Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN
Kurang Energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi
dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil Susenas menunjukkan adanya
penurunan prevalensi balita gizi buruk yaitu dari 10,1% pada tahun 1998 menjadi
8,1% pada tahun 1999 dan menjadi 6,3% pada tahun 2001. Namun pada tahun
2002 terjadi peningkatan kembali prevalensi gizi buruk dari 8,0% menjadi 8,3%
pada tahun 2003 dan kembali meningkat menjadi 8,8% pada tahun 2005.1,2
Kemudian berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan seluruh Indonesia
terjadi penurunan kasus gizi buruk yaitu pada tahun 2005 terdata 76.178 kasus
kemudian turun menjadi 50.106 kasus pada tahun 2006 dan 39.080 kasus pada
tahun 2007. Selain itu penurunan prevalensi gizi buruk pada anak balita dari 5,4%
tahun 2007 menjadi 4,9% pada tahun 2010. Meskipun masalah gizi pada anak
balita di Indonesia telah mengalami perbaikan dan penurunan tetapi jumlah
nominal anak gizi buruk masih relatif besar. Penurunan kasus gizi buruk ini belum
dapat dipastikan karena penurunan kasus yang terjadi kemungkinan juga
disebabkan oleh adanya kasus yang tidak terlaporkan (under reported).
Pemberitaan di media massa mengenai balita gizi buruk yang ditemukan dan
meninggal menunjukkan sistem surveilans dan penanggulangan dari berbagai
instansi terkait belum optimal.2,3
Salah satu tanda gizi buruk balita adalah berat badan balita di bawah garis
merah dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) balita. Masalah gizi buruk balita
merupakan masalah yang sangat serius, apabila tidak ditangani secara cepat dan
cermat dapat berakhir pada kematian. Gizi buruk lebih rentan pada penyakit
akibat menurunnya daya tahan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan yang tidak
optimal, sampai pada kematian yang akan menurunkan kualitas generasi muda
mendatang. World Health Organization (WHO) tahun 2003 menyatakan bahwa
60% dari 10,9 juta kematian balita di dunia setiap tahunnya disebabkan secara
langsung dan tidak langsung oleh gizi kurang atau gizi buruk. Jika seorang balita
terlanjur mengalami gizi buruk maka prognosisnya dapat dipastikan suram.2,4

Dampak jangka pendek gizi kurang/buruk pada masa batita adalah


gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak, otot, komposisi tubuh dan
metabolic programming glukosa, lemak dan protein. Dampak jangka panjang
dapat berupa rendahnya kemampuan berpikir, prestasi pendidikan, kekebalan
tubuh, dan produktifitas kerja. Selain itu meningkatkan risiko diabetes, obesitas,
penyakit jantung koroner, hipertensi, kanker, stroke dan penuaan dini.4
Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi
kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat
dan tepat. Untuk menekan kematian bayi atau balita dan menurunkan prevalensi
gizi kurang dan buruk pemerintah menetapkan target bahwa semua balita gizi
buruk harus dirawat. Penanganan dan pemulihan balita gizi buruk dapat dilakukan
secara rawat inap dan rawat jalan. Selama ini pemulihan balita gizi buruk
dilakukan dengan rawat inap di fasilitas kesehatan, tanpa pemisahan penderita
yang disertai komplikasi ataupun yang tidak disertai komplikasi.1
Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, tatalaksana gizi buruk
dapat ditangani dengan dua pendekatan. Gizi buruk dengan komplikasi (anoreksia,
pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi dan penurunan
kesadaran) harus dirawat di Rumah Sakit, Puskesmas Perawatan, Pusat Pemulihan
Gizi (PPG) atau Therapeutic Feeding Center (TFC), sedangkan gizi buruk tanpa
komplikasi dapat dilakukan secara rawat jalan. Penanganan rawat jalan dilakukan
berupa Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM) di rumah tangga yang
dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa penemuan penderita gizi buruk secara
dini dan ditangani secara tepat maka tingkat keberhasilan penatalaksanaannya
akan tinggi.1
Penanggulangan balita gizi kurang dilakukan dengan Pemberian Makanan
Tambahan (PMT) sedangkan balita gizi buruk harus mendapatkan perawatan
sesuai Tatalaksana Balita Gizi Buruk yang ada. Penanganan gizi buruk secara
rawat jalan dan rawat inap merupakan jawaban terhadap pelaksanaan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perbaikan Gizi, yaitu setiap anak gizi buruk
yang ditemukan harus mendapatkan perawatan sesuai dengan standar. 1
BAB II

STATUS PEDIATRIK
I.

IDENTIFIKASI
a. Nama
b. Umur
c. Jenis Kelamin
d. Nama Ayah
e. Nama Ibu
f. Bangsa
g. Agama
h. Alamat
i. MRS tanggal

II.

: An. Z
: 4 bulan
: Perempuan
: Tn. K
: Ny. UW
: Indonesia
: Islam
: RT 28 Suwakandis Muaro Jambi
: 1 Agustus 2016

ALLOANAMNESA
Diberikan oleh

: Ibu kandung

Tanggal

: 20 Agustus 2016

A. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


1. Keluhan Utama
:
Anak datang dengan keluhan BAB encer sejak 1 minggu SMRS
2. Keluhan tambahan
:
Pasien juga mengeluhkan demam sejak 1 minggu yang lalu SMRS
tetapi tidak terlalu tinggi, Ibu pasien juga mengatakan kepala anak nya
semakin bertambah besar, berat badan tidak naik dan bahkan makin
berkurang.
3. Riwayat Perjalanan Penyakit
:
Pasien datang dengan keluhan BAB encer sejak 1 minggu yang lalu
SMRS,keluhan disertai demam, mual (-), muntah (-), kepala yang
semakin besar, dan berat badan yang semakin berkurang setiap bulan
nya.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada

5. Riwayat Penyakit Keluarga


6. Tidak ada

B. RIWAYAT SEBELUM MASUK RUMAH SAKIT


1. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Masa kehamilan
: Aterm
Partus
: Spontan

Tempat
Ditolong oleh
Tanggal
BBL

: Rumah Bidan
: Bidan
: 14-03-2016
: 2400 gram

2. Riwayat Makanan dan kebiasaan


ASI
: + (usia 1 bulan)
Kesan
: baik
Kualitas
: cukup
Kuantitas
: cukup
3. Riwayat Imunisasi
4.

BCG

5.
Polio
6.
DPT
7. Campak : -

:+
::-

9.

8. Hepatitis : +
Kesan : Masih perlu
imuniasai

10.
11. Riwayat Keluarga
12. Perkawinan
: 1 kali
13. Umur
: 5 tahun yang lalu
14. Pendidikan
: SMA
15. Penyakit yang pernah diderita: 16. Saudara
: 3 orang
17.
18. Status gizi
19. Panjang badan : 53 cm
20. Berat badan : 3500 gram
21.
22. Riwayat Penyakit yang pernah di derita
23. Parotitis
: Tidak pernah
Muntah berak : Tidak
pernah
24. Pertusis
pernah
25. Difteri
26. Tetanus

: Tidak pernah

Asma

: Tidak

: Tidak pernah
Cacingan
: Tidak pernah
: Tidak pernah
Patah tulang : Tidak

pernah
27. Campak

: Pernah

Jantung

pernah
28. Varicella

: Tidak pernah

Sendi bengkak: Tidak

pernah
29. Thypoid

: Tidak pernah

Kecelakaan

: Tidak

: Tidak

pernah

30. Malaria

: Tidak pernah

Operasi

: Tidak

pernah
31. DBD
: Tidak pernah
Keracunan
: Tidak pernah
32. Demam menahun
: Tidak pernah
Sakit kencing : Tidak
pernah
33. Radang paru : Tidak pernah
Sakit ginjal : Tidak pernah
34. TBC
: Tidak pernah
Kejang
: Tidak Pernah
35. Perut Kembung
: Tidak pernah
Lumpuh
: Tidak

III.

pernah
36. Alergi
: Tidak pernah
37. Batuk/pilek : Pernah
38.
PEMERIKSAAN FISIK
A.

Otitis Media : Tidak pernah

39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum
: Tampak sakit sedang, anak tampak lesu
Kesadaran
: Kompos mentis
Posisi
: Berbaring
BB
: 3500 gram
PB
: 53 cm
Gizi
: Gizi buruk
Edema
: Tidak ada
Sianosis
: Tidak ada
Dyspnoe
: Tidak ada
Ikterus
: Tidak ada
Anemia
: Ada
Suhu
: 38 oC

51.

Respirasi

: 26x/menit

52.

Tipe pernapasan

: Thorakoabdominal

53.

Tekanan darah : 100/90 mmHg

54.

Turgor

55.

Nadi

: Kuat

58.

56.

Frekuensi

: 130

Teratur

57.

: Lambat

Equalitas

Sama
61.

Pulsus Alternan

: -

62.

Pulsus paradox

:-

63.

Pulsus celler

:-

Regularitas

59.

Pulsus defisit

:-

60.

Pulsus trigeminus

: -

64.

Pulsus magnus

:-

65.

Pulsus parvus

:-

66.

Pulsus bigerminus

:-

67.
68.

Kulit
5

69.

Warna

:Sawo

75.

matang

: -/-

70.

Hipopigmentasi

71.

Hiperpigmentasi
:-

72.

Ikterus

73.

Bersisik
Makula
: -/-

:-

76.

Sikatriks
:-

77.
:-

Eritema
:-

78.

:74.

Vesikulaa/Pustula

Haemangiom
: -Ptechiae

Papula

: -Edema
:-

B. PEMERIKSAAN KHUSUS
79.
KEPALA
80.
Bentuk
: makrosefal
81.
Rambut
: lurus
82.
Warna
: hitam
83.
Mudah rontok
:84.
Kehalusan
:85.
Alopesia
:86.
Sutura
: teraba
87.
Fontanella mayor
: teraba
88.
Fontanella minor
: teraba
89.
Cracked pot sign
:90.
Cranio tabes
:91.
Caput suksadeneum : 92.
Cephal hematom
:93.
Lingkar kepala
: 51 cm
94.
95.
MUKA
96.
Roman muka
: tampak lesu
97.
Bentuk muka
: bulat
mm
98.
99.

Sembab
Simetris
100.
101.
102.

ALIS

103.

Kerapatan

:: +/+ sama

KONJUNGTIVA
Pelebaran vena
:Perdarahan subkonjuntiva : Infeksi
:Bitot spot
:Xerosis
:Ulkus
:Refleks
:+
SKLERA
Ikterus

IRIS
Bentuk
Ukuran

:-

: dbn
: 1

Isokor
:+
Refleks chy lngsg
: +/+
Refleks chy tdk lngsg : +/+
TELINGA

: dbn

Bentuk

:-

Kebersihan

:-

Sekret

: dbn
104.

Mudah rontok
: cukup

105.

Alopesia
: minimal

106.
107.

MATA

108.

