Anda di halaman 1dari 25

VENTILASI TAMBANG

MAKALAH

OLEH:

FARIZ RINALDY SUDRAJAT

D1101131037

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
FAKULTAS TEKNIK
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
ventilasi tambang yang berupa pertanyaan dan jawaban ini dengan baik dan
benar.Saya

ucapkan

terima

kasih

kepada

Bapak

Muhammad

Khalid

Syafrianto,ST,.MT selaku Dosen mata kuliah ventilasi tambang Fakultas Teknik


Universitas Tanjungpura yang telah memberikan tugas ini.
Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan saya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi
tambang.Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan baik dari segi isi maupun penulisan. Oleh sebab itu, saya berharap
adanya kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah yang telah
saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa kritik dan saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami oleh siapapun yang membacanya.
Demikian kata pengantar makalah ini saya ucapkan terima kasih.

Pontianak,12 Maret 2016

Fariz Rinaldy Sudrajat

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI .........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1-2
1.1 Latar belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan masalah................................................................................1
1.3 Tujuan...............................................................................................1-2
1.4 Metode penulisan.................................................................................2
1.5 Sistematika penulisan..........................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................3-21
2.1 Kebutuhan oksigen agar manusia dapat beraktivitas........................3-4
2.2 Pengertian mengenai udara tambang...................................................5
2.3 Pengendalian kualitas udara tambang............................................6-21
2.3.1 Perhitungan keperluan udara segar.....................................6-9
2.3.2 Kandungan oksigen dalam udara....................................10-11
2.3.3 Gas-gas pengotor dalam tambang..................................12-19
2.3.4 Pengendalian gas-gas pengotor tambang.............................20
2.3.5 Alat atau metode pendeteksi gas kotor tambang.................21
BAB III PENUTUP.............................................................................................22
3.1 Kesimpulan........................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................23

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Setiap makhluk hidup memerlukan udara segar yang mengandung oksigen
untuk bernafas agar kehidupannya tetap berlangsung .Pada udara segar tidak
semuanya mengandung oksigen melainkan 79 % Nitrogen dan 21 %
Oksigen.Kebutuhan oksigen setiap manusia berbeda-beda tergantung pada
lokasinya(dataran tinggi atau dataran rendah), serta aktivitas yang dilakukan,
dan lain-lain.Dari sinilah muncul perhitungan udara segar dimana pada
tambang bawah tanah perhitungan ini sangat diperlukan untuk membuat
desain ventilasi tambang.Selain itu perlu diketahui juga gas-gas pengotor pada
tambang yang perlu di antisipasi agar tidak membahayakan kehidupan pekerja
tambang.
1.2 Rumusan Masalah.
Berapa oksigen yang diperlukan manusia untuk melakukan aktivitas?
Bagaimana perhitungan keperluan udara segar?
Apa yang terjadi apabila manusia kekurangan asupan oksigen?
Apa saja gas-gas pengotor pada tambang?
Bagaimana sifat gas-gas pengotor tersebut?
Apa pengaruh gas-gas pengotor tersebut terhadap manusia?
Bagaimana cara mengendalikan gas-gas pengotor tersebut?
Apa saja alat atau metode yang digunakan untuk mendeteksi gas-gas
pengotor tersebut?
1.3 Tujuan.
Makalah ini dibuat untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan penulis secara
terperinci tujuan dari makalah ini:

1.Tujuan Umum.
Mengetahui gas yang diperlukan manusia untuk hidup dan gas-gas
yang berbahaya bagi manusia.
2.Tujuan Khusus.
Mengetahui keperluan udara segar serta dampak gas-gas pengotor
bagi manusia.
1.4 Metode Penulisan.
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan,penulis mencari
bahan dan sumber-sumber dari media massa elektronik yang berjangkauan
internasional yaitu,internet.
1.5 Sistematika Penulisan.
Pada makalah ini,akan dijelaskan mengenai kebutuhan oksigen agar
manusia dapat berkaktivitasserta gas-gas pengotor pada tambangbawah tanah
dimulai

dengan

masalah,rumusan

bab

pendahuluan.Bab

masalah,tujuan,metode

ini

meliputi

penulisan

latar

dan

belakang

sistematikan

penulisan.Dilanjutkan dengan bab ke dua yang berisi isi makalah.Bab berikutnya,


membahas mengenai kesimpulan dari makalah ini serta yang terakhir daftar
pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN
2

