Anda di halaman 1dari 22

DAFTAR ISI

Halaman Judul .
Kata Pengantar
Daftar isi ..1
Bab.

I. Pendahuluan .1
A. Latar Belakang ...1
B. Tujuan Penelitian ...2

Bab II. Model Konsep interaksi Imogene M King .


A. Kerangka konsep Imogene M. King ..........................................................
B. Asumsi Imogene M. King ..........................................................................
C. Pandangan Imogene M. King terhadap paradigma Keperawatan .............
Bab. III. Penampilan Jurnal
Bab. IV. Pembahasan
Bab. V. Kesimpulan

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keperawatan merupakan pelayanan professional yang ditujukan kepada
individu, keluarga dan masyarakat dalam bentuk pelayanan biopsikososio dan
spiritual. Dalam memberikan pelayanan yang professional, seorang perawat harus
berpijak dan mengacu pada teori-teori keperawatan. Salah satu teori keperawatan yang
dapat diaplikasikan ialah teori Imogene King.
Teori Imogene King menitikberatkan pada proses interaksi dan transaksi
perawat dengan klien. King memandang bahwa dalam melakukan asuhan keperawatan
terhadap klien menggunakan pendekatan frame work system yaitu: personal,
interpersonal dan social.
Manusia adalah system terbuka dan selalu berinteraksi secara konstan dengan
lingkungannya. Manusia harus berinteraksi dengan lingkungannya agar dapat bertahan
hidup, berkembang dan mempertahankan kesehatannya. Melalui interaksi manusia
dapat memperoleh kepuasan hidup karena interaksi manusia dan lingkungannya
merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.
Sasaran utama pelayanan keperawatan adalah manusia baik secara individu,
keluarga dan kelompok. Oleh karena itu untuk mampu memahami dan memberikan
pelayanan keperawatan yang professional perawat dituntut untuk mampu memahami
konsep tentang interaksi manusia dan lingkungannya.
Imogene M. King telah membahas teori interaksi ini dalam Kings toward a
theory for nursing general concepts of human behavior yang telah dipublikasikan
pada tahun 1971 dan A theory for nursing system, concepts process yang diterbitkan
pada tahun 1981. Alasan penerbitan dan melakukan publikasi buku tersebut karena
King mempunyai pemikiran bahwa sangat banyak ilmu pengetahuan yang
dipergunakan oleh perawat. Hal tersebut terjadi pada awal tahun 1960 dimana
kecepatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai pengaruh yang
cukup besar terhadap keperawatan. Perawat sebagai profesi yang baru muncul namun
perawat telah mengenali pengetahuan dasar yang spesifik untuk melakukan praktek
keperawatan dan mengembangkan peranan perawat.
1.2 Tujuan
2

1.1.1

Tujuan Umum :
Tujuan umum makalah ini ialah untuk menganalisis Teori Imogene King pada
penerapan asuhan keperawatan.

1.1.2. Tujuan Khusus :


Adapun tujuan khusus penyusunan makalah ini ialah :
1) Meningkatkan pemahaman tentang konseptual model Imogene King dalam
penerapan asuhan keperawatan dengan berbasis Interacting System
Framework and Middle Range Theory of Goal Attainment.
2) Memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Sains Keperawatan

BAB II
3

TINJAUAN LITERATUR
2.1. Teori Imogene King
Imogene King dikenal dengan interakting systems framework and Theory
of Goal Attainment , yaitu

adanya interaksi antara perawat dan pasien pada

pelaksanaan asuhan keperawatan. Hubungan interaksi antara perawat dan pasien


membawa pada pencapaian tujuan. King menyatakan pencapaian tujuan merupakan
sebuah konsep transaksi sebagai komponen integral dalam teori ini. King
menggunakan metode observasi non partisipan untuk mengumpulkan informasi
hubungan perawat pasien dalam seting perawatan di rumah sakit. Beragam interaksi
diamati baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal yang kemudian
direkam sebagai data mentah, termasuk bagaimana alat untuk mencapai tujuan
dieksplor dan telah disepakati sebelumnya. Studi ini memberikan sebuah sistem
klasifikasi yang berguna dalam interaksi perawat klien.
King mengusulkan suatu kerangka konsep keperawatan, yaitu pembentukan
kerangka yang menghubungkan perawat sebagai sistem utama pelayanan kesehatan,
mengembangkan konsep dan penerapannya dalam pengetahuan perawat dan suatu
strategi untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan kerangka kerja.
King menggunakan teori sistem untuk memperkenalkan idenya. Konsep
kerangka kerjanya berasal dari semua paradigma yang telah digunakan dalam
keperawatan.

