Anda di halaman 1dari 17

23/08/2016

BANDUNG, 23 Agustus 2016

Disampaikan oleh :
Biro Keuangan Setda Prov. Jabar

CURRICULUM VITAE
Nama

: Hj. I GUSTI AGUNG KIM FAJAR WIYATI OKA

NIP

: 19680404 198803 2 014

Tempat/Tgl. Lahir

: Gianyar, Bali / 4 April 1968

Alamat

: Perum Gading Tutuka I Blok N2 No. 25 Soreang Kab. Bandung

Jabatan/Pangkat/Gol.

: Kepala Bagian Evaluasi dan Pembinaan pada Biro Keuangan


Sekretariat Daerah Proviinsi Jawa Barat/
Pembina Tk. I-IV.b

Pendidikan Terakhir

: Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada

Status

: 1. Menikah / 2 anak

Pengalaman Tugas

: 1. Kasubag Anggaran Rutin pd Biro Keuangan (2006-2009)


2. Kasubag Evaluasi dan Pembinaan pd Biro Keuangan (20092011)
3. Kepala Bagian Keuangan dan Akuntansi pd RSUD Al Ihsan
Prov. Jabar (2011-2013)
4. Kepala Bagian Anggaran pada Biro Keuangan (2013-April
2016)
5. Kepala Bagian Evaluasi dan Pembinaan pada Biro Keuangan
(April 2016- sekarang)

23/08/2016

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DASAR HUKUM PEDOMAN PENYUSUNAN APBD


TA 2017

Pasal 308 UU 23 NOMOR 23 TAHUN 2014


TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PASAL 34 AYAT (2) PP NOMOR 58 TAHUN 2005


TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH;

PASAL 83 PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI


NOMOR 13 TAHUN 2006 SEBAGAIMANA
DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI
DALAM NEGERI NOMOR 21 TAHUN 2011
3

APBD

APBD adalah rencana keuangan


tahunan pemerintahan daerah yang
dibahas dan disetujui bersama oleh
pemerintah daerah dan DPRD, dan
ditetapkan dengan peraturan daerah.

23/08/2016

Musrenbang
Desa (Jan)

Pelaksanaan
APBD (Jan thn
berikutnya)

Musrenbang
Kecamatan
(Peb)

Peny. DPASKPD (Des)


Forum SKPD
Peny. Renja
SKPD (Mar)
Penetapan
Perda APBD
(Des)

Evaluasi
Raperda APBD
(Des)

Pembahasan &
Persetujuan
RAPBD dgn DPRD
(Okt-Nop)

PERSETUJUAN BERSAMA ANTARA


KDH & DPRD (30 November)

Musrenbang
Kab/Kota
(Mar)
April

Des

Penetapan
RKPD (Mei)

Juni

Sep

Peny. RKA-SKPD
& RAPBD (AugsSep)

Pembahasan &
Kesepakatan
KUA (Jun)

Pembahasan &
Kesepakatan
PPAS (Jun)

1.

Dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di


luar yang diatur dalam undang-undang sebagaimana maksud
Pasal 286 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.

2.

Pendapatan
yang
sudah
ditetapkan
peruntukkannya
(earmarking) disesuaikan penggunaannya dalam belanja.

3.

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan yang


belum menunjukkan kinerja yang memadai (performance
based).

4.

Alokasi Pendapatan dari Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam


(DBH-SDA) antara lain memperhatikan realisasi pendapatan
DBH-SDA 3 (tiga) tahun terakhir.

5.

Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota


DPRD diberikan medical check up (1 orang istri/suami dan 2
orang anak).

6.

Kebijakan alokasi pemberian TP-PNSD vs Pemberian Insentif


Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

7.

Belanja Hibah dan Bantuan Sosial

23/08/2016

Lanjutan.
8.

Jaminan kecelakaan kerja dan kematian bagi KDH/WKDH, DPRD dan PNSD.

9.

Penganggaran dana bagi hasil yang bersumber dari retribusi daerah dilarang
untuk dianggarkan dalam APBD Tahun 2016.