Udara segar yang dialirkan kedalam tambang bawah tanah akan


mengalami beberapa proses seperti penekanan atau pengembangan, pemanasan
atau pendinginan, pelembaban atau pengawalembaban. Oleh karena itu maka
volume, tekanan, kandungan energi panas dan kandungan airnya juga akan
mengalami perubahan. Ilmu yang mempelajari proses perubahan sifat-sifat udara
seperti temperatur dan kelembaban disebut psikrometri.
2.1

Sumber-Sumber Panas
Ventilasi digunakan untuk memenuhi persyaratan kenyamanan
kerja di tambang bawah tanah yang kelanjutannya dapat meningkatkan
efisiensi dan produksi. Panas dan kelembaban mempengaruhi manusia
dalam beberapa hal antara lain :

Menurunkan efisiensi

Mampu menimbulkan kecerobohan dan kecelakaan

Menyebabkan sakit dan kematian.


Setelah temperatur mencapai tingkat tertentu, seseorang akan

kehilangan efisiensinya, dan bila temperaturnya naik lagi maka dia akan
megalami gangguan fisiologi. Tubuh manusia memiliki keterbatasan
dalam menerima panas sebelum sistem metabolismenya berhenti.
Efisiensi kerja seseorang bergantung langsung kepada temperatur
ambient dan akan berkurang/menurun bila temperaturnya berada diluar
rentang 68 72 oF. hubungan antara efisiensi kerja dengan temperatur
efektif dapat dilihat pada gambar 16 berikut.
Dalam kondisi panas, tujuan ventilasi adalah mengeluarkan hawa
panas dan uap air dengan laju yang sesuai, sehingga temperatur dan
kelembaban udara yang dikondisikan memungkinkan pekerja juga
melepaskan panas tubuhnya saat bekerja. Kedua faktor tersebut (panas dan
kelembaban) harus dikondisikan secara bersamaan.

Gambar 16
Hubungan antara Efisiensi Kerja dan Temperatur Efektif
(Diktat ventilasi UNP, 2004)
Tubuh manusia bereaksi terhadap panas dan selalau mencoba untuk
mempertahankan suhunya sekitar 37 oC dengan cara mengeluarkan panas
melalui cara konveksi, radiasi dan evaporasi. Namun demikian tubuh
manusia akan menerima panas kembali begitu produksi metabolismenya
naik, atau menyerap panas dari lingkungannya, dan bisa juga kombinasi
kedua faktor tersebut. Sistem syaraf sentral akan selalu bereaksi untuk
menjalankan mekanisme pendinginan secara alamiah.
Akan tetapi, bila syaraf sentral tidak dapat bekerja karena satu
sebab dan lainnya, maka hal ini hal ini akan dapat menyebabkan sakit dan
kematian (lihat gambar 17 berikut);

Gambar 17
Reaksi Fisiologis Terhadap Panas
(Diktat ventilasi UNP, 2004)
Bila seseorang istirahat di dalam ruangan dengan kondisi udara
jenuh, maka batas kemampuannya untuk beradaptasi hanya akan mencapai
temperatur 90 oF (32 oC). namun bila ruangan tersebut dialiri udara dengan
kecepatam 200 fpm maka batas temperaturnya dapat naik hingga 95 oF
(35 oC). Sedangkan temperatur normal untuk seseorang dapat bekerja
dengan nyaman adalah 26 27 oC.
Perbedaan antara temperatur cembung kering dan cembung basah
menyatakan faktor kenyamanan di dalam udara lembab. Agar seseorang
dapat bekerja dengan nyaman di lingkungan udara dengan kelembaban
relatif 80 % diperlukan perbedaan td-tw sebesar 5 oF (2,8 oC).
Kecepatan aliran udara merupakan faktor utama dalam mengatur
kenyamanan lingkungan kerja. Kecepatan aliran udara sebesar 150 500
fpm ( 0,8 2,5 m/detik) dapat memperbaiki tingkat kenyamanan ruang
kerja yang panas dan lembab. Dalam menduga temperatur efektif dari
suatu kondisi td-tw

serta kecepatan aliran udara tertentu dapat

menggunakan grafik yang ditunjukkan pada gambar 18 berikut:

Gambar 18
Grafik Temperatur Efektif
2.1.1

Kompresi Adiabatik
Bila kolom udara menurun di dalam suatu vertikal shaft,
tekanannya akan menaik sesuai dengan beratnya. Hal ini akan
menyebabkan temperatur udara menaik dan prosesnya dianggap adibiatik
bila kandungan uap air tetap, aliran udara tidak akan mengalami gesekan,
dan tidak ada perpindahan panas antara udara dengan lingkungannya
(batuan). Sudah barang tentu hal ini tidak pernah terjadi di alam. Kenaikan
panas akibat autocompression sangat besar, sebagai contoh suatu
tambang emas di Afrika Selatan yang bekerja pada kedalaman 8.000 ft
(2438,8 m) menimbulkan autokompresi sebesar 1 juta Btu/menit (17.550

kw) atau memerlukan refrigerasi sebanyak 5.000 ton/hari. Secara teoritik,


bila udara standard sebanyak 100.000 cfm (47,19 m 3/det) dimasukkan
kedalam tambang bawah tanah sedalam 1.000 feet (304,8 m), maka
banyaknya refrigerasi yang dibutuhkan adalah:
ft3

lb

1.285 Btu

100.000 ------ X 0,075 --- X ------------- X 1.000 ft


menit

ft3

lb/1.000 ft

9.637 Btu/menit = 48,2 ton refrigerasi/hari (169,5 kw)


Begitu udara mengalir ke bawah vertikal shaft, tanpa ada
perpindahan panas antara vertikalshaft dengan udara luar dan tidak ada
penguapan, udara sebetulnya ditekan seperti bila kompresor menekan
udara. Temperatur udara kering naik 5,4 oF (3,02 oC) setiap perubahan
kolom udara 1.000 feet.
Setiap penurunan elevasi sebesar 778 feet, ekuivalen dengan
penambahan panas sebesar 1 Btu (0,252 kcal). Dan untuk udara kering,
perubahan temperatur cembung kering adalah : 1/(0,24 x 778) =
0,00535oF/ft (0,00983 oC/m) atau sama dengan 1 oF/187 ft (1 oC/102 m).
Aliran udara kebawah shaft akan menaikan temperatur dan bobot
isinya sesuai dengan kedalaman. Maka kebutuhan ventilasi

akan

meningkat dengan semakin dalamnya aktivitas penambangan. Faktor


lainnya dari kompresi adiabatik adalah kenaikan temperatur cembung
kering udara begitu mengalir melalui fan. Besarnya kurang lebih 0,45 oF
(0,25 oC) per 1 inchi air head statik. Fan yang biasa dipakai di tambang
bawah tanah mampu menekan hingga 10 inchi air head statik.
2.1.2

Peralatan Listrik Mekanik


Jumlah panas total yang dikeluarkan oleh peralatan listrik mekanik
ke udara tambang bawah tanah tergantung dari besarnya daya yang dipakai

dan bentuk kerja yang dilakukan. Peralatan yang banyak dipakai di


tambang bawah tanah adalah listrik, diesel, dan tekanan udara. Kesemua
jenis peralatan tersebut banyak menggunakan dayanya untuk mengatasi
masalah beban gesek dan rugi-rugi listrik yang akhirnya dikonversikan
menjadi bentuk panas.
Panas yang dihasilkan oleh peralatan diesel tambang bawah tanah
ekuivalen dengan sekitar 90 % dari nilai kalor bahan bakar yang
dikonsumsi. Angka ini relatif sama untuk berbagai kondisi kerja mesin,
baik dalam keadaan tidak berbeban maupun berbeban. Nilai kalor bahan
bakar solar adalah 140.200 Btu/gallon (9.334 kcal/liter). Untuk
kepentingan praktis nilai kalor solar sebesar 125.000 Btu/gallon (8.322
kcal/liter) sering dipakai.
Peralatan listrik, seperti substation atau trafo merupakan sumber
panas yang cukup berarti. Sekitar 4 % energinya keluar sebagai panas.
Pompa non-submersibel bisa mengeluarkan panas sebanyak 15 % dari
energi inputnya.
2.1.3

