Anda di halaman 1dari 35

PERSFEKTIF HUKUM PEMBUKTIAN DAN PERANAN HAKIM

DALAM KASUS TINDAK PIDANA SERTA ANALISA


PERMASALAHAN HUKUMHNYA
Oleh
Timur Abimanyu, SH.MH
Berbagai kasus tindak pidana yang merebak diberbagai media cetak dan salah satunya
adalah kasus kematian Wayan Mirna Salihin yang menjadi sorotan serta perhatian mata publik
untuk membaca kasus tindak pidana tersebut. Perdebatan demi perdepatan dan sampai menjadi
suatu depat kusir yang tidak berujung pangkal. Walaupun aparat polisi telah menetapkan Jesica
Kumala Wongso ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Mirna, akan tetapi menjadi
permasalahan yang menimbulkan keragu-raguan di kalangan masyarakat awam.1
Akan tetapi mengapa berkas Jessica dinyatakan lengkap ketika masa penahanannya habis ?
Hal ini melihat, ketika Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta membantah ada intervensi terkait berkas
perkara yang dinyatakan lengkap menjelang habisnya masa penahanan Jessica. Menurut
kejaksaan, kelengkapan berkas tergantung alat bukti.(??? ?). Menurut sumber data, bahwa
Waluyo mengungkapkan, bolak-baliknya berkas dari penyidik ke kejaksaan lantaran belum
terpenuhinya alat bukti, dan kini Waluyo memastikan alat bukti dan petunjuk sudah terpenuhi
dan sayangnya pihak kejaksaan tidak menjelaskan secara rinci apa saja alat bukti terkait kasus
pembunuhan oleh Jessica tersebut. Dan setelah dinyatakan lengkap, kejaksaan juga meminta
penyidik agar segera menyerahkan barang bukti dan Jessica dan selanjutnya Jessica dapat
langsung diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Menurut sumber data dan berita yang merebak di media cetak dan media elektronik,
bhawa Mirna meninggal setelah minum es kopi Vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, pada
6 Januari 2016, pada saat itu mirna sedang bersama dengan dua temannya, Jessica dan Hani
dan dari hasil pemeriksaan laboratorium forensik menunjukkan, kopi yang diminum Mirna
mengandung racun sianida. Atas dasar masalah tersebut, bahwa seejumlah pihak
mempertanyakan bukti yang dimiliki polisi dalam menetapkan Jessica sebagai tersangka !!!!!.
(selama proses pemberkasan tindak pidan tersebut) dan sampai pada akhirnya pada hari kamis
tanggal 26 Mai 2016, Kejati menyatakan berkas perkara telah lengkap atau (P21).
Kronologis pada kasus Jessica:
1.Rabu, 6 Januari 2016 : Bahwa pada pukul 15.45 WIB, Jessica datang ke Mal Grand
Indonesia untuk bertemu dengan Mirna dan Hani. Ketiganya membuat janji akan bertemu
pukul 16.00 WIB, Bahwa kemudian pukul 16.00 WIB, Jessica ke Kafe Olivier di Grand
Indonesia untuk memesan meja. Setelah itu, ia berkeliling ke Grand Indonesia dan membeli
tiga buah tangan. Pukul 16.30 WIB, Jessica memesan minuman di Kafe Olivier, Grand
Indonesia, Bahwa pada Pukul 16.40 WIB, kopi dan minuman cocktail datang. Pada saat
minuman datang, paper bag milik Jessica sudah ada di meja, Bahwa pada saat itu pula,
Jessica diduga menaruh sianida dalam es kopi vietnam yang akan diminum Mirna, Bahwa
kemudian pukul 16.45 WIB, Hani dan Mirna datang. Keduanya sempat ramah tamah dengan
Jessica dan langsung duduk. Posisi Mirna berada di tengah di antara Jessica di kiri dan Hani
1.Awaludin Marwan et al, Evolusi Pemikiran Hukum Baru (Yogyakarta: Genta Press, 2009),
hlm. 19.

di kanan, Bahwa tak lama ketiganya duduk, Mirna langsung menenggak es kopinya. Mirna
sempat menyebut ada rasa yang tak biasa di minumannya, Bahwa Mirna sempat bilang
rasanya seperti jamu dan tak disangka, tubuh Mirna pun kemudian kejang-kejang dan
mulutnya keluar busa serta muntah, Bahwa seluruh orang di kafe tersebut panik, termasuk
Hani dan pegawai Kafe Olivier. Mereka mulai membantu Mirna yang sedang kejang-kejang,
Bahwa pada akhirnya, Mirna dibawa ke sebuah klinik di Grand Indonesia. Namun, dokter di
klinik tak bisa menangani dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Bahwa
sesampai di rumah sakit, nyawa Mirna tak tertolong dan meninggal dunia. Malam itu juga
ayah Mirna, Edi Dermawan Salihin melaporkan kematian anaknya ke Polsek Metro Tanah
Abang, 2.Sabtu, 9 Januari 2016 :Bahwa Pihak Polisi meminta persetujuan keluarga untuk
mengotopsi tubuh Mirna. Tujuannya mengetahui penyebab kematian Mirna yang dianggap
tak wajar. Namun, persetujuan tak langsung diberikan,Bahwa Direktur Reserse Kriminal
Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mendatangi langsung Dermawan untuk
meminta izin dan memberikan pengertian, Bahwa setelah menilai otopsi perlu dilakukan
untuk kebaikan Mirna, keluarga akhirnya memberikan izin otopsi.(Otopsi dilakukan pada
malam hari di Rumah Sakit Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur).3.Minggu, 10 Januari
2016 :Bahwa Jenazah Mirna dibawa ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Gadung di
Bogor untuk dikebumikan, Bahwa hasil awal analisa otopsi tubuh Mirna keluar. Kepala
Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya Kombes Musyafak menduga Mirna
tewas karena keracunan, dan ditemukan kandungan zat asam yang menyebabkan Mirna
keracunan. Selain itu, sifat zat tersebut korosif sehingga Mirna tewas. 4.Senin, 11 Januari
2016 :Pada haris senin, aparat kepolisian melakukan pra-rekonstruksi di Kafe Olivier, Grand
Indonesia, dimana Pra-rekontsruksi dilakukan untuk mendapat gambaran peristiwa dari apa
yang terjadi dari Jessica datang hingga dibawa ke klinik di Grand Indonesia. Dan prarekonstruksi tersebut dihadiri Hani dan Jessica, terjadi beberapa kali Jessica dan Hani
memeragakan adegan yang terjadi ketika melihat kondisi Mirna tersebut kejangkejang.5.Sabtu, 16 Januari 2016 : Bahwa Kepala Puslabfor, Brigadir Jenderal Alex
Mandalikan mengungkapkan bahwa ada racun sianida dalam kopi Mirna. Racun mematikan
tersebut juga ditemukan di lambung Mirna dan setelah diperiksa, ternyata ada sekitar 3,75
miligram sianida dalam tubuh Mirna.6.Senin, 18 Januari 2016 :Bahwa aparat kepolisian
meningkatkan penanganan kasus Mirna dari penyelidikan menjadi penyidikan, dimana
peningkatan status tersebut lantaran diduga ada tindak pidana dalam kematian Mirna, akan
tetapi aparat kepolisian belum menetapkan tersangka.7.Selasa, 19 Januari 2016 :Bahwa
penyidik memanggil Jessica untuk diperiksa. Pada 13.30 WIB, teman Mirna di Australia
tersebut datang bersama kuasa hukumnya, Yudi Wibowo Sukinto, akan tetapi Yudi tak
diperkenankan mendampingi Jessica saat pemeriksaan. Kemudian pada 21.00 WIB, Jessica
selesai menjalani pemeriksaan.8.Rabu, 20 Januari 2016 :Bahwa Penyidik kembali
memanggil Jessica untuk kepentingan pemeriksaan dengan alasan bahwa pada kesempatan
kemarin, Jessica merasa lelah dan kemudian pada 14.00 WIB, Jessica diperiksa tiga ahli
psikiatri dari Markas Besar Polri. Pada 19.50 WIB, Jessica selesai diperiksa dan lagi-lagi
keluar dengan senyum dan Jessica memberi keterangan, bahwa dia tak ikut minum kopi
Mirna dengan alasannya, ia memiliki masalah pada lambungnya, akan tetapi Jessica juga
mengatakan bahwa Hani sempat mencicipi sedikit kopi. 9.Kamis, 21 Januari 2016 :Bahwa
pada gilirannya keluarga Mirna diperiksa. Keluarga yang datang untuk diperiksa antara lain
Edi Dermawan Salihin (ayah Mirna), Sendy Salihin (kembaran Mirna) dan Arief Sumarko
(suami Mirna). Ketiganya datang pada siang hari dan langsung masuk ruang penyidik.
Setelah diperiksa, dan keluar saat sore hari, Arief dan Sendy tampak menghindari
wartawan. Dan sementara itu, Dermawan melayani beberapa pertanyaan wartawan. Ia pun
mengemukakan dugaannya bahwa pihak yang patut dicurigai terkait pembunuhan Mirna
adalah tukang kopi atau Jessica.10.Senin, 25 Januari 2016 :Bahwa giliran Hani diperika
penyidik. Pemeriksaan Hani hingga dua kali dalam sehari, mulai dari pagi hingga siang hari
dan kemudian, dilanjutkan dari siang hingga malam hari. Menurut polisi, pemeriksaan Hani
untuk mengingatkan kembali peristiwa di kafe lewat gambaran kamera closed circuit
television (CCTV) Kafe Olivier. Pemeriksaan Hani berlangsung hingga enam jam.11.Selasa,
26 Januari 2016 :Bahwa Penyidik membawa berkas kasus Mirna ke Kejaksaan Tinggi DKI

Jakarta. Pada 10.00 WIB, penyidik datang dan langsung menemui jaksa penuntut umum
(JPU).Kemudian 15.00 WIB, penyidik Polda Metro Jaya selesai memaparkan bukti kasus Mirna
ke JPU. Setelah dipaparkan, JPU meminta penyidik melengkapi berkas lagi. Salah satunya,
dengan menambahkan keterangan para ahli. Pada waktu yang bersamaan, Jessica hadir
dalam acara salah satu stasiun televisi swasta. Ia membeberkan bahwa ia bukan pelaku,
yang menaruh racun sianida dalam kopi Mirna.12.Rabu, 27 Januari 2016 :Jessica kembali
hadir di salah satu stasiun televisi swasta. Ia bercerita tentang hubungannya dengan Mirna
dan soal racun sianida dalam kopi Mirna. Pada siang harinya, bersama Yudi, Jessica
mendatangi Komnas HAM. Ia mengadukan perilaku polisi terhadap dirinya dan keluarga.
Beberapa pengaduannya antara lain perilaku kasar penyidik saat menjemput Jessica untuk
diperiksa pertama kali. Kemudian kata-kata kasar penyidik lewat telepon kepada keluarga
Jessica.13.Kamis, 28 Januari 2016 :Keluarga Mirna kembali diperiksa. Dermawan dengan
lantang mengatakan bahwa anaknya meninggal dan yang memesan kopi adalah
Jessica.14.Jumat, 29 Januari 2016 :Polda Metro kembali membawa berkas kasus Mirna ke
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Menurut Krishna, koordinasi pemaparan alat bukti kembali
dilakukan setelah menilai alat bukti cukup lengkap. Setelah dua jam lebih di Kejati, Krishna
memberikan isyarat bahwa penetapan tersangka pembunuhan Mirna dilakukan setelah
gelar perkara dengan penyidik pada malam nanti. Setelah melakukan gelar perkara,
akhirnya penyidik menetapkan Jessica sebagai tersangka pembunuhan Wayan Mirna Salihin
(27). Jessica diduga menaruh racun sianida dalam kopi Mirna.15.Sabtu, 30 Januari
2016 :Pada 07.00 WIB, Jessica ditangkap penyidik di salah satu hotel di Jakarta Utara. Saat
ditangkap, Jessica bersama keluarganya. Penangkapan Jessica dilakukan setelah penyidik
tidak menemukan Jessica di rumahnya dan akhirnya mendapat informasi bahwa Jessica
berada di salah satu hotel di Jakarta Utara.16.Minggu, 7 Februari 2016:Polda Metro Jaya
gelar rekonstruksi pembunuhan Mirna. Ketika itu, Jessica sempat menolak untuk mengikuti
adegan rekonstruksi versi Polisi. Rekonstruksi dipimpin langsung oleh Dirkrimum, Kombes
Khrisna Murti.17.Kamis, 11 Februari 2016:Jessica menjalani tes kejiwaan di RSCM. Selain
menjalani test kejiwaan, menurut Krishna, Jessica dibawa ke RSCM untuk mengetahui motif
pembunuhan yang dilakukan terhadap sahabatnya, Wayan Mirna Salihin.18.Selasa, 16
Februari 2016 :Pihak Jessica mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta
Pusat. Salah satu kuasa hukum Jessica, Yudi Wibowo, mengatakan bahwa pihaknya
mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat lantaran merasa penetapan
dan penahanan terhadap klienya tidak sah.19.Kamis, 18 Februari 2016:Penyidik Polda
Metro Jaya kali pertama melimpahkan berkas perkara Jessica ke Kejaksaan Tinggi DKI
Jakarta.20.Selasa, 23 Februari 2016: Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyidangkan
praperadilan kasus penetepan tersangka Jessica oleh Polda Metro Jaya. Sidang dipimpin oleh
Hakim Tunggal, Wayan Netra.21.Rabu, 24 Februari 2016: Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
mengembalikan berkas perkara dugaan pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Kejati menilai
keterangan para saksi masih dirasa kurang dalam berkas perkara tersebut.22. Selasa, 1
Maret 2016: Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak pengajuan praperadilan oleh Jessica
Kumala Wongso karena dianggap salah alamat. Pengacara Jessica, Yudi Wibowo tetap
mengatakan polisi tidak akan dapat membuktikan apa pun.23. Senin, 21 Maret 2016 :
Polda Metro Jaya untuk kedua kalinya mengirimkan berkas perkara itu ke Kejati DKI. Salah
satu bukti yang ditambahkan dalam berkas tersebut adalah hasil penyelidikan tim Polda
Metro Jaya ke Australia.24.Selasa, 29 Maret 2016 :Polisi meminta kembali perpanjangan
penahanan Jessica selama 30 hari sampai dengan 28 April 2016.Perpanjangan penahanan
dilakukan lantaran pihak Kejaksaan Tinggi DKI belum menyatakan lengkap (P 21) terhadap
berkas perkara Jessica.25.Senin, 4 April 2016: Kejati DKI Jakarta mengembalikan lagi
berkas perkara itu untuk kedua kalinya kepada penyidik. Dalam berkas tersebut, Kejati DKI
menemukan adanya sejumlah kekurangan, baik keterangan saksi maupun ahli.26. Jumat,
22 April 2016: Untuk ketiga kalinya, penyidik Polda Metro Jaya kembali melimpahkan
berkas perkara itu ke Kejati DKI. Namun, Kejati DKI lagi-lagi mengembalikan berkas perkara
tersebut ke penyidik.27.Rabu, 27 April 2016: Penyidik Polda Metro Jaya memperpanjang
masa penahanan Jessica selama 30 hari sampai dengan 28 Mei 2016.Perpanjangan
penahanan dilakukan lantaran pihak Kejaksaan Tinggi DKI belum menyatakan lengkap (P

