Anda di halaman 1dari 6

1.

Organisasi Sosial Kerja


Menurut Karl Marx: Pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar,

dalam pekerjaan manusia membuat dirinya menjadi nyata, pekerjaan merupakan


sarana obyektivisasi diri manusia. Pekerjaan sebagai objek menjadi sarana untuk
mengungkapkan kemampuan dan bakatnya. Manusia bisa mengaktualisasikan dirinya
dalam pekerjaan. Sehingga ketika seorang tidak menghargai atau melecehkan hasil
pekerjaan orang lain maka ia akan merasa dirinya dilecehkan atau direndahkan.
Dalam pandangan Marx apa yang terjadi dalam masyarakat dan sejarah adalah orangorang yang bekerja dengan alat-alat kerja untuk mengolah alam. Di dalam masyarakat
alat-alat kerja, para pekerja dan pengalaman kerja merupakan kekuatan-kekuatan
produksi masyarakat, sedangkan hubungan-hubungan antar pekerja dalam proses
produksi itu merupakan proses-proses produksi. Jika kekuatan-kekuatan produksi
berkembang, maka hubungan-hubungan produksi juga berubah.
Sesuai dengan pemikiran Marx yang khas secara keseluruhan yang berpusat
pada kesenjangan, konflik dan semacamnya, Marx melihat distribusi kekuasan yang
tidak seimbang sebagai akar munculnya konflik kepentingan, marx melihat
kesejajaran anatara keduanya, dimana konflik akan semakin berpeluang terjadi antara
dua kelompok yaitu kelompok mereka yang dominan dan kelompok yang
tersubordinasi.
Dalam menyusun model analisanya, Marx mendasarkan pada premis bahwa
organisasi produksi pada hakekatnya mempengaruhi struktur sosial masyarakat. Marx
menekankan bahwa hal ini bukan sesuatu yang rumit, namun dapat dilihat secara
langsung. Marx secara luas membahas persoalan ini pada berbagai bukunya. Dimana
sifat organsiasi sosial merupakan pokok perhatiannya. Marx menguraikan pola-pola
bagaimana organisasi sosial lahir, bertahan dan berubbah dalam perjalanan waktu,
serta mendapatkan bahwa hal itu berjalan dalam sejara manusia. Marx juga melihat
adanya hubungan antara tingkat teknologi, produktivitas, diferensiasi sosial, ukuran
populasi, tingkat diferensiasi, pemutusan kekuasaan, serta kepercayaan dan norma.
Selanjutnya, dengan semakin tingginya produktivitas dan stratifikasi sosial,
maka semakin kuat kemampuan sistem tersbut untuk mendukung kehidupan populasi
penduduk yang semakin besar. Pada gilirannya, populasi yang besar lalu menekan
kepada kebutuhan untuk semakin meningkatkan produktivitas, serta juga semakin
tegas dan meluasnya stratifikasi sosial. Populasi yang lebih besar dengan derajat
stratifikasi yang juga besar, menyebabkan tercapainya integrasi sosial yang kuat,
setidaknya dalam jangka pendek,. Hal ini terjadi melalui diferensiasi dan konsentrasi

