Anda di halaman 1dari 29

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI

SEDIAAN STERIL
PROPOSAL PERBAIKAN

AMPUL FENITOIN
Disusun oleh:
Kelompok C2.3
1. Liza Indah Merdiyah

(2013210122)

2. Mutia Karlina

(2013210152)

3. Noviyanti Kristiana

(2013210172)

4. Radityo Rachmad Mas

(2013210188)

5. Rifa Nur Fathya

(2013210202)

6. Risnawati

(2013210211)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2016

I. JUDUL
Ampul fenitoin

II. PENDAHULUAN
A.

Definisi

Injeksi adalah penyemprotan larutan (atau suspensi) ke dalam tubuh untuk


tujuan terapetik atau diagnostik. Injeksi dapat dilakukan langsung ke dalam
aliran darah, ke dalam jaringan dan organ. (Buku Pelajaran Teknologi
Farmasi Edisi ke 5, Tahun , Hal 461)
B.

Wadah Ampul
Ampul adalah wadah gelas yang disegel rapat sebagai wadah dosis tunggal
yang dapat berisi bahan padat atau larutan obat jernih atau suspensi halus,
dimaksudkan untuk penggunaan parenteral. Biasanya kecil, dari 1 sampai 50 ml,
tetapi mungkin mempunyai kapasitas sampai 100 ml.
Ampul adalah wadah berbentuk silindris yang terbuat dari gelas yang
memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah
1, 2, 5, 10, 20 kadang-kadang juga 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran
tunggal, oleh karena total jumlah cairannya ditentukan pemakaian dalam satu kali
pemakaiannya untuk satu kali injeksi. Menurut peraturan ampul dibuat dari gelas
tidak berwarna, akan tetapi untuk bahan obat peka cahaya dapat dibuat dari bahan
gelas berwarna coklat tua. Ampul gelas berleher dua ini sangat berkembang pesat
sebagai ampul minum untuk pemakaian peroralia (Voight, R. 1995. Buku
Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi Kedua)
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara dalam keadaan:
1. Tidak perlu pengawet karena merupakan takaran tunggal
2. Tidak perlu isotonis
3. Diisi melalui buret yang ujungnya disterilkan terlebih dahulu dengan
alkohol 70 %
2

4. Buret dibilas dengan larutan obat sebelum diisi


C.

Syarat sediaan
Persyaratan untuk sediaan injeksi adalah :

Sesuainya kandungan bahan obat yang dinyatakan di dalam etiket dan


yang ada di dalam sediaan, tidak terjadi penggunaan efek selama
penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia dan sebagainya.

Penggunaan wadah yang cocok tidak hanya memungkinkan sediaan


tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya antar aksi antara bahan
obat, material serta dinding wadah.

Larutan tercampur sempurna tanpa terjadinya reaksi, untuk itu


beberapa factor yang paling menentukan adalah bebas kuman, bebas
pirogen, bebas pelrut yang secara fisiologis, isotonis, isohidris, bebas
bahan melayang.

Sediaan harus jernih, berkilauan dan bebas dari semua zat-zat khusus
yaitu semua yang bergerak, semua yang tidak larut yang tanpa
disengaja termasuk pengotor seperti debu, serat baju, serpihan gelas
yang masuk ke dalam produk selama proses pembuatan, penyimpanan
dan pemberian.
Persyaratan untuk sediaan injeksi dalam ampul :

Termasuk dalam sediaan parentral dengan volume kecil : 1ml,


2ml, 3ml, 5 ml, dan 20 ml.

Pada produk yang dikemas dalam bentuk kemasan dosis tunggal


(unit dose) atau kemasan multidosis bertekanan tinggi tidak
diberikan pengawet

Rute pemberian secara intramuscular, intravena, intradermal,


subkutan, intraspinal, intrasisternal dan intratekal

Wadah takaran tunggal. (Buku pelajaran teknologi farmasi


R.Voigt hal. 462)
3

D.

Zat Aktif (Fenitoin)


Fenitoin digunakan untuk pengobatan aritmia ventrikel dan atrium yang
disebabkan oleh digitalis. Fenitoin efektif untuk mengatasi aritmia ventrikel
yang timbul setelah bedah jantung terbuka, dan infark miokard. Fenitoin
mengurangi kejadian aritmia ventrikel dalam tahun pertama setelah infark
miokard bila kadar dalam plasma dipertahankan di atas 10 g/ml; kadar setinggi
ini dengan dosis 400-500 mg per hari. Fenitoin juga efektif untuk mengobati
berbagai

