Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL PENGAMATAN

KEGIATAN KEDOKTERAN KERJA


DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA PEDAGANG KETOPRAK

Dosen Pembimbing
dr. Nur Aini Djunet

Oleh :
Muhammad Reyyan Alfaj

2011730090

KEPANITERAAN KLINIK STASE IKAKOM II


PUSKESMAS KERANGGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2016

KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan Salam kami panjatkan bagi Nabi Besar
kita Nabi Muhammad SAW. Dalam mengikuti kegiatan IKAKOM 2

kami sebagai

Mahasiswa di tuntut agar bisa memahami dan menerapkan ilmu tersebut dalam praktik
kedokteran nanti setelah menyelesaikan masa pendidikan di bangku perkuliahan.
Dalam laporan ini penulis membahas mengenai Kedokteran Kerja, yang dijelaskan
cara melakukan diagnosis penyakit akibat kerja, faktor risiko yang dihadapi pekerja, bahaya
potensial akibat jenis pekerjaan yang dilakukan, serta K3 ( Kesehatan dan Keselamatan
Kerja) dengan jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai kriteria pekerjaannya.
Adapun, unsur yang harus diperhatikan saat mengamati pada tempat kerja ialah :
faktor 1) Personal: meliputi, faktor usia, masa kerja, pendidikan, Indeks masa tubuh, faktor
kesehatan, perilaku 2) Equipment meliputi, alat yang digunakan yang dapat menyebabkan
kecelakaan dalam kerja 3) Material penggunaan bahan baku yang berbahaya 4) Environment
merupakan dampak dari lingkungan ; faktor fisik, kimawi, ergonomic, biologis, psikososial.
Penulis berharap semoga hasil dari laporan ini dapat bermanfaat bagi diri penulis
sendiri dan orang lain, sehingga diharapkan lebih banyak masyarakat yang lebih sadar bahwa
setiap pekerjaan memiliki risiko dan potensi bahaya. Bahwa penting sekali dalam melakukan
pekerjaan diperhatikan aspek-aspek yang dapat melindungi diri sehingga tidak membawa
dampak penyakit dimasa mendatang sehingga proktuvitas dapat terganggu dan biaya untuk
berobat / perawatan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh dari tempat kita bekerja.
.

Penulis
Tangerang Selatan, Oktober 2016

BAB I
PENDAHULUAN
Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap aktifitas pekerjaan. Dan saat
kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya, akan mengakibatkan efek
kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini mungkin, potensi kecelakaan kerja
harus dicegah atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Penanganan masalah keselamatan
kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan secara serius oleh seluruh komponen
pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal
dalam perusahaan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada akhirnya dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa
tetapi juga kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi dapat mengganggu proses
produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada
masyarakat luas. Visi Pembangunan Kesehatan di Indonesia yang dilaksanakan adalah
Indonesia Sehat 2010 dimana penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat,
mampu memperoleh layanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Kondisi kerja yang buruk berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja, mudah sakit,
stres, sulit berkonsentrasi sehingga menyebabkan menurunnya produktif kerja. Kondisi kerja
meliputi variabel fisik seperti distribusi jam kerja, suhu, penerangan, suara, dan ciri-ciri
arsitektur tempat kerja lingkungan kerja yang kurang nyaman, misalnya : panas, berisik,
sirkulasi udara kurang, kurang bersih, mengakibatkan pekerja mudah stress.
Kondisi lingkungan fisik dapat terjadi misalnya suhu yang terlalu panas, terlalu
dingin, terlalu sesak, kurang cahaya dan semacamnya. Ruangan yang terlalu panas dan terlalu
dingin

menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaan. Panas

bukan hanya dalam pengertian temperatur udara, tetapi juga sirkulasi atau arus udara,
munculnya stres kerja, sebab beberapa orang sangat sensitif pada kebisingan dibanding yang
lain.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,
sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi
pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh,
merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas
kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita
pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa
pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab,
sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja
yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak
menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undangundang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap
tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.
Kelelahan kerja merupakan masalah yang sangat penting perlu ditanggulangi secara
baik. Kelelahan kerja ditandai oleh adanya penurunan kekuatan otot, rasa lelah yang
merupakan gejala subjektif dan penurunan kesiagaan (Grandjean, 1985).
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam
bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan
berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat
meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat
memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan
kesehatan kerja.