21) terhadap berkas perkara Jessica.28.Senin, 9 Mei 2016: Penyidik melimpahkan untuk
keempat kalinya berkas perkara tersebut. Dalam pelimpahan berkas itu, penyidik
memasukkan keterangan ahli toksikologi atau ahli racun.29.Selasa, 17 Mei 2016: Kejati
kembali mengembalikan lagi berkas perkara tersebut untuk keempat kalinya kepada
penyidik. Kala itu, Kejati meminta penyidik Polda Metro Jaya untuk menyertakan bantuan
hukum timbal balik terkait perkara kriminal atau Mutual Legal Assitance in Criminal Matters
dari pemerintah Australia.Selain itu, Kejati meminta kepada penyidik untuk melakukan
pencarian dan penyitaan komputer, rekam medis, dan catatan bank.30.Rabu, 18 Mei
2016: Penyidik Polda Metro Jaya untuk kelima kalinya melimpahkan berkas perkara
tersebut ke Kejati DKI Jakarta. Dalam pelimpahan kelima kalinya ini, penyidik menyertakan
segala petunjuk yang diberikan Kejati saat pengembalian yang keempat.31.Kamis, 26 Mei
2016: Setelah kurun waktu 118 hari ditahan, Kejati DKI Jakarta akhirnya menetapkan
berkas Jessica dinyatakan lengkap (P 21) dan akan melanjutkan perkara tersebut hingga
persidangan. 2

Sesuai judul diatas, penulis melandasi tulisan ini dengan kebijakan


dasar dan kebijakan pemberlakukan yang merupakan sebagai sumber dari
penulisan artikel ini yaitu pada peraturan perundang-undangan sebagai
berikut dibawah ini :
1.Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 24,
Pasal 24A, Pasal 24B,Pasal 24C dan Pasal 25.3
2.Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang telah diubah dan
diganti oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman.
3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung .
4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum.
6. Kitab Undang Undang Hukum Pidana.
7. Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana.

2.http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/27/06412451/perjalanan.kasus.yang.menjer
at.jessica.kumala.wongso.
3.Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Panduan Pemasyarakatan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI,
2008), hlm. 46.

Diprediksi dan ditemukan permasalahan-permasalah4 yang terjadi pada proses


persidangan dalam tindak pidana jessica adalah sebagai berikut :
1.Apakah pengertian Barang Bukti Pendamping dapat dikatagorikan termasuk dalam Hukum
Pembuktian, sebagaimana yang diatur pasalnya dalam KUHP maupun KUHAP ? dan
bagaimana jika barang bukti tersebut tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti karena tidak
dapat membuktikan bahwa si terdakwalah pelaku tindak pidana tersebut ( misalnya pada
kasus Jessica) ?
2. Bagaimanakah sikap hakim didalam persidangan kasus tindak pidana diatur dalam Peraturan
Perundang-undangan ?
Makalah ini didasari oleh kerangka penulisan untuk mendapatkan manfaat penelitian
yang didasari kepada :
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat Teoritis yaitu :
1.1. Melatih kemampuan untuk melakukan penelitian secara ilmiah dan
merumuskan hasil-hasil penelitian tersebut kedalam bentuk tulisan
yang diharapkan dapat diterima sebagai sumbangan pemikiran serta
menambah bahan bacaan di perpustakaan.
1.2. Menerapkan teori-teori yang diperoleh dari berbagai tulisan media
cetak
dan
elektronik
yang
berhubungan
dengan
praktek
didalampersidangan.
1.3.Untuk memperluasan wasan ilmu pengetahuan dibidang hukum
pidana maupun dibidang hukum keperdataan, bidang hukum ekonomi
dan bidang hukum lain pada khususnya.
2. Manfaat Praktis yaitu :
Dengan harapan agar dapat bermanfaat bagi penulis sendiri serta seluruh
pihak-pihak yang terkait dalam hal ini baik masyarakat awam, pemerintah,
penegak hukum, khususnya pihak-pihak yang ada kaitanya dengan
permasalahan hukum pidana yang berkaitan dengan hukum pembuktian.
Dengan berdasrkan pada Kerangka Teoritis dan kerangka konseptual
yaitu dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana di Indonesia yang masih menganut sistem pembuktian
secara Negatief Wettelijk dalam pembuktian sebuah perkara pidana di
Indonesia yang pada dasarnya adalah demi mencari kebenaran materil dan
kepastian hukum pidana yang semakin nyata dibutuhkan di dalam suatu
masyarakat. Hal ini haruslah dijalankan berdasarkan aturan-aturan yang
telah dibuat, yaitu aturan yang menentukan perbuatan-perbuatan mana
4Karim Nasution, 1986, Masalah Hukum Pembuktian Dalam Proses Pidana, Jakarta Sinar
Grafika, hlm.71.

yang tidak boleh, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi yang
berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut, serta
menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah
melanggar larangan-larangan itu dapat dikenai atau dijatuhi pidana
sebagaimana yang telah diancamkan dan menentukan dengan cara
bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang
yang disangka telah melanggar larangan tersebut.
Bahwa di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana tidak dijelaskan secara eksplisif mengenai pengertian
pembuktian dalam pasal-pasal tertentu, namun mengenai pengertian
pembuktian ini tersebar pada satu bab khusus mengenai pembuktian dan
putusan dalam acara pemeriksaan biasa, yaitu yang terdapat di dalam Pasal
183 sampai dengan Pasal 202 KUHAP. Hal ini mengisyaratkan kepada kita
bahwa pentingnya pembuktian didalam penyelesaian suatu perkara pidana
di Indonesia. Suatu pembuktian menurut hukum merupakan suatu proses
menentukan substansi atau hakekat adanya fakta-fakta yang diperoleh
melalui ukuran yang layak dengan pikiran yang logis terhadap fakta pada
masa lalu yang tidak terang menjadi fakta yang terang dalam hubungannya
didalam perkara pidana. Hukum pembuktian pada dasarnya merupakan
ketentuan yang mengatur mengenai proses pembuktian.
Dalam Pasal 183 KUHAP menjelaskan tentang apa yang diharuskan di
dalam suatu pembuktian perkara pidana di Indonesia diantaranya perlunya
minimal dua alat bukti yang sah yang memperoleh keyakinan hakim bahwa
telah terjadinya suatu tindak pidana dan terdakwalah pelakunya, hal ini
sangat penting karena menjadi patokan dalam proses pembuktian di
Indonesia, gunanya adalah tidak lain dari untuk mencari suatu kebenaran
materil. Hal ini sejalan dengan tujuan hukum acara pidana yang antara lain
dapat dibaca didalam pedoman pelaksanan KUHAP yang dikeluarkan oleh
Menteri kehakiman sebagai berikut : 5
Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan
atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materil, ialah kebenaran yang
selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan
ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan
5.Bambang Widjojanto, Makalah: Negara Hukum, Kekuasaan Kehakiman: Upaya Membangun
Akuntabilitas Kekuasaan Kehakiman pada Pelatihan HAM dan Jejaring Komisi Yudisial
Republik Indonesia (Jakarta: 2010), hlm. 3.

untuk mencari siapakah pelaku yang dapat di dakwakan melakukan suatu


pelangaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan
dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak
pidana telah dilakukan dan apakah orang yang di dakwakan itu dapat di
persalahkan.
Prinsip batas minimal pembuktian yang terdiri sekurang-kurangnya
dua alat bukti, bisa terdiri dari dua orang saksi atau saksi di tambah satu alat
bukti yang lain, hal ini merupakan batasan pembuktian yang lebih ketat dari
pada dahulu yang di atur di dalam HIR yaitu pada Pasal 292 sampai dengan
Pasal 322 tentang permusyawaratan, bukti dan putusan hakim, hal ini sangat
berdampak pada suasana penyidikan yang tidak lagi main tangkap dulu baru
nanti di pikirkan pembuktian, namun metode kerja penyidik menurut KUHAP
haruslah di balik yaitu lakukan penyidikan dengan cermat dengan teknik dan
taktis investigasi yang mampu mengumpulkan bukti yakni alat-alat bukti
yang sah menurut Pasal 184 KUHAP dan termasuk bukti lain yang berasal
dari barang-barang bukti hasil kejahatan.Dari bukti bukti tersebut baru
dilakukan pembuktian. Sedangkan mengenai barang-barang bukti yang
dimaksud yaitu diatur didalam Pasal 39 KUHAP tentang apa apa yang dapat
dikenakan tidakan penyitaan oleh penyidik di tempat kejadian perkara yang
dapat dikatakan sebagai barang bukti. Di pengadilan barang bukti tersebut
dipergunakan pada saat pemeriksaan barang bukti guna dilakukanya
pengesahan terhadap barang bukti tersebut yang dilakukan dengan cara
memperlihatkan langsung kepada terdakwa maupun saksi, lalu diberikan
pertanyaan baik kepada terdakwa maupun saksi yang berhubungan dengan
barang bukti yang dihadirkan didalam persidangan guna terang dan
ditemukannya
fakta-fakta
mengenai
kesalahan
terdakwa
atau
ketidaksalahan tedakwa sendiri (guilty or not guilty). Hal ini mengisyaratkan
kepada kita bahwa pentingnya adanya pemeriksaan barang bukti di
pengadilan guna mengungkapkan suatu peristiwa pidana.6
Perihal membuktikan yaitu mengandung maksud dan usaha untuk
menyatakan kebenaran atas suatu peristiwa, sehingga dapat diterima oleh
akal terhadap kebenaran suatu peristiwa tersebut. Dalam proses acara
pidana sangat diperlukan adanya pembuktian yang memegang peranan
penting didalam sistem pembuktian yang dianut di Indonesia. Bahwa di
dalam Pasal 183 KUHAP ini diisyaratkan pula bahwa segala pembuktian
6.Bagir Manan, Makalah: Organisasi Peradilan di Indonesia, dalam Pontang Moerad,
Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam Perkara Pidana (Bandung:
Alumni, 2005), hlm. 157-158.