Sebagai

contoh

paradigma

pengembangan

(pertumbuhan

dan

perkembangan), sistem (memperlihatkan struktur dan fungsi peran, sistem terbuka,


sistem sosial, energi), adaptasi (kelanjutan penekanan untuk stressors), psikoanalitik
(diri), dan stress ( energi yang berespon terhadap lingkungan). Teori King mencoba
membantu memahami proses keperawatan dan proses interaksi (Meleis, 1997)..
2.2. Sistem Kerangka Terbuka King THREE INTERACTING SYTEMS
Teori Imogene King berusaha menjawab tentang peran perawat dalam praktik
keperawatan dan bagaimana perawat mampu membuat keputusan dalam praktik
sehari-hari. King menggambarkan hal yang penting dalam praktik keperawatan dengan
melihat interaksi perawat - klien dalam hubungan yang profesional untuk mencapai
tujuan. Pada akhirnya pengembangan teori King dikenal dengan Teori Pencapaian
Tujuan (Christensen & Kenney, 1995) yang dibangun dari beberapa karakteristik
4

yang saling berinteraksi. Teori ini juga berfokus pada pemberi dan penerima pelayanan
keperawatan yang berdasar pada pengembangan teori pencapaian tujuan yang dimulai
dari asumsi perawat dalam interaksi dengan klien yang keduanya merupakan sistem
terbuka yang akan selalu berinteraksi dengan lingkungan. Teori pencapaian tujuan
mengambil simbol interaksi yang menggambarkan individu sebagai anggota
masyarakat, yang akan bertindak untuk membangun persepsi dan komunikasi melalui
simbol-simbol. (Meleis, 1997).
King mengemukakan beberapa asumsi tentang dasar kerangka konsepnya,
yang meliputi asumsi tujuan keperawatan yaitu pelayanan kesehatan individu dan
kelompok

dan

manusia

sebagai

sistem

terbuka

yang

berinteraksi

dengan

lingkungannya. Kerangka konseptual terdiri dari tiga sistem yang saling berinteraksi,
yaitu sistem personal (individual), sistem interpersonal (kelompok) dan sistem sosial.
Berikut diagram sistem interaksi menurut King :

Gambar : Dynamic interacting systems(King, 1981 dalam Tomey & Alligood, 2006)
A. Sistem Personal (individual)
Individu berada dalam sistem personal. Konsep yang perlu dipahami dalam sistem
personal antara lain :
5

1.

Gambaran diri (body image)


Adalah Persepsi tentang diri individu sendiri dan persepsi orang lain tentang
dirinya.

2.

Pertumbuhan dan perkembangan ( growth & devolepment )


Perubahan yang terjadi pada individu secara terus menerus baik secara seluler,
molekuler dan tingkatan-tingkatan aktivitas perilaku yang kondusif untuk
menolong individu bergerak ke arah kedewasaan. Pertumbuhan dan
perkembangan dapat menggambarkan suatu proses dalam kehidupan dimana
terjadi peningkatan potensinya untuk mencapai aktualisasi diri.

3.

Persepsi (perception)
Persepsi adalah menyalurkan energi dari lingkungan dan mengelompokkannya
melalui informasi, penyimpanan informasi dan menyampaikannya dalam
bentuk tingkah laku yang jelas.
Persepsi adalah proses organisasi, interpretasi dan transformasi data yang
diingatnya melalui perasaan.
Persepsi: adalah representasi individu terhadap gambaran realita, seperti
kesadaran diri terhadap object, orang-orang dan kejadian.

4.

Diri sendiri (self)


Merupakan pemikiran dan

perasaan yang berkaitan dengan personalitas

seseorang yang berbeda dengan orang lain dan mempengaruhi pandangannya


terhadap siapa jati dirinya.
Diri sendiri termasuk berbagai hal, sistim dari ide/ gagasan, sikap, nilai dan
komitmen-komitmen. Diri sendiri adalah lingkungan subjektif seseorang secara
keseluruhan. Hal ini merupakan pusat yang istimewa dari pengalaman dan
signifikansi. Diri sendiri menunjukkan dunia seseorang pada bagian dalam yang
dibedakan dari dunia luar yang terdiri dari orang lain dan berbagai hal. Diri
sendiri adalah individu seperti yang dikenal sebagai individu, adalah ketika kita
mengatakan "aku" (Jersild, 1952, p. 10 dalam Tomey & Alligood, 2006).
5.

