Anda di halaman 1dari 15

1.

Sebutkan penyakit tropis dan infeksi yang dapat anda temukan dalam tatanan
komunitas, dan factor risikonya
Jawaban:
Penyakit tropis dn infeksi masih jadi masalah kesehatan di Indonesia. Sementara penyakit
infeksi yang lama belum tuntas, muncul pula penyakit infeksi yang baru, karena banyaknya
faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit infeksi dan minimnya dokter ahli di bidang
tropis dan infeksi di daerah-daerah tertentu (Satyareni, Diema Hernyka, 2011).
Jenis Penyakit Tropis yang ditemukan dalam tatanan komunitas berdasarkan Widoyo
(2005):
a. Penyakit Infeksi oleh Bakteri : TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Neonatorum, demam
tifoid, kusta, pes, antraks, leptospirosis
-

TBC disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Ditularkan lewat udara saat pasien
batuk atau percikan ludah.

Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae
yang berasal dari membrane mukosa hidung dan nasofaring, kulit dan lesi lain dari
orang yang terinfeksi.

Pertusis merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut adalah batuk rejan (anak).
Penyebab Bordetella pertussis (haemophilus pertussis) dengan penularan melalui
droplet.

Tetanus Neonatorum merupakan penyakit kekakuan otot (spasme) yang disebabkan


oleh eksotoksin dari Clostridium tetani. Penularan melalui luka dalam akibat
kecelakaan, tertusuk, operasi, karies gigi, radang telinga tengah, dan pemotongan tali

pusat.
Demam Tifoid adalah infeksi akut pada saluran pencernaan yg disebabkan oleh

Salmonella typhi Penularan melalui air dan makanan.


Kusta angka kejadian di Indonesia: papua (6,5), maluku (5,43) dan NAD (2,77) per

10.000 penduduk disebabkan oleh Mycobacterium leprae.


PES merupakan penyakit pada rodensia akibat terinfeksi Yersinia pestis. Penularan
melalui tikus liar yg mengigit pinjal atau langsung manusia, manusia yg terinfeksi

digigit pinjal, droplet.


Antraks merupakan penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis pada binatang
ternak/buas. Penularan melalui kontak dengan kulit manusia yg lesi, lecet/abrasi,

mengkonsumsi daging yang terkontaminasi, menghisap spora di kandang hewan,


-

digigit serangga yang baru menggigit hewan infektif.


Leptospirosis merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira
interrogans. Penularan melaui kontak dengan air, tanah dan lumpur yang tercemar
bakteri, kontak dengan organ, darah dan urin hewan terinfeksi, dan mengkonsumsi
makanan yang terkontaminasi

b. Penyakit Infeksi oleh Virus : DBD, Chikungunya, campak, hepatitis, rabies, HIVAIDS, varisela, flu burung, SARS, polio
-

Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dari kelompok
Arbovirus B yang disebarluaskan oleh artropoda. Vektor utama nyamuk Aedes aegypti

dan Aedes albopictus.


Chikungunya merupakan penyakit yang mirip dengan demam dengue yang disebabkan
oleh virus chikungunya dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes

africanus.
Campak, angka kesakitan di Indonesia tercatat 30.000 kasus per tahun disebabkan
virus campak (Morbillivirus). Penularan melalui droplet di udara oleh penderita sejak

1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah ruam.


Hepatitis adalah penyakit radang hati yang disebabkan oleh virus hepatitis
(Picornavirus). Ditularkan melalui makanan-minuman yang terinfeksi, hubungan

seksual
Rabies adalah penyakit yang menyerang susunan saraf pusat. Penyebab melalui virus

yang berfamili Rhabdovirus. Ditularkan melalui anjing, kucing dan monyet


HIV-AIDS adalah suatu kumpulan gejala penyakit kerusakan sistem kekebalan tubuh.
Penyakit ini bukan bawaan tapi hasil penularan yang disebabkan oleh virus HIV.
Penularan melaui cairan tubuh (darah, cairan genital, ASI), Ibu hamil, jarum suntik,

transfusi darah dan hubungan seksual.


Varisela adalah infeksi virus akut yang ditandai dengan adanya vesikel pada kulit yang
sangat menular. Disebabkan oleh Herpesvirus varicellae atau Human (alpha) herpes

virus-3. Penularan melalui kontak langsung (cairan vesikel) dan droplet.