10. Belanja Bantuan Keuangan.


11. Honorarium bagi PNSD dan non PNSD memperhatikan asas kepatutan,
kewajaran dan rasionalitas dalam pencapaian sasaran program dan kegiatan
sesuai dengan kebutuhan dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rangka
mencapai target kinerja kegiatan dimaksud, serta benar-benar memiliki
peranan dan kontribusi nyata terhadap efektifitas pelaksanaan kegiatan
dengan memperhatikan pemberian TP-PNSD dan pemberian insentif
pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah.
11. Penyediaan jaminan pemeliharaan kesehatan untuk pegawai pemerintah
non pegawai negeri
12. Pengadaan barang/jasa yang akan diserahkan kepada pihak
ketiga/masyarakat pada tahun anggaran berkenaan mempedomani Pasal
298 ayat (4) dan ayat (5) UU 23/2014 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri
32/2011, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
14/2016, serta peraturan per-UU-an lain dibidang hibah dan bantuan sosial.
7

Lanjutan.
12. Standar satuan biaya untuk perjalanan dinas ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Daerah dengan memperhatikan aspek
transparansi, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas, kepatutan dan
kewajaran serta rasionalitas;
13. Pemda harus konsisten mengalokasikan anggaran pendidikan 20%,
kesehatan 10% dan belanja modal diprioritaskan untuk pembangunan
dan pengembangan sarana dan prasarana yang terkait langsung
dengan peningkatan pelayanan dasar kepada masyarakat ;
14. Dalam rangka peningkatan kualitas penyusunan dokumen
perencanaan dan penganggaran tahunan daerah, untuk menjamin
konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran
agar menghasilkan APBD yang berkualitas serta menjamin kepatuhan
terhadap kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran, kepala
daerah harus menugaskan Aparat Pengawas Intern Pemerintah
(APIP) sebagai quality assurance untuk melakukan reviu atas dokumen
perencanaan dan penganggaran daerah sebagaimana yang diatur
dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 700/025/A.4/IJ
tanggal 13 Januari 2016 perihal Pedoman Pelaksanaan Reviu
Dokumen Perencanaan Pembangunan dan Anggaran Tahunan
Daerah .
8

23/08/2016

Lanjutan.

15. Dalam penyusunan perencanaan penganggaran dan


pembahasan KUA dan PPAS antara Kepala Daerah dengan
DPRD pada bulan Juni-Juli 2016 terkait dengan Belanja perlu
prinsip kehati-hatian (prudential) bagi Kepala Daerah dan
DPRD.
16. Dukungan pendanaan operasional yang bersumber dari APBD
kepada Ormas (termasuk organisasi keagamaan) melalui hibah.
17. Penguatan pembinaan SAMSAT Pusat dan Provinsi melalui
dukungan sarana dan prasarana serta pembiayaan oleh
pemerintah daerah.
18. Penguatan peran Tim Evaluasi Percepatan Realisasi Anggaran
(TEPRA) oleh pemda.

INMENDAGRI NOMOR 061/2911/SJ TAHUN 2016


TINDAK LANJUT PP NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG PERANGKAT DAERAH

PERTAMA :
Segera membentuk Perda/Perdais/Qanun tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat
Daerah bedasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, didasarkan
pada rekapitulasi berita acara hasil validasi pemetaan urusan pemerintahan dilaksanakan oleh
Kementrian/Lembaga dengan Pemerintah Daerah yang difasilitasi oleh Kementrian Dalam Negeri,
sambil menunggu penetapan hasil pemetaan intensitas urusan pemerintahan.

KEDUA :
segera melakukan penyesuaian dokumen Rencana Pembangunan Daerah sesuai Kelembagaan Perangkat
Daerah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat
Daerah.

KETIGA :
Penyusunan KUA, PPAS tahun 2017 dilaksanakan secara paralel dengan pembentukan perda tentang
perangkat daerah dan dituangkan dalam nota kesepakatan antara kepala daerah dan pimpinnan DPRD.

