Anda di halaman 1dari 21

RESUME SKILL KELOMPOK 6

MATERI PERAWATAN PERI & NEONATOLOGI ,APGAR SCOR


, RESUSITASI

Azilu Fala Biba Rusda

201110330311031

Rinrin Faridah

201210330311026

Miratunnisa Azzahrah

201210330311041

Rachmad Faisyal

201210330311052

Raditya Kurnia.L

201210330311058

Rayyan

201210330311084

Harmas Novryan .F

201210330311095

Badlina Fitrianisa.Y

201210330311099

Silvia Aruma Lestari

201210330311104

Karis Akmal Hussin

201210330311125

Achmad Akbar Kusuma

201210330311150

Malika
Khalifan Utomo
Syamsul Amar Hidayat

201210330311171
201110330311159
201210330311014

Debby Rosyida

201210330311025

Arga Pratama

201210330311030

Abrisha Agung .W
Muhammad Aditya .U
Rifki Muhammad

201210330311050
201210330311074
201210330311076
1

Intan Terania

201210330311132

PERAWATAN PERINATAL DAN NEONATOLOGI ESENSIAL PADA SAAT LAHIR


KEWASPADAAN UMUM ( UNIVERSAL PRECAUTION )
Perawatan Perinatal Neonatologi
1.1. Definisi

Perinatal: Berkaitan dengan periode segera sebelum dan sesudah kelahiran. Periode
perinatal didefinisikan dimulai pada 20 sampai minggu ke-28 kehamilan dan berakhir
1 sampai 4 minggu setelah lahir.
Neonatus: Berkaitan dengan periode baru lahir, khususnya 4 minggu pertama setelah
lahir.
Neonatologi: Ilmu perawatan medis untuk bayi yang baru lahir.
Perawatan antenatal: Perawatan pada wanita hamil dan bayi yang belum lahir selama
kehamilan.
Intrapartum: Berkaitan dengan periode persalinan dan kelahiran.
Postpartum: Periode yang dimulai segera setelah kelahiran anak sampai selama sekitar
enam minggu.

1.2. Bagan
Perawatan Perinatal (WHO)

Tahap
Perawatan

Antenat
al

Intrapartu
m

Kontak
Ibu - Bayi

Postpartu
m

1.3. Tabel
a. Rekomendasi Praktek Perawatan Antenatal
Masalah
Nutrisi

Perawatan klinis

Perawatan psikososial

Rekomendasi
1. Asupan asam folat sebelum
kehamilan dan pada trimester
pertama.
2. Pemberian tablet besi hanya
pada indikasi, tingkat zat besi
yang lebih rendah dianggap
anemia
fisiologis
pada
kehamilan
3. Waspada setiap saat untuk
tanda-tanda penyimpangan dari
normal.
1. Mengurangi
jumlah
yang
direkomendasikan
dari
kunjungan antenatal untuk
wanita
dengan
kehamilan
normal
adalah
overmedicalization
dan
overhospitalization.
2. Mengurangi penggunaan rutin
pemeriksaan USG kehamilan
hanya untuk pada indikasi atau
sekitar 18 minggu.
3. Memahami sensitivitas dan
spesifisitas dari setiap tes yang
digunakan. Jangan melakukan
tes tanpa implikasi klinis yang
jelas.
1. Memberikan persiapan untuk
kehamilan,
kelahiran,
dan
menjadi orang tua. Merujuk ke
kelas pendidikan yang sesuai
atau memberikan informasi
yang diperlukan sebagai bagian
dari
perawatan.
Sertakan
sahabat pilihan wanita dalam
persiapan ini.
2. Memfasilitasi
penggunaan
rencana
kelahiran
dan
mengikuti mereka semaksimal
mungkin.
3

Pemberian makan bayi

3. Menilai faktor risiko psikososial


potensial
mungkin
mempengaruhi seorang wanita
dan keluarganya.
4. Memberikan
ibu
catatan
rumahan
kehamilan
dan
kelahiran mereka.
5. Memberikan informasi berbasis
bukti
bagi
wanita,
dan
mendorong partisipasi mereka
dalam pengambilan keputusan
tentang perawatan.
1. Mendorong menyusui sebagai
metode
pilihan
pemberian
makanan bayi.