bentuk

aritmia

ventirkel

yang

timbul

karena

intoksikasi

digitalis.Takikardia ventrikel yang menetap pada pasien penyakit jantung


koroner, dan takiaritmia yang menyertai sindrom Q-T panjang juga dapat diobati
secara efektif, bila fenitoin diberi bersama dengan penyekat adrenoseptor-.
Feniotoin tidak efektik untuk aritmia atrium seperti flutte, fibrilasi atrium dan
SVT. (Farmakologi dan Toksikologi Edisi IV, Tahun 1995 Hal 330).
Fenitoin dapat diberikan peroral atau intravena secara intermiten. Preparat
suntikan mempunyai pH 12 dan menyebabkan flebitis berat bila diberi per infus.
Aritmia yang kritis tidak boleh diobati dengan cara suntikan intramuscular
karena karena absorbsinya tidak dapat dipercaya rancangan waktu untuk
suntikan intravena intermiten adalah 100 mg fenitoin yang diberikan tiap 5 menit
sampai aritmia terkendali atau kecepatan suntikan tidak boleh melebihi 50
mg/menit. Biasanya diperlukan dosis besar 700 mg, dan jarang melebihi 1000
mg. . (Farmakologi dan Toksikologi Edisi IV, Tahun 1995 Hal 330).
Pada praktikum ini, sediaan yang dibuat adalah injeksi fenitoin dalam
ampul dengan rute pemberian secara intravena, meskipun dapat diberikan secara
rute intramuscular tetapi memiliki kekurangan lain yaitu dapat menyebabkan
pengendapan fenitoin di tempat suntikan selama 5 hari. Alasan pemilihan
intravena dipilih adalah untuk pasien yang tidak bisa menerima rute oral karena
alasan tertentu (misalnya kejang-kejang dan tidak sadar) dan untuk mempercepat
kerja obat pada kondisi gawat pada status epileptic dan cepat diabsorbsi.
(Injectable Drug, hal 1340, Farmakologi dan Terapi edisi IV hal 330)

E.

Farmakologi (Drug Information Tahun 2010 Hal 2255)

Farmakokinetik :
Mekanisme aksi: Menurunkan masuknya Na+ dari membran neuron
motorik korteks menstabilkan membran neuronal memperlambat kecepatan
konduksi.

Farmakodinamik :
Fenitoin menghambat zat - zat yang bersifat antiaritmia. Walaupun obat ini
memiliki efek yang kecil terhadap perangsangan elektrik pada otot jantung,
tetapi dapat menurunkan kekuatan kontraksi, menekan pacemaker action,
meningkatkan konduksi antrioventrikular, terutama setelah ditekan oleh
glikosida digitalis. Obat ini dapat menimbulkan hipotensi jika diberikan
secara intravena. Fenitoin memiliki aktivitas hipnotik yang kecil

Efek samping :
Pada pengobatan aritmia jangka pendek merupakan gejala SSP yaitu
mengantuk, nistagmus, vertigo, ataksia dan mual, gangguan saluran cerna,
pusing, nyeri kepala, tremor, insomnia, , bicara tak jelas, penglihatan kabur,
ruam, akne, hirsutisme, demam, hepatitis, lupus eritematosus, efek
hematologik (leukopenia, trombositopenia, agranulositosis). Memberatnya
gejala berhubungan erat dengan peningkatan kadar dalam plasma. Pada
pengobatan aritmia jangka pendek, timbulnya gejala neurologi menandakan
kadar plasma yang melebihi 20g/L.

Indikasi : Mengontrol serangan epilepsi gran mal, psikomotor , dan aritmia


ventirkel yang timbul karena intoksikasi digitalis, epilepsi, CNS depresi,
Kardiovaskular kolaps, Hipotensi.

Kontraindikasi : sinus bradikardi, hipersensitivitas, heart block, bloack


sinoatrialo, 2 dan 3 A-V block, sindrom adams-stokes, pada ibu hamil dan

yang sedang menyusui, Gangguan hati, Penghentian obat mendadak, Hindari


pada porfitia,Hipersensitif terhadap fenitoin.

Perhatian : Penghentian terapi tiba-tiba , gangguan fungsi hati diskarsia

darah, hamil, hindari pemutusan obat dengan tiba-tiba, hindari pada porifiria.
Interaksi obat :

a) Obat-obat yang dapat meningkatkan kadar fenitoin yaitu: asupan alkohol akut,
amiodaron, kloramfenikol, klordiazepoksid, diazepam, dikumarol, disulfiram,
estrogen,

H2-antagonis,

halotan,

isoniazid,

metilfenidat,

fenotiazin,

fenilbutazon, salisilat, suksinimid, sulfonamid, tolbutamid, trazodan.


b) Obat-obat

yang

dapat

menurunkan

kadar

fenitoin

yaitu:

teofilin,

karbamazepin, penggunaan alkohol kronis, reserpin dan sukralfat.


c) Obat-obat yang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar fenitoin yaitu:
Fenobarbital, natrium valproat dan asam valproat.
d) Meskipun bukan interaksi obat yang sebenarnya, antidepressam trisiklik dapat
menyebabkab kejang pada pasien yang peka, karena itu dosis fenitoin perlu
disesuaikan.
e) Mengakibatkan metabolisme oksidatif dipercepat, karena induksi enzim
sehingga pengurangan efek obat kontrasepsi oral, antikoagulan oral tipe
kumarin, digitoksin, vitamin D.

III.

