Anda di halaman 1dari 23

Makalah Zoonosis

SISTISERKOSIS/TAENIASIS

OLEH:
NAMA : ELPHAN AUGUSTA
NIM : O111 12 253

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

Kata Pengantar

Assalamualaikum wr.wb,
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmat dan ridho-Nya makalah tentang Sistiserkosis dapat tersusun setelah mengalami
beberapa kali perbaikan. Pengetahuan kita akan wawasan memang sangat perlu untuk kita
ketahui mengingat dengan bidang yang akan kita pelajari nantinya yaitu Mata Kuliah
Zoonosis. Semoga ilmu pengetahuan dan informasi yang terkandung di dalam makalah ini
dapat menambah wawasan bagi pembaca. Apabila terdapat salah kata atau pengetikan kami
minta maaf karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kesalahan hanya milik kami.
Wassalamualaikum wr.wb.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

1.2

Rumusan Masalah

1.3

Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Definisi Penyakit Sistiserkosis

2.2

Etiologi Penyakit Sistiserkosis

2.3

Tanda dan gejala Penyakit Sistiserkosis

2.4

Cara Penularan Penyakit Sistiserkosis

2.5

Pengobatan Penyakit Sistiserkosis

2.6

Pencegahan Penyakit Sistiserkosis

BAB III PEMBAHASAN


3.1

Konsep Penyebab Penyakit Sistiserkosis dan Elemen Penyakit Sistiserkosis

3.2

Level Pencegahan Penyakit Sistiserkosis

3.2.1

Tingkat Pencegahan

3.2.2

Upaya Pencegahan Pada Sistiserkois

3.3

Program Pemerintah yang telah dilaksanakan dalam menyelesaikan masalah Penyakit

Sistiserkosis
BAB IV KESIMPULAN
4.1

Kesimpulan

2.4

Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Taeniasis/sistiserkosis merupakan salah satu penyakit zoonotik yang menurut cara
penularan/transmisinya diklarifikasikan pada golongan siklozoonosis. Siklozoonosis merupakan
zoonosis dengan siklus penularan yang membutuhkan lebih dari satu jenis vertebrata, tetapi tidak
melibatkan invertebrata untuk menyempurnakan siklus hidup agen penyebab penyakit. Taenasis
merupakan siklozoonosis obligat dimana manusia harus menjadi salah satu induk semang dalam
siklus hidupnya.
Sistiserkosisi adalah penyakit yang disebabkan oleh larva Taenia solium yaitu cacing pita pada babi.
Sampai saat ini, sistiserkosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara
sedang berkembang seperti di Amerika Latin, Afrika, dan Asia termasuk Indonesia. Di Indonesia,
sampai saat ini, diketahui sistiserkosis ditemukan di tiga propinsi yaitu Bali, Papua (Irian Jaya) dan
Sumatra Utara. Penyakit ini disebut juga sebagai penyakit pork measles, beberasan di daerah Bali,
manis-manisan di daerah Tapanuli, dan banasom di daerah Toraja.
Kepentingan kesehatan masyarakat dari T.solium adalah bahwa manusia dapat terinfeksi oleh
telur cacing dan mendapatkan sistiserkus pada jaringan tubuhnya, sedangkan kepentingan T.
saginata adalah manusia dapat trinfeksi larva dan cacing dewasa dapat berkembang di usus manusia.
Taeniasis/sistiserkosis merupakan masalah yang penting di Indonesia yang disebabkan oleh tiga
spesies cacing pita T.solium, T.saginata, dan T.asiatica.ketiga cacing pita ini pernah dilaporkan dari
provinsi di Indonesia yang merupakan daerah endemic taeniasis/sistiserkosis yaitu Bali
(T.solium dan T.saginata), Papua (T.solium), dan sumatera utara (T.asiatica). ketiga cacing ini
memiliki inang definitif yatu manusia dan inang perantara antara lain : untuk T.solium adalah babi,
domba, kera, kucing, anjing, dan unta; T.saginata adalah sapi dan kerbau; dan T.Asiatica pada hewan
liar seperti anjing dan babi liar.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan sistiserkosis?
2. Apa saja tanda dan gejala yang timbul dari penyakit sistiserkosis?
3. Bagiamana mencegah penyakit sistierkosis?
4. Bagaimana cara penganggulangan dari penyakit sistiserkosis?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui defenisi dari sistiserkosis
2. Untuk mengetahui etiologi gejala klinis dari penyakit sistiserkosis
3. Untuk mengetahui cara pencegahan terhadap penyakit sistiserkosis
4. Untuk mengetahui cara penanggulangan dari penyakit sistiserkosis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI PENYAKIT SISTISERKOSIS