Aliran Panas Dinding Batu


Persamaan umum aliran panas melalui dinding dapat ditulis
sebagai berikut:
Q = kA.dt/dL
Dimana :

= panas yang dialirkan, Btu/jam

= luas daerah dinding yang mengeluarkan panas ft2

= konduktivitas panas, biasanya relatif tetap untuk


satu jenis batuan. Angkanya berbeda menurut
kandungan air dan susunan perlapisan, Btuin/ft2jamoF

dt

= perbedaan temperatur, oF

dL

= ketebalan batuan yang mengeluarkan panas, inchi

Karena aliran panas dari dinding merupakan satu-satunya sumber


panas yang masuk ke tambang, maka penentuan laju pengeluaran
panasnya secara vertikal & horizontal tidak dapat ditentukan secara teliti.
Dalam penentuan temperatur batuan biasanya batas kedalaman minimum
50 feet dianggap sebagai awal perhitungannya.Tabel 9 berikut memberikan
gambaran temperatur maksimum batuan induk pada berbagai tambang
dalam.
Tabel 9
Temperatur Maksimum Batuan Induk
Kedalaman
(ft)

Tambang

Temperatur
(oF
(oC

(m)
)

Kolar Gold Field India

11000

3353

152

66.7

South Africa

10000

3048

125-130

51.7-

Morro velho, Brazil

8000

2438

130

54.4

Nort

3530

1076

112

54.4

Hill,Australia

4000

1219

114

44.4

Great Britain

4100

1250

112.5

45.6

Bralorne.B.C. Canada

4000-6000

1219-1829

66-81

50.3

Kirkland Lake, Ont.

4000-6000

1219-1829

70-84

18.9-

Falconebridge

3000-4000

914-1219

67-96

27.2

Ont

7000-10000

2134-3048

99-128

21.1-

Lockerby Mine, Ont.

2000-5000

610-1524

54-78

28.9

6000

1829

73

19.4-

4000

1219

58

35.6

2000-10000

610-3048

60-138

37.2-

Lake Shore Mine, Ont.

4000

1219

140

53.3

Holinger Mine, Ont.

4500

1372

118

12.1-

Creighton Mine, Ont.

5200

1585

145-150

25.6

Superior, Arizona

4000

1219

140

22.8

Levark

Broken

Mine,

Borehild

(Inco),Ont
Garson Mine, Ont.

San Manuel, Arizona

3700

1128

73

14.4

Butte, Montana

15.6-

Ambrosia Lake, NM

1400

427

88

58.9

Brunswick Ni.12 New.

60.0

Brunswick, CA

47.8

Belle Isle Salt Mine,LA

60.865.6
60.0
22.8
31.1

2.1.4

Panas Dari Peledakan


Panas peledakan merupakan panas singkat yang akibatnya bisa
membuat lingkungan udara di front kerja menjadi relatif lebih panas dari
pada tempat sekitarnya. Oleh karena itu aliran udara dapat berbalik
kembali ke front kerja, tempat dimana peledakan baru saja terjadi.
Konsekuensinya debu akibat bongkaran batuan tidak terbawa keluar.
Hal lain yang mungkin juga terjadi dari aktivitas peledakan adalah
meningkatnya uap air di sekitar front kerja tersebut. Pada tabel 10 berikut
ditunjukkan nilai-nilai kalor dari berbagai macam bahan peledak:
Tabel 10.
Potensi Panas Dari Berbagai Jenis Bahan Peladak
Bahan Peledak

Btu/lb

Q
(kJ/kg)

Q
(kal/gram)

