Anda di halaman 1dari 15

KOMUNIKASI POLITIK

KOMUNIKASI POLITIK DPP GERINDRA KHUSUSNYA DALAM BIDANG DARING

Makalah ini dibuat untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah komunikasi politik

untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah komunikasi politik oleh Annisa Meidiana 13140110306 Magdalena 13140110319

oleh Annisa Meidiana 13140110306 Magdalena 13140110319 Ashilla Sikado 13140110324 Jennifer Sidharta 13140110345

UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA TANGERANG

2014

Bab I

Pendahuluan

I.I Latar Belakang Komunikasi daring merupakan salah satu strategi komunikasi yang digunakan partai politik, khususnya saat kampanye calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia periode 2014/2019 pada 4 Juni 2014 hingga 5 Juli 2014. Dalam makalah ini kami menganalisis strategi komunikasi daring oleh DPP Gerindra dalam kampanye presidensial tersebut secara khusus dan dalam situasi lain secara umum.

I. II Metode Penelitian

Metode yang kami gunakan adalah analisis data sekunder yang berasal dari sumber referensi serta data primer berupa hasil wawancara dengan tim strategi komunikasi politik daring DPP Gerindra, yang diwakili oleh Noudhy Valdrino selaku Digital Strategist dalam Divisi Media dan Tim Kampanye DPP Gerindra.

I. III Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah mengetahui dampak komunikasi daring, mengukur efektivitas komunikasi daring, dan menganalisis strategi komunikasi daring oleh DPP Gerindra

dalam kampanye calon presiden dan calon wakil presiden Republik Indonesia periode 2014/2019 secara khusus dan dalam situasi lain secara umum.

I. IV Rumusan Masalah Pertanyaan yang kami ajukan kepada tim komunikasi politik Gerindra:

1. Siapa saja yang termasuk tim komunikasi politik saat kampanye dan mengapa?

2. Bagaimana strategi komunikasi politik saat kampanye presidensial?

3. Faktor apa yang mendorong dilakukannya komunikasi daring?

4. Siapa yang dipilih sebagai tim komunikasi daring dan mengapa?

5. Siapa yang menjadi target komunikasi politik?

6. Taktik apa saja yang dilakukan terkait komunikasi daring?

II. I Analisis Situasi

1. Pemilu Legislatif

Bab II

Isi

Atmosfer kampanye sejuk dalam pengertian setiap partai fokus dengan partainya masing- masing, tidak ada saling menjelekkan. Atmosfer ini mau dibawa ke kampanye pemilu presiden, karena sejak awal Koalisi Merah Putih senantiasa berkoordinasi dengan Koalisi Indonesia Hebat. Awalnya, diharapkan saat pemilu preside nada tiga poros, mengingat sosok Prabowo dan Jokowi adalah prototipe yang masing-masing ada pendukungnya. Namun, hanya adanya dua poros menimbulkan situasi yang tidak diantisipasi.

2. Pemilu Presiden

Konsentrasi komunikasi politik lebih pada menangkis kampanye hitam yang terjadi dalam masyarakat, baik secara daring maupun dalam kehidupan nyata. Situasi ini mengganggu strategi komunikasi Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat.

3. Saat Ini

Pemerintah baru berganti sehingga Koalisi Merah Putih untuk sementara beristirahat dari kontes politik. Fokus pada politik sebenarnya yaitu kebijakan publik dan jalan keluar bagi

masyarakat.

II. II Tujuan

1. Pemilu Legislatif

Securing target market.

2. Pemilu Presiden

Membuat sosok yang ditawarkan Koalisi Merah Putih lebih mudah diterima masyarakat karena elektabilitas pasangan capres cawapres nomor satu di hari pertama adalah 20%. Di

seluruh dunia pun menambah elektabilitas hingga 30% adalah tantangan sulit. Mempromosikan competitive advantage Prabowo.

3.

Saat Ini

Fokus pada DPR karena pemerintah juga baru berganti. Belum berpikir untuk kampanye berikutnya, mungkin tahun depan baru memikirkan kampanye 2019 karena dalam politik empat tahun itu cepat sekali. Namun, sebagai partai ketiga, Gerindra masih perlu memikirkan Indonesia juga. Secara kontes politik, Koalisi Merah Putih beristirahat dan saat ini berfokus pada politik sebenarnya yaitu kebijakan publik dan jalan keluar bagi masyarakat.

