Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KEGIATAN

F.3 Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

PIN POLIO

Disusun Oleh:
dr. Fitri Prawitasari
Puskesmas Sidorejo Lor
Periode November 2015-Maret 2016
Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2015-Oktober 2016

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Laporan F.3 Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

Topik:
PIN POLIO

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip


sekaligus sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter
Indonesia di Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Maret 2016

Mengetahui,
Dokter Internship,

dr. Fitri Prawitasari

Dokter Pendamping

dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017

A. Latar Belakang

Imunisasi merupakan upaya pencegahan yang terbukti sangat cost


effective. Banyak kematian dan kecacatan yang disebabkan oleh penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Eradikasi polio secara global akan memberi
keuntungan secara finansial. Biaya jangka pendek yang dikeluarkan untuk
mencapai tujuan eradikasi tidak akan seberapa dibanding dengan keuntungan yang
akan didapat dalam jangka panjang. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi
cacat karena polio sehingga biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi penderita
polio dan biaya untuk imunisasi polio akan dapat dihemat. Pada bulan Mei 2012,
World Health Assembly (WHA) mendeklarasikan bahwa eradikasi polio adalah
salah satu isu kedaruratan kesehatan masyarakat dan perlu disusun suatu strategi
menuju eradikasi polio (Polio Endgame Strategy). Indonesia telah berhasil
menerima sertifikasi bebas polio bersama dengan negara anggota WHO di South
East Asia Region (SEAR) pada bulan Maret 2014. Untuk mempertahankan
keberhasilan tersebut dan untuk melaksanakan strategi menuju eradikasi polio di
dunia, Indonesia akan melakukan beberapa rangkaian kegiatan yaitu Pekan
Imunisasi Nasional (PIN) Polio, penggantian vaksin trivalent Oral Polio Vaccine
(tOPV) ke bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV) dan introduksi Inactivated Polio
Vaccine (IPV). Pada akhir tahun 2018 diharapkan penyakit polio telah berhasil
dihapus dari seluruh dunia.
Berdasarkan laporan dari provinsi, cakupan imunisasi Polio telah melebihi
90% namun tidak merata di seluruh provinsi. Apabila dibandingkan dengan data
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, cakupan imunisasi rutin Polio adalah 77%.
Selain itu, kinerja surveilans AFP juga menunjukkanpenurunan di beberapa
wilayah sehingga tidak sensitif.
Data dari surveilans AFP tahun 2011 sampai 2014 menunjukkan bahwa
20% kasus non polio AFP tidak mendapatkan imunisasi polio lengkap. Gambaran
ini serupa dengan keadaan pada tahun 2005 pada saat terjadi KLB polio di
Indonesia. Selain itu, berdasarkan penilaian risiko yang dilakukan oleh WHO
tahun 2011 sampai 2014, Indonesia dinyatakan berisiko tinggi terhadap importasi
virus polio dan Komite Penasehat Ahli Imunisasi (ITAGI) merekomendasikan
Indonesia untuk melaksanakan kegiatan PIN Polio.

B. Permasalahan
Masih dapat dijumpai orang tua yang tidak mau anaknya diimunisasi
dengan alasan tertentu. Mereka beranggapan bahwa vaksin tersebut mengandung
babi sehingga menyebabkan vaksin tersebut tidak halal. Pengetahuan dan
pemahaman yang kurang dari orang tua menyebabkan anak tidak mendapat
imunisasi sehingga tidak terlindungi dari infeksi virus. Bila hal tersebut terjadi,
maka virus dapat menyebar dan tidak tercapainya eradikasi polio. Sebagai contoh,
di posyandu Banyuputih Timur, Salatiga masih ada orang tua yang kurang
memahami pentingnya imunisasi, meskipun para kader sudah memberikan
penjelasan. Selain itu, orang tua tersebut juga tidak pernah mengikutsertakan
anak-anaknya dalam posyandu balita tersebut. Tidak hanya di posyandu
banyuputih timur, tetapi terdapat beberapa orang tua di posyandu lain yang
menolak anaknya diimunisasi.
C. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu kegiatan imunisasi dan
konseling mengenai imunisasi.
2. Menentukan Sasaran
Sasaran yang dipilih pada kegiatan adalah anak usia 0-59 bulan tanpa
memandang status imunisasinya.
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan kegiatan ini adalah agar tercapainya eradikasi polio di dunia pada
akhir 2018. Tujuan khusus adalah memastikan tingkat imunitas terhadap polio
di populasi (herd immunity) cukup tinggi dengan cakupan > 95%. Selain itu,
memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 059 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus polio.
4. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan bidan
koordinator program imunisasi.
D. Pelaksanaan Kegiatan

