Anda di halaman 1dari 11

BAB 1.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seni

mural/graffiti

adalah

karya

seni

yang

unik

menggunakan media tembok dengan alat utama cat tembok


atau cat semprot kaleng. Graffiti merupakan media yang paling
sering digunakan oleh para anak jalanan dalam mengekspresikan
aspirasinya, tak peduli tempatnya bagus ataupun tidak selama
mampu dijadikan sebagai media maka coretan graffiti akan
muncul

ditempat

tersebut.

Akhirnya

banyak

pihak

yang

memandang karya seni ini tidak indah dan adalah sebuah


pemberontakan. Padahal jika dilihat dari sudut pandang garis tak
berpihak coretan dinding penuh warna yang ditorehkan oleh para
anak jalanan itu adalah sebuah karya seni hebat yang tak
mampu dibuat oleh sembarang orang bahkan seorang seniman
pun. Maka perlu ada kajian yang mendalam mengenai coretan
dinding penuh imajinasi ini.
Graffiti bukan hanya sekedar kumpulan cat warna yang
merusak keindahan dinding kosong. Graffiti dapat dikata sebuah
imajinasi unik penuh makna dengan bentuk dan karakternya
masing-masing, bahkan karakter dari sebuah graffiti pada suatu
tempat mampu menerangkan situasi sosial dan karakteristik
budaya setempat. Betapa karya ini bukanlah karya sembarang
yang bisa dipandang sebelah mata. Meski terkadang hasil seni ini
selalu ditempatkan pada tempat yang salah, dianggap sebagai
simbol

pemberontakan,

dijadikan

sebagai

alat

pemicu

perkelahian antar kelompok, tetapi jika dikelola dengan baik


hasilnya pun pasti akan baik.
Melihat dari banyak sudut pandang yang ada pada
masyarakat selain ada yang melihat karya seni ini adalah

sesuatu

yang

mesti

diberantas,

tidak

sedikit

juga

yang

memandang bahwa coretan unik ini adalah sebuah keindahan


yang

bisa

dinikmati.

Banyak

institut

seni

di

negeri

ini

mempelajari tentang pembuatan graffiti, tidak sedikit yang


menjadikan graffiti jalanan sebagai sampel. Ini menjelaskan
bahwa

karya

seni

yang

selalu

terlihat

di

jalan

dapat

dimanfaatkan sebagai objek yang bisa dinikmati keindahannya.


Adanya sesuatu yang bisa dilihat dan menarik itu mampu
menjadikan suatu tempat itu sebagai objek diantaranya adalah
objek wisata. Melihat dari tidak sedikitnya masyarakat yang
memandang karya seni graffiti adalah keindahan, maka hal ini
bisa dimanfaatkan. Karena telah adanya sesuatu yang bisa
dilihat dan menarik yang diperlukan lagi selanjutnya adalah
sesuatu yang bisa ditempati agar kumpulan dari graffiti unik dan
penuh karakteristik bisa dijadikan sebuah objek wisata unik.
Dengan terwujudnya tempat seperti ini mampu menjadi
sebuah solusi yang solutif untuk pemerintah terhadap masalah
coretan dinding liar ataukah graffiti liar perusak keindahan kota.
Selain itu juga bisa menjadi mata pencaharian bagi anak-anak
jalanan pecinta seni graffiti sekaligus pemanfaatan kepada
gedung/ bangunan rubuh yang tak terpakai lagi karena seni ini
membutuhkan ruang yang luas dan tembok yang banyak maka
bangunan rubuh adalah solusinya. Selain itu juga dapat menjadi
pendapatan baru bagi pemerintah atas objek wisatanya.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat ditarik dari latar belakang
di atas adalah :