II. III Khalayak

Basis Gerindra sendiri awalnya adalah petani dan nelayan karena Prabowo berfokus pada pertanian dan perikanan. Berikutnya baru menarget pemilih pemula yaitu penduduk Indonesia usia 18-35 tahun alias floating market.

II. IV Strategi

1. Pemilu Legislatif

Dari awal Gerindra sangat berkonsentrasi di media sosial dan digital media dengan materi yang dikhususkan bagi anak muda, karena dari 2010 ke 2014 mereka akan menjadi floating market alias belum punya partai pilihan. Konsentrasi pada pemilih pemula yaitu usia 18-35 tahun yang menyukai hal-hal sederhana sehingga strategi Gerindra adalah menyederhanakan artikel Kompas, diberi gambar dan infografis agar mudah dicerna supaya ada tendensi untuk cepat menyukai. Setelahnya, target akan mau mencari tahu lebih banyak, mencari tahu siapa Gerindra dan apa yang dilakukannya. Strategi ini dilakukan karena belum ada sosok Prabowo-Jokowi. Para pemilih apatis pada politik sehingga Gerindra mencoba mendekatkan politik kepada kebiasaan pemilih pemula. 12% kursi Gerindra di DPR akibat pemilih baru Gerindra, dan banyak dari mereka adalah pemilih pemula.

2. Pemilu Presiden

Menyeragamkan kampanye. Sampai saat ini branding garuda merah kuat karena dari Jakarta hingga pelosok Indonesia orang harus kampanye dengan logo tersebut. Sebenarnya, logo

ini hanyalah medium branding.

Strategi utama lainnya adalah menyederhanakan cara kampanye yaitu dengan logo garuda merah serta warna alias kemeja putih dan peci. Strategi lain yang bersifat konten yaitu menetralkan, khususnya isu keterlibatan Prabowo dalam kerusuhan 1998 dan status hukum anak Hatta Rajasa.

3. Saat Ini

Fokus ke anggota dewan dari Gerindra dalam hal memastikan semuanya bekerja. Peningkatan perwakilan Gerindra di DPR 3 kali lipat periode sebelumnya, dari 5% atau 26 orang menjadi 12% atau 73 anggota dewan. Harus dilihat per orang agar semua bekerja dan kualifikasinya baik, walaupun mereka sudah terpilih alias tidak bisa diganti. Saat ini, fokus DPP Gerindra adalah memastikan perwakilannya dalam DPR bekerja, membantu Koalisi Merah Putih dalam hal menyokong dan mendukung keputusan KMP serta dikomunikasikan setelah disederhanakan penyampaiannya, serta tetap mempromosikan program partai dengan cara membandingkan kebijakan pemerintah dengan program Gerindra. Tentunya tim komunikasi Gerindra juga senantiasa mem-branding petinggi partai.

II. V Taktik

1. Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden

Penggunaan media sosial, video, gambar, musik, dan situs resmi Gerindra. Media sosial itu fenomena 2014, hampir semua tren waktu kampanye dilahirkan di media sosial. Ini baik, tetapi harus disadari kalau media sosial terbatas di Jawa, Sumatera, dan Bali mengingat daerah lain mengalami keterbatasan infrastruktur. Oleh karena itu, harus ada koordinasi dengan komunikator di lapangan. Contohnya, logo garuda merah dibuat, dicetak sample-nya berupa 50 kaos untuk setiap partai dalam Koalisi Merah Putih, diberikan kepada komunikator di lapangan, lalu mereka sendiri yang mencetak untuk daerah dan seterusnya hingga mencapai pulau-pulau terluar. Akibat keterbatasan jangkauan internet di sebagian besar wilayah Indonesia, kampanye lapangan masih menjadi salah satu yang paling efektif karena tidak semua orang punya akses internet dan televisi. Kedatangan tokoh politik menjadi kehormatan bagi mereka sehingga sangat efektif.

2.

Saat Ini

Aplikasi jaringan Gerindra yang melaporkan anggota DPR dari Gerindra, agenda mereka, memastikan semuanya bekerja, semua mengetahui RUU yaitu kapan dirancangnya, kapan masuk

paripurna, kapan disahkan, dan posisi terhadap RUU tersebut.