1.1 Tujuan
1.1.1. Tujuan Umum
Diketahuinya status kesehatan, gambaran karakteristik pekerjaan dan postur kerja serta
hubungannya dengan penyakit akibat kerja
1.1.2.Tujuan Khusus
a) Diketahuinya gambaran besaran pengaruh postur kerja pasien yang diambil terhadap
penyakit terkait kerja.
b)

Diketahuinya gambaran hazard-hazard menyeluruh yang dimungkinkan menjadi

penyebab pasien menderita gangguan akibat kerja.


c) Diketahuinya status secara umum pasien untuk evaluasi dan analisa pekerjaan untuk
dihubungkan dengan penyakit akibat kerja.
e) Mendapatkan penilaian dari universitas sebagai tugas akhir stase IKAKOM II dalam
rangka menjalankan kepaniteraan stase IKAKOM II
1.2 Manfaat
a) Mengetahui status pasien yang dipilih sebagai subjek analisa, dan mengetahui kondisi
kesehatan terakhir pasien
b) Dapat melatih dan mempelajari lebih jauh tentang penyakit akibat kerja, dan cara
menganalisa hazard hazard yang dapat memperberat penyakit.
c) Dapat dijadikan sebagai rujukan subjektif untuk penelitian, plant survey, maupun work
survey lainnya.
d) Data dan hasil analisa dapat dijadikan rujukan untuk bahan evaluasi perusahaaan dan
fasilitas kesehatan terkait untuk nantinya dijadikan pertimbangan program faskes.

e) Tinjauan pustaka dapat dijadikan referensi bagi pengelola perusahaan dan pembaca untuk
mengevaluasi faktor resiko terkait dalam perusahaannya.

BABII
TINJAUANPUSTAKA
A. Ergonomi
1. Definisi
Ergonomi berasal bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata yakni Ergon yang berarti
kerja dan Nomos yang berarti hukum alam dan bisa didefinisikan sebagai rangkaian sistem
maupun studi dari aspek-aspek manusia dengan lingkungan pekerjaannya yang ditinjau
secara saintis dalam berbagai macam bidang seperti anatomikal, fisiologikal, psikologikal,
10

teknikal, tempat bekerja, dan desain . Ergonomi juga dikaitkan dalam kesehatan sebagai
Science of Working dimana hal ini membahas tentang optimalisasi kerja tanpa menurunkan
7

kualitas kesehatan bagi pekerjanya .


International Labour Organization (ILO) mendefinisikan ergonomi sebagai
penerapan ilmu biologi manusia yang sejalan dengan teknologi dan ilmu rekayasa fisik
maupun saintis dalam rangka untuk mencapai penyesuaian yang saling menguntungkan
antara pelaku pekerja dan pekerjaannya agar tercipta suatu tindakan optimal dalam bekerja
demi efisiensi dan optimalisi kerja tanpa mengesampingkan dampak pada kesehatan
10

pekerja .
2. Prinsip Ergonomi
Fokus dari ergonomi terletak pada interaksi antara manusia, lingkungan, dan alat yang
digunakannya, serta berlaku sebaliknya. Fungsi dasar dari ergonomi pada prinsipnya adalah
memberikan kenyamanan kerja dengan memanfaatkan analisis faktor-faktor yang ada pada
interaksi tersebut yang direkayasakan supaya memenuhi optimalisasi kerja tanpa menurunkan
7

kualitas kesehatan dari pekerja . Sebagai contoh, kursi didesain dengan sandaran punggung

untuk memberikan kenyamanan pada saat duduk dan memberikan kesempatan relaksasi yang
lebih besar pada otot di daerah punggung atas dan bawah.
3. Ruang lingkup Ergonomi
Ergonomi merupakan sebuah bidang multidisiplin yang pada pembahasannnya dapat
mencakup dari beberapa disiplin ilmu seperti Kedokteran, Teknik, Psikologi, Fisiologi,
7

Desain, dan Kinesiologi .Hal ini dapat menjadi dasar indikasi apakah suatu pekerjaan sudah
terintegrasi dengan benar dilihat dari tiga aspek dasar ergonomi, yakni, human, machine,
10

environtment .
Peranan ergonomi juga ditunjukkan untuk menghilangkan adanya keluhan-keluhan
sakit pada bagian tubuh pekerja, dengan pembuatan suatu desain yang benar dan peletakan
instrument yang baik serta pengoperasian yang tidak asal asalan demi terciptanya suatu
10

respon kerja yang optimal dan efisien dan sesuai dengan kapasitas pekerjanya .
4. Konsep dan Sistematika Ergonomi
Dalam pelaksanaannya, ergonomi diciptakan secara bertahap, menilik dari faktor faktor yang
ada pada pekerjaan yang akan dikerjakan. Sistematika tersebut melingkupi beberapa proses,
yakni :
1.

Analisis : digunakan dalam menilai tingkat baik atau buruknya sistem dan organisasi kerja
terhadap performa dari sang pekerja. Hal ini merupakan hasil dari integrasi antara sistem
kerja yang diterapkan terhadap alat-alat dan properti kerja yang digunakan.

2.

Design : digunakan dalam menilai seberapa bermanfaat hubungan antara pekerja dan
performanya terhadap alat-alat dan properti yang digunakannya.

3.

Integrasi : digunakan dalam menilai seberapa besar pengaruh alat-alat dan properti yang
1

digunakan terhadap organisasi kerja dan sistem yang digunakan .