Sistiserkosis adalah penyakit yang disebabkan oleh stadium larva Taenia

solium(cacing pita babi). Nama lain dari larva adalah metasestoda, cacing gelembung, kista
atau cysticercus cellulosae. Sistiserkosis dapat menimbulkan gejala-gejala yang berat,
khususnya bila ditemukan di dalam otak.
Manusia berperan sebagai hospes definitif yaitu mengandung cacing dewasa dan
sekaligus sebagai hospes perantara yaitu tempat hidupnya larvae T. solium. Seorang akan
menderita sistiserkosis bila telur yang mencemari makanan tertelan. Di dalam lambung telur
akan dicerna, dinding telur hancur, embrio heksakan/onkosfer keluar, menembus dinding
lambung dan masuk ke dalam saluran getah bening serta peredaran darah. Embrio heksakan
kemudian tersangkut antara lain di jaringan subkutan, otot, otak, mata dan berbagai organ
lain. Larva yang menginfeksi sistim saraf pusat menyebabkan neurosistiserkosis, sedangkan
bila ditemukan di jaringan atau organ lain penyakit secara umum disebut disini sistiserkosis
Kejadian sistiserkosis setelah dikontrol secara bersamaan mempunyai keterkaitan
dengan pola kebersihan manusia seperti cuci tangan, jenis pekerjaan, frekuensi mandi, jenis
sumber air bersih dan tempat buang air besar. Perlu dilakukan pendidikan kesehatan kepada
masyarakat tentang hal-hal sebagai berikut: kebiasaan mencuci tangan, pentingnya mandi
dengan menggunakan air bersih serta membuang air besar pada tempat yang terlindung.
2.2

ETIOLOGI PENYAKIT SISTISERKOSIS


Terjadinya penyakit sistiserkosis disebabkan oleh Taenia solium (cacing pita daging

babi).Siklus hidup T. solium secara umum memiliki pola yang sama dengan Taenia yang lain
yang membedakan adalah inang antaranya yaitu babi. Babi adalah hewan omnivore termasuk
memakan tinja manusia.Larva ini mudah ditemukan dalam jaringan otot melintang tubuh
babi.Bahayanya telur T. solium juga menetas dalam usus manusia sehingga manusia
bertindak sebagai inang anatara walaupun secara kebetulan. Seseorang akan menderita
sistiserkosis apabila telur mencemari makanan tertelan. Di dalam lambung telur akan akan

dicerna, dinding telur hancur, embrio heksakan/onkosfer keluar, menembus dinding lambung
dan masuk ke dalam saluran getah bening serta peredaran darah. Embrio heksakan kemudian
akan tersangkut antara lain di jaringan subkutan, otot, otak, mata dan berbagai organ lain.

Siklus Hidup

Telur Sistisirkosis

Filum : Platyhelminthes
Kelas

: Cestoda

Ordo

: Cyclophyllidae

Famili : Taniidae
Genus : Taenia
Spesies

: Taenia solium

Cestoda, atau cacing pita, merupakan subfilum lain di dalam filum Platyhelminthes.
Mereka tidak mempunyai rongga badan dan semua organ organ tersimpan di dalam

jaringan parenkim. Semua cacing pita bersifat parasit, dan telah bermodifikasi secara besarbesaran untuk eksistensi parasit tersebut.
Taenia solium adalah salah satu jenis cacing pita yang berparasit di dalam usus halus
manusia. Dalam klasifikisai taksonomi cacing ini termasuk kelas Eucestoda, ordo Taenidae,
dan genus Taenia. Tergolong dalam satu jenis genus dengan Taenia solium adalah Taenia
saginata dan Taenia asiatica yang juga bersifat zoonosis (Rajshekkhar et al.2003)

2.3

TANDA DAN GEJALA PENYAKIT SISTISERKOSIS


Gejala klinis yang timbul tergantung dan letak jumlah, umur, dan lokasi dari kista.Sebagian

besar penderita tidak menunjukkan gejala atau dapat ditemukan adanya nodul subkutan. Sistiserkosis
serebri sering menimbulkan gejala epilepsi atau gejala tekanan intrakranial meninggi dengan sakit
kepala dan muntah yang menyerupai gejala tumor otak.Pada kasus yang berlangsung lama dapat
dijumpai bintik kalsifikasi dalam otak.Akibat buruk mungkin terjadi jika larva cacing tersebut
tersangkut pada jaringan mata, SSP atau jantung. Jika pada sistiserkosis somatik ini muncul gejala
antara lain gejala seperti epilepsi, sakit kepala, tanda tanda kenaikan tekanan intracranial atau
gangguan

psikiatri

yang

berat

maka

besar

kemungkinan

sistiserkosis

ada pada

SSP.

Neurocysticercosis dapat menyebabkan cacat yang serius akan tetapi CFR nya rendah.

Berikut ini ada beberapa gejala klinis dari penyakit sistiserkosis antara lain :
1.

