Anda di halaman 1dari 27

Bab II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori
2.1.1

Teori dan Konsep Investasi

Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal yang tidak
dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Kegiatan
investasi berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan
keuntungan di masa depan. Investasi adalah suatu fungsi pendapatan dan tingkat bunga, dilihat
dengan kaitannya

I =(Y , i) . Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi

yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi
sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Selain
menambah penghasilan, investasi juga membawa risiko keuangan jika investasi tersebut gagal.
Dari literatur dapat ditemukan definisi mengenai investasi baik oleh penulis asing, maupun
penulis Indonesia, antara lain seperti berikut ini.
Menurut William F.Sharpee (1995 : 1) :
Investment in its broadest sense, means the sacrifice of current dollars for future dollars.
Two different attributes are generally involved: are time and risk. The sacrifice takes place in the
present and its certain. The rewards comes later, if it all, and magnitude is generally uncertain.
1

Menurut Husnan (1998:15) :


Investasi ialah sejumlah uang yang di tanamkan dalam jangka waktu tertentu yang
tujuannya untuk mendapatkan uang lebih banyak di masa mendatang.
Menurut James Van Horn (1981) :
Investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber yang
dipakai untuk mengadakan modal barang pada saat sekarang ini dimana barang modal tersebut
akan menghasilkan produk yang baru di masa yang akan datang.
Menurut Dj A. Simarmata (1998) :
Investasi adalah setiap kegiatan yang hendak menanamkan uang dengan aman.
Dari berbagai definisi mengenai investasi, kita dapat mendefinisikan investasi sebagai suatu
proses aktivitas berupa penundaan konsumsi di masa sekarang dalam jumlah tertentu dan selama
periode waktu tertentu pada suatu aset yang dinilai baik oleh investor, dengan tujuan
memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang pada tingkatan tertentu sesuai dengan yang
diharapkan. Dimana pengembalian yang diharapkan merupakan pengembalian yang lebih baik di
masa akan datang dibandingkan mengonsumsi di masa sekarang.

2.1.2

Jenis-jenis Investasi

Menurut William F. Sharpe (1995:1) ada dua jenis investasi :


1. Real investments generally involve some kind of tangible asset such as land, machinery
or factories.
2. Financial investments involve contracts written on pieces of paper, such as common
stocks and bonds.
2

Perbedaan utama antara investasi pada real assets dengan financial assets adalah tingkat
likuiditas dari kedua investasi tersebut. Investasi pada real asstes relatif lebih sulit untuk
dicairkan karena terbentur pada komitmen jangka panjang antara investor dengan perusahaan,
sementara investasi pada financial assets lebih mudah untuk dicairkan karena dapat diperjual
belikan tanpa terikat oleh waktu.

2.1.3

Proses Investasi

Proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam


sekuritas : yaitu sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut dan kapan
investasi tersebut akan dilakukan. Untuk mengambil keputusan tersebut diperlukan langkahlangkah sebagai berikut :
1. Menentukan Kebijakan Investasi
Disini investor perlu untuk menentukan apa tujuan investasinya, dan berapa banyak
investasi yang dilakukan. Karena ada hubungan yang positif antara risiko dan keuntungan
investasi. Investor yang bersedia untuk menanggung risiko dan menginvestasikan
dananya pada saham dalam portofolio investasinya, akan dihadapkan pada risiko yang
lebih tinggi namun expected return yang lebih besar.

2. Analisis Sekuritas

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap satu atau kelompok sekuritas. Caranya melalui
dua metode yaitu melalui analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal
melakukan analisis berdasarkan tren harga sekuritas masa lalu melalui grafik atau media
lain. Sedangkan analisis fundamental melakukan analisis sekuritas berdasarkan faktorfaktor fundamental yang memengaruhi perusahaan, ataupun sektor usaha tersebut.
3. Pembentukan Portofolio
Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritassekuritas mana yang akan dipilih, dan berapa porsi dana yang ditanamkan pada masingmasing sekuritas tersebut. Pemilihan banyak sekuritas (diversifikasi) adalah strategi
untuk mengurangi risiko yang akan ditanggung .
4. Melakukan Revisi Risiko
Tahap ini merupakan pengulangan dari tiga tahap sebelumnya untuk melakukan
perubahan terhadap portofolio yang dimiliki kalau dirasa tidak optimal.
5. Evaluasi Kinerja Portofolio
Selanjutnya, dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja
(performance) dari portofolio, baik dari aspek tingkat keuntungan yang diperoleh
maupun risiko yang ditanggung.
Suad Husman (2001 :48)

