Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH 1

MANUSIA DAN SAINS


SEMESTER GANJIL 2016 - 2017

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU

KELOMPOK 2

Shella Widiyastuti

260110160042

Saqila Alifa Ramadhan

260110160047

Kita Radisa

260110160051

Aulia Annisa Putri Heri

260110160055

Utari Yulia Alfi

260110160059

Hanifa Rifdah Aiman

260110160063

Sausan Rihhadatulaisy

260110160067

Muhamad Nadiva Mardiana

260110160071

Dwi Prihastuti

260110160077

Sintha Nur Fitriani

260110160081

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya kami
dapat menyelesaikann makalah tentang Manusia sebagai Makhluk Individu
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Tidak lupa kami
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah
wawasan dan pengetahuan pembaca. Kami juga menyadari bahwa makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang bersifat membangun sangat diharapkan demi sempurnanya makalah ini.
Dengan demikian kami mengucapkan terimakasih, semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jatinangor, 8 September 2016


Kelompok 2

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang paling
sempurna dari makhluk lainnya, karena selain dilengkapi dengan bentuk yang
sempurna, manusia pula dianugerahi akal dan pikiran yang membuat berbeda
dengan makhluk lainnya. Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur
jasmani (raga) dan rohani (jiwa). Seseorang dikatakan sebagai manusia
individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur
tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai
makhluk individu.
Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada
manusia yang sama. Secara individu juga, manusia ingin memenuhi
kebutuhannya

masing-masing,

ingin

merealisasikan

diri

atau

ingin

mengembangkan potensinya. Hal ini merupakan gambaran bahwa setiap


individu akan berusaha untuk menemukan jati dirinya masing-masing.
Perkembangan manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap
yang memakan waktu puluhan atau bahkan belasan tahun untuk menjadi
dewasa. Upaya pendidikan dalam menjadikan manusia semakin berkembang.
Perkembangan

keindividualan

memungkinkan

seseorang

untuk

mengembangkan setiap potensi yang ada pada dirinya secara optimal.


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat manusia sebagai makhluk individu?
2. Bagaimana ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui hakikat manusia sebagai makhluk individu.
2. Untuk mengetahui ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu.
1.4 Kegunaan dan Manfaat
1. Agar pembaca dapat mengetahui hakikat manusia sebagai makhluk
individu.
2. Agar pembaca dapat mengetahui ciri-ciri manusia sebagai makhluk
individu.
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Manusia sebagai Makhluk Individu
Secara Etimologis istilah individu berasal dari bahasa latin,
Individium yang berarti sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi atau satu
kesatuan kecil yang terbatas. Hal ini menggambarkan manusia sebagai
makhluk individu karena secara fisiologis manusia memiliki sifat bebas yang
tidak

memiliki

ketergantugan

organik

dengan

sesamannya.

Secara

Termiologis istilah Individu berarti seorang manusia yang memiliki peranan


dalam lingkungan sosialnya, memiliki kepribadian dan pola tingkah laku
spesifik tentang dirinya sendiri. Dalam memenuhi hakikat individualitasnya,
manusia akan selalu berusaha mengembangkan kemampuan-kemampuan
pribadinya, seperti kemampuan bertahan hidup, berkomunikasi, dan lain
sebagainya. Manusia sebagai makhluk individu dibekali dengan akal, pikiran,
dan emosi. Kemampuan tersebutlah yang membuat manusia menjadi makhluk
monodualis, makhluk yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Individu berkembang menjadi pribadi-proses perkembangannya disebut
Individualitas. Individu yang baru lahir/bayi belum memiliki kepribadian,
sedangkan individu yang berkembang melalui proses Individualitas akan
menghasilkan manusia yang memiliki kepribadian. Kepribadian adalah
keseluruhan perilaku individu sebagai hasil interaksi antara potensi-potensi
Bio-Psikofisikal yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi
lingkungan yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental
psikologisnya jika mendapat rangsangan dari luar.
Sebagai makhluk individu, manusia adalah salah satu makhluk ciptaan
Tuhan yang memiliki unsur jasmani (raga) dan rohani (jiwa). Unsur-unsur
tersebut tidak dapat dipisahkan dan menjadi pembentuk indvidu. Apabila
unsur-unsur tersebut tidak menyatu lagi, maka seseorang tidak lagi dikatakan
sebagai makhluk individu. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas
tertentu, tidak ada manusia yang persis di dunia ini bahan orang-orang yang
kembar identik pun memliki sifat yang berbeda-beda.