b. Rekomendasi Praktek Perawatan Intrapartum


Masalah
Stage 1

Perawatan psikososial

Rekomendasi
1. Gunakan partograf untuk
mencatat dan memantau
kemajuan persalinan.
2. Minimalkan
jumlah
intervensi dalam persalinan;
terutama menghindari setiap
item yang tidak perlu ke
dalam vagina.
3. Meninggalkan penggunaan
cukur dan enema.
4. Mendorong ambulasi dalam
persalinan.
5. Gunakan stetoskop janin
untuk memantau jantung
janin.
6. Jangan membatasi cairan
selama
persalinan,
dan
memungkinkan
wanita
dengan persalinan normal
untuk
makan
makanan
ringan jika diperlukan.
1. Menyediakan
one-to-one
care selama persalinan, dan
tidak meninggalkan wanita
sendirian di persalinan.
2. Mendorong
pendamping
4

3.

4.

Stage 2

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Manajemen nyeri

1.

pilihan
wanita
untuk
menemaninya dalam proses
persalinan dan saat lahir.
Menyediakan doula dengan
tidak adanya orang yang
menemani.
Menghormati privasi dan
martabat perempuan setiap
saat
selama
kehamilan,
kelahiran,
dan
pascamelahirkan.
Gunakan posisi tegak pilihan
wanita untuk persalinan.
Hindari penggunaan posisi
terlentang untuk persalinan.
Gunakan
tempat
tidur
standar jika tempat tidur
dipilih untuk persalinan.
Jangan rutin melakukan
episiotomi (atau perineotomy
atau garis tengah sayatan).
Jangan rutin menjahit setiap
luka robek atau luka kecil:
laserasi
kecil
biasanya
dibiarkan
untuk
memperbaiki diri. Lakukan
penjahitan pada indikasi.
Jangan rutin melakukan
apapun pemeriksaan leher
rahim setelah melahirkan
kecuali ada bukti perdarahan.
Tingkat seksio sesaria harus
berkisar sekitar 5% sampai
15% dalam fasilitas apapun,
tergantung pada tingkat.
Gunakan
teknologi
sederhana yang tersedia
daripada teknik yang lebih
canggih.
Gunakan operasi caesar
metode Misgav Ladach
(Starr) bila memungkinkan.
Hindari penggunaan obatobatan
dalam
proses
persalinan. Manajemen nyeri
5

Sebaiknya
harus
menggunakan
metode
nonfarmakologi,
seperti
merubah
posisi,
pijat,
relaksasi,
pernapasan,
akupunktur, dan lain-lain.
2. Hindari analgesia epidural
sebagai
metode
rutin
manajemen nyeri. Pilih
spinal anestesi / epidural
dalam
preferensi
untuk
anestesi umum untuk operasi
caesar.
c. Rekomendasi Untuk Kontak Ibu-Bayi
Masalah
Kelahiran

Promosikan menyusui

Rekomendasi
1. Memberikan bayi ke perut
ibu
dan
segera
mengeringkannya.
2. Jaga kepala bayi tertutup
untuk
meminimalkan
kehilangan panas.
3. Potong tali pusat setelah
berhenti
berdenyut
sementara bayi dengan ibu,
dengan asumsi tidak ada
perdarahan yang signifikan
telah terjadi.
4. Mendukung
skin-to-skin
care ibu dan bayi selama
sekitar 2 jam pertama setelah
melahirkan dan sebanyak
mungkin selama periode
postpartum dan seterusnya.
1. Mendorong
pemberian
makan bayi saat bayi
menunjukkan
tanda-tanda
kesiapan, seperti perakaran,
air liur, gerakan mulut,
tangan di mulut dan gerakan
menuju payudara ibu. Jangan
memaksa pemberian makan
bayi
sampai
bayi
6

menunjukkan bahwa ia / dia


siap.
2. Jangan memisahkan bayi
dari ibu dalam beberapa jam
pertama setelah melahirkan.
Melakukan
semua
pemeriksaan penting dari
bayi normal pada tempat
tidur ibu daripada di meja
pemeriksaan terpisah.
3. Penundaan
pemeriksaan
yang tidak penting sampai
nanti. Lakukan pemeriksaan
penting dengan ibu dan bayi
bersama-sama;
misalnya,
menunda mandi selama
minimal 6 jam atau lebih.
4. Pada waktu yang tepat
setelah lahir, berikan vitamin
K, BCG, dan profilaksis
mata terhadap gonorhoe (di
mana
kondisi
lokal
mengindikasikan hal ini).
d. Rekomendasi Untuk Perawatan Postpartum