2.2

Risiko

2.2.1 Terminologi Risiko


Suatu investasi yang dilakukan oleh seorang investor adalah suatu investasi yang berisiko
karena adanya suatu unsur ketidakpastian atas investasi yang dilakukannya, akan tetapi tingkat
risiko dari masing-masing investasi berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan
karena semua keputusan investasi berkaitan dengan masa datang atau dengan kata lain investasi
merupakan pengalokasian sumber daya dengan cara rasional untuk memperoleh hasil di masa
datang. Oleh karena hasil di masa datang dipengaruhi oleh ketidakpastian maka investasi akan
selalu mengandung risiko. Umumnya semakin besar risiko yang harus ditanggung oleh investor,
maka semakin besar pula tingkat pengembalian yang diharapkan (high risk, high return).
Jones mengemukakan definisi tentang risiko sebagai berikut :
Risk defined as the change that the actual outcome from an investment will differ from the
excpected outcome. Specifically, most investors are concerned that the actual outcome will be
less than expected outcome .
Definisi lain juga dikemukakan oleh Herman Darmawi sebagai berikut :
Risiko adalah probabilitas sesuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang diharapkan.
Dari kedua definisi risiko di atas, dapat dismpulkan bahwa timbulnya risiko adalah akibat
terjadinya suatu penyimpangan yang terjadi antara return actual dan expected return. Namun hal
ini tidak bisa dihilangkan karena masa depan tidak dapat secara tepat diprediksi oleh siapapun.
Yang dapat dilakukan investor adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dan
seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang.

Menurut Suad Husan, ada dua macam risiko yang dihadapi oleh investor, yaitu :
1. Unsystematic Risk
Unsystematic risk ialah risiko yang dapat dihilangkan dengan mendiversifikasikan
investasinya.
2. Systematic Risk
Systemtic risk sering disebut juga market risk adalah risiko yang selalu ada dan tidak bisa
dihilangkan melalui diversifikasi saham. (Suad Husnan, 1998 :161)
Lebih lanjut Suad Husnan menjelaskan bahwa sumber risiko dapat di bagi menjadi dua,
yaitu :
1. Unsystematic Risk, yang merupakan risiko yang mempengaruhi satu (sekelompok kecil)
perusahaan. Biasanya risiko ini berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, seperti kerusakan
aktiva karena ulah karyawannya sendiri, kecelakan kerja, mismanajemen dan lain
sebagainya;
2. Systematic Risk, yang merupakan risiko yang memengaruhi semua (banyak perusahaan).
Risiko sistematis disebut juga risiko pasar karena fluktuasi ini disebabkan oleh faktor-faktor
yang memengaruhi seluruh perusahaan yang beroperasi. Faktor-faktor tersebut dapat berupa
faktor fundamental ekonomi, misalnya kondisi perekonomian GDP, nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing, tingkat suku bunga, inflasi, kebijakan pemerintah, seperti
kebijakan pajak dan lain sebagainya. Faktor non fundamental ekonomi meliputi keadaan
politik, tingkat keamanan dan sosial.
(Suad Husnan, 2001 :200).

Pada bukunya Principles of Managerial Finance, Gitman berpendapat bahwa ada tiga tipe
investor dalam menghadapi risiko, yaitu :

Risk Seeking
Tipe investor ini berani mengambil risiko dan menganut paham high risk high return.
Dengan konsep high risk high return, investor percaya bahwa mereka memilki kompensasi
atas tingkat pengembalian yang tinggi yang diperoleh dari risiko investasi yang tinggi yang
diambil oleh individu tersebut.

Risk Indifferent
Tipe investor ini menyukai risiko, tetapi masih mempertimbangkan seberapa besar risiko
yang harus dihadapi. Risk indifferent lebih bertoleransi pada risiko, tetapi tetap tidak berani
mengambil risiko setinggi mungkin.

Risk Averse
Tipe investor jenis ini tidak menyukai risiko dan cenderung menghindari risiko sehingga
tingkat pengembalian yang diperoleh pun kecil.

