Anda di halaman 1dari 41

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus dengan judul Kejang Demam Sederhana ini diajukan untuk
memenuhi persyaratan dalam mengikuti dan menyelesaikan Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah DR Soeselo Slawi
Periode 1 Agustus - 7 Oktober 2016

Oleh:
Nama : Marisa Alfianty
NIM : 030.11.178

Telah diterima dan disetujui oleh penguji,

Slawi,

dr. Abdul Khanis, M. SI. Med., SpA


1

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas
segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kasus yang berjudul Kejang Demam Sederhana dengan baik dan tepat
waktu.
Laporan kasus ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di Rumah Sakit
Umum Daerah DR Soeselo Slawi periode 20 Juni 3 September 2016.
Melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada dr. Abdul Khanis, M. SI. Med., Sp.A selaku pembimbing dalam
penyusunan laporan kasus ini, serta kepada dokterdokter pembimbing lain yang
telah membimbing penulis selama di Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah DR Soeselo Slawi. Penulis juga mengucapkan
terimakasih kepada rekanrekan anggota Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Anak Rumah Sakit Umum Daerah DR Soeselo Slawi serta berbagai pihak yang
telah memberi dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna dan
tidak luput dari kesalahan.Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya
masukan, kritik maupun saran yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan
terimakasih yang sebesarbesarnya, semoga laporan kasus ini dapat memberikan
tambahan informasi bagi kita semua.

Slawi, September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan

Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

BAB I

: PENDAHULUAN

BAB II

: PRESENTASI KASUS

BAB III

: TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

17

Epidemiologi

17

Etiologi

18

Klasifikasi

18

Faktor Risiko

21

Patofisiologi

21

Manifestasi Klinis

25

Diagnosis

26

Pemeriksaan Penunjang

26

Tatalaksana

27

BAB IV

: ANALISA KASUS

32

BAB V

: DAFTAR PUSTAKA

35

BAB I
PENDAHULUAN

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal lebih dari 38oC) akibat suatu proses ekstrakranial biasanya
terjadi antara usia 3 bulan dan 5 tahun. Dalam praktek sehari-hari, orang tua
sering cemas bila anaknya mengalami kejang, karena setiap kejang kemungkinan
dapat enimbulkan epilepsy dan trauma pada otak. Pengobatan antikonvulsan
setiap hari yaitu dengan fenobarbital atau asam valproate mengurangi kejadian
kejang demam berulang. Obat intermiten dengan diazepam pada permulaan pada
kejang demam pertama memberikan hasil yang baik. Antipiretik bermanfaat tetapi
tidak dapat mencegah kejang demam serta berulangnya kejang demam
Kejang merupakan gangguan saraf yang paling sering dijumpai pada anak.
Insiden kejang demam 2.2-5% pada anak di bawah usia 5 tahun. Anak laki-laki
lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 1.2-1.6 : 1 ( Saing B,
1999), menemukan 62,2% kemungkinan kejang berulang pada 90 anak yang
mengalami kejang setelah usia 12 tahun. Kejang demam kompleks dan kususnya
kejang demam fokal merupaka prediksi untuk terjadinya epilepsy. Sebagian besar
penelitian melaporkan angka kejadian epilepsy dikemudian sekitar 2-5%

BAB II
PRESENTASI KASUS

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RSUD DR SOESELO SLAWI
STATUS PASIEN KASUS

Nama Mahasiswa

: Marisa Alfianty

NIM

: 030.11.035

Pembimbing

: dr.Abdul Khanis, Sp.A

Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN

Nama
Jenis Kelamin
Umur
Suku Bangsa
TTL
Agama
Alamat
Pendidikan

: An. H.M.
: Laki-laki
: 4 Tahun 6 Bulan
: Jawa
: Tegal, 17 Januari 2012
: Islam
: Paketiban, RT 03/04
: PAUD

Orang tua / Wali


Ayah:
Nama: Tn. A

Ibu :
Nama: Ny. S

Umur: 35 tahun

Umur: 28 tahun

Alamat: : Paketiban, RT 03/04

Alamat: Paketiban, RT 03/04

Pekerjaan: Pegawai Swasta

Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga

Penghasilan: 5-6 juta/ bulan

Penghasilan: -

Pendidikan: S1

Pendidikan: SMA

Suku Bangsa: Jawa

Suku Bangsa: Jawa


2

Agama: Islam
Agama: Islam
Hubungan dengan orang tua: pasien merupakan anak kandung.
I.

RIWAYAT PENYAKIT
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu pasien pada
tanggal 16 Agustus 2016 pukul 6.00 bertempat di bangsal Anggrek kamar
IB

Keluhan utama
Keluhan tambahan

: Kejang 3 jam sebelum masuk RS


: Demam tinggi, nafsu makan turun

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :


Pasien datang ke IGD RSUD Dr Soeselo Slawi diantar oleh ayah dan
ibunya pada tanggal 15 Agustus 2016 pukul 22.00 dengan keluhan kejang
sejak 3 jam sebelum masuk RS. Lamanya kejang kurang lebih 5 menit, kejang
terjadi pada seluruh bagian tubuh, kelojotan, dan mata mendelik. Kejang tidak
diawali dengan kejang pada sebagian tubuh. Setelah kejang anak langsung
menangis. Kejang ini baru pertama kali terjadi.
Kejang disertai oleh adanya demam tinggi sejak 6 jam sebelum masuk RS.
Demam dirasakan tinggi terus menerus hingga mencapai suhu 40O C. Saat
suhu mencapai 40O C, tidak lama anak langsung kejang. Satu hari sebelum
masuk RS anak sempat batuk kering dan pilek namun keesokan harinya
sembuh dan dilanjutkan oleh demam dan batuk berdahak, pilek berhenti.
Muntah maupun nyeri perut disangkal, diare disangkal. Nafsu makan pasien
menurun selama sakit.

B. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN


Tidak ada. Hipertensi (-), diabetes mellitus
KEHAMILA

Morbiditas

(-), anemia (-), penyakit jantung (-),

kehamilan

penyakit paru (-), infeksi pada kehamilan

Perawatan

(-), asma (-)


ANC rutin setiap bulan selama hamil ke

N
antenatal
Tempat
persalinan
Penolong
persalinan
Cara persalinan
Masa gestasi
KELAHIRAN

bidan
Rumah Sakit
Bidan
Spontan
Cukup bulan, usia gestasi 39 minggu
Berat lahir : 3200 gram
Panjang lahir : tidak tahu
Lingkar kepala : tidak tahu
Langsung menangis (+)
Merah (+)
Pucat (-)

Keadaan bayi

Biru (-)
Kuning (-)
Nilai APGAR : tidak tahu

Kelainan bawaan : tidak ada


Kesimpulan riwayat kehamilan/kelahiran: Pasien lahir spontan, neonatus
cukup bulan dengan berat badan lahir sesuai masa kehamilan.

C. RIWAYAT PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi I : Umur 9 bulan


Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
Psikomotor
o Tengkurap
: Umur 4 bulan
o Duduk
: Umur 7 bulan
o Berdiri
: Umur 9 bulan
o Berjalan
: Umur 12 bulan
o Bicara
: Umur 12 bulan

(Normal: 5-9 bulan)

(Normal: 3-4 bulan)


(Normal: 6-9 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)
(Normal: 13 bulan)
(Normal: 9-12 bulan)

Perkembangan pubertas:Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan :


Perkembangan sesuai dengan usia dan tidak terdapat keterlambatan. Belum
terdapat tanda-tanda pubertas.
C. RIWAYAT MAKANAN
Umur

ASI/PASI

Buah / Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

02

ASI

24

ASI

46

ASI

68

ASI + PASI

8 10

ASI + PASI

10 -12

ASI + PASI

(bulan)

Pada anak usia > 1 tahun


Jenis Makanan
Nasi / Pengganti
Sayur
Daging
Telur
Ikan
Tahu
Tempe
Susu (merk / takaran)

Frekuensi dan Jumlah


Nasi 3x/hari, 1 centong
1x/hari, 1 centong sayur
1x/minggu, 1/2 potong
1x/minggu, 1/2 butir
1x/minggu, 1 potong
1x/minggu, 1 potong
Susu 1x/minggu

Lain lain
Kesimpulan riwayat makanan: Pasien tidak mengalami kesulitan makan.
D. RIWAYAT IMUNISASI
Berdasarkan anamnesis dengan ibu pasien, ibu pasien menyatakan bahwa
semua imunisasi pokok dari pemerintah sudah dilakukan. Namun, ibu pasien tidak
dapat mengingat pasti kapan dilakukannya.
E. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
Tanggal

Jenis

No

lahir

kelami

(umur)
3/4/2000
17/1/200

n
P

Hidup

Lahir

Abortu

mati

Mati

Keteranga

(sebab

kesehatan
Sehat
Dirawat di

RS

b. Riwayat Pernikahan
Ayah / Wali
Tn. A
1
27 tahun
S1
Islam
Jawa
Sehat
-

Nama
Perkawinan keUmur saat menikah
Pendidikan terakhir
Agama
Suku bangsa
Keadaan kesehatan
Kosanguinitas
Penyakit, bila ada
c

Ibu / Wali
Ny. S
1
20 tahun
SMA
Islam
Jawa
Sehat
-

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada di keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

F. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA


Penyakit
Alergi
Cacingan
DBD

Umur
(-)
(-)
(-)

Penyakit
Difteria
Diare
Kejang demam

Umur
(-)
(-)
(-)

Penyakit
Penyakit jantung
Penyakit ginjal
Radang paru

Umur
(-)
(-)
(-)
6

Otitis
(-)
Morbili
(-)
TBC
(-)
Parotitis
(-)
Operasi
(-)
Lain-lain
(-)
Kesimpulan Riwayat Penyakit yang pernah diderita : Pasien tidak memiliki
riwayat penyakit dahulu
G. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
Pasien tinggal di rumah kontrakan bersama orangtuanya. Rumah memiliki
ventilasi yang cukup, jendela dibuka tiap pagi agar udara dan sinar matahari
dapat masuk ke dalam rumah. Sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari
menggunakan air dari sumur pompa listrik. Daerah tempat tinggal pasien
adalah perumahan yang cukup padat penduduk.
Kesimpulan keadaan lingkungan: Sumber air minum dari memasak air
keran hingga mendidih namun suhu mendidih air tersebut tidak diketahui yang
dimasak sekitar 1 menit, lingkungan perumahan cukup padat penduduk.
H. RIWAYAT SOSIAL DAN EKONOMI
Ayah bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan tetap perbulannya.
Kesimpulan sosial ekonomi: Penghasilan ayah dan ibu pasien tersebut cukup
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
II.

