Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Emfisema tergabung dalam Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang merupakan salah satu
kelompok penyakit yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia.
Pada Survei Kesehatan Rumat Tangga (SKRT) 1986 emfisema menduduki peringkat ke-5
sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab kesakitan utama. SKRT DepKes RI
menunjukkan angka kematian karena emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab
tersering kematian di Indonesia. Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah orang yang menghisap rokok, dan pesatnya kemajuan industri.
Di negara-negara barat, ilmu pengetahuan dan industri telah maju dengan mencolok tetapi
menimbulkan pula pencemaraan lingkungan dan polusi. Ditambah lagi dengan masalah merokok
yang dapat menyebabklan penyakit bronkitis kronik dan emfisema.Di Amerika Serikat kurang
lebih 2 juta orang menderita .Emfisema menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang
dapat menimbulkan gangguan aktifitas. Emfisema terdapat pada 65% laki-laki dan 15% wanita.
Emfisema merupakan suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya
secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding
alveolus. Rokok adalah penyebab utama timbulnya emfisema paru. Biasanya pada pasien
perokok berumur 15-25 tahun. Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran
napas kecil dan fungsi paru. Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55
tahun terjadi sesak napas, hipoksemia, dan perubahan spirometri. Pada umur 55-60 tahun sudah
ada kor-pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan napas dan meninggal dunia.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu produsen dan konsumen rokok tembakau serta
menduduki urutan kelima setelah negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia, yaitu China
mengkonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat 451 miliar batang setahun,
Jepang 328 miliar batang setahun, Rusia 258 miliar batang setahun, dan Indonesia 215 miliar
batang rokok setahun. Kondisi ini memerlukan perhatian semua fihak khususnya yang peduli
terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.Atas dasar itulah, kami membahas lebih lanjut
mengenai emfisema yang merupakan salah satu bagian dari PPOK khususnya mengenai Asuhan
Keperawatan pada Klien Emfisema. Sehingga diharapkan perawat mampu memberikan asuhan
keperawatan yang tepat pada klien emfisema.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana konsep teori dari emfisema?
b. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan emfisema?
1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada klien dengan emfisema.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui dan memahami definisi emfisema.
b. Mengetahui dan memahami etiologi emfisema.
c. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada klien
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

dengan emfisema.
Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi emfisema.
Mengetahui dan memahami klasifikai emfisdema.
Mengetahui dan memahami patofisiologi emfisema.
Mengetahui dan memahami WOC dari emfisema.
Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan emfisema.
Mengetahui dan memahami komplikasi dari emfisema.
Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pasien dengan emfisema.

1.4 Manfaat
1. Bagi Institusi

Untuk memperbanyak dan memperluas ilmu pengetahuan khususnya pada mata kuliah
keperawatan medikal bedah sistem pernafasan dengan penyakit emfisema.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan masukan untuk dapat memberikan informasi tentang penderita penyakit
emfisema.
3. Bagi mahasiswa
Mahasiswa mampu membuat perencanaan asuhan keperawatan pada kasus emfisema

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Defenisi
Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru yang ditandai dengan pelebaran ruang
udara didalam paru-paru disertai destruksi jaringan (WHO).
Emfisema adalah gangguan yang berupa dinding alveolus mengalami kerusakan. Kerusakan
tersebut menyebabkan ruang udara terdistensi secara permanen. Aliran udara terhambat sebagai
hasil dari perubahan tersebut, bukan dari produksi mukus seperti yang terjadi pada bronkitis
kronis.
Emfisema sebagai salah satu bentuk penyakit paru obstruksi menahun, emfisema merupakan
pelebaran asinus yang abnormal, permanen, dan disertai destruksi dinding alveoli paru.

2.2 Etiologi
Merokok adalah resiko utama terjadinya PPOK. Sejumlah zat iritan yang ada didalam rokok
menstimulasi produksi mukus berlebih, batuk, merusak fungsi, silia, menyebabkan inflamasi
serta kerusakan bronkiolus dan dinding alveolus. Faktor resiko lain termasuk polusi udara,
perokok pasif, riwayat infeksi saluran nafas saat kanak-kanak, dan keturunan. Paparan terhadap
beberapa polusi industri di tempat kerja dapat meningkatkan risiko.