Sorot mata

Membran tympani

: dbn

: dbn

Nyeri tekan mastoid

:-

Nyeri

:109.

Hipertelorism

tarik

daun

telinga: 110.

Sekret

:7

111.

Epifora

112.

Pernanahan

:-

HIDUNG

:-

Bentuk

:-

Saddle nose

:-

Gangren

:-

Coryza

:-

Mukosa

:+

Epistaksis

: dbn

Deviasi

: dbn
113.

Endopthalmus
:-

114.

Exopthalmus
:-

115.

Nistagmus
:-

116.

Strabismus

edema

:117.

Cekung
:-

118.

Kelopak mata

septum

:119.
IV. ANAMNESIS ORGAN
120. KEPALA

JANTUNG DAN PARU

121.

Sakit kepala

:-

Nyeri dada

:-

122.

Rambut rontok

:-

Sifat

:-

123.

Lain-lain

:-

Penjalaran

:-

Sesak nafas

:-

124.
125.

MATA

Batuk-pilek

126.

Rabun senja

:-

Sputum

:-

127.

Mata merah

:-

Batuk dahak

:-

128.

Bengkak

:-

Sembab

:-

Kebiruan

:-

129.

:+

130.

TELINGA

Keringat malam hari : -

131.

Nyeri

:-

Sesak malam hari

:-

132.

Sekret

:-

Sesak waktu malam

:-

133.

Gangguan pendengaran: -

Berdebar

:-

134.

Tinitus

Sakit saat bernapas

:-

:-

135.

Nafas bunyi/mengi

:-

Bengkak sendi

:-

136.

HIDUNG

137.

Epistaksis

:-

Sakit kepala sebelah : -

138.

Kebiruan

:-

Dingin ujung jari

139.

Penciuman

: dbn

Penglihatan berkurang: -

:-

140.
141.

GIGI-MULUT

ABDOMEN

142.

Sakit gigi

:-

HEPAR

143.

Sariawan

:-

Tinja berwarna hitam : -

144.

Gangguan mengecap : -

Sakit kuning

:-

145.

Gusi berdarah

Kencing warna tua

:-

146.

Sakit membuka mulut : -

Kuning si sclera & kulit: -

147.

Rhagaden

:-

Perut kembung

:-

148.

Lidah kotor

:-

Mual/muntah

:-

:-

149.
150.

TENGGOROKAN

151.

Sakit menelan

LAMBUNG DAN USUS


:-

Nafsu makan

Perut kembung

:-

menurun
152.

Suara serak

:-

153.

Mual/muntah

: -/-

154.
155.

LEHER

156.

Kaku kuduk

:-

Isi

:-

157.

Tortikolis

:-

Frekuensi

:-

158.

Parotitis

:-

Jumlah

:-

Muntah darah

:-

159.
160.

MULUT

Mencret

:+

161.

BIBIR

Konsistensi

: encer

162.

Bentuk

: dbn

Frekuensi

: > 3

: merah muda

Jumlah

:-

kali
163.

Warna

164.

Ukuran

: dbn

Tinja berdarah

:165.

Bibir kering

:-

Tinja berlendir

:-

166.

Rhagaden

:-

Dubur keluar

:-

167.

Sikatriks

:-

Sukar BAB

:-

168.

Cheitosis

:-

Sakit perut

:-

169.

Sianosis

:-

Lokasi

:-

170.

Labioschizis : -

Sifat

:-

171.

Bengkak

:-

172.
173.

Vesikel: -

GINJAL DAN UROGENITAL

174.

Oral trush

:-

Sakit kencing

:-

175.

Trismus

:-

Warna keruh

:-

176.

Bercak koplik : -

Frekuensi miksi

: 3 x

Jumlah

sehari
177.

Palatoschizis : -

banyak (dbn)
178.

Sembab kelopak mata : -

179.

GIGI

Edema tungkai

:-

180.

Kebersihan

: cukup

181.

Karies

:-

ENDOKRIN

182.

Hutchinson

:-

Sering minum

:-

183.

Gusi

: dbn

Sering kencing

:-

Sering makan
:184.

LIDAH

Keringat dingin

185.

Bentuk

: dbn

186.

Gerakan

: dbn

187.

Tremor

:-

188.

Warna

: dbn

189.

Selaput

:-

Tanda pubertas prekoks : -

:-

10

190.

Hiperemis

:-

191.

Atrofi papil

:-

192.

Makroglosia : -

193.

Mikroglosia

195.

FARING TONSIL

196.

Warna

: hiperemis (-)

197.

Edema

:-

198.

Selaput

199.

Pembesaran tonsil

:-

194.

200.

Ukuran

201.

::-

: T1 T1

Simetris

:+

202.
203.

LEHER

204.

INSPEKSI

205.

Struma

:-

206.

Bendungan vena

:-

207.

Pulsasi

:-

208.

Limphadenopati

:-

209.

Tortikolis

:-

210.

Bullneck

:-

211.

Parotitis

:-

212.
213.

PALPASI

214.

Kaku Kuduk : -

215.

Pergerakan

: dbn

216.

Struma

:-

217.
218.

THORAX DEPAN DAN PARU

JANTUNG

219.

INSPEKSI STATIS

INSPEKSI

220.

Bentuk

: dbn

Vousure Cardiac : -

11

221.

Simetris

:+

Ictus cordis

:-

Pulsasi jantung

tidak tampak
222.

Vousure cardiac

tidak tampak
223.

Clavicula

: t.a.k

224.

Sternum

: t.a.k

PALPASI

225.

Bendungan vena

:-

Ictus cordis

:-

Thrill

: t.a.k

Defek pulmonal

: tidak teraba
226.

Tumor
:-

227.

Sela iga
:-

228.

Aktivitas jantung ka
: dbn

229.

INSPEKSI DINAMIS

Aktivitas jantung ki

: dbn
230.

Gerakan

: dbn

231.

Bentuk pernapasan

: abdominaltorakal

232.
233.

PERKUSI
Retraksi

:-

Batas kiri

: ICS V

LMCS
234.

Supraklavikula

:-

Batas kanan

: LPSD

235.

Interkostal

:-

Batas atas

: ICS II

Subkostal

:-

Batas bawah :

Epigastrium

:-

LPSD
236.

ICS

VI
237.
238.

AUSKULTASI

239.

PALPASI

240.

Nyeri tekan

BUNYI JANTUNG
:-

Bunyi

jantung

I:

reguler

12

241.

Fraktur iga

:-

Mitral

:+

242.

Tumor

:-

Trikuspid

:+

243.

Krepitasi

:-

Bunyi

Jantung

II:

reguler
244.

Stemfremitus : ka = ki

245.

Pulmonal

:+

Aorta

:+

246.

PERKUSI

247.

Bunyi ketuk

: sonor

BISING JANTUNG

248.

Nyeri ketuk

:-

Fase Bising

249.

Batas paru-hati: dbn

:-

Bentuk bising : mur-

mur (-)
250.

Peranjakan

:-

Derajat bising : -

251.

Lokasi/punctum max

:252.
253.

AUSKULTASI

Penjalaran

bising

Kualitas

bising

:254.

Bunyi nafas pokok

: vesikuler

:255.

Bunyi nafas tambahan : ronkhi -/-

Pericardial

friction

rub: 256.

wheezing -/-

257.
258.

THORAX BELAKANG

PERKUSI

259.

INSPEKSI STATIS

Nyeri ketuk

:260.

Bentuk

: dbn

Meteorismus

:261.

Processus spinosus: t.a.k

262.

Scapula

: t.a.k

AUSKULTASI

13

263.

Skoliosis

:-

Bising usus

:-

Ascites

: + normal
264.

Khiposis
:-

265.

Lordosis

:-

HEPAR

266.

Gibus

:-

Pembesaran

: 2 cm
267.

Dibawah arcus costa

268.

Konsistensi

: lunak
269.

PALPASI

Permukaan

: rata
270.

Nyeri tekan

:+

Tepi

:-

Nyeri tekan

: tumpul
271.

Fraktur iga
:-

272.

Tumor

:-

273.

Stemfremitus : ka = ki
274.

LIEN
Pembesaran

275.

PERKUSI

: (-)

Konsistensi

: lunak
276.

Bunyi ketuk

: sonor

Permukaan

:-

Nyeri tekan

: rata
277.

Nyeri ketuk
:-

278.

Batas paru-hati: ics 6

279.

Peranjakan

:280.

281.

GINJAL
Pembesaran

: (-)

14

282.

AUSKULTASI

Konsistensi

: lunak
283.

Bunyi nafas pokok: vesikuler +/+

Permukaan

: rata
284.

Bunyi nafas tambahan :R (-), W (-)

Nyeri tekan

:285.
286.

ABDOMEN

LIPAT

PAHA

&

GENITAL
287.

INSPEKSI

Kulit

: dbn
288.

Bentuk

: datar, supel

Kel.Getah

: tidak ada kelainan

Edema

:-

Sikatrik

Bening

: pembesaran 289.

Umbilicus
:-

290.

Spider nevi
:-

291.
292.

Bendungan vena

:-

Genitalia

:-

Anus

: dbn
293.

Gambaran usus
: (+) ada

294.

Gambaran peristaltik usus

:-

295.

Nyeri ketuk

:-

296.

Meteorismus

:-

297.

Turgor

: lambat

298.

PALPASI

299.

Nyeri tekan

:-

300.

Nyeri lepas

:-

301.

Defans muskuler

:-

302.

SYARAF DAN OTOT

15

303.
304.
305.
306.
307.
308.
309.
310.
311.
312.
313.
314.
315.
316.
317.

Hilang rasa
Kesemutan
Otot Lemas
Otot pegal
Lumpuh
Badan kaku
Tidak sadar
Mulut mencucu
Trismus
Kejang
Lama
Interval
Frekuensi
Jenis kejang
Post iktal

:::::::::::::::-

318.

Panas

:-

319.

Riwayat kejang keluarga

320.

Kejang pertama usia : -

321.

Riwayat trauma kepala : -

:-

322.
323.

ALAT KELAMIN

324.

Hernia

:-

325.

Bengkak

:-

327.

EXTREMITAS SUPERIOR

326.
EXTREMITAS

INFERIOR
328.

INSPEKSI

329.

Bentuk

INSPEKSI
: dbn

Bentuk

:-

Deformitas

:-

Edema

:-

Trofi

: dbn
330.

Deformitas
:-

331.

Edema
:-

332.

Trofi
:-

16

333.

Pergerakan

: aktif

Pergerakan

:-

Tremor

:-

Chorea

: aktif
334.

Tremor
:-

335.

Chorea
:-

336.

Lain-lain : rash konvalesen

Lain-lain

:rash

konvalesen
337.
338.

Pemeriksaan Neurologis

Pemeriksaan

Neurologis
339.

Tonus

: normotoni

Tonus

:+

Kekuatan

: normotoni
340.

Kekuatan
:+

341.

Refleks fisiologis

Refleks fisiologis

342.

