Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sendi tungkai bawah memiliki peranan penting untuk menopang beban yang
sangat besar, perendian pada tungkai bawah salah satunya adalah sendi lutut. Hampir
semua aktivitas yang dilakukan secara weight bearing pada tungkai bawah dan kaki
akan melibatkan persendian di lutut, sehingga sendi lutut sering mengalami cedera
karena over use. Keluhan nyeri pada lutut merupakan keluhan terbesar kedua yang
sering dikeluhkan di dunia medis, dan penderita merupakan kalangan usia dewasa
muda. Salah satu gangguan pada lutut adalah patella femoral pain syndrome (PFPS).
Patellofemoral pain syndrome adalah gangguan artikular yang diwujudkan oleh nyeri
pada bagian anterior lutut dan penurunan fungsional dalam kegiatan sehari-hari
(Alaca, 2002). Nyeri pada bagian anterior lutut merupakan 25% dari cedera pada lutut
dan 5% dari setiap cedera olahraga, yang mewakili keluhan 20% dari populasi,
patellofemoral pain syndrome terjadi terutama pada perempuan muda usia 15-25
tahun (Belchior, 2006). Patellofemoral pain syndromeatau yang sering disebut
sindroma lutut pelari (runners knee), adalah nyeri lutut yang paling sering terjadi dari
semua penyebab nyeri lutut yang dialami kebanyakan orang, sindroma ini ditandai
dengan adanya nyeri yang dirasakan disekitar tempurung lutut. Hampir semua orang
pernah mengalaminya, terutama pelari, pengendara sepeda, pejalan kaki, pekerja
kantoran khususnya yang sebagian besar aktivitasnya dalam keadaan duduk, dan juga
sering terjadi pada remaja. Hampir 40% sindroma ini diderita oleh para pengendara
sepeda motor yang setiap tahunnya mengeluh nyeri disekitar anterior lututnya, namun
korban sindroma ini yang paling banyak adalah para pelari jarak jauh (Ingraham,
2012).
Adanya

spasme

dari

jaringan

lunak

di

sekitar

sendi

lutut

dan

ketidakseimbangan otot paha depan sering digambarkan sebagai faktor timbulnya


nyeri pada sendi patelofemoral. Ketidakseimbangan antara otot vastus medialis

obliquus dengan otot vastus lateralis dapat mengubah dinamika dari sendi
patellofemoral. Ketidakseimbangan ini menyebabkan bergesernya patella ke lateral
dikarenkan pergerakan otot vastus lateralis selama ekstensi lutut. Secara klinis,
rehabilitasi untuk pasien dengan sindroma nyeri sendi patellofemoral sering
dilakukan penguatan otot vastus medialis obliquus dengan tujuan untuk
menstabilisasi otot.

Metode Kinesiotapping diaplikasikan pada otot untuk

mengurangi rasa sakit dan peradangan, mengendurkan otot yang spasme, dan untuk
mensupport otot-otot ketika bergerak secara 24 jam per harinya. Kinesiotapping
adalah jenis perekat non-restriktif yang memungkinkan untuk tetap bergerak
maximal. Berbeda dengan taping (kovensional) untuk para atlet olahraga direkatkan
di sekitar sendi untuk stabilisasi dan support selama acara olahraga dengan
menghalangi aliran cairan tubuh sebagai efek samping yang diinginkan (Kase et al.
2003). Taping pada patella sekarang ini dipercaya sebagai pilihan pengobatan yang
tepat untuk pasien dengan sindroma nyeri sendi patellofemoral dan instabil pada
patella. Taping pada patella ini di desain khusus untuk mengatasi abnormalisasi
posisi pada patella (Pergeseran, perputaran, penekanan) dan untuk menjaga agar
patella tetap berada ditempat yang benar (di dalam troklea femoralis) selama
pergerakan lutut maksimal. Patella secara aktif ke arah medial di dalam troklea femur
dan prosedur penanganan patella ke posisi yang normal ini dapat dilakukan dengan
berbagai pendekatan misalnya seperti terapi latihan, taping, dan bracing (Hains &
Hains, 2010).
Dari beberapa sumber seperti jurnal, skripsi, dan thesis yang didapat, maka
penulis ingin menguraiakan mengenai Pemberian Teknik Mobilization with
Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita
Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa
1.2 Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dikaji
dalam karya tulis ini adalah:

1. Bagaimana

Pemberian

Kinesiotapping

untuk

Teknik

Mobilization

Peningkatan

Aktivitas

with

Movement

Fungsional

dan

Penderita

Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa?


2. Bagaimana mekanisme kerja pada Pemberian Teknik Mobilization with
Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional
Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya tulis ini adalah:
3. Mengetahui

Pemberian

Kinesiotapping

untuk

Teknik

Mobilization

Peningkatan

Aktivitas

with

Movement

Fungsional

dan

Penderita

Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.


4. Mengetahui mekanisme kerja pada Pemberian Teknik Mobilization with
Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional
Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dari karya tulis ini adalah:
1. Bagi mahasiswa
Dapat mengembangkan pola pikir ilmiah dan menambah wawasan keilmuan
mahasiswa di bidang fisioterapi.
2. Bagi masyarakat
Memberikan informasi mengenai potensi Pemberian Teknik Mobilization with
Movement dan Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional
Penderita Patellofemoral pain syndrome pada Usia Dewasa.
3. Bagi praktisi medis
Kepada fisioterapis karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai referensi
dalam pemberian intervensi ke depannya.