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2016 pukul 6.00 bertempat di bangsal
Anggrek kamar IB
Status Generalis
Keadaan Umum
Kesan Sakit

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Kesan Gizi

: Baik

Data Antropometri
Berat Badan

: 16 kg

Tinggi Badan

: 105 cm

Lingkar kepala

:-

Lingkar lengan atas

:-

Status Gizi
-

BB / U = 16/17 x 100% = 94,11%


7

TB / U = 105/105 x 100%= 100%

BB / TB= 16/17 x 100% = 94.11%


Berdasarkan kurva CDC tahun 2000, gizi anak pada kasus ini
termasuk gizi baik

Tanda Vital
Nadi

: 100 x / menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular

Nafas

: 22 x /menit, tipe abdomino-torakal, inspirasi : ekspirasi = 1 : 3

Suhu

: 36.2C, axilla (diukur dengan thermometer digital)

Tekanan darah : Tidak diperiksa


Kepala

Normocephali, rambut berwarna hitam, lurus, distribusi merata

Wajah
Mata

dan tidak mudah dicabut.


Simetris, tidak ada jaringan parut
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sekret (-/-), pupil
bulat isokor (+/+), diameter (3mm/3mm), refleks cahaya langsung
dan tidak langsung (+/+), eksophtalmus(-/-), endophtalmus (-/-),
nistagmus(-/-), lagophtalmus (-/-), kornea jernih (+/+), lensa

Telinga

jernih (+/+)
Bentuk normotia, liang telinga lapang (+/+), serumen (+/+),
sekret(-/-), membran timpani sulit dinilai, refleks cahaya sulit

Hidung

dinilai, nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tarik aurikula (-/-), tuli (-/-)
Simetris, nafas cuping hidung(-/-), deviasi septum (-/-),
sekret(-/-), mukosa hiperemis(-/-), konka eutrofi(+/+), nyeri sinus

Mulut

paranasal(-/-)
Mukosa berwarna merah muda, kering(+), pucat(-), sianosis(-),
oral hygiene baik, trismus(-), normoglosia,atrofi papil (-), tremor
(-), coated tongue (-),faring hiperemis (-), tonsil T1/T1 kripta (+)

Leher

dendrites (-), uvula di tengah.


Inspeksi : tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid
maupun kelenjar getah bening, tidak tampak deviasi trakea
Palpasi : pembesaran tiroid(-), pembesaran kelenjar getah bening
retroaurikula,

Thorak

preaurikula,

submental,submandibula,

supraklavikula, axilla, inguinal (-), trakea teraba di tengah.


Inspeksi

Simetris saat inspirasi dan ekspirasi, deformitas (-), retraksi


suprastrenal (-), retraksi intercostal (-), retraksi subcostal (-)
JANTUNG
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis


sinistra

Perkusi

:
Batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
Batas kanan jantung ICS III-V linea sternalis dextra
Batas atas jantung ICS III linea parasternalis sinistra

Auskultasi

: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

PARU

Inspeksi
Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada
pernapasan yang tertinggal, pernapasan abdomino-torakal,
retraksi

Abdomen

suprastrenal(-),

retraksi

intercostal(-),retraksi

subcostal(-)
Palpasi
Nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan

kiri, Vocal fremitus teraba sama kuat


Perkusi
Sonor di kedua hemithoraks paru
Auskultasi
Suara napas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Inspeksi :
Perut datar, tidak dijumpai adanya efloresensi pada kulit perut,
kulit keriput (-), gerakan peristaltik (-).
Auskultasi :
bising usus (+) frekuensi 1x/10 detik
Palpasi :
Supel, nyeri tekan (-) hepar tidak teraba, lien tidak teraba
Perkusi :
9

Anus dan

Timpani pada seluruh regio abdomen


Tidak terdapat kelainan

Genitalia
Ekstremitas Inspeksi : Warna kulit sawo matang, tidak ada efloresensi
bermakna, oedem (-/-), sianosis(-/-), atrofi (-/-), kuku tangan
panjang(+/+) sanitasi kurang.
Palpasi : Akral hangat, turgor kulit baik (+/+),oedem ekstremitas
(-/-), nyeri tekan (-/-), CRT < 2s

10

STATUS NEUROLOGIS
Refleks Fisiologis
Biseps
Triceps
Patella
Achiles

Kanan
+
+
+
+

Kiri
+
+
+
+

Refleks Patologis
Babinski
Chaddock
Oppenheim
Gordon
Schaeffer

Kanan
-

Kiri
-

Rangsang meningeal
Kaku kuduk
Kerniq
Laseq
Bruzinski I
Bruzinski II

Kanan
-

Kiri
-

Pemeriksaan 12
Nervus Kranial
N I (Opthalmicus)
N II (Opticus)
N III (Oculomotorius)
N IV (Trochlearis)
N V (Trigeminus)
N VI (Abducens)
N VII (Facialis)
N VIII
(Vestibulocochlearis)
N XI
(Glosopharingeus)
N X (Vagus)
N XI (Aksesorius)
N XII (Hipoglosus)