10

Nitroglycerin

2555

5943

1420

60 % Straight Dynamite

1781

4143

990

40 % Straight Dynamite

1673

3891

930

100 % Straight Gelatin

5219

5859

1400

75 % Straight Gelatin

2069

4812

1150

40 % Straight Gelatin

1475

3431

820

75 % Amonia Gelatin

1781

4142

990

40 % Amonia Gelatin

1439

3347

800

Semi Gelatin

1691

3933

940

AN-I-o 94.5/5.5

1601

3724

890

AN-FO 94.3/5.7

1668

3880

927

1979-2159

4603-5022

1100-1200

AN-AL-Water

2.2 Tabel Psikrometri


Penentuan sifat psikometri suatu udara pada kondisi tertentu disebut
titik keadaan (state point) dapat ditentukan ditemperatur cembung kering
dan cembung basah pada kondisi tekanan atmosfir tertentu. Perhitungan
sifat-sifat psikometri udara dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan hitungan tekanan uap jenuh berikut:
a. Tekanan uap jenuh pada td, Ps
17, 27td 552, 64
p s 0,18079 exp
inHg
td 395,14

17, 27td
kPa
t

237,3
d

p s 0, 6105exp

... (3.22)

b. Menentukan semua parameter pada titik keadaan (state point)


1) Tekanan uap
( p ps ')(td tw )
pv ps ' s
inHg
2800 1,3t w

pv ps ' 0, 000644 pb (td tw )kPa


pv ps ' 0, 00036( pb ps ')(td tw )inHg

(3.23)

2) Kelembaban relatif

11

pv
x100%
ps

. (3.24)
3) Kelembaban spesifik
pv
W 0, 622
pb pv
lb/lb (kg/kg) udara kering . (3.25)
4) Derajat kejenuhan
W
= x100%
Ws
... (3.26)
5) Volume spesifik

R.td
pa

ft3/lb(m3/kg) udara kering . (3.27)

6) Bobot isi udara (udara basah)


1
w= (W 1)lb / ft 3 (kg / m3 )
v
1,325
w
( pb 0,378 pv ')lb / ft 3
td
w

1
( pb 0,378 pv ')kg / m3
0, 287td

. (3.28)

7) Entalpi
h ha hv c p td W (h fg h1 )
h 0, 24td W (1060 0, 45td ) Btu / lb udara kering
h 1.005td W (2,5016 0, 001884td ) kJ / kg

(3.29)

2.3 Peralatan
Peralatan yang dipergunakan dalam praktikum instrument ventilasi
tambang, antara lain :
1. Mesin angin (fan), berfungsi sebagai alat penghebus maupun penghisap
udara.

12

Gambar 3.16. Mesin Angin


(Laboratorium Teknologi Pertambangan)
2. Wire Fleksible beserta rangkaiannya, berfungsi sebagai

media

penghembusan maupun pengisapan udara dalam jaringan ventilasi.

Gambar 3.17. Wire Fleksible


(www.rocvent_files.com)
3. Anemometer, berfungsi untuk mengukur kecepatan aliran udara, volume
udara, dan suhu di dalam tambang.

Gambar 3.18. Anemometer


(www.diytrade_files.com)
4. Sling Psycometric, dipergunakan untuk mengukur kelembaban udara di
dalam tambang.

13

Gambar 3.19. Sling Psycometric


(www.redirect.php)
2.4 Langkah Kerja
Prosedur kegiatan praktikum instrument ventilasi tambang adalah
sebagai berikut :
1. Menyiapkan seluruh peralatan yang akan dipergunakan.
2. Merangkai jaringan ventilasi tambang dengan menghubungkan antara
fan dengan wire flexible.
3. Mengukur kelembaban relative, temperatur kering dan temperatur basah
di sekitar jaringan vetilasi tambang dengan mengunakan sling
psycometry setiap jarak yang ditentukan
4. Mencatat data yang ditunjukkan oleh alat ukur sling psycometry.
5. Menghidupkan fan, kemudian melakukan pengukuran kecepatan aliran
udara yang dihembuskan pada penampang terowongan atau hose (atas,
tengah dan bawah) disetiap jarak yang ditentukan menggunakan
anemometer.
6. Mencatat data yang ditunjukkan oleh alat ukur anemometer.
7. Mematikan fan, setelah seluruh kegiatan pengukuran telah dilakukan.

