Anda di halaman 1dari 6

n

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bahasa diartikan sebagai alat untuk berkomunikasi. Pada dasarnya
Bahasa sudah menyatu dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai
makhluk sosial membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi untuk saling
bertukar Ide, pikiran, dan gagasan juga sebagai alat untuk mengtakakan
atau mengungkapkan suatu keinginan. Semua hal tersebut dapat
disampaikan melalui bahasa.
Setiap daerah di Indonesia mempunyai bahasa yang berbeda-beda,
sesuai dengan tempat dimana mereka tinggal. Dengan adanya bahasa
daerah maka timbulah keanekaragaman bahasa yang menandakan
kekayaan budaya di Indonesia. salah satu contoh adalah Bahasa Baduy.
Dari zaman dahulu Suku baduy merupakan suku yang dapat disebut
sebagai suku yang tertutup terhadap hal-hal yang mereka anggap
bertentangan dengn adat mereka temasuk didalamnya bahasa
mengetahui bagaimana sejarah dan perkembangan bahasa di suku baduy
pada era modern ini.
B. Rumusan masalah
1. Apa bukti serjarah bahasa Suku Baduy?
2. Bagaimana sejarah bahasa Baduy ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bukti serjarah bahasa Suku Baduy
2. Untuk mengetahui sejarah bahasa Baduy

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Bahasa Daerah Baduy dalam Sejarah Suku Baduy


Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar
kepada

kelompok

masyarakat

tersebut,

berawal

dari

sebutan

para

peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab


Badawi yang

merupakan

masyarakat

yang

berpindah-pindah

(nomaden).

Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang
ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri
sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah
mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang
Cibeo(Garna, 1993).
Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai
seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah
Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya
Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke
XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagarsaudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan
Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah
Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan
rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati
dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara
kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya
dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy Jauh teu
puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir,
nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu
ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih
keneh sa wangatua Artinya : jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan
tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik
malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga
yang masih satu turunan
B. Sejarah Bahasa Suku Baduy

Sejarah masuknya bahasa sunda di daerah Baduy, tidak terlepas dari sejarah
masuknya bahasa sunda ke Provinsi Banten. Penduduk asli yang hidup di Provinsi
Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda
Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda
modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar
(informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai
Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah
Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan Bahasa Sunda
Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan
Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dibagian utara Kota
Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh
pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek
Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian
lain Indonesia.
Baduy merupakan daerah yang termasuk kedalam provinsi Banten yakni
provinsi Banten bagian selatan. Provinsi Banten bagian selatan terbagi menjadi
dua daerah yaitu Padeglang dan juga Lebak. Suku Baduy berada di daerah lebak.
Pada daerah lebak bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda campuran yakni
bahasa sunda kuno, sunda modern dan juga bahasa Indonesia untuk
berkomunikasi.
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten.
Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa
Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari
sekolah. Masyarakat Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adatistiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam
tuturan lisan saja.
Masyarakat Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal
berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah
untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini,
walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk
mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di

wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut.


Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis, namun
mereka tidak meutup diri untuk terus mempelajari Bahasa Nasional yakni Bahasa
Indonesia. Tidak Banyak masyarakat Baduy yang dapat berbahas Indonesia.
Salah satu penuturan orang Baduy yang berbunyi Geunna ieu kami tah,
Urang sunda bae, Sunda wiwitan. Apanan kami ieu tah cicing ditanah Sunda, nu
karolot Urang Suda, omong sunda, agama Sunda. Yang artinya kira-kira : kami
ini, sejak leluhur orang sunda, sunda Wiwitan. Sebab kami diam ditana sunda,
leluhur orang Sunda, bahasa Sunda, Agama Sunda.
Adapun bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam sasetra
Lisan Baduy, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah meninggalkan
Kanekes beserta segala pranata masyarakat. dikalangan masyarakat Baduy
Kanekes, unsure sunda kuno itu lebih banyak dibandingkan dengan kalangan
masyarakat Sunda luar. Hal itu dikarenakan gugon tuhonnya mereka memelihara
peninggalan karuhun termasuk didalamnya bahasa.
Karena mereka tidak mengenal undak usuk bahasa, bagi orang tangtu
undak usuk bahasa sangat asing, contohnya : untuk orang pertama dengan
siapapun mereka berbicara menggunakan sebutan aing yang berarti saya, untuk
orang kedua digunakan sebutan sia yang berarti kamu/anda. Masyarakat Baduy
sangat demokratis dalam bahasa.
Berikut contoh Bahasa Baduy dan artinya dalam Bahasa Indonesia.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Bahasa Daerah Baduy


Boa
Laweun
Conggah
Daang
Hideng
Iget
Dituak
Tumbal
Lalahan
Ucut

Bahasa Indonesia
Tentu
Berani
Sanggup
Makan
Pandai/pintar
Tertelan
Diracun
Obat
Main tak karuan
Jatuh

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku baduy adalah
menggunakan bahasa dialek sunda. Sejarah masuknya Bahasa Sunda di
daerah Baduy, tidak terlepas dari sejarah masuknya Bahasa Sunda ke
Provinsi Banten, dikarena Suku Baduy merupakan daerah bagian selatan
dari provinsi banten sehingga bahasa yng digunakan oleh masyarakat Suku
Baduypun adalah Bahasa Sunda.

Adapun bahasa yang dipergunakan sebagai media utama dalam


sasetra Lisan Baduy, adalah Bahasa Sunda dialek Baduy yang telah
meninggalkan Kanekes beserta segala pranata masyarakat.
B. Saran
Semakin banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia menunjukan
semakin beragam kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. keberagaman
tersebut patut kita pertahankan dan lestarikan agar apa yang kita miliki
tidak diambil oleh orang lain. Kita tidak boleh malu untuk berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa daerah, justru kita malu jika kita tidak
mengenal bahasa daerah kita sendiri.

Daftar Pustaka
http://emonmeong.blogspot.co.id/2010/11/masyarakatbaduy.html
http://riajelita.tumblr.com/post/98321480293/fungsi-bahasa-secara-umum-dankedudukan-bahasa
http://kanvasalfabet.blogspot.co.id/2014/12/kosa-kata-bahasa-baduy-danartinya.html
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1073/suku-baduy-banten