Kanan

Kiri
Tidak Dikerjakan

Normal
Normal
Normal

Normal
Normal
Normal
Normal

Normal

Normal
Normal
Tidak Dikerjakan
Tidak Dikerjakan
Tidak Dikerjakan
Tidak Dikerjakan
Tidak Dikerjakan

TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-),


ruam (-)

11

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratotium IGD pada tanggal 15-08-2016
Pemeriksaan Darah
Leukosit
Eritrosit
Hb
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
DIFFCOUNT
Eosiofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit

Hasil
34.5 x 103/ul
4.3 x 106/ul
11.4 g/dL
33%
76 fL
27 pg
34 g/dL
409.000

Normal
4-10 x 103/ul
3.7-5.7 x 106/ul
10.7-14.7 g/dL
31-43 %
72-88
23-31
32-36
150-400 x 103

0.50%
0.30%
82.50%
7.60%
9.10%

2.00-4.00
0-1
50-79
25-40
2-8

12

Laboratorium Bangsal Anggrek tanggal 19-08-2016


Pemeriksaan Darah
Leukosit
Eritrosit
Hb
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
DIFFCOUNT
Eosiofil
Basofil
Netrofil
Limfosit
Monosit
IV.

Hasil
9.6 x 103/ul
4.7 x 106/ul
12.2 g/dL
36%
78 fL
26 pg
34 g/dL
422.000

Normal
4-10 x 103/ul
3.7-5.7 x 106/ul
10.7-14.7 g/dL
31-43 %
72-88
23-31
32-36
150-400 x 103

0.00%
0.20%
68.50%
24.20%
7.10%

2.00-4.00
0-1
50-79
25-40
2-8

RESUME
An H.M, laki-laki, usia 4 tahun 6 bulan dating dibawa orangtuanya ke IGD
RS Soeselo Slawi dengan keluhan kejang 3 jam sebelum masuk RS. Kejang
berdurasi 5 menit, kejang kelojotan seluruh badan, setelah kejang anak
sadar. Kejang disertai demam tinggi 6 jam sebelum masuk RS, demam
mencapai suhu 40o C saat terjadinya kejang. Satu hari sebelum masuk RS anak
sempat pilek dan batuk namun keesokan harinya pilek sembuh dan dilanjutkan
oleh demam dan batuk berdahak. Muntah maupun nyeri perut disangkal, diare
disangkal. Nafsu makan pasien menurun selama sakit.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, kesan sakit
sedang, status gizi baik, tanda-tanda vital ; nadi : 100x/m, frekuensi napas :
22x/m, suhu : 36.2o C. Dari pemeriksan fisik didapatkan dalam batas normal.
Dari pemeriksaan neurologi tidak didapatkan kelainan.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya leukositosis 34.500 /uL

V.
VI.

VII.

dan kenaikan jumlah netrofil 82.5%.


DIAGNOSIS KERJA
Kejang demam sederhana
ISPA
DIAGNOSIS BANDING
Kejang demam kompleks
Epilepsi
TATALAKSANA
Medikamentosa

13

Infus D5NS 14 tpm


Injeksi Ceftriaxon 2 x 500 mg
Injeksi Paracetamol 4 x 120 mg jika demam >38oC
Injeksi Diazepam 5 mg iv jika kejang
Oral
: Diazepam tablet 5 mg tiap 8 jam tiap kali demam >38oC
Ambroxol Syr (30mg/5ml) 3 x 1/3 cth
Non-Medikamentosa
o Komunikasi, Informasi, dan Edukasi kepada orangtua
Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
o
o
o
o
o

prognosis baik.
Memberitahukan cara penanganan kejang
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif

tetapi harus diingat adanya efek samping


o Observasi tanda penurunan kesadaran dan tanda-tanda vital
o Diet 1600 kkal / hari
Rencana Pemeriksaan Penunjang
o Darah Rutin hari ke 3 pemberian antibiotik

14

VIII.

FOLLOW UP HARIAN
16/08/2016
S
O

A
P

Kejang (-) Demam (-) Mual (-) Muntah (-) Batuk (+) Dahak (+) Pilek
(-) Diare (-)
KU : Sedang, Kesadaran : CM
TV : HR : 100x/m, RR : 22x/m, S : 36.3
Mata : KA -/- SI-/Paru : SNV +/+ Rh -/- Wh -/Jantung : BJ I-II reg M G
Abdomen : BU + supel
AH : +/+
Kejang Demam Sederhana
Infeksi Bakterial Akut
o
Infus D5NS 10 tpm
o
Injeksi Ceftriaxon 2 x 500 mg
o
Injeksi Etason 3 x 1/3 ampul
o
Injeksi Ranitidin 3 x1/3 ampul
o
Injeksi Diazepam 5 mg iv jika kejang

