Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN FILSAFAT ILMU

RENCANA PEMBANGUNAN BANDARA DI BALI UTARA


TUGAS

Oleh :

I Putu Pebriana Suryantara

1591561009

I Made Oka Sugiana

1591561014

I Nengah Sutika Setiawan

1591561015

I Putu Andy Wiranata Wijaya

1591561025

Dominggus Zadrach Dupe

1591561049

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

1.

Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keindahan alam

yang sangat luar biasa. Selain itu penduduknya yang beraneka ragam yang terdiri atas
ratusan suku bangsa dengan keunikannya masing-masing yang memiliki adat istiadat yang
khas. Salah satunya adalah Pulau Bali. Bali memiliki objek wisata yang sangat beragam,
baik wisata alam, wisata budaya, dan wisata bahari. Bali dan pariwisata itu sendiri tidak
dapat dipisahkan. Banyak wisatawan dalam negeri maupun luar negeri yang berlibur di
pulau ini. Sehingga melihat kondisi Bali yang sekarang berbeda dengan yang dulu, salah
satunya ialah kepadatan penduduk terutama di Bali selatan, sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi antara Bali selatan dengan Bali utara. Oleh
karena itu muncul wacana pembangunan bandara yang akan dibangun di Bali utara yaitu di
kabupaten Buleleng. Rencana pembangunan bandara di Buleleng merupakan salah satu
upaya menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan Bali bagian utara dan Bali bagian
selatan, selain itu juga untuk menyikapi kondisi dari Bandara Ngurah Rai yang saat ini
sudah sangat padat sehingga berakibat pada lalu lintas penerbangan.
2.

Pembahasan

2.1

Aspek Ontologi
Pulau Bali dengan daya tarik alam dan aktifitas sosial budayanya merupakan

destinasi wisata dunia. Sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali terus berbenah
dengan mengupayakan peningkatan ekonomi dari sektor pariwisata, mulai dari
peningkatan sarana dan prasarana penunjang akomodasi pariwisata sampai pada
peningkatan kualitas pelayanan pariwisata. Seiring dengan berkembangnya pariwisata di
Bali, tak ayal sektor ini menjadi tumpuan pendapatan daerah dan lapangan pekerjaaan
andalan masyarakat. Semakin terbukanya lapangan kerja akibat berkembangnya
pariwisata, turut membawa dampak urbanisasi dari luar daerah. Hal ini juga memberi
dampak bertambahnya beban Pulau Bali dari berbagai aspek, mengingat urbanisasi ini
menumpuk pada daerah Sarbagita yang juga merupakan daerah pusat perkembangan
industri pariwisata di Bali. Terlebih lagi Pulau Bali memiliki luasan yang relatif kecil. Dari
luas wilayah Provinsi Bali relatif kecil tersebut, yaitu hanya sebesar 5.636,66 km 2, dengan
pusat kegiatan utama bertumpu di wilayah Bali selatan. Jumlah penduduk yang terus
meningkat dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1,2% per tahun, mengakibatkan tingkat
kepadatan penduduk di wilayah Provinsi Bali semakin tinggi khususnya di daerah
2

metropolitan Sarbagita. Dari kepadatan penduduk dan berpusatnya kegiatan industri