5. Tujuan dan Fungsi Ergonomi Secara Umum
Ergonomi pada dasarnya mempunyai beberapa tujuan, yang dimana tujuan ini merupakan

hasil dari rangkaian keselarasan faktor faktor yang telah dikemukakan sebelumnya, yakni :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental pelaku kerja melalui upaya pencegahan
cidera dan gangguan yang ditimbulkan dari pekerjaan, menurunkan beban kerja secara
9

fisik dan psikis, dan mengupayakan promosi kesehatan dalam bekerja .


2. Meningkatkan Kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak social, mengelola
dan mengkoordinir pekerjaan secara tepat guna, dan meningkatkan jaminan social baik
selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif

3. Menciptakan keseimbangan aspek, yakni aspek teknis, biomekanis, antropologis, ekonomis,


desain, dan system kerja yang diselaraskan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas
hidup yang tinggi.

B. SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. Anatomi dan Fisiologi sistem muskuloskeletal
Untuk merencanakan dan melaksanakan sebuah Railway pada ergonomi kerja, maka
dibutuhkan pengetahuan terlebih dahulu terhadap faktor yang paling penting, yakni faktor
operator kerja, bagaimana sebuah alat dan lingkungan kerja yang dibangun dan dibentuk
sesuai dengan kebutuhan manusia dan memenuhi kriteria keterbatasan dan kapasitas dari
manusia, sehingga alat dan lingkungan kerja yang dibangun menjadi tepat guna dan
8

mendukung pekerjaan .
a. Sistem Rangka
Sistem rangka mempunyai beberapa fungsi yakni memberikan gambaran bentuk dasar
tubuh, sebagai alat gerak Pasif, tempat menempelnya otot sebagai sarana pembentukan gerak,
pelindung jaringan dan organ lunak serta vital, sarana penyimpan mineral, sebagai tempat
8

hemopoiesis, penahan kompresi beban, dan pembentuk artikulasi gerakan tubuh . Rangka
manusia terdiri dari 206 tulang, yang terbentuk dari sel-sel osteosit, osteoblast, dan
5

osteoklas . Matriks tulang sebesar 30 persen terbentuk dari bahan-bahan organik seperti

kolagen, dan proteoglikan, dan 70 persennya terbentuk dari endapan garam-garam mineral
seperti kalsium, fosfat, natrium, kalium karbonat, dan magnesium, fungsi dari matriks lunak
adalah sebagai penghubung antar tulang dan sekaligus memudahkan mobilitas sendi,
sementara matriks keras pada tulang berguna untuk menahan beban, baik beban yang
diciptakan dari luar tubuh. Sistem rangka terdiri dari bagian ekstremitas atas dan bagian
ekstremitas bawah, dan lengkung kaki
Hubungan antar tulang diperkuat dengan adanya jaringan penghubung berupa tendon,
ligamentum, dan fascia. Matriksnya terdiri dari serat kolagen dan serabut elastis. Didalamnya
10

terdapat sendi yang berfungsi sebagai batas penggerak tulang . Terdapat 3 kategorikal sumbu
10

sendi yang terdapat pada sistematika rangka manusia . Yakni :

1) Sendi 1 sumbu :
a) Hinge Joints : yakni sendi yang bergerak tegak lurus searah panjang tulang.
b) Pivot Joints : yakni sendi yang bergerak selaras dengan panjang tulang saja.
2) Sendi 2 sumbu :
a) Ellipsoidal/Condyloidal Joints : Mempunyai kepala sendi yang cekung berbentuk
ellipsoid dan mempunyai sumbu panjang dan pendek
b) Saddle Joints : Permukaan sendi berbentuk pelana, bentuk permukaan sendi yang
satu cembung dan yang satu lagi cekung.
c) Plane Joints : Sistematik sendi tidak mempunyai ujung saling adu jadi hanya
memungkinkan gerakan saling bergeser antar 2 sumbu.
3) Sendi 3 Sumbu :
a) Ball and socket joints : sendi yang gerakannya mencakup lebih dari setengah
kepala sendi dan memiliki 3 sumbu gerakan.

b. Sistem Otot

Otot merupakan jaringan yang mengubah sejumlah senyawa kimiawi yang dikonversi
1

menjadi energi, bertujuan sebagai penggerak fungsi kerja mekanik tubuh . otot menempel
5,6

pada rangka dan berfungsi sebagai alat gerak aktif . Fungsi utama otot adalah menghasilkan
gerakan rangka, mempertahankan sikap dan posisi tubuh, menyokong jaringan lunak,
7

mempertahankan suhu tubuh . Otot terdiri dari serat-serat yang berukuran 10-400 mm dan
diameternya berkisar antara 0,001 hingga 0,1 mm, serat pada otot ini disebut sebagai
myofibril yang tersusun atas filament-filamen dan molekul myosin yang saling tumpang
2