haruslah didasarkan atas adanya keyakinan hakim terhadap minimum alat


bukti yang diatur di dalam undang-undang ini. Pembuktian ini juga diatur di
dalam aturan yang dahulu diatur HIR pada Pasal 294 yaitu sebagai berikut :7
Tidak seorangpun boleh dikenakan hukuman, selain jika hakim 8
mendapatkan keyakinan dengan alat bukti yang sah, bahwa benar telah
terjadi perbuatan yang dapat dihukum dan bahwa orang yang dituduh
itulah yang salah tentang perbuatan itu.Hal ini menjelaskan kepada kita
bahwa didalam sistem pumbuktian di Indonesia baik dahulu yang di atur
di dalam HIR maupun sekarang yang diatur di dalam KUHAP
mengisyaratkan pentingnya keyakinan hakim dalam pembuktian perkata
pidana. Dan Menurut Subekti, ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid)
dan kesewenang-wenangan (willekeur) akan timbul apabila hakim, dalam
melaksanakan tugasnya tersebut, diperbolehkan menyandarkan putusan
hanya atas keyakinannya, biarpun itu sangat kuat dan sangat murni.
Keyakinan hakim itu harus didasarkan pada sesuatu, yang oleh undangundang dinamakan alat bukti.9
Sedangkan kerangka konseptual adalah merupakan suatu kerangka yang
didasarkan atas peraturan perundang-undangan tertentu dan juga berisikan
defenisi-defenisi yang dijadikan pedoman didalam penulisan artike ini :
Barang Bukti adalah benda-benda yang dipergunakan untuk
memperoleh hal-hal yang benar-benar dapat meyakinkan hakim akan
kesalahan terdakwa terhadap perkara pidana yang di tuduhkan.
Pembuktian berasal dari kata bukti yang artinya adalah usaha
untuk membuktikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
membuktikan diartikan sebagai memperlihatkan bukti atau meyakinkan
dengan bukti, sedangkan kata pembuktian diartikan sebagai proses,
perbuatan cara membuktikan, usaha menunjukkan benar atau salahnya si
terdakwa di dalam sidang pengadilan. Menurut M.Yahya Harahap,
7.Mulyadi, Lilik, Alternatif Pengaturan Pembalikan Beban Pembuktian dalam
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Indonesia Pasca Ratifikasi
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi 2003 (KAK 2003), Malang, 7
Oktober 2008, hlm. 18.
8.Sudikno Mertokusumo dikutip dalam Antonius Sudirman, Hati Nurani Hakim dan
Putusannya (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 78.
9.Ratna Nurul Afiah, 1988, Barang Bukti Dalam Proses Pidana, Penaerbit Sinar Grafiaka,
Jakarta, hlm.254.

pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan


pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan
kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.
Tindak Pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat
dikenakan hukuman pidana dan pelaku itu dapat dikatakan sebagai subjek
tindak pidana.
Sedangkan Hukum Pembuktian adalah keseluruhan aturan atau
peraturan Undang-undang mengenai setiap kejadian masa lalu yang relevan
dengan persangkaan terhadap orang yang di duga melakukan perbuatan
pidana dan pengesahan setiap saran bukti menurut ketentuan hukum yang
berlaku untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana.
Hukum pembuktian dalam arti luas adalah keseluruhan hukum yang
mengatur proses pembuktian suatu kasus pidana berdasarkan alat-alat bukti
menurut Undang-undang dan barang bukti yang ditemukan, sedangkan
hukum pembuktian dalam arti sempit adalah keseluruhan ketentuan hukum
yang mengatur proses pembuktian suaru kasus pidana didepan pengadilan
berdasarkan alat bukti menurut undang-undang dan barang bukti yang ada.
Putusan hakim, menurut
Pasal 1 butir 11 KUHAP adalah : Putusan
pegadilan adalah pernyataan Hakim yang diucapkan dalam sidang
pengadilan terbuka yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas
dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang di atur
didalam Undang-undang.10
Beredar berbagai asumsi pada masyarakat awam, bahwa khususnya pada kasus tindak
pidana Jessica yang menimbulkan pro dan kontra didalam berbagai penangan baik pada
penyelidikan sampai pada penyidikan 11bahkan sampai pada proses beracara di pengadilan negeri
dan asumsi tersebut adalah sebagai berikut :
- Pada kasus tindak pidana harus mempunyai barang bukti yang cukup untuk menuntut seorang
pelaku kejahatan/pembuhunan, akan tetapi karena perkembangan jaman pada kasus Jessica
yang digelar di persidangan sering dikait-kaitkan denga keberadaan Barang Bukti
Pendamping, jika memang demikian maka harus jelas aturannya didalam hukum pembuktian
karena jika dipaksakan akan menimbulkan adanya unsur keragu-raguan didalam menafsirkan
suatu Barang Bukti yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
- Barang Bukti pendamping akan menimbulkan berbagai asumsi penilaian, karena
pengaturannya belum jelas, mengingat kebutuhannya untuk siapa dan kapan bukti
pendamping tersebut digunakan sampai sejauh mana bukti pendamping tersebut diperlukan di
persidangan ?

10.Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim, Dalam Persfektif Hukum Progresif
(Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 104.
11.Paulus E. Lotulung, Makalah: Kebebasan Hakim dalam Sistem Penegakan Hukum,
disampaikan pada Seminar Pengembangan Hukum Nasional, BPHN dan Dep.
Kehakiman dan HAM RI, 2003.

Pandangan masyrakat awam, bahwa sebenarnya sikap hakim adalah pasif tidak diperboleh
memihak kepada yang berperkara, baik dalam persidangan perdata maupun persidangan kasus
tindak pidana, sikap pasif hakim inilah yang membatasi keberpihakannya disetiap persidangan
pada tingkat pertama.
Berdasarkan uraian penulis diatas, dimana penulisakan berusaha mengupas berdasrakan
analisa faktor internal, yang merupakan faktor yang mendasari dari terjadinya kasus tindak
pidana tersebut terjadi yang didasari oleh kronologis diatas.12
Analisa Berdasarkan Faktor Internal :
Apakah pengertian Barang Bukti Pendamping dapat dikatagorikan
termasuk dalam Hukum Pembuktian, sebagaimana yang diatur pasalnya
dalam KUHP maupun KUHAP ?
Penulis tidak menguraikan tentang pengertian Barang Bukti, dalam hal ini
penulis langsung menguraikan antara perbedaan Alat Bukti dengan Barang
Bukti yaitu :13
Pertama-tama penulis akan menguraikan tentang Alat Bukti yang
sebagaimana diatur dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat bukti yang sah
adalah : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan
terdakwa. Dalam sistem pembuktian hukum acara pidana yang menganut
stelsel negatief wettelijk, hanya alat-alat bukti yang sah menurut undangundang yang dapat dipergunakan untuk pembuktian (Martiman
Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-alat Bukti, hal. 19). Hal ini
berarti bahwa di luar dari ketentuan tersebut tidak dapat dipergunakan
sebagai alat bukti yang sah sebagaimana diatur didalam ketentuan
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.14
Sedangkan Barang Bukti, sebagaimana diatur didalam Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana memang tidak menyebutkan secara jelas
tentang apa yang dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39
ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu
berupa :

12.Bambang Widjojanto, Makalah: Negara Hukum, Kekuasaan Kehakiman: Upaya


Membangun Akuntabilitas Kekuasaan Kehakiman pada Pelatihan HAM dan Jejaring Komisi
Yudisial Republik Indonesia (Jakarta: 2010), hlm. 3.

13.Hamzah, Andi, Ide yang Melatar belakangi Pembalikan Beban Pembuktian, Makalah pada
Seminar Nasional Debat Publik tentang Pembalikan Beban Pembuktian, Hari Rabu, Tanggal
11 Juli 2001 di Universitas Trisakti, Jakarta.
14.Krisnawati, Dani, Eddy O.S. Hiariej, Marcus Priyo Gunarto, Sigid Riyanto, Supriyadi, 2006,
Bunga Rampai Hukum Pidana Khusus, Cetakan I, Pena Pundi Aksara, Jakarta Selatan.

a. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian
diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak
pidana;
b. benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak
pidana atau untuk mempersiapkannya;
c. benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak
pidana;
d. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana;
e. benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana
yang dilakukan.
Dengan kata lain bahwa benda-benda yang dapat disita seperti yang
disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP dapat disebut sebagai barang
bukti (Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti Dalam Proses Pidana, hal. 14). Di
dalam Hetterziene in Landcsh Regerment (HIR) juga terdapat perihal
barang bukti. Dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa para pegawai, pejabat
atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan
pelanggaran kemudian selanjutnya mencari dan merampas barang-barang
yang dipakai untuk melakukan suatu kejahatan serta barang-barang yang
didapatkan dari sebuah kejahatan. Penjelasan Pasal 42 HIR menyebutkan
barang-barang yang perlu di-beslag adalah sebagai berikut :
a.Barang-barang yang menjadi sasaran tindak pidana (corpora delicti).
b. Barang-barang yang terjadi sebagai hasil dari tindak pidana (corpora
delicti)
c. Barang-barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
(instrumenta delicti)
d. Barang-barang yang pada umumnya dapat dipergunakan untuk
memberatkan atau meringankan kesalahan terdakwa (corpora delicti).
Selain dari pengertian-pengertian yang disebutkan oleh kitab undang-undang di atas,
pengertian mengenai barang bukti juga dikemukakan dengan doktrin oleh beberapa Sarjana
Hukum. Prof. Andi Hamzah mengatakan, barang bukti dalam perkara pidana adalah barang
bukti mengenai mana delik tersebut dilakukan (objek delik) dan barang dengan mana delik

dilakukan (alat yang dipakai untuk melakukan delik), termasuk juga barang yang merupakan
hasil dari suatu delik (Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, hal. 254). Ciri-ciri benda
yang dapat menjadi barang bukti adalah :
a. Merupakan objek materiil.
b. Berbicara untuk diri sendiri.
c. Sarana pembuktian yang paling bernilai dibandingkan sarana pembuktian lainnya.
d. Harus diidentifikasi dengan keterangan saksi dan keterangan terdakwa.
Menurut Pendapat Martiman Prodjohamidjojo, bahwa barang bukti atau corpus
delicti adalah barang bukti kejahatan. Dalam Pasal 181 KUHAP majelis hakim wajib
memperlihatkan kepada terdakwa segala barang bukti dan menanyakan kepadanya apakah ia
mengenali barang bukti terebut. Jika dianggap perlu, hakim sidang memperlihatkan barang bukti
tersebut. Dan menurut pendapat Ansori Hasibuan, barang bukti ialah barang yang digunakan
oleh terdakwa untuk melakukan suatu delik atau sebagai hasil suatu delik, disita oleh penyidik
untuk digunakan sebagai barang bukti pengadilan.
Berdasarkan Ilustrasi :
Bahwa yang menjadi permasalahan dalam kasus tindak pidana Jassica adalah bahwa terdakwa
tidak kedapatan menggunakan atau memasukan cianida kedalam kelas kopi mirna dan CCTV
tidak dapat melihat secara jelas tanda-tanda Jessica melakukan kejahatan tindak pidana (Bukti
CCTV sangat sumir sekali).15
Berdasarkan pendapat-pendapat para Sarjana Hukum, maka dapat dikesimpulkan bahwa
yang disebut dengan barang bukti adalah :
a.Barang yang dipergunakan untuk melakukan tindak pidana
b. Barang yang dipergunakan untuk membantu melakukan suatu tindak pidana
c. Benda yang menjadi tujuan dari dilakukannya suatu tindak pidana
d. Benda yang dihasilkan dari suatu tindak pidana

15.Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim, Dalam Persfektif Hukum Progresif
(Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 104.

e. Benda tersebut dapat memberikan suatu keterangan bagi penyelidikan tindak pidana tersebut,
baik berupa gambar ataupun berupa rekaman suara
f. Barang bukti yang merupakan penunjang alat bukti mempunyai kedudukan yang sangat
penting dalam suatu perkara pidana. Tetapi kehadiran suatu barang bukti tidak mutlak dalam
suatu perkara pidana, karena ada beberapa tindak pidana yang dalam proses pembuktiannya
tidak memerlukan barang bukti, seperti tindak pidana penghinaan secara lisan (Pasal 310 ayat
[1] KUHP) (Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti, hal.19).
Bila kita bandingkan dengan sistem Common Law seperti di Amerika Serikat, bahwa
alat-alat bukti tersebut sangat berbeda, dimana yang disebut forms of evidence atau alat bukti
adalah: real evidence, documentary evidence, testimonial evidence dan judicial notice (Andi
Hamzah). Dalam sistem Common Law ini, real evidence (barang bukti) merupakan alat bukti
yang paling bernilai. Padahal real evidence atau barang bukti ini tidak termasuk alat bukti
menurut hukum acara pidana kita.
Dengan memperhatikan keterangan tersebut di atas, maka tidak terlihat adanya
hubungan antara barang bukti dengan alat bukti. Dalam Pasal 183 KUHAP16 mengatur bahwa
untuk menentukan pidana kepada terdakwa, kesalahannya harus terbukti dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah, dan atas keterbuktian dengan sekurang-kurangnya dua alat
bukti yang sah tersebut, hakim memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi
dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.17
16.Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, yaitu Pasal 39 ayat (1)
KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu berupa :a. benda atau
tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan
pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana, b. benda yang telah dipergunakan secara
langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya, c. benda yang
digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana, d. benda yang khusus
dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana dan e. benda lain yang mempunyai
hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.
17.Het Herzien Inlandsch Reglement (HIR) / Reglemen Indonesia Yang Diperbaharui (RIB), (S.
1848 No. 16, S.1941 No. 44), dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa para pegawai, pejabat
atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian
selanjutnya mencari dan merampas barang-barang yang dipakai untuk melakukan suatu
kejahatan serta barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan. Penjelasan Pasal
42 HIR menyebutkan barang-barang yang perlu di-beslag adalah sebagai berikut :a.Barangbarang yang menjadi sasaran tindak pidana (corpora delicti), b. Barang-barang yang
terjadi sebagai hasil dari tindak pidana (corpora delicti), c. Barang-barang yang
dipergunakan untuk melakukan tindak pidana (instrumenta delicti), d.Barang-barang yang
pada umumnya dapat dipergunakan untuk memberatkan atau meringankan kesalahan
terdakwa (corpora delicti).

