Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH AKUTANSI MANAJEMEN

BIAYA VOLUME LABA: ALAT PERECANAAN MANAJERIAL

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Aprino Menardi Achmad


Mohamad Sarifudin
Rian Angga F
Hilman Oktavian P.S.
Ayu Setiya N.
Rizki Sandra Putri N.
Adi Yanuar
Ladiestya Vegha S.

131.020.8447
131.020.8560
131.020.8374
131.020.8478
131.020.8573
131.020.8605
121.020.5612
131.020.8525

Program Studi : Manajemen

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA


STIESIA SURABAYA
2016

BAB II
PENDAHULUAN
Analisis Biaya Volume Laba/BVL (cost volume profit analysis/CVP) merupakan suatu alat
yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan CVP
menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan harga, semua informasi
keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis CVP berfokus kepada lima hal, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Harga produk (prices of products),


Volume produksi,
Biaya variable per unit,
Total biaya tetap (biaya yang sifatnya tetap tidak terpengaruh oleh fluktuasi kuantitas

produksi), dan
e. Mix of product sold (bauran produk dalam penjualan).
Karena perannya yang sangat besar, cost volume profit analysis dapat menjadi alat yang
sangat bermanfaat bagi manajemen untuk mengidentifikasi ruang lingkup permasalahan ekonomi
perusahaan serta membantu mencari solusi atas permasalahannya. Analisis CVP dapat membantu
manajemen untuk mengetahui beberapa hal penting, antara lain:
a.
b.
c.
d.

Berapa jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas.
Dampak pengurangan Biaya Tetap (Fixed Cost) terhadap titik impas.
Dampak kenaikan harga terhadap laba.
Berapa volume penjualan dan bauran produk yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat laba

yang diharapkan dengan sumber daya yang dimiliki.


e. Tingkat sensitivitas harga atau biaya terhadap laba.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas bagaimana hubungan analisis cost volume
profit analysis, titik impas dalam unit maupun dolar, analisis multiproduk, dan penyajian grafis
hubungan cost volume profit analysis agar manajer dapat dengan bijak mengambil keputusan
yang pasti dan tidak mengandung resiko yang dapat merugikan perusahaan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Cost Volume Profit
Pengertian analisis cost volume profit adalah analisis yang digunakan untuk menentukan
bagaimana perubahan dalam biaya dan volume dapat mempengaruhi pendapatan operasional
(operating income) perusahaan dan pendapatan bersih (net income). Seperti kita ketahui, jumlah
produk yang dihasilkan perusahaan didalam suatu periode tertentu akan memiliki hubungan
langsung dengan besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan. Ketika biaya itu dipertemukan
dengan nilai penjualan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, laba perusahaan yang diperoleh
pada suatu periode akan terpengaruh menjadi lebih besar atau lebih kecil. Untuk melihat
hubungan antara ketiga variabel itu (biaya, volume, dan laba) diperlukanlah analisis cost volume
profit.
Manajemen merencanakan keuangan dan mengambil keputusan dengan melihat hubungan
besarnya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan dengan besarnya volume penjualan serta laba
yang diperoleh pada suatu periode tertentu. Dalam mengambil keputusan, manajemen juga
melihat lima elemen penting terkait analisis cost volume profit, yaitu:
1. Harga produk yaitu harga yang ditetapkan di dalam suatu periode tertentu secara konstan.
2. Volume atau tingkat aktivitas yaitu besarnya produk yang dihasilkan dan direncanakan akan

dijual di dalam suatu periode tertentu.


3. Biaya variabel per unit yaitu besarnya biaya produk yang dibebankan secara langsung pada

setiap unit barang yang diproduksi.


4. Total biaya tetap yaitu keseluruhan biaya periodik di dalam suatu periode tertentu.
5. Bauran volume produk yang dijual yaitu proporsi volume relatif produk-produk perusahaan yang
akan dijual.
Dalam melihat hubungan diantara kelima elemen tersebut terdapat beberapa asumsi yang
harus digunakan didalam hubungan diantara besarnya biaya dan volume serta laba yang akan
diperoleh, yaitu :
1. Harga jual produk yang konstan dalam cakupan yang relevan. Hal ini berarti harga jual setiap

unit produk tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume penjualan.

