Anda di halaman 1dari 7

4.

2 Pembahasan
Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada kasus diabetes mellitus
secara langsung, maka penulis akan menguraikan masalah-masalah atau
perbandingan yang ditemukan pada kasus 1 dan 2 dengan masalah yang sama
yaitu diabetes mellitus Dalam proses keperawatan ini, maka penulis akan
membahas secara bertahap mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.
4.2.1 Pengkajian
Pada tahap pengkajian, penulis sudah melaksanakan sesuai dengan
konsep yang ada, penulis melakukan pengkajian secara lengkap.
Berdasarkan hasil pengumpulan data pasien yang terdapat pada gambaran
kasus dilakukan sesuai dengan tinjauan teori meliputi identitas umum
keluarga,

riwayat

kesehatan,

pengkajian

biopsikososial-spiritual,

pemeriksaan fisik pasien dan pemeriksaan penunjang. Untuk memperoleh


data yang diinginkan, penulis menggunakan tehnik wawancara, observasi
langsung dan pemeriksaan fisik. Adapun persamaan yang terjadi antara teori
dengan kasus, Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada pasien pertama
atau kasus 1 didapatkan p bahwa klien megeluh badannya terasa lemas dan
disertai penglihatan yang kabur, poliuria ( banyak kencing ), polidipsia
( banyak minum ), poliphagia ( banyak makan ), untuk kebutuhan minum,
klien minum 8 gelas/hari, mukosa bibir kering, klien BAK 5x//hari
terutama malam hari dan untuk makannya klien menghabiskan 4 -5 x/hari
dengan porsi setiap makannya, sedangkan pada pasien kedua atau kasus 2
didapatkan pada saat pengkajian klien mengeluh nyeri pada luka kaki
sebelah kiri, P = nyeri karena luka gangrene, Q = kualitas seperti ditusuk

135

tusuk, R = pada kaki sebelah kiri, S = 7 ( 0-10 ), T = nyeri tetap, tampak


meringis kesakitan dan tampak ada pus pada luka, tanda tanda vital
TD=120/80 mmhg, S= 36.c, N= 80x/menit, RR= 20x/menit.
4.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang jelas mengenai
status kesehatan atau masalah aktual atau resiko dalam mengidentifikasi dan
menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi atau mencegah
masalah kesehatan klien atau keluarga.
Pada diagnosa keperawatan di mulai dengan melakukan analisa data,
kemudian menyususn rumusan diagnosa keperawatan. Prioritas masalah
ditentukan oleh masalah yang paling mengancam jiwa.
Dalam diagnosa keperawatan yang ada pada tinjauan teori terdapat
lima diagnosa keperawatan, sedangkan pada tinjauan kasus diantara kasus 1
hanya didapatkan tiga diagnosa keperawatan yang muncul dan untuk kasus
2 juga didapatkan tiga diagnosa keperawatan yang muncul yaitu:
1.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan mengabsorpsi makanan yang ditandai dengan,
Klien mengatakan nafsu makan klien mengalami peningkatan, Klien
tampak makan 4 5x/hari dengan menghabiskan setengah porsi setiap
makan dari yang disedikan dari Rumah Sakit, Berat Badan klien saat ini
70 kg , Membrane mukosa kering, Konjungtiva anemis, Tanda-tanda
vital : Tekanan Darah : 120/90 mmHg, Nadi : 82x/menit, Suhu : 37,0 ,
RR

2.

: 22x/menit

Defisit Volume Cairan berhubungan dengan diuretic osmotic yang


ditandai dengan Klien mengatakan merasa lemas dan sering haus, Klien

136

tampak lemah, Klien minum 8 gelas/hari, Mukosa bibir kering, Klien


BAK 5x/hari terutama pada saat malam hari, Keadaan Umum :
Sedang, Kesadaran : Compose Mentis, GCS : E4 V5 M6, Tanda- tanda
vital : Tekanan Darah : 120/90 mmHg, Nadi : 82x/menit, Suhu : 37,0
C, RR
3.

