Anda di halaman 1dari 42

PT Triple Ace Corporation merupakan perusahaan yang memproduksi

produk perlengkapan toilet dan sabun. Perusahaan ini telah menggeluti


usaha ini mulai tahun 1972, dengan produk utama adalah sabun mandi.
Salah satu produk mereka yang terkenal adalah sabun mandi Deo
Sulphur.
Setiap orang menginginkan kulit yang sehat, bersih, lembut, dan halus.
Kulit perlu untuk dirawat secara teratur dan dijaga kebersihannya. Jika
tidak akan menimbulkan masalah kulit seperti infeksi jamur dan bakteri.
Penyakit kulit seperti panu, kudis, kurap, kadas, di samping mengganggu
dengan rasa gatal juga merupakan hal yang memalukan.
Sulfur atau belerang merupakan unsur kimia yang sangat penting bagi
kehidupan. Sulfur bermanfaat bagi kesehatan, terutama bagi kesehatan
kulit. Sulfur dapat merangsang kolagen, membuat kulit menjadi kencang
dan sehat. Sulfur juga efektif dalam mengatasi dan mencegah penyakit
kulit karenan infeksi jamur dan bakteri. Dengan manfaat sulfur bagi kulit,
PT Triple Ace mengeluarkan produk sabun Deo Sulphur. Sabun ini
mengandung sulfur untuk merawat kesehatan kulit. Sabun Deo Sulphur
tersedia dalam varian Deo Sulphur Solid Shoap dan Deo Sulphur
Transparent Soap.
Deo Sulphur Solid Shoap, produk sabun untuk kesehatan dan kecantikan
kulit. Sabun ini mengandung 10 % sulfur murni, TCC, Allantoin, dan
Glyserin. Kandungan sulfur di dalamnya, dapat mengatasi dan
mengurangi jerawat. TCC (antiseptik) membersihkan kulit, dan membasmi
jamur dan bakteri penyebab jerawat dan penyakit kulit. Allantoin menjga
kelembaban kulit, merangsang regenerasi kulit tanpa menimbulkan alergi.
Glyserin menjaga kelembaban kulit.
Deo Sulphur Transparent Soap, mengandung 2 % bio sulfur, minyak
zaitun, dan bahan ekstrak alami lainnya. Bio sulfur adalah sulfur dalam
bentuk cair. Bio sulfur mudah diserap kulit, berperan sebagaii antiseptik
dan mengurangi jerawat. Minyak zaitun baik dalam menjaga kelembaban
kulit. Kandungan ekstrak mawar berperan sebagai astringent dan
memperthanakan kelembutan kulit. Kandungan ekstrak ketimun
menyegarkan dan mengencangkan kulit. Ekstrak rumput laut
mengandung vitamen E yang baik bagi kesehatan kulit (sebagai
antioksidan dan antiaging).
(vem/win)

Pembuatan Sabun

JUN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Sejarah
dan
Latar
Belakang
Sabun adalah senyawa yang dihasilkan dari reaksi antara asam lemak dengan alkali. Asam lemak
ini terdapat di dalam minyak nabati dan lemak hewan. Reaksi dari minyak nabati dan lemak
hewan dengan alkali disebut dengan reaksi saponifikasi. Selain berasal dari minyak atau lemak,
sabun juga dibuat dari minyak bumi dan gas alam maupun langsung dari tanaman.
Dalam sejarah pengetahuan Sumaria, sabun dibuat dari campuran minyak dengan abu yang
berasal dari pembakaran kayu. Sabun yang dihasilkan disebut dengan sabun kalium dan
digunakan untuk mencuci bulu domba. Sabun juga ditemukan dalam catatan medis Mesir Kuno,
yang menyebut sabun berasal dari soda alami yang disebut dengan natron yang dihasilkan dari
dehidrasi
Natrium
Karbonat
dan
dicampur
dengan
lemak
nabati.
Dewasa ini banyak pabrik yang memproduksi sabun dalam berbagai macam bantuk dan merk.
Masing-masing sabun yang diproduksi memiliki spesifikasi dan mutu tersendiri kemajuan ini
terjadi
seiring
dengan
kebutuhan
manusia
dan
perkembangan
iptek.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang modern saat ini, telah banyak pula sabun-sabun
dibuat untuk maksud pencegehan atau pengobatan terhadap penyakit kulit, sehari-hari
pemakaian sabun seiiring digunakan sebagai sabun mandi, di Rumah sakit sering dipakai oleh
para dokter dan perawat untuk mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan operasi atau
perawatan terhadap pasiennya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Sabun
Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan Alkali.
Sabun juga merupakan garam-garam Monofalen dari Asam Karboksilat dengan rumus umumnya
RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatik) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara
C12-C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau Ion Ammonium.
Pembuatan sabun melibatkan teknologi kimia yang dapat mengontrol sifat fisika alami yang
terdapat pada sabun. Saponifikasi pada minyak dilihat dari beberapa perubahan fasa untuk
menghilangkan impurity (zat pengganggu) dan uap air serta dilihat dengan recovery gliserin
sebagai produk samping dari reaksi saponifikasi. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan

sisanya
air,
gliserin,
garam
dan
impurity
lain.
Perubahan lemak hewan (misalnya lemak kambing, Tallow) menjadi sabun menurut cara kuno
adalah dengan cara memanaskan dengan abu kayu (bersifat basa), hal ini telah dilakukan sejak
2300 tahun yang lalu oleh bangsa Romawi kuno
Ada beberapa karaktersitik yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dasar sabun antara
lain:

Warna
Lemak dan minyak yang berwarna terang merupakan minyak yang bagus untuk digunakan
sebagai bahan pembuatan sabun.

Angka
Saponifikasi
Angka saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium hidroksida yang
digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi
digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada
lemak atau minyak.

Bilangan
Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung katidakjenuhan minyak atau lemak, semakin besar
angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan
iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.
2.3
Sifat-Sifat
Sabun
Sifat

sifat
sabun
yaitu
:
a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan
dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa
+
H2O

CH3(CH2)16COOH
+
NaOH
b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan
menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat
menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa
+
CaSO4
Na2SO4
+
Ca(CH3(CH2)16COO)2
c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun
(garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun
non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai
rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka
air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka
air)
dan
larut
dalam
air.
Non
polar
:
CH3(CH2)16
Polar
:
COONa+
(larut
dalam
miyak,
hidrofobik,
(larut
dalam
air,
hidrofilik,
memisahkan
kotoran
non
polar)
memisahkan
kotoran
polar)
Molekul-molekul sabun terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang dengan satu gugus ionik
yang sangat polar pada salah satu ujungnya. Ujung ini bersifat hidrofilik (tertarik atau larut
dalam air) dan ujung rantai hidrokarbon bersifat lipofilik (tertarik atau larut dalam minyak dan
lemak). Pengotor umumnya melekat pada pakaian atau badan dalam bentuk lapisan minyak
yang sangat tipis. Jika lapisan minyak ini dapat dibuang, partikel-partikel pengotor dikatakan
telah tercuci. Dalam proses pencucian, lapisan minyak sebagai pengotor akan tertarik oleh ujung
lipofilik sabun, kemudian kotoran yang telah terikat dalam air pencuci karena ujung yang lain
(hidrofilik) dari sabun larut dalam air
Sifat-sifat fisik sabun yang perlu diketahui oleh design engineer dan kimiawi adalah sebagai
berikut:
1. Viskositas
Setelah minyak atau lemak disaponifikasi dengan alkali, maka akan dihasilkan sabun yang
memiliki viskositas yang lebih besar dari pada minyak atau alkali. Pada suhu di atas 75o C
viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, tapi di bawah suhu 75o C viskositasnya
dapat meningkatkan secara cepat. Viskositas sabun tergantung pada temperature sabun dan
komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan.

2. Panas Jenis
Panas jenis sabun adalah 0,56 Kal/g.
3. Densitas
Densitas sabun murni berada pada range 0,96g/ml 0,99g/ml.
2.2 Reaksi Dasar Pembuatan Sabun
1. Saponifikasi
Pembuatan sabun tergantung pada reaksi kimia organik, yaitu saponifikasi. Lemak direaksi
dengan alkali untuk menghasilkan sabun dan gliserin. Persamaan reaksi dari saponifikasi adalah:
C3H3(O2CR)3 + NaOH 3RCOONa + C3H5(OH)3
Lemak minyak Alkali Sabun Gliserin
Saponifikasi merupakan reaksi ekstern yang menghasilkan padan sekitar 65 kalori per kilogram
minyak yang disaponifikasi. pada rumus kimia diatas, R dapat berupa rantai yang sama maupun
berbeda-beda dan biasanya dinyatakan dengan R1, R2, R3. rantai R dapat berasal dari laurat,
palmitat, stearat, atau asam lainnya yang secara umum di dalam minyak disebut sebagai eter
gliserida. Struktur gliserida tergantung pada komposisi minyak. Perbandingan dalam
pencampuran minyak dengan beberapa gliserida ditentukan oleh kadar asam lemak pada lemak
atau minyak tersebut. Reaksi saponifikasi dihasilkan dari pendidihan lemak dengan alkali
dengan menggunakan steam terbuka.
2. Hidrolisa Lemak dan Penetralan dengan Alkali
Pembuatan sabun melalui reaksi hidrolisa lemak tidak langsung menghasilkan sabun. Minyak
atau lemak diubah terlebih dahulu menjadi asam lemak melalui proses Splitting (hidrolisis)
dengan menggunakan air, selanjutnya asam lemak yang dihasilkan dari reaksi hidrolisis tersebut
akan dinetralkan dengan alkali sehingga akan dihasilkan sabun. Hidrolisa ini merupakan
kelanjutan dari proses saponifikasi. Secara kimia rekasi pembuatan sabunnya adalah :
(i) C3H5(O2CR)3 + 3H2O 3RCO2H + C3H5(OH)3
Lemak/ Minyak Air Sabun Gliserida
(ii) 3RCOOH + 3NaOH 3RCOONa + 3H2O
Air yang digunakan pada proses hidrolisis dapat berupa air dingin, panas atau dalam bentuk uap
air panas (steam). Pada proses hidrolisa lemak, air yang digunakan berada pada tekanan dan
temperatur yang tinggi, supaya reaksi hidrolisa dapat terjadi dengan cepat. Jika natrium
karbonat (Na2CO3) digunakan sebagai penetralan asam lemak, maka selama reaksi saponifikasi
akan mengahsilkan CO2 dan menyebabkan massa bertambah sehingga material yang ada di
dalam reaksi akan tumpah karena melebihi kapasitas reaksi yang digunakan. Dengan alasan ini,
maka Na2CO3 digunakan pada reaksi yang berada pada reactor yang memiliki kapasitas yang
cukup besar.
2.3
Bahan
Mentah
Pembuat
Sabun
Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun
demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah untuk
membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara lain:
1.
Minyak
atau
Lemak