17/8/9
S
O

A
P

Kejang (-) Demam (-) Mual (-) Muntah (-) Batuk (+) Dahak (+) Pilek
(-) Diare (-)
KU : Sedang, Kesadaran : CM
TV : HR : 100x/m, RR : 22x/m, S : 36.3
Mata : KA -/- SI-/Paru : SNV +/+ Rh -/- Wh -/Jantung : BJ I-II reg M G
Abdomen : BU + supel
AH : +/+
Kejang Demam Sederhana
Infeksi Bakterial Akut
o
Infus D5NS 10 tpm
o
Injeksi Ceftriaxon 2 x 500 mg
o
Injeksi Etason 3 x 1/3 ampul
o
Injeksi Ranitidin 3 x1/3 ampul
o
Injeksi Diazepam 5 mg iv jika kejang

18/9/2016
S
O

Kejang (-) Demam (-) Mual (-) Muntah (-) Batuk (+) Dahak (+)Pilek
(-) Diare (-)
KU : Sedang, Kesadaran : CM
TV : HR : 100x/m, RR : 22x/m, S : 36.3
Mata : KA -/- SI-/Paru : SNV +/+ Rh -/- Wh -/Jantung : BJ I-II reg M G
15

A
P

Abdomen : BU + supel
AH : +/+
Laboratorium
Leukosit : 9.6 x 103/ul
Kejang Demam Sederhana
Infeksi Bakterial Akut
Boleh Pulang
Lapicef syr 2 x 1 cth
Lasal exp syr 3 x cth

16

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium atau tanpa adanya proses infeksi SSP, gangguan elektrolit atau
metabolit lainnya.1,2
Kejang Demam adalah Kejang pada anak usia > 1 bulan berhubungan
dengan adanya demam. Tidak disebabkan infeksi SSP, Tidak terdapat kejang
pada masa neonatus sebelumnya, tidak ada kejang tanpa provokasi
sebelumnya,tidak ada penyebab lain kejang (gangguan elektrolit, dll) 1,2
Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti
meningitis, ensefatitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai
prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya
mengenai sistem susunan saraf pusat. 1,2

II.

Epidemiologi
Kejang demam terjadi pada 2 % - 4 % dari populasi anak 6 bulan- 5 tahun.
80 % merupakan kejang demam sederhana, sedangkan 20% kasus adalah
kejang demam kompleks. 8 % berlangsung lama (lebih dari 15 menit). 16 %
berulang dalam waktu 24 jam. Kejang pertama terbanyak di antara umur 17 23 bulan. Anak laki-laki lebih sering mengalami kejang demam. Bila kejang
demam sederhana yang pertama terjadi pada umur kurang dari 12 bulan, maka
risiko kejang demam ke dua 50 %, dan bila kejang demam sederhana pertama
terjadi setelah umur 12 bulan, risiko kejang demam ke dua turunmenjadi 30%.
Setelah kejang demam pertama, 2-4 % anak akan berkembang menjadi
epilepsy dan ini 4 kali risikonya dibandingkan populasi umum. 1,2
Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP,
atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. 1,2
Terjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur, tinggi serta
cepatnya suhu meningkat (Wegman, 1939; Prichard dan McGreal, 1958).
Faktor hereditas juga mempunyai peranan. Lennox-Buchthal (1971)
berpendapat bahwa kepekaan terhadap bangkitan kejang demam diturunkan
oleh sebuah gen dominan dengan penetrasi yang tidak sempurna. Lennox

17

(1949) berpendapat bahwa 41,2% anggota keluarga penderita mempunyai


riwayat kejang sedangkan pada anak normal hanya 3%. 4,5
III.

Etiologi
Penyebab kejang demam hingga kini masih belum diketahui dengan pasti.
Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang
demam, yaitu: 2
1. Imaturitas Otak dan Termoregulator
2. Demam dimana kebutuhan otak meningkat
3. Predisposisi genetik ; > 7 lokus kromosom (poligenik, autosomal
dominan)

IV.

Klasifikasi Kejang Demam


Umumnya kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu
kejang demam sederhana, yang berlangsung kurang dari 15 menit dan
berlangsung umum, dan kejang demam kompleks, yang berlangsung kurang
dari 15 menit, fokal, atau multiple (lebih dari 1 kali kejang dalam 24 jam).
Kriteria penggolongan tersebut dikemukan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini
terdapat beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut
jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang berlangsung,
gambaran rekam otak dan lainnya.5,6
Menurut Konsensus Penanganan Kejang Demam UKK Neurologi IDAI
2012. Kejang demam diklasifikasikan menjadi1:
Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan
atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu
24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh

kejang demam
Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului
kejang parsial
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15
menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan
kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam.
18

Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum
yang didahului kejang parsial.
Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, di
antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada
16% di antara anak yang mengalami kejang demam
Klasifikasi Richard dan Mc Greal membagi kejang demam atas 2
golongan, yaitu5,6:
1.

Kejang demam sederhana

2.

Kejang demam tidak khas

Ciriciri kejang demam sederhana ialah:

Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai

kiri yang kejang sama seperti yang kanan


Usia penderita antara 6 bulan - 4 tahun
Suhu 1000F (37,780C) atau lebih
Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit
Keadaan neurology (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga tetap

normal
EEG (electro encephalography rekaman otak) yang dibuat setelah

tidak demam adalah normal.


