Anda di halaman 1dari 7

ARSITEKTUR

NUSANTARA
Makna Simbol dan Ornamen pada:
Rumah Adat Jawa Tengah

Kelas B Kelompok 4
Redisya Gilang
Matheas Ellanda
Amalya Putri Y

105060500111036
125060500111008
125060500111063

Amanda Jasmine 125060507111017


Ageng Nugroho

135060500111037

Universitas Brawijaya
Fakultas Teknik
Jurusan Arsitektur
Semester Genap 2013/2014

Rumah Adat Joglo


Sebelum mengupas tentang arsitektur
rumah adat Jawa Tengah, penulis merasa kurang
pede karena begitu kental dan panjang campur
tangan sejarah yang ada pada tanah Jawa yang
mempengaruhi bentuk, macam dan falsafah dari
rumah tradisional orang Jawa ini.
Penulis hanya dapat mengupas kulit dari rumah
adat jawa tengah ini secara global tidak
mendetail, pada umumnya rumah adat di Jawa
sangat banyak fariasinya karena begitu luasnya
wilayah Jawa, tapi mereka mempunyai pakem bentuk yang
hampir sama pada dasarnya, mulai dari rumah adat jawa
barat, jawa tengah sampai jawa timur.
Kali ini kita membahas global dari arsitektur rumah adat Jawa
Tengah termasuk Derah Istimewa Jogjakarta.
Joglo bukan sekedar hunian. Lebih dari itu, ia adalah simbol.
Simak saja kerangka rumahnya yang berupa soko guru. Jika
diamati, ada empat pilar utama yang menjadi penyangga
utama rumah. Tiang utama ini masing-masing mewakili arah
angin, barat-utara-selatan-timur. Lebih detil lagi, di dalam
soko guru terdapat apa yang dikenal dengan tumpangsari
yang disusun dengan pola yang terbalik dari soko guru.
Jika bagian-bagiannya dibedah, maka rumah adat Jawa Tengah ini terdiri atas beberapa
bagian yakni pendhopo, pringgitan dan juga omah ndalem/omah njero. Yang dimaksud
dengan Pendhopo adalah bagian Joglo yang lazim dipakai untuk menjamu tetamu. Sementara
itu, Pringgitan sendiri merupakan bagian dari ruang tengah yang umum dipakai menerima
tamu yang lebih dekat. Sementara itu, yang dikenal dengan istilah Omah Ndalem atau Omah
Njero adalah ruang dimana keluarga bisanya bercengkrama. Ruang keluarga ini pun dibagi
lagi ke dalam beberapa ruangan (kamar/senthong), yakni senthong tengah, kanan dan juga
kiri.
Tak hanya pembagian ruangan, beberapa fitur Joglo juga melambangkan nilai filosofis yang
dalam. Sebut saja bagian pintu rumah Joglo yang berjumlah tiga. Pintu utama di tengah, dan
pintu lainnya ada di kedua sisi (kanan dan kiri) rumah.Tata letak pintu ini tidak sembarangan.
Ia melambangkan kupu-kupu yang sedang berkembang dan berjuang di dalam sebuah
keluarga besar.

Selain itu, di dalam Joglo juga dikenal sebuah ruangan khusus yang diberi nama Gedongan.
Ia berperan sebagai tempat perlindungan, tempat kepala keluarga mencari ketangan batin,
tempat beribadah dan masih banyak lagi kegiatan sakral lainnya. Di beberapa rumah Joglo,
Gedongan biasa digunakan multirangkap sebagai ruang istirahat atau tidur. Di lain waktu, ia
juga bisa dialihfungsikan sebagai kamar pengantin yang baru saja menikah.
Simbol Status Sosial
Sama seperti rumah adat di daerah lainnya, Joglo juga bisa dijadikan acuan untuk menakar
status sosial seseorang. Meski diakui sebagai rumah adat Jawa Tengah, tapi tidak semua
rakyat atau masyarakat Jawa Tengah memiliki rumah ini. Mengapa? Sebab meski
tampilannya cukup sederhana, namun kerumitan bahan baku serta pembuatan menjadikan
proses pembangunan Joglo memakan biaya juga waktu yang melimpah. Dahulu, hanya
kalangan priyayi dan bangsawan yang memiliki rumah apin ini. Kini, mereka yang bukan
bangsawan tapi berduit bisa saja membangun rumah elegan dan klasik tersebut.
Joglo sebagai rumah tradisional dikenal memiliki desain yang tidak sembarangan. Desain
juga struktur ini kemudian mengerucut pada pembagian rumah Joglo itu sendiri, antara lain:

Rumah Joglo Pangrawit.