Imunisasi dilakukan secara aktif oleh dokter internsip maupun petugas


puskesmas dibantu oleh kader posyandu
Tanggal

: 8-15 Maret 2016

Waktu

: 08.30 - selesai

Tempat

: Posyandu Balita Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Lor


(Banyuputih Timur, Margosari, Modangan Kidul)

Kegiatan

: Imunisasi Polio

PIN Polio dimulai dengan prolog mengenai imunisasi polio, dan manfaatnya
pada anak yang diberikan imunisasi polio. Setelah itu anak ditimbang oleh
kader kemudian diberikan imunisasi berupa OPV oleh dokter internsip.
E. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring pemberian imunisasi dilakukan setelah pemberian imunisasi
polio. Anak dievaluasi apakah ada yang mengalami kejadian ikutan pasca
imunisasi (KIPI) selama 30 menit, setelah itu boleh pulang dengan
memberikan penjelasan kepada ibu tanda-tanda KIPI dan tindakan apa yang
harus dilakukan. Selain itu, petugas juga melakukan sweeping pada tanggal
16-18 Maret 2016 di seluruh kelurahan wilayah kerja Sidorejo Lor untuk
mengetahui apakah masih ada anak yang belum terimunisasi polio, apakah
masih ada yang menolak untuk imunisasi, dan apakah ada yang mengalami
KIPI.
Dari sasaran 3.036 anak yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sidorejo
Lor, sudah hampir semua mendapatkan imunisasi polio dengan cakupan
sebesar 98,97%. Hal itu mengindikasikan bahwa cakupan imunisasi polio di
puskesmas Sidorejo Lor sudah melebihi target cakupan.

F. Tinjauan Pustaka
1. Imunisasi

Definisi
Imunisasi

yaitu

vaksin

(antigen)

yang

dapat

merangsang

pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.


Imunisasi polio
Merupakan bagian dari program EPI (Expanded Program on
Immunization) yang telah dilaksanakan sejak tahun 1978 dan harus terus
dilaksanakan, hingga WHO memutuskan untuk dihentuikan. Imunisasi
rutin dengan cakupan yang tinggi ditujukan terutama untuk memberikan
kekebalan

kepada

kelompok

sasaran

agar

tidak

dihinggapi,

membiakkkan, dan menyebarkan virus polio liar dan menaikkan herdimmunity. Sedang imunisasi tambahan diberikan untuk menghentikan
transmisi virus polio.
Imunisasi rutin bertujuan untuk memberikan kekebalan pada
individu dan masyarakat luas. Program ini dilakukan didaerah endemik
pada usia dini, sedapat mungkin segera setelah lahir. Pada neonatus yang
lahir di rumah sakit imunisasi polio dianjurkan dilakukan pada saat bayi
akan pulang, agar tidak menyebar pada bayi yang lain, terutama pada
bayi yang masih dirawat dengan risiko tinggi. Pemberian imunisasi polio
pada neonatus akan mempercepat tercapainya protective level antibody
dan memberikan kadar antibodi netralisasi yang lebih tinggi. Tiga dosis
imunisasi selanjutnya dilakukan dengan interval 1-2 bulan, umumnya
dilakukan dilakukan bersamaan dengan imunisasi DPT.
Apabila imunisasi diberikan serentak dan sekaligus pada semua
individu yang dalam risiko, kekebalan usus dan efek komunitas akan
mengakibatkan virus polio liar tidak mendapat tempat berbiak dan
bereplikasi, sehingga transmisi akan berhenti. Imunisasi serentak
dilakukan baik pada daerah yang luas, maupun pada daerah yang
terbatas (tinggi) yang disebut sub PIN atau mopping up. PIN atau
subPIN dilakukan serentak pada tempat berkumpul sedang mopping up
dilakukan dari rumah ke rumah. Daerah yang masih terdapat transmisi
virus polio liar atau daerah risiko tinggi ditentukan dengan surveilans