1.5 Ruang Lingkup Penulisan


Ruang lingkung penulisan karya tulis ilmiah ini mencakup pemberian intervensi
pada usia dewasa.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Patellofemoral Pain Syndrome
Sindroma nyeri sendi patellofemoral dapat didefinisikan sebagai nyeri
retropatellar atau peripatellar dikarenakan perubahan fisik dan biokimia pada sendi
patellofemoral. Ini yang membedakan dengan chondromalacia, di mana pada
dasarnya keluhan dan kerusakan ada pada tulan rawan patella. Pasien dengan
patellofemoral pain syndrome mengalami nyeri

pada daerah lutut anterior yang

biasanya nyeri timbul ketika sedang beraktivitas dan semakin parah ketika aktivitas
turun tangga (Jhun, 1999).
Gejala yang ditimbulkan dari penderita patellofemoral pain adalah nyeri di bawah
atau di sekitar tempurung lutut. Nyeri bertambah pada saat sedang beraktivitas atau
berdiri setelah duduk pada waktu yang lama. Nyeri dapat terjadi pada satu lutut atau
ke

duanya.

Menurut

Jhun

(1999),

pasien

dengan

patellofemoral

pain

syndromemenggambarkan rasa nyerinya di bagian lutut terutama di bagian lutut


depan. Penderita menggambarkan rasa sakit bertambah ketika aktivitas naik tangga
terutama saat turun tangga, duduk lama, jongkok dan berlutut, sebagian besar
menggambarkan rasa nyeri, tetapi sensasi bisa berubah menjadi nyeri yang tajam
bahkan dapat digambarkan seperti nyeri terbakar. Secara palpasi didapatkan
kelunakan di area tempurung, pembengkakan terjadi setelah melakukan aktivitas,
kadang kadang terdapat suara krepitasi bila sendi lutut digerakkan, sudut q-angel
lebih besar dari 18 sampai 20 derajat, spasme otot termasuk, hamstring, vastus
lateralis, illiotibial band dan bila sakit sudah berlanjut didapatkan atrofi di sepanjang
otot paha depan (Bolgla, et.al, 2011).
Sudut Quadriceps atau Q-angle adalah sudut yang dibentuk dari dua garis sudut
lancip antara segmen (1)Tuberositas Tibia dengan mid patella, (2) mid patella dengan
SIAS, pada orang dewasa sudut normal sudut quadriceps terbentuk sekitar 15 derajat,
besar kecilnya sudut tersebut sangat terpengaruh kedua garis segmen tersebut. Pada
sudut 15 derajat inilah resultan beban tubuh terletak tepat disentral patella. Penelitian
menunjukkan pada penderita obesitas, terjadi penambahan sudut beberapa derajat,

dampaknya adalah resultan beban akan berpindah dari sentral patela bergeser ke sisi
medial (Lippert, 2006). Semakin tinggi nilai sudut q-angle, maka membuktikan
semakin besar pula tarikan pada otot quadriceps femoris kearah lateral dan menjadi
factor terjadinya maltracking patella pada alurnya yang mempotensi terjadinya
gangguan pada Patellofemoral pain syndrome, chondromalacia patellae, dan
subluxasi patella lateralis berulang.
Patellofemoral pain syndrome merupakan gangguan fungsi dari patela yang
mengalami maltracking dari tempatnya (trochlea femoralis), dan di antara
penyebabnya antara lain :
a. Kelemahan otot quadricep Femoris
b. Ketidak seimbangan kerja otot quadriceps femoris
c. Spasme pada jaringan lunak sendi lutut (otot)
d. Kelemahan otot otot pada sendi panggul
e. Perubahan bentuk kaki/kinematik kaki
f.

Overuse dan overload

g. Problematika biomekanika sendi lutut


h. Penurunan fungsi otot (pes planus, pes cavus, q-angle,)
i.

Distrofi otot vastus medialis obliquus


(Bolgla et al. 2011 ; Juhn, 1999 ; Jensen, 2008)

2.2 Mobilization with Movement


2.2.1 Konsep Teknik Mobilization with Movement
Teknik mobilization with movement sudah berkembang sejak tiga dekade
terakhir dan evidence based dari teknik ini juga semakin bertambah. Konsep
Brian Mulligan (1999) tentang mobilization with movement (MWM) adalah
kelanjutan alami dari evolusi manual terapi dari dasar-dasar latihan perbaikan dan
latihan aktif dari praktisi diterapkan gerakan fisiologis pasif dan ke teknik
aksesori mobilisasi pasif. Mobilisasi dengan gerakan fisiologis aktif dan atau
pasif. Pasif akhir - range overpressure sekarang dapat diterapkan tanpa rasa sakit
sebagai penghalang. Teknik mulligan dapat diaplikasikan jika :

1. Tidak ada kontaindikasi untuk dilakukan manual terapi


2. Pemeriksaan klinis sudah dilakukan secara lengkap untuk mengetahui
patologi mekanik musculoskeletal
3. Adanya analisis spesifik biomekanik yang menunjukan hilangnya
mobilitas lokal atau didapat rasa nyeri terkait dengan fungsi .
4. Tidak menimbulkan nyeri selama latihan dan setelah latihan mulligan
Keberhasilan dari tehnik ini ditandai dengan tidak ditemukannya rasa nyeri
selama praktisi melakukan teknik dalam menggerakkan dan meningkatkan fungsi.
Setelah fungsi sendi kembali, program selanjutnya adalah pemulihan kekuatan
otot, daya tahan, dan pengembangan neuro control motor. Patokan mulligan
adalah mengendalikan dari posisi yang salah untuk dijadikan konsep, satu per satu
mekanisme

penelusuran

gerak

dan

fungsi

sendi

dirotasikan

dengan

mempertimbangkan respon neurofisiologisnya (Mulligan, 1999).


2.2.2 Dasar dasar mobilisasi sendi
Konsep Mulligan menggunakan mobilisasi sendi berupa teknik oscillasi dan
roll glide. Kedua teknik tersebut menggunakan gerak fisiologis atau gerak
asesoris (Kisner and Colby, 2007).
a. Gerak fisiologis ; gerak fisiologis adalah gerakan yang dirasakan secara
volunter

oleh

pasien.