Refleks tendon biseps : +

Refleks tendon patella

Refleks tendon triseps : +

Refleks

tendon

Refleks patologis

Refleks

patologis

:+
343.
Achilles: +
344.

:-

:345.
V.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
346.

347.

348.

6-

0-08-

08-

2016

349.

Nilai
normal

201
6
350.

WB
C

351.
6.9

352.

1
4.2

353.

4.010.0

17

354.

RB
C

358.

HG
B

362.

HC

366.

T
PLT

355.

356.

.82
359.

64
1

PC

5.2
367. 5

371.

106/mm3
361. 11.0-

1.8
364.

3.8
368. 5

99
370.

5.50

360.

2.0
363.

4.

103/mm3
357. 3.50-

16.0
365.

48.0 %
369. 150-

61
0

372.

g/dl
36.0-

400

0.

T
374. MC

.48
375. 7

376.

V
378. MC

3.1
379. 2

3.0
380. 2

99 m3
381. 26.0-

H
MC

4.8
383. 3

384.

5.4
3

32.0 pg
385. 32.0-

382.

HC

4.0

48

103/mm3
373. .10- .

28 L%
377. 80-

4.9

36.0
g/dl

386.
VI.

PEMERIKSAAN ANJURAN
Darah rutin
CRP
Elektrolit
Kultur Darah
387.
VII. DIAGNOSIS KERJA
388. Hidrosefalus dengan Gizi buruk dan diare akut
389.
VIII. PENATALAKSANAAN
IVFD RL 70 cc (loading) dilanjutkan NaCl 0.9% 350 cc/24 jam
Inj Cefotaxim 1x200 gram
Inj Amikazsin 2x30 gram
Sanmol Infus 4x0,5 cc
Rencanakan OP VP Shunt

18

IX.

X.

390.
PROGNOSIS
391. Quo ad vitam
392. Quo ad functionam
393.
394.
395.
396.
397.
398.
Follow Up

399.
Tan
g
g
a
l

400.

404.
180
8
2
0
1
6

405. D
emam
(+)
406. M
encret
(+)
407. M
ual (-)
408. M
untah
(-)

: bonam
: bonam

401.

409.

402.

KU : Tampak

sakit sedang
410.

Kesadaran

compos mentis
411.

GCS 15 (E4,

M6, V5)
412.

VS:

413.

N: 100 x/i RR:

30 x/i
414.

36,5o C

SpO2: 98 %
415.

PF:

416.

Kepala : CA -/-,

SI -/-, mata cekung


(-), pupil isokor kiri
dan kanan, RC +/+,
tht dbn
417.

Leher : Kaku

421. G
izi
bur
uk
ec
hid
roc
ep
hal
us
de
ng
an
Ga
str
oe
nte
riti
s
ak
ut

403.

422.

Kuduk (-), Thorax:


simetris,

Retraksi

19

IC(-), SC (-)
418.

Pulmo:

vesikuler

meningkat, rh Cor :
S1

S2

normal

regular, M (-), G (-)


419.

Abdomen

supel,

:
BU

meningkat, timpani,
turgor menurun

420.

Ekstremitas :
akral hangat, edema
(-), sianosis (-)

423.

424.

425.

426.

428.

429.

430.

431.

433.
434.

427.
432.

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

435. GIZI BURUK


A. DEFINISI
436.
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan
nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi
menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut
kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus),
dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak
balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut
(busung lapar).5
437.
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan
kekurangan zat gizi, atau dengan ungkapan lain status gizinya berada di

20

bawah standar rata-rata. Zat gizi yang dimaksud bisa berupa protein,
karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah
teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran.
Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi
menahun.5
438.
B. KLASIFIKASI
439.
Terdapat 3 tipe gizi buruk yaitu marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau
tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.6
1) Marasmus
440. Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak
terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit),
rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan
(sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel
dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar.
Berikut adalah gejala pada marasmus adalah :
a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan
otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit
Wajah seperti orang tua
Iga gambang dan perut cekung
Otot paha mengendor (baggy pant)
Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar 6
441.
2) Kwashiorkor
442.
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger
b.
c.
d.
e.

baby), bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan


protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama dipantatnya terlihat
adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung
kaki sampai seluruh tubuh.6
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah
dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut
kepala kusam
c. Wajah membulat dan sembab
d. Pandangan mata anak sayu
21

e. Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba dan
terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir yang tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
menjadi coklat kehitaman dan terkelupas 6
443.
3) Marasmik-Kwashiorkor
444.

Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik

kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung


protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita
demikian

disamping

menurunnya

berat

badan

<60%

dari

normal

memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut,


kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula.6
445.
C. KRITERIA
1) Gizi Buruk Tanpa Komplikasi
a. BB/TB: < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya Edema dan atau;
d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan 1
2) Gizi Buruk dengan Komplikasi
446.
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai
salah satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut :
A. Anoreksia
B. Pneumonia berat
C. Anemia berat
D. Dehidrasi berat
E. Demam sangat tinggi
F. Penurunan kesadaran 1
447.
D. PATOFISIOLOGI
448.
Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau
anoreksia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik seperti
suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut mudah rontok
dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Karena
keempat elemen ini merupakan nutrisi yang penting bagi rambut. Pasien juga
mengalami rabun senja. Rabun senja terjadi karena defisiensi vitamin A dan
protein. Pada retina ada sel batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya

22

bisa membedakan cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini
terbentuk dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel
rodopsin, maka sel tersebut akan terurai. Sel tersebut akan mengumpul lagi
pada cahaya yang gelap. Inilah yang disebut adaptasi rodopsin. Adaptasi ini
butuh waktu. Jadi, rabun senja terjadi karena kegagalan atau kemunduran
adaptasi rodopsin.5
449. Turgor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air
(dehidrasi). Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin
pada tendon patella dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn
protein, Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter. Sedangkan,
hepatomegali terjadi karena kekurangan protein. Jika terjadi kekurangan
protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein. Hal ini membuat
penurunan HDL dan LDL. Karena penurunan HDL dan LDL, maka lemak
yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringan-jaringan, pada akhirnya
penumpukan lemak di hepar.5
450. Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema.
Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula.
Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik
intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma
ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada
penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi
natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi
multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah
sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel dan mengembalikannya
membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya
terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan
hidrostatik dan onkotik.5
451. Sedangkan menurut Nelson, penyebab utama marasmus adalah
kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup,
kebiasaan makan yang tidak tepat seperti hubungan orang tua dengan anak
terganggu, karena kelainan metabolik atau malformasi kongenital. Keadaan

23

ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan
penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan ada beberapa faktor lain pada diri
anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya
marasmus. Secara garis besar sebab-sebab marasmus adalah sebagai berikut :
a. Masukan makanan yang kurang : marasmus terjadi akibat masukan kalori
yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang
dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak, misalnya
pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
b. Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi
enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkopneumonia, pieloneferitis
dan sifilis kongenital.
c. Kelainan struktur bawaan misalnya : penyakit jantung bawaan, penyakit
Hirschpurng, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis
pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas.
d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus. Pada keadaan tersebut
pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat.
e. Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan
yang cukup.
f. Gangguan metabolik, misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia,
galactosemia, lactose intolerance.
g. Tumor hypothalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru ditegakkan
bila penyebab maramus yang lain disingkirkan.
h. Penyapihan yang terlalu dini desertai dengan pemberian makanan
tambahan yang kurang akan menimbulkan marasmus.
i. Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan
kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu
manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli
susu, dan bila disertai infeksi berulang terutama gastroenteritis akan
menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.5
452.
E. ALUR PEMERIKSAAN
453.
Berikut penjelasan alur pemeriksaan yang dapat di gunakan untuk
menentukan langkah-langkah yang dilakukan dalam menangani penemuan
kasus anak gizi buruk berdasarkan kategori yang telah ditentukan : 1

24

1. Penemuan Anak Gizi Buruk, dapat menggunakan data rutin hasil


penimbangan anak di posyandu, menggunakan hasil pemeriksaan di
fasilitas kesehatan (Puskesmas dan jaringannya, Rumah Sakit dan
dokter/bidan praktek swasta), hasil laporan masyarakat (media massa,
LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya) dan skrining aktif (operasi
timbang anak).
2. Penapisan Anak Gizi Buruk, anak yang dibawa oleh orangtuanya atau
anak yang berdasarkan hasil penapisan Lila < 12,5 cm, atau semua anak
yang dirujuk dari posyandu (2T dan BGM) maka dilakukan pemeriksaan
antropometri dan tanda klinis, semua anak diperiksa tanda-tanda
komplikasi (anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat,
demam sangat tinggi, penurunan kesadaran), semua anak diperiksa nafsu
makan dengan cara tanyakan kepada orang tua apakah anak mau
makan/tidak mau makan minimal dalam 3 hari terakhir berturut-turut.
3. Bila dalam pemeriksaan pada anak didapatkan satu atau lebih tanda
berikut: tampak sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung kaki
atau tanpa edema, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LiLA < 11,5 cm (untuk
anak usia 6-59 bulan), nafsu makan baik, maka anak dikategorikan gizi
buruk tanpa komplikasi dan perlu diberikan penanganan secara rawat
jalan.
4. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut:
tampak sangat kurus, edema pada seluruh tubuh, BB/PB atau BB/TB < -3
SD, LiLA < 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan) dan disertai dari salah
satu atau lebih tanda komplikasi medis sebagai berikut: anoreksia,
pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi,
penurunan kesadaran, maka anak dikategorikan gizi buruk dengan
komplikasi sehingga perlu penanganan secara rawat inap.
5. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut:
BB/TB < -2 s/d -3 SD, LiLA 11,5 s/d 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu
makan baik, tidak ada komplikasi medis, maka anak dikategorikan gizi
kurang dan perlu diberikan PMT Pemulihan.
6. Bila kondisi anak rawat inap sudah membaik dan tidak lagi ditemukan
tanda komplikasi medis, tanda klinis membaik (edema kedua punggung
25

tangan atau kaki), dan nafsu makan membaik maka penanganan anak
tersebut dilakukan melalui rawat jalan.
7. Bila kondisi anak rawat inap sudah tidak lagi ditemukan tanda-tanda
komplikasi medis, tanda klinis baik dan status gizi kurang, nafsu makan
baik maka penanganan anak dengan pemberian PMT pemulihan.
8. Anak gizi buruk yang telah mendapatkan penanganan melalui rawat jalan
dan PMT pemulihan, jika kondisinya memburuk dengan ditemukannya
salah satu tanda komplikasi medis, atau penyakit yang mendasari sampai
kunjungan ke tiga berat badan tidak naik (kecuali anak dengan edema),
timbulnya edema baru, tidak ada nafsu makan maka anak perlu
penanganan secara rawat inap.

26

454.

455.