2. Biaya bersifat linear dalam rentang cakupan yang relevan dan dapat dibagi secara akurat ke

dalam elemen biaya tetap dan biaya variabel. Jumlah biaya variabel per unit konstan dan jumlah
biaya tetap total juga harus konstan.
3. Dalam perusahaan mulitiproduk, bauran penjualannya tidak berubah.
4. Jumlah unit yang diproduksi sama dengan jumlah unit yang dijual. Berarti, jumlah persediaan
tidak berubah.
Dalam referensi lain, asumsi dasar analisis cost volume profit disederhanakan menjadi (a)
semua biaya diklasifikasikan sebagai biaya variabel dan tetap, (b) fungsi jumlah biaya adalah
linier dalam kisaran relevan, (c) fungsi jumlah pendapatan adalah linier dalam kisaran relevan
dan harga jual dianggap konstan, (d) hanya terdapat satu pemicu biaya yaitu volume unit
produk / rupiah penjualan, dan (e) tidak ada persediaan. Dengan pengertian dan asumsi seperti
diatas maka jika salah satu elemen saja berubah maka hasil analisis cost volume profit pasti akan
menghasilkan kesimpulan yang berbada dan dapat menghasilkan keputusan yang berbeda juga.
Meskipun tujuan utama dari analisis ini adalah untuk melihat hubungan diantara elemen-elemen
tersebut dan pengaruhnya satu dengan yang lainnya.
Karena peran yang sangat vital, analisis cost volume profit ini dapat diterapkan dalam
banyak hal seperti menentukan harga jual produk atau jasa, memperkenalkan produk atau jasa
baru, mengganti peralatan, memutuskan apakah produk atau jasa yang ada seharusnya dibuat di
dalam perusahaan atau dibeli dari luar perusahaan, dan melakukan analisis apa yang akan
dilakukan, jika sesuatu dipilih oleh manajemen.

B. Konsep Contribution Margin


Margin kontribusi adalah jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi beban variabel.
Jadi, ini adalah jumlah yang tersedia untuk menutup beban tetap dan kemudian menjadi laba
untuk periode tersebut. Margin kontribusi digunakan dulu untuk menutup beban tetap dan
sisanya akan menjadi laba. Jika margin kontribusi tidak cukup untuk menutup beban tetap
perusahaan, maka akan terjadi kerugian untuk periode tersebut. Ketika titik impas dicapai, laba
bersih akan bertambah sesuai dengan margin kontribusi per unit untuk setiap tambahan produk
yang terjual. Untuk memperkirakan pengaruh kenaikan penjaulan yang direncanakan terhadap
biaya, manajer cukup mengalikan peningkatan dalam unit yang terjual dengan margin kontribusi
yang per unit. Hasilnya akan menggambarkan peningkatan laba yang diharapkan.
Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi semua biaya variabel. Ini dapat
dihitung dengan menggunakan satuan mata uang atau basis per unit. Jika PT XYZ miliki
penjualan sebesar $ 750.000 dan biaya variabel sebesar $ 450.000, marjin kontribusinya adalah $
300.000. Dengan asumsi perusahaan menjual 250.000 unit selama tahun, harga per unit
penjualan adalah $ 3 dan biaya variabel total per unit adalah $ 1,80. Margin kontribusi per unit
adalah $ 1,20. Rasio margin kontribusi adalah 40%. Hal ini dapat dihitung dengan menggunakan
margin kontribusi dalam satuan mata uang atau marjin kontribusi per unit. Untuk menghitung
rasio margin kontribusi, margin kontribusi dibagi dengan jumlah penjualan atau pendapatan.
C. Titik Impas Dalam Unit
Ketertarikan untuk mengetahui pendapatan, beban, dan laba berprilaku ketika volume
berubah adalah sesuatu yang lazim untuk memulai dengan menentukan titik impas perusahaan
dalam jumlah unit yang terjual. Titik impas (break-even point) adalah titik dimana total
pendapatan sama dengan total biaya atau titik dimana laba sama dengan nol (zero profit). Untuk
menentukan titik impas dalam unit (pendapatan sama dengan total biaya), maka perlu difokuskan
pada laba operasi. Dalam hal ini, yang dilakukan pertama kali adalah menentukan titik impas,
kemudian melihat bagaimana pendekatan yang telah digunakan itu dapat dikembangkan untuk
menentukan jumlah unit yang harus dijual guna menghasilkan laba yang ditargetkan.
Penggunaan Laba Operasi Dalam Analisis Cost Volume Profit

Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biayabiaya perusahaan dalam kategori tetap dan variable. Laporan laba rugi dapat dinyatakan sebagai
persamaan berikut.
Laba operasi = Pendapatan penjualan Beban variable Beban tetap
Dalam persamaan ini, istilah laba operasi digunakan untuk menunjukkan penghasilan atau
laba sebelum pajak penghasilan (taxes). Laba operasi (operating income) hanya mencakup
pendapatan dan beban dari operasional normal perusahaan. Sedangkan, laba bersih (net income)
adalah laba operasi dikurangi pajak penghasilan. Setelah memiliki ukuran unit yang terjual, maka
dapat dikembangkanlah persamaan laba operasi dengan menyatakan pendapatan penjulan dan
beban variabel dalam jumlah unit dolar dan jumlah unit. Secara lebih spesifik, pendapatan
penjualan dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual, dan total biaya
variabel adalah biaya variabel per unit dikali jumlah unit yang terjual. Dengan demikian,
persamaan laba operasi menjadi
Laba operasi = (Harga x Jumlah unit terjual) (Biaya Variabel per unit x jumlah unit
terjual ) Total biaya tetap
Contoh berikut ini adalah mencari titik impas dalam unit.
Whittier Company memproduksi mesin pemotong rumput.
Berikut ini adalah proyeksi laporan laba rugi perusahaan Whittier Company
Penjualan (1000 unit@$400)

$400.000

Dikurangi: Beban variable

$325.000

Margin kontribusi

$75.000

Beban tetap

($45.000)

Laba operasi

$30.000

Hal ini menunjukan bahwasanya Whittier Company mempunyai harga adalah $400 per
unit, dan biaya variabel per unit adalah $325 ($325.000/1000 unit). Biaya tetap adalah $45.000.
Maka pada titik impas, persamaan laba operasi adalah sebagai berikut:

= ($400 x Unit) ($325 x Unit) - $45.000


= ($75 x Unit) - $45.000
$75 x Unit = $45.000
Unit = $600
Dengan

demikian,

Whittier

Company harus

menjual

600

pemotong

rumput

untuk menutupi semua beban tetap dan variabel. Suatu cara yang baik untuk memeriksa jawaban
ini adalah dengan memformulasikan suatu laporan laba rugi berdasarkan 600 unit yang terjual.
Penjualan (600 unit@ $400)

$240.000

Dikurangi: beban variable

$195.000

Margin kontribusi

$45.000

Beban tetap

($45.000)

Laba operasi

$0

Jelaslah, penjualan 600 unit menghasilkan laba nol.


Sebuah keunggulan penting dari pendekatan laba operasi adalah bahwa seluruh
persamaan cost volume profit berikutnya diturunkan dari laporan laba rugi menurut perhitungan
biaya variabel. Sehingga setiap persoalan cost volume profitdapat diselesaikan dengan
menggunakan pendapatan ini.
D. Titik Impas Dalam Dolar Penjualan

Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih suka
menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada unit yang
terjual. Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu ukuran pendapatan
penjualan hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan unit yang terjual. Sebagai contoh,
titik impas Whittier Company dihitung pada 600 mesin pemotong rumput. Karena harga jual per
unit mesin pemotong rumput adalah $400, maka volume impas dalam pendapatan penjualan
adalah $240.000 ($400 x 600).
Setiap jawaban yang dinyatakan dalam unit yang terjual dapat secara mudah dikonversi
menjadi satu jawaban yang dinyatakan dalam pendapatan penjualan, tetapi jawaban tersebut bisa
dihitung secara lebih langsung dengan mengembangkan rumus terpisah untuk kasus pendapatan