Pra Formulasi
A. Zat Aktif

Cara
Cara

Nama Zat

Sifat Fisika-Kimia

Sterilisasi

Khasiat dan

Aktif

dan Stabilitas

Sediaan

Dosis

Fenitoin

Pemerian: serbuk,

Larutan
Filtrasi

Khasiat :

Intravena

Sodium

putih, tidak berbau,

(Martindalae

Epilepsi, CNS

(Injectable

agak higroskopik

Edisi 36

depresi,

Drugs Tahaun

secara bertahap

Tahun 2009,

Kardiovaskular 2007 Hal

menyerap

Hal 495)

kolaps,

karbondioksida dari

Hipotensi

udara (Farmakope

(Martindalae

Indonesia Edisi V

Edisi 36

Tahun 1995, Hal 436)

Tahun 2009,

Penggunaan
Dalam Bentuk

1430)

Hal 495)
Kelarutan: Mudah
larut dalam air (1-10),

Dosis:
Dewasa : 100

larutan biasanya agak

mg (2 ml

keruh karena

ampul).

terhidrolisa sebagian

Diberikan

menyerap

secara perlahan

karbondioksida, larut

melalu

(10-30) dalam etanol

intravena

(Farmakope

(slowly IV)

Indonesia Edisi V

yaitu

Tahun 1995, Hal 436)

kecepatan

pH zat aktif : 10-12


(Martindalae Edisi
36 Tahun 2009, Hal

suntikan tidak
boleh melebihi
50 mg per

495)

menit
Anak-anak:

pH Sediaan : 10-12,3

15-20 mg/kg.

(Farmakope

Diberikan

Indonesia Edisi V

secara perlahan

Tahun 1995, Hal 437)

melalu

OTT: Fenitoin sodium


hanya tetap pada
larutan ketika pH
larutan sangat basa (1012), dan hilangnya
pengendapan kristal
fenitoin ketika larutan
fenitoin natrium untuk
injeksi telah
dicampurkan dengan
obat lain atau
ditambahkkan infus
intravena
(Martindalae Edisi
36 Tahun 2009, Hal

intravena
(slowly IV)
yaitu
kecepatan
suntikan tidak
boleh melebihi
1-3 mg/kg per
menit
(Injectable
Drug Tahun
2007 Hal
1340, Drug
Information
Tahun 2010
Hal 2255)

495)
Stabilitas : Stabil pada
suhu kamar dan harus
dilindungi dari suhu
dingin, stabil selama
tidak ada pengendapan
dan kekeruhan
(Injactable Drugs
Tahun 2007 Hal 1341)

Wadah : Dalam wadah


dosis tunggal atau dosis
ganda, sebaiknya dari
kaca Tipe I, pada suhu
ruang terkendali.
(Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal 438)

2 . Zat Tambahan
Nama Zat
Tambaha
n

Cara
Sifat Fisika-Kimia

Sterilisasi

Khasiat dan

dan Stabilitas

Sediaan

Dosis

Propilen

Pemerian: cairan

Larutan
Otoklaf 121C

Glikol

kental, jernih, tidak

selama 15

berwarna; rasa khas;

menit
(Handbook of

praktis tidak berbau


(Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal
1070)

Khasiat :
Pelarut
(Handbook of
Excipient

Excipient

Edisi 6 Tahun

Edisi 6 Tahun

2009 Hal 592)


Dosis: 10-60%
(Handbook of

2009 Hal 592)

Excipient
Edisi 6 Tahun
2009 Hal 592)

Kelarutan: bercampur
dengan air, dengan
aseton, dengan
klorofom (Farmakope
Indonesia Edisi V

Tahun 1995, Hal


1070)

OTT: oksidasi reagen


seperti potassium
permanganate
(Handbook of
Excipient Edisi 6
Tahun 2009 Hal 592)

Stabilitas: pada suhu


tinggi dan tempat
terbuka cenderung
teroksidasi (Handbook
of Excipient Edisi 6
Tahun 2009 Hal 592)

Wadah : dalam wadah


tertutup (Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal
1070)

Etanol

Pemerian: cairan

Otoklaf 121C

Khasiat :

mudah menguap,

selama 15

jernih, tidak

menit atau

pelarut
(Handbook of

berwarna;bau khas

dengan filtrasi
(Handbook of

(Farmakope

Pharmaceutic
al Excipient

10

Indonesia Edisi V

Pharmaceutic

Edisi 6 Tahun

Tahun 1995, Hal 399)

al Excipient

2009 Hal 17)


Dosis :

Edisi 6 Tahun
2009 Hal 17)
Kelarutan: bercampur
dengan air dan praktis
bercampur dengan
semua pelarut organik
(Farmakope

variable
(Handbook of
Pharmaceutic
al Excipient
Edisi 6 Tahun
2009 Hal 17)

Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal 399)

OTT: dalam kondisi


asam, etanol dapat
bereaksi dengan bahan
yang keras.
(Handbook of
Pharmaceutical
Excipient Edisi 6
Tahun 2009 Hal 17)

Stabilitas : pada
tempat yang sejuk
(Handbook of
Pharmaceutical
Excipient Edisi 6
Tahun 2009 Hal 17)

Wadah : wadah kedap

11

udara (Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal 399)

Sodium

Pemerian: putih atau

Otoklaf 121C

Khasiat : peng-

Hidroksid

praktis putih, keras,

selama 15

adjust pH

rapuh dan

menit

(Handbook Of

menunjukkan pecahan

(Handbook

Pharmaceutic

hablur (Farmakope

Of

al Excipient

Indonesia Edisi V

Pharmaceutic

Edisi 6Tahun

Tahun 1995, Hal 912)

al Excipient

2009 Hal 648)

Edisi 6Tahun
2009 Hal 648)

Dosis :

Kelarutan: mudah
larut dalam air dan
dalam etanol
(Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal 912)

pH : 12-14
(Handbook Of
Pharmaceutical
Excipient Edisi
6Tahun 2009 Hal 648)
OTT: pada senyawa
yang mudah
mengalami hidrolisis
atau oksidasi
(Handbook Of