Gambar 3.1 Alur pemeriksaan atau penemuan kasus 1


F. PENILAIAN AWAL ANAK GIZI BURUK
1) Diagnosis
456.
Ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran
antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila : 7
BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)

27

Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor:


BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD
457.
Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis

berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak
mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan,
pantat dan paha; tulang iga terlihat jelas, dengan atau tanpa adanya edema.7
458. Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi buruk, karena
mungkin anak tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus. Anak
seperti itu tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika
ditemukan penyakit lain yang berat.7
459.
2) Penilaian Awal Anak Gizi Buruk
460. Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisis. Anamnesis terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.7
461.
Anamnesis awal (untuk kedaruratan) :
Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah

dan diare (encer/darah/lendir)


Kapan terakhir berkemih
Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.
Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami
dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.7

462.
463.
464.
465.

Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana

tatalaksana Selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani) :


Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit
Riwayat pemberian ASI
Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
Hilangnya nafsu makan
Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
Batuk kronik
Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
Berat badan lahir
Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
Riwayat imunisasi

28

Apakah ditimbang setiap bulan


Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
Diketahui atau tersangka infeksi HIV 7
466.
467.
Pemeriksaan fisik
Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung

kaki. Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB.


Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati

menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).


Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat, nadi

lemah dan cepat), kesadaran menurun.


Demam (suhu aksilar 37.5 C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35.5 C).
Frekuensi dan tipe pernapasan : pneumonia atau gagal jantung
Sangat pucat
Pembesaran hati dan ikterus
Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites,

atau adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash)
G. PENANGANAN ANAK GIZI BURUK RAWAT JALAN
1) Tenaga Pelaksana
468.
Peran Tim Pelaksana : 1
1) Dokter melakukan pemeriksaan klinis dan penentuan komplikasi medis,
pemberian terapi dan penentuan rawat jalan atau rawat inap.
2) Perawat melakukan pendaftaran dan asuhan keperawatan.
3) Ahli gizi (TPG) melakukan pemeriksaan antropometri, konseling,
pemberian Makanan untuk Pemulihan Gizi, makanan therapeutic/gizi
siap saji, makanan formula.
4) Tenaga Promosi kesehatan melakukan penyuluhan PHBS, advokasi,
sosialisasi dan Musyawarah masyarakat desa.
5) Bidan di desa sebagai koordinator di wilayah kerjanya, melakukan
skrining dan pendampingan bersama kader Kader melakukan penemuan
kasus, merujuk dan melakukan pendampingan.
6) Anggota PKK membantu menemukan kasus dan menggerakkan
masyarakat.
7) Perangkat desa, BPD/Dekel melaksanakan perencanaan anggaran dan
penggerakan masyarakat.1
469.
2) Waktu dan Frekuensi Pelaksanaan

29

470. Pelayanan pemulihan anak gizi buruk dilaksanakan sampai dengan


anak berstatus gizi kurang (-2 SD sampai -3 SD). Pelayanan anak gizi buruk
dilakukan dengan frekuensi sebagai berikut : 1
3 bulan pertama, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap minggu.
Bulan ke 4 sampai ke 6, anak gizi buruk datang dan diperiksa setiap 2
minggu.
471. Anak yang belum dapat mencapai status gizi kurang (-2 SD sampai
-3 SD, dan tidak ada edema) dalam waktu 6 bulan, dapat melanjutkan
kembali proses pemulihan, dengan ketentuan, jika : 1
Masih berstatus gizi buruk, rujuk ke RS atau Puskesmas Perawatan atau

Pusat Pemulihan Gizi (PPG).


Sudah berstatus gizi kurang, maka dilanjutkan dengan program

pemberian makanan tambahan dan konseling.1


472.
3) Alur Pelayanan Penanganan Anak Secara Rawat Jalan
a. Pendaftaran
473. Pengisian data anak di kartu (buku) status atau di catatan (rekam)
medis.1
b. Pengukuran antropometri
Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu
Pengukuran panjang/tinggi badan dilakukan setiap bulan. Pengukuran
antropometri dilakukan oleh Tim Pelaksana dan hasilnya dicatat pada
kartu status. Selanjutnya dilakukan ploting pada grafik dengan tiga
indikator pertumbuhan anak (TB/U atau PB/U, BB/U, BB/PB atau
BB/TB).1
c. Pemeriksaan klinis
474. Dokter melakukan anamnesa untuk mencari riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik dan mendiagnosa penyakit, serta menentukan ada atau
tidak penyakit penyerta, tanda klinis atau komplikasi.1
d. Pemberian konseling
Menyampaikan informasi kepada ibu/pengasuh tentang hasil penilaian

pertumbuhan anak.
Mewawancarai ibu untuk mencari penyebab kurang gizi.
Memberi nasihat sesuai penyebab kurang gizi.

30

Memberikan anjuran pemberian makan sesuai umur dan kondisi anak


dan cara menyiapkan makan formula, melaksanakan anjuran makan

dan memilih atau mengganti makanan.1


e. Pemberian paket bat dan makanan untuk pemulihan gizi
1. Obat
475.
Bila pada saat kunjungan ke puskesmas anak dalam
keadaan sakit, maka oleh tenaga kesehatan anak diperiksa dan
diberikan obat. Vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak gizi buruk
dengan dosis sesuai umur pada saat pertama kali ditemukan.1
2. Makanan untuk Pemulihan Gizi
476.
Makanan untuk pemulihan gizi dapat berupa makanan lokal
atau pabrikan.1
Jenis pemberian ada 3 pilihan: makanan therapeutic atau gizi siap
saji, F100 atau makanan lokal dengan densitas energi yg sama

terutama dari lemak (minyak/santan/margarin).1


Pemberian jenis Makanan untuk pemulihan gizi disesuaikan masa
pemulihan (rehabilitasi) : 1
1 minggu pertama pemberian F 100.
Minggu berikutnya jumlah dan frekuensi F100 dikurangi

seiring dengan penambahan makanan keluarga.


Tenaga kesehatan memberikan makanan untuk pemulihan gizi
kepada orangtua anak gizi buruk pada setiap kunjungan sesuai

kebutuhan hingga kunjungan berikutnya.1


f. Kunjungan rumah
477. Kunjungan rumah bertujuan untuk menggali permasalahan yang
dihadapi keluarga termasuk kepatuhan mengonsumsi makanan untuk
pemulihan gizi dan memberikan nasehat sesuai dengan masalah yang
dihadapi. Dalam melakukan kunjungan, tenaga kesehatan atau kader
membawa kartu status, cheklist kunjungan rumah, formulir rujukan,
makanan untuk pemulihan gizi dan bahan penyuluhan. Hasil kunjungan
dicatat pada checklist kunjungan dan kartu status. Bagi anak yang harus
dirujuk, tenaga kesehatan mengisi formulir rujukan. Tenaga kesehatan
atau kader melakukan kunjungan rumah pada anak gizi buruk rawat
jalan, bila : 1

31

Berat badan anak sampai pada minggu ketiga tidak naik atau turun
dibandingkan dengan berat badan pada saat masuk (kecuali anak

dengan edema).1
Anak yang 2 kali berturut-turut tidak datang tanpa pemberitahuan.1
g. Rujukan, dilakukan apabila ditemukan :
Anak dengan komplikasi medis atau penyakit penyerta.
Sampai kunjungan ketiga berat badan anak tidak naik (kecuali anak
dengan edema).
Timbul edema baru.1
h. Drop Out (DO)
478. DO dapat terjadi pada anak yang pindah alamat dan tidak
diketahui, menolak kelanjutan perawatan dan meninggal dunia. Anak
yang menolak kelanjutan perawatan dilakukan kunjungan rumah untuk
diberikan motivasi, bila tetap menolak diminta untuk membuat
pernyataan tertulis atas penolakan.1
i. Anak yang telah pulih keadaan gizinya,
479. Dipantau pertumbuhannya di posyandu.1
480.
4) Tempat Pelaksanaan
a. Pelayanan kesehatan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
b. Pemberian makanan dilakukan di rumah tangga.1
481.
5) Makanan untuk Pemulihan Gizi
a. Prinsip
Makanan untuk Pemulihan Gizi adalah makanan padat energi yang

diperkaya dengan vitamin dan mineral.


Makanan untuk Pemulihan Gizi diberikan kepada anak gizi buruk

selama masa pemulihan.


Makanan untuk Pemulihan Gizi dapat berupa: F100, makanan
therapeutic/gizi siap saji dan makanan lokal. Makanan lokal dengan

bentuk mulai dari makanan bentuk cair, lumat, lembik, padat.


Bahan dasar utama Makanan Untuk Pemulihan Gizi dalam formula
F100 dan makanan gizi siap saji (therapeutic feeding) adalah minyak,
susu, tepung, gula, kacang-kacangan dan sumber hewani. Kandungan

lemak sebagai sumber energi sebesar 30-60 % dari total kalori.


Makanan lokal dengan kalori 200 kkal/Kg BB per hari, yang diperoleh
dari lemak 30-60% dari total energi, protein 4-6 g/Kg BB per hari.

32

Apabila akan menggunakan makanan lokal tidak dilakukan secara


tunggal (makanan lokal saja) tetapi harus dikombinasikan dengan

makanan formula.1
b. Jumlah dan Frekuensi
482. Makanan untuk Pemulihan Gizi bukan makanan biasa tetapi
merupakan makanan khusus untuk pemulihan gizi anak yang diberikan
secara bertahap : 1
1) Anak gizi buruk dengan tanda klinis diberikan secara bertahap :
Fase rehabilitasi awal 150 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7
kali pemberian/hari. Diberikan selama satu minggu dalam bentuk

makanan cair (Formula 100).


Fase rehabilitasi lanjutan 200-220 kkal/kg BB per hari, yang

diberikan 5-7 kali pemberian/hari (Formula 100).


2) Anak gizi buruk tanpa tanda klinis langsung diberikan fase rehabilitasi
lanjutan 200-220 kkal/kg BB per hari, yang diberikan 5-7 kali
pemberian/hari (Formula 100).
3) Rehabilitasi lanjutan diberikan selama 5 minggu dengan pemberian
makanan secara bertahap dengan mengurangi frekuensi makanan cair
dan menambah frekuensi makanan padat.1
483.

33

484.

Gambar 3.2 Frekuensi Pemberian Makanan Per Hari (Anak Tanpa


Tanda Klinis)
485.

486.

Gambar 3.3 Frekuensi Pemberian Makanan Per Hari (Anak

Dengan Tanda Klinis)


487.
1. Pemberian makanan rehabilitasi lanjutan dapat diteruskan bila kondisi
anak gizi buruk masih memerlukan makanan formula.
2. Bagi anak yang status gizinya pulih ( -2 SD) maka berangsur menuju
ke makanan anak sehat sesuai dengan anjuran makan menurut
kelompok umur (besar porsi, macam makanan, frekuensi pemberian).
3. Cara pemberian
488.
Makanan untuk Pemulihan Gizi diberikan sesuai anjuran
petugas kesehatan. Cara Pemberian Makanan untuk Pemulihan Gizi
kepada anak di rumah:
Sebelum menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan sabun.
Berikan makanan kepada anak dengan memperhatikan jarak waktu makan.
Usahakan makanan tersebut dihabiskan sesuai dengan porsi yang
ditentukan.