kekuasan, lalu hal ini, menjadikan norma dakam sistem yang dikontrol dan dikuasasi
oleh mereka yang memiliki kekuasaan besar. Mereka menggunakan ini untuk
melegitimasi ketimpangan distribusi sumber daya yang langka.
Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri
meskipun seluruh gagasannya sebenarnya tidak asli. Beberapa gagasan terdahulu yang
mempengaruhi lahirnya Teknik Industri adalah The Wealth of Nations karya Adam
Smith, yang dipublikasikan tahun 1776. Aalasan Frederick Taylor dikenal sebagai
bapak teknik industri adalah karena Beliau yang menggagas ide tentang penggunaan
metode ilmiah dalam manajemen untuk meningkatkan keefisiensian dalam bekerja.
Sedangkan Frank Gilberth lah yang mengembangkan dasar dasar dari penelitian
Frederick Taylor. Frank Gilbreth bersama istirnya mengembangkan teknik untuk
menyederhanakan pekerjaan serta psikologi industri berdasarkan teori Frederick
Taylor.
Ilmu Manajemen (Scientific Management) merupakan peninggalan taylor yang
paling terkenal. Ilmu Manajemen adalah ide tentang penggunaan metode ilmiah
dalam manajemen. Ide ini muncul ketika taylor merasa kurang puas dengan
ketidakefisienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefisienan itu muncul karena para
pekerjanya menggunakan cara kerja yang berbeda untuk pekerjaan yang sama.
Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak ada standar kerja ataupun SOP disana. Selain
alasan tersebut, para pekerjanya cenderung menyepelekan pekerjaan yang
dikerjakannya. Taylor memperkirakan bahwa hasil yang dicapai oleh pekerjanya
hanya sepertiga dari yang seharusnya bisa mereka capai. Kemudian, selama 20 tahun
Taylor berusaha keras meneliti, dan mempelajari keadaan tersebut. setelah meneliti
dan mempelajari keadaan yang terjadi, Taylor mulai mengoreksi keadaan tersebut
dengan menerapkan metode-metode ilmiah dan diharapkan akan diperoleh sebuah
teknik terbaik dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.
Berdasarkan pengalamannya, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas
tentang bagaimana cara meningkatkan efisiensi produksi dari suatu perusahaan. yaitu:
Mengganti metode kerja yang bersifat untung-untungan dengan metode yang
berdasarkan studi ilmiah terhadap sebuah pekerjaan, Secara ilmiah, pilihlah kemudian
latihlah, dan kembangkan kemampuan pekerja tersebut. Berikan instruksi secara
detail dan pandangan mengenai pekerjaan tersebut kepada setiap pekerja, sehingga
diperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang diinginkan dan sesuai dengan
ilmu-ilmu yang telah dikembangkan. Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara
merata antara manajemen dan pekerja agar para pekerja dapat menjalankan rencana

kerja sesuai dengan prinsip ilmu manajemen yang telah ditetapkan. Pedoman ini
mengubah drastis pola pikir manajemen pada saat itu. Jika sebelumnya pekerja
memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri semampu mereka, Taylor
mengusulkan seorang manajer lah yang seharusnya memilihkan pekerjaan dan
melatih pekerjanya. Manajer juga disarankan untuk mengambil alih pekerjaan yang
tidak sesuai dengan pekerja, terutama bagian perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengontrolan. Hal ini berbeda dengan pemikiran sebelumnya di
mana pekerjalah yang memilih sendiri pekerjaannya.
Alasan Rule of thumb method digantikan oleh Scientific Method adalah
dibutuhkannya metode yang lebih efisien dalam mengelola suatu industri. Hal ini
disebabkan oleh revolusi industri pada awal abad ke-19 yang menuntut peningkatan
produktivitas dan efisiensi dari suatu industri. Rule of thumb dianggap kurang akurat
untuk digunakan sebagai prinsip dasar dalam mengelola industri di masa depan
karena tidak mencakup seluruh bidang dalam industri secara mendetail. Sedangkan
Scientific Method mampu menyediakan pengaplikasian mengenai manajemen waktu,
perancangan, pengukuran, perencanaan, pengendalian kerja, organisasi, dan
manajemen sumber daya serta pekerja.
Prinsip manajemen ilmiah diciptakan taylor berdasarkan hasil riset terapan
dari kegiatan jasa konsultan manajemen yang dilakukannya di beberapa pabrik.
Prinsip kerja mekanistis dan system birokrasi ini dikecam karena menghasilkan pola
kerja yang lamban, mirip sistem kerja paksa atau perbudakan dengan pengawasan
ketat terhadap pola spesialisasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan social
dan mingkatnya kesadaran hak-hak buruh dan demokratisasi. Penerapan manajemen
ilmiah ini perlu dikaji secara teoritik, dan hal ini merupakan solusi untuk
memecahkan masalah dari kapitalisme menuju komunisme, kritik atas prinsip ini
dating dari para pemikiran marxisme karena bermunculan pemikiranmanajemen
dengan menekannkan aspek manusia seperti aspek psikologis dan budaya.
Kapitalisme monopoli dalam satu hal berarti pengendalian terhadap satu atau
sedikit kapitalis terhadap sektor ekonomi tertentu. Jelas dalam kapitalisme monopoli
kompetisi jauh lebih sedikit ketimbang dalam kapitalisme kompetitif. Dalam
kapitalisme kompetitif organisasi bersaing atas dasar harga, artinya kapitalis berusaha
untuk menjual barang lebih banyak dengan menawarkan harga lebih rendah. Dalam
kapitalis monopolis perusahaan tidak lagi bersaing dengan cara seperti itu karean satu
atau beberapa perusahaan mengendalikan pasar. Untuk mengembangkan analisis
Marx, Braverman menyatakan bahwa konsep kelas buruh tidak mendeskripsikan