Cysticercosis pada otot , Cysticerci dapat berkembang dalam setiap otot pada manusia.

Invasi otot oleh cysticerci dapat menyebabkan myositis, disertai demam, eosinofilia, dan
pseudohypertrophy otot, yang dimulai dengan pembengkakan otot dan kemudian berkembang
menjadi atrofi dan fibrosis.
2.

Neurocysticercosis, Neurocysticercosis merupakan istilah umum yang merujuk pada

kista dalam parenkim otak. Biasanya berakibat kejang dan sakit kepala (jarang terjadi).
3.

Neurocysticercosis Intraventricular, Kista terletak di dalam ventrikel otak, dapat

memblokir arus keluar cairan serebrospinal dan hadir dengan gejala peningkatan tekanan
intrakranial.
4.

Racemose neurocysticercosis, Racemose neurocysticercosis mengacu pada kista dalam

ruang subarachnoid. Ini kadang-kadang dapat tumbuh menjadi massa lobulated yang besar
dan menyebabkan tekanan pada struktur sekitarnya.

5.

Neurocysticercosis Spinal, Neurocysticercosis melibatkan sumsum tulang belakang,

paling sering menyajikan sebagai nyeri punggung dan radiculopathy.


6.

Sistiserkosis Medic, Dalam beberapa kasus, cysticerci dapat ditemukan di seluruh

bagian tubuh ; otot luar mata, dan subconjunctiva. Tergantung pada lokasi, sistiserkosis dapat
menyebabkan kesulitan visual yang berfluktuasi pada mata, edema retina, perdarahan, visial
menurun atau bahkan hilangnya penglihatan.
7.

Subkutan sistiserkosis, Kista subkutan adalah dalam bentuk lainnya, nodul seluler,

terjadi terutama pada batang dan ekstremitas. Nodul subkutan kadang-kadang menyakitkan.

2.4

CARA PENULARAN PENYAKIT SISTISERKOSIS


Cacing pita Taenia dewasa hidup dalam usus manusia yang merupakan induk semang

definitive. Segmen tubuh Taenia yang telah matang dan mengandung telur keluar secara aktif
dari anus manusia atau

secara

pasif

bersama-sama feses manusia. Bila inang definitif

(manusia) maupun inang antara (sapi dan babi) menelan telur (cysticercus bovis) pada sapi
maupun larva Taenia Solium (Cysticerosis cellulosa) atau larva Taenia asiatica yang terdapat
pada daging babi maka telur yang menetas akan mengeluarkan embrio(onchosphere) yang
kemudian

menembus dinding usus. Embrio cacing yang

berangsur-angsur

berkembang

dalam otot tertentu. Otot yang

menjadi
paling

sistiserkosis
sering

yaitu jantung, diafragma, lidah, otot pengunyah,

mengikuti sirkulasi darah limfe


yang

infektif

terserang

di

sistiserkus

daerah esofagus, leher dan

otot

antar tulang rusuk.


Infeksi Taenia dikenaldenganistilah Taeniasis dan Sistiserkosis. Sistiserkosis pada manusi
a adalah

infeksi jaringan oleh

bentuk larva Taenia (sistiserkus)

akibat

termakan telur cacing Taenia solium (cacing pita babi). Cacing pita babi dapat menyebabkan
sistiserkosis pada manusia, sedangkan cacing pita sapi (cysticercus bovis) tidak dapat
menyebabkan sistiserkosis pada manusia. Sedangkan kemampuan Taenia asiatica dalam
menyebabkan sistiserkosis belum diketahui secara pasti. Terdapat dugaan bahwa Taenia
asiatica merupakan penyebab sistiserkosis di Asia.
Manusia terkena taeniasis apabila memakan daging sapi atau babi yang setengah
matang

yang

mengandung

sistiserkus

sehingga

sistiserkus

berkembang

menjadi Taenia dewasa

dalam usus manusia.

Manusia

terkena

sistiserkosis

bila

tertelan makanan atau minuman yang mengandung telur Taenia solium.Penularan dapat juga
terjadi karena autoinfeksi, yaitu langsung melalui ano-oral akibat kebersihan tangan yang
kurang dari penderita Taniasis solium.
Sumber penularan cacing pita Taenia pada manusia yaitu :
1.

Penderita taeniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau segmen tubuh

(proglotid) cacing pita.


2.

Hewan, terutama babi dan sapi yang mengandung larva cacing pita (sistisekus).

3.

Makanan, minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur cacing pita.