34

Berikan makanan dalam bentuk cair dengan menggunakan gelas, hindari


menggunakan botol atau dot.
4. Cara penyimpanan
Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk cair (Formula 100) harus
segera diberikan dan dihabiskan. Makanan dalam bentuk cair tersebut
hanya dapat disimpan dalam suhu ruang maksimal 2 jam.
Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam bentuk kering yang diracik secara
terpisah oleh tenaga kesehatan Puskesmas dapat disimpan maksimal 7
hari, dan disimpan di tempat yang sejuk dan kering, aman, tertutup dan
terhindar dari bahan cemaran dan binatang pengganggu (semut, tikus,
kecoa, cicak, kucing, anjing, unggas, dll).
Makanan untuk Pemulihan Gizi dalam kemasan agar diperhatikan masa
kadaluarsa yang terdapat pada kemasan. 1
489.
H. PENANGANAN ANAK GIZI BURUK RAWAT INAP
1) Pelayanan medis, keperawatan dan konseling gizi sesuai dengan penyakit
penyerta/penyulit.
2) Pemberian formula dan makanan sesuai dengan fase sebagai berikut :
a. Fase Stabilisasi
490. Diberikan makanan formula 75 (F-75) dengan asupan gizi 80-100
KKal/kgBB/hari dan protein 1-1,5 g/KgBB/hari. ASI tetap diberikan
pada anak yang masih mendapatkan ASI.1
b. Fase Transisi
491. Pada fase transisi ada perubahan pemberian makanan dari F-75
menjadi F-100. Diberikan makanan formula 100 (F-100) dengan
asupan gizi 100-150 KKal/kgBB/hari dan protein 2-3 g/kgBB/hari.1
c. Fase Rehabilitasi
492. Diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F-100, dengan
penambahan makanan untuk anak dengan BB < 7 kg diberikan
makanan bayi dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan makanan
anak. Asupan gizi 150-220 KKal/kgBB/hari dan protein 4-6
g/kgBB/hari.1
d. Fase Tindak Lanjut (dilakukan di rumah)
493. Setelah anak pulang dari PPG, anak tetap dikontrol oleh Puskesmas
pengirim secara berkala melalui kegiatan Posyandu atau kunjungan ke
Puskesmas. Lengkapi imunisasi yang belum diterima, berikan

35

imunisasi campak sebelum pulang. Anak tetap melakukan kontrol


(rawat jalan) pada bulan I satu kali/ minggu, bulan II satu kali/ 2
minggu, selanjutnya sebulan sekali sampai dengan bulan ke-6. Tumbuh
kembang anak dipantau oleh tenaga kesehatan Puskesmas pengirim
sampai anak berusia 5 tahun.1
494.
495. Kriteria sembuh :
496. Bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan tidak ada gejala klinis dan

memenuhi kriteria pulang sebagai berikut:


Edema sudah berkurang atau hilang, anak sadar dan aktif.
BB/PB atau BB/TB > -3 SD.
Komplikasi sudah teratasi.
Ibu telah mendapat konseling gizi.
Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu

berturut-turut.
Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.1

497.
3) Stimulasi Pertumbuhan dan Perkembangan
498.
Selama perawatan di PPG anak diberikan stimulasi tumbuh
kembang dengan APE sesuai umur dan kondisi anak mulai dari fase
stabilisasi, transisi maupun rehabilitasi, karena anak gizi buruk sering terjadi
keterlambatan tumbuh kembang seperti gangguan motorik dan sensorik.
Kegiatan ini mengacu pada Buku Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi
dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di tingkat Pelayanan Kesehatan
Dasar.1
4) Rujukan Kasus
Rujukan ke

Rumah

kegawatan/kesakitan

Sakit

yang

tidak

dilakukan
dapat

bila

diatasi

terdapat
dan

tanda

memerlukan

penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis anak.


Anak gizi buruk pasca perawatan di PPG, dikirim ke Puskesmas/
Puskesmas Pembantu/ Posyandu terdekat dengan rumah pasien untuk
dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit
penyerta (contoh: TB-Paru) secara rutin.1

499.

36

500.

501.

Gambar 3.4 10 Langkah Utama Tatalaksana Gizi Buruk 3

37

502.

503.

Gambar 3.4 Hal-Hal Penting yang Harus Diperhatikan 3

I. TATALAKSANA PERAWATAN
1) Hipoglikemia
504.
Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula
darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus
diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk
rumah sakit. Pemberian makan yang sering sangat penting dilakukan pada
anak gizi buruk.
505. Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa
kadar gula darah, maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita
hipoglikemia dan segera ditangani sesuai panduan.
506.
Tatalaksana

38

Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya

memungkinkan.
Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50 ml
larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam 50 ml

air) secara oral atau melalui NGT.


Lanjutkan pemberian F-75 setiap 23 jam, siang dan malam selama

minimal dua hari.


Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal

pemberian F-75.
Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10% secara
intravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan glukosa/larutan gula

507.

pasir 50 ml dengan NGT.


Beri antibiotik.
Pemantauan
508. Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula

darah setelah 30 menit.

Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi pemberian

larutan glukosa atau gula 10%.


Jika suhu rektal < 35.5 C atau bila kesadaran memburuk, mungkin
hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula

509.

darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia).


Pencegahan
510. Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin

jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap
2-3 jam siang malam.7
511.
2) Hipotermia
512.
Diagnosis
Suhu aksilar < 35.5 C
513.
Tatalaksana
Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).
Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup dengan
selimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada
anak) atau lampu di dekatnya, atau letakkan anak langsung pada dada
atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kanguru). Bila

39

menggunakan lampu listrik, letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50


cm dari tubuh anak.
Beri antibiotik sesuai pedoman.
514.
Pemantauan
Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi
36.5 C atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam.

Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.5 C.


Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada

malam hari.
Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia.
515.
Pencegahan
Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang bebas

angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut.


Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur

tetap kering.
Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah

mandi, atau selama pemeriksaan medis).


Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat,

terutama di malam hari.


Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera

mungkin, sepanjang hari, siang dan malam.7


516.
3) Dehidrasi
517.
Diagnosis
518. Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi
yang berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi
buruk. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara
tepat pada anak dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis
saja. Anak gizi buruk dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas,
anggap dehidrasi ringan. Hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya
edema.
519.
Tatalaksana
Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi berat

dengan syok.
Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat
dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.

40

Beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama


Setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510 ml/kgBB/jam berselang-seling
dengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10 jam.
Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume
tinja yang keluar dan apakah anak muntah.
Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan mempunyai
kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah; cairan yang lebih
tepat adalah ReSoMal.
Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam.
Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-

100 ml setiap buang air besar, usia 1 th: 100-200 ml setiap buang air
besar.
520.
521.

Resomal

522.

ReSoMal mengandung 37.5 mmol Na, 40 mmol K, dan 3 mmol

Mg per liter.
523.

524.

Gambar 3.5 Resep ReSoMal

525. Bila larutan mineral-mix tidak tersedia, sebagai pengganti


ReSoMal dapat dibuat larutan sebagai berikut :

41

526.

527.

Gambar 3.6 Larutan Pengganti ReSoMal

528. Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg, Zn, dan Cu,
maka dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut.
Dapat pula diberikan MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0.3 ml/kg BB,
maksimum 2 ml/hari.
529.

Larutan Mineral-Mix
530. Larutan ini digunakan pada pembuatan F-75, F-100 dan ReSoMal.

Jika tidak tersedia larutan mineral-mix siap pakai, buatlah larutan dengan
menggunakan bahan berikut ini :

531.
532. Jika ada, tambahkan juga selenium (0.01 g natrium selenat,
NaSeO4.10H20) dan iodium (0.005 g kalium iodida) per 1000 ml.
Larutkan bahan ini dalam air matang yang sudah didinginkan.
Simpan larutan dalam botol steril dan taruh di dalam lemari es untuk
menghambat kerusakan. Buang jika berubah seperti berkabut. Buatlah

larutan baru setiap bulan.


Tambahkan 20 ml larutan mineral-mix pada setiap pembuatan 1000 ml F75/F-100 Jika tidak mungkin untuk menyiapkan larutan mineral-mix dan

42

juga tidak tersedia larutan siap pakai, beri K, Mg dan Zn secara terpisah.
Buat larutan KCl 10% (100 g dalam 1 liter air) dan larutan 1.5% seng
asetat (15 g dalam 1 liter air). Untuk pembuatan ReSoMal, gunakan 45
ml larutan KCl 10% sebagai pengganti 40 ml larutan mineral-mix,
sedangkan untuk pembuatan F-75 dan F-100 gunakan 22.5 ml larutan
KCl 10% sebagai pengganti 20 ml larutan mineral-mix. Berikan larutan
Zn-asetat 1.5% secara oral dengan dosis 1 ml/kgBB/hari. Beri MgSO4
533.

50% IM, 1x/hari dengan dosis 0.3 ml/kgBB/hari, maksimum 2 ml.


Pemantauan
534. Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis

setiap setengah jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam
berikutnya. Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya
dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian.
535. Periksalah : frekuensi napas, frekuensi nadi, frekuensi miksi dan
jumlah produksi urin, frekuensi buang air besar dan muntah
536. Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang
dan mulai ada diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata dan
fontanel berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya
hidrasi, tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut
walaupun rehidrasi penuh telah terjadi, sehingga sangat penting untuk
memantau berat badan.
537. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat
5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal
segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.
538.
Pencegahan
539. Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama
dengan pada anak dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal
sebagai pengganti larutan oralit standar. Jika anak masih mendapat ASI,
lanjutkan pemberian ASI. Pemberian F-75 sesegera mungkin.
540. Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.7
541.
4) Gangguan Keseimbangan Elektrolit
542. Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan
magnesium yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk
memperbaikinya. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh, walaupun
43

kadar natrium serum mungkin rendah. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan
ini. Jangan obati edema dengan diuretikum. Pemberian natrium berlebihan
dapat menyebabkan kematian.
543.
Tatalaksana
Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium,
yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan
ke dalam F-75, F-100 atau ReSoMal.
Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi.
Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).7
544.
5) Infeksi
545. Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti

demam, seringkali tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang
sering terjadi. Oleh karena itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk
mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani
dengan antibiotik. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi
berat.
546.
547.
Tatalaksana
548.
Berikan pada semua anak dengan gizi buruk :
Antibiotik spektrum luas.
Vaksin campak jika anak berumur 6 bulan dan belum pernah
mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah
diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak syok.
549.
Pilihan antibiotik spektrum luas
Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri
Kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam

selama 5 hari.
Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat letargis
atau tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri :
Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari),
dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam
selama 5 hari) ATAU, jika tidak tersedia amoksisilin, beri Ampisilin
per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5 hari) sehingga total
selama 7 hari, DITAMBAH :
Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.
44

Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian gentamisin dosis ke-2 sampai

ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin


Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan Kloramfenikol

(25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari.