Dalam

gerak

fisiologis

dikenal

istilah

osteokinematika yang menggambarkan gerakan antara kedua tulang


melalui axis sendi. Sebagai contoh, gerak fleksi, abduksi dan rotasi.
b. Gerak asesoris ; gerak asesoris adalah gerakan yang terjadi didalam sendi
dan jaringan disekitarnya, yang diperlukan untuk mencapai LGS normal
tetapi tidak dapat dilakukan secara aktif oleh pasien. Istilah yang berkaitan
dengan gerak asesoris adalah :
1) Komponen gerakan yaitu gerakan-gerakan yang menyertai gerak aktif
tetapi tidak dibawah kontrol volunter. Istilah ini seringkali digunakan
dalam gerak asesoris. Sebagai contoh, gerakan upward rotasi scapula dan
clavicula yang terjadi pada gerakan fleksi shoulder, kemudian gerak rotasi

fibula yang terjadi pada gerakan ankle.


2) Joint play menggambarkan gerakan-gerakan yang terjadi antara permukaan
sendi

yang

melibatkan

elastisitas

kapsul

sendi,

sehingga

dapat

menghasilkan gerakan pada tulang. Gerakan-gerakan yang diperlukan


untuk fungsi sendi normal dengan LGS penuh hanya dapat dilakukan
secara pasif tetapi tidak dapat dilakukan secara aktif oleh pasien. Gerakangerakan tersebut mencakup traksi, slide (translasi), kompresi, rolling dan
spin yang terjadi pada permukaan sendi. Gerakan-gerakan tersebut
termasuk kedalam arthrokinematika.
2.2.3 Prinsip mobilisasi mulligan
Dalam penerapan teknik manual terapi, terapis harus mempertimbangkan
adanya kontraindikasi terhadap pengobatan dan harus dihargai setiap saat.
Meskipun selalu berpedoman pada aturan (tanpa rasa sakit), terapis sendiri yang
memilih prosedur yang dikembangkan oleh brian mulligan, masih harus
memahami dan mematuhi aturan aturan dasar penerapan teknik manual terapi.
Khususnya untuk penerapan konsep Mulligan (1999) dalam praktek klinis, prinsip
prinsip berikut telah dikembangkan :
c.

Selama pemeriksaan terapis megidentifikasi satu atau lebih tanda tanda


yang sebanding seperti antara lain ; hilangnya pergerakan sendi, rasa
nyeri yang terkait dengan gerakan, atau nyeri dengan aktivitas
fungsional tertentu (contoh ; nyeri siku lateral dengan ekstensi,
ketegangan saraf yang merugikan, dll)

d.

Mobilisasi pasif gerak asesoris diterapkan mengikuti prinsip prinsip


kaltenborn, yaitu paralel atau tegak lurus terhadap bidang sendi sehingga
glide asesoris harus bebas dari nyeri.

e.

Terapis harus memantau reaksi pasien untuk memastikan tidak ada rasa
sakit yang muncul.
arthologi sendi,

Memanfaatkan

pengetahuan

klien

tentang

kembangkan dengan baik (sense) dari ketegangan

jaringan dan alasam klinis, sehingga terapis dapat menyelidiki berbagai


kombinasi dari gliding yang sejajar (paralel) atau tegak lurus
(perpendicular) untuk menemukan treatment yang tepat pada bidang
gerak dan tingkatan dari gerakan aksesori.
f.

Selama mempertahankan gliding, pasien diminta untuk membandingkan


apa yang dirasakan (comparable sign). Comparable sign seharusnya
menunjukan perbaikan yang signifikan (peningkatan lingkup gerak
sendi) dan berkurang/hilangnya nyeri asal dari keluhan.

g.

Kegagalan untuk meningkatkan perbaikan terhadap tanda/gejala


comparable sign akan menunjukan bahwa praktisi belum menemukan
treatment yang tepat dari bidang gerak tersebut, tingkatkan atau arahkan
mobilisasi, segmen spinal, atau ditemukan bahwa teknik ini tidak di
indiksi.

h.

Gerakan sebelumnya yang terbatas dan/atau gerak atau aktivitas yang


menyakitkan

diulang

oleh

pasien

sementara

praktisi

terus

mempertahankan gliding (gerakan) yang tepat. Kemajuan lebih lanjut


diharapkan dengan dilakukannya pengulangan selama sesi treatment,
biasanya sepuluh repetisi dengan empat set
i.

Penguatan lebih lanjut dapat dilakukan dengan mandiri dengan


mengaplikasikan overpressure yang bebas nyeri pada akhir gerakan
yang dilakukan. Hal ini diharapkan lagi overpressure ini bebas dari rasa
nyeri. Manfaat anatomi dan neurofisiologis dari artikular pada
pembebanan akhir gerakan mungkin dapat dicapai tanpa rasa sakit
sebagai batasannya. Treatment dengan pinsip mobilisasi dengan gerak
ini sering kali dilakukan dengan menggunakan pita perekat (taping
adhesive

sport)

atau

pasien

melakukan

usaha

sendiri

untuk

menghasilkan komponen gliding beserta gerak aktif fisiologis. Selalu


diingat, nyeri sebagai patokan. Berhasilnya teknik konsep mulligan
harus membuat comparable sign tanpa rasa nyeri, sementara
peningkatan fungsi berlangsung dalam teknik ini. Diharapkan adanya

peningkatan/perbaikan agar dapat mengetahui tepat tidaknya pemberian


intervensi yang sedang berlangsung.
2.2.4 Peripheral mobilization with movement
Mobilisasi dengan gerakan pada sendi perifer juga merupakan
kombinasi simultan dari pengaplikasian terapis pada teknik gliding dan
pasien melakukan gerakan fisiologis. Mobilisasi dengan gerakan paling
sering digunakan untuk sendi ekstremitas dah hasilnya dapat segera
dirasakan dengan meningkatnya fungsi dan mobilitas.
2.3 Kinesiotapping
Kinesiotaping adalah modalitas treatmen yang didasarkan pada proses
penyembuhan alami pada tubuh. Kinesio tape (kinesio tapping) dikembangan pertama
kali di Tokyo pada awal 1970.