orang atau kelompok pekerja tertentu, tetapi lebih merupakan sebuah pernyataan
tentang proses pembelian dan penjualan tenaga kerja. Dilihat dari hal itu, Braverman
menyatakan bahwa dalam kapitalisme modern sebenarnya tidak seorang pun di antara
tenaga kerja itu memiliki alat produksi , karena itu segolongan besar orang, termasuk
pekerja kantoran dan pelayan terpaksa menjual tenaga mereka kepada segolongan
kecil yang memiliki produksi.
Braverman mengakui adanya eksploitasi ekonomi yang menjadi sasaran
perhatian Marx, tetapi ia menekankan perhatian pada masa pengendalian. Cara
kapitalis mengendalikan tenaga kerja yang mereka kerjakan yakni dengan melalui
manajer. Braverman mendefinisikan manajemen merupakan proses memimpin tenaga
kerja yang bertujuan mengendalikannya di dalam perusahaan. Braverman
memusatkan perhatian pada cara-cara yang lebih bersifat impersonal yang digunakan
manajer untuk mengndalikan tenaga kerja. Braverman bahas karya Taylor mengenai
manajemen ilmiah merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tenaga kerja yang
teralienasi. Manajemen menggunakan monopolinya terhadap pekerjaan yang
berkenaan dengan pengetahuan untuk mengontrol setiap langkah proses pekerjaan.
Akhirnya, pekerja itu sendiri dibiarkan tanpa keterampilan isi atau pengetahuan yang
bermakna; keterampilan dan keahlian dihancurkan sama sekali.Braverman pun
melihat mesin sebagai alat kontrol terhadap pekerja. Mesin modern tercipta ketika
peralatan dan atau pekerjaan cenderung diatur gerakannya oleh struktur mesin itu
sendiri
Pemanfaatan spesialisasi untuk mengendalikan tenaga kerja. Spesialisasi di
tempat kerja meliputi pembagian tugas atau operasi menjadi bagian-bagian kecil dan
sangat terspesialisasi, yang tiap bagian diserahkan kepada pekerja yang berlainan.
Spesialisasi bukanlah alat kontrol memadai yang dapat digunakan kapitalis dan
manajer. Alat kontrol penting lainnya adalah teknik ilmiah, termasuk upaya seperti
manajemen ilmiah. Manajemen ilmiah ditemukan dalam sederetan tahapan yang
bertujuan mengendalikan tenaga kerja sebagai berikut: mengumpulkan sejumlah
pekerja dalam satu ruangan kerja, menetapkan lamanya hari kerja dan jam kerja,
mengawasi pekerjaan mereka, melakasanakan peraturan terhadap peraturan dan
menetapkan produksi minimal yang dapat dierima.
Dalam kapitalisme kompetitif abad 19 digunakan kontrol sederhana di mana
para atasan menggunakan kekuasan secara pribadi, ikut campur tangan dalam proses