Jika diduga meningitis, lakukan pungsi lumbal untuk memastikan dan

obati dengan Kloramfenikol (25 mg/kg setiap 6 jam) selama 10 hari


Jika ditemukan infeksi spesifik lainnya (seperti pneumonia, tuberkulosis,
malaria, disentri, infeksi kulit atau jaringan lunak), beri antibiotik yang
sesuai. Beri obat antimalaria bila pada apusan darah tepi ditemukan
parasit malaria. Walaupun tuberkulosis merupakan penyakit yang umum
terdapat, obat anti tuberkulosis hanya diberikan bila anak terbukti atau
sangat diduga menderita tuberkulosis.

550.
551.

Pengobatan terhadap parasit cacing


552. Jika terdapat bukti adanya infestasi cacing, beri mebendazol (100

mg/kgBB) selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). Beri
mebendazol setelah 7 hari perawatan, walaupun belum terbukti adanya
infestasi cacing.
553.
Pemantauan
554. Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas,
lanjutkan pengobatan sampai seluruhnya 10 hari penuh. Jika nafsu makan
belum membaik, lakukan penilaian ulang menyeluruh pada anak.7
555.
6) Defisiensi Zat Gizi Mikro
556. Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral.
Meskipun sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal,
tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai
bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase
rehabilitasi), karena zat besi dapat memperparah infeksi.
557.
Tatalaksana
Multivitamin
Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
45

Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah


diberikan sebelum dirujuk), dengan dosis seperti :
558.

559. Gambar 3.7 Dosis Pemberian Vitamin A


560. Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak
dalam 3 bulan terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada
hari ke 1, 2, dan 15.7
561.
7) Pemberian Makan Awal (Initial Refeeding)
562. Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara
hati-hati sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh.
563.
Tatalaksana
564. Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah :
Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas

maupun rendah laktosa


Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral
Energi : 100 kkal/kgBB/hari
Protein : 1-1.5 g/kgBB/hari
Cairan : 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)
Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah
F-75 yang ditentukan harus dipenuhi.
565. Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema, jadwal di

atas dapat dipercepat menjadi 2-3 hari. Formula awal F-75 dan jadwal maka
dibuat untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi. Pada F-75
yang berbahan serealia, sebagian gula diganti dengan tepung beras atau
maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyai osmolaritas yang
lebih rendah, tetapi perlu dimasak dulu. Formula ini baik bagi anak gizi buruk
dengan diare persisten.
566.
Pemantauan

46

567. Pantau dan catat setiap hari :


Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan
Muntah
Frekuensi defekasi dan konsistensi feses
Berat badan.7
568.
8) Tumbuh Kejar
569. Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini

adalah:
Kembalinya nafsu makan
Edema minimal atau hilang.
570.
Tatalaksana
571.
Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke
formula tumbuh-kejar (F-100) (fase transisi) :
Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75

selama 2 hari berturutan.


Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian
sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Biasanya
hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari.
Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang
dimodifikasi sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding

dengan F-100.
Setelah transisi bertahap, beri anak : Pemberian makan yang sering
dengan jumlah tidak terbatas (sesuai kemampuan anak)
o Energi : 150-220 kkal/kgBB/hari
o Protein : 4-6 g/kgBB/hari.
572. Bila anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI tetapi

pastikan anak sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak
mengandung cukup energi untuk menunjang tumbuh-kejar. Makananterapeutik-siap-saji (ready to use therapeutic food = RUTF) yang
mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 92 g dapat digunakan pada fase
rehabilitasi.
573.
Pemantauan
574. Hindari terjadinya gagal jantung. Amati gejala dini gagal jantung
(nadi cepat dan napas cepat). Jika nadi maupun frekuensi napas meningkat
(pernapasan naik 5x/menit dan nadi naik 25x/menit), dan kenaikan ini

47

menetap selama 2 kali pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturut-turut, maka


hal ini merupakan tanda bahaya (cari penyebabnya).7
575.
9) Malnutrisi Pada Bayi < 6 Bulan
576. Malnutrisi pada bayi < 6 bulan lebih jarang dibanding pada anak
yang lebih tua. Kemungkinan penyebab organik atau gagal tumbuh harus
dipertimbangkan, sehingga dapat diberikan penanganan yang sesuai. Jika
ternyata termasuk gizi buruk, prinsip dasar tatalaksana gizi buruk dapat
diterapkan pada kelompok umur ini. Walaupun demikian, bayi muda ini
kurang mampu mengekskresikan garam dan urea melalui urin, terutama pada
cuaca panas.
577. Oleh karena itu pada fase stabilisasi, urutan pilihan diet adalah:
ASI (jika tersedia dalam jumlah cukup)
Susu formula bayi (starting formula)
578. Pada fase rehabilitasi, dapat digunakan F-100 yang diencerkan
(tambahan air pada formula di halaman 209 menjadi 1500 ml, bukan 1000
ml).7
579.
580. HIDROSEFALUS
A. DEFINISI
581.
Kata hidrosefalus diambil dari bahasa Yunani yaitu Hydro yang
berarti air, dan cephalus yang berarti kepala. Secara umum hidrosefalus dapat
didefiniskan sebagai suatu gangguan pembentukan, aliran, maupun
penyerapan dari cairan serebrospinal sehingga terjadi kelebihan cairan
serebrospinal pada susunan saraf pusat, kondisi ini juga dapat diartikan
sebagai gangguan hidrodinamik cairan serebrospinal.8
582.
B. EPIDEMIOLOGI
583.
Kasus ini merupakan salah satu masalah dalam bedah saraf yang
paling sering ditemui. Data menyebutkan bahwa hidrosefalus kongenital
terjadi pada 3 dari 1000 kelahiran di Amerika Serikat dan ditemukan lebih
banyak di negara berkembang seperti Brazil yaitu sebanyak 3,16 dari 1000
kelahiran. Sedangkan di Indonesia ditemukan sebanyak 40% hingga 50% dari
kunjungan berobat atau tindakan operasi bedah saraf.8
584.
C. PATOFISIOLOGI

48

585.

Pembentukan cairan serebrospinal terutama dibentuk di dalam

sistem ventrikel. Kebanyakan cairan tersebut dibentuk oleh pleksus koroidalis


di ventrikel lateral, yaitu kurang lebih sebanyak 80% dari total cairan
serebrospinalis. Kecepatan pembentukan cairan serebrospinalis lebih kurang
0,35-0,40 ml/menit atau 500 ml/hari, kecepatan pembentukan cairan tersebut
sama pada orang dewasa maupun anak-anak. Dengan jalur aliran yang
dimulai dari ventrikel lateral menuju ke foramen monro kemudian ke
ventrikel 3, selanjutnya mengalir ke akuaduktus sylvii, lalu ke ventrikel 4 dan
menuju ke foramen luska dan magendi, hingga akhirnya ke ruang
subarakhnoid dan kanalis spinalis.8,9
586. Secara teoritis, terdapat tiga penyebab terjadinya hidrosefalus,
yaitu :
1. Produksi likuor yang berlebihan. Kondisi ini merupakan penyebab paling
jarang dari kasus hidrosefalus, hampir semua keadaan ini disebabkan
oleh adanya tumor pleksus koroid (papiloma atau karsinoma), namun ada
pula yang terjadi akibat dari hipervitaminosis vitamin A.
2. Gangguan aliran likuor yang merupakan awal kebanyakan kasus
hidrosefalus. Kondisi ini merupakan akibat dari obstruksi atau
tersumbatnya sirkulasi cairan serebrospinalis yang dapat terjadi di
ventrikel maupun vili arakhnoid. Secara umum terdapat tiga penyebab
terjadinya keadaan patologis ini, yaitu :
a.Malformasi yang menyebabkan penyempitan saluran likuor, misalnya
stenosis akuaduktus sylvii dan malformasi Arnold Chiari.
Lesi massa yang menyebabkan kompresi intrnsik maupun

b.

ekstrinsik saluran likuor, misalnya tumor intraventrikel, tumor para


ventrikel, kista arakhnoid, dan hematom.
c.Proses inflamasi dan gangguan lainnya seperti mukopolisakaridosis,
termasuk reaksi ependimal, fibrosis leptomeningeal, dan obliterasi vili
arakhnoid.
3. Gangguan penyerapan cairan serebrospinal. Suatu kondisi seperti
sindrom vena cava dan trombosis sinus dapat mempengaruhi penyerapan
cairan serebrospinal. Kondisi jenis ini termasuk hidrosefalus tekanan
normal atau pseudotumor serebri.

49

587. Hidrosefalus dapat diklasifikasikan dalam beberapa sebutan


diagnosis. Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikel,
sedangkan hidrosefalus eksterna menunjukkan adanya pelebaran rongga
subarakhnoid di atas permukaan korteks. Hidrosefalus komunikans adalah
keadaan di mana ada hubungan antara sistem ventrikel dengan rongga
subarakhnoid otak dan spinal, sedangkan hidrosefalus non-komunikans yaitu
suatu keadaan dimana terdapat blok dalam sistem ventrikel atau salurannya
ke rongga subarakhnoid. Hidrosefalus obstruktif adalah jenis yang paling
banyak ditemui dimana aliran likuor mengalami obstruksi.8,9
588. Terdapat pula beberapa klasifikasi lain yang dilihat berdasarkan
waktu onsetnya, yaitu akut (beberapa hari), subakut (meninggi), dan kronis
(berbulan-bulan).

Terdapat

dua

pembagian

hidrosefalus

berdasarkan

gejalanya yaitu hidrosefalus simtomatik dan hidrosefalus asimtomatik.8,9


589.
D. ETIOLOGI
590.
Penyebab hidrosefalus pada anak secara garis besar dapat dibagi
menjadi dua, yaitu penyebab prenatal dan postnatal.10,11
591.
Penyebab Prenatal
592. Sebagian besar anak dengan hidrosefalus telah mengalami hal ini
sejak lahir atau segera setelah lahir. Beberapa penyebabnya terutama adalah
stenosis akuaduktus sylvii, malformasi Dandy Walker, Holopresencephaly,
Myelomeningokel, dan Malformasi Arnold Chiari. Selain itu, terdapat juga
jenis malformasi lain yang jarang terjadi. Penyebab lain dapat berupa infeksi
in-utero, lesi destruktif dan faktor genetik.10,11
593. Stenosis Akuaduktus Sylvius terjadi pada 10% kasus pada bayi
baru lahir. Insidensinya berkisar antara 0,5-1 kasus/1000 kelahiran.
Insidennya 0,5-1% kasus/1000 kelahiran. Malformasi Dandy Walker terjadi
pada 2-4% bayi yang baru lahir dengan hidrosefalus. Malformasi ini
mengakibatkan hubungan antara ruang subarakhnoid dan dilatasi ventrikel 4
menjadi tidak adekuat, sehingga terjadilah hidrosefalus. Penyebab yang
sering terjadi lainnya adalah Malformasi Arnold Chiari (tipe II), kondisi ini
menyebabkan herniasi vermis serebelum, batang otak, dan ventrikel 4 disertai
dengan anomali inrtakranial lainnya. Hampir dijumpai di semua kasus

50

myelomeningokel

meskipun

tidak

semuanya

berkembang

menjadi

hidrosefalus (80% kasus).10,11


594.
Penyebab Postnatal
595. Lesi massa menyebabkan sekitar 20% kasus hidrosefalus, kista
arakhnoid dan kista neuroepitelial merupakan kedua terbanyak yang
mengganggu aliran likuor. Perdarahan, meningitis, dan gangguan aliran vena
juga merupakan penyabab yang cukup sering terjadi.10,11
596.
597.
598. Tabel 3.1 Klasifikasi Hidrosefalus
599.