pariwisata pada suatu wilayah, maka semakin kompleks juga permasalahan pekotaan yang
timbul. Permasalahan-permasalahan yang timbul pada pada kota-kota metropolitan yaitu
semakin berkurangnya tingkat keamanan, kenyamanan, kesehatan sampai pada masalah
transportasi dengan ditandai oleh mobilitas yang terganggu.
Sebagai salah satu destinasi dunia dalam bidang pariwisata, Bali harus memiliki
sarana dan prasarana yang mampu menunjang pariwisata itu sendiri, salah satunya adalah
dengan adanya Bandar udara. Bandar udara adalah fasilitas tempat pesawat terbang dapat
lepas landas dan mendarat. Sampai saat ini, Bali baru memiliki satu Bandar udara
internasional dengan daya tampung sebesar 25 juta penumpang pertahun. Namun karena
tingginya minat para wisatawan untuk mengunjungi Bali menyebabkan arus penerbangan
menjadi semakin padat. Kurang lebih 10 juta wisatawan asing datang ke pulau ini setiap
tahunnya, dan diprediksikan akan menjadi dua kali lipat pada tahun 2025. Selain itu,
semakin banyaknya jadwal penerbangan menyebabkan pesawat harus berputar-putar dalam
beberapa waktu sampai mendapat giliran untuk mendarat, dan hal ini kerap kali
menimbulkan keluhan dari para penumpang pesawat. Untuk menyikapi masalah ini,
pemerintah mengeluarkan gagasan untuk membangun satu lagi Bandar udara internasional.
Pembangunan ini direncanakan di kawasan Bali Utara, yang bertempat di KubutambahanBuleleng.
Bali utara/Singaraja merupakan wilayah Bali yang menempati posisi pertama
dalam 11 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). KSPN merupakan kawasan
yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan
pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu aspek atau lebih seperti
pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung
lingkungan hidup, serta pertahanan dan keamanan. Selain mampu mengembangkan
pariwisata di Buleleng, pembangunan Bandar udara ini juga akan menyeimbangkan
pertumbuhan kawasan utara dan kawasan selatan, dan diharapkan mampu mengurangi
kepadatan di wilayah Bali selatan.
Which : pemilihan lokasi Bandar udara di Kubutambahan, Buleleng bukan tidak
beralasan. Pemilihan lokasi ini sudah berdasarkan studi kelayakan dan pertimbangan sesuai
konsep green airport yang diusung. Paparan dari PT. Pembangunan Bali Mandiri dengan
berbagai

argumentasi

diputuskan

lokasi

pembangunan

bandara

di

Kecamatan

Kubutambahan. Atas paparan yang meyakinkan, semua pihak baik eksekutif yang dipimpin
3

oleh Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, sejumlah anggota DPRD Buleleng dan Bali,
LSM, dan tokoh masyarakat yang hadir ketika paparan itu disampaikan di rumah jabatan
bupati, menyatakan sepakat pembangunan bandara di Kubutambahan. Selain itu juga
dicantumkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buleleng mengenai pemilihan
lokasi rencana pembangunan bandar udara yaitu di Kecamatan Kubutambahan dan
Kecamatan Gerokgak.
What : pembangunan bandar udara di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten
Buleleng merupakan keputusan yang efektif mengingat padatnya Bandara Internasional
Ngurah Rai yang kemudian akan menimbulkan keluhan.
Who : rencana pembangunan bandar udara di Kubutambahan, Buleleng yang
tengah digodok oleh Pemerintah Provinsi Bali akan dibangun dengan mengusung konsep
ramah lingkungan, dengan menggandeng konsultan asal Kanada Airport Kinesis
Consultant. Pendanaan pembangunan yang mencapai Rp 50 Triliun tidak akan bersumber
dari APBD maupun dari dana APBN melainkan akan berasal dari dana investor masih
dalam proses penjajakan.
When : Bandara baru ini diiharapkan pembangunannya sudah berlangsung di tahun
2017 dan jangka waktu pelakasanaannya antara 10 - 15 tahun.
2.2

Aspek Epistemologi
Menurut Keputusan Menteri Perhubungan No. 44 tahun 2002 pengertian bandar

udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas
pesawat udara, naik turun penumpang dan atau bongkar muat kargo dan atau pos, serta
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan
antar moda transportasi.
Dalam perencanaan/penetapan tatanan kebandarudaraan harus dilakukan dengan
mempehatikan aspek recana tata ruang, petumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan,
keamanan dan keselamatan penerbangan, keterpaduan intra dan antar moda transportasi
dan keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya. Prinsip dasar dalam pembangunan,
pendayagunaan, pengembangan dan pengoperasian bandar udara yaitu :
a. Bandar udara harus terletak pada lokasi yang dapat menjamin keamanan dan
keselamatan operasi penerbangan serta dapat dikembangan dan dipelihara
sesuai standard yang berlaku.
4