Masalah
Rekomendasi
Promosikan kontak ibu-bayi dan
1. Mendorong pemberian ASI
menyusui
eksklusif dan menghindari
suplementasi
bayi
dengan
pengganti air, glukosa, atau
ASI.
2. Menyediakan rawat gabung
untuk semua ibu dan bayi 24
jam sehari.
3. Mendorong kontak kulit kekulit selama postpartum tinggal
di rumah sakit dengan atau
tanpa menyusui.
Dukungan psikososial
1. Biarkan kunjungan anggota
keluarga pilihan perempuan
selama postpartum tinggal.
Pelepasan
1. Gunakan pendekatan yang
7

Keluarga berencana

fleksibel saat waktu pelepasan:


mengizinkan wanita untuk
menilai sendiri ketika mereka
siap untuk pulang.
2. Pastikan situasi rumah yang
memadai
dan
mendukung
sebelum pulang, dan mengatur
secara intensif tindak lanjut.
1. Pastikan bahwa saran keluarga
berencana disediakan sebelum
pulang.

Bayi Baru Lahir (BBL) sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan
atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa
saat setelah lahir. Beberapa mikroorganisme harus diwaspadai karena dapat ditularkan lewat
percikan darah dan cairan tubuh misalnya virus HIV, Hepatitis B dan Hepatitis C. Sebelum
menangani BBL, pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi
berikut:
Persiapan Diri
Sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi, cuci tangan dengan sabun kemudian
keringkan
Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
Persiapan Alat
Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, alat-alat
resusitasi dan benang tali pusat telah di desinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau sterilisasi.
Gunakan bola karet pengisap yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lendir
dengan alat tersebut. Jangan menggunakan bola karet pengisap yang sama untuk lebih dari
satu bayi. Bila menggunakan bola karet pengisap yang dapat digunakan kembali, pastikan
alat tersebut dalam keadaan bersih dan steril. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan
kain yang digunakan untuk bayi sudah dalam keadaan bersih dan hangat. Demikian pula
halnya timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lain yang akan
bersentuhan dengan bayi, juga bersih dan hangat. Dekontaminasi dan cuci semua alat setiap
kali setelah digunakan
Persiapan Tempat
Gunakan ruangan yang hangat dan terang, siapkan tempat resusitasi yang bersih, kering,
hangat, datar, rata dan cukup keras, misalnya meja atau dipan. Letakkan tempat resustasi
dekat pemancar panas dan tidak berangin, tutup jendela dan pintu. Gunakan lampu pijar 60
watt dengan jarak 60 cm dari bayi sebagai alternatif bila pemancar panas tidak tersedia.
PENILAIAN AWAL
Untuk semua BBL, lakukan penilaian awal dengan menjawab 4 pertanyaan:
Sebelum bayi lahir:
Apakah kehamilan cukup bulan?
Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
8

Segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang telah
disiapkan pada perut bawah ibu, segera lakukan penilaian berikut:
Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap?
Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?
Dalam Bagan Alur Manajemen BBL dapat dilihat alur penatalaksanaan BBL mulai dari
persiapan, penilaian dan keputusan serta alternatif tindakan yang sesuai dengan hasil
penilaian keadaan BBL. Untuk BBL cukup bulan dengan air ketuban jernih yang langsung
menangis atau bernapas spontan dan bergerak aktif cukup dilakukan manajemen BBL
normal.
Jika bayi kurang bulan (< 37 minggu/259 hari) atau bayi lebih bulan ( 42 minggu/283 hari)
dan atau air ketuban bercampur mekonium dan atau tidak bernapas atau megap-megap dan
atau tonus otot tidak baik lakukan manajemen BBL dengan Asfiksia.

10

11

12

Mekanisme Kehilangan Panas


BBLdapat kehilangan panas tubuhnya melalui cara-cara berikut:
Evaporasi adalah kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada permukaan
tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri. Hal ini merupakan jalan utama bayi kehilangan
panas. Kehilangan panas juga terjadi jika saat lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan
atau terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti.
Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya
lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme
konduksi apabila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut.
Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar
yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin
akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika ada aliran
udara dingin dari kipas angin, hembusan udara dingin melalui ventilasi/pendingin ruangan.
Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat bendabenda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi dapat kehilangan panas
dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun
tidak bersentuhan secara langsung).