Tallow
(Lemak
Hewan)
Tallow adalah lemak padat pada temperatur kamar dan merupakan hasil pencampuran Asam
Oleat (0-40%), Palmitat (25-30%), stearat (15-20%). Sabun yang berasal dari Tallow digunakan
dalam industri sutra dan industri sabun mandi. Pada indsutri sabun mandi, tallow biasanya
dicampurkan dengan minyak kelapa dengan perbandingan 80% tallow dan 20% minyak kelapa.

Minyak
Kelapa
Minyak kelapa merupakan komponen penting dalam pembuatan sabun, kerena harga minyak
kelapa cukup mahal, maka tidak digunakan untuk membuat sabun cuci. Minyak kelapa ini
berasal dari kopra yang berisikan lemak putih dan dileburkan pada suhu 15oC.


Minyak
Inti
Sawit
Minyak inti sawit memiliki karekteristik umum, seperti minyak kelapa dan dapat dijadikan
sebagai substituen dari minyak kelapa di dalam pembuatan sabun mandi. Dengan warna minyak
yang terang, minyak inti sawit dapat digunakan langsung untuk membuat sabun tanpa perlakuan
pendahuluan terlebih dahulu.

Minyak
Sawit
(Palm
Oil)
Dalam pembuatan sabun, minyak sawit dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk, seperti
Crude Palm Oil, RBD Palm Oil (minyak sawit yang telah dibleaching dan dideorisasi), Crude
Palm falty Acid dan asam lemak sawit yang telah didestilasi. Crude Plam Oil yang telah
dibleaching digunakan untuk membuat sabun cuci dan sabun mandi, RBD Palm Oil dapat
digunakan tanpa melalui Pre-Treatment terlebih dahulu. Minyak sawit yang dicampurkan dalam
pembuatan sabun sekitar 50% atau lebih tergantung pada kegunaan sabun yang diproduksi.

Marine
Oil.
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam
lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum
digunakan sebagai bahan baku.

Castor
Oil
(minyak
jarak).
Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.

Olive
oil
(minyak
zaitun).
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki
warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut
bagi kulit.

Campuran
minyak
dan
lemak.
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan
lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang
saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan
dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang
tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.
2.
Alkali
Bahan terpenting lainnya dalam pembuatan sabun adalah alkali seperti NaOH, KOH, dan lainlain. NaOH biasanya digunakan untuk membuat sabun cuci, sedangkan KOH digunakan untuk
sabun mandi. Alkali yang digunakan harus bebas dari kontaminasi logam berat karena
mempengaruhi nama dan struktur sabun serta dapat menurunkan resistansi terhadap oksidasi.
3.
Bahan
Pendukung
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil
saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang
siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.

NaCl.
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada
produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat
memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau
padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak
mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan
mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang
berkualitas.

Bahan
aditif.
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk
mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut
antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.

2.4
Proses
Pembuatan
Sabun
Dalam pembuatan sabun terdapat beberapa metoda untuk proses pembuatan sabun secara
umum adalah sebagai berikut :/p>
1.
Hidrolisa
a.
Proses
Batch
Pada proses batch lemak atau minyak yang dipanaskan di dalam reaktor batch dengan
menambahakn NaOH, lemak tersebut dipanaskan sampai bau NaOH tersebut hilang. Seletah
terbentuk endapan lalu didinginkan kemudian endapan dimurnikan dengan menggunakan air
dan diendapkan lagi dengan garam, kemudian endapan tersebut direbus dengan air sehingga
terbentuk campuran halus yang membentuk lapisan homogen yang mengapung dan
terbentuklah sabun murah.
b.
Proses
Kontinue
Pada proses kontinue secara umum yaitu lemak atau minyak dimasukkan kedalam reaktor
kontinue kemudian dihidrolisis dengan menggunakan katalis sehingga menghasilkan asam
lemak dengan gliserin. Kemudian dilakukan peyulingan terhadap asam lemak dengan
menambahkan NaOH sehingga terbentuk sabun.
2.5
Metode
pembuatan
sabun
Berdasarkan reaksi yang terjadi, ada 4 macam proses pembuatan sabun yaitu sebagai berikut
(Y.H.Hui,1996) :
1. Proses pendidihan penuh
Proses pendidihan penuh pada dasarnya sama dengan proses batch yaitu minyak/lemak
dipanaskan di dalam ketel dengan menambahkan NaOH yang telah dipanaskan, selanjutnya
campuran tersebut dipanaskan sampai terbentuk pasta kira-kira setelah 4 jam pemanasan.
Setelah terbentuk pasta ditambahkan NaCl (10-12%) untuk mengendapan sabun. Endapan sabun
dipisahkan dengan menggunakan air panas dan terbentuklah produk utama sabun dan produk
samping gliserin.
2. Proses semi pendidihan
Pada proses semi pendidihan, semua bahan yaitu minyak/lemak dan alkali langsung dicampur
kemudian dipanaskan secara bersamaaan. Terjadilah reaksi saponifikasi. Setelah reaksi
sempurna ditambah sodium silikat dan sabun yang dihasilkan berwarna gelap.
3. Proses dingin
Pada proses dingin semua bahan yaitu minyak, alkali, dan alkohol dibiarkan didalam suatu
tempat/bejana tanpa dipanaskan (temperatur kamar,250C). Reaksi antara NaOH dan uap air
(H2O) merupakan reaksi eksoterm sehingga dapat menghasilkan panas. Panas tersebut
kemudian digunakan untuk mereaksikan minyak/lemak dan NaOH/alkohol. Proses ini
memerlukan waktu untuk reaksi sempurna selama 24 jam dan dihasilkan sabun berkualitas
tinggi.
Adapun syarat-syarat terjadinya proses dingin adalah sebagai berikut :
Minyak/lemak yang digunakan harus murni
Konsentrasi NaOH harus terukur dengan teliti
Temperatur harus terkontrol dengan baik
4. Proses netral
Prinsip dasar dari proses netral adalah minyak/lemak ditambah NaOH sehingga terjadi reaksi
saponifikasi dan dihasilkan sabun dan gliserin. Sabun yang dihasilkan tidak bersifat netral
sehingga tidak dapat menghasilkan busa yang banyak. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penetralan dengan menambahkan Na2CO3.
2.6
Proses
Komersil
Pembuatan
Sabun

Direct
Saponification
Saponifikasi langsung lemak dan minyak adalah proses tradisional yang digunakan untuk
produksi sabun. Secara komersial, hal ini dilakukan melalui proses kettle boiling batch atau
proses
kontinu.

Kettle
Boiled
Batch
Process
Proses ini menghasilkan sabun dalam jumlah besar, menggunakan tangki baja terbuka yang

dikenal dengan ketel yang dapat menyimpan hingga 130.000 kg bahan. Ketel dengan dasar
kerucut ini yang berisi koil uap terbuka untuk pemanasan dan agitasi. Untuk membuat sabun
oleh proses lemak, dan minyak, soda kaustik, garam, dan air secara bersamaan ditambahkan ke
ketel. Untuk menyelesaikan proses penyabunan, batch sabun dipanaskan untuk jangka waktu
tertentu
menggunakan
steam
sparging
Setelah menyelesaikan reaksi penyabunan, garam tambahan akan ditambahkan ke dalam ketel
yang dipanaskan dengan uap untuk mengubah campuran dari fase campuran neat-sabun ke
campuran curd soaplye seat biphasic. Proses ini biasanya disebut dengan membuka butir
sabun. Dadih sabun yang tersisa di ketel biasanya dicuci beberapa kali dengan menambahkan air
untuk mengubahnya kembali ke neat sabun dan mengulangi penambahan garam, mendidihkan,
dan
proses
pemisahan.
Proses mencuci memberikan yang lebih baik menghilangkan kotoran dari gliserol dan sabun.
Setelah pencucian akhir, tingkat air di dalam sabun dadih yang tersisa dalam ketel disesuaikan
untuk mencapai sifat-sifat fisik yang tepat untuk pengolahan tambahan. Proses ini, disebut
sebagai fitting. Produk yang tersisa dalam ketel adalah sabun murni dengan konsentrasi 70%
dengan garam dan gliserol tingkat rendah. Proses ini memakan waktu lama dan memerlukan
beberapa
hari
untuk
menyelesaikannya.