KEMPAT :
Gubernur dan Bupati/Walikota segera menyelesaikan proses administrasi pengalihan PNS Daerah yang
mengalami pengalihan urusan dengan mempedomani Peraturan Kepala BKN.

23/08/2016

INMENDAGRI

NOMOR 061/2911/SJ
TAHUN 2016 (LANJUTAN)

KELIMA :
Pengisian pejabat struktural pada Perangkat Daerah dilaksanakan setelah ditetapkannya Perda tentang
Perangkat Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 18/2016 tentang Perangkat Daerah. Dalam hal
terdapat jabatan yang kosong, ditunjuk Pejabat Pelaksana Tugas (Plt)

KEENAM :
Seluruh Perangkat Daerah yang melaksanakan Urusan Pemerintah di Bidang Kesatuan Bangsa dan Politik
Dalam Negeri tetap melaksanakan tugasnya, serta anggaran penyelenggaraan urusan pemerintah di bidanng
Kesatuan Bangsa dan Politik dibebankan pada APBD sampai dengan peraturan perundang-undangan mengenai
pelaksanaan urusan pemerintah umum diundangkan.

KETUJUH :
Pengaturan tentang Diktum Keenam dituangkan dalam ketentuan dalam
Perda/Perdais/Qanun tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perankat Daerah.

ketentuan

peralihan

KEDELAPAN :
Instruksi Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 4 Agustus 2016

PP 18 Tahun 2016
Pasal 122 (1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, seluruh
Perangkat Daerah yang melaksanakan Urusan Pemerintahan di bidang
kesatuan bangsa dan politik, tetap melaksanakan tugasnya sampai
dengan peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaan urusan
pemerintahan umum diundangkan.
Pasal 122 (2) Anggaran penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di
bidang kesatuan bangsa dan politik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sampai
dengan peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaan urusan
pemerintahan
umum
diundangkan.

23/08/2016

PP 18 Tahun 2016

Pasal 124 (1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, untuk pertama
kali, penetapan pedoman nomenklatur Perangkat Daerah oleh
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian dan pelaksanaan pemetaan
Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Daerah bersama dengan
kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian diselesaikan paling lambat
2 (dua) bulan terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.

Pasal 124 (2) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, untuk pertama
kali, Perda pembentukan Perangkat Daerah dan pengisian kepala Perangkat
Daerah dan kepala unit kerja pada Perangkat Daerah diselesaikan paling
lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.

PP 18 Tahun 2016

Pasal 124 (3) Dalam hal pedoman nomenklatur Perangkat Daerah belum
ditetapkan sampai batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepala
Daerah dapat menetapkan nomenklatur Perangkat Daerah dengan Perkada.

Pasal 124 (4) Pengisian kepala Perangkat Daerah dan kepala unit kerja pada
Perangkat Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk pertama kalinya
dilakukan dengan mengukuhkan pejabat yang sudah memegang jabatan
setingkat dengan jabatan yang akan diisi dengan ketentuan memenuhi
persyaratan kualifikasi dan kompetensi jabatan.

Pasal 124 (5) Dalam hal hasil pemetaan Urusan Pemerintahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) belum ditetapkan, untuk pertama kali, Daerah dapat
menetapkan Perda tentang pembentukan Perangkat Daerah tanpa menunggu
penetapan hasil pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

23/08/2016

PP 18 Tahun 2016
Pasal 125
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai
berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 41
Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

23/08/2016

Pasal 308-310 Permendagri


13/2006
Pemerintah
melakukan
pembinaan
dan
pengawasan
pengelolaan keuangan daerah
kepada
pemerintah
kabupaten/kota
yang
dikoordinasikan oleh Gubernur
selaku wakil Pemerintah Pusat.