Mekanisme Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir


Sumber: WHO/RHT/MSM/97-2E
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut:
Ruang bersalin yang hangat
Suhu ruangan minimal 25C. Tutup semua pintu dan jendela.
13

Keringkan
tubuh
bayi
tanpa
membersihkan
verniks
Keringkan bayi
mulai
dari
muka, kepala
dan
bagian tubuh
lainnya kecuali
bagian tangan
tanpa
membersihkan verniks. Verniks akan membantu menghangatkan tubuh bayi. Segera
ganti handuk basah dengan handuk atau kain yang kering.
Letakkan bayi di dada atau perut ibu agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi
Setelah tali pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di dada atau perut ibu. Luruskan
dan usahakan ke dua bahu bayi menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala
bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi sedikit lebih rendah dari puting
payudara ibu.
Inisiasi Menyusu Dini (lihat bagian Inisiasi Menyusu Dini halaman 10)
Gunakan pakaian yang sesuai untuk mencegah kehilangan panas
Selimuti tubuh ibu dan bayi dengan kain hangat yang sama dan pasang topi di kepala bayi.
Bagian kepala bayi memiliki permukaan yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat
kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Lakukan penimbangan setelah satu jam kontak kulit ibu ke kulit bayi dan bayi selesai
menyusu. Karena BBL cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya (terutama jika tidak
berpakaian), sebelum melakukan penimbangan, terlebih dulu selimuti bayi dengan kain
atau selimut bersih dan kering.
Berat bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian atau diselimuti
dikurangi dengan berat pakaian atau selimut.
Bayi sebaiknya dimandikan pada waktu yang tepat yaitu tidak kurang dari enam
jam setelah lahir dan setelah kondisi stabil. Memandikan bayi dalam beberapa jam
pertama setelah lahir dapat menyebabkan hipotermia yang sangat membahayakan
kesehatan BBL.
Rawat Gabung
Ibu dan bayi harus tidur dalam satu ruangan selama 24 jam. Idealnya BBL
ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya. Ini adalah cara yang paling
mudah untuk menjaga agar bayi tetap hangat, mendorong ibu segera menyusui
bayinya dan mencegah paparan infeksi pada bayi.
Resusitasi dalam lingkungan yang hangat
Apabila bayi baru lahir memerlukan resusitasi harus dilakukan dalam lingkungan
yang hangat.
Transportasi hangat
Bayi yang perlu dirujuk, harus dijaga agar tetap hangat selama dalam perjalanan.
Pelatihan untuk petugas kesehatan dan Konseling untuk keluarga

14

Meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan keluarga tentang hipotermia meliputi


tanda-tanda dan bahayanya
Memotong dan Mengikat Tali Pusat
Klem, potong dan ikat tali pusat dua menit pasca bayi lahir. Penyuntikan
oksitosin pada ibu dilakukan sebelum tali pusat dipotong.
Lakukan penjepitan ke-1 tali pusat dengan klem logam DTT 3 cm dari dinding perut
(pangkal pusat) bayi. Dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan dua jari kemudian
dorong isi tali pusat ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan
pemotongan tali pusat). Lakukan penjepitan ke-2 dengan jarak 2 cm dari tempat
jepitan ke-1 ke arah ibu.
Pegang tali pusat di antara kedua klem tersebut, satu tangan menjadi landasan tali
pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat di antara kedua
klem tersebut dengan menggunakan gunting DTT atau steril.
Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan
kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya
Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan masukkan ke dalam larutan klorin 0,5%.
Letakkan bayi tengkurap di dada ibu untuk upaya Inisiasi Menyusu Dini.
APGAR SKOR
Apgar Score merupakan alat untuk menilai kondisi bayi sesaat setelah lahir meliputi
lima variabel yaitu frekuensi jantung (heart rate), usaha nafas (respiratory effort), tonus
otot (muscle tone), warna kulit (colour), dan reaksi terhadap rangsangan (respon to
stimuli), setiap penilaian diberi angka 0, 1 dan 2.
Apgar score dilakukan pada:
a. 1 menit kelahiran, yaitu untuk memberi kesempatan pada

bayi untuk memulai

perubahan.
b. Menit ke-5
c. Menit ke-10
Prosedur penilaian Apgar score
Pastikan Pencahayaan baik
Catat waktu kelahiran, nilai Apgar pad 1 menit pertama dengan cepat dan stimultan,

jumlahkan hasilnya.
Lakukan tindakan dengan cepat dan tepat sesuai dengan hasilnya.
Ulangi pada menit ke-5
Ulangi pada menit ke-10
Dokumentasikan hasil dan lakukan tindakan yang sesuai.