Ruang (space)
Ruang (space) ditandai dengan karakteristik universal. Semua orang
mempunyai beberapa konsep personal yang bergantung pada hubungan dengan

situasi, dimensi, area, jarak, waktu dan tanggapan yang berdasar pada persepsi
masing-masing individu.
Ruang ( space) dapat juga diartikan sebagai batasan tegas dari fisik dan perilaku
yang ditampakkannya.
6.

Waktu
King menggambarkan waktu sebagai jangka waktu antar peristiwa satu dengan
peristiwa yang lainnya dan dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing
individu, sehingga peristiwa yang satu dengan yang lain akan saling
berhubungan.

B. Sistem Interpersonal
Sistem interpersonal dibentuk ketika dua atau lebih individu saling berhubungan,
pembentukan oleh dua orang atau tiga orang. Interaksi perawat dan pasien adalah
satu jenis dari sistim interpersonal. Keluarga, sebagai kelompok kecil, dapat
dipertimbangkan sebagai sistem interpersonal. Dalam sistim interpersonal
diperlukan satu pemahaman tentang konsep komunikasi, interaksi, peran, stres dan
transaksi.
1.

Komunikasi
Komunikasi didefinisikan sebagai proses pemberian informasi dari individu
satu ke individu yang lain secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi
merupakan komponen interaksi. Termasuk didalamnya perubahan tanda-tanda
non verbal dan simbol-simbol antara perawat klien dengan lingkungan
merupakan komunikasi.

2.

Interaksi
Interaksi merupakan suatu proses persepsi dan komunikasi antara individu
dengan lingkungan dan antara individu yang satu dengan individu yang lain,
diwujudkan dengan perilaku verbal dan diarahkan untuk mencapai tujuan.
Setiap individu yang berinteraksi dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dalam
pengetahuan, tujuan, pengalaman terdahulu dan persepsi.

3.

Peran
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan dari individu yang
memiliki peraturan yang menjelaskan hak dan kewajiban. Jika harapan peran
berbeda dan tidak sesuai dengan yang terjadi, dapat menimbulkan konflik. Dan

hal ini berdampak pada penurunan keefektifan asuhan keperawatan yang


diberikan oleh perawat.
4.

Stres
Stres adalah tingkatan yang dinamis dalam interaksi individu lingkungan.
Stres melibatkan perpindahan energi dan informasi antara individu
lingkungan untuk pengaturan dan pengendalian stressor. Peningkatan stres
dalam interaksi individu dapat mempersempit bidang persepsi dan menurunkan
kerasionalan. Peningkatan stres juga berpengaruh terhadap intervensi
keperawatan yang diberikan pada pasien.

5.

Transaksi
Transaksi didefinisikan sebagai maksud dari interaksi untuk mencapai tujuan
tertentu.

C. Sistem Sosial
Sistim yang saling berinteraksi secara menyeluruh yang terdiri dari kelompok
masyarakat, dikenal sebagai sistem sosial. Kegiatan keagamaan, bidang pendidikan
dan sistem pelayanan kesehatan adalah contoh-contoh dari sistem sosial. Pengaruh
perilaku terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu yang berada dalam
keluarga ekstended di masyarakat adalah contoh lain dari pengaruh sistem sosial.
Di dalam sistem sosial, penting untuk memahami otoritas konsep, pengambilan
keputusan, organisasi, status.
1.

Otoritas (autority )
Merupakan proses transaksi yang aktif dalam pengalaman seseorang untuk
memahami nilai yang berpengaruh, legitimasi dan menerimanya sebagai posisi
dalam organisasi berkaitan dengan otoritasnya.

2.

Pengambilan keputusan ( decision making)


Adalah perubahan dan proses yang disengaja melalui proses memilih sesuai
dengan tujuan dengan mengidentifikasi aktivitas yang mungkin dilakukan oleh
individu atau group untuk mencapai tujuan.

3.

organisasi ( organization )
Dibentuk oleh individu yang memiliki peran yang diharapkan sesuai dengan
posisinya. Orang tersebut akan menggunakan berbagai sumber untuk mencapai
tujuan baik personal maupun organisasi.

4.

