Anda di halaman 1dari 5

1KOMPLEKSOMETRI

1. TITRASI Pengertian titrasi kompleksometri

3
Titrasi kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi
4kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya, yang umum di indonesia EDTA ( disodium
5ethylendiamintetraasetat/ tritiplex/ komplekson, dll ).
6Kestabilan termodinamik (dari) suatu spesi merupakan ukuran sejauh mana spesi ini akan
7terbentuk dari spesi-spesi lain pada kondisi-kondisi tertentu, jika sistem itu dibiarkan mencapai
8keseimbanagan.
9

2. Sifat ligan yang membentuk kompleks

10a. Kemampuan mengkompleks logam-logam.


11Kemampuan mengkompleks relatif (dari) logam-logam digambarkan dengan baik menurut
12klarifikasi Schwarzenbach, yang dalam garis besarnya didasarkan atas pembagian logam
13menjadi asam Lewis (penerima pasangan elektron) kelas A dan kelas B.
14b. Ciri-ciri khas ligan itu.
15Di antara ciri-ciri khas ligan yang umum diakui sebagai mempengaruhi kestabilan kompleks
16dalam mana ligan itu terlibat, adalah :
171. kekuatan basa dari ligan itu,
182. sifat-sifat penyepitan (jika ada), dan
193. efek-efek sterik (ruang).
20Keinertan atau kelabilan kinetik dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi pengamatan umum
21berikut ini merupakan pedoman yang baik akan perilaku kompleks-kompleks dari berbagai
22unsur, yaitu diantaranya :
231. Unsur grup utama, biasanya membentuk kompleks-kompleks labil.
242. Dengan kekecualian Cr(III) dan Co(III), kebanyakan unsur transisi baris-pertama, membentuk
25kompleks-kompleks labil.
263. Unsur transisi baris kedua dan baris ketiga, cenderung membentuk kompleks-kompleks inert.

27Ada 2 jenis lignand dilihat dari jumlah atom donor di dalamnya :


28

1. Ligand monodentat : terdapat 1 atom di dalamny

29

2. Ligand polidentat : terdapat lebih dari 1 atom donor di dalamnya

30
31

Persyaratan mendasar dalam titrasi kompleksometri ialah terbentuknya kompleks

32

molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan adalah kelarutan tingkat tinggi, seperti

33

kompleks logam dengan EDTA. Demikian juga titrasi dengan merkuro nitrat dan perak

34

sianida juga dikenal sebagai titrasi kompleksometri (Khopkar, 1990).

35

Daerah di sekitar ion logam pusat di mana ligand-ligand (valensi tambahan

36

bertanggung jawab dalam ikatan dengan gugus koordinasi) ditemukan dinamakan lengkung

37

koordinasi (Petrucci, 1985).

38

Terbentuknya ikatan kovalen parsial dengan ligand diakibatkan oleh adanya interaksi

39

antara ion logam pusat dengan ligand yang melibatkan pembagian pasangan elektron bebas

40

ion logam pada tiap molekul ligand. Ion kompleks seperti ini mempunyai warna gelap

41

namun mencolok (Oxtoby, 2001).

42Suatu reaksi kompleks dapat dipakai dalam penitaran apabila:


431. Kompleks cukup memberikan perbedaan pH yang cukup besar pada daerah titik setara.
442.Terbentuknya cepat.
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54

TItrasi kompleksometri biasanya digunakan untuk menentukan kandungan garam-garam


logaitrasi kompleksometri terdiri atas 5 jenis yaitu:
1. Titrasi langsumg
Pada titrasi langsung, larutan ion yang akan ditentukan ditambah denga bufer , misalnya
pada pH 10 lalu ditambah dengan indicator logam yang sesuai dan dititrasi langsung
dengan larutan baku dinatrium edetat. Untuk mencegah pengendapan logam hidroksida
atau garam basa dengan bufer, dilakukan dengan penambahan pembentuk kompleks
pembantu, misalnya tartrat, atau etanol amin. Pada titik ekivalen, kadar ion logam yang
ditetapkan ditunjukan oleh perubahan warna indicator logam yang dipengaruhi oleh pM.
2. Titrasi Kembali