AFP.
PIN Polio
5

PIN Polio adalah penggerakan kelompok sasaran imunisasi untuk


mendapatkan imunisasi polio - tanpa memandang status imunisasi- yang
dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi.
PIN Polio ini bertujuan agar tercapainya eradikasi polio di dunia pada
akhir 2018. Tujuan khusus adalah memastikan tingkat imunitas terhadap
polio di populasi (herd immunity) cukup tinggi dengan cakupan > 95%.
Selain itu, memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada
kelompok umur 0-59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus
polio yang disebabkan oleh virus polio Sabin.
2. Polio
Definisi
Polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus.
Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus
(PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini
dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat
menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan. Infeksi virus
polio terjadi dalam saluran pencernaan yang menyebar ke kelenjar limfe
regional sebagian kecil menyebar ke sistem saraf.
Penyakit polio dapat menyerang semua kelompok umur, tetapi
kelompok umur yang paling rentan adalah 1-15 tahun dari semua kasus
polio. Penelitian menyebutkan bahwa 33,3% dari kasus polio adalah
anak-anak di bawah 5 tahun. Infeksi oleh golongan enterovirus lebih

banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan.


Etiologi
Poliovirus (gennus enterovirus) tipe 1, 2, 3, semua tipe dapat
menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1 dapat diisolasi dari hampir semua
kasus kelumpuhan, tipe 3 lebih jarang, demikian pula tipe 2 paling
jarang. Tipe 1 paling sering menyebabkan wabah. Sebagian besar kasus
vaccine ssociated disebabkan oleh tipe 2 dan 3.
Sifat virus polio seperti halnya virus lain yaitu stabil terhadap pH
asam selama 1-3 jam, tidak aktif pada suhu 56o selama 30 menit. Virus
polio berkembang biak dalam sel yang terinfeksi dan siklus sempurna

berlangsung selama 6 jam. Virus tersebut dapat hidup di air dan manusia,

meskipun juga bisa terdapat pada sampah dan lalat.


Gejala klinis
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 9 - 12 hari, tetapi
kadang-kadang 3 - 35 hari. Gambaran klinis yang terjadi sangat
bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai dengan yang paling
berat, yaitu :
1. Infeksi tanpa gejala (asymptomatic, silent, anapparent)
Kejadian infeksi yang asimptomatik ini sulit diketahui,
tetapi biasanya cukup tinggi terutama di daerah-daerah yang
standar higine-nya jelek. Pada suatu epidemi diperkirakan
terdapat pada 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas
terhadap penyakit tersebut. Bayi baru lahir mula-mula
terlindungi karena adanya antibodi maternal yang kemudian
akan menghilang setelah usia 6 bulan. Penyakit ini hanya
diketahui dengan menemukan virus di tinja atau meningginya
titer antibodi.
2. Infeksi abortif
Kejadiannya di perkirakan 4-8% dari jumlah penduduk
pada suatu epidemi. Tidak dijumpai gejala khas Poliomielitis.
Timbul mendadak dan berlangsung 1-3 hari dengan gejala
"minor illnesss" seperti demam bisa sampai 39.5 C, mlaise,
nyeri kepala, sakit tenggorok, anoreksia, filial, muntah, nyeri
otot dan perut serta kadang-kadang diare . Penyakit ini sukar
dibedakan dengan penyakit virus lainnya, hanya dapat diduga
bila terjadi epidemi. Diagnosa pasti hanya dengan menemukan
virus pada biakan jaringan. Diagnosa banding adalah influenzae
atau infeksi tenggorokan lainnya.
3. Poliomielitis non Paralitik
Penyakit ini terjadi 1 % dari seluruh infeksi. Gejala klinik
sama dengan infeksi abortif yang berlangsung 1-2 hari. Setelah
itu suhu menjadi normal, tetapi kemudian naik kembali
(dromedary chart), disertai dengan gejala nyeri kepala, mual dan

muntah lebih berat, dan ditemukan kekakuan pada otot belakang


leher, punggung dan tungkai, dengan tanda Kernig dan
Brudzinsky yang positip. Tanda-tanda lain adalah Tripod yaitu
bila anak berusaha duduk dari sikap tidur, maka ia akan
menekuk kedua lututnya ke atas, sedangkan kedua lengan
menunjang kebelakang pada tempat tidur. Head drop yaitu bila
tubuh penderita ditegakkan dengan menarik pada kedua ketiak,
akan menyebabkan kepala terjatuh ke belakang. Refleks tendon
biasanya

normal.