Manusia sebagai makhluk individu adalah perpaduan dari dua buah


faktor, yaitu faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang
dibawa oleh manusia dari orang tuanya atau disebut juga dengan faktor
keturunan. Faktor ini dibawa oleh manusia sejak dia dilahirkan di bumi ini.
Sementara itu, faktor fenotif adalah faktor pembentuk individu yang berasal
dari lingkungan. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa lingkungan bisa
mempengaruhi karakter manusia. Meskipun sesungguhnya sikap dasar sudah
terbentuk melalui faktor genotip, tetapi lingkunganlah yang menentukan
apakah sifat-sifat tersebut dapat berkembang atau tidak. Kedua faktor tersebut
saling berinteraksi dan membentuk karakteristik yang khas dari seorang
individu yang disebut dengan kepribadian.
2.2 Ciri-Ciri Manusia sebagai Makhluk Individu
Ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dapat dilihat dari:
1. Manusia memiliki Akal
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang mulia.
Manusia di karuniai akal dan pikiran oleh Tuhan. Oleh
karena itu, kita harus mengetahui potensi akal itu seperti
apa dan bagaimana cara mengembangkannya. Kata akal
sendiri berarti suatu peralatan rohaniah manusia yang
berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar
serta

menganalisis

sesuatu

yang

kemampuannya

tergantung pada luas pengalaman dan tingkat pendidikan


formal

maupun

informal.

Dengan

akal

atau

pikiran

manusia dapat berkreasi, berkarya, dan berbudi.


Akal bisa dikatakan pusatnya manusia. Jika kita
memiliki akal yang sehat maka akan sangat berpengaruh
pada kehidupan sehri-hari kita. Karena setiap tingkah laku
kita tidak lepas dari akal. Kita berpikir menggunakan akal
kita, tindakan bisa terjadi dari pikiran kita, jadi sangan
berkesinambungan. Jika kita ingin meningkatkan potensi
akal kita, maka kita harus terus menggalinya.
2. Manusia dengan Jasmani

Jasmani sendiri yang berarti tubuh, jasad, bentuk fisik dari


manusia. Sebagai manusia yang sudah dikaruniai jasmani yang sempurna
oleh Tuhan, maka sepatutnya kita menjaga jasmani kita. Misalnya
menjaga kesehatan dengan makanan-makanan yang sehat, juga kita
melihat hal bermanfaat apa yang dapat kita lakukan dengan jasmani kita.
Kita bisa mengembangkannya dengan berolah raga dan menjaga jasmani
kita.
Manusia dengan jasmani yang sehat adalah manusia yang hidup
sehat dan bahagia, karena dengan jasmani yang sehat, maka manusia
tersebut dapat melakukan rutinitas sehari-hari dengan baik tanpa harus
memikul beban atau pemikiran lain yang dikarenakan oleh jasmani yang
tidak sehat.
3. Manusia dengan Rohani
Rohani adalah sesuatu hal yang berasa diatas moral. Rohani
dikaitkan dengan hati, kalbu, jiwa, mental, pikiran dan sebagainya yang
mewujudkan sebagai suatu unsur pribadi manusia yang paling unik yang
tidak dapat dilihat oleh panca indera.Tetapi gejala dalam kerjanya dapat
dirasakan misalnya, menangkap dan menyimpan pengertian, mengingat,
berpikir, rindu, sedih, gembira dan sebagainya. Jika seseorang sehat
rohaninya ia akan memiliki kemampuan beramal yang tinggi, gairah
bekerja dan bersemangat untuk maju dalam kebaikan.
Semuanya merupakan akal budi yang dimiliki oleh manusia yang
telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada kita manusia.
Bersyukurlah kita terhadap pencitpta kita oleh semua anugerah yang telah
diberikan ini. Akal budi ini seharusnya kita manfaatkan kearah yang
berguna bagi manusia lain dan juga bumi kita ini, jangan kita malah
menggunakan akal.
4. Manusia Memiliki Karakteristik yang Khas
Rohani adalah sesuatu hal yang berasa diatas moral. Rohani
dikaitkan dengan hati, kalbu, jiwa, mental, fikiran dan sebagainya yang
mewujudkan sebagai suatu unsur pribadi manusia yang paling unik yang
tidak dapat dilihat oleh panca indera.Tetapi gejala dalam kerjanya dapat
dirasakan misalnya: menangkap dan menyimpan pengertian, mengingat,

berfikir, berkemahuan, rindu, sedih, gembira dan sebagainya.

Jika

seseorang sehat rohaninya.