Flu Burung disebabkan virus Al (Orthomyxoviridae). Penularan melalui udara

kotoran, dan urin, ingus unggas yang terinfeksi


SARS (Severe acute respiratory syndrome/sindrom pernafasan akut berat) adalah
sindrom akibat infeksi virus paru yang mendadak dengan gangguan pernafasan.
Disrebakan oleh Paramyxovirus. Penularan melalui droplet pasien yg terinfeksi.

Polio adalah penyakit akut yang menyerang sistem syaraf perifer karena virus polio
(enterovirus). Ditularkan antar manusia melalui rute oro-fekal, sekret faring.

c. Penyakit Infeksi oleh Parasit: Malaria, cacing, filariasis


-

Malaria disebabkan oleh parasit sporozoa (Plasmodium) yang ditularkan melalui


gigitan nyamuk anopheles betina infektif.

Cacing disebabkan Cacing tambang (Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan


Ancylostoma ceylonicum) dan Cacing gelang (Ascaris lumbricoides).

Filariasis adalah penyakit akut yang menyerang sistem syaraf perifer karena virus
polio (enterovirus). Ditularkan antar manusia melalui rute oro-fekal, sekret faring.
Berdasarkan Widoyo (2005) factor risiko yang mempengaruhi penyakit tropis

dan infeksi dikaitkan interaksi host, agen dan lingkungan. Faktor risiko yang dapat
dijelaskan:
a. Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor penting yang mempengaruhi keseimbangan antara host
dan agen. Faktor risiko dari lingkungan terdiri dari faktor fisik dan non fisik:
- Lingkungan fisik meliputi: keadaan geografis, kelembaban udara, temperatur, dan
-

lingkungan tempat tinggal


Lingkungan non fisik, meliputi: sosial (pendidikan, pekerjaan), budaya (adat
kebiasaan turun menurun), ekonomi (kebijakan mikro dan kebijakan lokal), politik
(suksesi

kepemimpinan

yang

mempengaruhi

kebijakan

pencegahan

dan

penanggulangan suatu penyakit)


b. Agen
Faktor agen penyebab penyakit: bahan kimia, mekanik, stress (psikologis), dan biologis
(infeksi bakteri, virus, parasit, atau jamur). Salah satu sifat agen penyakit adalah
virulensi. Virulensi merupakan kemampuan atau keganasan suatu agen penyebab
penyakit untuk menimbulkan kerusakan pada sasaran.
c. Host
Hal yang perlu diperhatikan tentang host meliputi: karakteristik (umur, jenis kelamin,
pekerjaan, keturunan, ras, gaya hidup), gizi atau daya tahan, pertahanan tubuh, kesehatan
pribadi, gejala dan tanda penyakit, pengobatan.
Faktor penyebab timbulnya penyakit infeksi tropis seperti tingkat ekonomi yang
rendah di beberapa negara karena tingkat pendapatan yang rendah secara nasional,
dengan kata lain, kemiskinan yang menjadi penyebab kurang gizi dan rentannya
penduduk terhadap berbagai penyakit, kemiskinan mencakup kemiskinan perorangan

maupun kemiskinan Negara. Bencana alam, sebagai dampak perubahan lingkungan yang
dilakukan manusia. Terjadinya banjir, kebakaran hutan, tanah longsor, gempa bumi dan
lainnnya yang berdampak kepada manusia yang kehilangan tempat tinggal dan harta
benda. Penyakit Infeksi tropis atau penyakit menular ini kalau tidak diatasi secara dini
akan berakibat fatal bahkan bisa menyebabkan kematian tergantung akut/kronisnya
penyakit yang diderita (Satyareni, Diema Hernyka, 2011).
Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Provinsi Bali
mengenai

tahun 2014,

profil kesehatan provinsi bali tahun 2013 di jelaskan prevalensi kejadian

penyakit tropis dan infeksi di tatanan masyarakat Bali:


1. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi
bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang
yang telah terinfeksi hasil TB. Bersama dengan malaria dan HIV/AIDS, TB menjadi salah
satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs. Salah satu
indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR),
yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap
jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Disamping
itu untuk mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan
Pengobatan (SR=Succes Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru
BTA positif yang menyelesaikan pengobatan, baik yang sembuh maupun yang menjalani
pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Succes Rate
dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya
penemuan pasien pada wilayah tersebut. Berikut ini gambaran SR untuk Provinsi Bali
tahun 2004 s/d 2013.

Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2013

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa capaian SR pada tahun 2004 2013
sangat fluktuatif, sebagian besar berada di atas target 85% kecuali tahun 2005, 2006, 2009
dan tahun 2012. Untuk tahun 2013 berada di atas target Renstra Dinas 2009-2013 sebesar
85%, namun masih belum mencapai target Renstra Kemenkes di tahun 2014 sebesar 88%.
Besar kecilnya angka kesembuhan juga dipengaruhi oleh besar kecilnya angka drop out,
yang juga akan berimbas pada besar kecilnya angka penemuan penderita TB MDR (Multi
Drug Resisten) yang semakin merebak belakangan ini, disamping juga adanya pengaruh dari
peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS.
Faktor Risiko: a. Jenis kelamin (Penyakit TB dapat menyerang laki-laki dan perempuan.
Hampir tidak ada perbedaan di antara anak laki dan perempuan sampai pada umur pubertas),
b. Status gizi (telah terbukti bahwa malnutrisi akan mengurangi daya tahan tubuh sehingga
akan menurunkan resistensi terhadap berbagai penyakit termasuk TB. Faktor ini sangat
berperan pada negara-negara miskin dan tidak mengira usia (Croft, 2002)), c. Sosioekonomi
(penyakit TB lebih banyak menyerang masyarakat yang berasal dari kalangan sosioekonomi
rendah. Lingkungan yang buruk dan permukiman yang terlampau padat sangat potensial
dalam penyebaran penyakit TB (Croft, 2002)), d. Pendidikan (rendahnya pendidikan
seseorang penderita TB dapat mempengaruhi seseorang untuk mencari pelayanan kesehatan.
Terdapat beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai
pendidikan rendah akan berpeluang untuk mengalami ketidaksembuhan 5,5 kali lebih besar
berbanding dengan orang yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi (Croft,
2002)), e. Faktor-faktor Toksis (merokok, minuman keras, dan tembakau merupakan faktor
penting dapat menurunkan daya tahan tubuh (Nelson, 1995).

2. Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat
disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi). Cakupan
penemuan kasus pneumonia pada balita tahun 2013 sebesar 22,5 masih diatas tahun 2012

namun masih dibawah angka tahun 2010 sebesar 74,46%. Jika dibandingkan dengan
penemuan kasus tahun 2009 sebesar 10,16% terjadi peningkatan penemuan yang tidak
begitu signifikan. Berikut ini ditampilkan angka cakupan penemuan pneumonia balita
menurut Kabupaten/Kota tahun 2013.

Pada tingkat Kabupaten/Kota dapat diketahui bahwa ada 4 Kabupaten/Kota yang rata-rata
cakupan penemuannya kurang dari 15%, yaitu Denpasar, Buleleng, Badung dan
Kabupaten Jembrana, yang penemuannya tertinggi adalah Kabupaten Klungkung yaitu
84,2%. Sedangkan Kabupaten dengan penemuan terendah adalah Jembrana sebesar 0,6%.
Faktor Risiko:
Status gizi (Tingkat pertumbuhan fisik dan kemampuan imunologik seseorang sangat
dipengaruhi adanya persediaan gizi dalam tubuh dan kekurangan zat gizi akan
meningkatkan kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit seperti pneumonia (Dailure,
2000)), Status imunisasi (Kekebalan dapat dibawa secara bawaan, dengan adanya
kekebalan ini balita terhindar dari penyakit. Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat
sementara, maka diperlukan imunisasi untuk tetap mempertahankan kekebalan yang ada
pada balita (Depkes RI, 2004), Pemberian ASI (Air Susu Ibu yang diberikan pada bayi
hingga usia 4 bulan selain sebagai bahan makanan bayi juga berfungsi sebagai pelindung
dari penyakit dan infeksi, riwayat pemberian ASI yang buruk menjadi salah satu faktor
risiko yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia pada balita (Dailure, 2000), Umur
(risiko untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak umur dibawah 2 tahun
dibandingkan yang lebih tua, hal ini dikarenakan status kerentanan anak di bawah 2 tahun
belum sempurna dan lumen saluran napas yang masih sempit (Daulaire, 2000)), Ventilasi
kurangnya ventilasi akan menyebabkan naiknya kelembaban udara. Kelembaban yang
tinggi merupakan media untuk berkembangnya bakteri terutama bakteri patogen (Semedi,
2001)), Polusi Udara (pencemaran udara yang terjadi di dalam rumah umumnya