tindih dengan molekul aktin . Otot mempunyai dua gerakan mayor yakni kontraksi dan
relaksasi.
Terdapat 2 jenis serat otot, yakni serat otot kerja cepat, dan serat otot kerja lambat.
Kontraksi serat otot cepat ditunjukkan untuk optimalisasi gerakan yang kuat namun sebentar
dan tidak untuk jangka waktu lama. Sebaliknya terdapat serat otot kerja lambat ditunjukkan
untuk beban kerja yang lebih lama. Otot mempunyai beberapa sumber energi untuk bekerja,
yakni hasil pemecahan senyawa fosfat, ion kalsium, dan oksigen untuk sumber energy secara
aerobik.
Dalam implementasi ke pekerjaan, pekerjaan dinamis jauh lebih baik dari pekerjaan
statis, karena pekerjaan statis membuat supply darah nantinya lambat laun akan berkurang ke
daerah kerja lokal otot, yang dimana lama kelamaan asam laktat akan banyak terbentuk dan
10

akhirnya otot mudah merasa lelah walaupun dalam periode yang sebentar . Sebaliknya
pekerjaan dinamis akan mengoptimalisasi mitokondria dan supply oksigen sehingga
pekerjaan yang dilakukan bisa lebih bertahan lama dan timbunan asam laktat bisa disintesis
8

ulang menjadi karbondioksida dan H2O .


C. Gangguan Muskuloskeletal
1. Definisi
Gangguan muskuloskeletal merupakan keluhan atau penyakit yang bersifat organik,
yang dapat terjadi pada seluruh sistem yang menyusun organ-organ muskuloskeletal, dan
dapat bersifat akut maupun kronis, juga menetap ataupun sementara. Gangguan
muskuloskeletal ini dapat dicetuskan oleh faktor dari dalam tubuh, dari luar tubuh, dan

kebiasaan yang salah. Gangguan muskuloskeletal yang diakibatkan karena faktor dari luar
tubuh seperti pekerjaan, makanan yang dikonsumsi, dan kebiasaan. Repetisi, dan postur
janggal adalah penyebab gangguan muskuloskeletal terbanyak, sementara faktor lain yang
memperberat adalah beban kerja yang berlebih dan paparan bahan asing dari lingkungan.
Gangguan muskuloskeletal yang timbul akibat dari suatu pekerjaan yang dilakukan, disebut
8

sebagai gangguan muskuloskeletal terkait kerja .


Gangguan muskuloskeletal terkait kerja adalah sebuah kondisi cedera atau gangguan
yang terjadi pada salah satu, sebagian, atau seluruh bagian tubuh yang termasuk dalam sistem
muskuloskeletal, berupa gangguan pada otot, sendi, tulang, tendon, ligamen, pembuluh darah,
dan jaringan disekitarnya, yang disebabkan karena paparan dari bahan-bahan berbahaya
9

maupun paparan dari faktor resiko yang ada disekitar . Banyak hal yang dapat menjadi faktor
resiko terciptanya gangguan muskuloskeletal, dalam faktor pekerjaan, hal ini bisa disebabkan
karena gerakan repetisi yang berlebihan, postur yang kurang baik, beban kerja berlebih,
vibrasi, lingkungan kerja yang kurang baik, dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk seperti
merokok dan jarang berolah raga.
2. Faktor Resiko
a. Faktor PekerjaanTerdapat beberapa faktor resiko pekerjaan yang dapat menyebabkan
atau memperberat gangguan muskuloskeletal, yakni adanya postur kerja yang kurang baik,
beban kerja yang diterima, frekuensi sebuah pekerjaan yang dilakukan, genggaman tangan
yang merepresentasikan kenyamanan pegangan pada tangan saat pekerjaan dilakukan, dan
7

durasi keseluruhan pekerjaan tersebut .


1) Postur kerja
Postur

kerja

merupakan

penyumbang

paling

banyak

terhadap

gangguan

muskuloskeletal akibat kerja. Posisi tubuh yang menyimpang dan tidak tepat dapat
mengakibatkan cedera pada sendi, otot, tulang, tendon, dan ligament. Postur kerja sendiri
didefinisikan sebagai sebagai macam-macam gerakan dan posisi tubuh pekerja selama
melakukan pekerjaan. Postur kerja dibagi dalam 2 macam kategori, yakni postur netral dan
postur janggal, sementara gerakannya dibagi menjadi dua kategori, yakni gerakan statis dan
9

gerakan dinamis .

a) Postur Netral
Adalah postur dimana posisi dari sistem muskuloskeletal pada tubuh sesuai pada
struktur yang sewajarnya sesuai dengan keterbatasan gerak bagian tubuh tersebut, tanpa ada
beban berlebihan yang menyebabkan adanya kontraksi berlebihan pada otot terkait, dan tidak
ada resiko penekanan pada jaringan dibawahnya sehingga tidak terlalu berisiko besar untuk
8,9

menyebabkan terjadinya gangguan muskuloskeletal .