Berdasarkan uraian secara faktor internal tersebu diatas, bahwa fungsi barang bukti
dalam sidang pengadilan adalah sebagai berikut:
1. Menguatkan kedudukan alat bukti yang sah (Pasal 184 ayat [1] KUHAP).
2. Mencari dan menemukan kebenaran materiil atas perkara sidang yang ditangani;
3. Setelah barang bukti menjadi penunjang alat bukti yang sah maka barang bukti tersebut dapat
menguatkan keyakinan hakim atas kesalahan yang didakwakan JPU.
Demikianlah uraian tentang Barang Bukti dan Alat Bukti, dan bagaiaman mengenai
pengaturan Barang Bukti Pendamping yang digunakan dalam persidangan
kasus tindak pidana Jessica tersebut, akan kita lihat pengaturan lebih lanjut
didalam uraian sebagai berikut dibawah ini.
Mengenai sikap hakim didalam persidangan kasus tindak pidana sebagaimana diatur
dalam Peraturan Perundang-undangan, hal ini dapat diuraikan menurut ketentuan tata cara yang
diatur dalam undang-undang Kekuasaan Kehakiman dan Kitab Undang Undang Hukum Acara
Pidana. Akan tetapi jika dibandingkan dengan Pasal 1 Ned.Sv, yang berbunyi: Strafvordering
heeft allen wet voorzien. (Hukum acara pidan dijalnkan hanya berdasarkan Undang-undang).
Acara pidana dijalankan jika terjadi tindak pidana hal ini dapat disimpulkan dari kata membuat
terang tindak pidana yang terjadi, hal inilah yang tidak disetujui oleh Van Bemmelen, karena,
katanya mungkin saja acara pidana berjalan tanpa terjadi delik, sebagai contoh klasik yang
dikemukakan ialah kasus Jean Clas di Prancis yang menyangkut seorang Ayah dituduh
membunuh anaknya, padahal itu tidak terjadi namun proses pidannya sudah berjalan.
Dan selanjutnya menurut Andi Hamzah, bahwa Penyidikan ialah ialah suatu istilah yang
dimaksud sejajar dengan pengertian Opsparing (Belanda), dan Investigation (Inggris) atau
Penyisatan). Defenisi penyidikan dalam KUHAP dalam bahasa Belanda adalah sama dengan
Opsporing. Berdasarkan ktipan Andi Hamzah yang mengutip dari pendapat De Pinto yang
menyatakan bahwa Menyidik (Opsporing) adalah pemeriksaan permulaan oleh Pejabat-pejabat
yang ditunjuk oleh negara berdasarkan undang-undang untuk mendengar dari mereka dengan
jalan apapun mendengar yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadinya suatu pelanggaran hukum
Penyidikan merupakan aktivitas yurisdis yang dilakukan penyelidik untuk mencari dan
menemukan kebenaran sejati (Membuat terang, jelas tentang tindak pidana yang terjadi). Daqn
dari apa yang dikemukakan tentang penyelidikan tersebut diatas, menurut Buchari Said bahwa
sebagai aktivitas yuridis yang maksudnya adalah aktivitas yang dilakukan berdasarkan aturanaturan hukum positif sebagai hasil dari tindakan tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan
secara yuridis pula, karena kata yuridis menunjuk kepada adanya suatu peraturan hukum yang
dimaksud tiada lain peraturan-peraturan mengenai hukum acara pidana.
Tujuan utama penyidikan adalah untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan
bukti dapat membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal I butir 2 KUHAP Dalam melaksanakan
tugas penyidikan untuk mengungkapkan suatu tindak pidana, maka penyidik karena
kewajibannya mempunyai wewenang sebagimana yang tercantum di dalam isi ketentuan Pasal 7
ayat (1) Kitab Undang-udang Hukum Acara Pidana (KUHAP) jo. Pasal 16 ayat (1) Undang-

undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisan Negara Republik Indonesia, yang menyebutkan
bahwa wewenang penyidik adalah sebagi berikut: Menerima Laporan atau pengaduan dari
seorang tentang adanya tindak pidana; melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; melakukan
penangkapan, penahanan,penggeledahan dan penyitaan; mengenai sidik jari dan memotret
seseorang; memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.
Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi, mendatang orang
ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara, mengadakan penghentian
penyidikan, mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. Upaya
penyidikan harus dilakukan dengan pemberitahuan kepada penutut umum bahwa penyidikan
terhadap suatu peristiwa pidana telah mulai dilakukan.
Secara formal pemberitahuan tersebut disampaikan melalui mekanisme Surat
Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP). Hal tersebut diatur dalam ketentuan Pasal 109
KUHAP. Namun kekurangan yang dirasa sangat menghambat adalah tiada ada ketegasan dari
kentuan tersebut kapan waktunya penyidikan harus diberitahukan kepada Penuntut Umum.
Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan, penyidik wajib segara menyerahkan
berkas perkara tersebut kepada penutut umum. Dan dalam hal penutut umum berpendapat bahwa
hasil penyidikan tersebut kurang lengkap. Penutut umum segera mengembalikan berkas perkara
tersebut kepada penyidik disertai petunjuk untuk dilengkapi. Apabila pada saat penyidik
menyerahkan hasil penyidikan, dalam waktu 14 Hari penutut umum tidak mengembalikan berkas
tersebut, maka penyidikan dianggap selesai. Tahap Penuntutan Dalam Undang-undang
ditentukan bahwa hak penututan hanya ada pada penututan umum yaitu Jaksa yang diberi
wewenang oleh kitab-kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana No.8 tahun tahun 1981. Pada
Pasal 1 butir 7 KUHAP Tercantum defenisi penututan sebagai berikut; Penuntutan adalah
tindakan penututan umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang
berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan
suapay diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan." Yang bertugas menurut atau
penuntut umum ditentukan di Pasal 13 jo Pasal butir 6 huruf b yang pada dasarnyan berbunyi :
Penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan
penututan dan melaksanakan penetapan hakim
Dengan berlakunya Undang Undang No. 5 tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia yang selanjutnya tidak diberlakukan lagi dan diganti oleh Undang-undang No. 16
tahun 2004, yang menyatakan bahwa kekuatan untuk melaksanakan penuntutan itu dilakukan
oleh kejaksaan. Yang mana dalam Undang-undang No. 16 Tahun 2004 menetapkan bahwa
Kejaksaan Republik Indonesia yang memberikan wewenang kepada Kejaksaan (Pasal 30), yaitu:
untuk melakukan Penuntutan, melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan dan telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan
pidana bersayarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat melakukan
penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang; Melengkapi berkas
perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke
pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dan penyidik.
Mengenai kebijakan penuntutan, penuntut umumlah yang menentukan suatu perkara
hasil penyidikan, apakah sudah lengkap ataukah tidak untuk dilimpahkan ke Pengadilan Negeri
untuk diadili. Hal ini diatur dalam pasal 139 KUHAP. Jika menurut pertimbangan penututan
umum suatu perkara tidak cukup bukti-bukti untuk diteruskan ke Pengadilan ataukah perkara
tersebut bukan merupakan suatu delik, maka penuntut umum membuat membuat suatu ketetapan

mengenai hal itu (Pasal 140 ayat (2) butir b (KUHAP). Mengenai wewenang penutut umum
untuk menutup perkara demi hukum seperti tersebut dalam Pasal 140 (2) butir a (KUHAP),
Pedoman pelaksanaan KUHAP memberi penjelasan bahwa Perkara ditutup demi hukum
diartikan sesuai dengan buku I Kitab Undang-undang Hukum Pidana Bab VIII tentang hapusnya
hak menuntut yang diatur dalam Pasal 76, 77, 78 dan 82 KUHP. Penuntutan Perkara dilakukan
oleh Jaksa Penuntut umum, dalam rangka pelaksanaan tugas penuntutan yang diembannya.
Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk melakukan
penuntutan dan melaksanakan penempatan hakim.
Dalam upaya melaksanakan penuntutan yang menjadi wewenangnya, penuntut Umum
segera membuat surat dakwaan berdasarkan hasil penyidikan. Dalam hal didapati oleh penuntut
umum bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan peristiwa
pidana atau perkara ditutup demi hukum, maka penuntut umum menghentikan penuntutan yang
dituangkan dalam suatu surat ketetapan. Apabila tersangka berada dalam tahanan tahanan,
sedangkan surat ketetapan telah diterbitkan maka tersangka harus segera di keluarkan dari
tahanan. Selanjutnya, surat ketetapan yang dimaksud tersebut dikeluarkan dari tahanan.
Selanjutnnya, surat ketetapan yang dimaksud tersebut dibertahukan kepada tersangka. Turunan
surat ketetapan tersebut disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum,
pejabat rumah tahanan negara, penyidik dan hakim. Atas surat ketetapan ini maka dapat dimohon
praperadilan, sebagaimana diatur dalam BAB X, bagian kesatu KUHAP dan apabila kemudian
didapati alasan baru, penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka.
Nebis in Idem berarti tidak melakukan pemeriksaan untuk kedua kalinya mengenai
tindakan (feit) yang sama. Ketentuan ini disahkan pada pertimbangan, bahwa suatu saat
(nantinya) harus ada akhir dari pemeriksaan/penuntutan dan akhir dari baliknya ketentuan pidana
terhadap suatu delik tertentu. Asas ini merupakan pegangan agar tidak lagi mengadakan
pemeriksaan/penuntutan terhadap pelaku yang sama dari satu tindakan pidana yang sudah
mendapat putusan hukum yang tetap. Dengan maksud untuk menghindari dua putusan terhadap
pelaku dan tindakan yang sama juga akan menghindari usaha penyidikan/ penuntutan terhadap
perlakuan delik yang sama, yang sebelumnya telah pernah ada putusan yang mempunyai
kekuatan yang tetap.
Tujuan dari atas ini ialah agar kewibawaan negara tetap junjung tinggi yang berarti juga
menjamin kewibawaan hakim serta agar terpelihara perasaan kepastian hukum dalam masyarakat
Agar supaya suatu perkara tidak dapat diperiksa untuk kedua kalinya apabila; Pertama Perbuatan
yang didakwakan (untuk kedua kalinya) adalah sama dengan yang didakwakan terdahulu. Kedua
Pelaku yang didakwa (kedua kalinya) adalah sama. Ketiga untuk putusan yang pertamateri
terhadap tindakan yang sama itu telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Belakangan dasar
ne bis in idem itu digantungkan kepada beberapa hal bahwa terhadap seseorang itu juga
mengenai peristiwa yang tertentu telah diambil keputusan oleh hakim dengan vonis yang tidak
diubah lagi.
Putusan : Pertama Penjatuhan Hukuman (veroordeling). Dan dalam hal oleh hakim
diputuskan, bahwa terdakwa telah salah melakukan peritiwa pidana yang dijatuhkan kepadanya,
Kedua : Pembebasan dari penuntutan hukum (ontslag van rechtvervoging) Dalam hal ini hakim
memutuskan, bahwa peristiwa yang dituduhkan kepada terdakwa itu dibuktikan dengan cukup
terang, akan tetapi peritiwa itu ternyata bukan peristiwa pidana, atau terdakwanya keadapatan
tidak dapat di hukum karena tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya itu, bahwa
kesalahan terdakwa atas peristiwa yang dituduhkan kepadanya tidak cukup buktinya. Dalam
Pasal 77 KUHP yang berbunyi: Hak Menuntut hukum gugur (tidak berlaku lagi) lantaran si