disebabkan oleh polusi di dalam dapur. Asap dari bahan bakar kayu merupakan faktor
risiko terhadap kejadian pneumonia pada balita. Polusi udara di dalam rumah juga dapat
disebabkan oleh karena asap rokok, kompor gas, alat pemanas ruangan dan juga akibat
pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan bermotor (Lubis, 1989)).
3. HIV/AIDS
HIV/AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficency Virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan
ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses
hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara
bergantian, dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan
kegiatan menyusui. Kasus HIV/AIDS menunjukkan tren peningkatan setiap tahun. Sampai
dengan Desember 2013 jumlah kasus HIV mencapai 772 kasus (383 orang laki-laki dan
389 orang perempuan) dan AIDS mencapai 763 kasus (543 orang laki-laki dan 220 orang
perempuan). Gambar berikut menampilkan jumlah kumulatif kasus AIDS setiap
Kabupaten/Kota di Bali.

Profil kesehatan provinsi Bali 2013

Besaran kasus juga dapat dlihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh
dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100.000
penduduk. Case Rate AIDS Bali secara nasional pada tahun 2009 termasuk tertinggi ke
kedua sebesar 45,4 setelah Papua. Sedangkan tahun 2010 Case Rate Provinsi Bali sebesar
24,05 per 100.000 penduduk tahun 2011 sebesar 14,03 per 100.000 penduduk, tahun 2012
meningkat menjadi 16,41 per 100.000 penduduk, sedangkan tahun 2013 menurun menjadi

12,73 per 100.000 penduduk dengan jumlah kematian komulatif 28 orang, 19 orang
diantaranya berjenis kelamin laki-laki.
Faktor Risiko:
Pemakai jarum suntik narkoba, hubungan sex bebas, resiko pada sampel dengan
pendidikan yang lebih rendah menjadi HIV/AIDS lebih tingggi dibanding dengan sampel
berpendidikan tinggi, dan pekerjaan terutama pekerja seks.
4. Kusta
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium
Leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif,
menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Pada tahun
2013 ditemukan kasus baru kusta sebanyak 84 penderita (9 orang kusta PB dan 75 orang
kusta MB), 49 orang diantaranya laki-laki dan 35 orang perempuan dan angka penemuan
kasus baru (NCDR) tahun 2013 sebesar 2,07 per 100.000 penduduk. Jika dibandingkan
dengan penemuan kasus baru pada tahun 2012 dan 2013 jumlahnya sama, hal ini
menunjukkan perkembangan penyakit kusta di masyarakat masih terus terjadi dan belum
bisa ditekan jumlah penderitanya. Karena Kusta adalah penyakit menular, maka tindakan
pencegahan bagi masyarakat yang kontak langsung dengan penderita harus ditingkatkan.
Faktor Risiko:
Kondisi fisik rumah (risiko orang yang tinggal dengan kondisi fisik rumah yang tidak
baik tertular penyakit dibandingkan orang yang tinggal dengan kondisi fisik rumah yang
baik. Kondisi fisik rumah di yang membangun rumah di sepanjang pinggiran sungai yang
pada musim hujan sering terjadi banjir), Riwayat kontak dengan kejadian kusta (kontak
dengan penderita yang berasal dari keluarga inti lebih berisiko tertular kusta dibandingkan
kontak dengan penderita yang tinggal satu atap tetapi bukan keluarga inti atau tetangga.
Hasil penelitan tentang menunjukkan hasil risiko menderita kusta pada orang yang ada
riwayat kontak serumah lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak ada riwayat
kontak serumah), Tingkat pendidikan (risiko orang dengan pendidikan rendah tertular
penyakit kusta lebih besar dibandingkan dengan pendidikan tinggi),
5. Penyakit Malaria
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi
komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh

hewan bersel satu (protozoa) plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk
Anopheles. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah wilayah terpencil dengan
kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses
pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang
rendah serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. Ditjen PP&PL
Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah
di Indonesia menjadi 4 strata yaitu :
- Endemis Tinggi bila API > 5 per 1000 penduduk
- Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 - < 5 per 1000 penduduk
- Endemis Rendah bila API 0 1 per 1000 penduduk
- Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan
malaria) atau API = 0.