(Sumber: Gitman, 2003:218)


Sampai saat ini metodologi perhitungan risiko masih terus berkembang. Tidak ada metoda
yang standar, baku atau pasti, tetapi sebagian besar risiko diekspresikan dalam bentuk
probabilistik atau dalam varian (standard deviation). Varian atau standar deviasi mengukur
sejauh mana tingkat pengembalian yang diharapkan menyimpang dari tingkat pengembalian
yang sebenarnya.
Risiko yang dinyatakan dalam bentuk varians dirumuskan sebagai berikut :

= P y ( R y E ( Ri ) )
2
i

j=1,2,3, , n

j=1

dimana,
2i =varians return sahami
E ( Ri )=average return sahami
Rij =actual rate of return sahami
P y = probability outcome

Apabila probabilitas kejadian rate of return sama, maka menurut Husnan (1998 : 53)
perhitungannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
R
R
2
2 ( yE( R i) )
( yE (Ri) )
N

j=1,2,3, , n

=
2
i

j=1

dimana,
2i =varians return sahami
E ( Ri )=average return sahami
Rij =actual rate of return sahami
N= jumlah periode pengamatan
Sumber : Husnan, 1998 : 53

Tingkat risiko juga dapat diukur dengan indikator risiko aset yang disebut dengan standar
deviasi, dinyatakan dengan :
8

(
n

k=

t =1

k ik )2 x Pr j

dimana,
k i=return for j th outcome
Pr j= probability of occurence of the j th outcome
K=average return saham j
Semakin besar standar deviasinya, semakin besar risikonya.
Sumber : Gitman, 2003 : 222

Ada sebuah masalah dalam menggunakan standar deviasi sebagai metode pengukuran risiko,
yaitu kita tidak bisa dengan mudah membandingkan risiko antara dua aset. Coefficient Variation
(CV ) mengatasi masalah ini dengan mengukur tingkat risiko per unit tingkat pengembalian
(return). Menurut Gitman : Coefficient of variation is measure of relative dispersion that is
useful in comparing the risks of asset with differing expected returns

CV =

k
k

dimana,
k=standar deviasi

k =expected return

2.2.2 Risk Aversion

Risk aversion adalah konsep di bidang ekonomi dan keuangan yang berdasarkan kepada
perilaku manusia, terutama konsumen dan investor, ketika menghadapi ketidakpastian dan
mencoba untuk mengurangi ketidakpastian itu.
Definisi dari risk aversion adalah keengganan seseorang untuk melakukan kegiatan, dalam hal
ini ekonomi, dengan hasil yang tidak pasti dan lebih memilih pada pilihan yang lebih pasti
walaupun dengan expected return yang lebih kecil. Misalnya, investor yang menghindari risiko
lebih memilih untuk menyimpan uangnya pada rekening bank dengan tingkat bunga yang rendah
tapi terjamin, daripada menyimpan uangnya pada saham yang mungkin memiliki keuntungan
yang lebih besar tetapi juga melibatkan risiko kehilangan yang sama besarnya.
Pada dasarnya setiap individu memiliki sifat risk averse, begitupun halnya dalam memilih
portofolio investasi. Dalam setiap kegiatan ekonomi atau investasi jelas memiliki nilai risiko
didalamnya. Namun, yang membedakan adalah respon dan kemampuan dari masing-masing
investor tersebut dalam menghadapi sebuah risiko.
Dalam menilai profil dari masing-masing investor dapat dilakukan dengan dua langkah : (1)
melalui pilihan portofolio pada aset yang berisiko seperti saham dan obligasi jangka panjang, (2)
dalam memutuskan proporsi berinvestasi pada portofolio yang berisiko dengan portofolio yang
aman seperti Treasury Bills jangka pendek.
Menentukan pengalokasian investasi pada jenis aset yang bebas risiko dengan jenis aset yang
berisiko memang harus melibatkan estimasi pada tingkat pengembalian yang diharapkan
(expected retruns), sehingga hal fundamental dalam pengalokasian investasi adalah dengan
mengkarakterisasi risk-return trade-off pada masing-masing portofolio.

10

Umumnya investor dengan profil risk averse lebih memilih untuk mempertimbangkan jenis
aset yang bebas risiko atau jenis aset dengan spekulasi premi risiko yang positif. Sehingga,
profil investor seperti ini menutup kemungkinan dalam mendapatkan keuntungan yang lebih
besar pada portofolio yang berisiko karena terlalu memperhitungkan nilai risiko yang akan
terlibat didalamnya.

2.2.2.1The St. Petersburg Paradox and Expected Utility: The


Bernoulli Contribution
St. Petersburg paradoks adalah sebuah paradoks yang berkaitan dengan teori probabilitas dan
pengambilan keputusan dalam ekonomi. Paradoks ini didasarkan pada permainan lotere dimana
terdapat variabel acak dengan expected value yang tidak terbatas. Dari simulasi permainan lotere
tersebut, Daniel Bernoulli menyimpulkan perbedaan antara harga dan utility :
1) Nilai sebuah benda tidak didasarkan pada harga, namun pada kegunaan (utility) yang
dihasilkan dari benda tersebut.
2) Label harga bernilai sama pada semua orang, sedangkan utility bernilai berbeda
tergantung dari keadaan dan estimasi dari masing-masing individu.
Bernoulli memiliki dua pemikiran tentang risiko :
1) Risiko dari permainan lotere ini dinilai berbeda bagi masing-masing individu
tergantung dari toleransi risiko yang dimilikinya.
2) Marginal utility pada kekayaan seseorang berkurang seiring dengan meningkatnya
kekayaan pada individu tersebut. Sama halnya dengan risiko, semakin tinggi tingkat
kekayaan seseorang semakin berani seseorang dalam mengambil risiko.
11