penjualan. Dalam kasus ini, variabel yang penting adalah dolar penjualan, sehingga pendapatan
maupun biaya variabel harus dinyatakan dalam dolar, bukan unit. Karena pendapatan penjualan
selalu dinyatakan dalam dolar, maka pengukuran variabel tidak menjadi masalah. Selanjutnya
akan dibahas secara lebih mendalam mengenai biaya variabel dan melihat bagaimana biaya
tersebut dapat dinyatakan dalam ukuran dolar penjualan.
Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel didefenisikan sebagi
suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit yang terjual. Dapat
diilustrasikan mengenai pembagian pendapatan penjualan menjadi biaya variabel dan margin
kontribusi sebagai berikut:
Harga adalah $10 dan biaya variabel adalah $6. Tentu saja, sisanya adalah margin
kontribusi sebesar $4 ($10 - $6). Jika yang dijual adalah 10 unit, maka total biaya variabel adalah
$60 ($6 x 10 unit). Atau, karena setiap unit yang dijual menghasilkan pendapatan sebesar $10
dan membutuhkan biaya variabel $6, maka kita dapat mengatakan bahwa 60 persen dari setiap
dolar pendapatan yang dihasilkan diakibatkan oleh biaya variabel ($6/$10). Jadi, dengan
memfokuskan pada pendapatan penjualan, kita dapat memperkirakan total biaya variabel sebesar
$60 untuk pendapatan $100 (0,60 x $100).
Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini merupakan bagian
dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variable. Rasio biaya
variable dapat dihitung dengan menggunakan data total maupun data per unit. Tentu saja,
persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variable tertutupi merupakan rasio
margin kontribusi. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari
setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
Berikut ini merupakan laporan Laba Rugi dari Whittier Dalam Dolar dan Persentase
Penjualan:
Dolar
Penjualan
Dikurangi: Biaya Variabel
Margin Kontribusi

Persentase Penjualan

$400.000

$100,00%

($325.000)

($81,25%)

$75.000

$18,75%

Dikurangi: Biaya tetap


Laba Operasi

($45.000)
$30.000

Rasio Biaya Variabel adalah 81,25% ($325.000/$400.000). Rasio margin kontribusi adalah
18,75% ($75.000/$400.000 atau berasal dari 100%-81,25%). Biaya tetap adalah $45.000.
Berdasar informasi tersebut, berapakah pendapatan penjualan yang harus dihasilkan Whittier
ntuk mencapai titik impas?
Laba Operasi

= Penjualan Biaya Variabel Biaya Tetap

= (Penjualan (Rasio Biaya Variabel x Penjualan)) Biaya tetap

= Penjualan (1 Rasio Biaya Variabel) Biaya Tetap

= Penjualan (1 0,8125) 45.000

(0,1875) Penjualan

= $45.000

Penjualan

= $240.000

Jadi Whittier harus menghasilan penjualan sejumlah 240.000 untuk mencapai impas.
Dengan pendekatan rumus unit impas yang dikembangkan, dapat diperoleh nilai penjualan impas
dengan rumus:
Unit Impas

= Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit)

Jika sisi kiri dan sisi kanan kita kalikan dengan harga, maka sisi kiri Unit Impas x Harga
adalah merupakan pendapatan penjualan pada saat impas
Unit Impas x Harga

= Harga x (Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel/Unit)

Penjualan Impas

= Biaya Tetap x (Harga/ Harga-Biaya Variabel/Unit)

Penjualan Impas

= Biaya tetap x (Harga/Margin Kontribusi)

Penjualan Impas

= Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi

Dalam Kasus Whittier, besarnya penjualan yang harus dihasilkan pada titik impas dapat dihitung
sebagai berikut:

Penjualan Impas =

Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi

Penjualan Impas =

$45.000/0,1875

Penjualan Impas =

$240.000

E. Analisis Multiproduk

Analisis biaya volume laba cukup mudah diterapkan dalam pengaturan produk tunggal.
Namun, kebanyakan perusahaan memproduksi dan menjual sejumlah produk atau jasa.
Meskipun kompleksitas konseptual dari analisis CVP lebih tinggi dalam situasi multiproduk,
pengoperasiannya tidak berbeda jauh.
Beban tetap langsung (direct fixed expenses) adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke
setiap produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada.
Beban tetap umum adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan
tetap muncul meskipun salah satu produk ditelusuri.
Contoh Whittier Company telah memutuskan untuk menawarkan dua model mesin
pemotong rumput, yaitu mesin manual dengan harga $400/unit dan mesin otomatis dengan harga
$800/unit. Departemen pemasaran yakin bahwa 1.200 mesin pemotong rumput manual dan 800
mesin pemotong rumput otomatis dapat terjual tahun depan. Proyeksi Laporan Laba Rugi terlihat
sebagai berikut:

Mesin Manual Mesin Otomatis Total


Penjualan

$480.000

$640.000

$1.120.000

Dikurangi:Beban variabel

$390.000

$480.000

$870.000

Margin kontribusi

$90.000

$160.000

$250.000

Dikurangi:Beban tetap langsung

$30.000

$40.000

$70.000

Margin produk

$60.000

$120.000

$180.000

Dikurangi:Beban tetap umum

$26.250

Laba Operasi

$153.750

F. Representasi Grafis Dari Hubungan CVP

Perseroan wajib menjelaskan antara lain kebijakan akuntansi untuk memahami hubungan
CVP lebih mendalam, dapat dilakukan melalui penggambaran secara visual. Penyajian secara
grafis dapat membantu para manajer melihat perbedaan antara biaya variable dan pendapatan.
Hal itu juga dapat membantu mereka memahami dampak kenaikan atau penurunan penjualan
terhadap titik impas dengan cepat. Dua grafik dasar yang penting, grafik laba volume dan grafik
biaya volume laba, yang akan dijelaskan sebagai berikut :
Grafik Laba Volume
Grafik laba volume (profit volume grafh) menggambarkan hubungan antara laba dan volume
penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik dari persamaan laba operasi [laba
operasi = (harga x unit) (biaya variable per unit x unit) biaya tetap]. Dalam grafik ini, laba operasi
merupakan variable terikat dan unit merupakan variable bebas. Nilai variable bebas biasanya diukur
pada sumbu horizontal dan nilai variable terikat pada sumbu vertical.
Agar pembahasan terlihat nyata, maka seperangkat data sederhana akan digunakan. Anggaplah
bahwa Tycon Company memproduksi suatu prooduk tunggal dengan data biaya dan harga sebagai
berikut:
Total biaya tetap

$100

Biaya variabel/unit

$5

Harga jual/unit

$10

Dengan menggunakan data tersebut, laba operasi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Laba Operasi = ($10 x Unit) ($5 x Unit) -$100.
= ($5 x Unit) - $100
Dapat membuat grafik dengan meletakkan unit di sepanjang sumbu horizontal dan laba (rugi) operasi
di sepanjang sumbu vertikal. Dua titik diperlukan untuk menggambarkan suatu persamaan linier.
Meskipun dua titik manapun dapat digunakan, kedua titik yang ssering digunakan adalah titik-titik
yang menggambarkan volume penjualan nol dan laba nol. Jika unit yang terjual adalah nol, maka
Tyson mengalami kerugian operasional sebesar $100 (atau laba -$100). Karena itu, titik yang
menggambarkan volume penjualan nol adalah (0, -$100). Dengan kata lain, jika tidak ada penjualan
yang dilakukan, perusahaan mengalami kerugian sebesar total biaya tetap. Jika laba operasi 0, maka
unit yang terjual sama dengan 20.

Grafik Biaya Volume


Grafik biaya volume laba (cost volume profit graph) menggambarkan hubungan antara biaya,
volume dan laba. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih terperinci, perlu dibuat grafik dengan dua
garis terpisah : garis total pendapatan dan garis total biaya. Tiap-tiap garis ini mempunyai dua
persamaan berikut:
Pendapatan = harga x unit
Total biaya = (biaya variabel per unit x unit) + Biaya tetap
Asumsi asumsi pada Analisis Biaya Volume Laba

Grafik laba volume dan biaya volume laba yang baru diilustrasikan mengandalkan
beberapa asumsi penting. Berikut beberapa dari asumsi tersebut:
1. Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linear
2. Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variabel per unit dapat
diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang tentang relevan
3. Analisis mengasumsikan apa yang diproduksikan dapat dijual
4. Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui
5. Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti
G. Analisis CVP dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktifitas
Analisis CVP konvensional mengasumsikan semua biaya perusahaan dapat dikelompokkan
dalam dua kategori : biaya variabel dan biaya tetap. Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas, biaya dibagi dalam kategori berdasarkan unit dan non-unit.
Perbandingan antara titik impas ABC dengan titik impas konvensional mengungkapkan
dua perbedaan yang signifikan. Pertama, biaya tetapnya berbeda. Beberapa biaya yang
sebelumnya diidentifikasi sebagai biaya tetap dapat berbeda dengan penggerak. Kedua,
pembilang pada persamaan impas ABC memiliki dua istilah biaya variabel non-unit : satu untuk
aktivitas yang berkaitan dengan batch dan satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan
keberlanjutan produk. Jika suatu perusahaan menganut JIT, maka biaya variabel per unit yang
dijual berkurang dan biaya tetap bertambah.

DAFTAR PUSTAKA
Mowen, Hansen. 2009. Akuntansi Manajerial Buku 2 Edisi 8. Jakarta: Salemba Empat.