12

Pharmaceutical
Excipient Edisi
6Tahun 2009 Hal 648)

Stabilitas : jika terkena


udara, akan cepat
lembab dan mencair
(Handbook Of
Pharmaceutical
Excipient Edisi
6Tahun 2009 Hal 648)

Wadah : tempat yang


sejuk dan kering
(Farmakope
Indonesia Edisi V
Tahun 1995, Hal 912)

Aqua

Pemerian : cairan

Didihkan

Khasiat :

Steril Pro jernih, tidak berwarna,

selama

Injection

menit
(Farmakope

tidak berbau
(Farmakope

30 pembawa

Indonesia Edisi V, Th. Indonesia


2014, Hal 64)
Stabilitas : Stabil
dalam bentuk apapun,
Uji yang tertera pada

dalam
pembuatan

Edisi V, Th.

injeksi
(Handbook Of

2014, Hal

Excipient

1359)

Edisi 6, Th.
2009, Hal 766)

uji keamanan hayati


(Farmakope
Indonesia Edisi V, Th.
13

2014, Hal 64,


Handbook Of
Excipient Edisi 6, Th.
2009, Hal 766)

IV.

Formula
A. Formula Rujukan
Handbook of pharmaceutical manufacturing formulations, 2 nd edition
vol 6 hal 357, Tahun 2009)
Polivinil pirolidon 100mg
Sodium Hydroxide 1N 1mL
Phenytoin Sodium 50mg
Sodium Hydroxide for pH Adjustment qs
Water for Injection qs
Nitrogen gas qs
(Injectable Drug edisi 14 hal 1430, Tahun 2007)
Tiap ml ampul mengandung:
Phenytoin Sodium 50mg
Propilen glikol 40%
Alkohol 10 %
Sodium hydroxide to adjust pH
Water for injection qs
B. Rencana Formula

14

1. Fenitoin Sodium Digunakan untuk pengobatan aritmia ventrikel dan atrium


yang disebabkan oleh digitalis, fenitoin digunakan efektif untuk mengatasi
aritmia ventrikel yang timbul setelah bedah jantung terbuka dan infark
miokard.
2. Digunakan fenitoin sodium karena kelarutan dari fenitoin tidak dapat larut
air dan sukar dalam etanol. Sehingga dalam bentuk garam dari fenitoin yaitu
fenitoin sodium yang memilik kelarutan mudah larut dalam air dan larut
dalam etanol.
3. Dosis fenitoinsodium dalam sediaan injeksi yang digunakam 100 mg
karena untuk mencapai efek terapi yang maksimal yaitu sebagai epilepsi,
aritmatik cardiac, seizure disorder yang diberikan secara intravena secara
perlahan. Dosis yang dipilih 50 mg/ml untuk volume tipa ampul adalah 2 ml
sehingga setiap kali injeksi dalam ampul terkandung 100 mg fenitoin
sodium (memenuhi range dosis sebagai epilepsy, aritmatik cardiac, seizure
disorder)
4. Propilen glikol digunakan sebagai pelarut campur untuk meningkatkan
kelarutan dan kestabilan fenitoin, yaitu propilen glikol 40% dan alkohol
10% karena Fenitoin sodium larut dalam air, akan tetapi secara bertahap
mengabsorbsi karbondioksida dan akan mengalami hidrolisa parsial menjadi
fenitoin. Hal ini ditunjukkan oleh larutan encernya yang menjadi keruh (DI
88 hal 1119)
5. Etanol digunakan sebagai pelarut campur untuk meningkatkan kelarutan dan
kestabilan fenitoin, yaitu propilen glikol 40% dan alkohol 10% karena
Fenitoin sodium larut dalam air, akan tetapi secara bertahap mengabsorbsi
karbondioksida dan akan mengalami hidrolisa parsial menjadi fenitoin. Hal
ini ditunjukkan oleh larutan encernya yang menjadi keruh (DI 88 hal 1119)
6. Natrium hidroksida ditambahkan untuk mencapai pH 12, karena fenitoin
akan mengendap pada pH dibawah 11,5. (DI 88 hal 1119)
7. Aqua steril pro injection digunakan sebagai bahan pelarut injeksi karena
Fenotoin sodium larut dalam air.
C. Formula Jadi

15

(Injectable Drug edisi 14 hal 1430, Tahun 2007)


Tiap ampul mengandung:
Phenytoin Sodium 100 mg
Propilen glikol 40%
Alkohol 10 %
Sodium hydroxide to adjust pH
Aqua steril pro injection ad 2 ml

No.

Alat dan Bahan


Aqua

Cara Sterilisasi

Steril

Waktu
Sterilisasi

Awal Waktu
Sterilisasi

Pro Didihkan 30 menit

Injection

(Farmakope

1.

Indonesia Edisi V,

10.50

11.20

11.04

12.04

Th. 2014, Hal 1359)

Beaker,corong,

wadah Oven 230C selama

ampul,Erlenmeyer,

90

menit

(CPOB

,pipet tetes

2014 Jilid II, Th.


2014, Hal 709)
Sterilisasi

2.