Expected Utility dinyatakan dalam rumus :

E [ U ] =U ( C)
dimana,
) =utility of the expected gain
U (C
2.1 Gambar
Tipe Investor

Dalam expected utility teori, para ekonom menjelaskan model risk aversion timbul sematamata karena fungsi utilitas atas kekayaan yang berbentuk cekung. Dalam teori The Diminishing
Marginal Utility of Wealth in Risk Aversion, secara psikologis menjelaskan alasan mengapa sifat
individu yang cenderung menghindari risiko. Setiap individu lebih memilih untuk menyimpan
uangnya demi keberlangsungan hidup di masa depan daripada mempertaruhkan uangnya untuk
mendapatkan kekayaan dengan faktor ketidakpastian di dalamnya (Rabin, 1999).
Dalam usaha menghadapi kemungkinan risiko dalam berinvestasi, para ekonom
mengembangkan model yang lebih akurat dengan menghubungkan tingkat kekayaan dengan

12

utilitas dalam suatu fungsi, formula tersebut dinamakan absolute risk aversion dan relative risk
aversion oleh Kenneth Arrow dan John W. Pratt.

2.2.2.2Absolute Risk Aversion


Formula ini digunakan untuk mengestimasi jumlah kekayaan seseorang yang akan di
investasikan pada jenis aset yang berisiko.
U (C)} over {{U} ^ {'} (C)}
A ( C )=

dimana,
U ' ( C )=turunan pertama dari fungsi utilitas
U left (C right ) = turunan kedua dari fungsi utilitas

Formula ini akan bernilai positif pada risk averse. Semakin besar nilai koefisiennya semakin
tinggi pula tingkat risk averse seseorang. Koefisien dari formula ini akan bernilai negatif, jika
kekayaan yang di investasikan pada jenis investasi yang berisiko bertambah seiring dengan
kekayaan yang bertambah juga.

2.2.2.3Relative risk aversion


Formula ini digunakan untuk menghitung proporsi kekayaan seseorang pada aset yang
berisiko.
U (c)} over {{U} ^ {'} (c)}
RRA i=C
dimana,
C=koefisien bernilai1
13

U ' ( C )=turunan pertama dari fungsi utilitas


U (C)= turunan kedua dari fungsi utilitas

Menurut (Jr & Chow, 1992), RRA pada investor dirumuskan sebagai berikut :

RRAI k =1

Risky Financial Assets


Wealt h

Meningkatnya nilai RRAIk (Relative Risk Aversion Index) mengindikasikan menurunnya


kemauan seseorang untuk berinvestasi pada jenis aset yang berisiko karena terjadi penurunan
pada tingkat kekayaannya. Semakin meningkat RRAI semakin meningkat pula risk averse
seseorang pada aset yang berisiko. Sehingga individu lebih memilih untuk berinvestasi pada aset
yang bebas risiko daripada aset yang berisiko.
Definisi dari relative risk aversion adalah proporsi dari kekayaan seseorang

yang di

alokasikan pada aset yang berisiko dimana individu tersebut memiliki dua pilihan jenis aset,
yaitu yang bersifat bebas risiko dan yang memiliki risiko (Hibbert, Lawrence, & Prakash, 2013).
Klasifikasi dari jenis aset yang berisiko juga dilakukan untuk mempermudah pemahaman
terhadap teori RRA. Dalam jurnal internasional karya Hibbert, Lawrence dan Prakash yang
berjudul Does Knowledge of Finance Mitigate The Gender Difference in Financial RiskAversion? menjelaskan pengklasifikasian dari jenis aset yang berisiko adalah seluruh jenis aset
keuangan selain dari rekening tabungan, sertifikat deposito, obligasi dan treasury bills (Hibbert
et al., 2013).