Kejang demam yang tidak memenuhi butir tersebut diatas digolongkan
sebagai kejang demam tidak khas

Klasifikasi Kejang Demam menurut Livingston membagi dalam5,6:


1. Kejang Demam sederhana
Kejang bersifat umum
Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15
menit)
Usia waktu KD pertama muncul kurang dari 6 tahun
Frekuensi serangan 1-4 kali dalam satu tahun
EEG normal
2. Epilepsy yang dicetuskan oleh demam
KD yang tidak sesuai dengan ciri tersebut diatas digolongkan
sebagai epilepsy yang dicetuskan oleh demam
Fukuyama juga membagi KD menjadi 2 golongan, yaitu5,6:

Kejang Demam sederhana


19

o Pada keluarga penderita tidak ada riwayat epilepsy


o Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab
apapun
o Serangan KD yang pertama terjadi antara usia 6 bulan - 6
o
o
o
o

tahun
Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20menit
Kejang tidak bersifat fokal
Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologist

atau abnormalitas perkembangan


o Kejang tidak berulang dalam waktu singkat
Kejang Demam kompleks
KD yang tidak sesuai dengan criteria tersebut diatas digolongkan
sebagai KD jenis kompleks

20

Faktor Risiko2
Kejang demam akan terjadi kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko

V.

berulangnya kejang demam adalah :


Riwayat kejang demam dalam keluarga
Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam Bila seluruh faktor di atas ada,
kemungkinan berulang 80 %, sedangkan bila tidak terdapat faktor
tersebut hanya 10 % - 15 % kemungkinan berulang. Kemungkinan
berulang paling besar pada tahun pertama.
Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor risiko
menjadi epilepsi adalah :

Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang

demam pertama.
Kejang demam kompleks
Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung Masingmasing faktor risiko meningkatkan

kemungkinan

kejadian

epilepsi sampai 4 % - 6 %, kombinasi dari faktor risiko tersebut


meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10 % - 49 % (Level
II-2). Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat pada kejang demam
Pada penderita kejang demam risiko saudara kandung berikutnya untuk
mendapat kejang demam ialah 10%. Namun bila satu dari orang-tuanya
dan satu saudara pernah pula mengalami KD, kemungkinan ini meningkat
menjadi 50%
VI.

Patofisiologi
Masih belum jelas mekanisme bagaimana kejang karena imaturitas
hipocampus dan termoregulator di hipothalamus sehingga rentan kejang
(ages pecificity of the brains sensitivity to fever). Percobaan otak tikus in
vitro, peningkatan temperatur pada hipocampus menginduksi aktivitas
epileptiform.
Meskipun mekanisme pasti terjadinya kejang tidak diketahui,
beberapa

faktor

fisiologis

dianggap

bertanggung

jawab

atas

berkembangnya suatu kejang. Untuk mempertahankan hidup sel atau


21

organ otak, diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan
baku untuk memetabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat
proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan
fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.
Jadi sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
dipecah menjadi CO2 dan air.
Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan
dalam adalah lipid dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium
(K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,
kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya kosentrasi K+ dalam sel neuron tinggi
dan konsentrasi Na+ menjadi rendah sedangkan di luar sel neuron terjadi
keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam
dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial
membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan petensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATPase yang
terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan petensial membran ini dapat diubah oleh adanya:
Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler.
Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis,

kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya.


Perubahan dari patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit

atau keturunan.
Pada keadaan demam, kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat sampai
20%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron, dan dalam waktu yang singkat
dapat terjadi difusi ion kalium. Muatan listrik lepas ini sedemikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran
tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan
terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan
tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita
kejang pada kenaikan suhu tubuh tertentu. Pada anak dengan ambang
kejang yang rendah, kejang sudah dapat terjadi pada suhu 38 oC, sedangkan

22

pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru dapat terjadi
pada suhu 40oC atau lebih.
Pada kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya
apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot
skelet sedangkan otot pernafasan tidak efisien sehingga tidak sempat
bernafas yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea, hipoglikemia,
laktat asidosis disebabkan metabolisme anaerob, hipotensi artenal disertai
denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh yang semakin meningkat
oleh karena meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otot meningkat.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul oedem
otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron.

23

VII.
24

VIII.

Manifestasi Klinis
IX.
Terjadinya kejang pada kejang demam terkait dengan
kenaikan suhu yang cepat dan biasanya berkembang bila suhu tubuh
mencapai 380C atau lebih (rectal). Umumnya kejang berlangsung singkat,
berupa serangan tonik klonik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi
seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau kelemahan,
gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan
atau kekakuan fokal
X.
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan
kurang dari 8% yang berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang
berhenti sendiri setelah mendapat pertolongan pertama. Setelah kejang
berhenti anak tampak lelah, mengantuk, tertidur pulas, dan tidak
memberikan reaksi apapun untuk sejenak atau disebut periode mengantuk
singkat pasca kejang, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak
terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.
XI.
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang
biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan
relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2
menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat,
inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya),
gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.
XII.
Kejang demam yang berlangsung lebih lama dari 15 menit
sering bersifat fokal atau unilateral dan kadang-kadang diikuti oleh parese
Tood (lumpuh sementara pasca serangan kejang) yang berlangsung
beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat
diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang
berlangsung lama biasanya lebih sering terjadi pada kejang demam yang
pertama

XIII.

25

XIV.