1. Bagaimana mengatasi coretan dinding liar atau graffiti liar


yang dapat merusak keindahan kota?
2. Bagaimana memanfaatkan bangunan/ gedung rubuh yang
berada di tengah kota?
3. Bagaimana cara memanfaatkan keahlian seni para anak
jalanan pembuat graffiti liar?
4. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap seni graffiti
jalanan?
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui solusi terbaik terhadap coretan dinding atau
graffiti jalanan yang berpengaruh akan keindahan kota.
2. Mengetahui dan memahami pandangan masyarakat
terhadap

seni

graffiti

jalanan

yang

selajutnya

bisa

dimanfaatkan.
3. Mencari pemanfaatan akan bangunan rubuh yang banyak
tak terpakai di tengah kota.
4. Menjelaskan benang merah antara pola pikir masyarakat
dengan graffiti jalanan yang selanjutnya dijadikan referensi
pembuatan objek wisata.
Luaran Yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Dapat menemukan sebab-akibat dari perilaku anak jalanan
membuat graffiti liar pada tembok-tembok kota.
2. Dapat menjadi referensi di kemudian hari untuk penelitian
terhadap pola pikir masyarakat atas seni graffiti.
3. Dapat menjadi panduan untuk pembuatan objek wisata
unik yang berkonsentrasi pada aspek seni graffiti jalanan.

Kegunaan
Diharapkan setelah selesainya

PKM ini mampu membawa

manfaat bagi masyarakat diantaranya:


Memberi pengetahuan kepada pemerintah kota mengenai
pemecahan masalah terhadap graffiti liar pada temboktembok kota.
Memberi pengetahuan

kepada

masyarakat

mengenai

peluang usaha baru di bidang objek wisata pada daerah


perkotaan.
Memberi
pengetahuan

baru

mengenai

pandangan

masyarakat terhadap seni graffiti.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Seni Mural


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media
dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen
lainnya. Mural lebih mengedepankan kebebasan dan dapat
menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau
pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang
dapat menghasilkan gambar. (Wikipedia 2016)
2.2. Grafiti
Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretancoretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis,
bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat
tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat

semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya


dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.
(warihsenoz.blogspot.co.id)
Trisna
Sanjaya
(dalam
Pikiran
Rakyat,2016)
mengemukakan bahwa Grafiti adalah menulis, menggambar,
menoreh. Grafiti sebagai karya seni adalah seni mengambar,
menulis, menorehkan ekspresi secara spontan sehingga muncul
visualisasi yang unik, khas dalam berbagai bentuk, format, dan
karakter dari konteks situasi sosial dan kebudayaan setempat.
Sebagai karya seni, grafiti banyak dikerjakan oleh seniman dalam
berbagai bentuk. Baik dalam bentuk lukisan yang memakai
media kanvas, lempengan kayu, plat logam, serta di atas
tembok-tembok dinding rumah, sepanjang benteng, di tiangtiang jembatan di perkotaan, dan lain-lain. Seni grafiti sekarang
sudah sangat berkembang, baik grafiti secara formal yang dilukis
diatas media tersebut diatas maupun kolaborasi dengan media
baru, seperti video, film, teater, performance art. Berbagai
festival seni rupa dunia selalu muncul karya-karya seniman yang
memunculkan grafiti sebagai kekuatan olahan visual yang kuat.
Seni grafiti yang bagus selalu menyampaikan dua hal,
pertama secara teknis, bentuk, format dan berbagai unsur visual
dari seni grafiti sangat estetik, ekspresif, dan yang kedua adalah
isi, pesan dari seni grafiti itu sendiri dalam konteks situasi sosial,
kebudayaan, politik, dan ekonomi di mana seni grafiti itu
ditampilkan bisa memberikan inspirasi, menyentuh hati nurani
kemanusiaan. Jadi, seni grafiti yang berhasil adalah selain indah,
juga mampu menumbuhkan sisi terdalam dari hati nurani, puitis,
dan haru di tengah absurditas tata kelola yang buruk dari politik,
sosial, dan ekonomi.
2.3. Vandalisme
Vandalisme
adalah
suatu
sikap
kebiasaan
yang
dialamatkan kepada bangsa Vandal, pada zaman Romawi Kuno,
yang budayanya antara lain: perusakan yang kejam dan
penistaan terhadap mutu segala sesuatu yang indah atau terpuji.
Tindakan yang termasuk di dalam vandalisme lainnya adalah