14

Dalam proses pengalokasian portofolio aset pada setiap individu, sering jauh berbeda dengan
teori yang berlaku. Tidak semata-mata hanya berdasarkan tingkat kekayaan, faktor-faktor lain
juga mempengaruhi setiap individu dalam proses tersebut.
Dalam artikel A Behavioral Model of Rational Choice karya Herbert Simon tahun 1995,
menyatakan bahwa sikap rasional sangat dibutuhkan pada masing-masing individu sebelum
melakukan alokasi portofolio aset. Dijelaskan dalam konsep Homo Economicus, seorang
pembuat keputusan adalah individu yang bersifat rasional dan diharapkan menjadi aktor yang
terampil dalam membaca situasi sesuai dengan intuisi diri sendiri. Dalam konsep Homo
Economicus, individu yang bersifat rasional dalam pengambilan keputusan adalah : (1) memiliki
informasi lengkap terkait dengan berbagai pilihan investasi dan possible outcomes dari pilihan
investasi tersebut, (2) bersifat sensitif terhadap berbagai perbedaan di antara pilihan investasi dan
(3) sepenuhnya rasional terhadap pilihan investasi yang diambil.
Investor yang rasional adalah investor yang memaksimalkan tingkat kepuasaannya dengan
tingkatan RRA (Relative Risk Aversion) yang berbeda-beda pada setiap individu, atau dapat
diartikan investor yang memahami dan pandai membaca situasi dari kemampuannya secara
finansial dan psikologis dalam berinvestasi. Sifat rasional seorang investor dalam berinvestasi
juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa penelitian menjelaskan kecenderungan investor
dalam memilih portofolio investasi dapat dilihat dari beberapa faktor, yang diantaranya umur,
kekayaan, pendapatan dan pendidikan (Jr & Chow, 1992). Penelitian lain juga menunjukkan
bahwa gender, ras, status pernikahan dan jumlah keturunan juga menjadi faktor-faktor yang
mempengaruhi individu dalam melakukan alokasi portofolio investasi (Bernasek & Shwiff,
2001).

15

2.3

Gender

2.3.1 Pengertian Gender


Kata gender berasal dari bahasa Inggris yang artinya adalah jenis kelamin. Berdasarkan
Womens Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang
berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan
karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Di
dalam instruksi presiden/INPRES Pengarusutamaan Gender No. 9 Tahun 2000 disebutkan bahwa
gender adalah konsep yang mengacu pada peran-peran dan tanggung jawab laki-laki dan
perempuan dan dapat berubah sesuai pada keadaan sosial dan budaya masyarakat.
Santrock (2002) mengatakan bahwa istilah gender mengacu pada dimensi sosial budaya
sedangkan seks mengacu pada dimensi biologis. Gilbert (1993) menyatakan jenis kelamin
perempuan dan laki-laki sebagai bentuk biologis yang menjadi dasar dari sistem klasifikasi yang
disebut gender. Secara tradisional kebanyakan dari traits dan perilaku yang disebut gender ini
diasosiasikan dengan jenis kelamin secara biologis. Namun, kini gender lebih dipandang sebagai
constructed by social reality sebagai perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, gender bukan
hanya mengacu pada jenis kelamin biologis, tetapi juga gambaran-gambaran psikologis, sosial
dan budaya serta ciri-ciri khusus yang diasosiasikan dengan kategori biologis perempuan dan
laki- laki (Gilbert, 1993).
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan
dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi kondisi
sosial dan budaya, nilai dan perilaku, mentalitas, dan emosi, serta faktor-faktor nonbiologis
lainnya. Gender berbeda dengan sex, meskipun secara etimologis artinya sama sama dengan sex,

16

yaitu jenis kelamin (John M. Echols dan Hassan Shadily, 1983: 517). Berikut ini adalah
perbedaan jenis kelamin dengan gender :

2.1 Tabel
Jenis kelamin vs Gender
Jenis Kelamin
Karakteristik Biologis

Membedakan jenis kelamin perempuan


dan jenis kelamin laki-laki.

Gender
Karakteristik Sosial

Membedakan menjadi perempuan


dan menjadi laki-laki.
Membedakan peran-peran, relasi
antara perempuan dan laki-laki.

Di dapat dari kelahiran/kodrati.

Di dapat dengan cara belajar

Bersifat universal.

Bersifat beragam, dinamis (masyarakat


budaya, generasi, status sosial, dll).