b. Bandar udara

harus

mempertimbangkan kemudahan pencapaian bagi

penggunan.
c. Bandar udara harus mudah dikembangkan, untuk memenuhi peningkatan
permintaan akan jasa transportasi udara.
d. Bandar udara harus menjamin pengoperasian dalam jangka panjang.
e. Bandar udara harus berwawasan lingkungan.
f. Bandar udara harus terjangkau secara ekonomis bagi pengguna dan
penyelenggara bandar udara.
Setiap penyelenggara bandar udara wajib memiliki sertifikat operasi bandar udara
dimana sertifikat operasi tersebut berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang.
Adapun syarat untuk memperoleh sertifikat operasi bandar udara adalah :
a. Tersedianya fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan yang
memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan sesuai dengan
klasifikasi kemampuan.
b. Memiliki prosedur pelayanan jasa bandar udara.
c. Memiliki buku petunjuk pengoperasian, penggulangan keadaan gawat darurat,
perawatan, program pengamanan, higine dan sanitasi bandar udara.
d. Tersedia personil yang memiliki kualifikasi untuk pengoperasian, perawatan
dan pelayanan jasa bandar udara.
e. Memiliki daerah lingkungan kerja bandar udara, peta kontur lingkungan bandar
udara, peta situasi pembagian sisi darat dan sisi udara.
f. Memiliki Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan sekitar bandar udara.
g. Memiliki peta yang menunjukan lokasi/koordinat penghalang dan
ketinggiannya yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan.
h. Memiiki fasilitas pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran
sesuai dengan katagorinya.
i. Memiliki berita acara evaluasi/uji coba yang menyatakan layak untuk
dioperasikan.
j. Struktur organisasi penyelenggara bandar udara.
Dalam

pembangunan

sebuah

bandar

udara

tidaklah

mudah,

harus

mempertimbangkan segala aspek, salah satunya ialah aspek persyaratan standar teknis
Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Hal yang paling umum dan sangat
berkaitan dengan KKOP adalah mengenai kondisi ketinggian bangunan atau halangan
lainnya seperti gunung, bukit, pepohonan di sekitar wilayah operasi penerbangan atau
bandar udara. Sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng merupakan daerah perbukitan,
mengingat dahulu wacana pembangunan bandara di Buleleng ini akan dilakukan di daratan
sehingga harus memperhatikan aspek KKOP tersebut. Dikarenakan tidak ada kejelasan
5

pasti mengenai rencana pembangunan yang dilakukan di daratan, maka pembangunan


bandar udara ini akan dilaksanakan di laut dengan cara reklamasi.
Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Buleleng pada pasal 12
mengenai sistem jaringan transportasi udara dijelaskan tentang rencana pembangunan
bandara umum di Kecamatan Kubutambahan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Kabupaten Buleleng sendiri memiliki luas 1336 km 2,
sementara kecamatan Kubutambahan memiliki luas wilayah 118,24 km 2 atau 8,66% dari
luas wilayah total Kabupaten Buleleng, dengan 537 h tanah sawah, 6161 ha tanah kering,
5126 ha adalah hutan Negara, tanaman perkebunan dan lain-lain. Dari gambaran
penggunaan lahan tersebut, sangat jelas yang menjadi penghalang KKOP di Bandar Udara
Internasional Bali Utara adalah tanaman tinggi hutan Negara dan kontur tanah perbukitan
di Kecamatan Kubutambahan. Hal tersebut juga menjelaskan bahwa pembangunan bandara
ini harus dilaksanakan di laut.
Rencana pembangunan bandara ini juga masuk kedalam perwujudan kawasan
bandar udara yang merupakan program utama pemerintah Kabupaten Buleleng. Dijelaskan
lebih lanjut mengenai perwujudan kawasan bandar udara ini adalah pemanfaatan ruang,
untuk kebutuhan operasional Bandar udara, pemanfaatan ruang di sekitar bandar udara
sesuai dengan kebutuhan bandar udara, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, dan
pemantapan batas-batas Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP).
Rencana pembangunan bandara di kabupaten Buleleng, sebelum pelakasanaannya
dilaksanakan, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan supaya pelaksanaan konstruksi
bandara ini bisa sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa tahapan yang harus
dilaksanakan ialah mulai dari pengurusan izin dari Kementrian Perhubungan, terutama izin
amdal dan izin operasi, dan izin pemanfaatan, serta terakhir baru akan turun izin
pelaksanaan.