2.5

PENGOBATAN PENYAKIT SISTISERKOSIS


Pengobatan sistiserkosis tergantung pada berbagai faktor, termasuk gejala individu,

lokasi dan jumlah cysticerci, dan tahap perkembangan kista. Secara umum, pengobatan
disesuaikan dengan setiap pasien dan presentasi khusus mereka, dan rejimen pengobatan
mungkin termasuk agen obat cacing, kortikosteroid, obat-obatan antikonvulsan, dan atau
pembedahan.
Manajemen bedah mungkin diperlukan pada kasus tertentu sistiserkosis. Operasi
pengangkatan kista pusat sistem saraf atau penempatan shunt otak (untuk mengurangi
tekanan) kadang-kadang diperlukan dalam beberapa kasus neurocysticercosis. Sistiserkosis
mata harus dioperasi, sedangkan sisterkosis di otak hanya dapat dioperasi jika terdapat hanya
satu kista saja yang lokasinya memungkinkan. Sistiserkosis jaringan subkutan atau otot
mempunyai prognosis baik, sedangkan sistiserkosis jantung, otak, mata atau organ penting
lainnya prognosisnya buruk. Berikut pengobatan sistiserkosis yang diberikan :
1.

Prazikuantel per oral 50 mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dibagi dalam tiga dosis

selama 15 hari.
2.

Albendazol per oral 15 mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dibagi dalam tiga dosis selama

7 hari.

Penggunaan obat tersebut biasanya menimbulkan efek samping yang membuat


penderita kurang nyaman. Hal itu dapat dikurangi dengan memberikan kortikosteroid, yaitu
prednison 1mg/kgBB/hari dosis tunggal atau dibagi dalam tiga dosis. Kortikosteroid yang
juga dapat diberikan adalah deksametason dengan dosis yang setara dengan prednison.
Keberhasilan pengobatan sistiserkosis dapat diketahui melalui pemeriksaan tinja pada
bulan ketiga sampai bulan keenam setelah pengobatan. Pengobatan dinyatakan berhasil bila
tidak ditemukan telur Taenia sp dan proglotidnya. Apabila ditemukan telur Taenia sp,
prologtid, atau keduanya maka hal itu menandakan telah terjadi infeksi baru (reinfeksi).
2.6 PENCEGAHAN PENYAKIT SISTISERKOSIS
Penyakit sistiserkosis pada hewan dapat ditekan dengan cara mengobati induk semang
definitif yang menderita Taeniasis. Keluarga pasien sebaiknya juga menjalani pemeriksaan
untuk memastikan tidak terkontaminasi. Anjing yang sering berkeliaran dan bergabung
dengan hewan ternak lain harus dihindarkan dan dicegah supaya tidak memakan bangkai
hewan yang terinfeksi Taenia. Selain itu, untuk mencegah terjadinya infeksi, hewan ternak
dilarang kontak langsung dengan feses manusia. Untuk mencegah Taeniasis pada manusia,
dapat dilakukan dengan menghindari memakan daging yang kurang matang, baik daging babi
(untuk T. solium). Daging yang terkontaminasi harus dimasak dahulu dengan suhu di atas
56oC. Selain itu, dengan membekukan daging terlebih dahulu, dapat mengurangi risiko
penularan penyakit.
Menurut FLISSER et al. (1986), daging yang direbus dan dibekukan pada suhu -20oC dapat
membunuh sistiserkus. Sistiserkus akan mati pada suhu -20oC, tetapi pada suhu 0 20oC akan
tetap hidup selama 2 bulan, dan pada suhu ruang akan tahan selama 26 hari (BROWN dan
BELDING, 1964).
Menurut Departemen Kesehatan RI, upaya pencegahan sistiserkosis dapat dilakukan dengan :
a.

Usaha untuk menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderita taenasis

b.

Pemakaian jamban keluarga, sehingga tinja manusia tidak dimakan oleh babi dan tidak

mencemari tanah atau rumput.


c.

Pemeliharaan sapi atau babi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan

sehingga tidak dapat berkeliaran.

d.

Pemeriksaan daging oleh dokter hewan/mantri hewan di RPH, sehingga daging yang

mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas
Peternakan)
e.

Daging yang mengandung kista tidak boleh dimakan. Masyarakat diberi gambaran

tentang bentuk kista tersebut dalam daging, hal ini penting dalam daerah yang banyak
memotong babi untuk upacara - upacara adat seperti di Sumatera Utara, Bali dan Irian jaya.
f.

Menghilanglkan kebiasaan maka makanan yang mengandung daging setengah matang

atau mentah.
g.

Memasak daging sampai matang ( diatas 57 C dalam waktu cukup lama ) atau

membekukan dibawah 10C selama 5 hari . Pendekatan ini ada yang dapat diterima ,tetapi
dapat pula tidak berjalan , karena perubahan yang bertentangan dengan adat istiadat setempat
akan mengalami hambatan. Untuk itu kebijaksanaan yang diambil dapat disesuaikan dengan
situasi dan kondisi daerah tersebut.
Upaya pencegahan sistiserkosis juga tidak jauh berbeda dengan upaya pencegahan pada
penyakit disentri yakni mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menggunakan
sabun

mandi

dan

mencuci dan mengupas semua sayuran

sebelum
mentah dan

memegang produk makanan,


buah-buahan sebelum

dikonsumsi,

hindari semua makanan yang berpotensi terkontaminasi dengan kotoran, minum hanya air
kemasan,air yang telah direbus selama minimal 1 menit, atau minuman berkarbonasi yang
ada di kaleng atau botol,jangan menggunakan es batu di daerah dimana babi diperbolehkan
untuk berkeliaran

dengan

bebas atau di

tempat

tempat

yang sanitasi dan

kebersihannya tidak memadai.

