Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS STRUKTUR, KAIDAH, DAN NILAI TEKS CERITA SEJARAH

Judul Novel

: Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Penulis

: Pramoedya Ananta Toer

Tahun Terbit

: 2003

Penerbit

: Lentera Dipantara

Jumlah Halaman

: 126 Halaman

1. Struktur Novel
a. Abstraksi
Kita hidup dalam kesakitan melulu. Kalau bukan daging yang sakit ya hati.
Kesakitan melulu (Hal. 29)
Di sebuah gubuk yang terletak dikaki gunung tinggal seorang laki-laki yang
berumur kurang lebih tiga puluh tahun. Ranta, begitulah orang memanggilanya. Dia
tinggal bersama istrinya yang bernama ireng. Pendopo gubuk ranta berlantai tanah di
peraboti dengan sebuah bangku panjang yang terbuat dari bamboo batangan.

b. Orientasi
Ranta dan Ireng dalam kondisi serba kekurangan. Ranta diperintah secara paksa
oleh Juragan Musa dengan dijanjikan imbalan bayaran tinggi, namun ternyata tidak
seperti yang diharapkan, Ranta malah mendapat hadiah pukulan membabibuta. Bosan
diperlakukan dengan tidak adil oleh sang Juragan.
c. Rangkaian Peristiwa
1. Peristiwa I
Pasar kacau, Pak. Diobrak-abrik DI.(hal. 15)
Dari sini mulai menggambarkan suatu keadaan dimana pasar rakyat kecil
yang dirusak oleh kaum pemberontak yang disebut DI (Darul Islam).
Dengar, Reng. Memang aku sering nyolong. Tapi bukan karena kemauanku
aku jadi maling(hal. 20)

Dalam kutipan ini sebagai contoh kejadian mulai muncul disebabkan oleh
pemaksaan dari Tokoh Juragan Musa kepada Ranta untuk menjadi maling. Musa
menyuruh mencuri bibit karet onderneming. Ranta bawakan dua kali balik, tapi
ketika ranta menanyakan upah, diterimanya oukulan rotan, di rampas pikulan dan
goloknya.
2. Peristiwa II
Juragan Musa datang ke rumah Ranta, dia memanggil-manggil ranta, tapi
dari dalam rumah tak ada jawaban. Dengan nada marah Juragan Musa terus
memanggil ranta, tapak tangan kananya menjinjing aktentas. Akhirnya ranta keluar
dengan bahu tertarik ke atas matanya terpusat pada wajah Juragan Musa, sedang
kedua belah tangannya terangkat ke atas sedikit. Melihat ranta yang seperti itu
Juragan Musa menjadi takut, kemudian dia lari dan meninggalkan aktentas dan
tongkatnya jatuh ke tanah.
Tanpa di duga datang Yang pertama, Yang kedua, dengan membawa teman
Yang ketiga. Yang ketiga berkata Cuma aku yang tahu isi aktentas itu. Yang kedua
bertanya dari mana kamu tahu?. Yang ketiga menjelaskan bahwa tiap Rabu
malam Juragan Musa berunding dengan DI, Kemudian Yang ketiga memberi tahu
kalau ranta dan Ireng dalam bahaya. Segera Ireng ke dalam, dia keluar lagi
membawa bungkusan kecil. Sedangkan ranta memungut aktentas dan cepat-cepat
mereka pergi meniggalkan beranda. Malam harinya rumah ranta di bakar pesuruh
Juragan Musa.
d. Komplikasi
Ranta melangkah keluar ambang. Bahunya tertarik ke atas, matanya terpusat
pada wajah Juragan Musa, sedang kedua belah tangannya terangkat ke atas
sedikit. Dengan tubuhnya yang perkasa itu, nampak seperti binatang buas hendak
menerkam mangsanya(hal. 34)
Pada kutipan diatas menunjukkan satu contoh peristiwa yang mulai
memuncak seperti saat Tokoh Ranta mulai berani untuk melawan penindasan yang
dilakukan oleh Juragan Musa. Perlawanan Ranta dan beberapa orang pemikul
singkong yang mampir ke rumahnya membuahkan hasil, sang Juragan mendapat
2