Bila

refleks

tendon

berubah

maka

kemungkinan akan terdapat poliomielitis paralitik. Diagnosa


banding adalah Meningitis serosa, Meningismus
4. Poliomielitis Paralitik
Gambaran klinis sama dengan Poliomielitis

non

paralitikdisertai dengan kelemahan satu atau beberapa kumpulan


otot skelet atau kranial. Gejala ini bisa menghilang selama
beberapa hari dan kemudian timbul kembali disertai dengan
kelumpuhan (paralitik) yaitu berupa flaccid paralysis yang
biasanya unilateral dan simetris. Yang paling sering terkena
adalah tungkai. Keadaan ini bisa disertai kelumpuhan vesika
urinaria, atonia usus dan kadang-kadang ileus paralitik. Pada
keadaan yang berat dapat terjadi kelumpuhan otot pernafasan.
Secara klinis dapat dibedakan atas 4 bentuk sesuai dengan
tingginya lesi pada susunan syaraf pusat yaitu :
4.1. Bentuk spinal
Dengan gejala kelemahan otot leher, perut, punggung,
diaftagma, ada atau ekstremitas, dimana yang terbanyak
adalah ekstremitas bawah. Tersering yaitu otot-otot besar,
pada tungkai bawah kuadriseps femoris, pada lengan otot
deltoideus. Sifat kelumpuhan ini adalah asimetris. Refleks
tendon menurun sampai menghilang dan tidak ada gangguan
sensibilitas.
Diagnosa banding adalah :

4.1.1. Pseudo paralisis non neurogen: tidak ada kaku kuduk,


tidak pleiositosis. Disebabkan oleh trauma/kontusio, demam
rematik akut, osteomielitis
4.1.2. Polineuritis: gejala paraplegia dengan gangguan
sensibilitas, dapatdengan paralisis palatum mole dan
gangguan otot bola mata.
4.1.3. Poliradikuloneuritis (sindroma Guillain-Barre): 50%
kasus sebelum paralisis didahului oleh demam tinggi;
Paralisis tidak akut tetapi perlahan-lahan; kelumpuhan
bilateral dan simetris; pada likuor serebrospinalis protein
meningkat; sembuh tanpa gejala; terdapat gangguan
sensorik.
4.2. Bentuk bulbar
ditandai dengan kelemahan motorik dari satu atau lebih
syaraf kranial dengan atau tanpa gangguan pusat vital seperti
pernafasan, sirkulasi dan temperatur tubuh. Bila kelemahan
meliputi syaraf kranial IX, X dan XII maka akan
menyebabkan paralisis faring, lidah dan taring dengan
konsekuensi terjadinya sumbatan jalan nafas.
4.3. Bentuk bulbospinal
Didapatkan gejalacampuran antara bentuk spinal dan bubar
4.4. Bentuk ensefalitik
Ditandai dengan kesadaran yang menurun, tremor, dan

kadang-kadang kejang.
Laboraturium
Virus polio dapat di isolasi dan dibiakkan dari bahan hapusan
tenggorok pada minggu pertama penyakit, dan dari tinja sampai
beberapa minggu. Berbeda dengan enterovirus lainnya, virus polio
jarang dapat di isolasi dari cairan serebrospinalis. Bila pemeriksaan
isolasi virus tidak mungkin dapat dilakukan, maka dipakai pemeriksaan
serologi berupa tes netralisasi dengan memakai serum pada fase akut dan
konvalesen. Dikatakan positif bila ada kenaikan titer 4 kali atau lebih.
Tes netralisasi sangat spesifik dan bermanfaat untuk menegakkan
diagnosa Poliomielitis. Selain itu bisa juga dilakukan pemeriksaan CF

