Anda di halaman 1dari 10

PREPARAT POLEN

(METODE ASETOLISIS)

Oleh :
Andriani Diah Irianti
Linda Anita Tristiani
Nur Ngafifah
Yuniana Riska Khasanati
Firza Thenia
Nur Ulfah Khasanah

B1J012011
B1J012021
B1J012025
B1J012049
B1J012191
B1J012199

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO

I.

2015
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tanaman berkembang biak secara alami melalui berbagai macam cara.


Tanaman berkembang biak secara alami dengan 2 cara yaitu generatif dan vegetatif.
Generatif adalah bahwa tanaman tersebut berkembang biak secara kawin, yaitu
bertemunya sel jantan yang terdapat pada benang sari dan sel betina yang terdapat
pada putik. Bertemunya 2 sel ini nantinya akan menghasilkan buah yang berbiji 2
yaitu dikotil. Tanaman yang dikembangbiakkan melalui cara ini biasanya memiliki
sifat genetis yang berbeda dari tanaman induk dan biasanya mengalami kemunduran.
Tumbuhan berbiji memiliki alat perkembangbiakan generatif yang dikenal sebagai
bunga. Dimana pada bunga terdapat daun-daun yang telah berubah bentuk dan
fungsinya, daun bunga demikian lazim disebut stamen yang merupakan alat kelamin
jantan dalam unit bunga tersebut. Stamen berfungsi menghasilkan serbuk sari atau
pollen. Serbuk sari sangat penting dalam proses persarian ataupun pembuahan
(Hidayat, 1995).
Butir pollen adalah mikrospora tumbuhan berbiji yang mengandung
mikrogametofit masak atau belum masak. Serbuk sari atau pollen adalah alat
reproduksi jantan yang terdapat pada tumbuhan dan mempunyai fungsi yang sama
dengan sperma sebagai alat reproduksi jantan pada hewan. Serbuk sari berada dalam
kepala sari (anthera) tepatnya dalam kantung yang disebut ruang serbuk sari (theca).
Setiap anthera rata-rata memiliki dua ruang serbuk sari yang berukuran relatif besar
(Septina, 2006).
Pollen memiliki dinding yang berfungsi untuk melindungi inti sperma
tumbuhan dari proses desikasi dan iradiasi selama perpindahan dari antera menuju ke
stigma. Butir pollen yang kecil dilapisi oleh lilin dan protein yang berupa elemen
scluptura (Davis, 1999). Menurut Faegri & Iversen (1989), pollen mempunyai 2 lapis
dinding yaitu lapisan dalam (intine) dan lapisasn luar (exine). Lapisan intine
merupakan dinding pektoselulosa tipis yang mengelilingi butir pollen yang masak,
sedangkan lapisan exine tersususn dari sporopollenin sebagai komponen utamanya,
yaitu berupa substansi keras yang berfungsi memberikan daya tahan yang kuat
kepada dinding butir pollen (Fahn, 1991). Pollen yang digunakan dalam praktikum
kali ini yaitu berasal dari bunga turi (Sesbania grandiflora).

Metode asetolisis biasanya digunakan dalam mengamati preparat pollen.


Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pembuatan preparat
serbuk sari. Prinsip dari metode ini yaitu dengan melisiskan dinding sel serbuk sari
dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat (H 2SO4) sebagai bahan tambahan.
Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil pengamatan morfologi dinding serbuk
sari ornamentasi dari serbuk sari tersebut. Serbuk sari yang digunakan dalam
pembuatan preparat ini haruslah merupakan serbuk sari yang matang. Serbuk sari
yang matang ini dapat ditandai dengan sudah tidak ada air dalam serbuk sari tersebut,
jika serbuk sari dipatahkan maka hanya akan seperti tepung saja (Suntoro, 1983).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui tahapan-tahapan pembuatan
preparat pollen menggunakan metode asetolisis.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu tabung reaksi, skalpel,
batang pengaduk, skalpel, sentrifuge, mikroskop cahaya, kaca benda dan
penutupnya, pipet tetes, kamera dan kertas tissue.
Bahan yang digunakan yaitu pollen bunga turi (Sesbania grandiflora), asam
asetat glasial, H2SO4, akuades, safranin jelly 1%, dan medium mounting gliserin
jelly.
B. Metode
Metode yang digunakan dalam pembuatan preparat polen metode asetolisis
adalah sebagai berikut :
1. Pollen bunga turi (Sesbania glandiflora) diambil dari anthera, dikumpulkan dalam
kecil, kemudian difiksasi dengan asam asetat glacial selama 24 jam
2. Setelah itu larutan asetat glasial diganti dengan yang baru dan ditambahkan 1-2
tetes H2SO4.
3. Bahan selanjutnya dipanaskan dan diusahakan tidak sampai gosong.
4. Kemudian disentrifus, setelah itu supernatannya dibuang dan endapannya diganti
dengan akuades.
5. Pencucian dengan akuades dilakukan selama 3 kali dimana setiap pencucian
disentrifus lagi.
6. Kemudian dilakukan dengan perwarnaan dilakukan dengan pewarnaan dengan
safranin jelly 1% yang ditambahkan medium mounting gliserin.
7. Preparat polen siap diamati dibawah mikroskop.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 3.1. Preparat pollen Sesbania