Diagnosis
Anamnesis
o Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran dan lama kejang
o Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam,
interval, keadaan anak pasca kejang, penyebab demam
diluar infeksi SSP (ISPA, ISK, OMA)
o Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam, dan
riwayat epilepsy dalam keluarga
o Singkirkan penyebab kejang yang lain misalnya ;
diare/muntah yang menyebabkan gangguan elektrolit, sesak
yang menyebabkan hipoksemia, asupan yang kurang yang

dapat menyebabkan hipoglikemia


Pemeriksaan Fisik
o Kesadaran untuk melihat ada tidaknya penurunan kesadaran
o Suhu tubuh
o Rangsang meningeal : Kaku kuduk, Brudzinsky 1-2,
Laseque, Kernique
o Pemeriksaan Nervus Kranial
o Tanda-tanda peningkatan tekanan

intracranial

(UUB

membonjol, papil edem)


o Tanda infeksi diluar SSP
o Pemeriksaan Neurologi : tonus, motoric, reflek fisiologi,
XV.

reflek patologis
Pemeriksaan Penunjang
XVI.
Pemeriksaan laboratorium rutin dapat dikerjakan untuk
mengevaluasi sumber

infeksi atau mencari penyebab demam, seperti

darah perifer, elektrolit dan gula darah.


XVII.
Pemeriksaan cairan serebrospinal
dilakukan untuk

(Pungsi

Lumbal)

menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan

meningitis. Risiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6 % - 6,7 %.


Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas secara klinis, oleh
karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada:
Bayi kurang dari 12 bulan : sangat dianjurkan dilakukan
Bayi antara 12-18 bulan : dianjurkan
Bayi > 18 bulan : tidak rutin Bila yakin bukan meningitis
secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal

26

XVIII.

Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan

kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam kompleks pada
anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal
XIX.
Foto X-ray kepala dan neuropencitraan seperti Computed
Tomography (CT)atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali
dikerjakan, tidak rutindan atas indikasi, seperti:

Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)


Terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial

seperti

penurunan kesadaran, muntah hebat, parese N.IV, papilledema


XX.
XXI.

Tatalaksana
Medikamentosa
XXII.
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada
waktu pasien datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam
keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang
adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg.
XXIII.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau
di rumah adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,50,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan
kurang dari 12 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 12 kg. Atau
diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun
atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.
XXIV.
Kejang yang belum berhenti dengan diazepam rektal dapat
diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5
menit. Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan ke
rumah sakit. Dan disini dapat diberikan diazepam intravena dengan
dosis 0,3 - 0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan
fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10 - 20 mg/kg/kali dengan
kecepatan 1 mg /kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang
berhenti dosis selanjutnya adalah 4 - 8 mg/kg/hari, yaitu 12 jam setelah
dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien
harus dirawat di ruang rawat intensif

27

XXV.

ANTIPIRETIK
XXVI.

Antipiretik pada saat demam dianjurkan, walaupun tidak

ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko


terjadinya kejang demam. Dosis asetaminofen yang digunakan berkisar
10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali.
Dosis ibuprofen 5-10mg/kg/kali ,3 - 4 kali sehari.
XXVII.
Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan
sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga
penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan
XXVIII.

ANTIKONVULSAN
XXIX.
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam
pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap
8 jam pada suhu > 38,5 0C.
XXX.
Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia,
iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus. Fenobarbital,
karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk
mencegah kejang demam
PEMBERIAN OBAT RUMATAN
Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan

XXXI.
XXXII.
XXXIII.

bila

kejang

demam

menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):

Kejang lama > 15 menit


Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,

hidrosefalus.
Kejang fokal

XXXIV.

Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:

Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam


Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
Kejang demam > 4 kali per tahun

XXXV.

Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari

efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Berdasarkan


bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan
obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya

28

diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pemakaian


fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar pada 40-50% kasus.
XXXVI.
Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian
kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat
dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40
mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam
1-2 dosis.
XXXVII.
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang,
kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

Non Medika Mentosa

XXXVIII.
Edukasi pada orang tua
XXXIX.
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi
orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan
bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi
dengan cara yang diantaranya:

Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis

baik.
Memberitahukan cara penanganan kejang
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus
diingat adanya efek samping

XL.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang


Tetap tenang dan tidak panik
Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.
Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun
kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam

mulut.
Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
Tetap bersama pasien selama kejang
Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah

berhenti.
Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau
lebih

XLI.
29

XLII.
XLIII.

Vaksinasi
Sejauh in tidak ada kontra indikasi untuk melakukan

vaksinasi terhadap anak yang mengalami kejang demam. Kejang setelah


demam karena vaksinasi sangat jarang. Angka kejadian pasca vaksinasi
DPT adalah 6-9 kasus per 100.000 anak yang divaksinasi sedangkan
setelah vaksinasi MMR 25-34 per 100.000.
XLIV.
Dianjurkan untuk memberikan diazepam oral atau rektal
bila anak demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR. Beberapa
dokter anak merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3
hari kemudian.

30

XLV.

31

glukosa dan oksigen untuk metabolisme dan menyebabkan kurangnya O2


LII.

dan glukosa untuk sel di otak. 1,2


Terapi yang diberikan dalam kasus ini adalah pemberian cairan
maintenance secara intravena yaitu D5NS 14 tpm sesuai dengan rumus
Darrow. Berat badan pasien adalah 16 kg sehingga didapatkan kebutuhan
cairan menurut rumus adalah 1300 ml/hari kemudian dimasukkkan ke

LIII.

dalam rumus perhitungan tetesan makro dan didapatkan hasil 14 tpm.