Supervisi
Konsultasi

Diklat

PEMBINAAN
PENGELOLAAN
KEUANGAN
DAERAH
KAB/KOTA

Pemberian
Pedoman

Bimbingan

23/08/2016

Pasal 315 ayat (2) UU No. 23/2014


ttg Pemerintahan Daerah:
Gubernur sebagai wakil Pemerintah
Pusat melakukan evaluasi terhadap
rancangan Perda Kabupaten/Kota
tentang APBD dan rancangan
peraturan bupati/wali kota tentang
penjabaran APBD.

Pasal 322 ayat (2) UU No. 23/2014


ttg Pemerintahan Daerah:
Gubernur sebagai wakil Pemerintah
Pusat melakukan evaluasi terhadap
rancangan Perda Kabupaten/Kota
tentang P2APBD dan rancangan
peraturan bupati/wali kota tentang
penjabaran P2APBD.

10

23/08/2016

EVALUASI
RAPBD/RPAPBD

Menguji kesesuaian dengan :


1. Ketentuan Peraturan perundangundangan yang lebih tinggi;
2. Kepentingan Umum;
3. RKPD serta KUA dan PPAS; dan
4. RPJMD.
(Ps. 315 ayat (3) UU 23/2014)
Pengendalian atas defisit APBD/PAPBD
Kabupaten/Kota
(Ps. 306 ayat (2) UU 23/2014)

MENJADI OBYEK AUDIT :


1. ITJEN KEMENDAGRI
2. BPK PERWAKILAN JABAR MAUPUN BPK PUSAT.
3. INSPEKTORAT

EVALUASI
RP2APBD

Menguji kesesuaian dengan :


1. Perda APBD dan atau Perda P-APBD;
2. Perbup/Wal Penjabaran APBD dan
atau Penjabaran P-APBD;
3. Temuan Laporan Hasil Pemeriksaan
BPK.
(Ps. 322 ayat (2) UU 23/2014)

11

23/08/2016

PROSES EVALUASI PERDA APBD KAB/KOT &


PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN APBD

RAPERDA
APBD

Membuat
RAPERBUP/WAL
Sebesar
Pagu APBD
Tahun Lalu
(15 hari)

Tidak Setuju

Bupati/Walikota
menetapkan
PER-BUP/WAL

Pengesahan
Gubernur
(30 Hari)

Dibahas bersama
DPRD & Pemda

DPRD

Melewati
Batas waktu
Evaluasi

Setuju

RAPERBUP/WAL
PENJABARAN APBD

Penyempurnaan
(7 Hari)

Penyampaian
RAPERDA APBD &
RAPERBUP/WAL
APBD
(3 hari)

Bupati/Walikota
menetapkan
PERDA &
PER-BUP/WAL

Tdk Sesuai
Dgn UU
Tdk
Disempurnakan

GUBERNUR
(15 hari)

Hasil
Evaluasi

GUB membatalkan
Berlaku Pagu APBD
Sebelumnya

Sesuai
dgn UU

Laporan kpd
MDN

ALUR/MEKANISME EVALUASI RAPERDA


APBD/PRB APBD
KAB/KOTA DI PROVINSI JAWA BARAT
Penerimaan &
Pemeriksaan
Dokumen
Evaluasi

Disampaikan ke
Mendagri sebagai
laporan

Tim
Evaluasi

Proses
Penandatanganan

Kepgub
Evaluasi

Penelaahan &
Analisis Dokumen
Evaluasi

Penelaahan
Oleh Biro
Hukum & Ham

Telaah, jadi bahan


evaluasi PAPBD

Telaah, jadi bahan


evaluasi PAPBD
-- Tanggung Jawab
ada di Bup/Wlkota

Kertas Kerja
Evaluasi
Disesuaikan

TAPD Kab/Kota

Disampaikan
Kepada
Bupati/
Walikota

Tidak/Belum
Disesuaikan

Penyempurnaan
(7 Hari)

Draft Kepgub
Konfirmasi &
Klarifikasi
Dengan
Kab/Kota

Peninjauan
Terhadap
Tindak Lanjut
Hasil Evaluasi

Dokumen
Penyempurnaan
Disampaikan ke
Gubernur
(3 hari setelah
penetapan)