grandiflora menggunakan metode
asetolisis dengan perbesaran 400x

B. Pembahasan

Pembuatan preparat polen metode asetolisis diawali dengan melakukan


penyisiran anther bunga turi (Sesbania grandiflora), selanjutnya dilakukan fiksasi
menggunakan asam asetat glasial selama 24 jam. Tujuan fiksasi dengan asam asetat
glasial yaitu untuk mematikan (penghentian proses-proses hidup secara tiba-tiba dan
kekal (permanen) serta mengawetkan semua isi sel dalam ukuran serta posisi semula
dalam sel atau hampir sama dengan pada waktu masih hidup. Tahap selanjutnya,
asam asetat glasial diganti dengan asam asetat glasial yang baru dan ditambahkan 1-2
tetes H2SO4. Penambahan H2SO4 pekat berfungsi untuk melisiskan selulosa yang
terdapat pada dinding serbuk sari sehingga ketika dibuat preparat maka secara
morfologi ciri-ciri alami eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas dibandingkan
dengan sebelum dilakukan asetolisis. Selain itu, juga berfungsi agar struktur sel
serbuk sari tetap utuh seperti keadaan hidupnya ketika mendapat perlakuan
selanjutnya. Kemuadian, bahan dipanaskan di waterbath diusahakan jangan sampai
bagian bawah gosong.
Tahap selanjutnya bahan dipindahkan ke dalam tabung sentrifuge untuk
dilakukan sentrifugasi. Tujuan dilakukan sentrifugasi yaitu untuk mendapatkan
serbuk sari yang terpisah dari larutan asam asetat glasial dan H2SO4 dengan
membentuk endapan. Selanjutnya, dilakukan pencucian dengan akuades yang
dilakukan selama 3 kali, dan setiap pencucian dilakukan sentrifugasi. Tahap
selanjutnya yaitu melakukan pewarnaan dengan menggunakan safranin jelly 1%.
Setelah itu dilakukan mounting dengan mengambil bahan dan meletakkannya diatas
objek glass. Preparat selanjutnya ditutup menggunakan gliserin jeli. Fungsi dari
penutupan menggunakan gliserin jeli yaitu untuk membuat preparat awet serta
berfungsi sebagai perekat. Penggunaan gliserin sebagai perekat karena preparat
digunakan untuk dalam jangka waktu yang agak lama. Tahap terakhir dari metode
asetolisis, preparat yang telah jadi

diamati dibawah mikroskop dan selanjutnya

diberi label.
Berdasarkan hasil pengamatan preparat polen yang telah dibuat menggunakan
pollen bunga turi (Sesbania grandiflora) diperoleh pollen bunga turi (Sesbania
grandiflora) berbentuk bulat. Dinding serbuk sari terdiri dari dua lapisan, yaitu eksin
(lapisan luar) tersusun atas sporopolenin, dan intin (lapisan dalam) yang tersusun atas
selulosa. Metode asetolisis biasa digunakan untuk mengamati preparat pollen.
Metode asetolisis merupakan salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari
dengan menggunakan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat

glasial serta sam sulfat pekat sebagai bahan kimia fiksatif. Serbuk sari yang
digunakan sebaiknya menggunakan serbuk sari yang matang. Hal ini karena, serbuk
sari yang matang akan dengan mudah untuk diambil bagian serbuknya yang seperti
tepung (Suntoro, 1983).
Langkah-langkah dari pembuatan metode asetolisis yaitu fiksasi, pemanasan,
pencucian, pewarnaan (staining), penutupan (mounting), dan labelling. Berikut
langkah-langkah pada metode asetolisis (Sugiharto, 1989):
1. Fiksasi
Fiksasi adalah suatu usaha untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau
jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada tempatnya, dan tidak mengalami
perubahan bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif. Selain itu
fiksasi juga mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang disebabkan oleh jenis
enzim yang terkandung di dalam jaringan itu sendiri, yang dikenal dengan autolisis.
Ada dua macam fiksatif, yaitu fiksatif sederhana dan majemuk atau campuran.
Fiksatif sederhana merupakan larutan yang didalamnya hanya mengandung satu
macam zat saja, sedangkan fiksatif majemuk atau campuran adalah larutan yang di
dalamnya mengandung lebih adri satu macam zat. Fiksatif yang digunakan dalam
pembuatan preparat pollen yaitu asam asetat glasial dan H2SO4 pekat. Langkah awal
yang dilakukan yaitu serbuk sari dimasukkan dalam larutan asam asetat glasial,
selanjutnya fiksatif dibiarkan selama 24 jam di dalam suhu ruang. Setelah 24 jam,
asam asetat diganti menggunakan asam asetat yang baru dan ditambahkan 1-2 tetes
H2SO4
2. Tahap pemanasan
Setelah dilakukan penggantian larutan asam asetat glasial yang baru yang
ditambah dengan 1-2 tetes H2SO4, selanjutnya dilakukan pemanasan dengan
menggunakan waterbath. Pemanasan dilakukan jangan sampai gosong. Setelah
dilakukan pemanasan, serbuk sari dalam larutan akan berubah warna menjadi agak
kecoklatan. Serbuk sari dan larutan yang dipanaskan ini kemudian didinginkan
sejenak. Setelah serbuk sari dingin dilakukan sentrifugase yang bertujuan untuk
mendapatkan serbuk sari yang telah terasetolisis. Selain itu juga, sentrifugase
bertujuan untuk memisahkannya serbuk sari dari larutan asam asetat glasial dan asam
asetat H2SO4 pekat. Sentrifuse dilakukan dengan kecepatan 3000 rpm.
3. Tahap pencucian