Menurut Guidelines dari AAFP (American Association of Family
Physician) penggunaan antibiotic pada ISPA dalam minggu pertama tidak
direkomendasikan, namun antibiotic dapat digunakan jika ada bukti
infeksi bakteri. Antibiotik yang diberikan dalam kasus ini juga sesuai
dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang didapat. Antibiotik yang
digunakan adalah ceftriaxone 2 x 500 mg yang merupakan sefalosporin
generasi III yang broad spectrum, sesuai dengan kasus dimana leukositosis
diikuti dengan adanya batuk dan demam yang menandakan adanya
kemungkinan infeksi pada saluran napas. Dosis yang diberikan dalam
kasus ini sesuai yaitu 50-80 mg/kgBB terbagi 2 dosis sehingga didapatkan

LIV.

range dosis yang dapat diberikan adalah 800-1280 mg/hari.


Antipiretik pada saat demam dianjurkan, walaupun tidak
ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko
terjadinya kejang demam. Dosis asetaminofen yang digunakan berkisar
10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Pada
kasus digunakan Parasetamol yang merupakan astetaminofen dengan dosis
4 x 200 mg dengan range dosis yg dapat diberikan antara 160 mg 240

LV.

mg/ kali.
Pada kasus direncanakan pemberian diazepam 5 mg jika terjadi
kejang sesuai dengan protocol tatalaksana kejang demam dan dosis yang
diberikan juga tepat yaitu 0.3-0.5 mg/kgBB atau jika anak dengan berat
badan 16 kg maka dosis yang dapat diberikan adalah 4.8-8 mg/kgBB, serta
pemberian diazepam oral 5 mg tiap 8 jam apabila suhu >38oC untuk
mencegah terjadinya kejang. Pemberian diazepam oral dapat menurunkan
resiko timbulnya kejang 30-60% kasus. 2,2

33

LVI.

Selain itu pasien juga diberikan Ambroxol syrup untuk membantu


mengencerkan

dahak

pasien.

Dosis

pemberian

ambroxol

adalah

0.5mg/kgBB/kali diberikan tiga kali sehari.


LVII.
Pasien tidak perlu diberikan obat rumatan kejang karena
tidak memenuhi kriteria pemberian rumatan kejang yaitu kejang lama > 15
menit, adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi
mental, hidrosefalus maupun, kejang fokal.1
LVIII.
Pasien perlu mendapatkan asupan yang cukup. Sesuai
dengan AKG (Angka Kebutuhan Gizi) dari Departemen Kesehatan, pada
pasien ini membutuhkan sekitar 1300 kalori perhari.12
LIX.
LX.

34

LXI.

Prognosis pada pasien ini adalah

LXII.

Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam

: Ad Bonam
: Ad Bonam
: Ad Bonam

Hal ini sesuai dengan teori yaitu kejang yang terjadi pada usia 4
tahun 6 bulan, kejang satu kali dan kurang dari 15 menit, serta kejang
terjadi secara keseluruhan. Serta tidak ada riwayat keluarga yang memiliki
kejang. Hal-hal tersebut akan membuat kemungkinan terjadinya rekurensi
kejang kembali sangat kecil.

35

LXIII.
LXIV.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

LXV.
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.
2006.

Available

at

www.idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Kejang-

Demam-Neurology-2012.pdf
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis. 2009. Available at
http://www.idai.or.id/downloads/PPM/Buku-PPM.pdf
3. Deliana, Melda. Tata Laksana Kejang Demam pada Anak. 2002. Sari Pediatri
(4) pg 59 62
4. Depkes RI, WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit :
Tatalaksana

Kejang

Demam.

2009.

Available

at

www.searo.who.int/.../9789791947701-buku-saku-kesehatan-anak-indonesia.
pdf?ua=1
5. Tumbelaka,Alan R.,Trihono, Partini P.,Kurniati,Nia.,Putro Widodo,Dwi.
Penanganan Demam Pada Anak Secara Profesional: Pendidikan Kedokteran
Berkelanjutan

Ilmu

Kesehatan

Anak

XLVII.Cetakan

pertama,FKUI-

RSCM.Jakara,2005
6. Lumbantobing,S.M:Kejang Demam.Balai Penerbit FKUI,Jakarta,2007
7. Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topik In Pediateric II : Kejang
Pada Anak. Cetakan ke2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2002.
8. Lucille Packard Childrens Hospital at Stanford. 2013. Febrile Seizure.
9. McGowan,J. 2003. Febrile Convulsion. Pediatrics in Review. American
Associaton of Pediatrics Publication.
10. Sperling, Mark. A, 20011. Seizure. Nelson Pediatrics 19th edition. Elsevier
Saunders : Philadelphia.
11. Aberdein, Jody, Mervyn Singer. Clinical Review : A systematic review of
corticosteroid usage in infection. Crit Care. 2006 ; 10(1): 213. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1550829/
12. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Angka Kebutuhan Gizi. Available
at gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan%20Gizi/Tabel%20AKG.pdf
LXVI.

36

Anda mungkin juga menyukai