2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis
Taeniasis
Dapat ditegakkan dengan 2 cara :
1.

Menanyakan riwayat penyakit (anamnesa)


Didalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah mengeluarkan
proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan

2.

Pemeriksaan Tinja
Tinja yang diperiksa adalah tinja sewaktu berasal dari deteksi spontan. Sebaiknya
diperiksa dalam keadaan segar. Bila tidak memungkinkan untuk diperiksa segera, tinja
tersebut diberi formalin 5-10% atau spirtus sebagai pengawet.
Pemeriksaan tinja secara mikroskopis dilakukan antara lain dengan metode langsung
(secara relatif) bahan pengencer yang dipakai NaCl 0,9 % atau Lugol. Dari satu spesimen
tinja dapat digunakan menjadi empat sediaan. Bilamana ditemukan telur cacingTaenia sp,
maka pemeriksaan menunjukkan hasil positif taeniasis. Pada pemeriksaan tinja secara
makroskopis dapat ditemukan proglotid.
Pemeriksaan dengan metode langsung ini kurang sensitif dan spesifik. Terutama telur
yang tidak selalu ada dalam tinja dan secara morfologi sulit diidentifikasi. Metode
pemeriksaan lain yang lebih sensitif dan spesifik misalnya teknis sedimentasi eter; anal swab;
dan coproantigen (paling spesifik dan sensitif).

Sistiserkosis
Diagnosa sistiserkosis biasanya tergantung pada pembedahan untuk mengeluarkan

parasitnya dan pemeriksaan mikroskopik atas adanya batil isap dan kait pada skoleks.
Seringkali terdapat larva multipel dan adanya sistiserkus dalam jaringan subkutan atau otot
menunjukkan bahwa otak mungkin juga terkena. Larva yang mengalami perkapuran dapat
langsung terlihat pada sinar-X . CT Scan dapat memperlihatkan adanya lesi dalam otak.
Apabila bentuk rasemosa ada dalam otak. Apabila bentuk rasemosa ada dalam otak, CT scan
tidak dapat membedakan lesi dengan tumor tumor yang disebabkan oleh penyebab lainnya.
Sistiserkosis mata biasanya dapat didiagnosis melalui identifikasi visual dari gerakan dan
morfologi dari larvanya. Meskipun test serologis dapat membanbtu pada beberapa kasus,
dapat dijumpai reaksi silang di antara sistiserkosis dan infeksi hidatid (Schantz dkk, 1980)
Dinyatakan tersangka sistiserkosis apabila pada :
a)

Anamnesis :

1.

Berasal dari / berdomisili di daerah endemis taeniasis/ sistiserkosis

2.

Gejala Taeniasis

3.

Riwayat mengeluarkan proglotid

4.

Benjolan (nodul subkutan) pada salah satu atau lebih bagian tubuh

5.

Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya

6.

Riwayat / gejala epilepsi

7.

Gejala peninggian tekanan intra kranial

8.

Gejala neurologis lainnya

b)

Pemeriksaan fisik :

1.

Teraba benjolan / nodul sub kutan atau intra muskular satu atau lebih

2.

Kelainan mata (oscular cysticercosis) dan kelainan lainnya yang disebabkan oleh
sistiserkosis

3.

Kelainan neurologis

c)

Pemeriksaan penunjang :

1.

Pemeriksaan tinja secara makroskopis : proglotid

2.

Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : Telur Taenia Sp

3.

Pemeriksaan serologis : sistiserkosis

4.

Pemeriksaan biopsi pada nodul subkutan gambaran menunjukkan patologi anatomi yang
khas untuk sistiserkosis

Neurosistiserkosis

Dinyatakan adanya tersangka neurosistiserkosis apabila :


a)

Anamnesis :

1.

Berasal dari / berdomisili di daerah endemis taeniasis/ sistiserkosis

2.

Gejala Taeniasis

3.

Riwayat mengeluarkan proglotid

4.

Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya

5.

Riwayat / gejala epilepsi

6.

Gejala peninggian tekanan intra kranial

7.

Gejala neurologis lainnya

b)

Pemeriksaan fisik :

1.

Teraba benjolan / nodul sub kutan atau intra muskular satu atau lebih

2.