(tanpa

depirogenisasi)
180C selama 1 jam
(CPOB 2014 Jilid II,
Th. 2014, Hal 710)

16

Akhir

Gelas

Ukur,

kertas Otoklaf 121C

saring

selama 15 menit
(Farmakope
Indonesia Edisi V,

3.

11.50

12.05

10.35

11.05

11.05

11.35

14.25

14.45

dispensasi

dispensasi

Th. 2014, Hal 1618,


CPOB Jilid II, Th.
2009, Hal 698)

Batang
spatula,

4.

pengaduk, Rendam
pinset,

kaca alcohol

arloji, penjepit besi

menit

dalam
selama

(FI

30

hal

dalam

air

1359)
Karet pipet

Rebus

mendidih Selama 30
5.

menit ((Farmakope
Indonesia Edisi V,
Th. 2014, Hal 1359)
Sterilisasi

6.

sediaan Filtrasi

ampul

membrane

(Martindale 28, Th.


1986, Hal 1653)

Sterilisasi Pakaian dan Otoklaf


Sarung Tangan

selama

121C
15

menit

(CPOB Jilid II, Th.


2014 Hal 692)

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN


A Perhitungan

Dibuat 10 ampul @ 2 ml
V

= [( n + 2 ) v + ( 2 x 3 )] ml
= [( 10 + 2 ) (2 + 0,15) + ( 2 x 3 )] ml

17

= 31,8 ml 32 ml
Keterangan : n = jumlah ampul
2 = cadangan
V= volume ampul + kelebihan volume (0,15 mL untuk sediaan 2 mL , FI IV,1995
hal 1044)
2x3 = untuk pembilasan

Perhitungan untuk penimbangan :


BM FENITOIN = 252,27
BM FENITOIN Na = 274,25
Phenytoin Na

= 274,25/252,27 x 100 mg = 108,7129 mg


= 108,7129 mg/2ml x 32 mL = 1739,4048mg = 1,74 gram
= 40% x 32 ml = 12,8 mL
= 10% x 32 ml = 3,2 mL

Propilenglikol
Alkohol
NaOH 1 N q.s
Aqua Steril Pro Injection ad 32 mL

Data penimbangan
Bobot Pratikum

Nama Bahan

Bobot Teoritis (g)

Phenytoin Na

1,74 g

1,78

Propilen glikol

12,8 mL

12,8

Alkohol

3,2 mL

3,2

NaOH

q.s

(g)

q.s

18

b. Pembuatan Metode Aseptik


1

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Dicuci dan disterilkan alat-alat yang digunakan dengan cara sterilisasi yang
sesuai.

Feitoin sodium ditimbang menggunakan kaca arloji steril

Ditimbang bahan zat tambahan yang digunakan.

Dikalibrasi beaker glass 32 ml.

Dibuat aqua steril pro injection dengan cara dipanaskan aquadest

mendidih, lalu dibiarkan selama 30 menit, kemudian didinginkan.


Seluruh pembuatan di bawah ini dilakukan di ruang aseptik :

sampai

Pelarut campur dibuat yaitu propilen glikol, etanol 95%, dan sebagian
aqua steril pro injection.
a

Fenitoin Sodium dilarutkan dalam pelarut campur yang telah dibuat.

Dicek pH larutan campuran dengan pH universal, bila belum


mencapai pH 12 maka ditambahkan larutan NaOH 1 N tetes demi
tetes sampai pH mencapai 12.

Ditambahkan Aqua steril Pro injection ad 32 mL kemudian


dihomogenkan, lalu disaring.

Larutan campuran disterilisasi dengan filtrasi ( dengan kertas saring


disaring sebanyak 2 kali)

Larutan campuran dimasukkan ke dalam ampul melalui syringe sebanyak


2,15 ml, kemudian ampul ditutup.

Ampul ditutup dengan cara :


a

Dilelehkan bagian gelas dari lelehan ampul sehingga membentuk


segel penutup atau segel tarik

Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian


atas leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka segel
tarik dibuat dengan cara memanaskan leher dari suatu ampul yang
berputar didaerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga
membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang
meleleh tersebut di tutup.

19

10 Dilakukan uji kejernihan dan uji keseragaman bobot, uji kebocoran pada
sediaan ampul.
11 Diberi etiket dan label, dikemas dalam dus, lalu diserahkan.

V. Evaluasi
A. In Process Control

Uji Kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014 Hal 1521)


Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan
diameter dalam 15 25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari
kaca netral. Bandingkan larutan uji dengan larutan suspensi padanan
yang dibuat segar, setinggi 40 mm. Bandingkan kedua larutan di bawah
cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi padanan
dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar belakang
hitam. Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I
dapat dibedakan dari air dan suspensi padanan II dapat dibedakan dari
suspensi padanan I.
Syarat :Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau laruta
yang digunakan dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan,
atau jika opalesan tidak lebih dari suspensi padanan.