Keberhasilan metode kinesiotaping ditunjukkan

melalui aktivasi neurological dan circulatory system. Dalam beberapa tahun terakhir,
konsep Medical-Taping telah menjadi sebuah terapi yang sangat berguna dalam
konsep penanganan pasien secara holistik. Hingga saat ini, metode taping telah
diaplikasikan hampir diseluruh cabang olah raga dan banyak digunakan oleh tenaga
medis dalam upaya rehabilitasi pasien.
Beberapa efek utama dalam

penggunaan kinesio tape adalah : 1)

meningkatkan dan memperbaiki sirkulasi melalui mekanisme pengangkatan kulit, 2)


mengurangi nyeri melalui aktivasi serabut bermyelin tebal A, 3) meningkatkan dan
memperbaiki fungsi otot melalui fasilitasi dan inhibisi, 4) sebagai stabilitas dan
mengoreksi sendi, serta 5) meningkatkan stimulasi mekanoreseptor yang terdapat
pada kulit. Kinesio tape (KT) dapat menyediakan peregangan sebesar 130 140%
dari panjang aslinya dan memiliki berat dan ketebalan yang hampir sama dengan
kulit. Secara teori, KT dapat digunakan pada seluruh otot dan sendi yang ada pada
tubuh, dan dapat dipakai hingga 4 hari tanpa mengganggu personal hygiene dan tanpa
menghilangkan atau mengurangi komponen pelekatnya.

10

Gambar 2.1 Bagan mekanisme kerja dari Kinesiotapping


Sumber : Illustrated Kinesiotaping Fouth Edition by Kenzo Kase, D.C. 2003
Kinesio tape dibentuk oleh polymer elastic yang dibalut oleh 100% serat
cotton. Serat cotton menyediakan tempat untuk evaporasi kelembaban kulit.
Teksturnya yang bergelombang menyediakan gaya tarikan terhadap kulit sehingga
menciptakan lebih banyak ruang dengan mengangkat fascia dan jaringan lunak pada
area pemasangan Kinesio Tape dimana hal ini akan berkontribusi terhadap penurunan
nyeri dan peningkatan sirkulasi dan drainase limfa.
Metode kinesio tape dapat digunakan dalam berbagai bentuk yaitu Y, I, X,
Fan, Web, dan Donut. Teknik Y merupakan metode aplikasi yang umum digunakan.
Digunakan untuk memfasilitasi ataupun menginhibisi stimulasi otot. Teknik I dapat
digunakan bersamaan dengan teknik Y untuk injuri otot akut. Tujuan utama
penggunaannya adalah untuk mengambat nyeri dan mengurangi edema. Teknik X
digunakan saat origo dan insersio otot bisa berubah bergantung pada pergerakan yang
terjadi pada sendi (seperti pada otot Rhomboid). Teknik Fan (kipas) dan Web (jaring)
digunakan untuk drainase limfa. Dan teknik Donut digunakan untuk edema focal atau
pada area injuri yang spesifik. Terdapat dua teknik dasar dalam mengaplikasikan KT.

11

Untuk kondisi over-use dan strain otot akut, tape digunakan dalam arah insersio
menuju origo untuk menginhibisi kontraksi otot. Peregangan tape yang digunakan
juga sangat ringan yaitu sekitar 15-25% dari stretch yang tersedia. Untuk kondisi
kronis dan kelemahan otot atau kondisi dimana diinginkan peningkatan kontraksi
otot, tape digunakan dalam arah Origo menuju Insersio untuk memfasilitasi kontraksi
otot. Peregangan tape yang digunakan sedang yaitu 25-50% dari total stretch yang
tersedia.
2.4 Pemeriksaan Khusus
a. Patellar Apreheshion Test
Patellar apreheshion test disebut juga tes koordinasi Fairbanks, aplikasi tes
dilakukan dengan posisi pasien berbaring terlentang dan relaks (Reider, 1999).
Pemeriksaan ini menggunakan satu tangan untuk mendorong patela pasien ke arah
lateral, dimaksud untuk mendapatkan pergeseran patella kearah lateral. Dimulai
dengan lutut di fleksikan di 30 derajat, tangan terapis yang satunya memegang
tumit dan dengan pelan mendorong, fleksi gabungan di lutut dan pinggul (Reider,
1999;. Malanga, et al, 2003). Pergeseran arah patella ke lateral dipertahankan
sepanjang pengujian. Tes dianggap positif ketika pasien nyeri atau ketika adanya
rasa takut dari pasien. Kekhawatiran tersebut dapat memanifestasikan dirinya
dalam berbagai cara, mulai dari ekspresi verbal kecemasan pasien dengan
mengkontraksikan otot paha depan (Reider, 1999; Malanga, et al. 2003).