Langkah selanjutnya yaitu pencucian pollen turi (Sesbania grandiflora)


menggunakan akuades yang dilakukan sebanyak tiga kali. Pencucian dilakukan
dengan menambahkan akuades ke dalam tabung sentrifus yang berisi serbuk sari
kemudian dilakukan sentrifuse untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih.
Perlakuan tersebut dilakukan sebanyak tiga kali untuk mendapatkan serbuk sari yang
bersih tanpa ada sisa zat kimia seperti fiksatif dalam serbuk sari yang akan dibuat
preparat.
4. Tahap pewarnaan (staining)
Pewarnaan (staining) dilakukan menggunakan safranin 1 %. Tujuan utama
dari pewarnaan yaitu untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan
sekitarnya, sehingga memudahkan dalam pengamatan serbuk sari dibawah
mikroskop. Pewarnaan juga dapat memperjelas bentuk ornamen dinding sel serbuk
sari serta mempermudah mengetahui ukuran serbuk sari.
5. Tahap penutupan (mounting)
Mounting atau penutupan ini merupakan langkah penting dalam pembuatan
preparat, dimana serbuk sari diambil tabung sentrifuse yang kemudian diletakkan
pada salah satu sisi objek gelas. Kemudian, serbuk sari disusun empat potongan kecil
Selanjutnya di atas serbuk sari ditetesi dengan gliserin jeli. Susunan tersebut perlu
dipertimbangkan peletakannya agar dapat dihasilkan preparat yang rapi dan
proporsional. Setelah penyusunan gliserin jeli dan serbuk sari selesai langkah
berikutnya dalam mounting adalah penutupan susunan tersebut dengan cover glass.
6. Tahap labelling
Labelling merupakan tindakan pelabelan preparat. Preparat diberikan label
dengan kertas label bertuliskan nama preparat.
Metode asetolisis adalah metode yang digunakan dalam pembuatan preparat
polen dan spora. Prinsip dasar asetolisis, adalah memecah atau melisis dinding polen
(eksin dan intin) dan spora dengan menggunakan asam kuat. Penggunaan metode
asetolisis memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode ini yaitu untuk
mendapatkan hasil amatan morfologi dinding serbuk sari ornamentasi dari serbuk
sari tersebut. Kekurangannya adalah langkah-langkah dalam mengerjakan pembuatan
preparat dengan menggunakan metode asetolisis banyak sekali tahap-tahapanya,
sehingga dalam melakukan tahapan harus berhati-hati agar bisa mendapatkan hasil
serbuk sari yang baik (Suntoro, 1983).
IV.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :


1. Preparat polen turi (Sesbania grandiflora) yang didapat yaitu bentuk pollennya
bulat.
2. Cara membuat preparat polen metode asetolisis yaitu diawali dengan menyisir
anther polen, selanjutnya difiksasi asam asetat glasial selama 24 jam, asam asetat
glasial diganti dengan asam asetat glasial yang baru dan ditambahkan 1-2 tetes
H2SO4., dipanaskan di waterbath diusahakan jangan sampai bagian bawah
gosong, dilakukan sentrifugasi, pencucian dengan akuades yang dilakukan
selama 3 kali dan setiap pencucian dilakukan sentrifugasi, pewarnaan dengan
menggunakan safranin jelly 1%, tahap mounting dengan medium gliserin jelly
dan tahap terakhir labelling dan pengamatan preparat dibawah mikroskop.

DAFTAR REFERENSI
Davis, G. L. 1999. Systematic Embryology of the Angiosperms. John Wiley and Sons
Inc., New York. 528 p.
Faegri, K dan J. Inverson. 1989. Text Book of Pollen Analysis. 3rd revised edition by
Faegri, K. Munksgaard, Copenhagen and Denmark. Pp. 1-295.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Hidayat, B. E. 1995. Anatomi dari Tumbuhan Berbiji. ITB. Bandung.


Septina, S. 2006. Hubungan Kekerabatan Beberapa Tanaman Murbei (Morus sp.)
Berdasarkan Morfologi Pollen. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Sugiharto. 1989. Mikroteknik. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Suntoro, H. 1983. Metode Pewarnaan (Histologi dan Histokimia). Fakultas Biologi,
UGM, Yogyakarta.