Kelainan mata (oscular cysticercosis) dan kelainan lainnya yang disebabkan oleh
sistiserkosis

3.

Kelainan neurologis

4.

Pemeriksaan penunjang

5.

Pemeriksaan tinja secara makroskopis : proglotid (+)

6.

Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : Telur Taenia Sp (+)

7.

Pemeriksaan darah tepi : Hb, Leukosit (Leukositosis), Eritrosit, hitung jenis (eosinofilia),
LED (meningkat dan gula darah)

8.

Pungsi Lumbal sel (eosinofil meningkat 70 %),protein (meningkat 100%), glukosa


(menurun 70 % dibandingkan dengan glukosa darah) NaCl.

9.

Pemeriksaan serologis (ELISA dan immunoblot): sistiserkosis (+) spesimen yang diperiksa
berupa cairan otak (LCS) kurang lebih 2-3 cc. Tempat pemeriksaan di laboratorium yang
telah ditentukan. Pengiriman spesimen cairan otak dengan tabung / botol steril dan es batu (1
derajat C) Bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan foto kepala (untuk kista yang sudah
mengalami kalsifikasi) dan lebih baik lagi pemeriksaan CT- Scan (Computerized
Tomography Scanning) atau MRI.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

KONSEP PENYEBAB PENYAKIT SISTISERKOSIS DAN ELEMEN PENYAKIT

SISTISERKOSIS
Sistiserkosis adalah penyakit akibat parasit berupa cacing
genus Taenia yang

dapat menular dari hewan ke manusia,

pita

yang

maupun

tergolong dalam
sebaliknya

Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesiesTaenia solium atau dikenal dengan cacing pita babi ,
sementara Taenia saginata dikenal juga sebagai cacing pita sapi.
Sistiserkosis pada manusia adalah infeksi jaringan oleh bentuk larva Taenia (sistiserkus)
akibat termakantelur cacing Taeniasolium (cacing
babi dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia,

pita

babi). Cacing
sedangkan cacing

pita
pita

sapi tidak dapat menyebabkan sistiserkosis pada manusia. Sedangkan kemampuanTaenia asiatica dala
mmenyebabkan sistiserkosis belum diketahui secara pasti. Terdapat dugaan bahwa Taeniaasiatica mer
upakan penyebab sistiserkosis di Asia.
Elemen-elemen penyebab
Host
Host pada sistiserkosis terdapat dua, yaitu sebagai host definitive dan host perantara. Pada
penyakit sistiserkosis yang bertindak sebagai host definitive yaitu manusia, sedangkan yang bertindak
sebagai host perantara yaitu babi dan sapi.
Environment
Lingkungan yang mendukung yang mendukung penularan penyakit adalah lingkungan yang
sanitasi buruk, contohnya jenis sumber air bersih dan tempat Buang Air Besar yang buruk. Tempat
kandang yang memiliki sanitasi yang buruk juga ikut serta dalam mendukung penyakit sistiserkosis.

Agent
Telur (cysticercus bovis) pada sapi maupun larva Taenia Solium (Cysticerosis cellulosa) atau
larva Taenia asiatica yang terdapat pada daging babi.

3.2

LEVEL PENCEGAHAN PENYAKIT SISTISERKOSIS

3.2.1 Tingkat Pencegahan


Pengetahuan tentang perjalanan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi berguna untuk
menemukan strategi pencegahan penyakit yang efektif. Pencegahan penyakit adalah tindakan yang
ditujukan untuk mencegah, menunda, mengurangi, membasmi, mengeliminasi penyakit dan
kecacatan, dengan menerapkan sebuah atau sejumlah intervensi yang telah dibuktikan efektif.
(Kleinbaum et al., 1982; Last, 2001).
Levelpencegahan penyakit itu ada 4, yaitu :
1. Pencegahan primordial yaitu untuk menghindari terbentuknya pola hidup sosial ekonomi dan
kultural yang diketahui mempunyai kontribusi untuk meningkatkan risiko penyakit, pencegahan
primordial yang efektif memerlukan adanya peraturan yang ketat dari pemerintah. Targetnya yaitu
pada populasi/kelompok terseleksi.
2. Pencegahan primer

adalah upaya memodifikasi faktor risiko atau mencegah

berkembangnya faktor risiko, sebelum dimulainya perubahan patologis, dilakukan pada tahap
suseptibel dan induksi penyakit, dengan tujuan mencegah atau menunda terjadinya kasus baru
penyakit (AHA Task Force, 1998). Tujuannya yaitu mengurangi insiden penyakit dengan cara
mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya. Upaya yang dilakukan adalah untuk memutus
mata rantai infeksi agent host environment. Targetnya yaitu pada total populasi, kelompok
terseleksi, dan pada individu sehat.
3. Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan pada fase penyakit
tepatnya