(Complement Fixation) tetapi ditemukan reaksi silang diantara ketiga


tipe virus ini.
Pemeriksaan likuor serebrospinalis akan menunjukkan pleiositosis
biasanya kurang dari 500/mm3, pada permulaan lebih banyak
polimorfonukleus dari limfosit, tetapi kemudian segera berubah menjadi
limfosit yang lebih dominan. Sesudah 10-14 hari jumlah sel akan normal
kembali. Pada stadium awal kadar protein normal, kemudian pada
minggu kedua dapat naik sampai 100 mg%, dengan jumlah set menurun
sehingga

disebut

dissociation

cytoalbuminique,

dan

kembali

mencapainormal dalam 4-6 minggu. Glukosa normal. Pada pemeriksaan


darah tepi dalam batas normal dan pada urin terlihat gambaran yang

bervariasi dan bisa ditemukan albuminuria ringan.


Pengobatan
Tidak ada pengobatan spesifik terhadap Poliomielitis. Antibiotika,
-globulin dan vitamin tidak mempunyai efek. Penatalaksanaan adalah
simptomatis dan suportif. lnfeksi tanpa gejala : istirahat
Infeksi abortif : Istirahat sampai beberapa hari setelah temperatur
normal. Kalau perlu dapat diberikan analgetik, sedatif. Jangan
melakukan aktivitas selama 2 minggu. 2 bulan kemudian dilakukan
pemeriksaan neuro-muskuloskletal untuk mengetahui adanya kelainan.
Infeksi Non Paralitik: Sam adengan tipe abortif Pemberian analgetik
sangat efektif bila diberikan bersamaan dengan pembalut hangat
selama15-30 menit setiap 2-4 jam dan kadang-kadang mandi air panas
juga dapat membantu. Sebaiknya diberikan foot board, papan penahan
pada telapak kaki, yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai
terhadap tungkai. Fisioterapi dilakukan 3-4 hari setelah demam hilang.
Fisioterapi bukan mencegah atrofi otot yang timbul sebagai akibat
denervasi sel kornu anterior, tetapi dapat mengurangi deformitas yang
terjadi.
Infeksi Paralitik: Harus dirawat di rumah sakit karena sewaktu-waktu
dapat terjadi paralisis pernafasan, dan untuk ini harus diberikan
pernafasan mekanis. Bila rasa sakit telah hilang dapat dilakukan
fisioterapi pasif dengan menggerakkan kaki/tangan. Jika terjadi paralisis
10

kandung kemih maka diberikan stimulan parasimpatetik seperti

bethanechol (Urecholine) 5-10 mg oral atau 2.5-5 mg/SK.


Prognosis
Bergantung kepada beratnya penyakit. Pada bentuk paralitik
bergantung pada bagian yang terkena. Prognosis jelek pada bentuk
bulbar, kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat pernafasan atau
infeksi sekunder pada jalan nafas. Data dari negara berkembang
menunjukkan bahwa 9% anak meninggal pada fase akut, 15% sembuh
sempurna dan 75% mempunyai deformitas yang permanen seperti
kontraktur terutama sendi, perubahan trofik oleh sirkulasi yang kurang
sempurna, sehinggamudah terjadi ulserasi. Pada keadaan ini diberikan

pengobatan secara ortopedik.


Pencegahan
Imunisasi aktif

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI (2015). Pedoman Teknis Pekan Imunisai (PIN) Polio. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Pasaribu, Syahril (2005). Aspek diagnostik poliomielitis. Bagian ilmu kesehatan
anak
ilmu
fakultas
kedokteran
USU.
http://library.usu.ac.id/download/fk/anak-syahril2.pdf.
Ismoedijanto, dkk (2005). Eradikasi polio dan permasalahannya. Surabaya: Kapita
Selekta Ilmu Kesehatan Anak IV. http://old.pediatrik.com/pkb/20060220soqh75-pkb.pdf.

11

LAMPIRAN

Pemberian OPV

Prolog mengenai PIN Polio

12

Kegiatan menimbang anak oleh kader

13