Anda di halaman 1dari 6

Penanganan Data Interpretasi Citra (Data Handling)

Teknik adalah alat khusus untuk melaksanakan metode. Teknik dapat pula
diartikan sebagai cara melakukan sesuatu secara ilmiah. Teknik interpretasi citra
dimaksudkan sebagai alat atau cara khusus untuk melaksanakan metode penginderaan
jauh. Teknik juga merupakan cara untuk melaksanakan sesuatu secara ilmiah. Sesuatu
itu tidak lain ialah interpretasi citra. Bahwa interpretasi citra dilakukan secara ilmiah,
kiranya tidak perlu diragukan lagi. Interpretasi citra dilakukan dengan metode dan
teknik tertentu, berlandaskan teori tertentu pula. Mungkin kadang-kadang ada orang
yang menyebutnya sebagai dugaan, akan tetapi berupa dugaan ilmiah (scientific guess).
Citra adalah suatu representasi (gambaran), kemiripan, atau imitasi dari suatu
objek. Citra sebagai keluaran suatu sistem perekaman data dapat bersifat optik berupa
foto, bersifat analog berupa sinyal-sinyal video seperti gambar pada monitor televisi,
atau bersifat digital yang dapat langsung disimpan pada suatu media penyimpan.
(Sutoyo et al, 2009).
Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan
maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut (Estes
dan Simonett dalam Sutanto, 1994:7)
Teknik Interpretasi Citra adalah cara-cara khusus untuk melaksanakan metode
penginderaan jauh secara ilmiah. Teknik interpretasi citra dimaksudkan sebagai alat atau
cara khusus untuk melaksanakan metode pengindraan jauh. Ini juga merupakan cara
untuk melakukan sesuatu secara ilmiah. Di dalam teknik interpretasi citra ini
dibandingkan cara-cara interpretasi yang lebih menguntungkan. Istilah tersebut
diartikan dalam segi kemudahan pelaksanaan interpretasinya, lebih akurat hasil
interpretasinya, atau lebih banyakinformasi yang diperoleh.
1. Keunggulan
a. Menggambarkan objek atau daerah secara lengkap dengan wujud dan letak yang
mirip dengan wujud dan letak yang sebenarnya di muka bumi.
b. Tiap lembar citra dapat meliputi daerah yang luas, yaitu setengah bola bumi untuk
citra satelit GMS, 34.000 km2 untuk citra Landsat, dan 132 km2 untuk foto udara
berskala 1 : 50.000.
c. Citra jenis tertentu dapat menghasilkan gambaran tiga dimensional. Pengamatan
dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut stereoskop.
d. Citra menjadi satu-satunya sumber untuk menetapkan daerah bencana secara cepat,
seperti daerah yang sedang dilanda banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan
sebagainya.
e. Citra dapat dibuat dalam periode yang pendek, yaitu setiap 16 hari untuk citra landsat
IV, setiap 6 jam untuk citra satelit cuaca NOAA, dan setiap setengah jam untuk citra
satelit GMS.

f. Karakteristrik objek yang tak tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra, sehingga
dimungkinkan pengenalannya. Sebagai contoh, objek yang tidak tampak pada malam
hari dapat direkam berdasarkan beda suhunya, yaitu dengan menggunakan tenaga
termal.
2. Kelemahan
a. Tidak semua data dapat diinterpretasi, seperti data migrasi, komposisi penduduk, dan
data produksi padi per hektare.
b. Ketelitian hasil interpretasi citra sangat tergantung pada kejelasan wujud objek atau
gejala yang tampak pada citra.
c. Hasil citra foto bergantung pada kondisi cuaca saat pemotretan atau perekaman.
Manfaat pengolahan citra adalah menunjang kebutuhan kehidupan sehari-hari
khususnya untuk : Memfasilitasi penyimpanan dan transmisi citra seperti menentukan
metode penyimpanan citra yang efisien dalam suatu kamera digital sehingga
mempercepat proses pengirim citra dari jarak jauh misalkan dari planet Mars ke Bumi.
Menyiapkan untuk ditampilkan di monitor atau di cetak. Proses yang dilakukan adalah
melakukan merubah ukuran citra yang harus disesuaikan dengan ukuran media tampilan
serta proses halftoning untuk proses pencetakan. Meningkatkan dan memperbaiki citra
dengan menghilangkan goresan-goresan pada ataupun meningkatkan visibilitas citra.
Ekstrasi informasi citra misalkan character recognizing, pengukuran plusi air dari citra
aerial.
Citra dapat berbentuk kertas cetakan atau transparansi yang juga semakin
banyak digunakan. Transparansi dapat berujud lembaran tunggal maupun gulungan.
Dalam menanganinya perlu berhati-hati jangan sampai menimbulkan goresan atau
bahkan penghapusan padanya. Untuk transparansi gulungan lebih mudah
penanganannya, akan tetapi terhadap yang lembaran perlu lebih berhati-hati, baik
lembaran transparansi maupun lembaran kertas cetak.
Banyak citra beragam jenis, skala, atau saat perekaman digunakan secara
bersamaan untuk meningkatkan hasil interpretasinya. Dengan demikian sering banyak
citra yang dihadapi oleh penafsir citra. Penafsir citra yang berpengalaman pun belum
tentu memperhatikan cara penanganan data, karena ia mungkin lebih tertarik pada
interpretasinya. Hal demikian tentu saja tidak baik untuk kemudahan dalam menyimpan
dan mencari kembali, dan untuk keawetan citra.
Data yang diperoleh dari inderaja ada 2 jenis:
1. Data manual, didapatkan melalui kegiatan interpretasi citra. Guna
melakukan interpretasi citra secara manual diperlukan alat bantu bernama
stereoskop. Stereoskop dapat digunakan untuk melihat objek dalam bentuk
tiga dimensi.