Nilai Apgar

15

Tanda

Appearance

Nilai
0

Seluruhnya biru

Warna kulit tubuh


normal
merah
muda,
tetapi
tangan dan kaki
kebiruan
(akrosianosis)

Warna

kulit

tubuh,

tangan

dan kaki normal


merah
tidak

muda,
ada

sianosis

Pulse

Tidak ada

<100 kali/menit

>100 kali/menit

Grimace

Tidak ada respon Meringis/menangi Bersin/batuk saat


terhadap stimulasi s lemah ketika stimulasi saluran
distimulasi
nafas

Activity

Lemah/tidak ada

Sedikit gerakan

Respiration

Tidak ada

Lemah/
teratur

Bergerak aktiv

tidak Menangis

kuat,

pernafasan baik
dan teratur

Perlu segera diperiksa di kamar bersalin adalah apakah bayi beradaptasi dengan bak
atau membutuhkan resusitasi. Bayi yang mungkin memerlukan resusitasi adalah bayi yang
lahir dengan pernafasan tidak adekuat, tonus otot kurang, ada mekonium di dalam cairan
16

amnion atau lahir kurang bulan. Nilai Apgar masih dipakai untuk melihat keadaan bayi pada
usia 1 menit atau 5 menit, tetapi tidak dipakai untuk menentukan apakah BBL perlu resusitasi
atau tidak. Nilai Apgar 5 menit dapat untuk menentukan prognosis.
Tabel Cara Menentukan Nilai APGAR
Tanda
Laju Jantung
Usaha Bernafas
Tonus Otot

0
Tidak ada
Tidak ada
Lumpuh

1
< 100
Lambat
Ekstremitas

2
100
Menangis kuat
Fleksi Gerakan aktif

Rafleks
Warna Kulit

sedikit
Tidak Bereaksi
Gerakan sedikit
Gerakan Melawan
Seluruh
Tubuh Tubuh
kemerahan, Seluruh
tubuh

Biru/pucat
ekstremitas biru
kemerahan
Sumber : American Academy of Pediatrics, American College of Obstetricans and
Gynecologists
Nilai ini disebut nilai Apgar, sesuai dengan orang yang pertama kali memperkenalkan sistem
penilaian ini, yakni Dr. Virginia Apgar.
Pada tahun 1952 dr. Virginia Apgar mendisign sebuah metode penilaian cepat untuk menilai
keadaan klinis bayi baru lahir pada usia 1 menit. Yang ditandai terdiri dari atas 5 komponen
yaitu frekuensi jantung, usaha bernafas, tonus otot, refleks pada rangsangan, dan warna kulit.
Nilai Apgar masih tetap digunakan untuk mengetahui keadaan bayi baru lahir dan respon
terhadap resusitasi.
Perlu didasari keterbatasan dari penilaian Apgar. Nilai Apgar adalah suatu ekspresi keadaan
fisiologis BBL dan dibatasi oleh waktu. Gangguan Biokimia harus cukup signifikan sehingga
dapat mempengaruhi nilai Apgar. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai Apgar, yaitu
antara lain adalah pengaruh obat-obatan, trauma lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia,
hipovolemia, dan kelainan prematur. Komponan lain selain tonus otot, warna kulit, refleks
pada perangsangan, sebagaian bergantung pada kematangan bayi. Bayi prematur tanpa
asfiksia dapat saja mendapat nilai Apgar yang rendah.
Nilai Apgar dapat digunakan untuk menilai respon resusitasi. Nilai Apgar yang dinilai pada
resusitasi tidak sama dengan nilai Apgar pada bayi baru lahir yang bernafas spontan. Nilai
Apgar yang diperluas dengan menyatakan tindakan resusitasi akan memberikan informasi
untuk meningkatkan pelayanan neonatal.