b) Postur Janggal
Yaitu kondisi dimana postur tubuh secara signifikan berada pada posisi menyimpang
dari postur normal, dan melebihi batas toleransi keterbatasan gerakan tubuh, sehingga
memungkinkan terjadinya suatu cedera, kontraksi berlebihan pada otot, dan penindihan
jaringan yang bisa menyebabkan gangguan muskuloskeletal. Postur janggal akan
menyebabkan energi yang dikeluarkan untuk melakukan suatu pekerjaan menjadi bertambah,
akibatnya efektivitas kerja akan berkurang dan akan menimbulkan tekanan berlebihan pada
organ-organ muskuloskeletal. Hal ini jika dilakukan secara berkepanjangan akan
7

meningkatkan resiko kerusakan pada organ tubuh yang mengalami tekanan berlebihan .
Berikut beberapa penjabaran tentang postur janggal pada beberapa bagian tubuh :
3

(1) Postur janggal pada PunggungTerdapat 3 jenis postur janggal pada Punggung , yang
dimana jika dilakukan terus menerus secara berlebihan akan mengakibatkan gangguan
muskuloskeletal, yakni :
(a) Membungkuk (bent forward)
o

Kondisi dimana rentang posisi punggung dan dada berada pada jarak > 20 . Terhadap garis
vertical
(b) Berputar (twisted)
Kondisi dimana kondisi punggung memutar ke kanan maupun kekiri secara berlebihan, baik
dalam kondisi membungkuk, duduk, maupun berdiri.
(c) Miring (bent sideway)
Kondisi dimana terdapat deviasi bidang median tubuh secara berlebihan dari garis vertikal

kekiri maupun kekanan baik pada posisi duduk maupun berdiri.


Postur janggal pada tanganPostur janggal yang beresiko pada tangan terbagi antara
posisi gerakan dan pegangan, pada postur janggal pada tangan, posisi tangan dengan fleksi,
o

dan ekstensi lebih dari 45 , termasuk postur janggal, dan deviasi pergelangan tangan yang
lebih dari 10 detik dianggap postur janggal. Sementara pegangan dengan tipe overlap grip,
19

pinch grip, dan power grip, dianggap postur janggal .


Postur janggal pada bahu dan lengan atasPostur janggal yang beresiko pada bahu adalah jika
o

lengan atas membentuk sudut >45 terhadap bahu, kearah samping, depan maupun belakang
selama lebih dari 10 detik dengan angkatan beban berat.
Postur janggal pada lengan bawahPostur janggal yang beresiko adalah jika lengan bawah
o

membentuk sudut 90 dalam waktu yang sangat lama, atau membentuk sudut >135 dan
melakukan repetisi pekerjaan walaupun dengan beban yang ringan, dengan posisi telapak
7

terbuka maupun telungkup .


Postur janggal pada kaki;Terdapat 3 jenis postur janggal pada kaki, yang jika dilakukan
dalam waktu lama dengan tekanan ekstremitas atas yang berlebihan dapat meningkatkan
8

resiko gangguan muskuloskeletal .


(a) Berdiri Pada satu kakiPosisi tubuh, dimana tumpuan beban dari tubuh hanya
tertahan pada satu kaki saja.
(b) JongkokPosisi dimana terjadinya fleksi maksimal pada daerah lutut dan paha,
dimana bagian perut menempel sebagian maupun sepenuhnya pada paha.
o

(c) BerlututPosisi dimana salah satu kaki fleksi membentuk sudut 90 , dan kaki yang
lainnya fleksi dengan tumpuan lutut, dimana lutut menyentuh lantai dan tumpuan
tubuh bertumpu pada telapak kaki dan lutut kaki.
Postur janggal pada leher;Terdapat 3 postur janggal pada leher, yakni jika menengadah atau
o

menundukkan kepala dengan sudut lebih dari 20 dan menolehkan kepala kekiri maupun

kekanan .
Postur statisPostur statis adalah kondisi dimana posisi tubuh tidak banyak bergerak
8

dan hanya sebagian kecil saja yang aktif bergerak . Postur statis jika dilakukan dalam waktu
lama akan mengakibatkan kontraksi otot pada daerah lokal yang bekerja terus menerus
mudah lelah, dan mudah tertimbunnya asam laktat di daerah yang bergerak tersebut,
sementara itu jaringan didalamnya akan mengalami paparan tekanan yang bersifat
10

berkelanjutan sehingga dapat terjadi cedera atau gangguan muskuloskeletal .


c) Postur dinamis
Postur dinamis adalah kondisi dimana sebagian besar anggota gerak tubuh bergerak secara
aktif dan tidak monoton. Beberapa contoh postur dinamis yakni, berjalan, melompat,
8

menarik, dan mendorong . Postur dinamis relatif menggunakan energi yang lebih besar,
namun kerja otot bersifat lebih menyeluruh daripada postur statis.