API Provinsi Bali tahun 2013 sebesar 0,002 per 1000 penduduk (angka absolut 10 kasus),
tahun 2012 sebesar 0.01 per 1000 penduduk (angka absolut 22 kasus) sama dengan API
tahun 2011 bahkan dari tahun 2009 angka API kelihatan sudah mulai konstan, dengan
persentase penderita positif terbanyak ada di Kabupaten Badung sebesar 8 kasus (36,36%)
dan ada 4 kabupaten/kota yang tidak ada penderita malaria yaitu Kabupaten Bangli, Kota
Denpasar, Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Gianyar. Berikut Tren API di Provinsi Bali
tahun 2004 2013. Dengan memperhatikan API di Provinsi Bali dalam 10 tahun terakhir
menunjukkan bahwa Provinsi Bali termasuk daerah endemis rendah dan API tahun 2009,
2010, 2011, 2012 dan 2013 merupakan capaian yang paling rendah, dengan mendapatkan
penanganan yang lebih baik bukan tidak mungkin penyakit malaria bisa dieliminasi.
Faktor Risiko:

Individu yang tidak menggunakan repellent mempunyai risiko dibanding yang


menggunakan repellent, Individu yang tidak pernah menggunakan obat anti nyamuk risiko
dibandingkan individu yang menggunakan obat anti nyamuk, Individu yang memiliki
pekerjaan sebagai nelayan (melaut)/petani tambak/perkebunan/hutan mempunyai risiko
lebih tinggi, Individu yang tinggal di rumah dengan kondisi tidak baik memiliki risiko
dibandingkan dengan individu yang tinggal di rumah dengan kondisi baik, dan jarak
rumah dekat dengan perindukan nyamuk.
6. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh
melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan oleh
pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.Pada tahun 2013 tidak ada kasus TN yang dilaporkan, demikian juga dengan kasus
tetanus (non Neonatorum). Kasus TN antara tahun 2012 dan 2013 tidak terjadi
peningkatan kasus karena sama-sama tidak ada kasusnya. Situasi seperti ini harus tetap
dipantau agar tidak terjadi kelengahan sehingga sedapat mungkin menghindari terjadinya
KLB pada tahun-tahun mendatang. b. Difteri Penyakit Difteri disebabkan oleh bakteri
Corynebacterium diphtheriae yang menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini
memiliki gejala sakit leher, demam ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan
tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan. Jumlah
kasus difteri tahun 2012 terdapat 2 kasus yang dilaporkan oleh Kabupaten Tabanan dan
Kabupaten Badung masing-masing 1 kasus dengan CFR 0,00%. Dan tahun 2013 terdapat
4 kasus yang dilaporkan oleh kabupaten Jembrana 1 kasus dan kabupaten Tabanan 3
kasus, dengan CFR 0,00%. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan kejadian difteri, yang
kemungkinan disebabkan oleh perubahan cuaca dan iklim, yang mengakibatkan bakteri
dapat berkembang biak dengan baik. c. Campak Campak disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui
udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Tahun 2013
ditemukan 8 kasus yang dilaporkan, 2 kasus di kabupaten Buleleng dan 6 kasus di
kabupaten Badung. Kondisi ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2012 yang

ditemukan 83 kasus. Kondisi seperti ini harus tetap dipantau agar tidak terjadi kelengahan
sehingga sedapat mungkin menghindari terjadinya KLB pada tahun-tahun mendatang.
Faktor Risiko:
Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik

(lingkungan yang

mempunyai sanitasi yang buruk akan memyebabkan Clostridium tetani lebih mudah
berkembang biak), Faktor Alat Pemotongan Tali Pusat (Penggunaan alat yang tidak
steril untuk memotong tali pusat meningkatkan risiko penularan penyakit tetanus
neonatorum), Faktor Cara Perawatan Tali Pusat (Cara perawatan tali pusat yang tidak
benar ini akan meningkatkan lagi risiko terjadinya kejadian tetanus neonatorum (Chin,
2000)), Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan (kebersihan suatu tempat
pelayanan persalinan adalah sangat penting. Tempat pelayanan persalinan yang tidak
bersih bukan sahaja berisiko untuk menimbulkan penyakit pada bayi yang akan
dilahirkan, malah pada ibu yang melahirkan. Tempat pelayanan persalinan yang ideal
sebaiknya dalam keadaan bersih dan steril (Abrutyn, 2008)), Faktor Kekebalan Ibu
Hamil (ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus dapat membantu
mencegah kejadian tetanus neonatorum pada bayi baru lahir. (Chin, 2000))
7. Difteri
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang sistem
pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam ringan, sakit
tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang menutupi
tonsil serta bagian saluran pernafasan. Jumlah kasus difteri tahun 2012 terdapat 2 kasus
yang dilaporkan oleh Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Badung masing-masing 1 kasus
dengan CFR 0,00%. Dan tahun 2013 terdapat 4 kasus yang dilaporkan oleh kabupaten
Jembrana 1 kasus dan kabupaten Tabanan 3 kasus, dengan CFR 0,00%. Hal ini
menunjukkan terjadi peningkatan kejadian difteri, yang kemungkinan disebabkan oleh
perubahan cuaca dan iklim, yang mengakibatkan bakteri dapat berkembang biak dengan
baik.
Faktor Risiko:
Cakupan imunisasi kurang (pada bayi yang tidak mendapat imunisasi DPT secara
lengkap), Kualitas vaksin tidak bagus (pada saat proses pemberian vaksinasi kurang
menjaga Coldcain secara sempurna sehingga mempengaruhi kualitas vaksin), Faktor

lingkungan tidak sehat (lingkungan yang buruk dengan sanitasi yang rendah dapat
menunjang terjadinya penyakit difteri), Tingkat pengetahuan ibu rendah (pengetahuan
akan pentingnya imunisasi rendah dan kurang bisa mengenali secara dini gejala penyakit
difteri), Akses pelayanan kesehatan kurang, dimana hal ini dapat dilihat dari rendahnya
cakupan imunisasi di beberapa daerah tertentu
8. Campak
Campak disebabkan oleh virus campak. Sebagian besar kasus campak menyerang anakanak. Penularan dapat terjadi melalui udara yang telah terkontaminasi oleh sekret orang
yang telah terinfeksi. Tahun 2013 ditemukan 8 kasus yang dilaporkan, 2 kasus di
kabupaten Buleleng dan 6 kasus di kabupaten Badung. Kondisi ini jauh lebih rendah
dibandingkan tahun 2012 yang ditemukan 83 kasus. Kondisi seperti ini harus tetap
dipantau agar tidak terjadi kelengahan sehingga sedapat mungkin menghindari terjadinya
KLB pada tahun-tahun mendatang.
Faktor Risiko:
Umur balita, status gizi, status imunisasi campak dan status vitamin A, kepadatan hunia
rumah terhadap penyakit campak.
9. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis)
Polio merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang
sistem syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan. Penyakit yang pada umunya
menyerang anak berumur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit
kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. Tahun 2012 tidak terjadi kasus
polio demikian juga pada tahun 2013 tidak ada dilaporkan kasus polio yang terjadi.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan
kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan. Ditjen
PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2012 AFP rate (non polio) sebesar 2,52/100.000 anak usia < 15 tahun meningkat
dibandingkan tahun 2011, angka ini sudah di atas angka minimal. Dan pada tahun 2013
AFP rate (non polio) sebesar 3,91/100.000 terjadi peningkatan lagi. Peningkatan angka
penemuan kasus ini menunjukkan pelaksanaan survailans untuk program AFP sudah
berjalan dengan baik. Namun jika dihubungkan dengan cakupan imunisasi lengkap pada