2.3 Manifestasi Klinis


a. Penampilan umum
Kurus, warna kulit pucat, dan flattened hemidiafragma.
Tidak ada tanda CHF kanan dengan edema dependen pada stadium akhir.
b. Usia 65-75 tahun
c. Pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Pada klien emfisema paru akan ditemukan tanda dan gejala seperti berikut :
Nafas pendek persisten dengan peningkatan dispnea
Infeksi sistem respirasi
Pada auskultasi terdapat penurunan suara nafas meskipun dengan nafas dalam
Wheezing ekspirasi tidak ditemukan dengan jelas
Produksi sputum dan batuk jarang
Hematokrit < 60%
d. Pemeriksaan jantung
Tidak terjadi pembesaran jantung. Korpulmonal timbul pada stadium akhir.
e. Riwayat merokok
Biasanya didapatkan, tetapi tidak selalu ada riwayat merokok.
2.4 Anatomi Fisiologi

Respirasi adalah suatu peristiwa ketika tubuh kekurangan oksigen (O2) dan O2 yang berada
diluar tubuh dihirup (inspirasi) melalui organ pernafasan. Pada keadaan tertentu tubuh kelebihan
karbon dioksida (CO2), maka tubuh berusahan untuk mengeluarkan kelebihan tersebut dengan
menghembuskan nafas (ekspirasi) sehingga terjadi suatu keseimbangan antara O2 dan CO2 di
dalam tubuh.
Bronkus lobaris atau bronkioli (cabang bronkus) merupakan cabang yang lebih kecil dari
bronkus. Pada ujung bronkioli terdapat gelembung paru atau alveoli. Bronkus mengadakan
pendekatan pada lobus bronkus. Seluruh gabungan otot menekan bagian yang melalui cabangcabang tulang rawan yang semakin sempit dan makin kecil yang disebut bronkiolus. Dari tiaptiap bronkiolus masuk kedalam lobus dan bercabang lebih banyak dengan diameter kira-kira 0,5
mm. bronkus yang terakhir membangkitkan pernafasan di paru. Pernafasan bronkiolus membuka
dengan cara memperluas ruangan pembuluh alveoli tempat terjadinya pertukaran udara antara
(oksigen dan karbon dioksida).
Pulmo (paru) adalah salah satu organ sistem pernafasan yang berada didalam kantong yang
dibentuk oleh pleura parientalis dan pleura viseralis. Kedua paru sangat lunak elastis, dan berada
dalam rongga torak. Sifatnya ringan dan terapung di dalam air.
5

Dari seluruh proses ventilasi paru faktor yang penting adalah kecepatan pembauran udara
dalam area pertukaran paru dan alveolus setiap menit oleh udara atmosfer (ventilasi alveolus),
sebagian besar udara inspirasi mengisi saluran pernafasan lebih besar, disebut ruang rugi yang
membrannya tidak dapat melakukan pertukaran gas yang berarti dengan darah.
Sistem ventilasi paru adalah terus menerus memperbaharui udara dalam area pertukaran gas
paru, ketika udara dan darah paru saling berdekatan. Termasuk area ini adalah alveoli, kantong
alveolus, duktus alveolaris dan bronkiolus. Kecepatan udara baru masuk ke area ini disebut
ventilasi alveolus.

2.5 Klasifikasi
Terdapat tiga tipe dari emfisema yaitu sebagai berikut :
a. Emfisema Centriolobular
Merupakan tipe yang sering muncul, menyebabkan kerusakan bronkiolus, biasanya pada
region paru atas. Inflamasi berkembang pada bronkiolus tetapi biasanya kantong alveolar
tetap tersisa.
b. Emfisema Panlobular (Panacinar)
Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan biasanya termasuk pada paru bagian
bawah. Bentuk ini bersama disebut centriacinar emfisema, sangat sering timbul pada
seorang perokok.
c. Enfisema Paraseptal
Merusak alveoli pada lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi dari blebs
sepanjang perifer paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumotorak
spontan. Panacinar timbul pada orang tua dan klien dengan defisiensi enzim alphaantitripsin. Pada keadaan lanjut, terjadi peningkatan dispnea dan infeksi pulmoner serta
sering kali timbul korpulmonal (CHF bagian kanan).

2.6 Patofisiologi
6

Emfisema merupakan kelainan atau kerusakan yang terjadi pada dinding alveolar. Dapat
menyebabkan overdistensi permanen ruang udara. Perjalanan udara terganggu akibat dari
perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya
destruksi dinding (septum) diantara alveoli, kolaps jalan nafas sebagian, dan kehilangan
elastisitas recoil. Pada saat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan diantara ruang
alveolar (blebs) dan diantara parenkim paru (bullae). Proses ini akan menyebabkan peningkatan
ventilator pada dead space atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah.
Kerja nafas meningkat dikarenakan kekurangan fungsi jaringan paru untuk melakukan
pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru.
Akibat lebih lanjutnya adalah penurunan perfusi oksigen dan penurunan ventilasi. Pada beberapa
tingkat emfisema dianggap normal sesuai dengan usia, tetapi jika hal ini timbul pada awal
kehidupan (usia muda), biasanya berhubungan dengan bronkitis kronis dan merokok.