terdakwa meninggal dunia. Apabila seorang terdakwa meninggal dunia sebelum putus ada
putusan terakhir dari pengadilan maka hak menuntut gugur. Jika hal ini terjadi dalam taraf
pengutusan, maka pengusutan itu dihentikan. Jika penuntut telah dimajukan, maka penuntut
umum harus oleh pengadilan dinyatakan tidak dapat diterima dengan tentunya (Nietontvankelijk) umumnya demikian apabila pengadilan banding atau pengadilan kasasi masih
harus memutuskan perkaranya. Pasal 82 82 KUHP yang berbunyi : Ayat (1) : Hak menuntut
hukum karena pelanggaran yang terancam hukuman utama tak lain dari pada denda, tidak
berlaku lagi bagi maksimun denda dibayar dengan kemauan sendiri dan demikian juga di bayar
ongkos mereka, jika penilaian telah dilakukan, dengan izin amtenaar yang ditunjuk dalam
undang-undang umum, dalam tempo yang ditetapkannya. Ayat (2): Jika perbuatan itu
terencana selamanya denda juga benda yang patut dirampas itu atau dibayar harganya, yang
ditaksir oleh amtenaar yang tersebut dalam ayat pertama. Ayat (3): Dalam hal Hukuman itu
tambah diubahkan berulang-ulang membuat kesalahan, boleh juga tambahan itu dikehendaki
jika hak menuntut hukuman sebab pelanggaran yang dilakukan dulu telah gugur memenuhi ayat
pertama dan kedua dari pasal itu'. Ayat (4);Peraturan dari pasal ini tidak berlaku bagi orang
yang belum dewasa ,yang umumnya sebelum melakukan perbuatan itu belum cukup enam belas
tahun. Penghapusan hak penuntutan bagi penuntut umum yang diatur dalam Pasal 82 KUHP
mirip dengan ketentuan hukum perdata mengenai transaksi atau perjanjian. Tahap Pemeriksaan
Pengadilan Apabila terhadap suatu perkara pidana telah dilakukan penuntutan, maka perkara
tersebut diajukan kepengadilan. Tindak Pidana tersebut untuk selanjutnya diperiksa, diadili dan
diputus oleh majelis hakim dan Pengadilan Negeri yang berjumlah 3 (Tiga) Orang hakim.
Pada saat majelis hakim telah ditetapkan, selanjutnya ditetapkan hari sidang.
Pemberitahuan hari sidang disampaikan oleh penuntut umum kepada terdakwa di alat tempat
tinggalnya atau disampaikan di tempat kediaman terakhir apabila tempat tinggalnya diketahui,
dengan disertai surat panggilan memuat tanggal, hari serta jam dan untuk berperkara tindak
pidana di Pengadilan Negeri. Surat panggilan termaksud disampaikan selambat-lambatnya tiga
hari sebelum sidang dimulai. Dan sistem pembuktian yang dianut oleh Kitab Undang-undang
Hukum Acara Pidana adalah sistem pembuktian berdasarkan undang-undang yang negatif
(Negatif wettelijk). Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 183 Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana. Pasal 183 KUHAP menyatakan: Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada
seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadinya dan bahwa terdakwalah yang
bersalah melakukannya. Berdasarkan pernyataan tersebut, bahwa pembuktian harus
didasarkan apad alat bukti yang disebutkan dalam undang-undang disertai keyakinan hakim atas
alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan, yang terdiri dari: Keterangan saksi, Keterangan
Ahli, Surat, Petunjuk, dan Keterangan terdakwa. Disamping itu kitab Undang-undang hukum
Acara Pidana juga menganut minimun pembuktian (minimum bewijs), sebagaimana disebutkan
dalam Pasal 183 tersebut. Minimun pembuktian berarti dalam memutuskan suatu perkara pidana
hakim harus memutuskan berdasarkan sejumlah alat bukti. Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana memberikan batasan minimal penggunaan alat bukti, yaitu minimal dua alat bukti, yaitu
minimal dua alat bukti disertai oleh keyakinan hakim. Tahap memeriksaan perkara pidana
dipengadilan ini dilakukan setelah tahap pemeriksaan pendahuluan selesai.
Pemeriksaan ini dilandaskan pada sistem atau model Accusatoir, dan dimulai dengan
menyampaikan berkas perkara kepada Public prosecutor. Pemeriksaan dimuka sidang
pengadilan diawali dengan pemberitahuan untuk datang ke sidang pengadilan ynag dilakukan
secara sah menurut undang-undang. Dalam hal ini KUHAP pasal 154 telah memberikan batasan

syarat undang undang dalam hali KUHAP pasal 154 telah memberikan batasan syarat syahnya
tentang pemanggilan kepada terdakwa, dengan ketentuan, Surat panggilan kepada terdakwa
disampaikan di alat tempat tinggalnya atau apabila tempat tinggalnya tidak diketahui,
disampaikan di tempat kediaman terakhir. Apabila terdakwa tidak ada ditempat kediaman
terakhir, surat panggilan disampaikan melalui kepala desa yang berdaerah hukum tempat tinggal
terdakwa atau tempat kediaman terakhir dalam hal terdakwa ada dalam tahanan surat panggilan
disampaikan kepadanya melalui pejabat rumah tahanan negara. Penerimaan surat panggilan
terdakwa sendiri ataupun orang lain atau melalui orang lain, dilakukan dengan tanda penerimaan
apabila tempat tinggal maupun tempat kediaman terakhir tidak dikenal, surat panggilan
ditempelkan pada tempat pengumuman di gedung pengadilan yang berwenang mengadili
perkaranya.18
Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam perkembangannya hukum acara
pidana di indonesia sampai sekarang yaitu tidak terlepas dari apa yang di
sebut sebagai pembuktian, apa saja jenis tindak pidananya pastilah
melewati proses pembuktian. Hal ini tidak terlepas dari sistem pembuktian
pidana Indonesia yang ada pada KUHAP yang masih menganut Sistem
Negatif Wettelijk dalam pembuktian pidana. Pembuktian dalam hal ini
bukanlah upaya untuk mencari-cari kesalahan pelaku saja namun yang
menjadi tujuan utamanya adalah untuk mencari kebenaran dan keadilan
materil. Di dalam pembuktian pidana di Indonesia terdapat dua hal yang
sering kita dengar yaitu alat bukti dan barang bukti di samping adanya
proses yang menimbulkan keyakinan hakim dalam pembuktian. Sehingga
dalam hal pembuktian adanya peranan barang bukti khususnya kasus-kasus
pidana yang pada dewasa ini semakin beragam saja, sehingga perlunya
peninjauan khusus dalam hal barang bukti ini. Dalam proses perkara pidana
di Indonesia, barang bukti memegang peranan yang sangat penting, karena
barang bukti dapat membuat terang tentang terjadinya suatu tindak pidana
dan akhirnya akan digunakan sebagai bahan pembuktian, hal ini untuk
menunjang keyakinan hakim atas kesalahan terdakwa sebagaimana yang di
dakwakan oleh jaksa penuntut umum didalam surat dakwaan di pengadilan.
Barang bukti tersebut antara lain meliputi benda yang merupakan
objek-objek dari tindak pidana, hasil dari tindak pidana dan benda-benda lain
yang mempunyai hubungan dengan tindak pidana. Untuk menjaga kemanan
dan keutuhan benda tersebut undang-undang memberikan kewenangan
kepada penyidik untuk melakukan penyitaan. Penyitaan mana harus
berdasarkan syarat-syarat dan tata cara yang telah ditentukan oleh undangundang. Didalam Pasal-pasal KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana) tentang pembuktian dalam acara pemeriksaan biasa diatur didalam
Pasal 183 sampai 202 KUHAP. Pasal 183 KUHAP yang berbunyi :
Hakim tidak boleh menjatuhkan Pidana kepada seseorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang sah, ia memperoleh
18. http://www.kompasiana.com/sitim4ryam/proses-pemeriksaan-perkara-pidana-diindonesia.

keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa terdakwalah
yang bersalah melakukannya.
Ketentuan di atas adalah untuk menjamin tegaknya kebenaran, keadilan,
kepastian hukum dan hak asasi manusia bagi seorang dan setiap
warga negara yang didakwakan telah melakukan suatu tindak pidana.
Sedangkan pasal 183 KUHAP di atas mengisyaratkan bahwa untuk
menentukan salah atau tidaknya seorang terdakwa menurut sistem
pembuktian undang-undang secara negatif, terdapat dua komponen yaitu :
1. pembuktian harus dilakukan menurut cara dan dengan alat-alat bukti yang
sah menurut undang-undang,
2. Dan keyakinan hakim yang juga harus didasarkan atas cara yang sah
menurut undang-undang.
Maksud poin-poin diatas adalah ada berhubungan yang saling
berkaitan, dapat dikatakan bahwa yang disebut kedua dilahirkan dari yang
pertama, sesuai dengan hal ini maka kita juga mengatakan bahwa adanya
keyakinan hakim yang sah adalah keyakinan hakim yang di peroleh dari alatalat bukti yang sah jadi dapat dikatakan bahwa suatu keyakinan hakim
dengan alat-alat bukti yang sah merupakan satu kesatuan. Apabila hanya
dengan suatu alat bukti saja umpamanya dengan keterangan dari seorang
saksi, tidaklah diperoleh bukti yang sah, akan tetapi haruslah dengan
keterangan beberapa alat bukti. Dengan demikian bahwa kata-kata alatalat bukti yang sah mempunyai kekuatan dan arti yang sama dengan
bukti yang sah. Selain dengan bukti yang demikian diperlukan juga
keyakinan hakim yang harus di peroleh atau ditimbulkan dari dari alat-alat
bukti yang sah.
Alat-alat bukti yang sah adalah sebagaimana yang diterangkan di
dalam Pasal 184 KUHAP sebagai berikut : 1. Keterangan saksi, 2.Keterangan
ahli, 3.Surat,4.Petunjuk dan 5.Keterangan terdakwa. Mengenai alat-alat bukti
ini sebelum diatur dalam KUHAP, yaitu diatur didalam Pasal 295 R.I.D dan
seterusnya yaitu nengenai : kesaksian-kesaksian, surat-surat, pengakuan,
petunjuk-petunjuk.
Perlu kita ketahui bahwa didalam pembuktian tidaklah mungkin dan
dapat tercapai kebenaran mutlak (absolut), karena semua pengetahuan kita
hanya bersifat relatif, yang didasarkan pada pengalaman, penglihatan, dan
pemikiran tentang sesuatu yang selalu tidak pasti benar. Jika diharuskan

adanya syarat kebenaran mutlak untuk dapat menghukum seseorang, maka


sebagian besar dari pelaku tindak pidana tidaklah dapat di hukum, pastilah
dapat mengharapkan bebas dari penjatuhan pidana. Satu-satunya yang
dapat diisyaratkan dan yang sekarang dilakukan adalah adanya suatu
kemungkinan besar bahwa terdakwa telah bersalah melakukan perbuatanperbuatan yang telah di dakwakan sedangkan ketidaksalahannya walaupun
selalu ada kemungkinan merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima.
Apabila pengetahuan hakim atas dasar alat-alat bukti yang selalu
yakin bahwa menurut pengalaman dan keadaan telah dapat diterima, bahwa
suatu tindak pidana benar-benar telah terjadi dan terdakwalah dalam hal
tersebut yang bersalah (guilty), maka terdapatlah bukti yang sempurna,
yaitu bukti yang sah dan meyakinkan. Dan dalam hal pembuktian pidana kita
mengenal istilah yang berbunyi : Tidak dipidana tanpa kesalahan.
Dalam bahasa Belanda :Geen straf zonder schuld disinilah letak
pelunya pembuktian tersebut apakah seseorang benar-benar bersalah
menurut apa yang diatur dalam Undang-undang yang ditujukan/dituntut
kepadanya. Dengan demikian berdasarka uraian diatas bahwa suatu
pembuktian haruslah dianggap tidak lengkap, jika keyakinan hakim
didasarkan atas alat-alat bukti yang tidak mencukupi, misalnya dengan
keterangan dari seorang saksi saja ataupun karena keyakinan
tentang tindak pidana itu sendiri tidak ada, secara otomatis haruslah
menggunakan ketentuan yang menjadi keharusan didalam Pasal 183 KUHAP
tersebut, maka sudah seharus memenuhi unsur-unsur keduanya.
Terhadap hakim yang tidak diperbolehkan boleh memperoleh
keyakinan tersebut dari macam-macam keadaan yang diketahui dari luar
persidangan, dan haruslah memperoleh dari bukti yaitu dari alat-alat bukti
yang sah dan adanya tambahan dari keterangan barang bukti yang terdapat
di dalam persidangan, sesuai dengan syarat-syarat yang di tentukan
Undang-undang, misalnya dalam hal terdakwa tidak mengakui dari atau
dengan kesaksian sekurang-kurangnya dua orang saksi yang telah di
sumpah dengan sah dimuka pengadilan. Apabila hakim dari alat-alat bukti
yang sah tidak memperoleh keyakinan maka ia berwenang untuk
menjatuhkan putusan bebas dari segala tuntutan. Dengan demikian
walaupun lebih dari dua orang saksi menerangkan di atas sumpah bahwa
mereka telah melihat seseorang telah melakukan tindak pidana, maka hakim
tidaklah wajib menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa, jika hakim tidak
yakin bahwa ia dengan kesaksian oleh lebih dari dua orang saksi tersebut
benar-benar dapat dipercaya dan oleh karena tujuan dari proses pidana