Status
8

Status adalah hubungan seseorang di dalam grupnya dengan anggota lainnya


dalam satu grup atau grup yang satu dengan grup yang lainnya.
Konsep-konsep di dalam kerangka tersebut merupakan dimensi pengaturan
dan menunjukkan pengetahuan yang penting bagi pemahaman interaksi di antara ke
tiga sistem. Konsep yang ditempatkan dalam sistim personal karena mereka
terutama berhubungan dengan individu, sedangkan konsep yang ditempatkan dalam
sistim interpersonal karena menekankan pada interaksi antara dua orang atau lebih.
Konsep yang ditempatkan dalam sistem sosial karena mereka menyediakan
pengetahuan untuk perawat agar berfungsi di dalam sistim yang lebih besar (King,
1995a, p.18 19 dalam Tomey & Alligood, 2006).
Bagaimanapun King dengan jelas telah mengidentifikasi bahwa konsepkonsep yang berada di dalam kerangka itu tidak dibatasi hanya pada salah satu
sistem yang saling berinteraksi secara dinamik tetapi juga yang berseberangan
dengan ketiga sistem tersebut.
2.3. Konsep Utama Asumsi King
Filosofi personal King tentang manusia dan hidup mempengaruhi asumsiasumsinya; termasuk yang berhubungan dengan lingkungan, kesehatan, keperawatan,
individu dan interaksi perawat - pasien. Interaksi antara kerangka sistem dan teori
pencapaian tujuan didasarkan pada satu asumsi yang menyeluruh, berfokus pada
keperawatan yaitu manusia yang saling berinteraksi dengan lingkungan mereka, dan
mendorong ke arah kesehatan individu, dimana merupakan satu kemampuan untuk
berfungsi dalam peranan sosial (King, 1981, p.143 dalam Tomey & Alligood, 2006).
Proses interaksi manusia membentuk dasar untuk merancang suatu model
transaksi, dimana melukiskan pengetahuan teoritis yang digunakan oleh perawat untuk
membantu individu dan kelompok mencapai sasaran/tujuan.

Proses interaksi manusia yang menjurus pada transaksi : model transaksi (King, 1981
dalam Tomey & Alligood, 2006)

Interaksi antara perawat dan pasien dalam model konseptual King


(http://www.ignou.ac.in/edusat/BNS/BNS101-Blk2-3-4/Block1en/67-80color.pdf)

10

King (1995b dalam Tomey & Alligood, 2006) menyatakan :


Penentuan tujuan timbal balik (antara perawat dan klien) didasarkan pada (a)
pengkajian keperawatan dengan memberi perhatian terhadap permasalahan dan
gangguan kesehatan yang dialami klien; (b) keterlibatan antara persepsi perawat
dan persepsi klien; (c) pemberian informasi terhadap masing-masing fungsi untuk
membantu klien mencapai sasaran/tujuan yang ingin dicapai.
Empat konsep utama asumsi King meliputi :
A.

Keperawatan (Nursing)
Keperawatan merupakan perilaku yang dapat diobservasi dan ditemukan
dalam sistem perawatan kesehatan yang ada di masyarakat. Tujuan
keperawatan adalah untuk membantu individu memelihara kesehatan
mereka,

sehingga

mereka

dapat

menjalani

peran-peran

mereka.

Keperawatan adalah suatu proses interpersonal yang meliputi tindakan/aksi,


reaksi, interaksi dan transaksi. Persepsi perawat dan pasien juga
mempengaruhi proses interpersonal.
1. Tindakan/aksi : proses awal hubungan dua individu dalam berperilaku,
memahami, mengenali kondisi yang ada yang digambarkan melalui
hubungan

perawat pasien dengan melakukan kontrak untuk

pencapaian tujuan.
2. Reaksi :

bentuk tindakan yang terjadi akibat adanya aksi dan

merupakan respon individu


3. Interaksi : bentuk kerjasama yang saling mempengaruhi antara perawat
pasien, yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi.
4. Transaksi :

kondisi dimana antara perawat dan psien terjadi suatu

persetujuan dalam rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan.


Peran keperawatan antara lain promosi, pemeliharaan dan mengawasi pasien
yang sakit, terluka dan sekarat. Fungsi perawat dalam hal ini adalah
menginterpretasikan informasi yang diperoleh ketika merawat dan
merupakan proses merencanakan, menerapkan dan melakukan evaluasi
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.

11

B.

Manusia (Person)
Merupakan asumsi spesifik yang berhubungan dengan manusia atau
individu, terperinci dalam asumsi-asumsi berikut :
1.

Individu adalah mahluk spiritual

2.

Individu mempunyai kapasitas untuk berpikir, mengetahui,


membuat aneka pilihan, dan memilih tindakan alternatif

3.

Individu mempunyai kemampuan memahami bahasa, budaya dan


simbol-simbol lain yang terekam

4.

Individu

adalah

sistem

terbuka

dalam

transaksi

dengan

lingkungan. Transaksi berarti juga bahwa tidak ada yang memisahkan


antara manusia dan lingkungan
5.