12

Gambar 2.2 Pattelar Aprehension Test


b. Eccentric Step Test
Untuk eccentric step test, pasien mengenakan celana pendek dan melakukan
pengujian tanpa menggunakan alas kaki. Siapkan stool atau bangku yang memiliki
tinggi 50% dari panjang tibia (Selfe et al, 2001). Bangku yang digunakan berbahan
kayu, dan lapisan non-slip (karet) pada bagian atas kayu untuk mencegah pasien
tergelincir saat melakukan tes. Berikan aba aba pada pasien: berdiri di banggu,
letakkan tangan di pinggul, dan mundur dari bangku secara perlahan-lahan dan
lakukan semampu yang bisa dilakukan. Pasien diminta untuk menjaga tetap
meletakkan tangganya di pinggul mereka selama latihan. Setelah setiap pasien
dilakukan tes dengan satu kaki, prosedur itu diulang dengan menggunakan kaki
yang lain. Pasien tidak diperbolehkan untuk istirahat selama tes. Tes ini dianggap
positif ketika pasien mengalami nyeri lutut selama tes dilakukan.

13

Gambar 2.3 Eccentric Step Test


2.5 Lower Extremity Functional Scale
Lower extremity functional scale atau skala fungsional ekstremitas bawah adalah
kuisioner yang berisi 20 pertanyaan tentang kemampuan seseorang untuk melakukan
tugas sehari hari. Kuisioner ini dapat digunakan sebagai ukuran aktivitas fungsional
dari awal, kemajuan yang sedang berlangsung, dan hasil, serta untuk menetapkan
tujuan fungsional. Skala fungsional ekstremitas bawah dapat digunakan untuk
memantau pasien dari waktu ke waktu dan untuk mengevaluasi efektifitas intervensi
dari sebuah perlakuan. Kolom pada skala dijumlahkan untuk mendapatkan nilai total.
Nilai maksimum pada skala ini adalah 80.
Intepretasi penilaian :
1. Semakin rendah total nilai, semakin besar tingkat disability (semakin
rendah nilai fungsi/semakin jelek)
2. Perubahan yang terdeteksi pada skala minimal 9 point
3. Perbedaan klinis minimal 9 point
4. Persen dari fungsi maksimal = nilai skor keseluruhan skala dibagi 80

14

dikali 100

Performa / Kinerja : Nilai Skor Skala x 100


80
Nilai
1. Potensial error yang diberikan pada titik waktu tertentu adalah +/- 5,3
poin skala
2. Nilai tes Retest reabilitas adalah 0,94
3. Menentukan reabilitas ditentukan oleh perbandingan dengan SF -36.
Skala ini dapat diandalkan dengan sensitivitas untuk mengubah nilai atas
menjadi SF -36
Instruksi
Kami ingin mengetahui apakah anda mengalami beberapa kesulitan dengan
kegiatan yang tercantum di bawah ini dikarenakan masalah pada
ekstremitas bawah yang anda keluhkan. Mohon berikan jawaban untuk
setiap kegiatan

15

BAB III
METODE PENULISAN
3.1

Sumber dan Jenis Data


Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sumber pustaka yang

relevan dengan topik permasalahan yang dibahas. Jenis data yang diperoleh berupa
data sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
3.2

Pengumpulan Data
Pengumpulan data digunakan metode telaah pustaka yang didasarkan atas

hasil pengkajian terhadap berbagai sumber data yang telah teruji validitasnya,
berhubungan satu sama lain, relevan dengan kajian tulisan, serta mendukung uraian
atau analisis pembahasan.
3.3

Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul, dilakukan pengolahan data dengan

menyusun secara sistematis dan logis. Teknik analisis data yang digunakan adalah
analisis deskriptif argumentatif.
3.4

Penarikan Simpulan
Setelah proses analisis, dilakukan proses sintesis dengan menghimpun dan

menghubungkan rumusan masalah, tujuan penulisan, serta pembahasan. Berikutnya


ditarik kesimpulan yang bersifat umum kemudian direkomendasikan beberapa hal
sebagai upaya transfer gagasan.

16

3.5 Kerangka Berpikir

Patellofemoral Pain Syndrome

Kelemahan otot vastus medialis obliquus


Maltracking patella dari throchlea femoris

Nyeri pada daerah anterior knee


Penurunan Aktivitas Fungsional

Kinesiotapping

Teknik Mulligan

Peningkatan Aktivitas
Fungsional

17

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk
Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome pada
Usia Dewasa.
Tujuan penanganan konservatif berupa pengembalian fungsi dari otot VMO dan
mengontrol postur anggota gerak bawah menjadi prioritas utama. Program
konservatif tersebut dengan menggunakan terapi latihan yaitu teknik mulligan
mobilization with movement dan menggunakan kinesiotaping sebagai koreksi dari
posisi patella dan untuk memfasilitasi kinerja otot vastus medialis oblique untuk
menstabilkan posisi patella ke posisi normal, serta menginhibisi vastus lateral
oblique dan vastus lateralis longus juga sangat efektif untuk mengurangi tarikan
patela ke lateral dan nyeri saat dilakukannya program terapi latihan (Slupik et al,
2007; Chi-Chen et al, 2007).
4.1.1 Teknik Mobilization with movement
Penelitian yang dilakukan Chan-Woo Man et al (2013) mengenai Effects of
the MWM Technique Accompanied by Trunk Stabilization Exercises on Pain and
Physical Dysfunctions Caused by Degenerative Osteoarthritis yang menggunakan 2
kelompok perlakuan yaitu kelompok control sebanyak 15 sampel diberikan Trunk
Stabilization Exercises dan kelompok perlakuan sebanyak 15 sampel diberikan Trunk
Stabilization Exercises dan MWM Technique. Hasil dari penelitian tersebut adalah
perbedaan yang signifikan setelah dilakukan intervensi pada kelompok perlakuan
pada skor visual analog scale, Western Ontario dan McMaster Universities
osteoarthritis index pain, stiffening, and physical function. Sehingga pemberian
teknik Mulligan mobilization with movement sangat dianjurkan pada penderita
osteoarthritis untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan aktivitas fungsinal pada
sendi lutut.
Dalam Penelitian yang dilakukan Atika Yulianti (2013) mengenai Kombinasi
Teknik Mulligan dan Fasilitasi Vastus Medialis Obliquus Lebih Efektif Meningkatkan