17

RESUSITASI
Resusitasi neonatus merupakan suatu prosedur yang diaplikasikan untuk neonatus
yang gagal bernafas secara spontan. Sebuah sistem yang menjelaskan status klinis
neonatus

diperlukan

untuk

mengevaluasi

hasil

akhir

persalinan

dan

untuk

mendokumentasikan respon terhadap resusitasi. Untuk menentukan kebutuhan bayi


terhadap resusitasi, tiga tanda apgar skor sangat penting, yakni pernafasan, warna, dan
denyut jantung. Semua neonatus harus diobservasi secara ketat selama jam pertama
kehidupan.
PERSIAPAN DAN CARA RESUSITASI
Persetujuan tindakan medik
a. Siapa ayah/wali pasien, sebutkan bahwa anda petugas yang diberi wewenang untuk
b.
c.
d.
e.

menjelaskan tindakan pada bayi.


Jelaskan tentang diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi asfiksia neonatal.
Jelaskan bahwa tindakan klinik juga mengandung resiko.
Pastikan ayah/wali pasien memahami berbagai aspek tersebut diatas.
Buat persetujuan tindakan medik, simpan dalam catatan medik.
1. PERSIAPAN RESUSITASI
a. Persiapan keluarga
Sebelum menolong persalinan, bicarakan dengan keluarga mengenai
kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu dan bayinya serta persiapan yang dilakukan
oleh penolong untuk membantu kelancaran persalinan dan melakukan tindakan yang
diperlukan.
b. Persiapan tempat resusitasi
Gunakan ruangan yang hangat dan terang. Tempat resusitasi hendaknya
rata,keras, bersih dan kering, misalnya meja, dipan atau diatas lantai beralas tikar.
Kondisi yang rata diperlukan untuk mengatur posisi kepala bayi. Tempat resusitasi
sebaiknya di dekat sumber pemanas (misalnya: lampu sorot) dan tidak banya tiupan
angin (jendela atau pintu yang terbuka). Biasanya digunakan lampu sorot atau bohlam
berdaya 60 watt atau lampu gas minyak bumi (petromax). Nyalakan lampu menjelang
kelahiran bayi.
c. Persiapan alat resusitasi
Persiapan yang diperlukan meliputi ruang bersalin dan tempat resusitasi.

18

d. Peralatan untuk mengisap lendir :


Bulb syringe
Kateter pengisap (ukuran 5 atau 6,8,dan 10 Fr)
Aspirator mekonium
Pengisap dan pipa mekanik
Pipa lambung ukuran 8 Fr dan spuit 20 cc
Peralatan balon dan sungkup resusitasi
Balon resusitasi bayi yang mampu memberikan oksigen 90-100% dan mempunyai
katup pelepas tekanan/alat ukur tekanan.
Oksigen dengan pengukuran aliran dan selang.
Sungkup/masker wajah dengan pinggiran bantalan untuk ukuran bayi cukup bulan dan
prematur.
Kateter nasal (nasal prongs/kanul nasal).
Oral airway, ukuran bayi cukup bulan dan prematur.
e. Peralatan inkubasi
Laringoskop dengan daun lurus, ukuran 00 (sangat prematur), 0 (prematur), dan 1
(neonatus cukup bulan)
Bola lampu dan baterai cadangan untuk laringoskop
Pipa ET (ukuran 2,5;3;3,5 dan 4,0 mm)
Gunting
Sarung tangan
2. LANGKAH RESUSITASI
Tempatkan bayi di bawah pemanas radian /infant warmer
Letakkan bayi terlentang pada posisi setengah tengadah untuk membukajalan nafas.
Sebuah gulungan handuk diletakkan dibawah bahu untuk membantu mencegah fleksi
leher dan u
Bersihkan jalan nafas atas dengan mengisap mulut terlebih dahulu kemudian hidung,
dengan menggunakan blub syringe, alat pengisap lendir, atau kateter pengisap.
Perhatikan untuk menjaga bayi dari kehilangan panas setiap saat. Catatan : pengisapan
dan pengeringan tubuh dapat dilakukan bersamaan bila air ketuban bersih dari
mikonium.
Pengisapan yang kontinyu dibatasi 3-5 detik pada satu pengisapan. Mulut diisap
terlebih dahulu untuk mencegah aspirasi.
Pengisapan lebih agresif hanya boleh dilakukan jika terdapat mekonium pada jalan
nafas (kondisi ini dapat mengarah ke bradikardia). Bila terdapat mekonium dan bayi
tidak bugar, lakukan pengisapan dari trakea.
Keringkan, stimulasi, ganti kain yang basah dengan kain yang kering, dan reposisi
kepala.
Tindakan yang dilakukan sejak bayi lahir sampai reposisi kepala dilakukan tidak lebih
dari 30 detik.
Menilai pernafasan,jika bayi mulai bernafas secara teratur dan memadai, periksa denyut
jantung. Jika denyut jatung > 100 Kali/menit dan bayi tidak mengalami sianosis,
hentikan resusitasi. Akan tetapi, jika sianosis, ditemui, berikan oksigen aliran bebas.
19