Individu bersifat unik dan holistik, menjadi berharga dan hakiki,


dan dapat membuat pemikiran yang rasional dan membuat keputusan
dalam berbagai situasi

6.

Individu berbeda dalam kebutuhan, keinginan dan tujuan/sasaran


mereka

C.

Kesehatan (Health)
Kesehatan berimplikasi pada penyesuaian berkelanjutan terhadap stres di
dalam lingkungan internal dan eksternal melalui penggunaan yang optimal
dari sumber dayanya untuk mencapai potensi maksimum untuk kegiatan
sehari-hari (King, 1981, p. 5 dalam Tomey & Alligood, 2006).

D.

Lingkungan (Environment)
King (1981 dalam Tomey & Alligood, 2006) percaya bahwa satu
pemahaman tentang tatacara manusia berhubungan dengan lingkungan
untuk memelihara kesehatan adalah hal yang essensial untuk perawat.
Sistem terbuka berimplikasi pada interaksi yang terjadi antara sistim dan
lingkungan yang mengalami perubahan secara terus menerus. Penyesuaianpenyesuaian dalam kehidupan dan kesehatan dipengaruhi oleh satu interaksi
individu dengan lingkungan.

12

2.4.

Nilai-nilai Teori Imogene King

1. Keperawatan bukan hanya merupakan proses interaksi antara klien - perawat


tetapi juga kemampuan dalam melakukan tindakan untuk mencapai tujuan yang
diharapkan bersama (Christensen & Kenney, 1995). Dengan kata lain adalah
proses untuk bertindak, bereaksi, interaksi, dan transaksi. Pelayanan
keperawatan akan dipanggil pada saat individu tidak dapat berfungsi dalam
peran (Meleis, 1997).
2. Klien adalah individu atau kelompok yang akan berinteraksi dengan masalah /
peristiwa

tentang

kesehatan

dimana

berhubungan

dengan

lingkungan

(Christensen & Kenney, 1995). Rasional, anggota masyarakat, mampu


merasakan, berfikir, kemampuan memilih alternatif tindakan, kemampuan
menentukan tujuan, memilih tujuan untuk membuat keputusan, dan memiliki
simbol-simbol dalam berkomunikasi melalui tindakan, adat, dan nilai-nilai.
Reaksi dalam diri manusia berdasar pada persepsi, harapan, dan kebutuhan
(Meleis, 1997).
3. Kesehatan merupakan kemampuan individu untuk melaksanakan aktivitas
sehari-hari dengan perannya dalam masyarakat, kemampuan menjaga kehidupan
yang dinamis dari pengalaman diri sendiri atau orang lain yang dialami untuk
menyesuaikan dengan stressor dari lingkungan sehingga kesehatan tetap dalam
kondisi yang optimal (Christensen & Kenney, 1995). Dalam arti kesehatan
adalah pengalaman hidup yang dinamis dari tekanan lingkungan internal
maupun eksternal untuk berfungsi optimal dengan menggunakan potensi sumber
daya dalam kehidupan sehari-hari (Meleis, 1997).
4. Lingkungan adalah sistem sosial dalam kemasyarakatan yang dinamis akan
mempengaruhi perilaku sosial, integrasi sosial, persepsi, dan kesehatan baik di
rumah sakit, klinik, community, sekolah dan kawasan industri (Christensen &
Kenney, 1995). Lingkungan internal manusia merupakan transform untuk
melanjutkan perubahan lingkungan eksternal. Lingkungan eksternal dapat
merupakan organisasi formal maupun informal. Sistem sosial akan membatasi
peran sosial, perilaku, dan pengembangan praktik nilai-nilai sebagai mekanisme
pengaturan dalam praktik (Meleis, 1997).