BABIII
STATUSPASIEN,DANHASILPENGAMATANTERHADAPKEGIATAN
BEKERJA
Jenis Pengamatan

: Kunjungan

Cara Pengamatan

: Wawancara dan analisa

Jenis Usaha

: Pedagang Ketoprak

Waktu Pelaksanaan

: 01 Oktober 2016

Lokasi : Gg. KH. Rais no.4, Kranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten 15314

Adapun topik yang penulis pilih dalam pengerjaan tugas Sistem Kedokteran Komunitas II
adalah mengenai Kedokteran Kerja yang membahas Diagnosis Penyakit Akibat Kerja
(PAK) Khususnya dalam bidang ergonomi,

Pencegahan PAK dalam bidang ergonomi,

Kegiatan Penunjang dalam pencegahan PAK dalam bidang ergonomi dan Pengendalian
Faktor Resiko Potensial.
Dalam tugas ini penulis melakukan diagnosis Penyakit Akibat Kerja kepada pekerja
pedagang ketoprak. Subjek analisa bekerja sehari-hari sebagai spedagang ketoprak. Dalam
sehari beliau bisa bekerja selama 7 jam. Beliau bekerja setiap hari dari senin sampai minggu:
Senin - Minggu

: jam 18.00-01.00 WIB

Pekerjaan yang dilakukan beliau tidak pernah lepas dari posisi berdiri lama serta gerakan
mengulek. Jika pelanggan sedang sepi maka beliau mencuci alat makan yang kotor dan
menunggu pelanggan berikutnya datang.
Beliau mengatakan bahwa saat bekerja menggunakan APD berupa kaos lengan
panjang, celana panjang, dan sendal jepit. Pada saat bekerja perlu juga diperhatikan adalah
optimalisasi postur, dan sesekali debu dan asap rokok juga bisa menjadi salah satu hazard
potensial, maka paling tidak harus memakai masker.
Postur yang dialami pedagang makanan sebenarnya tidak sepenuhnya merupakan
postur janggal, terlebih postur bahu dan punggung merupakan postur fisiologis yang masih
dapat ditoleransi, yang menjadi masalah adalah waktu yang dijalani selama memakai postur
tersebut, dan postur janggal pada tangan. Hal ini terjadi terus menerus dan ter-repetisi setiap
hari, maka dapat menimbulkan banyak gangguan muskuloskeletal.
Hampir Selama 20 tahun terpapar dengan pekerjaan seperti ini, beliau menyatakan
telah berulang ulang kali mengalami nyeri persendian dan kesemutan, keluhan ini biasanya
terjadi pada pinggang dan punggung berupa nyeri, siku hingga pergelangan tangan berupa
nyeri, jari jari tangan berupa kesemutan. Hal ini belum pernah dia dapatkan selama tidak

bekerja sebagai pedagang makanan, jadi kemungkinan besar keluhan yang dialami oleh
beliau sebagai subjek analisa, didapat dari pekerjaannya, dan kurangnya pemahaman beliau
tentang Work-Related Musculoskeletal Disorder.

BAB II
PEMBAHASAN
A. STATUS KESEHATAN PENDERITA
I.

II.

Identitas Penderita
1. Nama
2. Usia
3. Kedudukan dalam keluarga
4. Jenis Kelamin
5. Pendidikan
6. Pekerjaan
7. Status Perkawinan
8. Tanggal Kunjungan

: Ny. Siti
: 45 tahun
: Anggota keluarga
: Perempuan
: SMP
: Tukang ketoprak
: Menikah, dengan 1 suami dan 3 orang anak
: 01 Oktober 2016

Riwayat Penyakit
1.
Keluhan Utama :
Punggung dan pergelangan tangan kanan sering sakit, pegal dan kesemutan
sejak 2 tahun yang lalu.
2.
Riwayat Perjalan Penyakit Sekarang :

Panggung dan pergelangan tangan kanan dirasakan sakit ketika bekerja


sebagai tukang ketoprak.
3.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Sejak 2 tahun yang lalu, ketika seharian bekerja sebagai tukang ketoprak,
sering merasa pergelangan tangan terasa sakit.
4. Riwayat Penyakit dalam Keluarga :
Tidak ada penyakit yang sama dikeluarga

III.

Riwayat Pekerjaan
1. Jenis Pekerjaan
Jenis

Alat yang

pekerjaan digunakan
pedagang - Cobek
ketoprak - Pisau
- Kompor

Tempat Kerja

Lama Kerja

BSD, Tangerang Bekerja 7 jam /hari, hari senin


minggu dari jam : 18:0001.00 WIB
Sudah bekerja sebagai
pedagang ketoprak selama 20
tahun.

2. Uraian tugas / pekerjaan


Cara melakukan pekerjaan
Saat jam 04:00 pagi beliau pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk dagangan
ketoprak. Setelah selesai berbelanja beliau menyiapkan bahan-bahan seperti
membuat lontong, merebus tauge, merebus bihun, meracik bumbu kacang,
menggoreng tahu, menggorek kerupuk serta bawang goreng. Selama 3 jam lebih
beliau mempersiapkan bahan-bahannya, kemudian beliau mengangkut semua bahan
ketoprak beserta alat makan ke atas gerobaknya. Kemudian beliau melakukan
kegiatan sehari hari di rumah. Saat sore hari menjelang malam beliau kemudian
mendorong gerobak menuju pangkalan. Sesampainya di pangkalan beliau menunggu

pelanggan datang, saat mendapat pelanggan beliau akan membuat ketoprak.