2.3

Aspek Aksiologi
Direncanakannya pembangunan bandara internasional di Bali utara ini memegang

peran yang amat penting, disamping dalam upaya menyeimbangkan pertumbuhan


pembangunan Bali bagian utara dan Bali bagian selatan, juga untuk menyikapi kondisi
6

Bandara Ngurah Rai yang saat ini sudah sangat padat sehingga berakibat pada lalu lintas
penerbangan. Selain itu juga untuk mengakomodir permintaan dari sejumlah keinginan
maskapai penerbangan asing untuk membuka jalur penerbangan langsung ke Bali. Bandara
ini juga nantinya sangat strategis dalam upaya memberi pelayanan transportasi yang
nyaman bagi wisatawan asing maupun domestik, terlebih prospek pariwisata di Bali utara
kedepannya sangat bagus.
Pembangunan bandara ini yang direncanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali, akan
mengusung konsep ramah lingkungan, dengan konsultan perencanaannya berasal dari
Kanada yaitu Airpot Kinesis Consultant. Bandara dengan luas dengan luas 1.400 hektar
tersebut, diharapkan tidak hanya bisa menghasilkan listrik sendiri yang berasal dari arus
laut, namun juga akan menghasilkan air bersih melalui proses desalinasi, serta juga
disediakannya tempat khusus bagi para nelayan untuk tetap bisa memiliki mata
pencaharian. Keberadaan bandara ini juga tidak akan menghilangkan ataupun mengganggu
keberadaan sekitar 400-600 hektar sawah yang berada di sekitar areal Bandar udara
tersebut. Bandara baru ini akan dibangun pada tahun 2017, dengan dana sebesar 50 triliun,
sehingga jelas tidak mungkin menggunakan dana dari APBD ataupun APBN. Menurut
gubernur Bali, dana yang bersumber kemungkinan berasal dari investor.
Selain bandara, juga akan dibangun berbagai fasilitas penunjang seperti pembangkit
listrik (power plant) yang akan menggunakan lahan 150 hektar, Aero City seluas 600
hektar, sekolah, rumah sakit, mall, hingga tempat rekreasi. Untuk bandara, akan dibangun
dua runway dan terminal penumpang, 1 runway untuk landing, dan 1 lagi untuk take off.
Terminal penumpang akan dibuat connect (terhubung) dengan aerocity dan juga connect
dengan terminal cargo. Selain itu, juga akan dibangun pelabuhan Marina untuk kapal
pesiar yang berdampingan dengan airport. Dan yang tak kalah penting, akan dibangun
infrastruktur jalan termasuk tol. Pembangunan bandara baru di Buleleng beserta fasilitas
pendukungnya diperkirakan akan memakan biaya Rp 50 triliun. Investor utamanya adalah
Airports Kinesis Finance (AKF) dari Kanada. AKF akan membangun bandara dan terminal
penumpang. Infrastruktur jalan akan dibangun oleh investor dari Korea Selatan. Sementara
Aero City akan dibangun oleh investor dari Belarusia. Namun semua dibawah koordinasi
investor AKF Kanada. Pelaksana pembangunan semua dilakukan oleh PT PT BIBU Panji
Sakti dengan investor dari Kanada, Korea, dan Belarusia. Setelah jadi, baru akan ditunjuk
siapa operator bandara yang dinilai layak mengoperasikan bandara baru tersebut.

Lokasi dari pembangunan bandara ini ialah di kecamatan Kubutambahan,


Singaraja, dengan alokasi waktu pembangunan total ialah 10 - 15 tahun, pada tahun ke 10
dipastikan sudah beroperasi. Bandara ini akan mempunyai dua landasan untuk take off dan
landing dengan panjang 3600 meter dan lebar 60 meter untuk setiap landasan atau runway,
dan akan memiliki parkir pesawat dan terminal penumpang di tengah-tengah diapit oleh
dua landasan.
Dengan adanya bandara internasional di Bali utara ini diharapkan dapat
mengurangi angka penggangguran, dapat meningkatkan perekonomian daerah Bali
khususnya di Bali utara, dan hal yang paling penting adalah bisa menyeimbangkan
perekonomian antara Bali utara dan Bali selatan.
3.