Continuous
Saponification
Systems
Sebuah inovasi yang relatif baru dalam produksi sabun, sistem ini telah menghasilkan efisiensi
pengolahan yang lebih baik dan waktu pengolahan yang jauh lebih pendek. Ada beberapa sistem
komersial yang tersedia, bahkan walaupun sistem ini berbeda dalam aspek desain atau operasioperasi tertentu, semua proses saponifikasi lemak dan minyak untuk sabun sama dengan proses
umum.(Gambar
).
Umpan berupa campuran lemak dan minyak terus dimasukkan ke dalam pressurized, heated
vessel yang biasa disebut sebagai autoclave, bersama dengan sejumlah kaustik soda, air, dan
garam. Pada suhu (120o C) dan tekanan (200 kPa) waktu yang digunakan untuk reaksi
saponifikasi lebih cepat (<30 menit). Setelah dikontakkan dengan waktu kontak yang relatif
singkat pada autoclave, neat sabun dan campuran alkali dipompakan ke dalam cooling mixer
denagn suhu di bawah 100oC. Hasil produk kemudian dipompakan ke dalam static separator
dimana campuran alkali dengan kandungan gliserol (2530%) dipisahkan dari neat sabun
menggunakan
pengaruh
gravitasi
atau
settling
(pengendapan).
Neat sabun kemudian dicuci dengan larutan alkali dan garam. Hal ini sering dilakukan dalam
sebuah kolom vertikal, yang merupakan suatu tabung yang terbuka berupa proses mixing or
baffle stages. Neat sabun dimasukkan ke bagian bawah kolom dan alkali atau larutan garam
dipompakan dari atas. Neat sabun yang masih bisa direcovery berada di atas kolom sedangkan
alkali atau larutan garam berada di bawah. Proses pencucian menghilangkan impurities dan
menghasilkan gliserol yang akan diproses lanjut. Proses pemisahan akhir menggunakan
centrifugal, setelah dipisahkan, residu alkali dalam neat soap dinetralisasi melalui penambahan
asam lemak yang akurat dalam steam-jacketed mixing vessel (crutcher). Sabun kini siap untuk
digunakan dalam pembuatan sabun batang.
Netralisasi Asam Lemak
Pendekatan lain untuk memproduksi sabun adalah melalui netralisasi asam lemak dengan
kaustik. Pendekatan ini membutuhkan proses bertahap di mana asam lemak diproduksi melalui
hidrolisis lemak dan minyak dengan air, diikuti dengan netralisasi berikutnya dengan kaustik.
Pendekatan ini memiliki sejumlah keuntungan lebih dibanding proses saponifikasi secara umum.
Tahap Hidrolisis
Tahapan hidrolisis lemak dan minyak dengan air membutuhkan pencampuran yang baik dimana
secara normal keduanya merupakan fasa yang tidak saling larut. Reaksi dilakukan di bawah
kondisi dimana air memiliki kelarutan yang cukup tinggi yaitu sekitar 10 25% dalam lemak dan
minyak. Dalam prakteknya, proses ini dicapai di bawah tekanan tinggi yaitu sekitar 4-5.5 MPa
(580psi-800 psi) dan dengan suhu tinggi (240OC-270OC) pada kolom stainless steel. (Gambar).
ZnO kadang-kadang ditambahkan sebagai katalis dengan lemak bahan baku dan minyak untuk
mempercepat reaksi.
Bahan baku lemak dan minyak yang dimasukkan di bagian bawah dan air dimasukkan di bagian
atas kolom. Kolom didesain terbuka atau berisi baffle untuk meningkatkan pencampuran yang
lebih baik melalui aliran turbulen. Steam bertekanan tinggi ditempatkan pada ketinggian tiga
atau empat di kolom yang berbeda untuk pemanasan awal. Desain ini menetapkan pola aliran

lawan dengan air bergerak melalui kolom dari atas ke bawah dan lemak dan minyak arah yang
berlawanan. Sebagai bahan-bahan ini dicampurkan pada suhu dan tekanan tinggi .Keterkaitan
ester dalam lemak dan minyak dihidrolisis untuk menghasilkan asam lemak dan gliserol. Asam
lemak yang terbentuk dilanjutkan melalui kolom bagian atas, sedangkan gliserol yang dihasilkan
dilakukan pencucian melalui bagian bawah dengan fase air. Karena ini merupakan reaksi
reversibel, penting untuk menghilangkan gliserin dari campuran melalui proses pencucian.
Asam lemak yang dihasilkan pada bagian atas kolom mengandung air, lemak yang tidak
terhidrolisis, dan Zn sisa sebagai katalis. Produk ini kemudian dilewatkan ke tahap pengeringan
vakum dimana air tersebut dihilangkan melalui penguapan dan asam lemak didinginkan sebagai
hasil dari proses penguapan. Produk kering aliran ini kemudian diteruskan ke sistem distilasi.
Sistem distilasi memungkinkan untuk perbaikan kualitas asam lemak, yaitu, bau dan warna,
melalui pemisahan asam lemak dari lemak yang safonisasi sebagian dan minyak, yang masih
mengandung katalis Zn. Hal ini dicapai dengan pemanasan produk steam dalam penukar panas
dengan suhu sekitar 205oC-232oC dan dimasukkan ke ruang hampa (flash still) pada tekanan
0,13kPa-0,8 kPa atau (1 6 mm Hg) tekanan absolut .
Asam lemak yang diuapkan pada kondisi ini akan dihilangkan dari bahan-bahan yang tidak
diinginkan seperti trigliserida terhidrolisis sebagian. Asam lemak yang menguap kemudian
melewati serangkaian kondensor air dingin untuk fraksionasi .Sistem bervariasi dalam jumlah
kondensor tetapi sistem tiga-kondensor adalah system yang umum digunakan. Asam lemak
biasanya dipisahkan menjadi heavy cut, mid-cut, dan very light cut. Light cut sering dihilangkan
karena mengandung banyak zat yang menyebabkan bau yang tidak enak pada asam lemak.
Asam lemak yang diperoleh dari proses tersebut dapat digunakan secara langsung atau
dimanipulasi lebih lanjut untuk diperbaiki atau diubah kinerja dan stabilitas. Hardening adalah
operasi dimana beberapa ikatan tak jenuh yang terdapat di dalam asam lemak dieliminasi
melalui proses hidrogenasi atau penambahan H2 di karbon-karbon ikatan rangkap. Proses ini
pada awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan bau dan memperbaiki warna asam lemak
melalui eliminasi dari ikatan rangkap tak jenuh. Namun, seiring perkembangan dalam
penggunaan asam lemak, hidrogenasi merupakan proses komersial penting untuk mengubah
sifat fisik dari asam lemak.
Hardering biasanya dicapai dengan melewatikan asam lemak yang telah dipanaskan melalui
serangkaian tubes packed dengan katalis dengan kehadiran gas hidrogen. Katalis yang paling
sering digunakan adalah Ni. Hardering ditentukan oleh jumlah hidrogen, suhu reaksi, tekanan,
dan waktu tinggal. Asam lemak yang telah melewati proses hardering kemudian disaring untuk
menghilangkan sisa katalis dan selanjutnya didinginkan dalam flash tank dimana kelebihan gas
hidrogen dihilangkan. Selain pengurangan tingkat ketidakjenuhan dalam asam lemak, proses
juga dapat mengkonversi beberapa konfigurasi cis asam lemak tak jenuh ke dalam konfigurasi
trans. Konversi dapat mempengaruhi sifat produk jadi dan biasanya dikendalikan untuk
spesifikasi yang diinginkan.
Netralisasi
Tahap pembentukan sabun dari asam lemak dicapai melalui reaksi asam lemak dengan kaustik
yang sesuai. Reaksi ini berlangsung sangat cepat untuk beberapa kaustik yang banyak digunakan,
misalnya, NaOH atau KOH, dan memerlukan perhitungan yang tepat dan pencampuran yang
akurat untuk memastikan efektivitas proses. Meskipun relatif mudah, dalam prakteknya,
beberapa pertimbangan proses harus ditangani dengan baik. Pertama, perbandingan yang tepat
dari lemak asam, kaustik, air, dan garam harus dijaga untuk menjamin pembentukan fase neat
sabun yang diinginkan. Proses ini dikontrol untuk menghindari terbentuknya sabun menengah,
yang memiliki viskositas tinggi dan tidak menghilang dengan cepat. Kedua, pencampuran yang
baik antara minyak dan air diperlukan untuk memastikan terbentuknya fase campuran neat
sabun yang baik. Ketiga, karena panas yang dibebaskan dari reaksi, temperatur proses harus
dipertahankan dalam batas-batas tertentu agar tidak terlalu panas dan mendidih atau berbusa.
Ada berbagai proses komersial untuk tahap netralisasi. Umumnya, asam lemak dipanaskan pada
(50 o C-70o C) dan dicampurkan dengan kaustik-garam-air (25o C-30o C) Steam dialirkan ke
dalam sebuah high shear mixing system, umumnya disebut sebagai neutralizer. Campuran
dipanaskan dengan suhu antara 85oC dan 95oC kemudian dipompakan ke dalam tangki
penerima yang efektif untuk mencampurkan sabun baik melalui sistem resirkulasi dan agitasi.
Setelah dikontakkan dengan waktu tinggal pendek di tangki penerima untuk memastikan
komposisi seragam, sabun yang dihasilkan dipompakan ke tangki penyimpanan atau dilanjutkan