2.7 WOC

Asap tembakau dan


polusi udara

Predisposisi genetic
(defesiensi alfa
antitripsin)

Faktor-faktor yang
tidak diketahui

Gangguan
pembersihan paruparu

Sekat dan jaringan


penyokong hilang

Seumur hidup

Peradangan bronkus
dan bronkiolus

Saluran nafas kecil


kolaps saat ekspirasi

Obstruksi jalan nafas


akibat peradangan

PLE asimptomatik
pada orang tua

PLE (enfisema
panlobular)

Dinding bronkiolus
melemah dan alveoli
pecah

Hipoventilasi
alveolar
Bronkiolitis kronis

CLE bronchitis
kronis

CLE danPLE

Salaruan nafas kecil


kolaps sewaktu ekspirasi

CLE (emfisema
sentriolonular)

2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan utama pada klien emfisema adalah meningkatkan kualitas hidup,
memperlambat pekembangan proses penyakit, dan mengobati obstruksi saluran nafas agar tidak
terjadi hipoksia. Pendekatan terapi mencakup :

Pemberian terapi untuk meningkatkan ventilasi dan menurunkan kerja nafas


Mencegah dan mengobati infeksi
Teknik terapi fisik untuk memperbaiki dan meningkatkan ventilasi paru
Memelihara kondisi lingkungan yang memungkinkan untuk memfasilitasi pernafasan

yang adekuat
Dukungan psikologis dan
Edukasi dan rehabilitasi klien

Jenis obat yang diberikan berupa :

Bronkodilators
Terapi aerosol
Terapi infeksi
Kortikosteroit dan
oksigenasi

2.9 Komplikasi
a. Gangguan respirasi total
b. Infeksi sekunder
c. Payah jantung kanan
d. Pecahnya alveolus; dapat menimbulkan pneumothorax
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3. 1

Pengkajian

Pengkajian yang dapat dilakukan oleh perawat ketika menghadapi klien dengan gangguan
sistem pernafasan meliputi identitas, riwayat kesehatan, review system (head to toe), dan
pengkajian psikososial.
a. Identitas pasien meliputi : nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, umur, pekerjaan,
pendidikan, alamat, agama, suku bangsa, tanggal masuk rumah sakit, no register/MR,
serta penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Biasanya pasien dengan emfisema mempunyai kebiasaan merokok.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Biasanya klien mengeluhkan sesak nafas, batuk produktif, dan mengeluh nyeri pada
dada saat bernafas. Biasanya klien akan merasa cepat lelah saat beraktivitas.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Biasanya keluarga klien mengatakan ada riwayat penyakit emfisema.
c. Pemeriksaan fisik
1. TTV
Tingkat kesadaran : Biasanya tingkat kesadaran pasien compos mentis

coompertif.
Berat badan
Tekanan darah

: Biasanya berat badan pasien ada mengalami penurunan.


: Biasanya tekanan darah pasien meningkat yaitu 130/80

mmHg
Suhu
Pernafasan

: Biasanya suhu pasien meningkat yaitu 37C


: Biasanya pernafasan pasien tidak teratur dan bernafas

dengan frekuensi cepat yaitu 30 x/i


Nadi
: Biasanya pasien mengalami peningkatan denyut nadi

yaitu 102
2. Head to toe
Kepala
Mengamati bentuk kepala, adanya hematom/oedema, perlukaan.
Rambut
Biasanya warna rambut hitam, tidak berbau, rambut tumbuh subur, dan kulit

kepala bersih
Wajah
Biasanya tampak ekspresi wajah meringis karena nyeri pada dada.
10

Mata
Biasanya terdapat lingkaran hitam pada kelopak mata karena kurang tidur akibat
nyeri, mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva merah muda, sclera putih, pupil

isokor dan respon cahaya baik.