2. Data numerik (digital), diperoleh melalui penggunaan software khusus


penginderaan jauh yang diterapkan pada komputer.
Pengguna data merupakan komponen akhir yang penting dalam sistem
inderaja, yaitu orang atau lembaga yang memanfaatkan hasil inderaja. Jika tidak ada
pengguna, maka data inderaja tidak ada manfaatnya. Salah satu lembaga yang
menggunakan data inderaja misalnya adalah:

Bidang militer
Bidang kependudukan
Bidang pemetaan
Bidang meteorologi dan klimatologi

Data dapat dikumpulkan dengan berbagai macam peralatan tergantung kepada


objek atau fenomena yang sedang diamati. Umumnya teknik-teknik penginderaan jauh
memanfaatkan radiasi elektromagnetik yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek
yang diamati dalam frekuensi tertentu seperti inframerah, cahaya tampak, gelombang
mikro, dsb. Hal ini memungkinkan karena faktanya objek yang diamati (tumbuhan,
rumah, permukaan air, udara dll) memancarkan atau memantulkan radiasi dalam
panjang gelombang dan intensitas yang berbeda-beda. Metode penginderaan jauh
lainnya antara lain yaitu melalui gelombang suara, gravitasi atau medan magnet.
Cara yang digunakan untuk mengelola hasil interpretasi penginderaan jauh.
Data hasil interpretasi penginderaan jauh dapat berupa :
1. Potongan-potongan citra yang diinterpretasi
2. Kertas/plastik transparansi yang digunakan untuk interpretasi
Tujuan dari penanganan data interpretasi citra adalah untuk memelihara citra
atau plastik transparansi agar tidak tergores atau bahkan mengalami kerusakan sehingga
menyebabkan citra tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan interpretasi.
Cara sederhana untuk mengatur citra dengan baik ialah
a. menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan
menghadap ke atas,
b. mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan
dilaksanakan dan meletakkan kertas penyekat di antaranya,
c. meletakkan tumpukan citra sedemikian sehingga jalur terbang membentang dari
kiri ke kanan terhadap arah pengamat, sedapat mungkin dengan arah bayangan
mengarah ke pengamat,
d. meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding sebelah-menyebelah
dengan yang akan diinterpretasi, dan
e. pada saat citra dikaji, tumpukan menghadap ke bawah dalam urutannya
(Sutanto, 1992).

Cara penanganan data (data handling) interpretasi citra misalnya :


1. Menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan
menghadap ke atas

2. Mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan


dilaksanakan dan memberikan penyekat di antaranya

3. Meletakkan tumpukan citra hingga membentuk jalur terbang membentang


dari arah kiri ke kanan terhadap pengamat

4. Meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding di sebelah citra


yang akan diinterpretasi

5. Pada saat citra dikaji, tumpukkan menghadap ke bawah dalam urutannya.

TUGAS PENGINDERAAN JARAK JAUH KELAUTAN


PENANGANAN DATA INTERPRETASI CITRA

RIESKA PARAMITA N.P (G1F113024)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015