ke proses finishing.
Pemurnian Sabun
Pemurnian sabun adalah suatu perlakuan untuk menghilangkan impurities yang terlarut dalam
larutan alkali dan mengcover lagi gliserin yang terbebas pada saat reaksi saponifikasi. Asumsi
tentang pemurnian sabun yaitu :
Giserol merupakan jumlah total pelarut dalam pencucian larutan alkali.
Gliserol ada pada sabun yang dilarutkan dalam larutan alkali.
Ketika sabun dicampurkan dengan pencucian larutan alkali, gliserol pindah dari larutan alkali
pada sabun menjadi pencucian alkali sampai konsentrasi keduanya stabil.
Bila campuran tadi dibiarkan di stele kemudian dipisahkan menjadi dua lapisan bagian yaitu
lapisan atasnya adalah sabun dan lapisan bawahnya untuk pencucian alkali.
Ketika pencucian meningkat, kebanyakan gliserol diekstrak pada saat banyaknya larutan alkali
yang dikorbankan.
Secara umum proses pencucian sabun yaitu :
Proses pembasahan, perlakuan terhadap kotoran dan lemak-lemak
Proses menghilangkan kotoran dari permukaan
Mengatur kotoran-kotoran supaya tetap stabil dari larutannya atau suspensinya.
Finishing
Finishing merupakan langkah akhir pada proses pembuatan sabun, yang meliputi beberapa
tahap, yaitu:
1) Crutching
Jika sabun murni yang berasal dari ketel atau proses lainnya akan dicampurkan dengan
menggunakan bahan lain, maka sebelum dibentuk atau dikeringkan, dilakukan pencampuran
terlebih dahulu. Campuran itu dilarutkan di dalam mesin crutcher dahulu. Crutcher adalah
bejana yang berbentuk silindris dengan ukuran kecil, kapasitasnya 680-2279 dan dilengkapi
dengan pengaduk. Crutcher juga digunakan di dalam pencampuran alkali dengan lemak di dalam
pembuatan sabun dengan proses pendinginan.
2) Framming
Metode yang digunakan untuk mengubah sabun murni atau cairan sabun panas menjadi padatan
yang mudah dibentuk menjadi batangan atau disebut dengan framming. Framming dilakukan
pada cairan sabun yang berada pada suhu 57-62oC didalam suatu frame yang memiliki berat 454
545 kg berbentuk persegi. Untuk memadatkan sabun murni diperlukan waktu 3-7 hari. Sabun
yang telah dicetak dapat dipotong menjadi bagian kecil. Penambahan zat adiktif antioksidan
stabilizer dan farfum dilakukan pada saat crutching sebelum framming.
3) Drying
Berbagai macam metoda pembuatan sabun dengan menggunakan reaksi saponifikasi yang
menghasilkan sabun murni mengandung air sekitar 30-35%. Sabun murni tersebut diubah
menjadi sabun chip dengan kandungan 5-15% air. Proses pengeringan yang sederhana dikenal
dengan spray drying proses. Sabun yang mengandung air dilewatkan melalui spary nozzles.
Partikel-partikel kecil ini dikeluarkan oleh spray nozzles dalam bentuk kering. Pengeringan juga
daapt dilakukan pada vakum atau di dalam atmospherik flash drying.
Sabun banyak diperoleh setelah penyelesaian saponifikasi (sabun murni) yang umumnya
dikeringkan dengan vakum spray dryer. Kandungan air pada sabun dikurangi dari 30 35% pada
sabun murni menjadi 8 18% pada sabun butiran atau lempengan. Jenis jenis vakum spray
dryer, dari sistem tunggal hingga multi sistem, semuanya dapat digunakan pada berbagai proses
pembuatan sabun. Operasi vakum spray dryer sistem tunggal meliputi pemompaan sabun murni
melalui pipa heat exchanger dimana sabun dipanaskan dengan uap yang mengalir pada bagian
luar pipa. Sabun yang sudah dipanaskan terlebih dahulu disemprotkan di atas dinding ruang
vakum melalui mulut pipa yang berputar. Lapisan tipis sabun yang sudah dikeringkan dan
didinginkan tersimpan pada dinding ruang vakum dan dipindahkan dengan alat pengerik
sehingga jatuh di plodder, yang mengubah sabun ke bentuk lonjong panjang atau butiran. Dryer
dengan multi sistem, yang merupakan versi pengembangan dari dryer sistem tunggal,
memperkenalkan proses pengeringan sabun yang lebih luas dan lebih efisien daripada dryer
sistem tunggal.
2.7 Kegunaan Sabun
Sebagian besar kegunaan sabun di dalam kehidupan sehari-hari adalah bahan pencuci.

Sedangkan di dalam industri kosmetik sabun memiliki kegunaan tergantung pada komposisi
yang terkandung di dalam sabun itu sendiri.
Asam lemak seperti asam stearat atau asam aleat sebagian besar dikonversi menjadi sabun
dengan mereaksikannya dengan alkali (NaOH, KOH) maupun dengan alkalominida. Asam lemak
banyak digunakan di dalam pembuatan cream cukur, cream wajah, hand body lotion, dan
pewarna rambut.
Sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi antara mineral minyak, lemak ester dan air di
dalam pembuatan hand and body lotion.
2.8 Klasifikasi Sabun
Berdasarkan penggunaannya, sabun dapat diklasifikasi menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Laundry Soap; untuk sabun cuci.
2. Toilet soap; yang digunakan untuk mandi dan perawatan kulit, termasuk juga disini medicine
soap.
3. Textile soap, yang digunakan untuk pada proses scouring textile, proses degumming sutera dll.
2.9 Proses Kontrol
Untuk memproduksi sabun yang berkualitas, penting bila dilakukan kontrol terhadap proses
pembuatan sabun, baik pada proses pre-treatment terhadap minyak atau lemak yang digunakan
maupun terhadap proses pembuatan sabun hingga proses akhir.
Beberapa hal yang diperlukan dalam kontrol proses pembuatan sabun adalah:
a. Kontrol minyak atau lemak yang dimasukkan
Kualitas sabun ditentukan oleh komposisi minyak yang dicampurkan dalam pembuatan sabun
tersebut. Jika komposisi pencampuran dikontrol secara akurat maka kualitas sabun yang
dihasilkan akan baik.
b. Warna dasar sabun
Warna dasar sabun dapat dikontrol di dalam reflektometer, pengamatan langsung maupun
dengan membandingkan sampel yang memiliki warna standar. Pada sabun mandi, warna dasar
sabun dapat dikoreksi dengan penambahan Natrium Hidrosulfat pada dosis tertentu dalam
proses finishing sabun di dalam ketel mendidih.
c. Alkali bebas dan klorida
Untuk mengontrol alkali bebas dan klorida di dalam sabun biasanya digunakan inhibitor
pheoftalein.
d. Lemak yang tidak tersaponifikasi
Jika prosedur pembuatan sabun sudah benar, maka dapat dihasilkan reaksi saponifikasi yang
sempurna dan sangat kecil kemungkinan terjadinya lemak yang tidak tersafonifikasi pada proses
batch, safonifikasi memerlukan waktu yang lebih lama sedangkan pada proses kontinue, waktu
safonifikasi lebih pendek dengan menggunakan temperatur dan tekanan yang tinggi, dan minyak
dapat tersafonifikasi dengan sempurna.
e. Gliserol di dalam sabun
Gliserin merupakan komoditas yang mahal kedua setelah asam lemak. Oleh karena itu perlu
dilakukan recovery gliserin. Recovery gliserin dilakukan pencucian terhadap sabun dari gliserol
setelah safonifikasi. Gliserin merupakan produk komersial yang merupakan hasil samping dari
safonifikasi.

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan Alkali yang
juga merupakan garam-garam Monofalen dari Asam Karboksilat dengan rumus umumnya
RCOOM.
Bahan mentah pembuatan sabun: Minyak atau lemak, Alkali, bahan tambahan.
Reaksi pembuatan sabun:
Saponifikasi
Hidrolisa Lemak dan Penetralan
Metode pembuatan sabun:

1. Proses pendidihan penuh


2. Proses semi pendidihan
3. Proses dingin
4. Proses Netral.
Proses pembuatan sabun secara komersil:
1. Direct Saponification yang terdiri dari Kettle Boiled Batch Process atau Continuous
Saponification Systems,
2. Netralisasi Asam Lemak.

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden & Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Maine, Sandy. 1995. Simple Herbal Recipes. Interweave Press.
Hui, Y. H. 1996. Baileys Industrial Oil and Fat Products, fifth edition. New York: Jhon Willey &
Sons Inc.
Hart, Suminar. Kimia Organik S buatu Kuliah Singkat edisi 6. Erlangga:Jakarta.
Lehninger, A.L. 1987. Biochemistry. Worth Pub. Inc. New York.
Arifin, Simson. 2007.Sabun. http://majarimagazine.com/2007/12/che-around-us-sabun/.
Diakses pada 3 Mei 2011.
Suheri, Fauzan. 2010. Pembuatan
Sabun.http://blog.unsri.ac.id/suherifauzan/ kampus/pembuatan-sabun/. Diakses pada 3 Mei
2011.
Lutfi, Ahmad. 2009. Sabun dan Detergen. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimialingkungan/pencemaran_lingkungan/sabun-dan-deterjen/. Diakses pada 3 Mei 2011.
Luthana, Yissa. 2010. Bahan bahan Pembuatan
Sabun. http://yissaprayogo.wordpress.com/2010/05/07/bahan-bahan-dalam-pembuatansabun/. Diakses pada 3 Mei 2011.