Penutup

3.1

Kesimpulan
Pembangunan bandara internasional di Kubutambahan, Kabupaten Buleleng yang

direncanakan oleh pemerintah provinsi Bali merupakan salah satu upaya untuk
menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan Bali bagian utara dan Bali bagian selatan,
serta untuk menyikapi kondisi bandara Ngurah Rai yang saat ini sudah sangat padat
sehingga berakibat pada lalu lintas penerbangan. Dengan adanya bandara internasional di
Bali utara ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian Bali khususnya Bali utara
yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting
dalam satu aspek atau lebih, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya,
pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup, serta pertahanan dan
keamanan. Didalam perencanaan pembangunan bandara ini harus dilakukan dengan
memperhatikan aspek tata ruang, pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan,
keamanan dan keselamatan penerbangan, keterpaduan intra dan antar moda transportasi
dan keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya. Diharapkan pula pembangunan
bandara ini mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan bisa mendorong
banyak dampak positif serta dapat mengurangi permasalahan sosial yang bisa muncul di
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiansah, M. A. (2016). KSPN Bagian Kedua. [diakses tgl 1 Oktober


2016].

Tersedia

URL:

https://id.scribd.com/document/317771795/KSPN-Bagian-kedua.
Anonim. (2016). Bandara Baru di Buleleng Dipastikan di Kubutambahan. [diakses tgl 1
Oktober

2016].

Tersedia

URL:

http://www.beritabali.com/read/2016/09/28/201609280008/Bandara-Baru-diBuleleng-Dipastikan-di-Kubutambahan
Anonim. (tt). Bandar Udara. [diakses tgl 1 Oktober 2016]. Tersedia URL:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar-udara
Anonim. (2016). Biaya Rp 50T Bandara Baru di Kubutambahan Seluas 1400 Hektar.
[diakses

tgl

Oktober

2016].

Tersedia

URL:

http://www.beritabali.com/read/2016/05/27/201605270005/Biaya-Rp-50-TBandara-Baru-di-Kubutambahan-Seluas-1400-Hektar.
Anonim. (2016). Dana Rp 50 Triliun Bandara Buleleng Dilengkapi Aero City hingga
Marina.

[diakses

tgl

Oktober

2016].

Tersedia

URL:

http://www.beritabali.com/read/2016/09/28/201609280009/Dana-Rp-50-TriliunBandara-Buleleng-Dilengkapi-Aero-City-hingga-Marina.
Anonim. (tt). Kabupaten Buleleng. [diakses tgl 1 Oktober 2016]. Tersedia URL:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Buleleng
Anonim. (2016). Sepakat Pembangunan Bandara Internasional Baru Bali di
Kubutambahan.

[diakses

tgl

Oktober

2016].

Tersedia

URL:http://bulelengkab.go.id/index.php/baca-berita/428/SepakatPembangunanBandara-Internasional-Baru-Bali-di-Kubutambahan.
Departemen Perhubungan Udara. 2002. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 44
Tahun 2002 tentang Tatanan Kebandaraudaraan.
Domanski,

A.

(2016).

[diakses

tgl

Oktober

2016].

Tersedia

URL:

https://m.tempo.co/read/news/2016/05/27/092774718/airport-kinesis-siap-bangunbandara-baru-di-buleleng-bali.
Haryanto, A. (2013). Daya Tampung Bandara I Gusti Ngurah Rai Menjadi yang Terbesar
di

Indonesia

Saat

Ini.

[diakses

Oktober

2016].

Tersedia

URL:

http://www.angkasapura1.co.id/detail/berita/daya-tampung-bandara-i-gusti-ngurahrai-menjadi-yang-terbesar-di-indonesia-saat-ini.

Mardika, I N. (2016). Rp 9 Miliar untuk Tata KSPN di Bali. [diakses tgl 1


Oktober

2016].

Tersedia

URL:

http://www.beritasatu.com/nasional/351151-rp-9-miliar-untuk-tatakspn-di-bali.html.
Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng. 2013. Peraturan Daerah Kabupaten Buleleng
Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buleleng.

10

11

12