f. Perawatan Lanjutan
Catat nilai afgar untuk menit ke-1 dan ke-5 dalam rekam medik.
Jika bayi memerlukan asuhan intensif, rujuk ke rumah sakit terdekat yang memiliki
kemampuan memberikan dukungan neonatus.
Jika bayi dalam keadaan stabil, pindahkan ke ruang neonatal untuk dipantau dan
ditindaklanjuti.
Di ruang neonatal, ikuti panduan asuhan neonatus normal untuk pemeriksaan fisik dan
tindakan profilaksis. Selain itu, monitor secara ketat tanda vital, sirkulasi, ferfusi,
status neurologic, dan jumlah urui, serta pemberian minum ditunda disesuaikan
kondisi. Sebagai ganti pemberian minumsecara oral, berikan glukosa 10 % intravena.
Uji laboratoriu, seperti analisis darah, glukosa, dan hematokrit
Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut :
Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif.
Ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab
Pasien dinyatakan mati
Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam
stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir
dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu sesudah 1 jam terbukti
tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP.

Daftar Pustaka
1. Beck D, Ganges F, Goldman S, Long S, 2004. Care Of The Newborn:
ReferenceManual, Saving Newborn Live, Save The Children, KINETIK, Washington,
DC
20

2. Depkes RI, 2008. Asuhan Persalinan Normal: Asuhan esensial, pencegahan dan
penanggulangan segera komplikasi persalinan dan bayi baru lahir. Jakarta
3. WHO, 2006. Essential Newborn Care Course Training Manual. WHO Geneva
4. Nanny Lia Dewi, Vivian, S. ST. Dan Sunarsih, Tri, S. ST. Asuhan Kehamilan Untuk
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika; 2011. h. 118-27.
5. Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta;
2003. h. 11.
6. Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta;
2005.
7. Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT
Rineka Cipta; 2009.
8. American Academy of Pediatrics, American College of Obstetricans and
Gynecologists. The Policy statement: the Apgar score. Pediatrics 2006; 117 (4) :
1444-7.
9. Karlsen K. The S.T.A.B.L.E program, post-resuscitation / pre-transport stabilization
care of sick infants. Utah: March of Dimes; 2006.
10. Perlman JM, Wyllie J, Kattwinkel J, Atkins DL, Chameides L, Goldsmith JP, et al.
Part 11: Neonatal rescucitation: 2010 International consesnsus on cardiopulmonary
rescucitation and emergency cardiovascular care science with treatment
recommendations. Circulation. 2010;122:516-38.
11. The Royal Womens Hospital. Intensive and special care nurseries, clinicians
handbook. Melbourne: The Royal Womens Hospital; 2007.
12. Das UG, Leuthner SR. Preparing the neonate for trasnport. Pediatr Clin North Am.
2004;51:581-98.
13. Wang CL, Anderson C, Leona TA, Rich W, Govindaswami B, Finer NN.
Resuscitation of preterm neonates by using room air or 100% oxygen. Pediatrics.
2008;121:1083-9.
14. Vento M, Moro M, Escrig R, Arruza L, Villar G, Izquierdo I. Preterm resuscitation
with low oxygen causes less oxidative stress, inflammation, and chronic lung disease.
Pediatrics. 2009;124:439-49.
15. Ringer S A. Rescucitation in the Delivery Room. Dalam: Cloherty J P, Eichenwald
EC, Stark A R. Manual of Neonatal Care edisi ke 6. Philadelphia: Lippincott William
and Wilkins;2008:59-71.
16. Salhab WA, Wyckoff MH, Laptook AR, Perlman JM. Initial hypoglycemia and
neonatal brain injury in term infants with severe fetal acidemia. Pediatrics.
2004;114:361-6.

21