Proses Pembuatan Sabun


Sabun! Benda yang satu ini tidak dapat dipisahkkan dari kehidupan kita sehari-hari,
namun hanya sebagian kecil orang tahu dan mengerti, kalau sabun itu dibuat dari lemak
atau minyak, dan sebagian kecil juga yang tahu bagaimana awal proses pembuatan
sabun sebenarnya. Saya coba merangkum beberapa sumber dan pengalaman saya
dalam bekerja disini. Semoga bermanfaat.
Proses pembuatan sabun terdiri dari proses panjang mulai dari pengolahan sampai
pembungkusan (packaging). Produk pembersih ini biasanya terdiri 3 bentuk/wujud
utama: batangan [bar], serbuk/bubuk [powder] dan cairan [liquid] (beberapa produk
cairan bahkan ada yang pekat/kental seperti jelly).
Berdasarkan penggunaannya, sabun dapat diklasifikasi menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Laundry Soap; untuk sabun cuci.
2. Toilet soap; yang digunakan untuk mandi dan perawatan kulit, termasuk juga disini
medicine soap.
3. Textile soap, yang digunakan untuk pada proses scouring textile, proses degumming
sutera dll.

Sabun hasil reaksi dengan sodium hidroksida (NaOH) biasanya lebih keras
dibandingkan dengan penggunaan Potasium Hidroksida (KOH).
Nah neat soap ini kemudian dikeringkan di drier unit sampai mencapai bentuk pellet
(butiran padat), dimana besarnya kandungan air dalam bentuk pellet ini diatur sesuai
kebutuhan spesifikasi sabun yang diinginkan.
Butiran ini kemudian di campur di mixer [amalgamator] dengan bahan tambahan lainnya
seperti pewarna, perfume, softener, dll. Campuran kemudian di extrude (ditekan) melalui
plodder menghasilkan batangan sabun yang kemudian di potong di mesin pemotong
[cutter] dan menuju proses pencetakan di mesin stamping/press menjadi bentuk-bentuk
tertentu, baru kemudian di bungkus di unit packaging.
Bahan baku yang digunakan didasarkan pada beberapa kriteria, antara lain faktor
manusia dan keamanan lingkungan, biaya, kecocokan dengan bahan-bahan additive
yang lain, serta wujud dan spesifikasi khusus dari produk jadinya. Sedangkan proses
produksi aktual dilapangan bisa saja bervariasi dari satu pabrik dengan pabrik yang lain,
namun tahap-tahap utama pembuatan semua produk tersebut adalah tetap sama.
Sabun dibuat dari lemak [hewan], minyak[nabati] atau asam lemak (fatty acid) yang

direaksikan dengan basa anorganik yang bersifat water soluble, biasanya digunakan
caustic soda/soda api (NaOH) atau KOH (kalium hidroksida) juga alternative yang sering
juga dipakai, tergantung spesifik sabun yang diinginkan.
Reaksi ini biasa disebut reaksi penyabunan (saponifikasi) [saponification reaction].
Oil + 3 NaOH &gt; 3 Soap + Glycerol
Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasi Fatty Acid [FA],
namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin [Glycerol], karena saat proses
pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri.
FA + NaOH &gt; Soap + Water
Pada awalnya, proses saponifikasi ini masih dilakukan dengan metoda
pemasakan/pendidihan per batch ketel [tidak berkesinambungan], namun setelah
perang dunia II pengembangan proses secara kontinyu terus dilakukan. Dan proses
kontinyu ini sekarang lebih banyak digunakan, karena selain lebih fleksibel, dan cepat
juga lebih ekonomis.
Kedua proses diatas masih menghasilkan sabun masih mentah berbentuk cair [panas],
biasa disebut neat soap, disamping menghasilkan produk samping lain berupa glycerol
dalam bentuk spent lye yang kemudian diolah lebih lanjut di unit glycerol. [glycerol
adalah material utama dalam industri makanan, kosmetik, obat-obatan dll].
Proses tersebut biasanya untuk jenis sabun toilet soap, namun untuk laundry soap
tahapnya lebih singkat, hanya sampai mesin pemotong, dimana di cutter unit ini
biasanya dilengkapi dengan cetakan untuk membuat brand sabun dan kemudian di
pack.

Image from The Soap and Detergent Association


Langkah pemrosesan akhir adalah pelet sabun akan melalui proses selanjutnya di unit
Finishing Line. Unit ini terdiri pertama di baris adalah mixer, atau disebut suatu
amalgamator, di mana pelet sabun dicampur bersama-sama dengan aroma, pewarna
dan semua bahan lainnya. Campuran itu kemudian dihomogenkan dan disempurnakan
melalui rolling mills untuk mencapai pencampuran menyeluruh dan tekstur seragam.
Akhirnya, campuran ini terus diekstrusi dari plodder tersebut, potong menjadi batangan
bar-ukuran unit dan dicap ke dalam bentuk akhir pada alat cetak bentuk sabun
(stamping press machine) yang kemudian di lanjutkan dengan pembungkusan (unit
packaging).
Detergen Bubuk (Powder Detergen)
Deterjen bubuk yang diproduksi dengan cara spray drying, aglomerasi, pencampuran
kering atau kombinasi dari metode ini.
Dalam proses spray drying, bahan-bahan kering dan cair pertama kali digabungkan ke
dalam bentuk bubur, atau suspensi tebal, dalam sebuah tangki yang disebut Crutcher.
Bubur dipanaskan dan kemudian dipompa ke bagian atas sebuah menara di mana ia
disemprotkan melalui nozel di bawah tekanan tinggi untuk menghasilkan tetesan kecil.
Tetesan jatuh melalui arus udara panas, membentuk butiran berongga saat kering.
Granul kering yang dikumpulkan dari bagian bawah menara semprot di mana mereka
disaring untuk mencapai ukuran yang relatif seragam.

Setelah butiran telah didinginkan, bahan-bahan penambah yang tidak kompatibel


dengan suhu pengeringan saat penyemprotan (seperti pemutih, enzim dan aroma)
ditambahkan.
Teknologi baru telah memungkinkan sabun dan industri deterjen untuk mengurangi
udara di dalam butiran selama pengeringan semprot untuk mencapai kepadatan yang
lebih tinggi. Bubuk kepadatan lebih tinggi dapat dikemas dalam paket yang jauh lebih
kecil dari yang diperlukan sebelumnya.

Image from The Soap and Detergent Association


Aglomerasi, yang mengarah ke bubuk kepadatan lebih tinggi, terdiri dari pencampuran
bahan baku kering dengan bahan cair. Dibantu oleh adanya pengikat cair, penggilingan
atau penyebab pencampuran geser bahan untuk bertabrakan dan menempel satu sama
lain, membentuk partikel yang lebih besar.

Image from The Soap and Detergent Association


Pencampuran pencampuran atau kering kering digunakan untuk berbaur bahan baku
kering. Sejumlah kecil cairan juga dapat ditambahkan.

Reference:
- Soap Making Manual, D.. VAN NOSTRAND COMPANY
- The Soap and Detergent Association
Diposkan oleh irma suryani di 00.05 1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Saponifikasi

Kinetika Reaksi Saponifikasi Etil Asetat


Saponifikasi merupakan proses hidrolisis basa terhadap lemak dan
minyak, dan reaksi saponifikasi bukan merupakan reaksi kesetimbangan. Hasil
mula-mula dari penyabunan adalah karboksilat karena campurannya bersifat
basa.

Setelah

campuran

diasamkan,

karboksilat

berubah

menjadi

asam

karboksilat.
Produknya, sabun yang terdiri dari garam asam-asam lemak. Fungsi sabun
dalamke a n e k a r a g a m a n

cara

adalah

sebagai

bahan

pembersih.

S a b u n m e n u r u n k a n tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan


air untuk membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif. Sabun
bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan
sabun teradsorpsi pada butiran kotoran.
Pada percobaan ini, dilakukan pencampuran etil asetat 65 ml dan NaOH
50 ml, yang sebelumnya telah ditutup agar kedua larutan tersebut tidak
terkontaminasi dengan zat lain yang dapat mempengaruhi konsentrasi kedua
larutan. Selain itu juga untuk mencegah menguapnya larutan etil asetat yang
sifatnya mudah menguap. Sebelum dicampurkan, etil asetat dan NaOH harus
disamakan suhunya terlebih dahulu, karena suhu merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi laju reaksi. Jika suhu dinaikkan maka laju reaksi semakin
besar karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel
pereaksi, akibatnya jumlah dari energi tumbukan bertambah besar, begitu pun
sebaliknya.

Larutan

yang

telah

sama

suhunya

kemudian

dicampurkan.

Pencampuran pada suhu yang sama agar laju reaksi yang dihasilkan tidak
mengalami

perubahan

besar.