ganjaran setimpal atas perbuatannya setelah berulangkali mengingkari berbagai


fakta dan bukti bahwa dia terlibat dalam kegiatan Darul Islam (DI). Istri Juragan
Musa pun harus menerima kenyataan ditinggalkan suaminya yang ditangkap
tersebut, bahkan dia harus mengalami nasib naas sepeninggal suaminya tersebut
e. Resolusi
Komandan menggertak: Angkat tangan! Menyerah!(hal. 71)
Akhir atau puncak dari peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi seperti
dalam kutipan diatas saat Tokoh Komandan menyergap dan akhirnya menangkap
Juragan Musa karena terbukti menjadi golongan pemberontak Darul Islam yang
selalu menindas rakyat kecil.
Ranta kemudian ditawari menjadi Lurah sementara di daerah Banten Selatan
tersebut oleh Komandan yang menangkap Juragan Musa. Walaupun berpendidikan
rendah, namun Ranta dipercaya oleh orang-orang di sekitarnya karena tekadnya
yang kuat untuk melepaskan diri dari ketidakadilan. Bersama para penduduk desa
yang mempercayainya, Ranta dibantu Komandan berupaya membangun kembali
tempat tinggal mereka menjadi tempat yang lebih nyaman dan terus berkembang.
f. Koda
Satu pendurhaka dapat hancurkan seluruh kebahagiaan tiap orang. Benar!
Tapi keselamatan tiap orang, seluruh bangsa, Cuma dapat dilaksanakan oleh semua
orang.

Pelaksanaan

ini

mungkin,

masalah

yang

kalau

ada

persatuan,

kerukunan,

persaudaraan.(hal. 108)
Pemecahan

telah

terjadi

pada

peristiwa-peristiwa

sebelumnya seperti pada kutipan diatas. Pada akhirnya semua harus saling bersatu
untuk melawan penindasan dan kesewenang-wenangan orang atau golongan
kepada rakyat kecil.
Gotongroyong menjadi tema utama dalam buku ini, dimana pasca kekuasaan
DI, suatu tempat di wilayah Banten Selatan harus mulai membangun kembali
tempat tinggal mereka. Kondisi daerah Banten Selatan sebenarnya kaya akan
sumber daya alam, namun belum tergarap secara maksimal dan terabaikan oleh
pembangunan. Mau tidak mau, penduduk setempat harus mengerahkan segala
sumber daya yang mereka miliki agar mampu bertahan terhadap tantangan masa
depan. Selain dituntut untuk meningkatkan kemampuan agar menjadi manusia yang
3

lebih berkualitas dengan belajar baca-tulis, para penduduk tersebut juga harus tetap
menjaga semangat gotongroyong dan rasa memiliki terhadap tempat tinggal mereka
agar mampu menaklukkan keadaan.

2. Kaidah Kebahasaan Novel


a. Frasa Nomina dan Frasa Verba
Frasa Nomina merupakan frasa yang terbentuk dari dua atau lebih kata
yang unsur intinya adalah kata benda.
Contoh frasa nomina pada novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan:
1. Ireng memasang lampu minyak di dalam rumah sehingga sinarnya menerobosi
sela-sela anyaman bambu dinding depan, jatuh di beranda. (hal 18)
2. Yang pertama membuang puntung rokok kaunganya. (hal 13)
3. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap tangan
manusia. (hal 11)
Frasa Verba frase dibentuk dari sekumpulan kata yang memiliki unsur inti
pembentukan berupa kata kerja.
Contoh frasa verba pada novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan:
1. Ranta bangkit berdiri, meletakan tangan kanannya pada pundak istrinya, dan
berkata seperti sebelumnya, dengan lemah lembut, dengan kata-kata yang keluar
satu-satu, jelas, perlahan, dan berkasih sayang. (hal 19)
2. Tanpa diduga Musa tertawa senang, dengan suara yang tidak lagi terkendali,
terawa loba dan tama. (hal 17)
3. Musa memutar-mutar tongkatnya, dan tanpa menengok pada Ireng meneruskan
kata-katanya sambil tersenyum. (hal 16)
b. Konjungsi Temporal
1. Nyonya pergi, kemudian dating kembali membawa kotak rokok. (hal 51)
2. Akhirnya ia tutup dank unci pintu depan, dan setelah itu masuk ke dalam
melalui pintu dalam. (hal 94)
3. Sementara itu dari dalam rumah terdengar suara nyonya. (hal 102)
c. Nominalisasi
1. Sufiks
mendengarkan jawaban dari dalam rumah. (hal 14)