II. VI Tim Tim terdiri dari 30 orang dengan 2 Digital Strategist.

1. Pemilu Legislatif

Tiga tim yaitu Gerindra Media Center, spesialis eksistensi dan citra Gerindra dalam media-media cetak serta hubungan antara para pejabat Gerindra-petinggi partai-para media; Media Online, menangani konten kampanye, media sosial, dan kampanye kreatif; serta Badan Komunikasi Gerindra, mengurus paid media yaitu TV, radio, dan iklan dalam media.

2. Pemilihan Presiden

Bergabung dengan tim Koalisi Merah Putih (KMP). Pemimpin tim komunikasi setiap partai melakukan koordinasi mingguan untuk menentukan orientasi kampanye makro. Urusan

mikro dikembalikan ke partai masing-masing karena tiap partai telah memiliki sistem komunikasinya.

3. Saat Ini

Tim komunikasi berada dalam mode pengawasan atau media monitoring. Prabowo Sugianto selaku ketua umum DPP Gerindra telah meresmikan KMP Jakarta, tetapi KMP daerah masing-masing masih menunggu. Belum ada kepastian mengenai permanen atau tidaknya tim komunikasi KMP, tetapi bila KMP punya tim komunikasi sendiri konten akan lebih gampang dikoordinasikan. Kebijakan KMP berbeda dari kebijakan partai dalam bidang komunikasi. Namun, dipastikan akan ada koordinasi antara kepengurusan KMP dan partai-partai karena kebijakan KMP pasti diikuti kebijakan partai. Hanya saja, pengolahan konten dikembalikan kepada setiap partai. Tentunya isu strategis yang diangkat setiap partai sesuai dengan KMP.

Bab III

Penutup

III. I Kesimpulan Tidak banyak pihak yang memprediksi pengaruh Media Digital di Indonesia, khususnya peranan media sosial. Akibatnya, tidak semua partai dan semua tokoh siap. Gerindra sendiri diuntungkan inisiatif Prabowo yang secara pribadi menyukai media sosial. Gerindra memiliki tim media daring sejak 2010, begitu pula akun facebook dan twitter. Saat kampanye pemilihan presiden, Prabowo sudah punya delapan juta fans. Twitter Gerindra sendiri sudah memiliki 190 ribu followers yang dibangun selama empat tahun, dan terakhir kali dicek 70% followers tersebut masih asli. Facebook lebih susah dicurangi, tetapi twitter berbeda. Buzzer politik efektif di twitter karena konten naik dan turun dengan cepat. Selain itu, ada pula buzzer politik di portal berita untuk komentar-komentar. Buzzer sendiri diperlukan hanya untuk mengejar ketertinggalan dengan instan. Dalam hal ini, karena Gerindra sudah memiliki akun media sosial sejak awal, parta berlogo garuda merah ini tidak menggunakan buzzer. Menurut Noudhy Valdrino sendiri, buzzer tidaklah efektif karena yang mereka punya adalah akun baru yang followers-nya hanya 10, tetapi banyak re-tweets dan bisa menaikkan trending topic. Begitu pula di komentar-komentar, buzzer hanya memberi komentar untuk membela artikel yang menyerang. Akhirnya hanya akan saling melawan dengan pendukung asli atau sesama buzzer. Tidak ada taktik rahasia dalam komunikasi politik Gerindra. Konsepnya selalu menyederhanakan konten-konten politik karena inti dari permasalahan anak muda dan masyarakat Indonesia adalah apatisme politik dan konten politik yang kadang-kadang terlalu berat sehingga susah untuk dimengerti secara makro. Komunikasi politik Indonesia, khususnya dalam bidang daring, berada dalam tahap perkembangan. Fenomena pada 2014 terjadi terlalu cepat yaitu demokrasi dua sisi yang sama- sama kuat sehingga kampanyenya kacau. Terjadi kampanye hitam yang bahkan tidak pernah terpikirkan. Secara kualitas komunikasi, pemilu presiden jelek sedangkan pemilu legislatif bagus. Ini menjadi bahan evaluasi.

