Anda di halaman 1dari 4

SENYUMAN AIR MATA

Oleh Aqila

Aku menerawang jauh menembus rintik-rintik hujan dari bilik


aku telah melebur manjadi satu. Di sana tiada ego yang menjauhkan, hanya ada tali suci
jendela kamarku. Ada rasa rindu bercampur rasa perih bergumpal-gumpal di dada. Aku
kembali duduk di atas tempat tidur. Ku alihkan pandanganku ke sebuah foto.
....
Kapan cinta berbunga di dalam bulir air mata?
Cinta berbunga dalam bulir air mata, akan berbunga apabila antara kamu dan yang mengikat.
Cinta yang terbungkus dalam keimanan, mengungguli kekuatan akal dan logika. Itulah fitrah
cintaku padamu. Impianku hidup bersamamu!
....
Inilah kata-kata yang ingin aku sampaikan padamu. Namun, aku sudah terlambat, lebih
tepatnya aku tak mungkin menyampaikannya, desahku sembari memandangi foto seseorang.
Seseorang yang menjadi cinta pertamaku. Seseorang yang sudah 3 tahun terakhir ini mengisi
kesendirian hidupku. Seseorang itu bernama Fitrah Dinda.
12 Agustus 2008...
Mas Fadli! panggil seseorang.
Iya, ada apa? sapaku dengan bertanya.
Mas yang jadi ketua Forum Remaja Muslim kan? Ehm... aku mau daftar jadi anggota, bisa
nggak? tanya cewek itu.
Ya bisalah... kamu tinggal datang ke acara FRM Jumat besok, Nggak dipungut biaya ko!
Nama anti siapa? tanyaku.
Nama ana... Fitrah! jawabnya.
Nama yang cantik seperti orangnya! Astaghfirullah.. pikiran apa ini! batinku.
Ya sudah mas, Fitrah duluan... Assalamualaikum..., ucap Fitrah.
Waalaikumsalam...,jawabku.
Di taman kampus inilah...awal perkenalanku dengannya.

13 September 2008...
Hari ini.. aku nggak bertemu mas Fadli! Mas Fadli kemana, mbak? tanya Fitrah seusai
kegiatan FRM.
Fadli... lagi di kelas. Dia sakit! jawab Mira.
Mas Fadli sakit?! Ya Allah... Fitrah duluan ya, mbak! seru Fitrah yang langsung lari entah
kemana. Mira hanya bisa terpaku melihat sikap Fitrah yang seperti itu.
Di kelas...
Ruangan ini terasa sunyi senyap, hanya aku yang duduk dengan mata terpejam di dalamnya.
Aku mencoba merasakan rasa sakitku.
Mas Fadli nggak apa-apa?! seru seseorang yang langsung menyentuh keningku.
Astaghfirullahaladzim..! seruku terbangun. Ku dapati Fitrah dengan kerut kekhawatiran.
Mas sakit apa? Sudah makan? Sudah minum obat? Apa yang mas rasakan sekarang? tanya
Fitrah memburuku.
Cuma pusing, nggak perlu khawatir! jawabku.

Adik belikan teh hangat, ya? lanjut Fitrah.


Nggak perlu.., bantahku.
Nggak! Adik mau belikan teh hangat dulu! bantah balik Fitrah.
Tanpa aku sadari... dari peristiwa inilah aku mulai menyayanginya lebih dari adik.

4 Oktober 2008..
Hari ini ada baksos untuk anak yatim piatu. Kebetulan sekali salah satu relawannya adalah
Fitrah. Kini... aku sedang memperhatikan dia dari kejauhan, tampaknya dia sudah kelelahan.
Assalamualaikum... Fitrah capek? Sudah makan? Wajah kamu pucat? Kamu sakit?
tanyaku. Guratan kecemasan di wajahku mungkin sudah dilihat olehnya.
Adik cuma sakit maag! Bentar lagi juga sembuh kalau di buat aktifitas! bantah Fitrah. Aku
ragu akan hal itu, apalagi dengan wajahnya yang memucat. Tanpa pikir panjang, aku menarik
pergelangan tangannya untuk istirahat dari tepi jalan.
Astaghfirullahaladzim...maaf, mas sudah berani menggenggam jemari adik! seruku
tersadar.
Nggak apa-apa kok, mas! seru balik Fitrah.
Ya Allah... apa yang terjadi dengan degupan jantungku? Kenapa debarannya berbeda, saat
mas Fadli menggenggam jemariku? tanya Fitrah dalam hati.
26 Oktober 2008...
Cinta itu seperti cahaya yang mengalir manis di sela-sela hati. Sebenarnya.. apa yang telah
aku rasakan untuk Fitrah? Apa kau memang mencintainya atau sekedar rasa sayang kepada
seorang adik?
Fitrah bicara dengan siapa? tanya batinku setelah aku mendapati Fitrah dengan seorang
cowok berdiri di depan mushola kampus.
Cowok itu! Sepertinya aku kenal. Kenapa terlihat akrab sekali? tanyaku sekali lagi.
Ada rasa sakit dan kecewa yang tiba-tiba hinggap di hatiku. Mungkinkah ini yang dinamakan
cemburu?