: 22x/menit

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan yang ditandai


dengan, klien mengatakan sangat khawatir dengan keadaannya, klien
mengatakan cemas dengan kondisinya, klien selalu menanyakan
kondisinya, klien tampak cemas
Pada kasus 2 juga didapatkan tiga diagnosa keperawatan yang mucul

yaitu :
1.

Nyeri akut berhubngan dengan luka gangren ditandai dengan klien


mengeluh nyeri pada kaki sebelah kiri, P = nyeri karena luka gangrene,
Q = seperti ditusuk tusuk, R = pada kaki sebelah kiri, S = 7 ( 0-10 ), T =
nyeri tetap, klien tampak meringis kesakitan, klien tampak tidak
nyaman pada kaki sebelah kirinya karena merasa nyeri dan luka.
Keadaan Umum : Sedang, Kesadaran : Compose Mentis, GCS : E4 V5
M6tanda tanda vital = TD = 120/80 mmhg, N = 90x/menit, S =36.c,

2.

RR = 22x/menit
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya ulkus di kaki
yang ditandai dengan klien mengatakan ada luka di kaki kirinya, klien
tampak ada luka gangrene pada kaki kiri, tampak ada pus pada luka,
tanda tanda vital = TD = 120/80 mmhg, N = 90x/menit, S =36.c RR =
22x/menit

137

3.

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan yang ditandai


dengan, klien mengatakan sangat khawatir dengan keadaannya, klien
mengatakan cemas dengan kondisinya, klien selalu menanyakan
kondisinya, klien tampak cemas
Pada tinjauan teori, diagnosa keperawatan yaitu ansietas tidak muncul

disebabkan pada buku menurut Kusuma H ( NANDA NIC-NOC,2012 )


hanya menjelaskan lima diagnosa keperawatan yaitu Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan
mengabosprsi makanan, Defisit volume cairan berhubungan dengan diuretic
osmotic, Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan kondisi
metabolic, Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan, Resiko
infeksi berhubungan dengan perlukaan jaringan dan disesuaikan dengan
kondisi klien saat menemukan kasus tersebut.
4.2.3 Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah penentuan apa yang akan dilakukan
untuk membantu klien memenuhi kebutuhan kesehatan dan mengatasi
masalah keperawatan yang telah ditemukan, kegiatan dalam tahap
perencanaan ini adalah menentukan prioritas masalah keperawatan dan
menyusun rencana perawatan, dalam perencanaan ini meliputi penetapan
tujuan yang ingin dicapai dan rencana tindakan yang terdiri dari tindakan
keperawatan, tindakan observasi dan penyuluhan, serta pelaksanaan
program terapi dokter maupun terapi dari ahli gizi, merasionalisasikan
tindakan yang direncanakan, kemudian yang terakhir adalah rencana
evaluasi.

138

Rencana perawatan pada kasus 1 dan 2 disusun sesuai dengan teori


dari masalah keperawatan yang dialami oleh kedua klien tersebut, sehingga
pelaksanaanya akan lebih baik. Bila dikaitkan secara teori yang
diprioritaskan menjadi masalah keperawatan utama dalam perencanaan
perawatan seperti masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuha,
defisit volume airan, nyeri akut, kerusakan integritas kulit, dan ansitas
karena dengan penaggulangan masalah ini secara tidak langsung akan
menangani masalah yang lain, rencana keperawatannya sesuai dengan teori
yang telah dijabarkan dalam bab dua, sehingga dalam menyusun rencana
keperawatan klien tidak mengalami kesulitan.
4.2.4 Pelaksanaan
Secara teori sifat - sifat tindakan perawatan meliputi : pemberian
tindakan keperawatan, tindakan observasi, penyuluhan, pelaksanaan terapi.
Dimana dalam tindakan perawatan ini langsung mengatasi masalah
keperawatan yang terjadi pada klien. Penyuluhan dapat kita lakukan dengan
cara mengajak keluarga berdiskusi dan memotivasi keluarga, sambil
memberi contoh sehingga klien akan lebih mudah mengerti.
Pelaksanaan terapi yaitu dengan melakukan kolaborsi dengan dokter,
ahli gizi, maupun team kesehatan lainnya berupa pemberian obat, diit, dan
pemeriksaan laboratorium. Dalam pelaksanaan tidak semua rencana dapat
dilaksanakan karena kemungkinan masih dapat diatasi dengan cara lain
yang sudah kita cantumkan sebagai rencana tindakan. Begitu juga jika
terjadi masalah yang tidak dapat atau belum teratasi maka rencana yang
sudah dibuat dapat diulang kembali sebagai tindakan keperawatan sampai
masalah-masalah tersebut teratasi.