2.5 Data Hasil Kegiatan


Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan beberapa data
antara lain :
Tabel 3.9. Pengambilan Data Kuantitas Udara

Poin

Jarak

(m)

V 2/3 H

V 1/2 H

(m/s)

(m/s)
Rerat

Rerat

Max

Min

Max

Min

10.9

10.0

10.49

0.00

0.00

Vrata-rata

(m/s)

(m2)

(m3/s)

14.27

74.89

0.000

5.245

0,5

9.36

8.65

9.009

0.00

0.00

0.000

4.505

14.27

64.31

14

3
4
5
6
7

1,0
1,5
2,0
2,5
3,0

8.74

6.82

1.06

0.59

5.77

3.85

3.98

1.93

2.88

0.84

2.00

1.14

7.783

9
10
11
12
13
14
15

3,5
4,0
4,5
5,0
5,5
6,0
6,5
1

1.92

2.44

2.02

1.11

0.85

1.01

0.62

0.65

0.57

0.87

0.48

0.65

0.45

2.32

0.97

3.10

1.95

4.308

1.86
4.814
2.961
1.866

2.16

2.03

1.41

1.74

0.67

2.015
1.722
1.210

3.414
2.341
1.538

1.14
1.579

0.65
8

0.833

1.288
2.236
0.983

1.92

1.22

0.75

2.98

2.38

0.99

0.30

1.535
0.990
2.685
0.647

1.557
1.139
2.461
0.815

0.59
0.821
0.617
0.684
0.552
1.650

14.27

61.50

14.27

48.74

14.27

33.42

14.27

21.96

14.27

22.22

14.27

16.26

14.27

35.13

14.27

11.63

14.27

0.39

0.40

0.15

0.71

0.30

0.39

0.33

2.53

0.94

2.89

2.26

0.494

0.658

9.388

14.27
0.278

0.447

6.386

14.27
0.513

0.598

8.538

14.27
0.364

0.458

6.540
15.41

1.743

1.696

9.090

6
23.22

16

1,5

2.529

2.583

2.556

9.090

17

2.24

1.77

2.012

2.43

2.34

2.389

2.200

9.090

19.99
15

18
19
20

2,5
3
3,5

1.64

1.27

1.36

0.59

1.35

1.08

7
1.460
0.983
1.219

2.15

1.50

1.52

0.73

1.19

0.47

9
14.94
1.828

1.644

9.090

1.127

1.055

9.090

9.587

0.833

1.026

9.090

9.321

Grafik Hubungan Vrata-rata terhadap Jarak


6.000
5.000
4.000

Grafik Hubungan Vratarata terhadap Jarak

V rata-rata (m/s) 3.000

Polynomial (Grafik
Hubungan Vrata-rata
terhadap Jarak)

2.000
1.000
0.000
0.000 10.000 20.000
Jarak (m)

16

Gambar. 3.20. Grafik Hubungan Vrata-rata terhadap Jarak pada Tunnel 1

Grafik Hubungan Debit terhadap Jarak


80.000
70.000
60.000
Grafik Hubungan Debit
terhadap Jarak

50.000
Debit (m3/s) 40.000

Polynomial (Grafik
Hubungan Debit
terhadap Jarak)

30.000
20.000
10.000
0.000
0 2 4 6 8 10121416
Jarak (m)

17

Gambar. 3.21. Grafik Hubungan Debit terhadap Jarak pada Tunnel 1

Grafik Hubungan Vrata-rata terhadap Jarak


3.000
2.500
Grafik Hubungan Vratarata terhadap Jarak

2.000
Vrata-rata (m/s) 1.500

Polynomial (Grafik
Hubungan Vrata-rata
terhadap Jarak)

1.000
0.500
0.000
0.000 5.000 10.000
Jarak (m)