Setelah etil asetat dan NaOH dicampurkan, larutan campuran tersebut


didiamkan dengan waktu pendiaman sebagai variable manipulasi atau yang di

ubah-ubah. Waktu pendiaman larutan campuran dimulai pada waktu 3 menit, 8


menit, 15 menit, 25 menit, 45 menit, 65 menit, dan waktu tak hingga ( 2 hari).
Setelah larutan didiamkan selama waktu yang ditentukan, larutan campuran
tersebut dimasukkan dalam erlenmeyer yang berisi HCl 10 ml dan 2 tetes
indicator PP, dalam hal ini HCl berfungsi untuk mengetahui banyaknya NaOH
yang tersisa dalam proses saponifikasi tersebut. Disamping itu penambahan HCl
juga untuk memberikan suasana asam, karena hasil mula-mula dari reaksi
saponifikasi adalah berupa karboksilat,dengan adanya penambahan HCl ini
karboksilat

diubah

menjadi

asam

karboksilat.

Setelah

penambahan

HCl

dilanjutkan dengan menitrasi campuran larutan tersebut dengan NaOH untuk


mengetahui banyaknya HCl yang masih tersisa, sehingga dengan diketahuinya
HCl sisa juga bisa diketahui banyaknya NaOH yang tersisa dalam reaksi
saponifikasi tersebut.
Penambahan indikator PP untuk mengatahui titik akhir titrasi yaitu titik
dimana mol NaOH sama dengan mol HCl yang ditandai dengan perubahan warna
larutan dari bening menjadi merah muda. Dari hasil percobaan diketahui bahwa
semakin lama pengocokan maka semakin banyak larutan NaOH yang digunakan.
Artinya semakin banyak NaOH yang bereaksi dengan etil asetat.
Reaksi yang terlibat secara keseluruhan dalam percobaan ini adalah sebagai
berikut :
CH3COOC2H5 + 2NaOH CH3COONa + C2H5OH + NaOH sisa
NaOH sisa + 2 HCl NaCl + H2O + HCl sisa
HCl sisa + NaOH titrasi NaCl + H2O
Hasil titrasi yang diperoleh untuk tiap-tiap waktu adalah sebagai berikut :
Volume NaOH
t (menit)

(ml)

7.9

8.1

15

8.3

25

8.5

45

8.7

65

9.1

2880

8.6

Dari data di atas, dapat dihitung mmol HCl yang bereaksi, hasilnya adalah
sebagai berikut :

Menentukan jumlah mmol HCl awal


Mmol HCl awal = N x V HCl awal
= 0,02 x 10
= 0,2 mmol

Menentukan jumlah mmol HCl sisa dan umlah mmol HCl yang bereaksi

t = 3 menit
mmol HCl sisa

= N x V NaOH titrasi
= 0,02 x 7.9
= 0,158 mmol
Mmol HCl yang bereaksi = mmol HCl awal mmol HCl sisa
= 0,2 0,158
= 0,042 mmol

mmol HCl yang bereaksi = mmol NaOH sisa ( dari etil asetat )
dengan cara yang sama, dapat diperoleh mmol HCl sebagai berikut :
Waktu (menit)

HCl sisa (mmol)

HCl bereaksi (mmol)

0.158

0.042

0.162

0.038

15

0.166

0.034

25

0.170

0.030

45

0.174

0.026

65

0.182

0.018

2880

0.172

0.028

Menghitung umlah mmol NaOH yang bereaksi

t = 3 menit
N x V awal = mmol NaOH sisa + mmol NaOH bereaksi
0,02 x 100 = 0,042 mmol + mmol NaOH bereaksi
mmol NaOH bereaksi = 0.958 mmol
dengan cara yang sama dapat diperoleh mmol NaOH yang bereaksi sebagai
berikut :
NaOH bereaksi

Waktu (menit)

NaOH sisa (mmol)

0.042

0.958

0.038

0.962

15

0.034

0.966

25

0.030

0.970

45

0.026

0.974

65

0.018

0.982

2880

0.028

0.972

(mmol)

Dari data di atas, terlihat bahwa semakin lama waktu pendiaman larutan,
maka suhu dalam larutan juga akan naik, hal tersebut menyebabkan semakin
sedikitnya NaOH sisa yang dihasilkan, tetapi pada waktu tak hingga atau 2880
menit, didapatkan mmol NaOH sisa yang lebih besar daripada waktu 65 menit,
hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Kemungkinan terjadinya kesalahan
pada volume dapat disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya kurang
telitinya praktikan dalam mereaksikan larutan dan dalam pembacaan volume
titrasi,

larutan

campuran

telah

terkontaminasi

sehingga

mempengaruhi

konsentrasi larutan, atau mungkin karena etil asetat sudah menguap terlebih
dahulu sebelum dititrasi, hal-hal tersebut dimungkinkan yang menjadikan factor
mengapa pada waktu 2880 menit volume NaOh saat titrasi yang dihasilkan
sedikit, dan menyebabkan mmol NaOH sisa yang diperoleh lebih banyak
daripada saat waktu 65 menit.

Selanjutnya adalah menghitung harga dari Konstanta laju reaksi. Pada


percobaan ini, hasil dari harga k akan dibandingkan antara orde 1, 2, dan 3 untuk
membuktikan apakah benar reaksi saponifikasi berorde 2.

Untuk t = 3 menit
Dengan a = mmol NaOH awal
a-x = mmol NaOH sisa
x = mmol NaOH bereaksi

Orde 1
k = 1/t ln a/a-x

Orde 2
k = 1/t (x/a(a-x))

Orde 3
k = 1/t (1/2(a-x)^2 - 1/2a^2)

Dari rumus di atas, dapat diketahui harga k untuk masing-masing orde sebagai
berikut :

t
(meni

a-x

0.95

0.04

0.96

0.03

0.96

0.03

0.97

0.03

t)
3

15

25

(mmol

-1

menit

(mmol

-1

menit-

(mmol

-1

menit -1)

1.056

7.6024

93.98129

0.4087

3.1644

42.78254

0.2265

1.9035

28.4792

0.14026

1.2933

21.7200

45

65

2880

0.97

0.02

0.98

0.01

0.97

0.02

0.08102

0.8316

15.9201

0.06178

0.83906

23.23456

0.00012415

0.000421875

0.022126

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa harga k dari orde 2 cenderung mendekati
konstan, harga k dari orde 2 mempunyai selisih yang relative kecil, dibandingan
dengan harga k pada orde 1 dan orde 3, sehingga dapat disimpulkan, pada
metode non grafik diperoleh orde 2 untuk kinetika reaksi saponifikasi
etil asetat, hal ini telah membuktikan teori yang ada.
Sedangkan untuk metode grafik, diperoleh data sebagai berikut :

t
(meni

a-x

ln (a-x)

1/a-x

1/(a-x)^2

t)
3

0.958

0.042

-3.17

23.809

566.893

0.962

0.038

-3.27

26.315

692.521

15

0.966

0.034

-3.38

29.412

865.052

25

0.970

0.030

-3.51

33.333

1111.111

45

0.974

0.026

-3.64

38.461

1479.289

65

0.982

0.018

-4.02

55.555

3086.419

2880

0.972

0.028

-3.57

35.714

1275.51

Dari data di atas, dapat diperoleh grafik untuk orde 1, 2, dan 3 sebagai berikut :

Dari 3 grafik, harga R yang paling besar terdapat pada grafik orde 1, hal ini
bertolak belakang dengan metode non grafik yang dapat membuktikan bahwa
reaksi saponifikasi mempunyai orde 2. Perbedaan ini dikarenakan harga ln (a-x)
sebagai sumbu y pada orde 1 mempunyai selisih nilai yang sangat kecil, dan
dapat dikatakan hampir konstan, sedangkan harga 1/a-x sebagai sumbu y pada
orde 2 mempunyai selisih yang terlalu besar bila dibandingkan dengan orde 1,
itulah yang menjadi penyebab mengapa pada metode grafik didapatkan orde 1
untuk reaksi saponifikasi etil asetat.

Pembuatan Sabun Mandi

Laporan Praktikum
Proses Industri Kimia I
PROSES PEMBUATAN
SABUN MANDI

Oleh :
Kelompok VI B
1. Ricko Okta Furgani (1012049)
2. Mega Alfitri (1012034)
3. Reftaizen Ade Putre (1012048)
4. Rapi Melki Mukti (1012045)

AKADEMI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG


2011/1012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sabun merupakan komoditi hasil olahan minyak kelapa sawit yang populer yang
berfungsi sebagai zat yang mampu membersihkan dan mengangkat benda asing. Reaksi

yang

terjadi

pada

saat

pembuatan

sabun

dari

minyak

kelapa

sawit

disebut

reaksi Saponifikasi.
Saponifikasi dilakukan dengan mereaksikan minyak kelapa sawit (triglisrida) dengan
alkali (biasanya menggunakan NaOH atau KOH) sehingga menghasilkan gliserol dan garam
alkali Na (sabun). Saponifikasi juga dapat dilakukan dengan mereaksikan asam lemak
dengan alkali sehingga menghasilkan sabun dan air. Sabun biasanya berbentuk padatan
tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair
juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu
permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa
oleh air bersih. Di negara berkembang, detergen sintetik telah menggantikan sabun sebagai
alat bantu mencuci.
Sabun yang telah berkembang sejak zaman Mesir kuno ini berfungsi sebagai alat
pembersih. Keberadaan sabun yang hanya berfungsi sebagai alat pembersih dirasa kurang,
mengingat pemasaran dan permintaan masyarakat akan nilai lebih dari sabun mandi. Oleh
karena itu, banyak sabun yang beredar di pasaran sekarang ditambahkan dengan berbagai
bahan-bahan aditif yang berfungsi untuk menambah nilai guna sabun itu sendiri.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum yang dilakukan, antara lain:
1.