139

Dalam melaksanakan tahap pelaksanan pada kasus 1 dan 2 penulis


dapat melaksanakan semua rencana yang ada dengan mengadakan
kerjasama dengan perawat ruangan, tim medis dan tenaga kesehatan lainnya
untuk mengetahui sejauh mana keefektifan asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan sehingga bisa mengikuti perkembangan kesehatan klien.
4.2.5 Evaluasi
Tahap

Evaluasi

merupakan

langkah

terakhir

dalam

proses

keperawatan dimana dalam tahap ini merupakan tahap penilaian


keberhasilan suatu asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan dan ditulis
dalam catatan perkembangan dalam bentuk SOAP, Evaluasi dilaksanakan
secara berkesinambungan dengan cara mengamati langsung perubahan
kondisi kesehatan klien, dan untuk menilai apakah asuhan keperawatan
yang telah dilaksanakan kepada klien berhasil atau tidak dan harus sesuai
dengan rencana keperawatan yang telah dibuat.
Pada dasarnya dalam evaluasi tidak ditemukan adanya kesenjangan
antara teori dan kenyataan yang ditemukan dilapangan.
Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan metode SOAP
(Subyektif, Obyektif, Assesment, Planing) yang merupakan catatan
perkembangan, dan dari Diagnosa keperawatan yang muncul dari kasus 1
dan 2 yang telah diangkat, setelah dilakukan tindakan keperawatan
didapatkan beberapa diagnosa keperawatan yang sudah teratasi antara lain :
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, defisit volume cairan dan
ansitas sudah teratasi.
Pada kasus 1 untuk kebutuhan nutrisi maupun cairan sudah seimbang,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan sudah teratasi dengan
klien mengatakan nafsu makannya sudah mulai terarah, Klien makan 3x

140

sehari dengan menghabiskan 1 porsi, mual sudah berkurang, mukosa bibir


lembab, dan deficit volume cairan sudah teratasi dengan klien mengatakan
lemas sudah berkurang, membrane mukosa lembab, klien BAK 4x/hari,
klien minum 2500cc, Vital Sign : Tekanan darah : 140/90 mmHg, Nadi :
82x/menit, Suhu : 36,0, ansitas sudah tertasi juga dengan klien sudah
merasa tenang, tampak rileks dan tidak gelisah lagi.
Pada kasus 2 klien sudah mampu melakukan aktifitas seperti sudah
bisa berjalan ke kamar mandi, nyeri (akut) teratasi sebagian dengan klien
mengatakan nyeri sudah berkurang dan wajah klien sudah tidak meringis
lagi. dan gangguan integrutas kulit belum teratasi walaupun pus berkurang
tetapi luka masih tampak kemerahan dan terdapat kematian jaringan, ansitas
sudah tertasi juga dengan klien sudah merasa tenang, tampak rileks dan
tidak gelisah lagi.
Pelaksanaan selanjutnya dilakukan oleh perawat ruangan, sehingga
pelaksanaan awal dilanjutkan sampai didapatkan hasil masalah tersebut
sudah teratasi pada bagian evaluasi.

141