Pertama tama beliau akan mengulek cabe dan garam, menambahkan bumbu kacang
kemudian diulek kembali, setelah bumbu sudah terulek dengan baik beliau
menambahkan bahan lain seperti lontong; tahu; bihun; dan kerupuk lalu diakhiri
dengan menuangkan kecap secukupnya. Beliau melakukan gerakan mengulek
dengan postur berdiri yang sedikit membungkuk dan dalam waktu yang cukup lama.

Detil aktifitas selama 7 jam kerja


Urutan aktifitas jam kerja :
1. Hari Senin s/d minggu
: jam 18:00-01:00 WIB
2. Istirahat kerja
: saat pelanggan sepi
3. Bahaya potensial :
1. Urutan Kegiatan (secara detil)
Waktu

Kegiatan

04:00 - 06:00

Belanja ke pasar dan menyiapkan bahan-bahan

17.00 - 18:00

Mengangkut bahan bahan ketoprak ke tempat


gerobaknya dan berangkat ke pangkalan

18:00 - 01:00

Menunggu dan melayani pelanggan, istirahat,


sampai dagangan habis terjual.

01:10 -

Pulang ke rumah

2. Alat Pelindung Diri


- Menggunakan baju lengan panjang
- Menggunakan sandal jepit
3. Bahaya Potensial
a. Fisik
b. Kimia
c. Suara
d. Biologis
e. Ergonomi

: panas matahari
: asap rokok, debu
: Tuli sensorineural karena bising jalanan dan klakson
:: posisi berdiri dan badan membungkuk yang terlalu

lama serta posisi tangan yang tertekuk untuk mengulek


f. Psikososial
: rasa jenuh dan stress karena pekerjaan yang monoton

4. Risiko kecelakaan kerja


- Kecelakaan lalu lintas
- Gangguan muskuloskeletal
- Gangguan pernapasan
- Gangguan pendengaran
- Kejenuhan dan stress
IV.

2.

Pemeriksaan :
Pemeriksaan Fisik (secara umum)
1.
Keadaan umum : Baik
2.
Tanda Vital :
- Tekanan Darah : 120/70 mmHg (normal)
- Frekuensi Nadi : 80 kali/menit (normal)
- Frekuensi Nafas : 18 kali/menit (normal)
- Suhu
: 36,40 C (normal)
3.
Keadaan gizi
- Berat Badan
: 56 Kg
- Tinggi Badan
: 160 cm
- BMI
: BB (kg)/ TB(m)2
56/(1.6)2 = 21,8
Kesan
: Gizi normal
Pemeriksaan Klinis :

Kepala : normocepal, rambut warna hitam, distribusi merata, tidak mudah rontok.
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, reflek cahaya (+/+), pupil isokor.
Hidung : septum deviasi (-), sekret -/-, epistaksis -/-.
Telinga : bentuk normotia, serumen -/-, otorhea -/-.
Mulut : mukosa bibir lembab (+), lidah kotor (-), tremor (-), stomatitis (-), sianosis (-),
perdarahan gusi (-).
Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-).
Paru
normochest, pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga (-).
vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-.

Jantung
ictus cordis terlihat di ICS V linea midclavicula sinistra.
BJ I dan II murni reguler, gallop (-), murmur (-).

Abdomen

bising usus (+) normal. nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan limpa tidak
teraba.

Ekstremitas
Atas : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-.
Bawah : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-.

V.

VI.

Pemeriksaan Laboratorium :
a. Laboratorium Rutin
(darah, urine, feces rutin)
b. Laboratorium Khusus
(kimia darah)
c. Pemeriksaan Radiologi
(Rontgen, USG)
d. Pemeriksaan Non- Lab
(Audiometri, Spirometri)

: tidak dilakukan pemeriksaan


: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan

Analisis hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita


1.Pemeriksaan ruang/tempat kerja :
Pekerjaan dilakukan diruang terbuka, penuh asap rokok dan debu.
2.Pembuktian hubungan penyakit dengan bekerja:
Pasien bekerja sebagai pedagang ketoprak selama 7 jam/hari selama 7
hari. Menyebabkan tangan dan punggung sakit, serta bekerja di ruangan
terbuka yang terpapar asap rokok dan debu. Keluhan akan berkurang dengan
istirahat
3.Pembuktian tidak adanya hubungan penyakit dengan penyebab di luar
pekerjaan :
Pasien 20 tahun sudah menjalani pekerjaan ini dan tidak ada aktifitas

VII.

lain di luar pekerjaannya.