13

5. Tujuan keperawatan adalah menjaga kesehatan agar tetap dapat berfungsi dalam
peran (Christensen & Kenney, 1995).
6. Masalah keperawatan adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan untuk
kehidupan sehari-hari atau ketidakmampuan berfungsi dalam peran (Meleis,
1997).
7. Proses keperawatan adalah konsep utama dalam teori King. Tujuan keperawatan
klien mencapai tujuan. Mekanisme dalam proses keperawatan adalah interaksi
perawat yang sungguh-sungguh dengan klien yang dimulai dari pertukaran
informasi, menentukan tujuan, partisipasi dalam penentuan tujuan, pelaksanaan
perencanaan dan evaluasi (Meleis, 1997).
8. Hubungan perawat - klien merupakan proses persepsi dan informasi antara
individu dengan lingkungan, antara individu dengan individu lain yang
diperlihatkan melalui perilaku verbal dan non verbal untuk mencapai tujuan.
Variabel afeksi yang berinteraksi adalah pengetahuan, kebutuhan, tujuan,
pengalaman masa lalu dan persepsi antara perawat - klien. Proses interaksi juga
termasuk reaksi tindakan dan transaksi (Meleis, 1997).
9. Terapeutik keperawatan terdri dari transaksi informasi, mendengarkan,
menentukan tujuan, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang tujuan.
Catatan keperawatan berorientasi pada tujuan (Meleis, 1997).
Dalam teori pencapaian tujuan, King memperlihatkan hubungan antara konsepnya
(Christensen & Kenney, 1995):
1. Jika persepsi perawat - klien akurat maka interaksi dan transaksi akan terjadi.
2. Jika perawat - klien membuat transaksi maka tujuan dapat dicapai.
3. Jika tujuan tercapai maka akan terjadi kepuasan hati.
4. jika tujuan tercapai maka pelayanan keperawatan yang efektif akan terjadi.
5. Jika transaksi-transaksi dibuat antara interaksi perawat - klien

maka akan

mempertinggi pertumbuhan dan perkembangan.


6. Jika peran yang diharapkan dan dan peran yang ditampilkan sama-sama dirasakan
oleh perawat - klien maka transaksi akan terjadi.
7. Jika terjadi pengalaman konflik peran pada perawar atau klien atau keduanya
maka interaksi stress antara perawat - klien akan terjadi.

14

8. Jika perawat-perawat dengan pengetahuan yang khusus dalam hal ketrampilan


komunikasi dalam memberikan informasi kepada klien maka tujuan akan dapat
dicapai.

Transaction

Perception

Perception
Agree to
means

Action

Nurse

Reaction
Explore
means

Client

Disturbance

Communication

Communication
Mutual
Goal
Setting

Gambar 2.2 Skema Kings theory of goal attainmet (dari King IM: a theory for nursing:
systems, concepts, process, New York, 1981, Wiley, p.157 dalam Christensen, P.J &
Kenney, J.W: Nursing Process: Application of conceptual models, St. Louis, 1995, MosbyYear Book, Inc., hal. 35)
Teori King ini berfokus pada interaksi perawat - klien dengan pendekatan sistem. Kekuatan
pada model ini adalah partisipasi klien dalam menentukan tujuan yang akan dicapai,
mengambil keputusan, dan interaksi dalam menerima tujuan dari klien. Teori ini sangat
penting pada kolaborasi antara tenaga kesehatan professional. Teori ini juga dapat
digunakan pada individu, keluarga, atau kelompok dengan penekanan pada psikologi,
sosialkultural, dan konsep interpersonal. Bagaimanapun kondisi psikologi juga dibutuhkan
untuk pendekatan yang holistik.

15

Beberapa contoh kasus yang menggunakan teori King dalam praktik klinik adalah
(Meleis, 1997) :

Klien lansia dengan kecelakaan perdarahan pada otak.

Klien dengan penyakit ginjal.

Caring dalam keluarga.

Penyelesaian masalah memfasilitasi pengembangan kesehatan lingkungan kerja.

Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat.

Pelayanan keperawatan psikiatri.

Caring untuk klien pingsan atau tidak sadar.

Caring untuk klien dewasa dengan diabetes.


Kerangka kerja untuk mengatur perawatan.

Kekuatan dari model konseptual adalah partisipasi aktif klien dalam mutual goal
setting, decision making, dan interaksi untuk mencapai tujuan klien. Selain itu,
model ini dapat diterapkan dalam berbagai health care setting serta dalam kolaborasi
dengan profesi kesehatan lain. Model ini dapat diterapkan pada individu, keluarga
atau kelompok. Kekurangan model ini adalah tidak dapat diterapkan pada klien yang
tidak mampu berkomunikasi dengan baik, seperti anak-anak, klien dalam kondisi
komatose, atau klien psikotik; kecuali model ini digunakan dalam keluarganya.

16

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Analisis Teori Imogene King


Analisis kelompok terhadap teori Imogene King adalah pada tujuh
kategori atau prosedur yaitu sumber teori, makna teori, kecukupan logika dari
teori, manfaat teori, derajat kemampuan menggeneralisasi dan parsimony teori
dan kemampuan untuk diujikan dari teori. Berikut ini kami akan menguraikan
teori tersebut yaitu:

1.