Untuk mempelajari proses pembuatan sabun,

2.

Mempelajari pengaruh temperatur terhadap waktu penyabunan.

3.

Untun emngetahui bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sabun.

1.3 Manfaat Praktikum


Adapun manfaat praktikum yang dilakukan, antara lain:
1.

Dengan adanya praktikum ini mahasiswa mampu melakukan proses pembuatan sabun.

2.

Mahasiswa mengetahui hal-hal yang dibutuhkan pada pembuatan sabun.

3.

Mahasiswa mengetahui kondisi dan bahan yang tepat untuk membuat sabun.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1

Sabun

2.1.1 Sejarah Sabun


Produk sabun sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi secara berkesinambungan
dapat dikembangkan dari campuran alkali kuat dan bahan berlemak (fatty material). Sekitar
tahun 1800, sabun dipercaya sebagai hasil campuran mekanis untuk memperoleh sabun
kasar dan sabun lunak telah dikembangkan pada abad pertama melalui suatu proses.
Bahan mentah yang tersedia dalam perang dunia I membuat jerman mengembangkan
sabun sintesis dan deterjen (detergent). Proses ini dilaksanakan dengan mengkomposisi
reaksi sulfonasi naftalena yang mengandung rantai alkil pendek yang merupakan zat
pembasah (wetting agent).
2.1.2 Pengertian Sabun
Sabun adalah salah satu karbon yang sangat komersial baik dari sisi penggunaan
dalam kehidupan sehari-hari maupun persaingan harga produk yang memberikan
pengembangan yang cukup baik. Sabun merupakan surfaktan yang digunakan dengan air
untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan yang tercetak
seperti batangan.
Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari
reaksi Saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa
lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi Saponifikasiialah gliserol. Selain C12 dan
C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat.

Gambar 2.1 Struktur Asam Laurat


Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air.
Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk
mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak goreng
mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak
goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam
kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat,

dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat
berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).
Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu
molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom
oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar,
yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 C). Air sering disebut
sebagai pelarut universalkarena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam
air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik
listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.

2.1.3 Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun

1. Minyak dan Lemak


Minyak dan lemak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida
dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Masing
masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang
antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada lemak jenuh dan begitu juga
dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses
saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida membebaskan gliserol. Sifat-sifat sabun
yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam asam lemak
yang digunakan. Komposisi asam asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun
dibatasi panjang rantyai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang
dari 12 atom karbon dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit,
sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar
larut dan sulit menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh
menghasilkan sabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara. Alasan-alasan diatas,
faktor ekonomis dan daya jual menyebabkan lemak dan minyak yang dibuat menjadi sabun
terbatas.
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah
daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang
dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.

2. Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH,
Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik
dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan
sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang

mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah
dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak
atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat
digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah
larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air.
Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah
berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen,
bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan
oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.

2.1.4 Bahan-Bahan Pendukung Pembuatan Sabun


Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun
hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi
produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan
aditif.

1. NaCl
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl
pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun
dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam
(brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin.
Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium
agar diperoleh sabun yang berkualitas.

2. Bahan aditif.
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang
bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahanbahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.

a.

Builders (Bahan Penguat)


Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral mineral
yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan
membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga

membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat
berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang
telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa senyawa kompleks
fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.
b.

Fillers Inert (Bahan Pengisi)


Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian
bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini
dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada
umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat.
Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.

c.

Pewarna
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar
memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli
sabun dengan warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna
merah, putih, hijau maupun orange.

d.

Parfum
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar
dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas
sabun yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam
penjualannya. Parfum untuk sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan dengan
berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke
mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1ml. Pada dasarnya, jenis parfum untuk sabun
dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum ekslusif. Parfum umum
mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat seperti aroma mawar dan
aroma kenanga. Pada umumnya, produsen sabun menggunakan jenis parfum yang ekslusif.
Artinya, aroma dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang
menggunakannya. Kekhasan parfum ekslusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih
mahal dari jenis parfum umum. Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan
sabun diantaranya bouquct deep water, alpine, dan spring flower.

2.2 Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi kehidupan makhluk
hidup.

Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida.
Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah daya larutnya dalam
pelarut organik (misalnya ether, benzene, chloroform) atau sebaliknya ketidak-larutannya
dalam pelarut air.
Kelompok lipida dapat dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan struktur kimia
tertentu.
a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).
b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).
c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).
d. Sterol-sterol dan steroida.
e. Karotenoida.
f. Kelompok lipida lain.

Trigliserida merupakan kelompok lipida yang paling banyak dalam jaringan hewan dan
tumbuhan. Trigliserida dalam tubuh manusia bervariasi jumlahnya tergantung dari tingkat
kegemukan seseorang dan dapat mencapai beberapa kilogram.
Fosfolipida, glikolipida, sterol dan steroida terdapat dalam jaringan hewan dan
tumbuhan dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada trigliserida. Dalam tubuh manusia,
kelompok ini hanya merupakan beberapa persen saja dari bahan lipida seluruhnya.
Karotenoida dalam tubuh manusia lebih sedikit lagi jumlahnya, biasanya dalam seluruh
tubuh manusia hanya terdapat kurang dari 1 gram. Dalam jaringan tanaman, karotenoida
terdapat dalam jumlah lebih banyak.
Secara Dentitif, lipida diartikan sebagai semua bahan organik yang dapat larut dalam
pelarut organik yang mempunyai kecenderungan nonpolar.
Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian terbesar
dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul
gliserol dengan tiga molekul asam lemak.

Gambar 2.2 Reaksi kimia asam lemak dengan gliserol

Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang
berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang dalam suhu ruang
berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas untuk membedakan minyak
dan lemak.

Reaksi dan sifat kimia pada minyak atau lemak:


1.

Esterifikasi

Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida, menjadi bentuk
ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau
penukaran estar yang didasarkan pada prinsip trans-esterifikasi Fiedel-Craft.
2.

Hidrolisa

Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas
dan gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap air, panas, dan eznim lipolitik
seperti lipase. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak yaitu
hydrolytic rancidity yaitu terjadi flavor dan rasa tengik pada lemak atau minyak. Hal ini
terjadi karena terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.

Gambar 2.3 Reaksi Hidrolisa pada Trigliserida


3.

Penyabunan

Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila
penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan kemudian
gliserol dipulihkan dengan penyulingan.
4.

Enzimatis

Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan menyebabkan minyak
tersebut menjadi tengik, ketengikan itu disebut Enzimatic rancidity Lipase yang bekerja
memecah lemak menjadi gliserol dan asam lemak serta menyebabkan minyak berwarna
gelap. Enzim peroksida membantu proses oksidasi minyak sehingga menghasilkan keton.

Gambar 2.4 Reaksi Enzimatis

5.

Oksidasi

Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau
minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik kepada minyak atau
lemak Oxidative rancidity.
6.

Hidrogenasi

Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari karbon asam lemak
pada lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan
katalisator dipisahkan dengan penyaringan. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis
atau keras, tergantung pada derajat kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian
kemurnian minyak.
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil), sedikit larut dalam
alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon disulfide dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi karena asam-asam
yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan
pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama dari
minyak/lemak.
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh
kehadiran komponen-komponennya.
Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat dipelajari
secara lebih dalam dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan senyawa makro
nutrien lain. Kemudahan tersebut diakibatkan oleh:
1.

molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan karbohidrat atau

protein.
2.

molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.

Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam tiga
kelompok tujuan berikut:
1.

Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam bahan

makanan atau pertanian.


2.

Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan

proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian lanjutan misalnya penjernihan,
penghilangan bau, penghilangan warna dan sebagainya.
3.

Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat minyak

tertentu.
Ekstraksi merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar lemak dalam suatu
bahan. Sebagai senyawa hidrokarbon, lemak dan minyak pada umumya tidak larut air tatapi
dalam pelarut organik.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut, selain lemak juga terikut fosfolipida, sterol,
asam lemak bebas, karotenoid, dan pigmen lain. Karena itu hasil analisanya disebut lemak
kasar (crude fat).
Ada dua cara penentuan kadar lemak berdasarkan jenis bahan
1.

Bahan Kering

Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dilakukan terputus-putus atau berkesinambungan.
Ekstraksi secara terputus dilakukan dengan soklet. Sedangkan secara berkesinambungan
dengan alat goldfish.
2.

Bahan Cair

Penentuan kadar lemak dari bahan cair dapat menggunakan botolBabcock atau
dengan Mojoinner.
Jenis Minyak dan lemak dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sifat-sifatnya.
Pengujian sifat-sifat minyak tersebut salah satunya adalah penentuan angka penyabunan
dan penentuan angka asam.
Angka penyabunan dapat diartikan sebagai banyaknya (mg) KOH yang dibutuhkan
untuk menyabunkan satu gram asam lemak atau minyak. Angka penyabunan sendiri dapat
dipergunakan untuk menentukan berat molekul minyak secara kasar. Minyak yang disusun
oleh asam lemak berantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relatif kecil akan
mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul
besar mempunyai angka penyabunan relatif kecil.
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH atau NaOH yang diperlukan
untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau lemak.
Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari
hidrolisis minyak atupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin tinggi angka
asam makin rendah kualitasnya.