2. Prefiks
... dijaga penjaga onderming.. (hal 20)
3. Konfiks
berbagai Pegunungan hutan. (hal 11)
4. Infiks
kerudung yang dipakai nyonya (hal 35)
5. Kombinasi afiks
ahkirnya keberhasilan kita (hal 100)
d. Majas (10)
Majas adalah adalah bahasa kias dan indah yang di gunakan untuk
mempercantik susunan kalimat yang dipergunakan untuk tujuan menimbulkan kesan
imajinatif serta mampu menciptakan efek-efek tertentu baik itu melalui lisan atau
tertulis untuk pembaca dan pendengarnya.
1. Personifikasi
Personifikasi adalah majas atau gaya bahasa yang membandingkan bendabenda tak bernyawa seakan-akan memiliki sifat seperti manusia.
Sebentar kemudia Ireng muncul pula membawa poci berisikan air panas yang
masih menguap-uap. (hal 27)
2. Pleonasme
Pleonasme adalah penggunaan kata-kata yang sudah mafhum (dimaklumi)
sebagai bentuk penegasan. Pada dasarnya tanpa kata-kata tersebut sebuah kalimat
sudah dapat difahami secara utuh.
Ireng menghapus matanya dan masuk ke dalam rumah. (hal 27)
3. Sinestesia
Sinestesia adalah majas yang pengungkapannya berupa rasa dari alat indera
yang diungkapkan melalui ungkapan rasa alat indera lainnya.
Dari dalam suaranya yang mengayukan hati. (hal 27)
4. Litotes

Litotes adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan cara yang berlawanan
dari kenyataannya dengan mengecilkan atau menguranginya. Tujuannya untuk
merendahkan diri.
Dia punya kawan orang besar-besar, kita Cuma punya kawan orang kecil-kecil.
(hal 31)
5. Tautologi
Tautologi adalah majas penegasan dengan mengulang beberapa kali sebuah
kata dalam sebuah kalimat dengan maksud menegaskan. Kadang pengulangan itu
menggunakan kata bersinonim.
Ranta bangkit berdiri, meletakan tangan kanannya pada pundak istrinya, dan
berkata seperti sebelumnya, dengan lemah lembut, dengan kata-kata yang keluar
satu-satu, jelas, perlahan, dan berkasih sayang. (hal 19)
6. Klimaks
Klimaks adalah majas yang menyatakan beberapa hal berturutturut dan
makin lama makin meningkat.
Dia yan tahu, tiap Rabu malam Juragan Musa bernding dengan DI, sedangkan
kitaorang-orang miskin sama dirampoki, dibakari, dibunuhi. (hal 37)
7. Sarkasme
Sarkasme adalah majas sindiran yang paling kasar. Majas ini biasanya
diucapkan oleh orang yang sedang marah.
Setan Sialan! (hal 45)
8. Simile
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata
depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak",
bagai".
Seperti binatang buas kehilangan sejatanya, ia jatuh tak berdaya di pojokan.
(hal 70)
9. Retorik
Retorik adalah majas yang berupa kalimat tanya namun tak memerlukan
jawaban. Tujuannya memberikan penegasan, sindiran, atau menggugah.
Kau mau mengikuti aku dalam senang dan sengsara, bukan, Nah? (hal 48)

10. Alegori
Alegori adalah Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau
penggambaran. Alegori adalah majas perbandingan yang bertautan satu dan yang
lainnya dalam kesatuan yang utuh.
Senangkah hati pak lurah dia ditangkap? Kesenangan sang kancil melihat
macan ditangkap pemburu, nyonya. (hal 83)
3. Nilai-nilai
a. Moral
Nilai moral yang ada dapat dikatakan bersifat langsung menunjukkan bahwa
kita tidak boleh mudah putus asa dalam menghadapi setiap masalah. Dapat dilihat
dalam kutipan berikut:
Kita sudah bosan putus asa. Kita takkan putus asa lagi. Kita akan perbaiki
keadaan kita.(hal. 31)
Dan juga kita harus tetap memperjuangkan kebenaran agar kita tenang
dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut juga diungkapkan secara langsung dalam
kutipan berikut:
.... Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi
benar.......(hal. 77)
b. Sosial
Nilai sosial ini paling dominan muncul dalam dialog-dialognya yang banyak
meng-ajarkan tentang bagaimana cara masyarakat untuk bersosialisasi antarsesama
sebagai makhluk sosial. Pada novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan terdapat
tingkah laku sosial masyarakat yang di dalamnya melakukan kegiatan
perekonomian yang dapat mengajarkan pentingnya hidup bermasyarakat dan
berekonomi.
c. Agama
Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan mengandung pola tingkah laku sosial
masyarakat yang di dalamnya terdapat nilai religius. Nilai-nilai ini dapat
mengajarkan pentingnya hidup bermasyarakat dengan penuh keyakinan terhadap
Tuhan.
d. Budaya

Hati-hatilah! Hati-hatilah! Satu orang bisa hancurkan kita semua. Tapi


kesejahteraan kita harus diciptakan oleh semua kita bersama-sama. Ya, itu
gotongroyong, kan?(hal. 108)
Dalam kutipan di atas disebutkan kalau kita harus kerja keras dan juga
bergotongroyong dalam membangun kemajuan bersama. Kekuatan akan ada jika
kita semua mempererat persatuan dan jangan mementingkan diri sendiri. singkatnya
nilai budaya dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan, gotongroyong.