bayi tahun 2011 yang sudah mencapai 97,96%, tahun 2012 sebesar 99,10%, dan 2013
sebesar 99,5% hal itu seharusnya tidak terjadi. Oleh karena itu, program imunisasi perlu
lebih dimantapkan lagi begitu juga usaha dalam penemuan kasus AFP.
Faktor Risiko:
Tidak mempunyai kekebalan terhadap polio, incident terbesar pada anak < 3 tahun, dan
sangat jarang ditemukan pada anak umur> 15 th
10. Demam Berdarah Dengue
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun,
namun dapat juga menyerang orang dewasa. Pada tahun 2011, terdapat 2.993 kasus, 1.662
kasus diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya (1.331) kasus berjenis kelamin
perempuan, dengan jumlah kematian 8 orang, menurun dibandingkan tahun 2010
sebanyak 35 orang.Sedangkan tahun 2012 terjadi penurunan kasus namun tidak
singnifikan menjadi 2.649 kasus, 1.517 diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan 1.132
berjenis kelamin perempuan, dan pada tahun 2013 terjadi peningkatan kasus yang
signifikan sebesar 7.077 kasus. Dengan demikian IR DBD pada tahun 2013 sebesar 174,5
per 100.000 penduduk dengan CFR 0,11%, meningkat dengan CFR yang menurun
dibandingkan tahun 2012 sebesar 65,55 per 100.000 penduduk dengan CFR 0,30 %,.
Berikut ini gambaran IR DBD tahun 2004 2013.

Kondisi IR tahun 2013 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2012, akan tetapi CFR
tahun 2013 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2012. IR tahun 2013 yang tinggi
disebabkan karena terjadi perubahan cuaca yang ekstrim sehingga memicu berjangkitnya
DBD.

Kalau dibandingkan dengan angka bebas jentik tahun 2013 sebesar 96,3 lebih tinggi
dibandingkan tahun 2012 sebesar 93,73 sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi IR
DBD, IR DBD tahun 2013 telah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2012, dan
CFR nya mengalami penurunan. Ini berarti dalam pelaksananan programnya telah berjalan
dengan baik dan benar demikian juga dalam penatalaksanaan kasusnya. Sedangkan CFR,
kalau dibandingkan dengan target Renstra Dinas tahun 2010-2014 sebesar < 1 %, CFR
tahun 2013 sudah melampaui target.
Faktor Risiko:
Densitas larva yang tinggi, rumah yang padat hunian, ventilasi rumah yang tidak berkasa,
dan rumah yang lembab merupakan faktor risiko terhadap kejadian Demam Berdarah
Dengue (DBD)
11. Penyakit Diare
Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain
dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita diare bila feses lebih berair
dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang
berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam Penyakit saluran pencernaan seperti Diare
masih cukup tinggi ditemukan di Provinsi Bali. Pada tahun 2013 diperkirakan jumlah
kasus diare sekitar 86.493 menurun dibandingkan dengan tahun 2012 diperkirakan jumlah
kasus diare sekitar 175.030 kasus, hal ini menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) masyarakat sudah semakin membaik. Dari perkiraan kasus sebesar 86.493 kasus,
43.499 diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan sisanya (42.994) kasus berjenis kelamin
perempuan dan hanya 63.728 orang (73,3%) yang tertangani.
Faktor Risiko:
Faktor risiko penyebab penyakit diare yang paling banyak diteliti adalah factor
lingkungan. Faktor lingkungan ini berkaitan dengan sanitasi meliputi sarana air bersih

(SAB), jamban, kualitas bakterologis air, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan
kondisi rumah.
12. Rabies
Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui
gigitan hewan seperti anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan srigala yang di dalam
tubuhnya mengandung virus rabies. Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke
berbagai wilayah di Provinsi Bali hingga tahun 2012. Pada tahun 2013 kasus Rabies sudah
mengalami penurunan yang signifikan, dilaporkan hanya 1 kasus di wilayah provinsi Bali.
Hal ini menunjukkan, keberhasilan pemegang program dalam melakukan pencegahan dan
penanganan kasus gigitan hewan penular rabies.
Faktor Risiko:
Faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian rabies pada anjing di Bali adalah jumlah
anjing yang dipelihara, kontak dengan anjing lain, status vaksinasi rabies, pemeriksaan
kesehatan anjing, dan kondisi fisik anjing.
Satyareni, Diema Hernyka. (2011). Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Infeksi Tropis Dengan
Menggunakan Forward Dan Backward Chaining. Teknologi. Vol. 1, No. 2,
Widoyo.

(2005).

Penyakit

Tropis,

Epidemiologi,

Pemberantasannya. Penerbit Erlangga:Jakarta

Penularan,

Pencegahan

Dan