Kini saat pemerintahan dan perlemen berjalan, komunikasi politik mulai belajar banyak mengenai media sosial, substansi, dan konten. Tidak sekadar pembela Jokowi atau Prabowo tanpa melihat sisi positif dan negatif masing-masing tokoh. Diharapkan kampanye 2019 lebih mirip Amerika dan Australia yang memiliki dua sisi yang kuat tetapi kampanyenya tetap pada substansi. Seperti atmosfer dalam pemilu legislatif kemarin. Namun, Indonesia memang bertendensi menjadi fanatic terhadap sesuatu karena berada dalam fase berkembang sehingga tidak banyak hal dapat dibanggakan. Maka, saat ada yang dapat dibanggakan fanatismenya besar. Dari sisi kampanye daring, awalnya hanya diprediksi kontribusinya maksimal 7%, tetapi ternyata hasilnya sekitar 10-11%. Memang belum bisa dibilang strategi utama, tetapi tetap memegang peranan yang cukup besar. Pada 2009, diprediksi efektivitasnya setara televisi. Hanya saja, yang terutama tetap figure alias sosoknya. Hingga 20-30 tahun ke depan Indonesia tetap akan melihat kampanye-kampanye di lapangan karena memang itu yang masih menjual. Namun, seiring perkembangan infrastruktur, media daring akan terus meningkat pengaruhnya.

III. II Proyeksi Tim Komunikasi Gerindra Mempertahankan basis-basis yang sudah ada yaitu nelayan, petani, dan pemilih pemula serta memperlebar basis. Tantangannya adalah mempertahankan komunikasi politik agar tetap sesuai dengan basis-basis awal saat harus memperlebar basis karena konten yang disukai basis tertentu tidak selalu cocok untuk basis lain. Ada basis baru berarti ada pemilih baru. Intinya adalah kalau berhasil meyakinkan suatu basis, mereka tentunya punya suatu kebijakan yang disukai, kebijakan itu yang harus tetap dijalankan. Maka untuk anggota dewan dari Gerindra mereka akan tetap memperjuangkan kebijakan yang sudah dijanjikan kepada nelayan, petani, dan pemuda.

Lampiran

I. Transkrip wawancara dengan Gerindra posisi narasumber adalah dalam divisi media dan tim kampanye, sebagai digital strategist. waktu pemilu legislatif dan pilpres lakukan kampanye dari media sosial, video, gambar, musik, dan sebagainya. tim terdiri dari 30 orang dengan 2 digital strategist. saat kampanye pileg, gerindra terdiri dari 3 tim: gerindra media center (khusus eksistensi dan citra gerindra di media2 cetak, hubungan antara para pejabat gerindra-petinggi partai- media2). tim media online: konten kampanye, media sosial, kampanye kreatif. tim badan komunikasi gerindra: paid media [TV, radio, iklan di TV dan radio]. saat kampanye pilpres gabung dengan tim KMP. dilakukan koordinasi mingguan. kebetulan KMP kantornya saling berdekatan. Rapat mingguan di kantor partai, diskusi terus. Urusan mikro dikembalikan ke partai masing-masing karena tiap partai punya sistem yang sudah berlaku. Orientasi kampanye makro ditentukan bersama. Kalau hari ini isu penjualan indosat, disetujui bersama, secara mikro/pelaksanaan dilakukan tim masing-masing. Tiap partai dalam KMP sudah punya tim. jadi perwakilan (pemimpin tim per partai) ikut rapat, orientasi yang disetujui di rapat dibawa ke tim masing-masing. Saat ini KMP merupakan koalisi yang solid, dan Pak Prabowo sudah resmikan KMP Jakarta, tapi KMP daerah masing-masing masih menunggu. Isu di masyarakat saat ini bukan isu yang dimainkan, semuanya fakta yang bisa dilihat rakyat jadi dalam mode pengawasan/media monitoring saja sehingga balik ke tim masing-masing. Apakah tim komunikasi KMP akan permanen belum tahu tapi mudah-mudahan KMP punya tim komunikasi sendiri agar konten lebih gampang disalurkan. Kebijakan KMP berbeda dari kebijakan partai dalam bidang komunikasi. Misalnya KMP sedang bahas BBM, bisa saja Gerindra bahas isu gubernur dan wakil gubernur DKI. Tentunya akan koordinasi antara kepengurusan KMP dan kepengurusan partai2, karena kebijakan KMP pasti diikuti kebijakan partai. Tapi pengolahan konten dikembalikan ke partai masing2. Makanya kalau ada tim KMP lebih baik supaya bisa oleh konten sendiri. KMP punya twitter sendiri, Gerindra PKS juga, isi twitter ga selalu sama tapi kalau isu strategis nanti akan disesuaikan dengan KMP.