Hidrosefalus Obstruktif
601. Kongenital
603. Stenosis akuaduktus

600.

605. Kista Dandy Walker


607. Benign intracranial cysts
(seperti kista arachnoid)
609. Malformasi
vaskular 610.
(seperti aneurisma vena
Galen)
611. Didapat
613. Tumor (seperti ventrikel
3, regio pineal, fossa
posterior)
615. Lessi massa lainnya
(seperti giant aneurysms,
abses)
617. Ventricular scarring
619.
621.

Hidrosefalus Komunikans
602. Kongenital
604. Malformasi
Arnold
Chiari (tipe II, jarang pada
type I)
606. Ensefalokel
608. Deformitas basis kranii

612. Didapat
614. Infeksi
(intrauterin
misalnya CMV, toxoplasma,
post-bacterial meningitis)
616. Perdarahan (IVH pada
infan,
sub-arachnoid
haemorrhage)
618. Hipertensi vena (seperti
trombosis sinus venosa,
arteriovenous shunts)
620. Meningeal
carcinomatosis
622. Sekresi berlebihan CSF
(papiloma pleksus
koroidalis)

623.
E. DIAGNOSIS
624.
Diagnosis dapat ditegakkan melalui tanda dan gejala klinis.
Makrokrania merupakan salah satu tanda dimana ukuran kepala lebih besar
dari dua deviasi standar di atas ukuran normal atau persentil 98 dari
kelompok usianya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial
51

dan menyebabkan empat gejala hipertensi intrakranial yaitu fontanel anterior


yang sangat tegang (37%), sutura tampak atau teraba melebar, kulit kepala
licin, dan sunset phenomenon dimana kedua bola mata berdiaviasi ke atas dan
kelopak mata atas tertarik.8,10
625. Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih
besar daripada bayi, gejala ini mencakup nyeri kepala, muntah, gangguan
okulomotor, dan gejala gangguan batang otak (bradikardia, aritmia respirasi).
Gejala lainnya yaitu spastisitas pada eksremitas inferior yang berlanjut
menjadi gangguan berjalan dan gangguan endokrin.8,10
626. Pemeriksaan penunjang dengan menggunakan

USG

dapat

mendeteksi hidrosefalus pada periode prenatal, dapat pula digunakan untuk


mengukur dan memonitor ukuran ventrikel, terutama digunakan pada anak
prematur. CT Scan dapat digunakan untuk mengukur dilatasi ventrikel secara
kasar dan menentukan sumber obstruksi. CT Scan dapat menilai baik secara
fungsional maupun anatomikal namun tidak lebih baik daripada MRI, namun
karena pemeriksaannya cukup lama maka pada bayi perlu dilakukan
pembiusan.8,10
627.
F. PENATALAKSANAAN
628.
Terapi Sementara
629.
Terapi konservatif medikamentosa berguna untuk mengurangi
cairan dari pleksus khoroid (asetazolamid 100 mg/kg BB/hari; furosemid 0,1
mg/kg BB/hari) dan hanya bisa diberikan sementara saja atau tidak dalam
jangka waktu yang lama karena berisiko menyebabkan gangguan metabolik.
Terapi ini direkomendasikan bagi pasien hidrosefalus ringan bayi dan anak
dan tidak dianjurkan untuk dilatasi ventrikular posthemoragik pada anak.8,12
630. Pada pasien yang berpotensi mengalami hidrosefalus transisi dapat
dilakukan pemasangan kateter ventrikular atau yang lebih dikenal dengan
drainase likuor eksternal. Namun operasi shunt yang dilakukan pasca drainase
ventrikel eksternal memiliki risiko tertinggi untuk terjadinya infeksi. Cara
lain yang mirip dengan metode ini adalah dengan pungsi ventrikel yang dapat
dilakukan berulang kali.8,12
631.
632.
Operasi Shunting

52

633. Sebagian besar pasien memerlukan tindakan ini untuk membuat


saluran baru antara aliran likuor (ventrikel atau lumbar) dengan kavitas
drainase (seperti peritoneum, atrium kanan, dan pleura). Komplikasi operasi
ini dibagi menjadi tiga yaitu infeksi, kegagalan mekanis, dan kegagalan
fungsional. Tindakan ini menyebabkan infeksi sebanyak >11% pada anak
setelahnya dalam waktu 24 bulan yang dapat merusak intelektual bahkan
menyebabkan kematian.8,12
634.
Endoscopic Third Ventriculostomy
635. Metode Endoscopic third ventriculostomy (ETV) semakin sering
digunakan di masa sekarang dan merupakan terapi pilihan bagi hidrosefalus
obstruktif serta diindikasikan untuk kasus seperti stenosis akuaduktus, tumor
ventrikel

posterior,

infark

serebral,

malformasi

Dandy

Walker,

syringomyelia dengan atau tanpa malformasi Arnold Chiari tipe 1, hematoma


intraventrikel, myelomeningokel, ensefalokel, tumor fossa posterior dan
kraniosinostosis. ETV juga diindikasikan pada kasus block shunt atau slit
ventricle syndrome.8,12
636. Kesuksesan ETV menurun pada kondisi hidrosefalus pasca
perdarahan dan pasca infeksi. Perencanaan operasi yang baik, pemeriksaan
radiologis yang tepat, serta keterampilan dokter bedah dan perawatan pasca
operasi yang baik dapat meningkatkan kesuksesan tindakan ini.8,12
637.
G. Prognosis
638. Pada pasien hidrosefalus, kematian dapat terjadi akibat herniasi
tonsilar yang dapat menyebabkan penekanan pada batang otak dan terjadinya
henti nafas. Sedangkan ketergantungan pada shunt sebesar 75% dari kasus
hidrosefalus yang diterapi dan 50% pada anak dengan hidrosefalus
komunikans.8
639.
Pada anak dengan hidrosefalus obstruktif yang memiliki korteks
serebral intak, perkembangan yang adekuat dapat dicapai hanya dengan ETV,
meskipun pencapaian tersebut lebih lambat. Pada anak dengan perkembangan
otak tidak adekuat atau serebrum telah rusak oleh hidrosefalus maka
perkembangan yang optimal tidak dapat dicapai hanya dengan terapi ETV
meskipun tekanan intrakranial terkontrol.8,12

53

640.
641.
642.

Diare

A. Pengertian
643.

Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang

meningkat dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi
tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta
berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu. Diare akut adalah diare
yang awalnya mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2
minggu, dan disebut persisten bila berlangsung selama 2 sampai dengan 4
minggu. Bila berlangsung lebih dari 4 minggu disebut diare kronik.
644.
645.

B. Etiologi
646.

Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi,

sedangkan sekitar 10% karena sebab-sebab lain antara lain obat-obatan,


bahan-bahan toksik, iskemik dan sebagainya. diare akut karena infeksi
dapat ditimbulkan oleh :

Bakteri. Escherichia coli, salmonella typhi, salmonella paratyphi A/B/C,


salmonela spp, Shigella dysentriae, dll.

Parasit. Protozoa : Entamoeba hystolitica, Giardia Lamblia, Trichomonas


hominis, Isospora Sp,dll.

Virus. Rotavirus, Adenovirus, Norwalk Virus.1


647.
648.

C. Patofisiologi
649.

Sebanyak sekitar 9-10 liter cairan memasuki saluran cerna

setiap harinya, berasal dari luar (diet) dan dari dalam tubuh kita (sekresi
cairan lambung, empedu, dan sebagainya). Sebagian besar (75-85%) dari
jumlah tersebut akan diabsorbsi kembali diusus halus dan sisanya
sebanyak 1500 ml akan memasuki usus besar. Sejumlah 90% dari cairan
tersebut di usus besar akan diresorbsi, sehingga tersisa sejumlah 150-250
ml cairan yang akan membentuk tinja.

54

650.

Faktor-faktor faali yang menyebabkan diare sangat erat

hubungannya satu sama lain, misalnya saja, cairan intraluminal yang


meningkat

menyebabkan

terangsangnya

usus

secara

mekanisme

meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila


waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan gangguan
waktu penyentuhan makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan
elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu.1
651.
652.

D. Manifestasi Klinis
653.

Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan

elektrolit dan sering disertai dengan asidosis metabolik karena kehilangan


basa. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan atau
keseimbangan elektrolit1,10.
654.
655.

Tabel 3.1 . Derajat Dehidrasi 10

656.

Pe

657.

658.

659.

nilaia
n
660. 1.

664. Bai

Lihat

k,

sadar

isah

661. KU

665. Nor

662. Ma

mal

ta

666.

Min

668. Cek
ung
669.

Ha

us

670. Les
u,
lunglai
atau
tidak
sadar

um

ingin

sa

bisa

minu

as

Haus

tidak

minu

haus

banya

atauti

663.

Ra

667. Gel

Mal

671.

dak
bisa

55

minu
672.

2.C

673.

Ke

674.

Ke

m
675. Ke

ek

mbali

mbali

mbali

Tugor

Cepat

lamba

sangat

lamba

676.

De

677.

Tan

678.

De

t
679.

De

rajat

pa

hidrasi

hdrasi

Dehid

Dehidr

ringan

berat

rasi

asi

sedan
g

680.
681.

F. Diagnosis
682.

Diare akut karena infeksi dapat ditegakkan diagnostik

etiologi bila anamnesis, manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang


menyokongnya. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat
membantu diagnosis : 1). Bentuk feses (watery diarrhea atau disentri
diare), 2). Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan/minum
oleh penderita. 3). Adakah orang lain disektarnya menderita hal serupa,
yang mungkin oleh karena keracunan makanan atau pencemaran sumber
air. 4).

Dimana tempat tinggal penderita. Asrama, penampungan

jompo/pengungsi dan lain-lain, dapat merupakan tempat kontak dengan


shigella.
683.
684.

G. Pemeriksaan Penunjang

Darah
-

Darah perifer lengkap

Ureum, kreatinin

Serum elektrolit : Na, K, Cl

56

Analisa gas darah apabila didadapatkan tanda-tanda gangguan


keseimbangan asam basa.