18

Aktivitas Fungsional daripada Aplikasi Kinesiotapping pada Penderita Sindroma


Nyeri Patellofemoral dijabarkan mengenai teknik mulligan yang dilakukan pada
pasien patellofemoral pain syndrome. Teknik mulligan adalah evolusi dari manual
terapi dengan konsep mobilisasi dengan gerak yang dilakukan secara bersamaan
tanpa menimbulkan rasa sakit selama teknik ini diterapkan yang berfungsi untuk
rehabilitasi dan pemulihan kekuatan otot, daya tahan, dan pengembangan yang
konsisten pada neuro kontrol motor. Teknik ini dikombinasikan dengan fasilitasi
vastus medialis obliquus setiap 3 kali seminggu dengan sekali treatme 1 jam selama
5 minggu.Teknik mulligan mobilisasi untuk patellofemoral pain syndrome antara lain
:
1. Patellofemoral gliding
Posisi pasien supine lying, dengan lutut disangga bantal kecil dan terapis
berada di samping lutut. Fiksasi tepat di patella. Berikan penekanan tepat
pada patella kearah posterior dengan lingkup pergerakan yang kecil dari arah
cranial ke caudal, dan dari arah medial ke lateral.

Gambar 4.1 Patellofemoral Gliding


a. Patellofemoral Mobs (Caudal dan chephalad)
Posisi pasien terlentang dengan lutut semi fleksi (sedikit menekuk),
dengan posisi terapis disamping lutut pasien. Fiksasikan tangan
terapis pada inferior atau superior patella dengan penahanan posisi
pada patella medial dan lateral dengan jempol dan telunjuk tangan
yang memfiksasi, kemudian tangan terapis yang satunya mendorong
dengan pangkal telapak tangan yang membentuk posisi mangkok

19

kearah inferior atau superior. Teknik mobilisasi dengan posisi tangan


yang berbeda untuk mengaplikasikan gliding mobilisasi kearah
caudal atau cephalad. Tangan bagian bawah dapat digunakan untuk
dekompresi patellofemoral joint atau menambah kompresi selama
treatment berlangsung.

Gambar 4.2 Patellofemoral mobs (caudal dan chepalad)


b. Patellofemoral Mobs (Caudal dengan fleksi)
Posisi pasien duduk dengan diberi alas pada posisi lutut fleksi dengan
tumit disangga dengan kursi atau fisioterapis. Posisi terapis tepat
didepan pasien dengan tangan fiksasi pada medial dan lateral patella
melalui ibu jari dan telunjuk sebagai tahanan. Pangkal tangan (tangan
yang memobilisasi) dengan membentuk posisi mangkuk dengan
pemberian gliding melalu pangkal tangan. Teknik mobilisasi dengan
gliding patella melalui superior patella dengan pangkal telapak
tangan, variasikan derajat lengkungan lutut untuk mendapatkan
progress pada setiap latihan. Tangan bagian bawah dapat digunakan
untuk dekompresi pada patellofeoral joint atau menambah kompresi
selama latihan.

20

Gambar 4.3 Patellofemoral Mob (caudal dengan fleksi)


c. Patellofemoral Mobs (medial dan lateral)
Posisi pasien terlentang dengan lutut pasien sedikit menekuk dengan
sanggahan lutut terapis. Posisi terapis tepat berada disamping pasie,
untuk gliding kearah medial kedua jempol pada jari tangan terapis
berada pada lateral patella dan kedua jari lainnya memfiksasi patella
bagian inferior dan superior, jari jari disekitar medial patella. Lateral
glide dilakukan dengan posisikedua jari telunjuk tepat pada medial
patella dengan jedua jempol di lateral patella. Teknik mobilisasi pada
gliding medial dengan melakukan dorongan patella kearah medial
dengan ibu jari terapis sedangkan untuk gliding kearah lateral
mobilisasi dilakuakan dengan tarikan kearah lateral dengan jari
telunjuk terapis.

Gambar 4.4 Patellofemoral Mobs (lateral dan medial)

21

2. Mobilization and Movement Patella Inferior


Mobilisasi dan gerak pada patella merupakan treatment dimana patella
digerakkan normal secara normal pada alur gerak arthokinematicnya
(inferior dan sedikit ke medial) selama fleksi assisted knee (pasif dengan
bantuan thera band) (Joseph, 2011).

Gambar 4.5 Mobilization and Movement Patella Inferior


3. Mobilization and Movement Patella Superior
Mobilisasi dinamis pada patella dirancang untuk memperpanjang jaringan
lunak (infra patella) dengan membeti penekanan pada patella agar tidak
bergerak kearah inferior selama fleksi lutut. Teknik ini memberikan
peregangan langsung antara pangkal/ujung patela dan tuberositas tibialis
(Joseph, 2011)

Gambar 4.6 Mobilization and Movement Patella Superior


Aplikasi Mobilization with movement dilakukan 3 hari sekali dalam jangka

22

waktu tiga minggu


4.1.2 Teknik Kinesiotapping
Penelitian yang dilakukan oleh Evangelous A. Christou (2003)
mengenai Patellar Taping Increase Vastus Medialis Oblique in the
Presence of Patellofemoral Pain dengan hasil yang didapatkan adalah
penggunaan taping pada daerah patellar dapat menurunkan nyeri saat
pergerakan sendi lutut, meningkatkan aktivitas otot vastus medialis obliquus,
dan menurunkan kerja otot vastus lateralis pada pasien patellofemoral pain
syndrome.
Penelitian yang dilakukan oleh Wen Dien Chang et al (2015) mengenai
Effects of Kinesiotapping versus McConnell Taping for Patellofemoral pain
syndrome: A Systematic Review and Meta-Analysis menunjukkan hasil
Kinesiotaping dan McConnell taping adalah dua tipe patellar taping yang
digunakan untuk intervensi pada pasien patellofemoral pain syndrome.
Kinesiotaping digunakan untuk mengurangi nyeri otot namun sedikit
penelitian yang menunjukan efek kinesiotaping terhadap koreksi alignment
pada patella. McConnell taping dapat digunakan untuk koreksi patella namun
tidak

dapat

meningkatkan

propioseptif

dan

function

motor

pasien

patellofemoral pain syndrome.