Hidung
Biasanya tidak ada tanda-tanda radang, nafas cuping hidung.
Mulut
Biasanya rongga normal, mukosa terlihat pecah-pecah, tonsil tidak ada

pembesaran.
Leher
Biasanya kelenjer getah bening, sub mandibula, dan sekitar telinga, tidak ada

pembesaran.
Dada/Thorak
Inspeksi
: biasanya tidak simetris kiri dan kanan, menggunakan otot bantu
pernafasan, mempunyai bentuk dada barrel chest (akibat dari udara yang
terperangkap).
Palpasi
: biasanya ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya
menurun.
Perkusi

: biasanya didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan

diafragma menurun.
Auskultasi
: biasanya didapatkan adanya bunyi napas ronkhi dan wheezing.
Jantung
Inspeksi
: biasanya ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi
: biasanya ictus cordis teraba 2 jari.
Perkusi
: biasanya bunyi redup
auskultasi
: biasanya irama jantung cepat
Perut/Abdomen
Inspeksi
: biasanya adanya perut datar
Auskultasi
: biasanya terjadi penurunan bising usus.
Palpasi
: tidak ada masa
Perkusi
: biasanya tidak kembung
Geniteorinaria
Biasanya keadaan dan kebersihan genetalia pasien baik.
Sistem integrumen
Biasanya terjadi perubahan pada kelembapan atau turgor kulit jelek.
Ekstermitas
Biasanya ada edema pada ekstermitas atas dan bawah, dan kekuatan otot lemah.
11

d. Pemeriksaan penunjang
Chest X-Ray
Dapat menunjukkan hyperinflation paru, flattened diafragma, peningkatan ruang

udara retrosternal, penurunan tanda vascular/bullae (emfisema).


Pemeriksaan Fungsi Paru
Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, menentukan abnormalitas fungsi
tersebut apakah akibat obstruksi atau restriksi, memperkirakan tingkat disfungsi,

dan mengevaluasi efek dari terapi.


Total Lung Capacity (TLC)
Meningkat pada bronkitis, berat dan biasanya pada asma, namun menurun pada
emfisema.
Kapasitas Inspirasi
Menurun pada emfisema
FEV1/FVC
Rasio tekanan volume ekspirasi (FEV) terhadap tekanan kapasitas vital (FVC).
Arterial Blood Gasses (ABGs)
Menunjukan proses penyakit kronis, sering kali PaO2 menurun dan PaO2 normal
atau meningkat, pH normal atau asidosis, alkalosis respiratori ringan sekunder

terhadap hiperventilasi.
Bronkogram
Dapat menunjukan dilatasi dari bronki saat inspirasi, kolaps bronkial pada
tekanan ekspirasi.
Darah Lengkap
Terjadi peningkatan hemoglobin.
Kimia Darah
Alpha 1-antitripsin kemungkinan kurang pada emfisema primer.
Sputum Kultur
Untuk menentukan adanya infeksi dan mengidentifikasi pathogen, sedangkan
pemeriksaan sitologi digunakan untuk menentukan penyakit keganasan atau

alergi.
Electrokardiogram (ECG)
Gelombang P pada leads II, III, dan AVF panjang, tinggi, dan aksis QRS vertikal.
Exercise ECG, Stress Test
12

Membantu dalam mengkaji tingkat disfungsi pernafasan, mengevaluasi


keefektifan obat bronkodilator, dan merencanakan/evaluasi program.

3. 2

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas b.d ketidaksamaan ventilasi perfusi.
2. Ketidakefektifan berihan jalan nafas b.d peningkatan produksi lender.
3. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.

3. 3

Intervensi Keperawatan NANDA NIC NOC


N

DIAGNOSA

O
1.

KEPERAWATAN
Gangguan

NOC
Respiratory status :

pertukaran gas b.d

ventilation

NIC
Airway management

Buka jalan nafas, gunakan teknik

chin lift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan pasien untuk

memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya

ketidaksamaan
ventilasi perfusi

Kriteria hasil :
-

Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi

pemasangan alat jalan nafas

dan oksigen yang

buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisiotrapi dada jika perlu
Keluarkan sekret atau suction
Auskultasi suara nafas , catat

adanya suara tambahan


Lakukan suctiond pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara
Atur intake untuk cairan

adekuat
Memelihara
keberersihan paru paru
dan bebas dari tanda
tanda di stress

pernafasan
Mendemonstrasikan

13

batuk efektif yang


bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan
sputum, mampu

Respiratory monitoring

Monitor rata rata, kedalaman,

irama, dan usaha respirasi


Catat pergerakan dada, amati

bernafas dengan

kesemetrisan, penggunaan otot

mudah, tidak ada


-

pursed lips)
Tanda tanda vital

mengoptimalkan keseimbangan
Monitor respirasi dan status o2

tambahan, retraksi otot

supraclavicular dan interkostan


Monitor suara nafas, seperti

dengkur
Monitor pola nafas : bradipena,

dalam rentang normal

takipenia, kussmaul,
hiperventilasi , cheyne stokes,

biot
Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot diafragma

(gerakan paradoksis)
Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan atau tidak adanya

ventilasi dan suara tambahan


Tentukan kebutuhan suction
dengan mengaukultasi crakles dan

ronkhi pada jalan nafas utama


Auskultasi suara paru setelah
tindakan untuk mengetahui
hasilnya.