Sumber : Konsep Gender- Pengarusutamaan Gender dan Anggaran Responsif Gender ( Raharjo,
2012)
Di masyarakat, sering terjadi kerancuan dalam memahami gender. Banyak yang memandang
gender adalah perempuan dengan kodrat keperempuannya, adapula yang memandang gender
merupakan konsep Barat atau feminism. Gender bukan semata-mata perbedaan biologis, bukan
konsep Barat, bukan juga perempuan, tetapi merujuk pada konsep suatu budaya tentang
17

bagaimana menjadi perempuan dan bagaimana menjadi laki-laki (Raharjo, 2012). Pembagian
peran antara laki-laki dan perempuan tersebut berpengaruh terhadap beberapa hal, yaitu
hubungan sosial antara kedua jenis kelamin, pembagian kerja menurut jeis kelamin, pembagian
peran/kedudukan kedua jenis kelamin dalam keluarga/masyarakat, kepantasan kedua jenis
kelamin itu berprilaku, perlakuan terhadap kedua jenis kelamin dan hak, kewajiban dan
wewenang antara kedua jenis kelamin tersebut (Raharjo, 2012).

2.3.2 Teori dan Perspektif Gender


Teori dan perspektif gender secara sosiologis dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu teori
nature dan teori nurture (Wilson, 2009). Pandangan dari teori nature mengenai perbedaan gender
yaitu adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah kodrat sehingga tidak
dapat berubah serta bersifat universal (BKKBN, 2009). Menurut teori ini, perempuan terlahir
sebagai perempuan baik dalam penampilan fisik, fungsi fisik secara biologis dan peran sosialnya,
sama halnya dengan laki-laki, laki-laki terlahir sebagai laki-laki baik dalam penampilan fisik,
fungsi fisik secara biologis dan peran sosialnya. Konsep teori nature secara sederhana dapat
digambarkan seperti Gambar 2.1 sebagai berikut :
2.2 Gambar
Konsep Teori Nature

18

Sumber : BKKBN, 2009

Selain teori nature kemudian terdapat teori nurture dalam teori perspektif gender. BKKBN
(2009) dijelaskan bahwa teori nuture memamndang adanya perbedaan perempuan dan laki-laki
yang pada hakikatnya merupakan hasil konstruksi sosial budaya sehingga menghasilkan peran
dan tugas yang berbeda yang menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran
dan kontribusinya dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar di bawah ini :
2.3 Gambar
Konsep Teori Nurture

19

Sumber : BKKBN, 2009

Secara khusus tidak ditemukan suatu teori yang membicarakan masalah gender. Teori-teori
yang digunakan untuk melihat perbedaan gender ini diadopsi dari teori-teori yang dikembangkan
oleh para ahli dalam bidang-bidang yang terkait dengan permasalahan gender, terutama bidang
sosial kemasyarakatan dan kejiwaan. Karena itu teori-teori yang digunakan untuk mendekati
masalah gender ini banyak diambil dari teori-teori sosiologi dan psikologi. Cukup banyak teori
yang dikembangkan oleh para ahli, terutama kaum feminis, untuk memperbincangkan masalah
gender, tetapi penulis akan mengemukakan beberapa saja yang dianggap penting dan cukup
populer.
1. Teori Struktural Fungsional
Teori atau pendekatan struktural-fungsional merupakan teori sosiologi yang diterapkan
dalam melihat institusi keluarga. Teori ini beragkat dari asumsi bahwa suatu masyarakat
terdiri atas beberapa bagian yang saling memengaruhi. Teori ini mencari unsur-unsur
mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap
20

unsur dan menerangkan bagaimana fungsi unsur-unsur tersebut dalam masyarakat (Ratna
Megawangi, 1999 : 56).
Teori struktural-fungsional mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan
sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat dan
menentukan keragaman fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah
sistem. Sebagai contoh, dalam sebuah organisasi sosial pasti ada anggota yang mampu
menjadi pemimpin, ada yang menjadi sekretaris atau bendahara dan ada yang menjadi
anggota biasa. Perbedaan fungsi ini bertujuan untuk mencapai tujuan organisasi, bukan
untuk kepentingan individu. Struktur dan fungsi dalam sebuah organisasi ini tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh budaya, norma dan nilai-nilai yang melandasi sistem
masyarakat (Ratna Megawangi, 1999 : 56).
Terkait dengan peran gender, pengikut teori ini menunjuk masyarakat pra industri yang
terintegrasi di dalam suatu sistem sosial. Laki-laki berperan sebagai pemburu (hunter)
dan perempuan sebagai peramu (gatherer). Sebagai pemburu, laki-laki lebih banyak
berada di luar rumah dan bertanggung jawab untuk membawa makanan kepada keluarga.
Peran perempuan lebih terbatas di sekitar rumah dalam urusan reproduksi, seperti
mengandung , memelihara dan menyusui anak. Pembagian kerja seperti ini telah
berfungsi dengan baik dan berhasil menciptakan kelangsungan masyarakat yang stabil.
Dalam masyarakat ini stratifikasi peran gender sangat ditentukan oleh sex (jenis kelamin).
Menurut para penganutnya, teori struktural-fungsional tetap relevan diterapkan dalam
masyarakat modern. Talcott Parsons dan Bales menilai bahwa pembagian peran secara
seksual adalah sesuatu yang wajar (Nasaruddin Umar, 1999 : 53).