Strategi kampanye presiden tak lepas dari pemilu legislatif. Sebenarnya ada koordinasi. Ada fenomena di pemilu presiden yang tak terduga KMP dan KIH, karena sebenarnya koordinasi terus dengan KIH. Waktu legislatif kan atmosfernya sejuk, tiap partai konsen dengan partainya masing-masing, tak ada saling menjelekkan. Itu atmosfer yang awalnya mau dibawa ke pilpres. Awalnya berharap di pilpres ada 3 poros. Apalagi sosok Prabowo dan Jokowi prototype yang masing-masing ada pendukungnya. Tapi waktu pilpres konsentrasinya malah banyak kepake untuk counter black campaign yang terjadi di masyarakat, baik internet maupun asli. Ini mengganggu strategi komunikasi (buat sosok yang ditawarkan KMP lebih mudah diterima masyarakat) karena elektabilitas di hari pertama 20%. Perlu strategi kom yang luar biasa, salah satunya menyeragamkan kampanye. Sampai sekarang branding garuda merah kuat karena dari Jakarta sampai pelosok orang harus kampanye dengan logo itu, medium supaya orang mudah. 30% yang harus dikejar kan banyak. Strategi utama: menyederhanakan cara kampanye, dengan logo, warna (putih dan peci), supaya dari ibu kota sampai ke daerah tetap sama. Strategi lain yang bersifat konten yaitu menetralkan (98 dan Prabowo, status hukum anak Hatta Rajasa). Untuk penyampaian konten sudah disampaikan sejak pileg, jadi waktu pilpres biasanya pemilih sudah tahu. Untungnya calon gerindra 2 2 nya dari parpol, ketua umum parpol jadi udah dicicil kampanyenya. Makanya contohnya JK didongkrak oleh KIH. *di lapangan dan konten. Medsos itu fenomena 2014, hampir semua tren waktu kampanye dilahirkan di medsos. Ini baik tapi harus disadari kalau medsos adanya di Jawa Sumatera Bali, di tempat lainnya infrastrukturnya juga masih susah. Makanya yang di lapangan harus koordinasi juga. Contohnya logo garuda merah dibuat, cetak sample, kasi ke orang2 lapangan (kaos msg2 50), trus dari mereka sendiri yang cetak untuk daerah dst sampai ke pulau2 terluar. Jadi faktanya memang buka facebook di Semarang aja butuh 5 menit untuk buka homepage. Ga semua masyarakat bisa akses internet cepat. Untuk pulau2 terluar bergantung pada orang2 lapangan. Makanya kampanye lapangan masih jadi salah 1 yg paling efektif karena ga semua punya akses ke TV, inet. Tokohnya dateng langsung itu jadi kehormatan dan efektif banget. Karena nyampein konten ke seluruh Indo ga segampang nyampein konten ke Pulau Jawa.

Strategi kompol setelah pilpres: fokus ke anggota dewan. karena peningkatan 3 kali lipat, dari 5% sampai 12%, sekarang ada 73 anggota dewan. harus diliat satu2 apakah semua kerja dan

kualifikasinya baik, walaupun sudah terpilih (ga bisa diganti). fokusnya mastiin semua kerja. Makanya ada aplikasi jaringan gerindra (iOs, android): anggota DPR, agendanya, pastiin semua kerja, semua tahu RUU (kpn dirancang, kapan masuk paripurna, kpn disahkan, dan ada posisi thd RUU). Karena kelemahan DPR ada 560 anggota, partainya 8, tiap partai paling jagoannya 5-10, tapi 80 orang yang kerja yang lainnya kan bisa gaji buta. makanya fokusnya gerindra 1. supaya anggota DPR kerja, selain bantu 2. KMP. Menyokong KMP, keputusan KMP langsung sederhanakan tapi sifatnya dukung. Terus juga ttp 3. promosiin program partai. Kebijakan pemerintah bandingin dengan program Gerindra. contohnya sekarang isu bbm dari dulu Gerindra udh bilang harus segera ke bio-etanol, harus sesegera mungkin mandiri energi. Itu aja, selain menyokong, branding petinggi partai, walau sekarang sosok Prabowo masih kenceng, dan setelah pilpres citranya di masy membaik. tp ttp harus membranding. digital media di Indo itu kaget. medsos ga banyak yg bisa prediksi bhw 2014 medsos akan berperan besar. ga smw partai, tokoh siap. gerindra pny tim media online dari 2010 krn inisiatif Prabowo. ia suka medsos, bahkan dia yg inisiatifin facebook dan twitter gerindra. Jd gerindra cukup beruntung udh pny medsos. yg udh lama pny paling Gerindra, PKS. Prabowo wkt mulai kampanye fb udh ada fans 8 jt, Jokowi blom pny fb. JK fansnya ga trll byk walau udh verifikasi, Hatta sama. Kalau fb lebih susah dicurangi, tp twitter beda cerita. Harus ada buzzer. Gerindra twitter udh 190rb followers, dibangun slama 4 thn, trakhir kali cek 70% masih asli. Buzzer politik efektif di twitter krn konten naik turun cepet. klo fb, akun palsu ga sampe 5 hari jg ketutup (karena minta cek, temen ini siapa namanya, foto dll pdhl akun palsu kan add asal2an). buzzer pol adanya di twitter dan portal berita untuk komen2. Gerindra PKS ga perlu buzzer karena dari awal udh ada duluan, kalau buat ngejar baru pake buzzer. Buzzer itu ga efektif karena yg mereka punya adalah akun telor2an yg follower cuma 10, yg penting retweet byk dan bisa naikin trending topic. Di komen jg, artikel yg nyerang, dia komen bela. secara keseluruhan ga byk, di Indonesia brp byk yg liatin trending topic twitter. Selain di forum2 sperti kaskus. ujungnya bakal lawan2an sama pendukung asli ato sama sesama buzzer.