pada

tahap

preklinis,

terhadap

timbulnya

gejala-gejala

penyakit

asimtomatis,
secara

klinis

melalui deteksi dini (early detection). Jika deteksi tidak dilakukan dini dan terapi tidak diberik
an segera maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan. Deteksi dini penyakit sering disebut
skrining. Skrining adalah identifikasi

yang

menduga adanya penyakit atau kecacatan

yang belum diketahui dengan menerapkan suatu tes, pemeriksaan, atau prosedur lainnya, yang dapat
dilakukan dengan cepat. Tes skrining memilah orang-orang yang tampaknya mengalami penyakit dari
orangorang yang tampaknya tidak mengalami penyakit. Tes skrining tidak dimaksudkan sebagai
diagnostik. Orang-orang yang ditemukan positif atau mencurigakan dirujuk ke dokter untuk
penentuan diagnosis dan pemberian pengobatan yang diperlukan (Last, 2001). Tujuan dari
pencegahan sekunder ialah untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah
komplikasi. Targetnya yaitu pasien.
4. Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke arah
berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien.

Pencegahan tersier biasanya dilakukan oleh para dokter dan sejumlah profesi kesehatan lainnya
Pencegahan tersier dibedakan dengan pengobatan (cure), meskipun batas perbedaan itu
tidak selalu jelas. Jenis intervensi yang dilakukan sebagai pencegahan tersier

bisa saja

merupakan pengobatan.
keparahan akibat penyakit, mengurangi komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang p
enyakit danmemperpanjang hidup. Sedang target pengobatan adalah menyembuhkan pasien dari
gejala dan tanda klinis yang telah terjadi. Tujuan pencegahan tersier menurunkan kelemahan dan
kecacatan, memperkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan
penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. Targetnya adalah pasien.

3.2.2

Upaya Pencegahan Pada Sistiserkois

1.

Pencegahan Primordial

a.

Mempertahankan gaya hidup yang sudah ada dan benar dalam masyarakat.

b.

Peningkatan kinerja pengawasan daging yang dijual, agar bebas larva cacing

(sistiserkus). Pengawasan yang dilakukan pada negara endemis biasanya adalah inspeksi
yang dilakukan di rumah potong sehingga daging yang mengandung kista tidak sampai
dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas Peternakan).
2.

Pencegahan Primer

a.

Promosi kesehatan masyarakat, misalnya dapat dilakukan pemberian pendidikan

mengenai kesehatan. Meningkatkan pendidikan komunitas dalam kesehatan (kebersihan,


mempersiapkan makanan, dan sebagainya)
b.

Pencegahan khusus, yaitu pencegahan keterpaparan dan pemberian kemopreventif.

Pada babi, dapat dilakukan pemberian oxfendazole oral (30 mg/kg BB). Bila perlu, vaksinasi
dengan TSOL18, setelah dilakukan eliminasi parasit dengan kemoterapi.
c.

Memasak daging sampai di atas 50 derajat C selama 30 menit, untuk membunuh kista

cacing, membekukan daging (Soedarto, 2008). Daging yang mengandung kista tidak boleh
dimakan. Masyarakat diberi gambaran tentang bentuk kista tersebut dalam daging, hal ini
penting dalam daerah yang banyak memotong babi untuk upacara-upacara adat seperti di

Sumatera Utara, Bali dan Irian jaya dan menghilanglkan kebiasaan makan makanan yang
mengandung daging setengah matang atau mentah.
d.

Pemakaian jamban keluarga, tidak membuang tinja di sembarang tempat sehingga tinja

manusia tidak dimakan oleh babi dan tidak mencemari tanah atau rumput dan untuk menjaga
kebersihan lingkungan.
e.

Pada daerah endemik, sebaiknya tidak memakan buah dan sayur yang tidak dimasak

yang tidak dapat dikupas.


f.

Hanya meminum air yang telah dikemas dalam botol, air yang disaring, atau air yang

dididihkan selama 1 menit.


3.

Pencegahan Sekunder

a.

Mengobati penderita, untuk mengurangi sumber infeksi, dan mencegah terjadinya

autoinfeksi dengan larva cacing.


b.

Pemelihara sapi atau babi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan

sehingga tidak dapat berkeliaran.


4.

Pencegahan Tersier

Usaha untuk penanggulangan penyakit agar tidak menular.Orang yang terinfeksi harus
dilindungi sehingga mereka tidak dapat berkontribusi pada siklus penularan.

3.3

PROGRAM PEMERINTAH YANG TELAH DILAKSANAKAN DALAM

MENYELESAIKAN MASALAH PENYAKIT SISTISERKOSIS


Program pemerintah dalam pemberantasan sisterserkosis antara lain meliputi :
a.

Pengobatan terhadap penderita / yang diduga mengandung parasite

b.

Pemeriksaan daging babi, bagaimana cara pengolahannya dan memasaknya.

c.