21

Meskipun teori ini banyak memeroleh kritikan dan kecaman, teori ini masih tetap
bertahan terutama karena didukung oleh masyarakat industri yang cenderung tetap
memertahankan prinsip-prinsip ekonomi industri yang menekankan aspek produktivitas.
Jika faktor produksi diutamakan, maka nilai manusia akan tampil tidak lebih dari sekedar
alat produksi. Nilai-nilai fundamental kemanusiaan cenderung diabaikan. Yang juga
memerkuat pemeberlakuan teori ini adalah karena masyarakat modern-kapitalis, menurut
Michael Foucault dan Heidi Hartman (Nasaruddin Umar, 1999 : 60), cenderung
mengakomodasi sistem pembagian kerja berdasarkan perbedaan jenis kelamin.
Akibatnya, posisi perempuan akan tetap lebih rendah dan dalam posisi marginal, sedang
posisi laki-laki lebih tinggi dan menduduki posisi sentral.
2. Teori Sosial Konflik
Menurut Lockwood, suasana konflik akan selalu mewarnai masyarakat, terutama
dalam hal distribusi sumber daya yang terbatas. Sifat pementingan diri, menurutnya, akan
menyebabkan diferensiasi kekuasaan yang ada dan menimbulkan sekelompok orang
menindas kelompok lainnya, perbedaan kepentingan dan pertentangan antar individu
pada akhirnya dapat menimbulkan konflik dalam suatu organisasi atau masyarakat (Ratna
Megawangi, 1999 : 76).
Dalam masalah gender, teori sosial-konflik terkadang diidentikkan dengan teori Marx,
karena begitu kuatnya pengaruh Marx di dalamnya, Marx yang kemudian dilengkapi oleh
F. Engels, mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan
gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi
merupakan bagian dari penindasan kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang

22

diterapkan dalam konsep keluarga. Hubungan laki-laki dan perempuan (suami-istri) tidak
ubahnya dengan hubungan ploretar dan borjuis, hamba dan tuan atau pemeras dan yang
diperas. Dengan kata lain, ketimpangan peran gender dalam masyarakat bukan karena
kodrat dari Tuhan, tetapi karena konstruksi masyarakat. Teori ini selanjutnya
dikembangkan oleh para pengikut Marx seperti F. Engels, R. Dahrendorf dan Randall
Collins.
Asumsi yang dipakai dalam pengembangan teori sosial-konflik atau teori diterminisme
ekonomi Marx, bertolak belakang dengan asumsi yang mendasari teori strukturalfungsional, yaitu 1) walaupun relasi sosial menggambarkan karakteristik yang sistemik,
pola relasi yang ada sebenarnya penuh dengan kepentingan-kepentingan pribadi atau
sekelompok orang. Hal ini membuktikan bahwa sistem sosial secara sistematis
menghasilkan konflik; 2) maka konflik adalah suatu yang tak terhindarkan dalam semua
sistem sosial; 3) konflik akan terjadi dalam aspek pendistribusian sumber daya yang
terbatas, terutama kekuasaan; dan 4) konflik adalah sumber utama terjadinya perubahan
dalam masyarakat (Ratna Megawangi, 1999 : 81).
Menurut Engels, perkembangan akumulasi harta benda pribadi dan kontrol laki-laki
terhadap produksi merupakan sebab paling mendasar terjadinya subordinasi perempuan.
Seolah-olah Engels mengatakan bahwa keunggulan laki-laki atas perempuan adalah hasil
keunggulan kaum kapitalis atas kaum pekerja. Penurunan status perempuan mempunyai
korelasi dengan perkembangan produksi perdagangan (Nasaruddin Umar, 1999 : 62).
Keluarga, menurut teori ini bukan sebuah kesatuan yang normatif (harmonis dan
seimbang), melainkan lebih dilihat sebagai sebuah sistem yang penuh konflik yang