Buzzer bener2 diperlukan cuma kalo mau ngejar dengan instan. klo pny base ya ga perlu. dan harganya mahal. makanya klo ga butuh ya ga ada kebutuhan utk digunakan.

Waktu pilpres udh ga ada karena kebaginya cuma 2 tokoh, jd promosinya cuma prabowo punya apa jokowi punya apa. KIH jg gitu. kalau kompol bisa dilihatnya byk lwt pileg. Waktu pileg jelas ada target market. Dari awal Gerindra sangan konsentrasi di medsos, digital media, materi lebih ke anak muda, karena dari 2010 ke 2014 mreka jd floating market, blom punya pilihan. kalau udh 40-50 thn udh pasti pilih partai ortodoks, golkar ato pdip karena mreka ada udh 20 thn. kalau gerindra wkt tu blom pny suara di parlemen (26 org), skrg org bs denger suara gerindra tiap hari, apalagi fadli zon wakil ketua DPR. waktu itu konsentrasi kampanye 18-35, umur pemilih pemula. pemilih pemula sukanya yang simple, ga suka baca kompas yg panjang dan penjelasannya teknis. strategi gerindra mempersederhana artikel kompas, kasi gambar, infografis, supaya mudah dicerna. jd ada tendensi utk cepet menyukai. bis tu jd pengen tahu lebih. bis tu jd cari tahu gerindra itu siapa, apa yg dilakukan. nah stlh itu ‘takdir’ suka/ga suka, yg ga bs dipaksain. biasanya stlh ada interest, baru jd lebih tertarik politik. nah strategi kompol begitu karena 2014 ini sblm ada sosok prabowo jokowi, para pemilih apatis sama politik (cape, ya pol itu bgtu2 aja). makanya gerindra coba deketin politik dgn kebiasaan pemilih pemula. dari 12% itu byk pemilih baru gerindra berasal dari pemilih pemula. krn 2009 gerindra baru dibentuk, konsennya sama petani dan nelayan. prabowo concern sm pertanian dan perikanan. berikutnya baru target pemilih pemula. karena nanamin ideologi baru ke pemilih usia lebih dewasa lebih susah, mreka udh kebiasa golkar/pdip. pemilih pemula bagi kami lebih bisa diyakinkan. basis2 yg udh ada dipertahankan (nelayan, pemilih pemula) dan ke depannya akan perlebar. PR nya adalah, pertahanin kompol tetep sesuai mreka saat harus memperlebar basis. konten petani/nelayan blom tentu cocok dgn anak muda. strategi kompolnya ttp pertahanin basis yg udh dimiliki dan perlebar lg. apalagi 8% yg dicari (utk ningkatin dari 12% jd 16-20%). harus cari basis baru. itulah mekanisme parpol. ada basis baru, ada pemilih baru. yg penting adalah klo berhasil yakinin 1 basis, mreka tentunya pny 1 kebijakan yg disukai, kebijakan itu yg harus ttp commit utk dijalankan. jd utk anggota dewan kita skrg mreka akan ttp perjuangin kebijakan yg udh dijanjiin ke nelayan dan pemuda.