adalah untuk mencari kebenaran materil, maka hakim akan membebaskan


terdakwa dalam masalah tersebut. Dan perlu diingat bahwa keyakinan hakim
tersebut bukanlah timbul dengan sendirinya saja, akan tetapi haruslah
timbul dari alat-alat bukti yang sah yang telah disebutkan didalam Undangundang, dan tidak dari keadaan-keadaan lain. Atas dasar tersebut maka
tidaklah dapat di pertanggung jawabkan suatu keputusan walaupun sudah
cukup alat-alat bukti yang sah hakim begitu saja mengatakan bahwa ia tidak
yakin dan karena itu ia membebaskan terdakwa, tanpa menjelaskan lebih
lanjut apa sebab-sebab ia tidak yakin. Karena keyakinan Hakim disini tidak
saja terhadap alat-alat bukti yang di tentukan didalam Pasal 184 KUHAP
saja, akan tetapi adanya peranan dari barang-barang bukti yang di temukan
di tempat kejadian perkara seperti pisau atau peluru yang dipakai untuk
membunuh dan mencelakai orang lain, sebagaimana yang dijelaskan
didalam Pasal 39 KUHAP ayat (1) yang berhubungan dengan barang bukti
sebagai hasil dari penyitaan dan barang-barang yang dapat disita yang
dilakukan penyidik dalam menjalankan fungsinya. Dengan demikian
walaupun barang bukti tidak diatur didalam Pasal 183 KUHAP atau didalam
pasal tersendiri didalam KUHAP sebagai salah satu syarat dalam pembuktian
namun barang bukti menurut saya mempunyai nilai/fungsi dan bermanfaat
dalam upaya pembuktian, walaupun barang bukti yang disita oleh petugas
penyidik tersebut secara yuridis formal juga bukan sebagai alat bukti yang
sah menurut KUHAP. Akan tetapi, dalam praktik peradilan, barang bukti
tersebut ternyata dapat memberikan keterangan yang berfungsi sebagai
tambahan dalam pembuktian kasus pidana.
Berdasarkan uraian penulis diatas, dimana konsep-konsep dasar yang
dikemukakan di atas akan menimbulkan pertanyaan, kenapa hakim sampai
dapat membebaskan terdakwa dari segala dakwaan jaksa penuntut umum,
sementara segala bukti yaitu yang berasal dari alat-alat bukti yang sah telah
mencukupi bukti minimum. Atau mungkin sebaliknya hakim dapat
menghukum seseorang yang kalau dilihat dari sudut yuridis, kenyataannya
tidak bersalah (misalnya pada kasus Jessica dimana buktinya sangat sumir
yaitu bukti rekaman CCTV yang terlihat tidak jelas apakah Jessica benarbenar pelakuknya atau ?). Jelaslah bahwa secara fungsional terhadap
kegunaan barang-barang bukti dalam suatu pembuktian pidana adalah ada
hubunannya dengan alat-alat bukti dan keyakinan hakim dalam suatu
pembuktian tindak pidana yang dapat timbulnya suatu putusan hakim
(sentencing).

Peran Hakim Dalam Peradilan Pidana :


Kemandirian dan Kebebasan Hakim, menurut Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD NRI 1945)
sebagai landasan dan falsafah negara menyatakan bahwa Indonesia adalah
negara hukum. Negara Indonesia sebagai negara hukum mempunyai tiga
prinsip dasar, yaitu supremasi hukum (supremacy of law), kesetaraan
dihadapan hukum (equality before the law), dan penegakan hukum dengan
cara yang tidak bertentangan dengan hukum (due process of law). Dalam
penjabaran selanjutnya, pada setiap negara hukum mempunyai ciri-ciri :1.
Jaminan perlindungan hak-hak asasi manusia, 2. Kekuasaan kehakiman atau
peradilan yang merdeka dan 3. Legalitas dalam arti hukum, yaitu bahwa baik
pemerintah/negara maupun warga negara dalam bertindak harus berdasar
atas melalui hukum. Dalam negara hukum, salah satu unsur yang utama
yakni mempunyai kekuasaan kehakiman yang mandiri atau merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan, guna mewujudkan kepastian hukum, keadilan
dan kemanfaatan. Suatu negara disebut sebagai negara hukum yang
demokratis bilamana memiliki kekuasaan kehakiman yang tidak saja
merdeka, tetapi juga memiliki akuntabilitas sehingga dapat menjalankan
peradilan yang bersih, dipercaya oleh masyarakat dan menjadi kekuasaaan
kehakiman yang berwibawa.[3] Keberadaan kekuasaan kehakiman di dalam
suatu negara hukum juga dikemukakan oleh Purwoto Gandasubrata,
mantan Ketua Mahkamah Agung kedelapan, periode 19921994 yang dengan
sangat tegas mengemukakan bahwa: konsekuensi sebagai negara hukum,
maka merupakan suatu conditio sine qua non manakala di negara kita harus
ada suatu kekuasaan kehakiman atau badan peradilan yang merdeka dan
berwibawa yang mampu menegakkan wibawa hukum, pengayoman hukum,
kepastian/keadilan hukum, apabila terjadi pelanggaran atau sengketa
hukum di dalam masyarakat.
Mengenai Kekuasaan Kehakiman, secara mendasar telah dijelaskan
pada Pasal 24 UUD NRI 1945, yang menyatakan:
(1) Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
(2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan
peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan
militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan Pasal di atas, ada beberapa hal penting berkenaan
dengan Kekuasaan Kehakiman, yaitu sebagai berikut : Kesatu, kekuasaan
kehakiman adalah kekuasaan yang merdeka dalam menjalankan peradilan,
Kedua, tujuan dari penyelenggaran kekuasaan kehakiman adalah untuk
menegakkan hukum dan keadilan dan Ketiga, pelaksanaan kekuasaan
kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan
dibawahnya, serta Mahkamah Konstitusi.
Berkenaan dengan kemandirian dan kebebasan kehakiman, Sudikno
Mertokusumo menyatakan: kemandirian dan kebebasan lembaga

peradilan atau pengadilan merupakan syarat dan kondisi agar asas negara
hukum dapat terlaksana sepenuhnya. Ini berarti bahwa lembaga peradilan
mandiri manakala para pelaku lembaga itu juga mandiri serta berorientasi
pada rasa dan suara keadilan tidak pada kekuasaan atau tekanan.
Hakim sebagai pejabat peradilan negara yang berwewenang untuk
menerima, memeriksa, dan memutus perkara yang dihadapkan kepadanya.
Pada, hakikatnya, tugas hakim untuk mengadili mengandung dua
pengertian, yakni menegakkan keadilan dan menegakkan hukum. Oleh
karena itu, hakim dalam menjalankan tugasnya diberikan kebebasan dan
kemandirian yang dijamin oleh undang-undang. Hal ini sangatlah penting,
dengan tujuan untuk menciptakan penegakan hukum yang berkeadilan serta
menjamin hak-hak asasi manusia.
Menurut Gerhard Robbes secara kontekstual ada 3 (tiga) esensi yang
terkandung dalam kebebasan hakim dalam melaksanakan kekuasaan
kehakiman, yaitu:
1. Hakim hanya tunduk pada hukum dan keadilan.
2. Tidak seorang pun termasuk pemerintah dapat mempengaruhi atau
mengarahkan putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim.
3. Tidak boleh ada konsekuensi terhadap pribadi hakim dalam
menjalankan tugas dan fungsi yudisialnya.
Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara
merupakan mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati
oleh semua pihak yang dapat mengintervensi hakim dalam menjalankan
tugasnya. Hakim dalam menjatuhkan putusan, harus mempertimbangkan
banyak hal, baik itu yang berkaian dengan perkara yang sedang
diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan pelaku,
sampai kepentingan pihak korban maupun keluarganya serta
mempertimbangkan pula rasa keadilan masyarakat. Kebebasan hakim
juga terkandung dalam Keputusan Presiden No. 17 Tahun 1994 tentang
Repelita Ke-16 bidang hukum, yang menegaskan: Dalam rangka
mendukung kekuasaan kehakiman dlam penyelenggaraan peradilan yang
berkualitas dan bertanggung jawab,mendorong para hakim agar dalam
mengambil keputusan perkara, disamping senantiasa harus berdasarkan
pada hukum yang berlaku juga berdasarkan atas keyakinan yang seadiladilnya dan sejujurnya dengan mengingat akan kebebasan yang
dimilikinya dalam memeriksa dan memutus perkara.
Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto
mengemukakan bahwa, para hakim mempunyai diskresi bebas,
perasaannya tentang apa yang benar dan apa yang salah merupakan
pengarahan sesungguhnya untuk mencapai keadilan. Dengan kekuasaan
kehakiman yang merdeka, hal ini akan mendukung kinerja hakim dalam
memutus perkara yang dihadapkan kepadanya memutus perkara yang
dihadapkan kepadanya. Hakim dalam persidangan harus memperhatikan
asas-asas peradilan dengan tujuan, agar putusan dijatuhkan secara
obyektif tanpa dicemari oleh kepentingan pribadi atau pihak lain dengan
menjunjung tinggi prinsip. Selain itu, hakim juga tidak dibenarkan

menunjukkan sikap memihak atau bersimpati ataupun antipati kepada


pihak-pihak yang berperkara, baik dalam ucapan maupun tingkah laku.
Kebebasan dan kemandirian hakim bukanlah kebebasan tanpa batas.
Namun terdapat Kode Etik Profesi Hakim yang harus dijadikan pedoman bagi
hakim dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, untuk menciptakan
penegakan hukum yang berkeadilan maka hakim diharuskan mempunyai
sifat-sifat, yaitu : 1. Kartika, yaitu memiliki sifat percaya dan takwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaan masingmasing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, 2. Cakra, yaitu
sifat mampu memusnahkan segala kebathilan, kezaliman dan ketidakadilan,
3. Candra,. yaitu memiliki sifat bijaksana dan berwibawa, 4. Sari, yaitu
berbudi luhur dan berkelakuan tidak tercela dan 5. Tirta, yaitu sifat jujur.
Selain sifat-sifat Panca Dharma Hakim di atas, selain itu
kebebasan hakim sebagai penegak hukum haruslah dikaitkan dengan : 1.
Akuntabilitas, 2. Integritas moral dan etika, 3. Transparansi, 4. Pengawasan
(kontrol) dan 5. Profesionalisme dan impartialita. Dan tugas terpenting
seorang hakim yaitu menjatuhkan putusan terhadap kasus yang diterima
dan diperiksanya. Putusan hakim akan terasa begitu dihargai dan
mempunyai nilai kewibawaan, jika putusan tersebut merefleksikan rasa
keadilan hukum masyarakat dan juga merupakan sarana bagi masyarakat
pencari keadilan untuk mendapat kebenaran dan keadilan. Maka, dalam
putusannya hakim harus mempertimbangkan segala aspek yang bersifat
yuridis, sosiologis dan filosofis, sehingga keadilan yang ingin dicapai dapat
terwujud, dan dipertanggungjawabkan dalam putusan hakim yang
berkeadilan dan berorientasi pada keadilan hukum (legal justice), keadilan
masyarakat (social justice), dan keadilan moral (moral justice).
Hakim sebagai pejabat yang berwenang mengadili perkara, memang
telah diberikan kebebasan dan kemandirian dalam melaksanakan tugasnya.
Hakim diperbolehkan untuk bebas menentukan bagaimana cara
mempertimbangkan putusannya. Seiring perkembangan zaman, diketahui
terdapat beberapa aliran menemukan hukum oleh hakim dalam memutus
suatu perkara, yaitu hakim positivis atau legisme, hakim otonom/bebas
(begriffsjurisprudenz), dan hakim saat sekarang/hakim progresif. Ketiga
aliran hakim tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara yang
satu dengan yang lain. Berdasarkan aliran-aliran menemukan hukum oleh
hakim dalam memutus suatu perkara di atas, maka putusan hakim atas
suatu perkara akan terlihat, apakah hakim tersebut menganut aliran
positivis, aliran otonom/bebas ataukah hakim progresif. Aliran-aliran
tersebutlah yang mengarahkan hakim dalam mempertimbangan putusan
atas perkara yang diadilinya.
Dalama upaya untuk mencapai keadilan yang setinggi-tingginya,
seorang hakim dapat dimungkinkan menyimpang dari undang-undang, demi
kemanfaatan masyarakat, dimana seorang
hakim mempunyai freies
ermesssen, ukuran dengan kesadaran hukum dan keyakinan warga
masyarakat, serta kedudukan hakim bebas mutlak akan tetapi tetap dijalur
koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik

Indonesia. Dalam hal mengenai kewenangan mutlak hakim dapat


dimungkinkan adanya peluang kesewenang-wenangan karena terpengaruh
oleh faktor internal dan eksternal, termasuk kepentingan pribadi, keluarga.
Terdapat pula pandangan aliran yaitu aliran hakim progresif adalah
hakim yang menganut pada aliran hukum progresif yang berasal dari
progressi yang berarti adalah kemajuan dan dapat diharapkan hukum itu
hendaknya mampu mengikuti perkembangan zaman, mampu menjawab
perubahan zaman dengan segala dasar didalamnya, serta mampu melayani
masyarakat dengan menyandar pada aspek moralitas dan sumber daya
manusia penegak hukum itu sendiri. Dan Menurut Satjipto Raharjo dalam
bukunya menyatakan, Selain itu konsep hukum progresif tidak lepas dari
konsep progresivisme, yang bertitik tolak pada pandangan kemanusiaan,
bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik, memiliki kasih sayang
kepedulian terhadap sesama sebagai modal penting bagi membangun cara
berhukum di dalam masyarakat.
Jelaslah bahwa hukum progresif memuat kandungan moral yang sangat kuat,
progresivisme tidak ingin menjadikan hukum sebagai teknologi yang tidak
bernurani, melainkan suatu institusi yang bermoral kemanusiaan. Pendapat
Suteki yang menyebutkan bahwa: teori hukum progresif merupakan
bagian dari proses searching for the truth (pencarian kebenaran) yang tidak
pernah berhenti dalam teori hukum progresif, manusia berada di atas
hukum. Hukum hanya menjadi sarana menjamn dan menjaga berbagai
kebutuhan manusia. Hukum tidak dipandang sebagai dokumen yang absolut
dan ada secara otonom. Hukum progresif yang bertumpu pada manusia,
membawa konsekuensi pentingnya kreativitas. Kreativitas dalam konteks
penegakan hukum selain dimaksudkan untuk mengatasi ketertinggalan
hukum, mengatasi ketimpangan hukum, juga dimaksudkan untuk membuat
terobosan-terobosan hukum bila perlu melakukan rule breaking. Terobosanterobosan ini diharapkan dapat mewujudkan tujuan kemanusiaan melalui
bekerjanya hukum, yaitu hukum yang membuat bahagia.
Terhadap hakim yang berpandangan hukum progresif akan selalu
memperhatikan keadilan dan kemanfaatan dibandingkan dengan kepastian
hukum. Dalam tiap perkara yang dihadapinya, hakim progresif tidaklah
sebagai corong undang-undang, melainkan akan melakukan pendekatan,
mengikuti, menggali, memahami, nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang
hidup dalam masyarakat. Hakim progresif akan selalu mencari terobosanterobosan, sehingga tidak pernah berhenti karena tidak terbelenggu dengan
hukum positif, tapi dengan terobosan-terobosan dalam mencari kebenaran
yang ada dalam masyarakat.Karakter hukum progresif yang menghendaki
kehadiran hukum dikaitkan dengan pemberdayaan sebagai tujuan sosialnya,
menyebabkan hukum progresif juga dekat dengan Sociological Jurisprudence
dari Roscoe Pound yang mengintroduksi gagasan tentang penggunaan
hukum sebagai sarana social engineering. Oleh para penganutnya, usaha
social engineering ini dianggap sebagai kewajiban untuk menemukan caracara yang paling baik bagi memajukan atau mengarahkan masyarakat
maupun Negara.

Menurut Satjipto Rahardjo hukum progresif memiliki karakteristiknya


sendiri yaitu: Pertama, paradigma dalam hukum progresif adalah bahwa
hukum adalah untuk manusia, pegangan, optik atau keyakinan dasar, tidak
melihat hukum sebagai suatu yang sentral dalam berhukum, melainkan
manusialah yang berada di titik pusat perputaran hukum. Hukum itu
berputar di sekitar manusia sebagai pusatnya. Hukum ada untuk manusia,
bukan manusia untuk hukum. Menurut Satjipto apabila kita berkeyakinan
seperti ini, maka manusia itu akan selalu diusahakan, mungkin juga
dipaksakan, untuk bisa masuk ke dalam skema-skema yang telah dibuat
oleh hukum. Kedua, hukum progresif menolak untuk mempertahankan
keadaan status quo dalam hukum. Karena mempertahankan status quo
memberi efek yang sama seperti pada waktu orang berpendapat bahwa
hukum adalah tolak ukur untuk semuanya dan manusia adalah untuk
hukum. Ketiga, hukum progresif memberikan perhatian besar terhadap
peranan perilaku manusia dalam hukum. Ini bertentangan secara diametral
dengan paham bahwa hukum itu hanya uraian peraturan.Dengan demikian
karakteristik hukum progresif dapat disimpulkan dengan pernyataan sebagai
berikut:1. Hukum ada untuk mengabdi pada manusia, 2. Hukum progresif
akan tetap hidup karena hukum selalu berada pada statusnya sebagai law in
the making dan tidak pernah bersifat final, sepanjang manusia masih ada,
maka hukum progresif akan terus hidup dalam menata kehidupan
masyarakat dan 3. Dalam hukum progresif selalu mendekat etika dan
moralitas kemanusiaan yang sangat kuat, yang akan memberikan respon
terhadap perkembangan dan kebutuhan manusia serta mengabdi pada
keadilan, kesejahteraan dan kepedulian terhadap manusia pada umumnya.
Demikianlah uraian penulis berdasarkan faktor internal, yang
menguraikan permasalahan dalam perkara tindak pidana yang mengulas
mengenai seputar barang bukti dan alat bukti dipersidangan serta peran
hakim dipersidangan yangmerupakan sebagai pejabatn negara yang ditunjuk
atas dasar Undang Undang Kekuasaan Kehakiman dan Undang Undang
tentang Peradilan Umum. Dan selanjutnya penulis akan menguraikan
permasalahan berdasarkan faktor eksternal dalam persidangan kasus tindak
pidana yangberkaitan dengan kasus tersebut diatas.
Analisa berdasarkan faktor eksternal :19
Terhadap barang bukti dan alat bukti pada persidangan perkara
tindak pidana, misalnya kasus pembunuhan Wayan Mirna (tersangka/Terdakwa Jessica) tidak
dapat dipandang sebagai kejahatan yang hanya menjadi urusan privat (individu korban), namun
juga harus dijadikan problem public, karena kejahatan ini jelas-kelas merupakan bentuk prilaku
primitive yang dapat menghilangkan nyawa orang lain, unsur, dendam, dan mungkin saja suatu
unsur persaingan dagang bahkan mungkin saja mengandung unsur politis, mengingat bahwa
pembunuhan adalah salah satu bentuk kejahatan yang dilakukan orang yang bertentangan dengan
19.M.Yahya Harahap, 2006, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP,Sinar Grafika,
Jakarta, hlm. 271.

undang-undang dan bisa siapa saja yang akan menjadi korban pembunuhan tersebut. Dalam
upaya mencari kebenaran materiil itulah maka asas akusatoir yang memandang terdakwa seagai
pihak yang sama dengan perkara perdata, ditinggalkan dan digantikan dengan asas inqisatoir
yang memandang bahwa terdakwa sebagai objek pemeriksaan/terperiksa, bahkan mungkin saja
digunakan alat elektorik/penyiksa untuk memperoleh pengakuan dari terdakwa (Andi Hamza,
2000:246). Hal ini mengingat bahwa dalam Pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa
melakukan perbuatan yang didakwakan merupakan bagian yang terpenting dalam hukum acara
pidana.
Bagaiman akibatnya jika seseorang didakwa melakukan suatu perbuatan berdasarkan alat
bukti yang ada disertai dengan keyakinan hakim, padahal tidak benar. Maka hal ini bertentangan
dengan tujuan hukun acara pidana yaitu untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan
hokum acara perdata yang cukup puas dengan kebenaran formal, yang tidak semudah
membalikan telapak tangan. Pembuktian yang berdasarkan kesaksian tidak begitu meyakinkan
karena jawaban darisuatu kesaksian akan berbeda-beda. Oleh karena sebab itu secara umum
berpendapat bahwa alat bukti yang dapat dipercaya adalah keterangan terdakwa berupa
pengakuan karena terdakwa yang telah mengalami scara langsung terhadap peristiwa tersebut,
dilakukannya pemeriksaan yang akan dijadikan alat bukti oleh hakim dalam mengambil
keputusan dan sebagai dasar keyakinan oleh hakim untuk mencapai suatu kebenaran materiil.
Akan tetapi bagaimana proses pembuktian apabila terdakwa telah meninggal dunia dan
apabila kejahatan tersebut berkaitan dengan terganggunya kesehatan seseorang (fisik dan
mental), persoalan tidak semudah dengan apa yang ada dibenak/dikepala setiap manusia. Dalam
suatu kasus kejahatan pembunuhan, unsur pembuktian sangat penting untuk dilakukan demi
terungkapnya siapa pelaku dan motif kejahatan pembunuhan tersebut terjadi. Dalam hal ini
diperlukan alat bukti yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum tentang benarkah telah
terjadi tindak pidana pembunuhan yang menyebabkan matinya seseorang?. Berangkat dari
ketidak mampuan dalam mengungkap secara faktor eksternal, maka hukum memerlukan disiplin
ilmu lainnya, yaitu ilmu kedokteran yang sudah barang tentu merupakan sumbangan dari ilmu
kedokteran melalui visum et repertum, yang bukan hanya terbatas pada hal-hal semacam itu
melainkan segala persoalan yang berhubungan dengan luka, kesehatan dan nyawa seseorang
yang diakibatkan oleh suatu kejahatan akan diterangkan oleh dokter dan akan sangat bermanfaat
bagi proses penyelesaian perkara pidana dipersidangan tersebut.
Dengan adanya kemajuan dalam ilmu kedokteran yaitu melalui visum et repertum, yang
berkaitan terhadap korban kejahatan untuk menentukan sebab musabab kematian, terhadap
mayat dan bahan-bahan lain dalam tubuh manusia dalam kasus kejahatan sekual merupakan
barang bukti menurut pasal 40 KUHPidana, namun tentu saja barang bukti mayat tidak bisa
disimpan sebagai barang bukti karena akan membusuk dan terurai dengan jaringan lunaknya,
sebagian lagi akan hilang dan hancur, atas dasar tersebut dengan visum et repertum merupakan
suatu hal yang penting dalam pembutian.
Jelasnya bahwa analisa berdasarkan secara faktor eksternal terhadap
pengertian Barang Bukti dan pengertian tentang Alat Bukti dengan sebagai
yang diuraikan diatas berdasarkan Pasal 184 ayat (1) KUHAP yang
mengatur alat bukti yang sah dan Pasal 39 ayat (1) KUHAP adalah yang
barang bukti, sebagaimana pula diatur pula oleh Hetterziene in Landcsh
Regerment (HIR) juga terdapat perihal barang bukti dan dalam Pasal 42 HIR
yang menyebutkan bahwa para pegawai, pejabat atau pun orang-orang berwenang
diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian selanjutnya mencari dan
merampas barang-barang yang dipakai untuk melakukan suatu kejahatan serta

barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan. Jika kita kaitkan pasal-pasal
ini dengan kasu Jessica yang masih berlangsung persidangannya, menurut
pendapat penulis dan berdasarkan analisa faktor eksternal terlihat sangat sumir
sekali, mengapa ? karena ketentuan-ketentuan dari Pasal 184 ayat (1) KUHAP,
Pasal 39 ayat (1) KUHAP dan Pasal 42 HIR hampir tidak dapat dibedakan manamana saja yang merupakan sebagai alat bukti dan mana-mana yang merupakan
sebagai barang bukti yang mendasari faktor ekternal dalam kasus pidana tersebut.
Sebagaimana kita ketahui bahwa antara alat bukti dengan barang bukti sangat tipis
sekali asumsi perbdaannya, hanya pasal-pasal pengaturannya yang memperjelas
antara barang bukti dan alat bukti. Kami ambil contoh pada kasus tepidana Jessica
bahwa alat-alat bukti dipersidangan, misalnya keterangan saksi (seperti pelayan
caf, pembuat kopi) yang mungkin saja mereka sebagai pelaku pembunuhan
tersebut, kenapa hanya Jessica saja yang menjadi terdakwa walaupun ada bukti
CCTV (yang merupakan alat bukti petunjuk) akan tetapi secara faktor eksternal alat
bukti petunjuk tersebut tidak dapatmembuktikan secara jelas bahwa Jessica lah
pelaku pembunuhan Wayan Mirna. 20 Bahwa telah terjadi kegamangan penafsiran
mengenail penafsiran dari Pasal 184 ayat (1) KUHAP, Pasal 39 ayat (1) KUHAP
dengan Pasal 42 HIR, dimana alat bukti petunjuk yaitu berupa rekaman CCTV,
dimana rekaman CCTV ini pula dikatagorikan sebagai Barang Bukti akan tetapi
barang bukti yang diatur dalam Pasal 42 HIR tidak dapat membuktikan dengan jelas
bawah Jessica lah pelaku pembunuhan Wayan Mirna tersebut. Al hasil anlisa
berdasarkan faktor eksternal dari penulis, bahwa yang dikatagorikan Pasal 184
ayat (1) KUHAP, Pasal 39 ayat (1) KUHAP dengan Pasal 42 HIR adalah baru
merupakan sebagai terka-terka atau perkiraan dan jangan sampai persidangan
tindak pidana salah menafsirkan didalam memutus perkara pidana tersebut karena
tidak menafsirkan Pasal 184 ayat (1) KUHAP, Pasal 39 ayat (1) KUHAP dengan
Pasal 42 HIR21 secara seksama.
Mengenai peran hakim secara anlisa berdasarkan faktor eksternal dengan
didasari pada Undang-Undang Nomor. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 49 tahun 2009 tentang Peradilan Umum,
dimana hakim harus dapat berperan penuh sebagai pemutus suatu perkara dengan
tetap bersandar pada kondisi faktor eksternal dan dalam koridor hukum serta
peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti peraturan perundang-undang
Hak Aasi Manusia, undang-undang yang mengatur tentang kejahatan tindak pidana,
jangan sampai menghasilkan putusan yang mengandung benturan dengan
kebijakan dasar maupun kebijakan pemberlakuan dari peraturan perundangundangan lain yang berlaku secara faktor eksternal.
20.Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyebutkan
bahwa alat bukti yang sah adalah : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan
keterangan terdakwa.
21.Ratna Nurul Afiah, Barang Bukti Dalam Proses Pidana, hal. 14, Pasal 39 ayat (1) KUHAP
dapat disebut sebagai barang bukti dan Hetterziene in Landcsh Regerment (HIR) juga
terdapat perihal barang bukti. Dalam Pasal 42 HIR disebutkan bahwa para pegawai, pejabat
atau pun orang-orang berwenang diharuskan mencari kejahatan dan pelanggaran kemudian
selanjutnya mencari dan merampas barang-barang yang dipakai untuk melakukan suatu
kejahatan serta barang-barang yang didapatkan dari sebuah kejahatan.