Uji pH ( Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014 Hal 1563)


Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH

meter) yang sesuai, yang telah dibakukan sebagaimana mestinya, yang


mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektroda
indikator yang peka, elektroda kaca, dan elektroda pembanding yang sesuai.
Skala pH ditetapkan dengan persamaan sebagai berikut :
pH = pHs +

( EEs)
k

Syarat : Antara 5,5 dan 7,0

20

Uji Keseragaman volume (FI V tahun 2014 hal 1570)


Pilih salah satu wadah atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,

3 wadah atau lebih bila volume 3 ml atau kurang. Ambil isi tiap wadah
dengan alat suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari tiga kali
volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21,
panjang tidak kurang dari 2,5 cm. Keluarkan gelembung udara dari dalam
dalam jarum dan alat suntik dan pindahkan isi dalam alat suntik, tanpa
mengosongkan bagian jarum, kedalam gelas ukur kering volume tertentu
yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurangkurangnya 40% volume dari kapasitas tetera (garis-garis penunjuk volume
gelas ukur menunjuk volume yang ditampung, bukan yang dituang). Cara
lain, isi alat suntik dapat dipindahkan ke dalam gelas piala kering yang telah
ditara, volume dalam ml diperoleh dari hasil perhitungan berat dalam g dibagi
bobot jenis cairan. Isi dari dua atau tiga wadah 1 ml atau 2 ml dapat
digabungkan untuk pengukuran dengan menggunakan jarum suntik kering
terpisah untuk mengambil isi tiap wadah. Isi dari wadah 10 ml atau lebih
dapat ditentukan dengan membuka wadah, memindahkan isi secara langsung
ke dalam gelas ukur atau gelas piala yang telah ditara.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bil diuji
satu per satu, atau bila wadah volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang dari jumlah
volume wadah yang tertera pada etiket bila isi digabung.

B.

Quality Control

Uji Kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014 Hal 1521)


Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan
diameter dalam 15 25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari
kaca netral. Bandingkan larutan uji dengan larutan suspensi padanan
yang dibuat segar, setinggi 40 mm. Bandingkan kedua larutan di bawah
cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi padanan
dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar belakang

21

hitam. Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I


dapat dibedakan dari air dan suspensi padanan II dapat dibedakan dari
suspensi padanan I.

Syarat :Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau larutan
yang digunakan dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan,
atau jika opalesan tidak lebih dari suspensi padanan.

Uji Sterilitas ( Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014 Hal 1359 )


Menggunakan teknik penyaringan membran :
1. Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan bahan
dekontaminasi yang sesuai, ambil isi secara aseptik.
2. Pindahkan secara aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah
melalui tiappenyaring dari 2 rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap
spesimen melalui penyaring dengan bantuan pompa vakum/tekanan.
3. Secara aseptik, pindahkan membran dari alat pemegang, potong
menjadi setengah bagian (jika hanya menggunakan satu). Celupkan
membran atausetengah bagian membran ke dalam 100 ml media
inkubasi selama tidak kurang dari 14 hari.
4.

Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas.


Syarat : Steril (Memenuhhi Syarat)

Uji Keseragaman Volume (Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014


hal 1570)
Pilih salah satu wadah atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,
3 wadah atau lebih bila volume 3 ml atau kurang. Ambil isi tiap wadah
dengan alat suntik hipodemik kering berukuran tidak lebih dari tiga kali
volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21,
panjang tidak kurang dari 2,5 cm. Keluarkan gelembung udara dari dalam
dalam jarum dan alat suntik dan pindahkan isi dalam alat suntik, tanpa
mengosongkan bagian jarum, kedalam gelas ukur kering volume tertentu
yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang22

kurangnya 40% volume dari kapasitas tetera (garis-garis penunjuk


volume gelas ukur menunjuk volume yang ditampung, bukan yang
dituang). Cara lain, isi alat suntik dapat dipindahkan ke dalam gelas piala
kering yang telah ditara, volume dalam ml diperoleh dari hasil
perhitungan berat dalam g dibagi bobot jenis cairan. Isi dari dua atau tiga
wadah 1 ml atau 2 ml dapat digabungkan untuk pengukuran dengan
menggunakan jarum suntik kering terpisah untuk mengambil isi tiap
wadah. Isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditentukan dengan membuka
wadah, memindahkan isi secara langsung ke dalam gelas ukur atau gelas
piala yang telah ditara.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bil
diuji satu per satu, atau bila wadah volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang
dari jumlah volume wadah yang tertera pada etiket bila isi digabung.

Uji Endotoksin Bakteri (Farmakope Indonesia Edis V Tahun 2014


hal 437, CPOB JILID II tahun 2014 Hal 730)
Prosedur
Aturan umum Untuk mencegah kontaminasi mikroba, seluruh tahap
pengujian harus dilakukan secara aseptis. Pada saat pengujian harus
diusahakan agar area bebas dari getaran.
Persiapan Larutan Endotoksin Encerkan vial Control Standard Endotoksin
(5000 EU/vial) dengan 5 ml LAL Reagent Water sehingga diperoleh
konsentrasi 1000 EU/ml (Larutan A, lihat Butir 5.2). Pipet 1,0 ml Larutan
A dan encerkan dengan LAL Reagent Water hingga 10 ml (Larutan B).
Pipet 1,0 ml Larutan B dan encerkan dengan LAL Reagent Water hingga
10 ml (Larutan C). Pipet 0,25 ml Larutan C dan encerkan dengan LAL
Reagent Water hingga 10 ml (larutan D = Larutan stok 0,25 EU/ml).
Prosedur Kerja
Keluarkan 3 buah tabung Limulus Amebocyte Lysate 0,125 EU/ml, LAL
Reagent Water dan Larutan Endotoksin berkonsentrasi 1000 EU/ml dari
lemari pendingin. Diamkan 30 menit hingga temperaturnya sama dengan
temperatur kamar (25 - 30C). Tambahkan ke dalam tabung Limulus
23