Immunoassay: toksin bakteri, antigen virus, antigen protozoa

Feses
-

Feses lengkap (mikroskopis : peningkatan jumlah leukosit di feses


pada inflammatory diarrhea, parasit : amoeba bentuk protozoa,
hypha pada jamur.

Biakan dan resistensi feses (colok dubur)


685.

686.

H. Penatalaksanaan1,10,11

687.

Tujuan dari pengobatan diare akut secara objektif ialah :

Mencegah dehidrasi, jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi


Mengobati dehidrasi, jika ada
Nutrisi dengan memberi makanan selama dan setelah dehidrasi dan
Mengurangi durasi dan keparahan diare, dan timbulnya pad episode
mendatang dengan memberikan suplemen zinc
688.
Terapi Cairan
689. Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan
dengan
690.

pemberian oral sesuai dengan defisit yang terjadi namun jika gagal

dapat diberikan secara intravena sebanyak 75 ml/kgbb/jam. Biasanya


dilakukan setelah 3-4 jam pada bayi dan 1-2 jam pada anak. Pergantian
cairan bila masih ada diare atau muntah dapat diberikan sebanyak 10
ml/kgbb/jam. Cairan parenteral dibutuhkan terutama untuk dehidrasi berat
dengan atau tanpa syok sehingga dapat mengembalikan dengan cepat
volume darahnya, serta memperbaiki renjatan hipovolemiknya. Cairan RL
adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan mengandung konsentrasi
natrium yang tepat serta cukup laktat. Jenis cairan parenteral saat ini
beredar dan dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan pengganti diare
dengan dehidrasi adalah KAEN 3B

57

Sebagian besar kasus diare tidak membutuhkan antibiotika. Selain


antibiotika dapat diberikan probiotik. Probiotik merupakan bakteri hidup
yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host dengan cara
meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna
sehingga epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui

reseptor dalam sel epitel usus.


Mikronutrien dalam pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya
terhadap imun atau fungsi saluran pencernaan. Seng telah dikenal berperan
didalam metallo-enzymes, polyribosom, selaput sel dan fungsi sel juga
berperan dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan. Selain itu
pemberian vitamin A dapat menurunkan beratnya derajat diare dan risiko
menjadi diare persisten.
691.
692.
693.
694.
695.
696.
697.
698.
699.
700.
701.
702.
703.
704.

BAB 1V

ANALISA KASUS

Pada kasus ini dilaporkan pasien perempuan usia 5 bulan, datang

dengan keluhan BAB encer sejak 1 minggu SMRS,Pasien juga mengeluhkan


demam sejak 1 minggu yang lalu SMRS tetapi tidak terlalu tinggi, Ibu pasien
juga mengatakan kepala anak nya semakin bertambah besar, berat badan tidak
naik dan bahkan makin berkurang, mual (-), muntah (-), Pasien tampak lemas

58

dan tidak mau minum.Diagnosis yang ditegakkan pada pasien ini adalah Gizi
buruk ec Hidrocephalus disertai Diare akut.
705.

Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang

meningkat dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi
tinja yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta
berlangsung dalam waktu kurang dari dua minggu. Diare akut adalah diare
yang awalnya mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu,
dan disebut persisten bila berlangsung selama 2 sampai dengan 4 minggu. Bila
berlangsung lebih dari 4 minggu disebut diare kronik.
706.

Diagnosis hidrocephalus dapat ditegakkan pada pasien melalui

tanda dan gejala klinis. Makrokrania merupakan salah satu tanda dimana
ukuran kepala lebih besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal atau
persentil 98 dari kelompok usianya. Hal ini disebabkan oleh peningkatan
tekanan intrakranial dan menyebabkan empat gejala hipertensi intrakranial
yaitu fontanel anterior yang sangat tegang (37%), sutura tampak atau teraba
melebar, kulit kepala licin, dan sunset phenomenon dimana kedua bola mata
berdiaviasi ke atas dan kelopak mata atas tertarik.
707.

Diagnosis Gizi buruk ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala

klinis serta pengukuran antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila :


BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)
Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor:
BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD
708.

Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis

berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak
mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan,
pantat dan paha; tulang iga terlihat jelas, dengan atau tanpa adanya edema
709.

Saat di tanya riwayat penyakit sebelum nya ibu pasien

mengatakan tidak ada,dan saat pemeriksaan fisik ditemukan :


710.

Kepala

711.

Mata

: Makrochepal
: SI (-/-), CA (-/-), RC (+/+) Isokor (ka/ki), Sunset

phenomenom

59

712.

Hidung

: Sekret (+), deviasi septum nasi (-)

713.

Telinga

: Sekret (+), nyeri tekan tragus (-), hiperemis (-)

714.

Tenggorokan : Pembesaran tonsil (-)

715.

Leher

: Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)

716.

Paru

: Vesikuler (ka/ki), wheezing (-), ronkhi (-)

717.

Jantung

: Bj I dan II regular, murmur (-), gallop (-)

718.

Perut

: Cekung, Bising usus (+), Turgor kulit > 3 detik

719.

Ekstremitas

: Akral hangat, CRT > 3 detik

720.
721.

Pemeriksaan penunjang yang sudah dilakukan pada pasien ini di

antara nya :

CT-SCAN kepala
Pemeriksaan Laboratorium :
722.

723.

724.

6-

0-08-

08-

2016

725.

Nilai
normal

201
6
726.

WB
C

730.

RB
C

734.

HG
B

738.

HC

742.

T
PLT

727.

728.

6.9
731.

732.

.82

PC

2.0

106/mm3
737. 11.0-

1.8
3

740.

5.2
743. 5

744.

3.8
5

747.

103/mm3
733. 3.505.50

736.

99
746.

4.

61
0

748.

4.010.0

64
1

739.

729.

4.2
4

735.

0.

16.0
g/dl
741. 36.048.0 %
150-

745.

400
103/mm3
749. .10- .

60

T
MC

.48
751. 7

752.

V
754. MC

3.1
755. 2

3.0
756. 2

99 m3
757. 26.0-

H
758. MC

4.8
759. 3

5.4
760. 3

32.0 pg
761. 32.0-

750.

HC

4.0

48
7

4.9

28 L%
753. 80-

36.0
g/dl

762.

Pemeriksaan elektrolit didapatkan Na: 128, 56 mmol/L (135-148), K:


3,22 mmol/L (3,5 5,), Cl : 107, 92 mmol/L(98 110), Ca: 1,16 mmol/L
(1,12 1,23). Gangguan keseimbangan elektrolit terjadi akibat banyak

elektrolit yang dikeluarkan dari muntah dan mencret pada pasien.


Penatalaksanaan pada pasien yakni diberikan terapi simptomatik untuk
mengatasi keluhannya.
763. -KAEN 3B 15 tetes/menit
764. -Vit. A 200.000
765. -Zink 1x5 mg
766. -Paracetamol drop 4x0,8 cc bila suhu 38,50 CC
767.

Penggantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting

dalam
768.

terapi efektf diare akut. Pemberian cairan dapat diberikan secara

oral dan parenteral. Rehidrasi dapat diberikan KAEN 3B karena osmolaritas


serta kandungan elektrolitnya tepat untuk mengatasi gangguan elektrolit pada
pasien diare (osmolaritas 264 mOsml/L, glukosa 38 g/L, Na 30 mEq/L, CI 28
mEq/L, K 8 mEq/L). Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai
efek yang menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi
bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna sehingga epitel mukosa usus
telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus.
Seng telah dikenal berperan didalam metallo-enzymes, polyribosom, selaput
sel dan fungsi sel juga berperan dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan.
Selain itu pemberian vitamin A dapat menurunkan beratnya derajat diare dan
risiko menjadi diare persisten. Untuk terapi pada penyakit jantung tindakan
definitif merupakan jalan terbaik.
61

Hidrocephalus :
769.
- Asetazolamid 100 mg/kg BB/hari; Furosemid 0,1 mg/kg
BB/hari
770.
- Rencana pemasangan VP-SHUNT
Penanganan anak gizi buruk rawat inap :

771.

1.Pelayanan medis, keperawatan dan konseling gizi sesuai dengan

penyakit penyerta/penyulit.
772.

2. Pemberian formula dan makanan sesuai dengan fase sebagai

berikut :
e. Fase Stabilisasi
773. Diberikan makanan formula 75 (F-75) dengan asupan gizi 80-100
KKal/kgBB/hari dan protein 1-1,5 g/KgBB/hari. ASI tetap diberikan
pada anak yang masih mendapatkan ASI.1
f. Fase Transisi
774. Pada fase transisi ada perubahan pemberian makanan dari F-75
menjadi F-100. Diberikan makanan formula 100 (F-100) dengan
asupan gizi 100-150 KKal/kgBB/hari dan protein 2-3 g/kgBB/hari.1
g. Fase Rehabilitasi
775. Diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F-100, dengan
penambahan makanan untuk anak dengan BB < 7 kg diberikan
makanan bayi dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan makanan
anak. Asupan gizi 150-220 KKal/kgBB/hari dan protein 4-6
g/kgBB/hari.1
h. Fase Tindak Lanjut (dilakukan di rumah)
Setelah anak pulang dari PPG, anak tetap dikontrol oleh Puskesmas
pengirim secara berkala melalui kegiatan Posyandu atau kunjungan ke
Puskesmas. Lengkapi imunisasi yang belum diterima, berikan
imunisasi campak sebelum pulang. Anak tetap melakukan kontrol
(rawat jalan) pada bulan I satu kali/ minggu, bulan II satu kali/ 2
minggu, selanjutnya sebulan sekali sampai dengan bulan ke-6.
Tumbuh kembang anak dipantau oleh tenaga kesehatan Puskesmas
pengirim sampai anak berusia 5 tahun.
776.
777.

62

778.
779.
780.
781.
782.
783.
784.
785.
786.
787.

BAB V

KESIMPULAN

788.
789.

Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan

nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagi
menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut
kwashiorkor), karena kekurangan karbohidrat atau kalori (disebut marasmus), dan
kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita
(bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar).
790.

Kata hidrosefalus diambil dari bahasa Yunani yaitu Hydro yang

berarti air, dan cephalus yang berarti kepala. Secara umum hidrosefalus dapat
didefiniskan sebagai suatu gangguan pembentukan, aliran, maupun penyerapan
dari cairan serebrospinal sehingga terjadi kelebihan cairan serebrospinal pada
susunan saraf pusat, kondisi ini juga dapat diartikan sebagai gangguan
hidrodinamik cairan serebrospinal.
791. Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang

meningkat dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja
yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya serta berlangsung
dalam waktu kurang dari dua minggu. Diare akut adalah diare yang awalnya
mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu, dan disebut
persisten bila berlangsung selama 2 sampai dengan 4 minggu. Bila berlangsung
lebih dari 4 minggu disebut diare kronik.

63