Menegakkan Diagnosa Penyakit Akibat Kerja
Diagnosa Kerja :
Unspecified Low back pain
Cubital tunnel syndrome

VIII. Kategori Kesehatan


Kesehatan baik dengan kelainan yang dapat dipulihkan
IX.

Prognosa
1. Ad Vitam
Ad Sanasionam
Ad Fungsionam

: Ad Bonam (menyangkut kehidupan)


: Ad Bonam (menyangkut kesembuhan)
: Ad Bonam (menyangkut fungsional)

X.

Permasalahan pasien dan rencana penatalaksanaannya


Jenis

Rencana Tindakan

Target Waktu dan

Permasalahan
APD yang

Perlunya penambahan

Evaluasi
Prosedur monitor &

kurang

APD seperti maskern dan

pemeriksaan lingkungan

menggunakan kaos lengan

kerja :

sakit dan kram

panjang serta topi


Evaluasi waktu kerja (7
Menggunakan wrist band
jam kerja) , pada
untuk pergelangan tangan.
pasien ini karena tidak
Memakai korset
ada shift kerja maka
punggung.
yang di evaluasi adalah
Pengobatan Simptomatik
lama pajanan saat
Nyeri.

serta punggung

Pemberian :

Posisi bekerja
yang tidak
ergonomis
Tangan terasa

terasa sakit

Dampak stress

Asam Mefenamat

Vitamin neurotropik

bekerja dan lama


profesi sebagai
pedagang makanan.

Meluangkan waktu bersama

keluarga
PEMECAHAN MASALAH
Upaya yang dilakukan dalam mengatasi, mencegah dan mengendalikan adanya
gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja diprioritaskan pada kesadaran individu
para pekerja untuk memakai APD yang baik saat bekerja, lebih hati-hati dan teliti
dalam bekerja.

Pencegahan Primer
Memperbaiki postur kerja serta memakai korset punggung dan wrist band pada
tangan, memperbanyak istirahat saat kerja, dan melakukan kegiatan dinamis supaya
terjadi stretching pada punggung dan meminimalkan postur janggal yang bisa
membuat nyeri punggung.

Oleh karena itu bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh pekerjaan sebagai


pedagang makanan dapat diminimalisir, misalnya:
1. Penggunaan APD yang sesuai dan tepat guna
2. Menyediakan korset punggung dan wrist band
3. Menyediakan waktu yang lebih banyak untuk istirahat
4. Meminum suplemen dan makan makanan bergizi

BAB III
KESIMPULAN & SARAN
A. Kesimpulan
Kecelakaan

yang mungkin sering terjadi bisa mengakibatkan pergelangan

tangan dan punggung sakit karena terlalu lama mengulek serta postur tubuh berdiri
statis sambil membungkuk. Butuh posisi yang ergonomi untuk melakukan kegiatan
agar pekerjaan tersebut tidak merugikan.
B. Saran
Butuh istirahat selama 2 hari dalam seminggu . Untuk mengatasi pergelangan
tangan serta punggung pemakaian wrist band untuk tangan dan pemakaian korset
untuk punggung.

DAFTAR PUSTAKA

nd

1. 2013 FKM Undip.Agius, R., Seathon, A., (2005) Practical occupational medicine, 2 Ed.
Hodder Arnold Books.
2. Alrowayeh, N. Talal, A. Sameera, H. Fares, M. (2012) Prevalence, Characteristics, and
Impacts of Work-Related Musculoskeletal disorders : a survey among physical therapist in
the state of Kuwait. BMC Open Access Journal.Asean Oshnet. Dalam (2012) Good
Occupational safety and Health Practice. ILO Publication.
rd

3. Bridger, R, S. (2009) Introduction of Ergonomics 3 Edition. CRC Press. London.Buckup,


K. (2004) Clinical test for musculoskeletal System : Examination, Signs, Phenomena.
Thieme Publisher.Calvo, A. (2010) Evaluation of Work-Related muskuloskeletal disorder
risk of

4.

Departemen Kesehatan RI. (2010) Laporan Riset Kesehatan Dasar. Litbang Depkes RI.
th

5. Guyton, R. Hall, J. (2010) Textbook of Medical Physiology 12 Edition. Saunders Elsevier


Publishing.
6.

Health and Safety Laboratory. (2008) The ergonomic toolkit. HSE Crown Publisher.
7. Hertling, D., Kessler, M. (2006) Management of common musculoskeletal disorders :
Physical therapy Principle and methods. Lippincot Williams and wilkins.
8. Higgnet, S. McAtamney, L. Rapid Entire Body Assesment. Applied Ergonomics Journals
Volume 31, Issue 2.
9. Karwowsky, W. (2006) International Encyclopedia of Ergonomics and Human Factors.
Taylor & Francis
10.Karwowsky, W., Maras, W., (2006) The Occupational Ergonomics Handbook :
Fundamentals and assessment Tools for Occupational Ergonomics. CRC Press.

Lampiran 1
Foto-foto kegiatan