Amebocyte Lysate 0,125 EU/ml masing-masing: - 0,2 ml sampel WFI 0,2 ml LAL reagent water (sebagai kontrol negatif) - 0,2 ml Larutan
Endotoksin

berkonsentrasi1000 EU/ml 0,25 EU/ml (sebagai kontrol

positif) secara aseptis di bawah LAF. Goyang tabung selama 20 hingga 30


detik agar tercampur homogen. Masukkan tabung ke dalam inkubator
atau penangas air bersuhu 37 1C. Inkubasi atau pertahankan suhu
tersebut. pada selama 1 jam. Amati tabung yang berisi sampel, kontrol
positif dan negatif. . Catat hasilnya pada buku Log Pengujian
Syarat : Tidak boleh lebih daru 0,3 unit Endotoksin FI per mg Fenitoin
natrium

Penetapan Kadar (Farmakope Indoensia Edisi V Tahun 2014 hal


438)
Lakukan penetapan kadar dengan cara Kromatigrafi cair kinerja tinggi
tertera pada kromatografi. Fase gerak buat campuran metanol P-air
(55:45). Saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian
menurut kesesuaian sistem seperti tertera pada kromatografi. Larutan
baku timbang saksama sejumlah Fenitoin BPFI, larutkan dan encerkan
dengan fase gerak, hingga kadar lebih kurang 230 g per ml.
Larutan uji ukur saksama sejumlah volume injeksi setara dengan
lebuh kurang 250 mg fenitoin natrium, encerkan secara kuantitatif dan
jika perlu bertahap dengna fase gerak hingga kadar fenitoin natrium
lebih kurang 250 g per ml.
Sistem kromatografi lakukan seperti tertera pada kromatografi.
Kromatograf cair kinerja tinggi dilengkapi dengan detektor 254 nm
dan kolom 25 cm x 3,9 mm yang berisi bahan pengisi LI. Laju alir
lebih kurang 1,5 ml per menit. Lakukan kromatografi terhadap larutan
baku, rekam kromatografm dan ukur respons puncak pada
penyuntikan ulan tidak lebih dari 2,0.
Prosedur suntukan secara terpisah sejumlah volume sama (lebuh
kurang 20 l ) Larutan baku dan larutan uji kedalam kromatogram dan
ukur respons ouncak utama. Hitung Jumlah dalam mg fenitoin natrium

24

C15H11NaO2, per ml injeksi dengan rumus :


, 25 C ru
( 274
252 ,27 )( V )( rs )
274, 25 dan 252,27 berturut-turut adalah bobot molekul
fenitoin natrium dan fenitoin; C adalah kadar Fenitoim BPFI dengan
g per ml larutan baku; V adalah volume dalam ml injeksi yang
digunakan; ru dan rs berturut-turut adalah respon fenitoin dari larutan
uji dan larutan baku

Identifikasi Umum (Farmakope Indonesia Edis V Tahun 2015 Hal


438)
Masukkan sejumlah suspensi oral setara dengan lebih kurang
100 mg fenitoin ke dalam corong pisah kocok dengan 50 ml
campuran eter P kloroform ( 1 dalam 2),uapkan ekstrak sampai
hampir kering. Keringkan dalam hampa udara pada suhu 105
selama 4 jam; fenitoin yang diperoleh melebur pada suhu antara
292 dan 299 disertai tertera pada penetapan jarak lebur atau
suhu lebur

A. Larutkan 50 mg residu yang diperoleh pada uji A dalam 50 ml kloroform P,


jika perlu dengan sedikit penghangatan. Pada 5 ml larutan ini, tambahkan 0,2
mk larutan kobalt asetat P dalam metanol P (1 dlaam 100) yang dibuat segar
dan 1 ml larutan isopropilamin P dalam metanol P (1 dalam 20) yang dibuat
segar, campur; terjadi warna ungu sampai warna ungu merah.
Logam Berat (Farmakope Indonesia Edisi V Tahun 2014 Hal 436 dan
Hal 1433)
Pengujian ini dimaksdukan untuk menunjukkan bahwa cemaran logam
yang dengan ion sulfida menghasilkan warna pada kondisi penetapan,
tidak melebihi batas monografi, dinyatakan dalam % (bobot( timbal dalam
zat uji, ditetapkan dengan membandingkan secara visual seperti tertera
pada pembanding visual dalam spektrofotometri dan hamburan cahaya
dengan pembanding larutan baku timbal. [ Catatan senywa-senyawa yang
memberikan respons pada uji ini adalah timbal, raksa, bismut, arsen,
antiomonm timah, kadmium, oerak, tembaga dan molibdenum]
Tetapkan jumlah logam berat menggunakan Metode I, kecuali dinyatakan