18

Gambar. 3.22. Grafik Hubungan Vrata-rata terhadap Jarak pada Tunnel 2

Grafik Hubungan Debit terhadap Jarak


25.000
20.000
Grafik Hubungan Debit
terhadap Jarak

15.000
Debit (m3/s)

Polynomial (Grafik
Hubungan Debit
terhadap Jarak)

10.000
5.000
0.000
0 1 2 3 4 5 6 7
Jarak (m)

Gambar. 3.23. Grafik Hubungan Debit terhadap Jarak pada Tunnel 2

Tabel 3.10. Pengambilan Data Temperatur Efektif


19

Point

td

Tw

Vrata-rata

(0C)

(0C)

(m/s)

Jarak

30

28

5.245

30

27.5

4.308

30

27.5

2.341

30

28

1.557

30

28

2.461

30

28

0.658

30

28

0.598

30

28

0.458

30

28

1.696

10

30

27.5

2.200

11

30

27.5

1.055

Tabel 3.11. Pengambilan Data Sifat Psikometri Udara


td

tw

(0C)

(0C)

(%)

30

27.5

82

Tengah Tunnel 1

30

27

78

Belakang Tunnel 1

29

27

93

Adit Tunnel 1

30

28

86

Tengah Tunnel2

30

28

86

Adit Tunnel 2

Point

Keterangan

20

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia memerlukan oksigen agar proses respirasi sel terus berlangsung. Zat

sisa pernapasan berupa karbondioksida dan uap air yang akan dikeluarkan dari
tubuh.
Kapasitas paru-paru dapat diuraikan sebagai berikut.

1.
2.
3.
4.
5.

Udara tidal. Jumlah volume udaranya sebesar 500 ml.


Udara komplementer. Besar volume udaranya 1500 ml.
Udara suplementer. Besar volume udaranya sekitar 1500 ml.
Kapasitas Vital paru-paru besarnyakurang lebih 4000 ml.
Kapasitas Total paru-paru yaitu seluruh udara yang

dapat

ditampungoleh paru-paru.
Dari pernyataan di atas, maka dalam sekali bernafas manusia menghirup

sebanyak 500 ml udara.


Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari ; Nitrogen,
Oksigen, Karbondioksida, Argon dan Gas-gas lain
Perhitungan Keperluan Udara Segar ada 2 yaitu:

1. Atas dasar kebutuhan O2 minimum, yaitu 19,5 %.


2. Atas dasar nilai ambang batas maksimum CO2, yaitu 0,5%.
Dalam udara normal, kandungan oksigen adalah 21 % dan udara dianggap layak
untuk suatu pernafasan apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang dari 19,5
%.

21

Gas pengotor yang biasanya terdapat dalam tambang (CH4), Karbon Dioksida

(CO2), KarbonMonoksida(CO), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur Dioksida


(SO2),Nitrogen Oksida (NO2), dan gas-gas lainnya. (Bambang H., 2002):
pengendalian yang dilakukan terhadap pengotor gas pada tambang bawah tanah:

pencegahan, pemindahan, absorbsi, isolasi, pelarutan, dan penekanan.

DAFTAR PUSTAKA
http://sasastem.blogspot.co.id/2014/12/ventilasi-tambang-bawahtanah.htmldiakses tanggal 11 Maret 2016 pukul 19:00 WIB.
www.academia.edu/12846893/Proposal_TA_Ventilasi_Tambangdiakses tanggal
11 Maret 2016 pukul 19:05 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen diakses tanggal 11 Maret 2016 pukul 19:15
WIB.
http://rachmatrisejet.blogspot.co.id/2013/06/ventilasi-tambang.html diakses
tanggal 11 Maret 2016 pukul 20:00 WIB.
https://www.academia.edu/12072232/VENTILASI_TAMBANG diakses tanggal
12 Maret 2016 pukul 20:30 WIB.
http://infotambang.com/ventilasi-tambang-bawah-tanah-p333-86.htm diakses
tanggal 12 Maret 2016 pukul 20:40 WIB.
https://1902miner.wordpress.com/bfiabhfcbafhueceaj/ventilasi-tambang/ diakses
tanggal 12 Maret 2016 pukul 21:00 WIB.

22