14

2.

Ketidakefektifan

Respitory status :

bersihan jalan

ventilation

napas b.d

Krateria hasil:

peningkatan

produksi lendir

Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara

Airway suction

Pastikan kebutuhan oral/tracheal

suctioning
Auskultasi suara nafas sebelum

dan sesudah suctioning


Informasikan pada klien dan

keluarga tentag suctioning


Minta klien nafas dalam sebelum

suctin dilakukan
Berikan O2 dengan menggunakan

nafas yang bersih,


tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan

nasal untuk memfalistasisuksion

sputum), mampu
bernafas dengan
mudah, tidak ada
-

nasotrakeal
Guanakan alat yang steril setiap,

melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk istrhat dan

pursed lips)
Menunjukkan jalan

nafas dalam stelah keteter

nafas yang paten (klien

dikeluarkan dari nasotrakeal


Monitor status oksigen pasien

pasien
Ajarkan keluarga bagaimana cara

melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan

tidak merasa tercekik,


irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam
rentang normal, tidak
ada suara nafas
-

abnormal)
Mampu

oksigen apabila pasien


menenjukan
bradikardi,peningkatan suturasi

mengidentifikasikan

O2 dll

dan mencegah factor

Airway management
15

yang dapat

Buka jalan nafas, gunakan teknik

chinlift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan pasien untuk

memaksimalkan
Identifikasi pasien perlunya

menghambat jalan
nafas

pemasangan alat jalan namafas

buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisiotrapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batu

atau suvtion
Auskultasi suara nafas, catat

adanya suara tambahan


Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator biala perlu
Beriakan pelembab udara kassa

basah NACL lembab


Atur intake untuk
cairanmemgiptomalkan

3.

Ketidakseimbanga

Nutritional status :

n nutrisi kurang

food and fluid intake

dari kebutuhan

Kriteria hasil :

tubuh b.d anoreksia

dengan tujuan
Berat badan ideal
sesuai dengan tinggi

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
jumlah kalori dan nutrisi yang

Adanya peningkatan
berat badan sesuai

keseimbangan
Monitor respirasi dan status O2
Nutrition management :

dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk

meningkatkan intake fe
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan vitamin
16

badan
Mampu
mengidentifikasi

kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda

malnutrisi
Menunjukan

mengandung tinggi serat untuk

menelan
Tidak terjadi
penurunan berat badan

mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan

peningkatan fungsi
pengecapan dari

c
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan

ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana

membuat catatan makanan harian


Monitor jumlah nutrisi dan

kandungan kalori
Berikan informasi tentang

kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk

yang berarti

mendapatkan nutrisi yang


dibutuhkan
Nutrition monitoring

BB pasien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan berat

badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas

yang biasa dilakukan


Monitor interaksi anak atau orang

tua selama makan


Monitor lingkungan selama

makan
Jadwal pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
17

Monitor kulit kering dan

perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut

kusam dan mudah patah


Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total

protein, Hb, dan Ht


Monitor pertumbuhan dan

perkembangan
Monitor pucat, kemerahan dan

kekeringan jaringan konjungtiva


Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik apabila lidah dan

cativa oral,
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Emfisema tergabung dalam Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang merupakan salah satu
kelompok penyakit yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Emfisema merupakan suatu
perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara
18

bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus. Rokok adalah
penyebab utama timbulnya emfisema paru. Emfisema sebagai salah satu bentuk penyakit paru
obstruksi menahun, emfisema merupakan pelebaran asinus yang abnormal, permanen, dan
disertai destruksi dinding alveoli paru.

4.2 Saran
Untuk mencegah penyakit emfisema ini sebaiknya penderita dapat memperbaiki pola
kebiasaan dalam merokok, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Dan bagi perawat,
sebaiknya dapat memberikan asuhan keperawatan secara professional pada penderita emfisema.

DAFTAR PUSTAKA
Black, Joyce M & Jane Hokanson Hawks. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8-Buku 3.
Singapura : Elsevier.
Himawan, Sutisna. 1973. Patologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Penapasan.
Jakarta : Salemba Medika.
Syaifuddin. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC.
Delfieliza. 2012. Askep Pada Klien Dengan Emfisema.
https://delfielizablog.wordpress.com/2012/12/09/bab-i-pendahuluan-a-latar-belakang-emfisematergabung-dalam-penyakit-paru-obstruktif-kronik-yang-merupakan-salah-satu-kelompokpenyakit-yang-menjadi-masalah-kesehatan-di-indonesia-pada-survei-kes/ (10 Oktober 2016)

19