan dengan tekanan 1,5 kg/cm2
akan menghemat biaya dibandingkan
dioperasikan pada tekanan 1,75 atau 2
kg/cm2. Jadi waktu filtrasi pun cukup cepat
dan apabila tekanan operasinya diperkecil
menjadi 1 kg/cm2, waktu yang dibutuhkan
untk proses filtrasi menjadi lama meskipun
biaya tenaga mesin murah.

Gambar 11. Grafik efisiensi vs konsentrasi


Di grafik, kurva efisiensi air naik
seiring
bertambahnya
konsentrasi
disebabkan karena naiknya konsentrasi
padatan di umpan membuat tahanan cake
(ampas) membesar sehingga filter cake
yang bertugas menyaring cake berikutnya
jadi semakin rapat dan efekif. Rapatnya
tahanan cake di permukaan filter membuat
cake di belakangnya sulit melalui media
filter dan hal itu pula membuat air
melewatinya dengan jumlah banyak.
Sedangkan kurva efisiensi padatannya
menurun dikarenakan hanya bersisa sedikit
cake dalam filtrate akibat banyaknya cake
yang tertahan/tersaring pada filter.
Terutama pada saat konsetrasi 2% dimana
air yang berhasil melalui/melewati media

filter sebanyak 91,20% dari umpannya dan


padatan yang tersaring adalah sebesar
97.5395%.
Data massa padatan dan massa air
dalam filtrat hasil filtrate dimuat dalam
gambar-gambar
grafik
yang
telah
disesuaikan dengan variasinya.
Pada grafik membahas hubungan
antara massa padatan dari cake filter dan
konsentrasi serta ditinjau dan tekanan yang
diberikan. Dimana hubungan ini ditinjau
dari rumus:

cake filtrate atau massa padatan ditinjau


dari Cs, tekanan ditinjau dari P.
Sedangkan konsentrasi ditinjau dari nilai
, dimana akan berbanding terbalik
dengan konsentrasi. Maka semakin besar
, semakin kecil konsentrasinya dan begitu
pula sebaliknya. Jadi dari pernyataan
tersebut,
kita
meninjau
hubungan
konsentrasi dan massa padatan. Dimana
semakin besar konsentrasi, maka padatan
akan semakin kecil. Hal tersebut didapat
pada grafik yang memiliki kurva pada
padatan tekanan 1 kg/cm2. Dimana kurva
padatan tekanan 1 kg/cm2 ini lebih efektif
mendekati teori yang ada. Sedangkan pada
kurva tekanan 1,5; 1,75 dan 2 kg/cm2 tidak
sesuai dengan hubungan antara massa
padatan, konsentrasi dan tekanan yang
ditinjau sesuai rumus dan teori aata
literatur yang ada.
Pada grafik akan membahas
hubungan antara massa air dan
konsentrasinya
serta
ditinjau
dari
tekanannya. Dimana hubungan ini bisa
ditinjau dari beberapa rumus.

dimana volume sebanding dengan tekanan,


pada rumus ini menggunakan volume
filtrate, sedangkan data yang diperoleh dan
dimasukkan ke dalam grafik adalah massa

air filtrate. Dimana massa air dan volume


filtrate adalah sama hanya saja yang
membedakannya
ukurannya,
massa
ditinjau dari beratnya dan volume ditinjau
dari volumenya. Namun pada intinya
adalah sama, semakin banyak larutan yang
mau diketahui maka volume dan massanya
semakin besar.

konsentrasi rendah, begitu sebaliknya).


Dari grafik tersebut naik. Kurva yang tepat
untuk menghubungkan antara massa air vs
konsentrasi adalah kurva pada tekanan
1,75kg/cm2 dan tekanan 2 kg/cm2.

Gambar 14. Grafik massa padatan vs


tekanan

Gambar 12. Grafik massa padatan vs


konsentrasi

Gambar 15. Grafik massa air vs tekanan


Pada
grafik
menunjukkan
hubungan massa air dan tekanan.
Hubungan tersebut dapat ditinjau dengan
rumus

Gambar

13.

Grafik massa air vs


konsentrasi
Tekanan akan sebanding dengan ,
sedangkan akan berbanding terbalik
dengan konsentrasi, sehingga dapat
disimpulkan dari 2 pernyataan tersebut
bahwa tekanan akan berbanding terbalik
dengan konsentrasi.
Jadi untuk meninjau grafik dilihat
dari massa air yang berbanding terbalik
dengan konsentrasi (massa air banyak dan

Dimana volume filtrate (V) sebanding


dengan tekanan (P). Semakin banyak
volume filtrate, maka tekanan yang
diberikan pun semakin besar. Jadi dapat
disimpulkan bahwa grafik ini memiliki
kurva yang sesuai dengan hubungan
tersebut terdapat pada kurva yang
memiliki tekanan 1,5 kg/cm2, dimana
kurva ini semakin tinggi tekanan yang
diberikan, massa air yang diperoleh
semakin banyak.
5. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Efisiensi air dan padatan yang terbaik


adalah saat tekanan 1,5 kg/cm2 karena
mendekati
teori,
saat
naiknya
konsentrasi akan banyak cake yang
tertahan dan air yang dilewatkan.
2. Nilai tahanan cake () akan semakin
turun
seiring
bertambahnya
konsentrasi, ditunjukkan pada variasi
konsentrasi saat tekanan 1,5 kg/cm2.
3. Nilai tahanan media filter (Rm) akan
semakin besar pula dengan bertambah
besarnya konsentrasi dan tekanan
dikarenakan cake yang tersaring
media filter akan semakin banyak,
terlihat pada variasi tekanan saat
konsentrasi 1,5%.
Daftar Pustaka
Svarovsky, Ladislav. 1990. Solid-Liquid
Separation.
Oxford:
ButterworthHeinemann
McCabe, W. L. 1993. Unit Operation of
Chemical Engineering 5th edition.
Singapore: McGraw-Hill Book Co.
Geankoplis, C. J. 1993. Transport
Processes and Separation Process
Principles 4th edition. Boston: Allyn and
Bacon Inc.
Widyastuti, Sri. Kinerja Pengolahan Air
Bersih Dengan Proses Filtrasi Dalam
Mereduksi Kesadahan.
Syahrir, Suryani. Studi Pengolahan Air
Melalui Media Filter Pasir Kuarsa
(Studi Kasus Sungai Malimpung)
Ranandi, Daffi. Desain Peralatan Masak
Darurat Untuk Korban Bencana Banjir
di Jakarta.
Said, M. A. N. Uji Kinerja Komposit
Berpori Dengan Bahan Dasar Limbah
Kaca (Cult) Sebagai Media Filter Air
Sungai
Yang, Gordon C. C. Dewatering of a
Biological Industrial Sludge by
Electrokinetics-assisted Filter Press