Pada

kasus

patellofemoral

pain

syndrome

ini,

Kinesiotapping

diaplikasikan pada otot vastus medialis obliquus dan quadriceps femoris


untuk memberikan rangsangan propioseptik untuk kelemahan otot ini (dari
origo ke insersio) dan untuk memungkinkan pergerakan patella secara normal
pada alur femoralis/trochlea. Aplikasi Kinesiotapping diberikan selama 3 hari.
1. Pertama pengaplikasian Kinesiotapping difasilitasi pada otot vastus
medialis obliquus, potong taping hingga panjangnya kurang lebih 20 cm,
pototng bangian tengah pada 1 sisi hingga membentuk Y, potong
bagian tengah dan sisakan 5 cm pada sisi yang tidak dipotong
tengahnya. Posisi pasien liying dengan fleksi lutut 30 derajat. Tentukan

23

origo otot vastus medialis obliquus dan tempelkan bagian yang tiding
dipotong, 2 cabang yang telah dipotong ditarik kira kira 25% dan
ditempelkan melingkari otot vastus medialis obliquus dengan akhir di
insersio otot.

Gambar 4.7 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot vastus


medialis obliquss
2.

Kedua Kinesiotapping diberikan disepanjang otot quadriceps femoris


dan lateral medial patella, gunakan taping dengan panjang kira kira 50
cm, potong bagian tengah salah satu sisi kira kira 10 cm. Posisi pasien
tidur terlentang dengan fleksi knee. Kemudian rekatkan percabangan
Kinesiotapping di upper knee kemudian bagian yang tidak dipotong
ditempelkan sepanjang otot rekrtus femoris, posisikan kaki klien diatas
bed dengan posisi knee fleksi disamping bed. Rekatkan Kinesiotapping
dari upper quadriceps menyusuri inferior dan percabangan berhenti di
upper knee. Kemudian posisikan lutut ekstensi 90 derajat diatas bed dan
rekatkan percabangan taping yang sudah dipotong kearah epicondilus
lateral dan medial dan melingkari patella medial dan lateral.

24

Gambar 4.8 Pemakaian konesiotapping untuk fasilitasi otot rectus


femoris
3.

Ketiga Kinesiotapping diaplikasikan di patella, dengan tujuan untuk


mengorekci patella agar tetap berada dijalurnya, posisi lutut pasien
fleksi dibed kira kira 30 derajat dengan Kinesiotapping yang kira kira 20
cm, potong salah satu sisi hingga menyisakan 5 cm dan membentuk Y.
Tempelkan bagian yang tidak tepotong di epicondilus medial pada
femur, kemudian tarik kira kira 25 cm dengan melingkari patella
melewati patella atas dan yang satunya melewati bagian bawah patela
dengan cabang yang sudah dipotong tadi hingga membentuk lingkaran
dan patella tepat ditengah lingkaran Kinesiotapping tersebut.

Gambar 4.9 Pemakaian konesiotapping untuk patella

25

4.2 Mekanisme Kerja Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan


Kinesiotapping untuk Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral
pain syndrome pada Usia Dewasa.
Intervensi dengan teknik Mulligan merupakan terapi yang menggunakan gerakan
aktif co-contraction yang dikombinasi dengan kontrol gerakan dari terapis dengan
prinsip tanpa nyeri saat metode diaplikasikan, sehingga memberikan suatu bentuk
latihan aktif dengan perbaikan keseimbangan otot dan merangsang reedukasi
propriosepsi gerak dan memberikan peregangan kapsul sendi sekaligus memberikan
pumping reaksi untuk sirkulasi kapiler dan cairan persendian sehingga terjadi
perpindahan atau sirkulasi sisa metabolism penyebab nyeri, saat pemberian latihan
akan diperoleh pengaruh terhadap peningkatan kadar air dan matrix sekaligus
memberikan kestabilan gerak persendian dan mengurangi resiko terjadinya cedera
berulang pada jaringan (Mulligan, 2004). Sedangkan efek neurofisiologi berkaitan
dengan mekanoreseptor dan receptor nyeri didalam sendi. Fasilitasi impuls saraf
afferent dari receptor sendi merupakan respon terhadap gerakan sendi yang akan
ditransmisikan informasi tersebut ke sistem saraf pusat, dan oleh karena itu akan
memberikan kesadaran posisi sendi dan gerak sendi. Penurunan nyeri terjadi melalui
neuromodulasi pada innervasi sensorik mekanoreseptor sendi sehingga pintu gerbang
nyeri tertutup oleh inhibisi transmisi stimulus nosiseptive pada spinal cord dan level
batang otak (Mulligan, 2001).
Tujuan

aplikasi

Kinesiotapping

pada

penderita

patellofemoral

pain

syndromeadalah untuk memperbaiki tempurung lutut kearah yang normal dan


menurunkan ketegangan struktur

jaringan di sekitar sendi patellofemoral yang

berlebihan. Selain penguatan otot quadriceps secara keseluruhan dan peningkatan


vastus medialis obliquus. Kinesiotapping juga mempertahankan letak patella tetap
pada tempatnya, sementara terjadi microkontraksi pada otot vastus medialis obliquus
(Bolgla et al. 2008). Selain itu, penderita nyeri sendi patellofemoral mengalami
ketidakseimbangan otot quadriceps dan menyebabkan terjadinya tracking abnormal
pada patella sehingga akan menyebabkan banyaknya struktur jaringan lunak yang
menegang di sekitar sendi patellofemoral yang pada akhirnya menyebabkan nyeri. Di