perusakan kriminal, pencacatan, grafiti yang liar, dan hal-hal


lainnya yang bersifat mengganggu. (Wikipedia,2016)
Trisna
Sanjaya
(dalam
Pikiran
Rakyat.com,2016)
mengatakan grafiti yang indah dan inspiratif adalah seni grafiti yg mampu
menumbuhkan daya imajinasi, inspirasi perubahan tata kota dan lingkungan hidup
untuk menjadi baik. Seni grafiti yang harus dikembangkan, diberi ruang menjadi
seni grafiti yang bisa memperindah kota. Grafiti yang bisa mencelakakan umat
manusia, tidak mendidik untuk bacaan pada anak-anak, serta grafiti yang justru
akan menumbuhkan kekerasan, konflik antarmanusia, adalah grafiti yang jangan
diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.
Seni grafiti akan terus muncul sebagai karya yang inspirasinya untuk
kebaikan, jika ranah kreativitas tata kelola kota memberikan ruang yang nyaman,
kehidupan politik dan ekonomi yang adil. Grafiti yang buruk rupa dan vandalis
akan berkembang menjadi gerakan budaya yang radikal, jika tata kelola perkotaan
buruk, kehidupan politiknya busuk, serta tata ekonomi tidak berpihak pada rakyat.
Seni grafiti, seperti juga ekspresi seni lainnya. Senantiasa muncul dari konteks
yang terjadi dari situasi dan kondisi lingkungannya.
2.4. Graffiti Zaman Modern
Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh
menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk
mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu
menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu
dinding. Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek
yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi
yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini
menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang
mereka alami. Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak
dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan
kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus
dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali
karirnya dari kegiatan grafiti. (warihsenoz.blogspot.co.id)
Irraisa Lisseptiyana (dalam Kompasiana,2016) mengatakan
Graffiti/Mural bisa memberikan sebuah pesan yang memang baik
bagi yang melihat. Bagus atau jeleknya sebuah Graffiti/Mural,
legal atau tidak legalnya sebuah Graffiti/Mural, sebenarnya kita
patut mengapresiasinya. Karena, zaman sekarang memang agak

sulit bagi kita mencari sarana kebebasan berekspresi yang bisa


dilihat oleh semua orang. Alangkah baiknya, pemerintah bisa
menyediakan lahan atau tempat bagi para kawula muda tersebut
untuk menyalurkan jiwa seni mereka jika pemerintah tidak mau
dinding jalanan digunakan sebagai ajang mereka berkarya. Atau
pemerintah bisa melegalkan spot-spot dinding jalanan tertentu
untuk dijadikan sebagai tempat Graffiti/Mural dengan beberapa
syarat tertentu.
2.5. Objek Wisata
Obyek Wisata adalah segala sesuatu yang ada di daerah
tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau
datang berkunjung ke tempat tersebut. Menurut SK.
MENPARPOSTEL No.: KM. 98 / PW.102 / MPPT-87, Obyek Wisata
adalah semua tempat atau keadaan alam yang memiliki sumber
daya wisata yang dibangun dan dikembangkan sehingga
mempunyai daya tarik dan diusahakan sebagai tempat yang
dikunjungi
wisatawan.[1].
Obyek wisata dapat berupa wisata alam seperti gunung, danau,
sungai, pantai, laut, atau berupa objek bangunan seperti
museum, benteng, situs peninggalan sejarah, dan lain-lain.
(Wikipedia,2016)
Suatu tempat/daerah agar dapat dikatakan sebagai objek wisata
harus memenuhi hal pokok berikut.
1) Adanya something to see. Maksudnya adalah sesuatu yang
menarik untuk dilihat.
2) Adanya something to buy. Maksudnya adalah sesuatu yang
menarik dan khas untuk dibeli.
3) Adanya something to do. Maksudnya adalah sesuatu
aktivitas yang dapat dilakukan di tempat itu.

BAB 3. METODE PENELITIAN


Metode Pelaksanaan
Dalam kasus ini, metode pemecahan yang hendak dipilih
adalah

dengan

menggunakan

metode

penelitian

kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan memahami


realitas sosial, dimana metode ini adalah tentang riset yang
bersifat

deskriptif

dan

cenderung

menggunakan

analisis.

Penelitian kualitatif jauh lebih subjektif daripada penelitian atau


survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari
mengumpulkan

informasi,

terutama

individu,

dalam

menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus.


Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan
terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil
yang diwawancarai secara mendalam.
Sumber data kualitatif adalah catatan hasil observasi,
transkip interview mendalam (depth interview), dan dokumendokumen terkait berupa tulisan atau gambar. Dimana penelitian
ini akan mengambil data di beberapa kota besar di Indonesia.
Beberapa karakteristik penelitian kualitatif:
1. Metode berpikir deduktif
Metode berpikir deduktif

adalah

metode

berpikir

yang

menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk


seterusnya

dihubungkan

dalam

bagian-bagiannya

yang

khusus.
2. Metode deskriptif
Metode deskriptif adalah metode yang menggambarkan apa
yang dilihat atau dialami oleh si peneliti. Metode ini kami
dapatkan dengan cara langsung turun ke lapangan atau objek
penelitian.
3. Metode pengumpulan data

Studi lapangan
Cara yang digunakan untuk mendapatkan data yang
sebenarnya

dengan

mengobservasi

lapangan

secara

langsung baik dengan wawancara maupun dokumentasi


-

terhadap objek yang diteliti.


Studi literature
Cara yang digunakan untuk mendapatkan data dengan
meneliti buku-buku, majalah maupun dari internet untuk
melengkapi data masukan yang dibutuhkan, mengingat dat

yang dibutuhkan tidak hanya sebatas data lapangan.


Bimbingan langsung dengan dosen pembimbing
Cara yang digunakan untuk mendapatkan arahan dari
dosen

pembimbing

dengan

cara

mengasistensi

keseluruhan isi dari hasil laporan untuk diberikan masukan


serta

koreksi

atas

masalah

yang

ada

untuk

menyempurnakan hasil laporan ini, berupa menganalisis


keseluruhan

data

yang

diperoleh

untuk

mengetahui

kekurangan, kelebihan serta pemecahannya.

Jadwal Kegiatan
Table 1. Jadwal Kegiatan PKM
JADWAL WAKTU PELAKSANAAN
BULAN 1
BULAN 2
BULAN 3
BULAN 4

PELAKSANAAN
1
Pengumpulan literatur
Munyusun teori yang
berhubungan dengan
masalah
Survey ke lokasi
Pengumpulan data dan
wawancara
Mengkaji dan meneliti
temuan di lokasi
Pengolahan data
berdasarkan temuan di
lapangan

Menganalisa temuan di
lapangan dengan teori
yang ada
Menyusun laporan
akhir
Menyusun artikel
ilmiah
Publikasi

Rancangan Biaya
Tabel 2. Rancangan biaya pelaksanaan PKM
No
.
1

ITEM
Alat dan Bahan
a. ATK
b. Hardisk
d. Pulsa Telepon
e. Kuota Internet
f. Buku literatur

JM
L

SATUAN

JUMLAH
HARGA

200,000
600,000
75,000
200,000
400,000

5
1
5
5
1

set
unit
orang
orang
set

1,000,000
600,000
375,000
1,000,000
400,000
3,375,000

1,500,000
300,000
600,000
500,000

3
3
3
3

orang
orang
orang
orang

4,500,000
900,000
1,800,000
1,500,000
8,700,000

40,000
200,000

5
1

eksampla
r
paket

Penelitian
a. Tiket Perjalanan (Mksr-JogjaSrb-bdg-jkt)
b. Sewa kendaraan
c. Penginapan
d. Konsumsi

BIAYA
HARGA
SATUAN

Lain-lain
a. Pengadaan laporan
b. Publikasi dalam jurnal ilmiah

Total Anggaran

200,000
200,000
400,000
12,475,000

DAFTAR PUSTAKA
Kompasiana.com.2016. Vandalisme, Graffiti, dan Mural
http://www.kompasiana.com/irraisa.lisseptiyana/vandalisme
-graffiti-dan-mural-sama-gaksih_54f74bcda33311af2c8b45a3
Pikiran Rakyat.com.2016. Graffiti seni atau bukan?
http://www.pikiran-rakyat.com/senibudaya/2016/03/06/363443/grafiti-seni-atau-bukan
Warihsenoz.2016. Pengertian Grafiti
http://warihsenoz.blogspot.co.id/2016/01/pengertian-grafitigraffiti-graffiti.html
Wikipedia.2016. Grafiti
https://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti
Wikipedia.2016. Mural
https://id.wikipedia.org/wiki/Mural
Wikipedia.2016. Objek Wisata
https://id.wikipedia.org/wiki/Objek wisata/