Sumber Teori
King menyebutkan beberapa riset study dalam bukunya tahun 1981
khususnya tentang perkembangan konsepnya. Dalam personal sistem King
menguji studi yang berhubungan dengan persepsi oleh Allport (1955),
Kelley & Hammond (1964), Ittleson & Cantril (1954), dan lainnya. Dalam
mengembangkan definisi tentang ruang, King menggunakan studi dari
Sommer (1969) & Ardrey (1966) dan catatan penelitiannya Minckley
(1968). Untuk konsep tentang waktu, King menggunakan hasil kerja Orme
(1969).
Dalam interpersonal sistem, King menjelaskan teori dan model komunikasi
yang diambil dari penelitian Watzlawick, Beavin & Jacson (1967) dan
Krieger (1975). King

melakukan uji coba penelitian Whiting (1955),

Orlando (1961) dan Diers & Schmidt (1977) untuk informasi dan interaksi.
King juga mencatat tentang teori pengetahuan Dewey & Bentley (1949)
yang menjelaskan Self action, interaksi, dan transaksi Knowing and The
Known serta penelitian Kuhn tentang transaksi.
Dalam bukunya tahun 1981 King lebih jauh menjelaskan bahwa beberapa
formulasi teori tentang hubungan interpersonal dan proses keperawatan
yang telah dijelaskan dalam keperawatan, yang diambil dari penelitiannya
Peplau (1952), Orlando (1961), Paterson & Zderad (1976), Yura & Walsh
(1978) serta hasil penelitiannya sendiri.
King menggunakan pendekatan sistem dalam mengembangkan framework
sistem interaksi dan selanjutnya mengembangkan midle range teori tentang

17

pencapaian tujuan. Dalam teori sistem dinyatakan bahwa jalan satu


satunya untuk mempelajari manusia berinteraksi dengan lingkungan yaitu
dengan merancang kerangka kerja konseptual mengenai variabel variabel
interdependen dan konsep kensep yang interelevan.
Teori King disebut sebagai teori sistem yang penting dalam praktik
keperawatan dengan melihat interaksi perawat - klien dalam hubungan
yang profesional untuk mencapai tujuan. Teori King dikenal dengan Teori
Pencapaian Tujuan (Christensen & Kenney, 1995) yang dibangun dari
beberapa karakteristik yang saling berinteraksi.konsep interaksi ilmu
humanisme yang dipersembahkan khusus untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, caring dan merehabilitasi
penderita.
Teori King sangat ideal untuk dikembangkan pada saat sekarang
dimana informasi dan komunikasi yang berkembang begitu cepat. Sesuai
dengan jurnal di atas ternyata dari teori King dapat dikembangkan suatu
sistem

informasi

dalam

pelayanan

kesehatan

sehingga

sehingga

mempermudah komunikasi.
2.

Makna Teori
Berdasarkan analisa kelompok, teori keperawatan Imogene King
sangat mudah untuk dipahami dan diaplikasikan dalam praktik
keperawatan. Hal tersebut didasarkan bahwa interaksi antara perawat dan
klien itu sangat penting. Kendala yang sering dihadapi adalah kesulitan
komunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh perawat di dunia.
King mengatakan dalam kerangka konsepnya bahwa setiap konsep yang
dimiliki oleh perawat dapat digunakan dalam asuhan keperawatan. Dari
kerangka konsep King dapat dijelaskan secara ringkas bahwa setiap
individu adalah sistem personal. Konsep yang relevan bahwa individu
mempunyai persepsi, pribadi, citra tubuh, tumbuh dan berkembang serta
adanya ruang dan waktu. Selain itu individu adalah sistem interpersonal,
sistem sosial, keinginan mencapai tujuan, mempunyai administrasi. Dari
pernyataan di atas jelaslah bahwa menurut King manusia selalu ingin
berinteraksi, dimana manusia membutuhkan orang lain untuk melakukan
sosialisasi dan ikut tergabung dengan kelompok lain.
18