saat ini masih concern dgn DPR, pemerintah jg baru settle. blom berpikir utk the next campaign, mgkn thn dpn baru mulai berpikir untuk 2019, krn dlm politik 4 thn itu cepat sekali. tp masih perlu pikirin Indo jg, sbgai partai ke-3. klo konsen terus2an ke pencitraan, kampanye thn dpn, ego2 partai. secara political contest KMP istirahat, concern ke politik sebenarnya (kebijakan publik, jalan keluar bagi masy). tool yg rahasia ga ada, konsepnya slalu mempersimpel konten2 politik krn inti dari permasalahan anak muda dan masy Indo adl apatis pol dan konten pol yg kdg2 terlalu berat. susah utk mengerti secara makro. jd konsep utama adl slalu mencari cara utk mempersimpel konten spy lebih mdh dimengerti masy, baik lwt video, musik, gbr, infografis, logo, yg penting mempersimpel. Contoh logo, prabowo hatta pake garuda merah. kompol khususnya online, saat ini kita sdg developing. yg tjd 2014 itu terlalu cepat, demokrasi 2 sisi, dmn dua2 nya kuat, jdnya kampanyenya chaos. black campaign yg bahkan ga pernah terpikirkan. scara kualitas kom, pilpres jelek, pileg bagus. jd bhn evaluasi, skrg wkt pemerintahan dan parlemen bjalan, mulai blajar byk di medsos, substansi dan konten, bkn cuma gw jokowi gw prabowo. kyk di pileg kan cuma jelekin, ga liat positif jokowi/prabowo. 2019 bharap kampanyenya lebih mirip Amerika, Australia, dm nada 2 sisi yg kuat tp kampanyenya ttp pada substansi. kyk pileg kemarin, itu atmosfir yg ingin diciptakan dlm pilpres tp blom tercapai. tp Indo pny tendensi utk jd fanatic thd sesuatu, krn Indo sdg silent period, lg berkembang, jd ga byk yg bisa dibanggakan. makanya klo ada yg bisa dibanggakan fanatismenya jd gede. mudah2an 2019 lebih bdsrkn substansi, spy black campaign dan ribut2 bisa dikurangin. yg rugi kita sendiri, jd dpt exposure dari australi, singapur, amerika, saling lempar kampanye2 gila. org jg tahu itu bkn kerjaan capres. org jd tahu penduduknya masih mental tawuran. skrg mgkn fanatisme mulai menurun, krn mulai melihat substansinya. tdny prediksi kampanye online cuma 7%, maks. tp ternyata booming sampai sekitar 10- 11%. blom bisa dibilang utama tp pegang peranan yg cukup besar. di 2019 diprediksi bs setara TV. tp yg utama ttp figure, sosoknya. knp Indo ttp akan liat kampanye di lapangan2 bola, lap besar, utk 20-30 thn ke dpn, karena memang itu yg masih menjual. masih seneng sesuatu yg bs dilihat dipegang, makanya online kalah dari supermarket. kampanye elektronik sbnrnya lebih efektif karena wilayah Indo besar. makanya media online akan terus naik, seiring perkembangan infrstruktur.

III. Transkrip wawancara dengan Megawati Institute

Dida Darul Ulum Megawati Institute (lembaga tinten? partai), dalam suksesi Jokowi juga terlibat terutama dalam

media sosial. peneliti, program2 rutin seperti diskusi2 fokus di public policy dan nation building, urus program Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa Secara formal, megawati institute ga masuk struktur tim kompol, tapi terlibat dalam media sosial. Tidak terstruktur tapi terorganisir. akun siluman (fb, twitter), wordpress siluman. Di-counter dengan gerakan2 media sosial, kalau ga bisa menggagalkan pencalonan Jokowi. Tapi akhirnya berhasil, karena Jokowi menang. Strategi kompol saat kampanye: fokusnya memfasilitasi rapat2 tim suksesi Jokowi di Megawati Institute. Komunikasi politik tapi yang terjun langsung ke media sosial. Timses rapat,

MI ikut gabung rapat, tp yg paling efektif adalah medsos karena terjun ke lapangan itu tugas

mereka.