kerja sering dengan cara yang memaksa pekerja, menggeretak dan mengancam
pekerja, memberi hadiah atas pelaksanaan pekerja yang baik, mengangkat dan
memecat dengna segera, menyayangi pekerja yang setia dan lainnya. Pekerja modern
dapat di kontrol dengan teknologi yang digunakan ditempat kerja. Selain itu pekerja
modern juga di kontrol dengan birokrasi yang lebih bersifat impersonal ketimbang di
kontrol secara personal oleh pengawas. Kapitalisme terus berubah dan bersamaan
dengan itu mengubah cara pengotrolan pekerja.
2.

Proses Kerja dan Pengalaman Kerja Akuntan


Perspektif interaksionis mencakup berbagai cara untuk memahami dunia sosial

sebaliknya dapat dikatakan dari perspektif proses kerja. Marx dan Braverman
berkomitmen untuk tugas radikal membentuk kembali kerja dan masyarakat. Ini yang
mereka percaya mungkin di bangun dari transformasi sebuah perintah sosialis
alternatif. Diantara pengetahuan yang perspektif proses kerja yang dituntut pada
akuntansi keuangan adalah menyoroti bagaimana berkontribusi untuk subordinasi
kelembagaan tenaga kerja, bagaimana bahasa yang melayani dan melegitimasi
kepentingan sectional, dan cara-cara yang seperti bentuk lain dari kontrol manajemen
itu telah dibentuk terutama untuk memenuhi kepentingan modal (Hopper et al., 1987:
446). Taylorisme mengandalkan pada kombinasi dari ketiganya, perjalanan waktu
telah melihat munculnya dominasi kontrol akuntansi dan para akuntan yang
mempekerjakan mereka (terhadap kepentingan kelas pekerja). Baru-baru ini Wardell
& Weisenfeld (1988) telah memberikan bukti dalam kasus AS bahwa kemunculan dan
praktek akuntansi manajemen harus dilihat sebagai terkait erat dengan perjuangan
kelas.
Diantara tema yang Hopper et. al. di tahun 1986, proses kerja informasi
mereka menginterpretasi kemballi kasus NCB adalah pentingnya hubungan kelas
untuk memahami akuntansi dan pengendalian keuangan dalam proses kerja. Dalam
kata-kata sendiri kontrol dari kontroler yang bermasalah. Setelah sebelumnya
menunjukkan adanya divisi utama dalam apa yang biasanya disebut manajemen NCB
dan mekanisme lose coupling kontrol manajemen, Hopper et. al. kembali ke data
untuk melihat bagaimana manajemen atas NCB kita gunakan pengaturan ini untuk
mengelola eselon rendah manajemen. Perhatian tertarik pada kompleksitas dari sistem
kontrol yang telah dibangun dan cara di mana informasi keuangan juga berfungsi
untuk mengelola proses kerja manajerial. Hal ini menyebabkan mereka untuk

menyimpulkan bahwa jelas ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian


lebih lanjut tentang posisi profesional akuntansi dalam struktur kelas kontemporer.
Mengadopsi perspektif proses kerja adalah pendekatan berpotensi subur
(bermanfaat) terutama ketika diartikulasikan dengan metodologi studi kasus. Konsep
proses padat memberikan 'teori' yang bahan kasus dan analisis yang berfungsi untuk
memberikan informasi. Teori ini tidak berkembang dari studi seperti dalam
interaksionisme karena sudah berada di tempatnya. Ini juga merupakan masalah
utama dari perspektif proses kerja. Di tangan para pendukungnya lebih berkomitmen
itu adalah perspektif tanpa malu-malu parsial pada pekerjaan dan organisasi.
Perspektif proses kerja berangkat dari pemikiran bahwa dalam sebuah karya
masyarakat kapitalis dan pekerjaan, hubungan organisasi dan industri semua
berbentuk dan terstruktur untuk melayani kepentingan kelas kapitalis.