Jenis-jenis Minyak atau Lemak


Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun
di antaranya :
a. Tallow
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging
sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur
solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin.
Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow
dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah
asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar
antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40C. Tallow dengan titer di bawah
40C dikenal dengan nama grease.

b.

Lard
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh
seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan
sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi
ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.

c. Palm Oil (minyak kelapa sawit)


Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa
sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna
jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan
digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun
yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka
dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit
harus dicampur dengan bahan lainnya.

d. Coconut Oil (minyak kelapa)


Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri
pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi
daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak
jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi

yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak
kaproat, kaprilat, dan kaprat.

e.

Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit)


Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa
sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki
kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah
daripada minyak kelapa.

f.

Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin)


Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak
dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar
dalam minyak ini adalah stearin.

g.

Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine Oil memiliki
kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial
terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.

h.

Castor Oil (minyak jarak)


Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun
transparan.

i.

Olive oil (minyak zaitun).


Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi
memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras
tapi lembut bagi kulit.

j.

Campuran minyak dan lemak.


Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran
minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena
memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan

miristat yang tinggi dan dapat membuatsabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat
dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.

2.3 Saponifikasi
Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung
dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan
gliserol dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium) yang
mempunyai

rangkaian

karbon

yang

panjang.

Reaksi

dibawah

reaksi Saponifikasi tripalmitin / trigliserida.

Gambar 2.5 Reaksi Saponifikasi tripalmitin

ini

merupakan

Selain dari reaksi diatas sabun juga bisa dihasilkan dari reaksi netralisasiFatty
Acid (FA), namun disini hanya didapat sabun tanpa adanya Gliserin (Glycerol), karena saat
proses pembuatan Fatty Acid, glycerol sudah dipisahkan tersendiri.

Gambar 2.6 Reaksi Saponifikasi Asam lemak

Selain dari minyak atau lemak dan NaOH pada pembuatan sabun dipergunakan
bahan-bahan tambahan sebagai berikut:
a.

Cairan pengisi seperti tepung tapioka, gapleh dan lain-lain.

b.

Zat pewarna

c.

Parfum, agar baunya wangi.

d.

Zat pemutih, misal natrium sulfat

BAB III
ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan sabun, yaitu:
1.

Reaktor serba guna,

2.

Batang pengaduk,

3.

Cetakan sabun,

4.

Gelas ukur 100 ml,

5.

Blender,

6.

Termometer,

7.

Neraca Analitik, dan

8.

Neraca Kasar

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan sabun mandi yaitu:
1.

Minyak kelapa murni (arrow),

2.

NaOH/KOH,

3.

Akuades / air (H2O),

4.

Tepung kanji,

5.

Gliserin,

6.

Garam halus,

7.

Pewarna makanan, dan

8.

Pewangi.

3.2 Prosedur Percobaan


1. Air diukur dan dituangkan kedalam reaktor, kemudian NaOH/KOH ditimbag dan dilarutkan
kedalam air tadi sambil diaduk hingga larut.
2. Minyak ditimbang kemudian dimasukkan sedikit demi sedikit keadalam reakto sambil
diaduk-aduk.
3. Waktu pengamatan dicatat saat raksi telah selesai, yang ditandakan dengan tidak terjadi
perubahan lagi yang berarti.
4. Garam dan gliserin dimasukkan kedalam reaktor dan diaduk hingga homogen.
5.

Tepung kanji yang sudah dilarutkan dalam air dimasukkan kedalam reaktor sambil diaduk.

6. Terakhir minyak pewangi dan pewarna dimasukkan kedalam reaktor sambil diaduk hingga
merata.

7. Adonan dituangkan kedalam cetakan. Sabun disimpan selama 2 hari baru kemudian
dikeluarkan dari cetakan. Setelah 3 minggu maka sabun siap digunakan.
8. Dihitung rendemen sabun yang dihasilkan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil
Proses pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali NaOH menghasilkan

produk sabun dengan tekstur yang agak kasar dan keras. Berbeda dengan penggunaan
alkali NaOH, pada pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali KOH,
menghasilkan produk sabun yang agak lunak atau lebih encer.
Setelah dilakukan proses pembuatan sabun, hasil percobaan yang diperoleh yaitu
terbentuk campuran yang awalnya berwarna coklat tua dan berbusa. Hal ini berarti telah
terjadi perpisahan antara garam alkali (sabun) dengan gliserol. Pada dasarnya gliserol tetap
digunakan dalam campuran sabun (tidak dipisahkan), karena kandungan gliserol dapat
membantu sabun dalam mengangkat benda asing yang akan dibersihkan. Tetapi setelah
diberi pewarna maka warna sabun berubah menjadi warna pewarna tersebut.

4.2 Pembahasan
Saponifikasi

merupakan proses

pembuatan

sabun

yang

berlangsung

dengan

mereaksikan asam lemak, khusunya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol
dan garam karboksilat (sejenis sabun). Sabun merupakan garam (natrium) yang mempunyai
rangkaian karbon yang panjang. Saponifikasi dilakukan dengan mereaksikan minyak kelapa
sawit (triglisrida) dengan alkali (biasanya menggunakan NaOH atau KOH) sehingga
menghasilkan gliserol dan garam alkali Na (sabun). Saponifikasi juga dapat dilakukan
dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali sehingga menghasilkan sabun dan air.
Dari praktikum yang telah dilakukan, ada beberapa hal yang perlu dibahas antara lain:
1. Metoda Metoda Pembuatan Sabun
Pada proses pembuatan sabun ini digunakan metode metode untuk menghasilkan
sabun yang berkualitas dan bagus. Untuk menghasilkan sabun itu digunakanlah metodemetode tertentu, yang mana metode-metode ini memiliki kelebihan-kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.

a. Metode Batch
Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH)
berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan
untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan
alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal
yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan
diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya
untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang
homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut,
yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti
pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan
untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat,
sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara
didalamnya).

b. Metoda Kontiniu
Metoda kontinu biasa dilakukan pada zaman sekarang, lemak atau minyak hidrolisis
dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak
atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak
dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara
penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.

2. pengaruh jenis dan konsentrasi basa alkali yang digunakan:


a.

Pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali KOH murni, didapatkan hasil sabun
yang lumayan bagus. Ini terlihat pada produk sabun yang dihasilkan sudah tidak terlalu
lunak lagi dan kandungan airnya juga tidak terlalu banyak.

b.

Pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali KOH 30%, didapatkan hasil yang
terlalu encer. Ini terlihat pada produk sabun yang dihasilkan masih sangat lunak dan terlalu
banyak mengandung air meskipun telah didiamkan selama 7 hari.

c.

Pembuatan sabun dengan mengunakan basa alkali NaOH 30%, didapatkan produk sabun
yang terlalu keras dan terdapat kristal-kristal NaOH yang belum hancur dan larut pada saat
proses penyabunan.

d.

Pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali NaOH murni, didapatkan produk
sabun keras yang maksimal. Ini terlihat dari kekerasan sabun yang dihasilkan sudah cukup
bagus dan sudah tidak terdapat lagi kristal-kristal NaOH.

3. pengaruh kondisi operasi (suhu dan perlakuan):


a.

Kondisi operasi pada temperatur ruangan dan menggunakan blender pada praktikum ini
menunjukkan hasil yang yang optimal. Hal ini dikarenakan kecepatan pengadukan dengan
menggunakan blender akan mempercepat reaksi dan menyempurnakan pencampuran,
meskipun suhu yang paling bagus untuk pembuatan sabun adalah 70-100C untuk
menghasilkan gliserol dan sabun mentah.

b.

Kondisi operasi pada tempertur 60C dan menggunakan waterbatch menunjukkan hasil
yang kurang optimal, meskipun temperatur operasinya sudah cukup tinggi. Hal ini
dikarenakan pada saat pemanasan dan pencampuran di waterbatch, pengadukan dilakukan
dengan cara manual yaitu dengan menggunakan batang pengaduk, sehingga hasil
pencampuran menjadi kurang merata.

BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan antara
lain:
1. Bahan baku utama untuk pembuatan sabun yaitu minyak/lemak dan basa alkali
(NaOH/KOH),
2. Selain bahan baku utama sabun (minyak/lemak dan alkali), padapembuatan sabun juga
ditambahkan bahan-bahan pendukung seperti NaCl dan bahan aditif(pewarna, bahan
penguat, bahan pengisi, parfum)agar sabun lebih ekonomis dan menarik.
3. Pembuatan sabun dengan menggunakan basa alkali NaOH menghasilkan produk sabun
dengan tekstur yang agak kasar dan keras. Akan tetapi, jika menggunakan basa alkali
KOH , sabun yang dihasilkan lebih lunak dan agak encer.
4. Semakin cepat pengadukan yang dilakukan pada saat pembuatan sabun, maka hasilnya
juga akan semakin optimal karena proses pencampuran semakin sempurna dan
berlangsung lebih cepat.
5. Semakin tinggi suhu pemanasan sampai batas suhu optimal pada waktu penyabunan,
maka hasilnya juga akan semakin baik karena reaksi akan berlangsung lebih cepat. Suhu
optimal pada waktu penyabunan yaitu 70-100C karena pada suhu inilah gliserol dan sabun
mentah terbentuk.