17 November 2008....
Kali ini... aku sudah memastikan perasaanku untuknya. Aku mencintainya. Apakah aku harus
menyatakannya? Aku takut kalau dia tak memiliki perasaan yang sama, tapi mungkin saja
perasaan kita sama? Sepertinya ada kebimbangan untuk menjawab pertanyaan ini!
Nggak perlu bimbang! Dia juga suka sama kamu! seru Mira.
Kamu bisa baca pikiran aku? tanyaku. Mira hanya tersenyum.
Fitrah juga mencintaimu! Aku tahu ketika Fitrah langsung lari saat dia tahu kamu sakit.
Mungkin dia belum menyadarinya, tapi matanya sudah berbicara, jelas Mira.
Alhamdulillah..., desahku.
23 November 2008...
Hari ini.. aku menyatakan perasaanku. Sedikit gugup! Ya.. itu pasti! Tapi... daripada aku
pendam dan jadi penyakit, lebih baik aku menyatakannya.
Mas mau ngomong apa? tanya Fitrah membuyarkan pikiranku.
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim... Ana behibek! seruku. Aku bisa menebak jawabannya
pasti TIDAK! Terlihat dari ekspresi Fitrah yang terkejut dan sedikit kerut di alisnya..
Ehm... haah... Bismillaahir Rohmaanir Rohiim... Ana behibak! jawab Fitrah.
Ya Allah... akhirnya rasa sesak di dada ini sudah terobati. Alhamdulillah... Selang beberapa
bulan, aku memperkenalkan Fitrah ke keluargaku, terutama ibu. Ibuku menyetujui hubungan

ini. Kuliahku lancar dan pertengahan tahun 2009 ini.. aku sudah wisuda.

Di tahun 2010... aku mendapatkan berkah yang luar biasa. Aku bisa satu tempat kerja dengan
Fitrah. Kita sama-sama mengajar di Pesantren Darus Salam. Di tahun ini pulalah.. aku
beritikad untuk menjadikan Fitrah sebagai mukhrimku.
Adik sayang mas! ucap Fitrah berseri-seri.
Mas juga sayang adik! Adik kelihatannya bahagia. Memang ada apa? lanjutku.
Karena hubungan kita lancar sampai sekarang, mas! seru Fitrah. Aku juga tersenyum
bahagia. Rencananya tepat tanggal 1 Mei, aku akan melamarnya. Namun, akhir-akhir ini kau
sering ketakutan. Aku takut kehilangan Fitrah.
1 Mei 2010...
Aku tidak tahu, apa yang ingin Fitrah sampaikan?! Tapi, kedengarannya itu sangat penting.
Aku melihat dia bermuram durja duduk sendiri di taman. Hatiku semakin tak karuan.
Sebenarnya ada apa?
Abi dan umi berencana menjodohkan Fitrah, mas!seru Fitrah.
Fitrah dijodohkan dengan seorang ustadz lulusan dari Yaman. Namanya ustadz Abid! lanjut
Fitrah.
Fitrah sudah memperjuangkan hubungan kita, tapi abi tetap pada pendiriannya. Fitrah
sekarang harus bagaimana sekarang? tanya Fitrah yang mulai menangis.
Ya Allah..., desahku.
Fitrah seakan-akan jatuh dalam dua cinta, tak bisa menolak juga tak mau kehilangan! lanjut
Fitrah.
Aku tahu apa yang dia maksud! Fitrah tak mungkin mengecewakan abi dan uminya. Begitu
juga denganku, kalau aku diposisi Fitrah. Aku juga tak mungkin mengecewakan orang tuaku.
Di satu sisi, Fitrah juga tak ingin melepaskanku.
Astaghfirullah... Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Turuti permintaan orang tuamu, dik! Insya
allah..pilihan orang tuamu akan lebih baik dari aku.
Insya allah... dialah jodoh yang disiapkan oleh Allah SWT untuk adik dan dialah yang
sepadan untuk adik! Adik pasti akan bahagia dengannya! jelasku meski hati ini perih untuk
mengatakannya.
Mas nggak mau memperjuangkan hubungan kita?! seru Fitrah sedikit emosi.
Bukannya aku nggak mau, tapi aku nggak bisa menjadikanmu sebagai anak durhaka!
jawabku.
Aku tahu Fitrah kecewa mendengar pernyataan dariku. Aku juga terluka,Fitrah.... Tidak akan
ada orang yang mau merelakan kekasih hatinya untuk orang lain.

19 Juni 2010...
Aku melihat diriku memang tak berguna untuk Fitrah di depan cermin.
Ijab kabulnya pukul 09.00! Sekarang sudah 08.30, 30 menit lagi kekasihku pergi! Sebaiknya
aku berangkat sekarang, gumamku.
Benar dugaanku, rumah Fitrah sudah penuh dengan orang. Sekilas.. aku melihat calonnya,
dia memang tampan dan terlihat cerdas tak sebanding dengan diriku. Di satu sisi...
Di balik cadar, Fitrah diam-diam menitihkan air mata.
Bagaiman bisa seperti ini? Aku menikah dengan seseorang yang tak ku cintai! ucap Fitrah

lirih.
Melihat raut umi yang bahagia, aku tak tega untuk mengecewakannya! lanjut Fitrah. Tepat
pukul 09.00...
Saya terima nikah dan kawinnya Fitrah Dinda binti Muhammad Usman dengan maskawin
tersebut di bayar tunai, ucap Abid.
Ya Allah...,desahku menunduk dengan meneteskan air mata.
Setelah itu...
Aku menghampiri mereka. Raut wajahku yang terluka sudah terlihat oleh Fitrah. Aku
tersenyum manis sebisaku, walau sedikit memaksa.
Mas Abid, Fitrah boleh bicara sama mas Fadli sebentar? tanya Fitrah.
Dia teman adik, ya! Berarti teman mas juga, dong!? Ya..boleh! jawab Abid. Di taman..
Ini yang mas inginkan, bukan? tanya Fitrah. Aku hanya bisa diam.
Ini yang terbaik buat adik! seruku tersenyum walau menitihkan air mata.
Astaghfirullahaldzim... maafkan mas, dik! Mas telah menjadi pecundang dalam cinta kita.
Sampai sekarang, tak ada yang mampu menggantikan posisi adik di hati mas, desahku
dengan mendekap fotonya.