Perbaikan infrastruktur bersih

d.

Penyuluhan tentang kebiasaan hidup sehat dan mencuci tangan, menghindari panganter

kontaminasi.

WHO merekomendasikan melakukan pendidikan keamanan makanan melalui di


keluarkannya lembar-balik berisi tentang peraturan keamanan makanan yang dapat saja
terkontaminasi telur cacing pita dan telah di terbitkan ke berbagai Negara misalnya di
Guatemala. Ada juga di Australia dengan membuat dokumen yang berisi informasi rinci
mengenai peraturan keamanan makanan bagi seluruh rumah tangga. Sedangkan di Kenya dan
Nepal mereka mengeluarkan komik yang di sukai sasaran sebagai bahan penyuluhan untuk
mencegah meningkatnya prevalensi Sisterserkosis
Di Indonesia sendiri,upaya pencegahannya melalui pemeriksaan daging babi,termuat
dalam peraturan menteri pertanian: nomor 20/Permentan/OT.140/4/2009 tentang Pemasukan
dan Pengawasan Peredaran Karkas,Daging,dan/atau Jeroan dari Luar negeri.

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 KESIMPULAN
Sistiserkosis adalah penyakit yang disebabkan oleh stadium larva Taenia solium
(cacing pita babi).Sistiserkosis dapat menimbulkan gejala-gejala yang berat, khususnya bila
ditemukan di dalam otak.Manusia berperan sebagai hospes definitif yaitu mengandung cacing
dewasa dan sekaligus sebagai hospes perantara yaitu tempat hidupnya larvae T. solium.
Seorang akan menderita sistiserkosis bila telur yang mencemari makanan tertelan. Gejala
klinis yang timbul tergantung dan letak jumlah, umur, dan lokasi dari kista.Sistiserkosis
serebri sering menimbulkan gejala epilepsi atau gejala tekanan intrakranial meninggi dengan
sakit kepala dan muntah yang menyerupai gejala tumor otak.Pada kasus yang berlangsung
lama dapat dijumpai bintik kalsifikasi dalam otak.
Secara umum, pengobatan disesuaikan dengan setiap pasien dan presentasi khusus
mereka, dan rejimen pengobatan mungkin termasuk agen obat cacing, kortikosteroid, obatobatan antikonvulsan, dan atau pembedahan.
2.4 SARAN
Dengan dibuatnya makalah ini, di sarankan agar masyarkat selalu menjaga kebersihan serta
menerapkan pola PHBS pada kesehariannya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 8 Juli 2002. Bali endemik infeksi cacing pita.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0207/08/daerah/bali 19.htm
Anonim. 7 Agustus 2002. Cacing pita, ancaman bagi
Molin :
Otak saya berisi kista.
http://www.denpasarpost.tv/2002/07/08/kesehatan.html

penggemar

Lawar.

dr

Anonimus,
2009
Petunjuk
pemberantasan
Taeniasis/sistiserkosis
Indonesia
http://www.pdfdownloadforfree.com/petunjuk-pemberantasan-taeniasis
stiserkosis-di-indonesia.html

di
/si

Admin, 2008. Peternakan Taeniasis Pada Babi.


http://www.vet-klinik.com/Peternakan/Taeniasis-pada-babi.html
Anonimus, 2010. Manual Pemberantasan Penyakit Menular
http://penyakitdalam.wordpress.com/category/manual-pemberantasanmenular/taeniasis/

penyakit-

Anonimus, 2010. cacing pita


http://id.wikipedia.org/wiki/Taenia_%28cacing_pita%29
Anonimus, 2010. taeniasaginata
http://totokanaliskesehatan.blogspot.com/2010/05/taenia-saginata.html
Craig,
P.S.,
M.T.Rogan,
community epidemologi of
alveolar echinococosis and

J.C.
Allan.
1996.
Detection,
screening
and
taeniid cestode zoonoses : Cystic echinococcosis,
neurocysticercosis. Adv. Parasitology. (38) 11

Dharmawan
NS.
1990.
Tingkat
kejadian
sistiserkosis
menurut
metode
pemeriksaan
kesehatan babi di
Rumah Potong Hewan Denpasar [tesis].
Bogor:
Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Dharmawan,
taiwanensis
Program

N.S.
1995.
Pelacakan
Terhadap
di Bali
Melalui
Kajian
Parasitologi
PascaSarjana, Institut Pertanian Bogor.

Kehadiran Taenia
saginata
dan
Serologi
(desertasi).

Dharmawan, N.S. 2003. Taeniasis/Sistiserkosis Di Indonesia


http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/6/17/op2.htm
Depkes RI Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Profil Kesehatan
Tahun 2005. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Indonesia

Deptan RI Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2007. Pegangan PemeriksaDaging


Swasta. Jakarta: Departemen Pertanian Republik Indonesia.