12

23/08/2016

PROSES EVALUASI PERDA P2APBD KAB/KOT &


PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN P2APBD

RAPERDA
P2APBD

DPRD

1 bulan Tidak
Tidak diputus

Bupati/Walikota
menetapkan
PER-BUP/WAL

Pengesahan
Gubernur
(15 hari )

Dibahas bersama
DPRD & Pemda

Setuju

RAPERBUP/WAL
PENJABARAN P2APBD

Membuat
RAPERBUP/WAL
P2APBD
(7 hari)

Penyampaian
RAPERDA APBD &
RAPERBUP/WAL
P2APBD
(3 hari)

Melewati
Batas waktu
Evaluasi

GUBERNUR
(15 hari)

Penyempurnaan
(7 Hari)

Bupati/Walikota
menetapkan
PERDA &
PER-BUP/WAL

Tdk Sesuai
Tdk
Disempurnakan

Hasil
Evaluasi

GUB membatalkan
Perda P2APBD

Sesuai

Laporan kpd
MDN

PROSES EVALUASI PERDA P2APBD KAB/KOT &


PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN P2APBD

RAPERDA
P2APBD

DPRD

1 bulan Tidak
Tidak diputus

Bupati/Walikota
menetapkan
PER-BUP/WAL

Pengesahan
Gubernur
(15 hari )

Dibahas bersama
DPRD & Pemda

Setuju

RAPERBUP/WAL
PENJABARAN P2APBD

Membuat
RAPERBUP/WAL
P2APBD
(7 hari)

Penyampaian
RAPERDA APBD &
RAPERBUP/WAL
P2APBD
(3 hari)

Melewati
Batas waktu
Evaluasi

GUBERNUR
(15 hari)

Penyempurnaan
(7 Hari)

Bupati/Walikota
menetapkan
PERDA &
PER-BUP/WAL

Tdk Sesuai
Tdk
Disempurnakan

Hasil
Evaluasi

GUB membatalkan
Perda P2APBD

Sesuai

Laporan kpd
MDN

13

23/08/2016

DOKUMEN EVALUASI RAPBD YANG DISAMPAIKAN KEPADA GUBERNUR:


1)

Surat Pengantar Permohonan Evaluasi dari Kepala Daerah;

2)

Persetujuan Bersama antara Kepala Daerah dengan DPRD terhadap Rancangan Perda
tentang APBD/P-APBD;

3)

Keputusan DPRD tentang Persetujuan terhadap Raperda APBD/P-APBD;

4)

RKPD/Perubahan RKPD tahun anggaran berkenaan;

5)

KUA dan PPAS yang telah disepakati antara Kepala Daerah dengan Pimpinan DPRD;

6)

Risalah sidang jalannya pembahasan terhadap Rancangan Perda tentang APBD/P-APBD;

7)

Nota Keuangan;

8)

Pengantar Nota Keuangan;

9)

Rancangan Perda tentang APBD/P-APBD;

10)

Rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang Penjabaran APBD/P-APBD;

11)

Data Sinkronisasi Prioritas Nasional dengan Belanja Daerah dalam


APBD tahun anggaran berkenaan;

12)

Data Sinkronisasi Prioritas Provinsi dengan Belanja Daerah


dalam APBD tahun anggaran berkenaan.

13)

Anggaran urusan pendidikan dan urusan kesehatan;

14)

Alokasi Dana Desa (ADD).

Catatan :
Masing-masing dokumen disampaikan sebanyak 2 (dua) Rangkap.