Ciri seorang individu tidak hanya mudah dikenali lewat ciri fisik
atau biologisnya. Sifat, karakter, perangai, atau gaya dan selera orang
juga berbeda-beda. Lewat cirri-ciri fisik seseorang pertama kali mudah
dikenali. Ada orang yang gemuk, kurus, atau langsing, ada yang kulitnya
coklat, hitam, atau putih, ada yang rambutnya lurus dan ikal. Dilihat dari
sifat, perangai, atau karakternya, ada orang yang periang, sabar, cerewet,
atau lainnya.
Seorang individu adalah perpaduan antara factor genotip dan
fenotip. Faktor genotip adalah factor yang dibawa individu sejak lahir, ia
merupakan factor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Secara fisik
seseorang memiliki kemiripan atau kesamaan cirri dari orang tuanya,
kemiripan atau persamaan itu mungkin saja terjadi pada keseruluhan
penampilan fisiknya, bisa juga terjadi pada bagian- bagian tubuh tertentu
saja. Kita bisa melihat secara fisik bagian tubuh mana dari kita yang
memiliki kemiripan dengan orang tua kita. Ada bagian tubuh kita yang
mirip ibu atau ayah, begitu pula mengenai sifat atau karakter kita ada
yang mirip seperti ayah dan ibu.
Kalau seorang individu memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat
yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat
yang dipengaruhi oleh factor lingkungan (factor fenotip). Faktor
lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukkan karateristik yang
khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik
dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya,
baik itu lingkungan buatan seperti tempat tinggal (rumah) dan
lingkungan. Sedangkan lingkungan yang bukan buatan seperti kondisi
alam geografis dan iklimnya.
Orang yang tinggal di daerah pantai memiliki sifat dan kebiasaan
yang

berbeda dengan yang tinggal di daerah pegunungan. Mungkin

orang yang tinggal di daerah pantai bicaranya cenderung keras, berbeda


dengan mereka yang tinggal di daerah pegunungan. Berbeda lingkungan

tempat tinggal, cenderung berbeda pula kebiasaan dan perilaku orangorangnya.


Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan dimana seorang
individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial
dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial lain yang
lebih besar.
Seseorang yang sehari-harinya bergaul dengan lingkungan
temannya yang bekerja sebagai supir atau kenek di terminal memiliki
kebiasaan yang khas bagi kelompoknya. Begitu pula dengan orang yang
lingkungan sosialnya berada di pesantren, memiliki kebiasaan yang khas
pula bagi kelompoknya.
Karakteristik yang khas dari seseorang ini sering kita sebut
dengan

kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang

membedakan dirinya dengan yang lain. Kepribadian seseorang itu


dipengaruhi faktor bawaan (genotip) dan faktor lingkungan (fenotip)
yang saling berinteraksi terus menerus. Mayor Polak menjelaskan bahwa
kepribadian adalah keseluruhan sikap, kelaziman, pikiran dan tindakan,
baik biologis maupun psikologis, yang dimiliki oleh seseorang dan
berhubungan dengan peranan dan kedudukannya dalam berbagai
kelompok dan mempengaruhi kesadaran akan dirinya . Meskipun dalam
pengertian tersebut Mayor Polak tidak memasukkan faktor lingkungan
sebagai bagian dari kepribadian,
dia

mengatakan

namun

dalam

pembahasannya

bahwa pembentukkan kepribadian diantaranya

dipengaruhi oleh masukan lingkungan sosial (kelompok), dan lingkungan


budaya (pendidikan).
Yinger, seperti dikutip oleh Horton dan Hunt memberikan batasan
kepribadian adalah keseluruhan perilaku seseorang yang merupakan
interaksi antara kecenderungan- kecenderungan yang diwariskan
(secara biologis) dengan rentetan-rentetan situasi (lingkungan).
Menurut Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah
keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara
potensi-potensi bio-psiko-fisikal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak

lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan


dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat
rangsangan

dari

lingkungan.

Dia

menyimpulkan

bahwa

Faktor

lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukkan karateristik yang


khas dari seseorang.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam
diri individu tidak terbagi, merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jadi
individu hanya sebutan yang tepat bagi manusia yang memiliki keutuhan jasmani
dan rohaninya, keutuhan fisik dan psikisnya, keutuhan raga dan jiwanya. Sebagai
individu, manusia dituntut untuk dapat mengenal serta memahami tanggung
jawabnya bagi dirinya sendiri, masyarakat dan kepada Sang Pencipta. Sebagai
mahluk individu manusia sangat unik dan berbeda satu dengan yang lainnya.
Setiap individu akan sangat ekspresiftentang dirinya.

3.2 Saran