Kesimpulan :
1. Hukum Pembuktian adalah keseluruhan hukum yang mengatur proses

pembuktian suatu kasus pidana berdasarkan alat-alat bukti menurut


Undang-undang dan barang bukti yang ditemukan, sedangkan hukum
pembuktian dalam arti sempit adalah keseluruhan ketentuan hukum yang
mengatur proses pembuktian suaru kasus pidana didepan pengadilan
berdasarkan alat bukti menurut undang-undang dan barang bukti yang
ada. Dan mengenai putusan hakim, menurut Pasal 1 butir 11 KUHAP
adalah : Putusan pegadilan adalah pernyataan Hakim yang diucapkan
dalam sidang pengadilan terbuka yang dapat berupa pemidanaan atau
bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut
cara yang di atur didalam Undang-undang Kekuasaan Kehakiman dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan dengan
peradilan umum.
2. Alat Bukti dan Barang Bukti, d alam Pasal 184 ayat (1) KUHAP menyatakan
bahwa alat bukti yang sah adalah berupa keterangan saksi, keterangan
ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa, dimana dalam sistem
pembuktian hukum acara pidana adalah menganut stelsel negatief
wettelijk, hanya alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang yang
dapat dipergunakan untuk pembuktian dan berarti bahwa di luar dari
ketentuan tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah.
Sedangkan Barang Bukti, yang diatur dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP
adalah berupa :1. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang
seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai
hasil dari tindak pidana, 2. benda yang telah dipergunakan secara
langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya,
3. benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak
pidana, 4. benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan
tindak pidana dan 5. benda lain yang mempunyai hubungan langsung
dengan tindak pidana yang telah dilakukan.
3. Berdasarkan fungsi dan tugas hakim adalah melaksanakan kekuasaan
kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan pengadilan guna
menegakkan hukum dan keadilan, yang pada dasarnya adalah mengadili
yaitu meninjau dan menetapkan suatu perkara dengan secara adil atau
memberikan keadilan dan pemberian kadilan tersebut harus dilakukan
secara bebas dan mandiri. Seperti kita kertahui etika profesi dan kode etik
hakim adalah merupakan suatu system nilai-nilai dan norma-normna yang
berlaku yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok
dalam mengatur tingkah laku hakim serta sering dikaitkan dengan
tindakan yang baik atau etika berhubungan dengan tingkah laku manusia
dalam pengambilan keputusan moral, sedangkan profesi adalah bidang

pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian, keterampilan, kejujuran


tertentu.
4. Apabila dikaitkan dengan kode etik adalah norma dan asas yang diterima
oleh suatu kelompok tertentu sebagai suatu landasan tingkah laku.
Keduanya memiliki kesamaan dalam hal etika moral yang khusus
diciptakan untuk kebaikan jalannya profesi yang bersangkutan dalam hal
ini profesi hukum dalam hal ini prilaku seorang hakim didalam
menyelesaikan suatu perkara. Sebagaimana kita ketahui bahwa etika
profesi memiliki kaedah-kaedah pokok yaitu : 1. profesi haaarus dipandang
sebagai pelayanan dan oleh karena itu sifat tanpa pamrih menjadi ciri
khas dalam mengembangkan profesi, 2.pelayanan professional dalam
mendahulukan kepentingan pencari keadilan mengacu pada nilai-nilai
luhur, 3.pengembangan profesi harus selalu berorientasi pada pada
masyarakat sebagai keseluruhan dan 4. persaingan dalam pelayanan
berlangsung secara sehat sehingga dapat menjamin mutu dan
peningkatan mutu pengembangan profesi.
Saran :
1. Sebaiknya didalam membedah masalah pembuktian pada kasus tindak pidana
Jessica tetap pada koridor dan ranah hukum sebagaimana yang diatur dalam

Pasal 1 butir 11 dan Pasal 184 ayat (1) KUHAP, yang berkaitan dengan
definisi alat bukti dan barang bukti saja. Akan tetapi didalam persidangan
sering menyebut-nyebutkan adanya barang bukti pendamping, bagaimana
aturan hukumnya barang bukti pendamping ini..(masih sumir alias tidak
jelas pasalnya !!!!). Apalagi barang yang telah disita oleh pahak penyelidik
(kepolisian) yaitu berupa gelas yang kemudian dipindahkan kedalam
botol.hal ini pulalah yang menjadi sumir dan kabur terhadap keberadaan
barang bukti tersebut(apakah ditindak lanjuti dengan penetapan
pengailan atau apakah ada penetapan pengadilan terhadap perpindahan
barang bukti tersebut ?).
2. Perlunya suatu regulasi yang secara berkesinambungan terhadap
perauran dan perubahan terhadap KUHP dan KUHAP yang berkaitan
dengan pasal-pasal Hukum Pembuktian, agar kedepan tidak terkesan
adanya unsur memaksakan kehendak terhadap perlakukan yang telah
diduga melakukan tindak pidana, yang sebenarnya si terdakwa sama
sekali tidak melakukan tindak pidana pembunuhan tersebut, karena
barang bukti dan alat bukti masih terkesan sumir atau kabur dan tidak
dapat membukti secara pasti bahwa dia yang benar-benar melakukan
pembunuhan tersebut.

3. Sebaiknya dan seharusnya hakim22 bertugas tetap pada koridor tugas dan
fungsinya sesuai dengan kewenangan yang telah diberikan oleh Undang
Undang Kekuasaan Kehakiman, dan KUHP/KUHAP, agar tidak terkesan
telah terjebak atau ikut kedalam perdebatan antara Advokat dan Jaksa
didalam acara persidangan tersebut, hal mengingat bahwa tugas dan
fungsi hakim adalah sebagai memeriksa, mempertimbangkan dan
memutus suatu perkara serta menjadi wasit untuk mengawal jalannya
persidangan agar sesuai dengan ketentua-ketentuan Kitab Undang
Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
4.Perlunya pembinaan secara berkesinambungan dan penerapan kode etik
yang berkaitan norma dan asas, mungkin saja para penegak keadilan ini
lupa terhadap ketentuan-ketentuan yang mana-mana diperbolehkan dan
mana-mana yang tidak diperboleh untuk melakukan suatu tinakan didalam
persidangan yang berkaitan dengan tugas-tugas hakim tersebut.

Demikianlah makalah atau artikel ini dibuat oleh penulis sebagai


sumbangsih pemikiran dan koreksi, yang mungkin saja bermanfaat bagi
yang telah membacanya sebagai bahan rengun atau pertimbangan didalam
melakukan suatu tindakan-tindakan hukum yang berkaitan dengan koridor
dunia peradilan di Indonesia.

22.http://www.gdc-uk.org/Membersofpublic/Hearings/Determinations. Professional
Conduct Committee, September 2010-July 2013.

DAFTAR PUSTAKA
Adami Chazawi, 2003, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia untuk
Mahasiswa dan Praktisi Hukum, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Bayumedia
Publishing, Malang.
_______Andi Hamzah, 2002,Hukum Acara Pidana Indonesia, Cetakan kedua,
Jakarta : Sinar Grafika.
_______Andi Hamzah, Azas-Azas Hukum Pidana, (Penerbit : PT.Prenhallindo,
Jakarta, 2001).
Andi Hamzah, Ide yang Melatarbelakangi Pembalikan Beban Pembuktian, Makalah pada
Seminar Nasional Debat Publik tentang Pembalikan Beban Pembuktian, Hari Rabu,
Tanggal 11 Juli 2001 di Universitas Trisakti, Jakarta.
Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim, Dalam Persfektif Hukum
Progresif (Jakarta: Sinar Grafika, 2010).
Al. Wisnubroto, Hakim dan Peradilan di Indonesia (Yogyakarta: Univ.
Atmajaya, 1997), hlm. 8.
Abdul Halim, Teori-teori Hukum Aliran Positivisme dan Perkembangan Kritikkritiknya dalam Jurnal Asy-Syirah Vol. 42 No. II, 2009, hlm. 390.
Diakses dari www.google.com pada 24 April 2011.
_______Awaludin Marwan et al, Evolusi Pemikiran Hukum Baru (Yogyakarta:
Genta Press, 2009).
Abidin, Hukum Pidana, (Penerbit : Pradya Paramita, Jakarta, Bunga Rampai
Hukum Pidana, 1983).
Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana,(Penerbit :
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996).
Bagir Manan, Makalah: Organisasi Peradilan di Indonesia, dalam Pontang
Moerad, Pembentukan Hukum Melalui Putusan Pengadilan Dalam
Perkara Pidana (Bandung: Alumni, 2005).
Bawengan, Gerson, Hukum Pidana di dalam Teori dan Praktek, (Penerbit :
Pradya Paramita, Jakarta, 1979).
Bambang Widjojanto, Makalah: Negara Hukum, Kekuasaan Kehakiman:
Upaya Membangun Akuntabilitas Kekuasaan Kehakiman pada

Pelatihan HAM dan Jejaring Komisi Yudisial Republik Indonesia


(Jakarta: 2010).
Bambang Poernomo, 1986 Sistem Pidana Dan Pemidanaan Indonesia dan Retributif , Jakarta :
Sinar Grafika.
Chazawi, Adami, 2003, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia untuk
Mahasiswa dan Praktisi Hukum, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Bayumedia
Publishing, Malang.
________Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum
(Jakarta: Gramedia, 2008).
J.M.Van, Bemmelen, Hukum Pidana 1 , HukumPidana material bagian
umum, (Penerbit edisi Indonesia : Binacipta, bandung, Cet, 1 tahun
1984, Cet.2 tahu 1987).
Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Penerbit :PT
Gramedia, Jakarta, 1983).
Kartanegara, Satochid, Hukum Pidana, Kumpulan Kuliah, (Penerbit : Balai
Lektur Mahasiswa, Jakarta, bagian kedua, 1980).
Karim Nasution, 1986, Masalah Hukum Pembuktian Dalam Proses Pidana,
Jakarta Sinar Grafika.
________Moeljatno, 1993, Asas asas Hukum Pidana, Jakarta : Rineka Cipta.
Muladi dan Bard Nabawi Arif, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, (Penerbit :
Alumni, Bandung, 1992).
M.Yahya

Harahap, 2006, Pembahasan


KUHAP,Sinar Grafika, Jakarta.

Permasalahan

dan

Penerapan

Makarao, Taufik, Muhammad dan Suharsul, Hukum Acara Pidana


(Penerbit : Alumni, Bandung 1992).
________J.C.T.Simorangkir,dkk, 2004, Kamus Hukum,(cetakan kedelapan),
Jakarta : Sinar Grafika Offset.
Paulus E. Lotulung, Makalah: Kebebasan Hakim dalam Sistem Penegakan
Hukum, disampaikan pada Seminar Pengembangan Hukum Nasional,
BPHN dan Dep. Kehakiman dan HAM RI, 2003.
R. Soesilo, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum Dan Delik-Delik
Khusus, ( Penerbit : Politeia, Bogor, 1974).
Soekanto,Soerjono,Sosiologi Suatu Pengantar,(Penerbit : Universitas
Indonesia, Jakarta, 1982).
Sulistia, Teguh, Hukum Pidana Horizon Baru Pasca Reformasi (Penerbi : PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, Edisi. I, 2011).

Sudikno Mertokusumo dikutip dalam Antonius Sudirman, Hati Nurani Hakim


dan Putusannya (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007).
Sudikno Mertokusumo dan Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum
(Yogyakarta: Citra Aditya Bakti.
________Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, IV Pressindo, Jakarta.
Sudijono Sastroatmojo, Konfigurasi Hukum Progresif dalam Jurnal Ilmu
Hukum, Vol. 8, No. 2, September 2005. Diakses dari www.google.com
pada 24 April 2011.
Tongat,

Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif


Pembaharuan(Penerbit : Universitas Muhammadiyah Malang, Cet.
Pertama, 2008).

B. Perundang Undang-Undangan :
- Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHPidana).
- Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAPidana).
- Republik Indonesia Undang Undang Dasar 1945.
- Republik Indonesia, Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang
Peradilan Anak.
- Republik Indonesia, Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana.
- Republik Indonesia, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana
telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004
dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009
tentang Mahkamah Agung Republik Indonesia.
- Republik Indonesia, Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman.
- Undang-Undang No. 49 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (LNRI 2009-158,
TLNRI 5077).
- Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia (LNRI 2004-67, TLNRI 4401).

Anda mungkin juga menyukai