3. Kecukupan logika teori


Teori King menyatakan bahwa manusia mempunyai hak untuk
mendapatkan informasi, berpartisipasi dalam membuat keputusan untuk
mempengaruhi kehidupan, kesehatan, maupun mendapatkan pelayanan
kesehatan. Anggota tim kesehatan berhak memberikan informasi kepada
individu tentang semua aspek keehatan untuk membantu membuat atau
mengambil keputusan.
Dalam praktik keperawatan, teori King menitik beratkan pada
interaksi antara manusia dan lingkungannya dengan tujuan untuk
kesehatan individu. Lingkungan merupakan sistem terbuka yang
menunjukkan adanya penukaran energi, masalah, informasi dengan
keberadaan manusia. Manusia akan berinteraksi dengan lingkungan
internal dengan penukaran energi yang terus menerus dengan lingkungan
ekternal.
Berdasarkan tersebut diatas maka kelompok menyimpulkan bahwa
teori King adalah cukup logis dipandang dari cakupan teori atau
pernyataan yang dikemukakan karena teori King ini sangat sesuai karena
keberhasilan perawatan adalah adanya interaksi yang terus menerus antara
perawat dan klien serta lingkungan eksternal yang mempengaruhinya.
King juga menyatakan bahwa intervensi keperawatan adalah adanya
interaksi perawat dengan klien yang meliputi komunikasi, persepsi yang
menimbulkan aksi dan reaksi serta menetapkan tujuan dengan maksud
tercapainya persetujuan dan adanya traksaksi.
4. Manfaat Teori
Teori ini dapat digunakan pada praktek keperawatan baik pada lingkup
klinik maupun pada lingkup komunitas. Menurut King ini manusia adalah
sistem terbuka yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya yang
memungkinkan benda, energi, dan informasi leluasa mempengaruhinya.
Dengan demikian maka dalam praktek baik di lahan klinik maupun lahan
komunitas interaksi yang terjadi sangat penting bagi klien dan perawat.
Jadi untuk aplikasi di klinik maupun di komunitas teori dari King ini
sangat relevan karena kesembuhan klien sangat dipengaruhi oleh
hubungan antara perawat dan klien.
19

5. Kemampuan men-generalisasi dan Parsimony


Teori King menurut kelompok memiliki cakupan isi teori yang sangat luas
dan cukup dan komplek untuk diaplikasikan pada tatanan praktek
keperawatan. Teori ini cocok diterapkan pada keperawatan klinik maupun
komunitas

karena

berfokus

pada

interaksi

antara

manusia

dan

lingungannya. Manusia sebagai individu dapat melakukan penyesuaian


terhadap stressor internal maupun eksternal dalam rentang sehat sakit
dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki seseorang untuk
mencapai kesehatan optimal.

20

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
4.1.1. Imogene King menyatakan bahwa manusia adalah sistem terbuka yang
berinteraksi dengan lingkungannya yang memungkinkan benda, energi dan
informasi dapat mempengaruhinya.
4.1.2. Imogene King menyampaikan bahwa intervensi keperawatan adalah
proses interaksi klien dan perawat yang meliputi komunikasi dan persepsi
yang menimbukan aksi dan rekasi dan mempunyai tujuan.
4.1.3. Teori Imogene King memiliki cakupan isi teori yang sangat luas dan
komplek untuk diaplikasikan pada tatanan praktek keperawatan baik klinik
maupun komunitas karena interaksi klien dan perawat. Teori ini sangat
cocok dan dapat berkembang bila dilakukan penelitian lebih lanjut karena
sangat cocok pada era teknologi dan informasi ini.
4.1.4. King mendukung kemajuan pengetahuan ilmu keperawatan melalui
pengembangan kerangka sistemnya yang saling berinteraksi dan teori
pencapaian tujuan, dengan mengutamakan pencapaian tujuan, atau
outcome (hasil), dari hubungan perawat pasien. King menyediakan
suatu kerangka dan sudah menunjukkan kegunaannya dalam keperawatan
baik untuk saat ini maupun di masa yang akan datang. Tujuan
menggunakan

kerangka

King

adalah

untuk

memperbaiki

mutu

keperawatan dengan lebih mempedulikan pasien.

4.2 SARAN
Teori King masih sangat luas sehingga perlu dilakukan penelitian/riset lagi
karena sangat sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang saat
sekarang sedang berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

21

Chinn,C. (1983). Theory and Nursing: a systematic approach. St.Louis: Mosby Company.
Clark.Mary Jo (1999), Nursing in the Community: dimention of community health nursing,
3rd. Connecticut: Applenton & Lange.
Christensen, Paula J. (1995): Nursing Process: application of conceptual models, 4th ed.
St.Louis: Mosby-Year Book, Inc.
George, Julis B. (1995). Nursing Theories: the base for professional nursing practice, 3rd.
Connecticut: Applenton & Lange.
Meleis Ibrahim A., (1997). Theoretical nursing: development and progress, 3rd edition,
Philadelphia: Lippincott.
Tomey, M &Alligood (2006). Nursing Theorist and Their Work. 6th edition. St.Louis:
Mosby-Year Book, Inc.

22

Anda mungkin juga menyukai