26

sinilah peran Kinesiotapping sebagai fasilitas aktivasi keseimbangan otot quadriceps


sehingga terjadi koreksi dari ketidakseimbangan dan dengan Kinesiotapping
menurukan gejala dari penderita patellofemoral pain syndrome.
Dalam sebuah penelitian, Kinesiotapping secara klinis akan meningkatkan
kemampuan bioelektrik otot dengan menggunakan electromyogaphy (EMG) setelah
24 jam pemasangan Kinesiotapping dan akan menurun fungsinya setelah empat hari
pemakaian. Hal tersebut dapat menjelaskan bahwa pemberian Kinesiotapping cukup
sampai dengan tiga hari karena puncak pengaruh dari Kinesiotapping setelah 24 jam
akan memfasilitasi motor unit untuk dapat melakukan kontraksi dan setelah 72 jam
tonus otot menurun, sehingga untuk mengurangi dari tonus otot yang berlebih
disarankan pemasangan cukup sampai dengan 3 hari (Slupik, et al. 2007). Dalam
kasus patellofemoral pain syndrome, kinesiotapping berfungsi untuk memfasilitasi
otot vastus medialis obliquus dan menginhibisi otot vastus lateralis agar mengkoreksi
posisi dari patella dan mengurangi ketegangan struktur jaringan sekitar sendi lutut.
Pemberian Kinesiotapping dan Teknik Mobilization with movement dapat
dikombinasikan

untuk

peningkatan

aktivitas

fungsional

pada

penderita

patellofemoral pain syndrome berdasarkan efek dari masing masing teknik.

27

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari pembahasan adapun yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pemberian teknik mobilization with movement memberikan suatu bentuk
latihan aktif dengan perbaikan keseimbangan otot dan merangsang reedukasi
propriosepsi gerak dan memberikan peregangan kapsul sendi sekaligus
memberikan pumping reaksi untuk sirkulasi kapiler dan cairan persendian
2. Pemberian Kinesiotapping berfungsi untuk memfasilitasi otot vastus medialis
obliquus dan menginhibisi otot vastus lateralis agar patella dalam posisi yang
normal dan mengurangi ketegangan struktur jaringan sekitar sendi lutut.
3. Kombinasi dari Teknik mobilization with movement dan Kinesiotapping
bertujuan mengurangi

meningkatkan

aktivitas

fungsional dari sendi

patellofemoral dan mengurangi resiko terjadinya cedera berulang pada


jaringan.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan melalui penulisan karya tulis ini yaitu :
1. Gagasan karya tulis ini memiliki potensi untuk diterapkan lebih lanjut dalam
penatalaksanaan kasus patellofemoral pain syndrome, sehingga diperlukan
kajian yang lebih mendalam terkait strategi terapi penatalaksanaan kasus
patellofemoral pain syndrome pada usia dewasa
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas
Pemberian Teknik Mobilization with Movement dan Kinesiotapping untuk
Peningkatan Aktivitas Fungsional Penderita Patellofemoral pain syndrome
pada Usia Dewasa

DAFTAR PUSTAKA

28

Abudurrasyid.2013. Penggunaan Kinesiotape Selama Tiga Hari Tidak Berbeda


Dengan Perekat Plasebo Dalam Mengurangi Resiko Cedera Berulang dan Derajat
Q-Angle pada Penderita Patellofemoral pain syndrome. Jurnal Fisioterapi Volume
13 Nomor 2.
Astari, Putri Nadia.2012. Perbedaan Efek Antara Intervensi Traksi Osilasi
MLPP dan
Cryotherapy Dengan Teknik Mulligans Mobilization with movement dan
Cryotherapy Terhadap Peningkatan Kemampuan Fungsional Akibat Osteoartritis
Lutut. Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul. Jakarta.
Callaghan, Michael J and Selfe, James.2012. Patellar taping for patellofemoral pain
syndrome in adults. The Cochrane Library, 2012 (4). pp. 1-41. ISSN 1469-493X
Christou, Evangelos A.2003. Patellar taping increases vastus medialis oblique activity
in the presence of patellofemoral pain. Department of Integrative Physiology,
University of Colorado, Boulder. Journal of Electromyography and Kinesiology 14
(2004) 495504.
Binkley JM, Stratford PW, Lott SA, Riddle DL. The Lower Extremity Functional
Scale (LEFS): scale development, measurement properties, and clinical application.
North American Orthopaedic Rehabilitation Research Network. Phys Ther. 1999
Apr;79(4):371-83.
Kase, K. Wallis, J. Kase, T. 2003. Clinical therapeutic applications of the
kinesiotaping method 2

nd

edition. Jepang. Ken Ikai Co.

Kisner C. Colby L,A. 2007. Therapeutic Exercise : Foundation and Techniques fourth
edition. Philadelphia. F A Davis Company.
Mulligan, B R. 1999. Ebook ; Manual Therapy Nags, Snags, MWMs, etc., 4

th

Edn. New Zealand.


Yulianti, Atika.2013. Kombinasi Teknik Mulligan dan Fasilitasi Vastus Medialis
Obliquus Lebih Efektif Meningkatkan Aktivitas Fungsional daripada Aplikasi
Kinesiotapping pada Penderita Sindroma Nyeri Patellofemoral. Program Magister,
Program Studi Fisiologi Olahraga Fisioterapi Pascasarjana Universitas Udayana.
29

30