23

menganggap bahwa keragaman biologis dapat dipakai untuk melegitimasi relasi sosial
yang operatif. Keragaman biologis yang menciptakan peran gender dianggap kontruksi
budaya, sosialisasi kapitalisme atau patriarkat. Menurut para feminis Marxis dan sosialis
institusi yang paling eksis dalam melanggengkan peran gender adalah keluarga dan
agama, sehingga usaha untuk menciptakan perfect equality (kesetaraan gender 50/50)
adalah dengan menghilangkan peran biologis gender, yaitu dengan usaha radikal untuk
mengubah pola pikir dan sruktur keluarga yang menciptakannya (Ratna Megawangi,
1999 : 91).
3. Teori Feminisme Liberal
Teori ini berasumsi bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Karena itu perempuan harus mempunyai hak yang sama dengan laki-laki.
Meskupun demikian, kelompok feminis liberal menolak persamaan secara menyeluruh
antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal masih tetap ada pembedaan
(distinction) antara laki-laki dan perempuan. Bagaimanapun juga, fungsi organ
reproduksi bagi perempuan membawa konsekuensi logis dalam kehidupan bermasyarakat
(Ratna Megawangi, 1999 : 228).
Pengikut teori ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam
semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Dengan demikian, tidak ada lagi suatu
kelompok jenis kelamin yang lebih dominan.
4. Teori Feminisme Marxis-Sosialis
Feminisme ini bertujuan mengadakan reskontruksi masyarakat agar tecapai kesetaraan
gender. Ketimpangan gender disebabkan oleh sistem kapitalisme yang menimbulkan
24

kelas-kelas dan division of labor, termasuk di dalam keluarga. Gerakan kelompok ini
menghadapi teori praxis Marxisme, yaitu teori penyadaran pada kelompok tertindas, agar
kaum perempuan sadar bahwa mereka merupakan kelas yang tidak diuntungkan.
Berbeda dengan teori sosial-konflik, teori ini tidak terlalu menekankan pada faktor
akumulasi modal atau pemilikan harta pribadi sebagai kerangka dasar ideologi. Teori ini
lebih menyoroti faktor seksualitas dan gender dalam kerangka ideologisnya.
5. Teori Feminisme Radikal
Teori ini berkembang pesat di Amerika Serikat pada kurun waktu 1960-an dan 1970an. Meskipun teori ini hampir sama dengan teori feminis Marxis-sosialis, teori ini lebih
memfokuskan serangannya pada keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki.
Keluarga dianggapnya sebagai institusi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki),
sehingga perempuan tertindas. Feminisme ini cenderung membenci laki-laki sebagai
individu dan mengajak perempuan untuk mandiri, bahkan tanpa perlu keberadaan lakilaki dalam kehidupan perempuan. Elsa Gidlow mengemukakan teori bahwa menjadi
lesbian adalah terbebas dari dominasi laki-laki, baik secara internal maupun eksternal
(Ratna Megawangi, 1999 : 226).
6. Teori Ekofeminisme
Teori ekofeminisme muncul karena ketidakpuasan akan arah perkembangan ekologi
dunia yang semakin bobrok. Teori ini mempunyai konsep yang bertolak belakang dengan
tiga teori feminisme modern seperti di atas. Teori-teori feminisme modern berasumsi
bahwa individu adalah mahluk otonom yang lepas dari pengaruh lingkungannya dan
berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Sedang teori ekofeminisme melihat individu
25

secara lebih komprehensif, yaitu sebagai mahluk yang terikat dan berinteraksi dengan
lingkungannya (Ratna Megawangi, 1999 : 189).
Menurut teori ini, apa yang terjadi setelah para perempuan masuk ke dunia maskulin
yang tadinya didominasi oleh laki-laki adalah tidak lagi menonjolkan kualitas
feminimnya, tetapi justru menjadi male clone (tiruan laki-laki) dan masuk dalam
perangkap sistem maskulin yang hierarkhis. Akibatnya yang terlihat adalah kompetisi,
self-centred, dominasi dan eksploitasi. Contoh nyata dari cerminan memudarnya kualitas
feminim dalam masyarakat adalah semakin rusaknya alam, meningkatnya kriminalitas,
menurunnya solidaritas sosial dan semakin banyaknya perempuan yang menelantarkan
anak-anaknya (Ratna Megawangi, 1999 : 183).
7. Teori Psikoanalisa
Teori ini diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan
bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh
perkembangan seksualitas. Freud menjelaskan kepribadian seseorang tersusun di atas tiga
struktur, yaitu id, ego dan superego. Tingkah laku seseorang menurut Freud ditentukan
oleh interaksi ketiga sruktur itu. Id sebagai pembawaan sifat-sifat biologis sejak lahir. Id
bagaikan sumber energi yang memberikan kekuatan terhadap kedua sumber lainnya. Ego
bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego
berusaha mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntutan objektif
realitas sosial. Superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian dan selalu
mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya mengontrol id (Nasruddin
Umar, 1999 : 46).

26

27