25

lain dalam msing-masing monografi. Metode I digunakan untuk zat yang


pada kondisi penetapan memberikan larutan jernih dan tidak berwarna
pada kondisi uji. Metode III digunakan untuk zat yang pada kondisi
Metode I tidak menghasilkan larutan jernih dan berwarna, atau senyawa
yang karena sifatnya menganggu pengendapan logam oleh ion sulfida atau
minyak lemak dan minyak menguap. Metode V suatu metode digesti
basah, hanya digunakan bila Metode I dan Metode III tidak dapat

digunakan.
Syarat : Metode III Tidak lebih dari 20 bpj
Etanol dan Propilenglikol (Farmakope Indoensia Edisi V Tahun 2014
Hal 437)
Etanol tidak kurang dari 9,0% dan tidak lebih dari 11,0%; Propilen glikol
tidak kurang dari 37,0% dan tidak lebuh dari 43,0%. Lakukan penetapan
dengan kromatografi gas seperti tertera pada kromatografi.
Larutkan baku internal pipet 8 ml metanol p dan 20 ml etilen glikol P ke
dalam labu tentukut 100-mlm encerkan dengan air sampai tanda, campur.
Larutkan etanol piper 6 ml etanol mutlak P ke dalam labu tentukur 100-ml,
encerkan dengan air sampai tanda campur.
Larutan propilen glikol pipet 20 ml propilen glikol P ke dalam labu
tentukur 100-ml, encerkan dengan air sampai tanda, campur.
Larutan baku pipet 10 ml masing-masing larutan baku internal, larutan
etanol dan larutan propilenglikol ke dalam labu tentukur 100-ml, encerkan

dengan air sampai tanda, campur.


Bahan Partikulat (Farmakope Indonesia Edisi V Tahun 2014 Hal 438)
Syarat : Memenuhi syarat seperti tertera pada injeksi volume kecil
Uji Kebocoran (Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III Tahun
1994 Hal 1354)
Ampul dimaksudkan sebagai wadah tersegel yang kedap udara untuk suatu
dosis tunggal obat, sehingga secara sempurna menghalangi tiap perubahan
antara isi ampul yang disegel dabn lingkungannya. Adanya pori-pori
kapiler atau retakan halus dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme
atau kontaminan lain yang berbahaya ke dalam apul, atau isinya dapat
bocor keluar dan merussak penampilan kemasan. Perubahan temperatur
selama penyimpanan dpat menyebabkan ekspansi dan kontraksi ampul dan
isinya, sehungga menonjilkan perubahan jika ada lubang.
Uji kebocoran dimaksudkan untuk mendetesksi ampul yang belum ditutuo

26

sempurna, sehingga ampul-ampul tersebut dapat dibuang. Ampul yang


ditutup pada ujungnya kelihatannya tidak begitu sempurna penutupannya
dibandungkan dengan ampul yang ditutup dengan segel tarik. Di samping
itu, retak kecil terjadi sekitar segel tersebut atau pada dasar ampul sebagai
hasil penanganan yang kurang sempurna.
Kebocoran dideteksi dengan menghasilkan suatu tekanan negatif yang
ditutup tidak sempurna, biasanya dalam ruang vakum (biasanya 0,5
sampai 1,0% biru merilen). Tekanan atmosfer berikutnya kemudian
menyebabkan zat warna berpenetrasi ke dalam lubang, dapat dilihat
setelah bagian luar ampul dicuci untuk membersihkan zat warnanya.
Vakum (27 inci Hg atau lebih) harus dengan tajam dilepaskan setelah 30
menit. Hanya setetes kecil zat warna bisa berpenetrasi ke lubang kecil.

Hasil evaluasi :
Evaluasi

Hasil

A. In Process Control
1

Uji Kejernihan

Uji pH

Uji

Tidak jernih
11,5

Keseragaman

Seragam

Volume
B. Quality Control
1

Uji Kejernihan

Tidak jernih

Uji Sterilitas

Dispensasi

Uji

Keseragaman

Seragam

Volume
4

Endotoksin Bakteri

Dispensasi

Penetapan Kadar

Dispensasi

Bahan Partikulat

Dispensasi

27

Identifikasi Umum

Dispensasi

Etanol

Dispensasi

dan

Propilen

glikol
9

Logam Berat

10

Uji Kebocoran

Dispensasi
Tidak ada yang
bocor

VI.

Rancangan Kemasan
a. Wadah

: Ampul 2 ml

b. Etiket Kotak

: Terlampir

c. Brosur

: Terlampir

VII. Pustaka

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Petunjuk


Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik 2012
Jilid 2 . Jakarta; 2014

Evoy MC, Gerald K. Drug Information. American Society of HealthSystem Pharmacist. 2010

Evoy MC, Gerald K. Drug Information. American Society of HealthSystem Pharmacist. 1988

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia edisi V.


Jakarta: KeMenKes RI. 2014

Leon, Lachmann. Teori dan praktek farmasi industri edisi 3. UI:Jakarta .


1994

28

Niazi, Sarfaraz K. Handbook of

Pharmaceutical

Manufacturing

Formulations Sterile Products Volume Six 2 nd Edition. Pharmaceutical


Scientist. USA; 2009

Raymon C Rowe. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th. USA:


Pharmaceutical Press. 2009.

Reynold, James E.F. Martindale the Extra Pharmacopoeia. Thirty Sixth

Edition. London ,The Pharmaceutical Press. 2009.


Setiabudy, Rianto. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta, Balai
penerbit FKUI. 1995.

Trissel, Lawrence A. Handbook on Injectable Drugs 14TH Edition.


American Society of Health-System Pharmacist:Bethesda,Maryland.2007.

Voight, R.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi , Gajah Mada University


Press , Yogyakarta;1995

29