Rumah Joglo Jompongan.

Rumah Joglo Limasan Lawakan.

Rumah Joglo Semar Tinandhu.

RUmah Joglo Mangkurat.

RUmah Joglo Sinom.

RUmah Joglo Hageng.

Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau
disebut juga Wong Kalang.
Berdasarkan sejarah panjang tanah Jawa, bentuk rumah tinggal orang jawa dapat
dikategorikan menjadi 5 macam, ini untuk arsitektur tradisonal yaitu:

bentuk Panggangpe = bangunan hanya dengan atap sebelah sisi.


bentuk Kampung = bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja.
bentuk Limasan = bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya.
bentuk Joglo atau Tikelan = bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah
bubungan di tengahnya.
Tajug = bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncing.
Dibanding bentuk lainnya, rumah joglo lebih familier untuk masyarakat pada umumnya.

dari 5 macam kategori tersebut berfungsi untuk membedakan bentuk, ukuran dan fungsi
dari bangunan tersebut.
Jadi tidak mungkin orang jawa membangun rumah tinggalnya berbentuk Tajug, karena
bentuk Tajug hanya digunakan untuk bangunan yang disucikan semisal bangunan Masjid,
tahtah Raja atau Makam orang yang disucikan.
Untuk penerapan bentuk bangunan rumah tradisional Jawa tengah secara lengkap dapat di
lihat dari:
Pintu gerbang biasa menggunakan bentuk kampung.
Tempat tinggal atau biasa disebut pendopo menggunakan bentuk joglo. Di daerah bagian
pesisir bentuk rumah mengalami modifikasi sedikit dengan penggunaan kaki atau rumah
yang tidak menempel tanah alias mempunyai kolong, ini diperuntukkan untuk jaga-jaga jika
laut pasang atau banjir.

Simbol ornamen tradisional rumah adat Jawa


tengah

Dalam sebuah
bangunan Jawa
biasanya dapat
dijumpai banyak kayu
yang diukir. Ornamen
ukir ini sarat
mengandung makna
simbolis. Ornamen ini
bermacam ragamnya,
misalnya gunungan,
tlacapan, ayam jago,
ular naga, banyutetes,banaspati dan
sebagainya. Bentuk
dan makna ornamen
yang akan dibahas
disini dibatasi hanya
pada beberapa ornamen yang umum dipakai.
Gunungan (Kayon / kekayon)
Gunungan adalah simbol dari jagad raya. Puncaknya adalah lambang keagungan dan keesaan.
Bentuk simbol ini memang menyerupai gunung (seperti yang sering dipakai dalam wayang
kulit). Dalam prakteknya, orang-orang Jawa memasang motif gunungan di rumah mereka
sebagi pengharapan akan adanya ketenteraman dan lindungan Tuhan dalam rumah tersebut.
Lung-lungan
Sesuai dengan arti harafiah kata lung sendiri yang berarti batang tumbuhan yang masih
muda, simbol ini berupa tangkai, buah, bunga dan daun yang distilir. Jenis tumbuhan yang
sering digunakan adalah tumbuhan teratai, kluwih, melati, beringin, buah keben dsb. Simbol
ini melambangkan kesuburan sebagai sumber
penghidupan di muka bumi.

Wajikan
Berasal dari kata wajik, yaitu sejenis makanan dari beras ketan yang dicampur gula kelapa.
Sesuai dengan namanya, wajikan berupa bentukan belah ketupat yang di tengahnya terdapat
stilasi bunga.
Patran
Patran berbentuk seperti daun yang disusun berderet-deret. Biasanya patran ditempatkan di
bagian bangunan yang sempit dan panjang.
Banyu-tetes
Ornamen ini biasa diletakkan bersamaan dengan patran. Sesuai dengan namanya, oranamen
ini menggambarkan tetesan air hujan dari pinggiran atap (tritisan) yang berkilau-kilau
memantulkan sinar matahari.
Banaspati / Kala / Kemamang
Ragam hias berbentuk wajah hantu / raksasa. Banaspati ini melambangkan raksasa yang akan
menelan / memakan segala sesuatu yang jahat yang hendak masuk ke dalam rumah.
Karenanya ragam hias ini biasa ditempatkan di bagian depan bangunan, seperti pagar,
gerbang, atau pintu masuk.
Motif Ragam Hias Candi

Kesimpulan