55
Titrasi ini digunakan untuk logam yang mengendap denga hidroksida pada pH yang
56
dikehendaki saat titrasi, untuk senyawa yang tidak larut misalnya sulfat, kalsium oksalat,
57
untuk senyawa yang membentuk kompleks yang sangat lambat dan ion logam yang
58
membentuk kompleks lebih stabil dengan natrium edetat dapada indicator. Pada keadaan
59
demikian, dapat ditambahkan larutan baku dinatrium edetat berlebih kemudian larutan
60
ditambah buufer pada pH yang diingink, dan kelebihan natrium edetat dititrasi kembali
61
dengan larutan baku ion logam. Titk akhir ditunjukan dengan pertolongan indicator logam.
62 3. Titrasi subtitusi
63
Titrasi ini dilakukan bila ion logam tersebut tidak memberikan titik akhir yang jelas
64
apabila dititrasi secara langsung atau dengan titrasi kembali. Kalsium, timbale dan raksa
65
dapat ditentukan dengan metode titrasi ini dengan bantuan indicator hitam eriokrom
66
dengan hasil yang memuaskan.
67 4. Titrasi tidak langsung
68
Cara uini digfunakan untuk menentukan kadar ion-ion seperti anion yang tidak
69
bereaksi dengan pengkelat. Pengendapan anion dengan kelebihan logam yang sesuai dan
70
kelebihan ion logam dalam fitrat dititrasi dengan larutan baku EDTA. Sebagai contoh,
71
sulfat dapat diendapkan dengan barium (II) berlebihan dan kelebihan Ba(II) dapat dititrasi
72
dengan bahan baku EDTA.
73 5. Titrasi alkalimetri
74
Pada titrasi ini proton dari natrium edetat, Na2H2Y dibebaskan oleh logam berat dan
75
dititrasi dengan larutan baku alkali. Larutan logam yang dititrasi dengan metode ini ,
76
sebelum dititrasi harus dalam suasana netral terhadap indicator yang digunakan. Penetapan
77
titik akhir menggunakan indicator asam basa atau potensiometri (Ibnu Gholib
78
Nanjar,2007).
79

Beberapa jenis senyawa Kompleks

80Ada 2 jenis lignand dilihat dari jumlah atom donor di dalamnya :

1. Ligand monodentat : terdapat 1 atom di dalamny


2. Ligand polidentat : terdapat lebih dari 1 atom donor di dalamnya

81
82

83Contoh beberapa komplekson :


841. Asam nitrilotriasetat(III)
85Nama lainnya adalah :
86

NITA

87

NTA

88

Komplekson I

892 . Asam trans-1,2-diaminosikloheksana-N,N,N,N-tetraasetat(IV)


90Nama lainnya adalah:
91

EDTA

92

DcyTA

93

DCTa

94

Komplekson IV

953. Asam 2,22etilenadioksibis(etiliminodiasetat) (V)


96Nama lainnya:
97
984.

Asam etilenaglikolbis (2-aminoetil eter) N,N,N,N-tetraasetat (EGTA)


Asam trietilenatetramina-N,N,N,N,N,N-heksaasetat (TTHA)

99Faktor-faktor yang akan membantu menaikkan selektivitas, yaitu :


1001.

Dengan mengendalikan pH larutan dengan sesuai

1012.

Dengan menggunakan zat-zat penopeng

1023.

Kompleks-kompleks sianida

1034.

Pemisahan secara klasik

1045.

Ekstraksi pelarut

1056.

Indikator

1067.

Anion-anion

1078.

Penopengan Kinetik

108

Macam-macam indikator logam, yaitu diantaranya :

1091.

Mureksida (C.I. 56085)

1102.

Hitam Solokrom (Hitam Eriokrom T)

1113.

Indikator Patton dan Reeder

1124.

Biru Tua Solokrom atau Kalkon

1135.

Kalmagit

1146.

Kalsikrom (calcichrome)

1157.

Hitam Sulfon F Permanen (C.I. 26990)

1168.

Violet Katekol (Catechol Violet) atau Violet Pirokatekol (Pyrocatechol Violet)

1179.

Merah Bromopirogalol (Bromopyrogalol Red)

11810. Jingga Xilenol (Xylenol Orange)


11911. komplekson Timolftalein (Timolftalein)
12012. Biru Metiltimol (Komplekson Biru Metiltimol)
12113. Zinkon (Zincon) atau 1-(2-hidroksi-5-sulfofenil)-3-fenil-5-(2-karboksifenil)-formazan
12214. Biru Variamina (C.I. 37255)
123
124Kesalahan titrasi kompleksometri tergantung pada cara yang dipakai untuk mengetahui titik
125akhir. Pada prinsipnya ada dua cara, yaitu kelebihan titran yang pertama ditunjukkam atau
126berkurangnya konsentrasi komponen tertentu sampai batas yang ditentukan, dideteksi.
1271.

Kesalahan titrasi dihitung dengan cara yang sama pada titrasi pengendapan.

1282. Digunakan senyawa yang membentuk senyawa kompleks yang berwarna tajam dengan
129logam yang ditetapkan. Warna ini hilang atau berubah sewaktu logam telah diikat menjadi
130kompleks yang lebih stabil. Misalnya EDTA. (Ikhsan Firdaus,2009).
131