MI sajikan fakta2 Jokowi di medsos lewat akun2 pribadi. Mau nyatain bhw apa yg

dinyatakan slama ini itu kampanye hitam. Yg paling penting, dalam nyatain fakta2 itu, ga

nyerang lawan. Kalau nyerang kan apa bedanya dgn pelaku kampanye hitam. Strategi: sajiin fakta2 jokowi tanpa mencibir ato menyerang lawan politiknya.

Ada jg akun2 medsos lain dari partai dan timses Jokowi. MI hanya membantu. Kan saling

follow, di fb jg ada akun jokowi dodo. Share apa yg akun resmi muat juga bagi MI sangat efektif. ada akun MI, tapi spy lebih efektif akun2 pribadi jg ikut terlibat. Inisiatif pribadi, ga ada koord konten yg akan dimuat. Tapi karena mreka jaringan, saling diskusi, jd bisa paham, pny 1 visi bhw nyajiin fakta2 jokowi tanpa serang lawan politiknya. Tidak terstruktur tapi terorganisir. Karena hampir tiap hari kumpul, ngobrol, jd saling paham. Partisipasi politik masy Indo meningkat, makanya di medsos byk ttg pilpres. Fenomena positif. Kesadaran pol masy meningkat. Salah 1 faktor peyebabnya, lawan politik. Di tengah hiruk pikuk pol, figure Jokowi muncul, dilawan tokoh pol yg pny sejarah masa lalu kelam. Makanya masy jd was2, klo ga dukung Jokowi, apa yg tjd dgn Indonesia. Makanya masy ikut terlibat dlm suksesi Jokowi. Faktor: Jkw sbg pemimpin yg merakyat, lawan politiknya pny masa

lalu yg kelam.

Faktanya wkt pilpres byk relawan, netizen, ngajuin diri buat bantu suksesi Jokowi. Salah 1 inisiator: Nia dinata, Slank. Pemilu2 lalu, artis dibayar, skrg artis sdri bayar ongkos konser utk bantu Jokowi. Contoh Slank, Glen Fredly, dst. Buzzer dipake karena efektif sekali. Fb, twitter itu byk sekali pengguna di Indonesia. byk relawan walau ga terstruktur tp kan dukung Jokowi. krn interaksi dlm jaringan inet, akhirnya bisa merapat ke masy. bisa mempengaruhi kluarga, teman2. itu efektif.

MI ga koord dgn netizen tp udh paham visi mereka jd ga berbenturan, slg melengkapi

saja (dgn DPP jg). akun yg dukung itu ga nyerang lawan pol, tp klarifikasi isu2 Jkw tanpa nyerang lawan pol. Jkw berusaha libatin masy dlm kampanye. Laporan keuangan bs diliat di

google.

dlm bbrp kesempatan Jkw ngadain pertemuan dgn para netizen, netizen jg pny komunitas2 sendiri. Contoh Kill the DJ (Muhammad, yg di Yogya bikin lagu rap). target medsos: pengguna medsos, khususnya penyerang Jkw. karena byk sekali. Contohnya yg wkt tu isu sara, non muslim, komunis. bagi saya, yg nyata itu jokowi haters, bukan jokowi lovers. yg haters apapun yg dilakuin Jkw, dicaci maki. yg lovers ga ngapa2in. Stlh jkw menang, MI jg ga mau elu2in Jkw terus. klo ada kebijakan yg ga pro dgn masy, pasti kita harus mengkritik.

wajar kalau ada yg mengkritik, tp pasti ada tarik ulur pol, ga bs memuaskan smw orang. taktik: reaktif, ada kampanye hitam => klarifikasi. inisiatif. klo skrg krn udh menang, ada yg nyerang ya gpp. ga sesemangat yg lalu utk nyebarin klarifikasi. klo ga ada kampanye hitam ya santai2 aja. share faktajokowi.com (share fakta2 jokowi)

kita gerakan2 sporadis, acak, ga struktur tp well-organized. secara hitung2an ga diukur, tp

indicator keberhasilan jelas: jokowi menang. krn gerakan2 relawan itu sporadis sekali (mkny ga diukur dgn matematis). relawan2 ga struktur, ga ketemu Jkw gpp2, tp yg dilakukan efektif tanpa terbentur timses Jkw.

(cek buzzer dibayar ga)

akun pol bagus, asal jgn dikelola admin. supaya dibaca langsung. kelola akun scr pribadi.

MI ga diitung kampanye, krn medsos ga ada aturan2 terkait kampanye. bahkan hari

tenang dan pencoblosan jg ttp rame di medsos. susah jg ngaturnya.