DOKUMEN EVALUASI P2APBD YANG DISAMPAIKAN KEPADA GUBERNUR:


1)

Surat Pengantar Kepala Daerah;

2)

Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah


disetujui bersama (beserta lampiran I s.d. IV);

3)

Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD (beserta lampiran Ringkasan dan Penjabaran LRA;

4)

Persetujuan bersama antara kepala daerah dan DPRD terhadap Raperda ttg
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;

5)

Risalah sidang jalannya pembahasan terhadap Raperda tentang pertanggungjawaban


pelaksanaan APBD;

6)

Pendapat (Opini) BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan atau Resume Hasil
Audit BPK (LHP BPK Buku I);

7)

Keputusan Gubernur tentang Evaluasi APBD tahun anggaran 2014;

8)

Keputusan Gubernur tentang Evaluasi Perubahan APBD tahun anggaran 2014.

9)

Laporan Realisasi Anggaran (LRA);

10)

Neraca;

11)

Laporan Arus Kas (LAK);

12)

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) yang dilampiri dengan ikhtisar laporan
keuangan BUMD;

13)

Laporan Operasional (LO);

14)

Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);

15)

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL);

14

23/08/2016

Pasal 92 ayat (1) Permendagri 1/2014 ttg Pembentukan Produk Hukum


Daerah:
Gubernur membentuk tim klarifikasi yang keanggotaannya terdiri atas SKPD sesuai
kebutuhan.
Dilaksanakan setelah proses penelaahan dan
analisis dokumen evaluasi oleh Tim Evalusi
Media pembinaan dan komunikasi antara TAPD
Kab/Kota dengan Tim Evaluasi Provinsi
terhadap penyusunan APBD/PAPBD Kab/Kota
Maksud dan tujuan konfirmasi dan klarifikasi
untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari Tim
TAPD Kab/Kota terhadap penyediaan anggaran
tertentu
Hasil klarifikasi dijadikan pertimbangan dalam
menyusun Draft Kepgub Hasil Evaluasi

PENETAPAN PERDA APBD KOTA BANDUNG


TAHUN 2014-2016

KOTA BANDUNG
2014
20 Januari 2014

2015
29 Januari 2015

2016
30 Desember 2016

Keterangan :
Melewati Batas waktu penetapan APBD
Tepat Waktu dalam menetapkan APBD

15

23/08/2016

PROPORSI BELANJA APBD KOTA BANDUNG TAHUN


ANGGARAN 2016
Berdasarkan Perda Kota Bandung No.11 Tahun 2015 tentang APBD Tahun Anggaran 2016
1. Belanja Pegawai sebesar 36,09%;
2. Belanja Bunga 1,81%;

BELANJA
TIDAK
LANGSUNG
(40,21%)

BELANJA
DAERAH

3. Belanja Subsidi 0,00%;


4. Belanja Hibah 1,92%
5. Belanja Bantuan Sosial 0,00%
6. Belanja Bagi Hasil 0,00%
7. Belanja Bantuan Keuangan kepada
Prov/Kab/Kota dan Pemerintahan
Desa dan Partai Politik 0,01%; serta
8. Belanja Tidak Terduga 0,38%.

BELANJA
LANGSUNG
(59,79%)

1. Belanja Pegawai 3,90%;


2. Belanja Barang dan Jasa 27,54%;
3. Belanja Modal 28,35%;

PROPORSI BELANJA APBD TAHUN ANGGARAN 2017


Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan

1.
2.
3.

PROPORS
I
BELANJA
DAERAH

4.
5.

6.
7.
8.

Antara Lain :
Belanja Pegawai + acress 2,5%;
Fungsi Pendidikan 20% dari belanja daerah;
Fungsi Kesehatan 10% dari belanja daerah di luar
gaji;
Belanja Modal di atas rata-rata nasional...%;
Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Insentif
Pemungutan Retribusi Daerah maksimal 5% dari
realisasi Pendapatan Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah;
DBHCHT dan Pajak Rokok 50 untuk urusan
kesehatan dan penegakan peraturan per-UU-an dan
50% sesuai prioritas daerah;
DAK sesuai juknis apabila dipersyaratkan
penyediaan dana pendamping 10%;
Belanja Hibah dan Bantuan Sosial setelah
memprioritaskan Belanja Wajib dan Pilihan.

16

23/08/2016

17