Anda di halaman 1dari 9

DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA PADA ANAK & REMAJA

DAN STIMULASI DINI PERKEMBANGAN ANAK


Dr. Rh Budhi Muljanto, SpKJ

PENDAHULUAN
Gangguan jiwa pada anak dan remaja adalah gangguan jiwa yang mulai timbul dan
nampak pada masa bayi anak atau remaja. Menurut PPDGJ-III terdapat tidak kurang dari 53
kategori diagnosis yang berkaitan dengan gangguan jiwa anak dan remaja.
Penelitian yang pernah dilakukan di Jakarta, yaitu di Puskesmas Kecamatan Tambora,
menunjukkan bahwa 28,73% dari pengunjung dewasa (Salan,R dkk, 1983), dan 34,39% dari
pengunjung anak/remaja (Maslim,R, dkk 1986) mengalami gangguan mental emosional.
Sedangkan menurut penelitian WHO di berbagai negara berkembang menunjukkan bahwa
30%-50% pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan umum ternyata mempunyai
latar belakang gangguan mental emosional. Sedangkan untuk gangguan mental emosional pada
anak/remaja yang dapat dideteksi di fasilitas pelayanan kesehatan umum adalah 15%-20% dari
seluruh kunjungan anak/remaja. Namun pada saat ini kemampuan para dokter dan petugas
kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan umum hanya mampu mendeteksi gangguan mental
pada anak/remaja sebanyak 5%-9% dari pengunjung anak/remaja.
Oleh karena itu sangat perlu ditingkatkan sensitivitas para dokter dan petugas kesehatan
di fasilitas pelayanan kesehatan umum terhadap faktor mental emosional dalam gangguan
kesehatan umum, yang pada umumnya mempunyai manifestasi sebagai keluhan-keluhan fisik.
Disini akan kita bahas deteksi dini terhadap gangguan jiwa pada anak & remaja dan
stimulasi perkembangan anak, sebagai upaya prevensi sekunder terhadap gangguan jiwa.
Dengan demikian melalui kemampuan melakukan deteksi dan stimulasi dini dapat meningkatkan efektivitas dan mutu pelayanan kesehatan umum terhadap pengunjung anak dan remaja.
DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA ANAK DAN REMAJA
Deteksi dini adalah suatu usaha menemukan/memastikan gejala dini dari suatu kondisi
gangguan/ penyakit. Semakin kita berhasil mengembangkan kemampuan tersebut, semakin
berhasil juga usaha menegakkan diagnosis dini. Diagnosis dini berkaitan dengan tiga kegiatan,
yaitu ketajaman memastikan gejala penyakit, rujukan dini, dan skrining (penyaringan).
Pada umumnya deteksi dini terhadap gangguan jiwa pada anak dan remaja dapat
dilakukan dengan :
1. Mengenal sedini mungkin adanya kegagalan proses perkembangan secara keseluruhan,atau
adanya penyimpangan proses perkembangan serta derajad kemampuan perkembangan
yang berada dibawah rata-rata (sesuai dengan usianya) secara bermakna.
2. Mengenali secara dini adanya faktor-faktor yang menghambat proses perkembangan.
Faktor tersebut dapat berupa faktor biologik dan/atau lingkungan, serta interaksi antara
keduanya.
DETEKSI DINI PADA BAYI DAN BALITA
Deteksi dini gangguan jiwa dan masalah psikososial harus dimulai sejak bayi lahir dan masa
balita. Oleh karena pada masa itulah merupakan masa yang sangat menentukan bagi
perkembangan jiwa anak selanjutnya ("masa keemasan").

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

1. Pemantauan perkembangan anak


Pemantauan perkembangan anak dilakukan untuk mengikuti perkembangan anak. Tujuannya
agar petugas kesehatan dapat mengetahui bila terjadi kelambatan perkembangan anak
(kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan berbicara, bahasa dan
kecerdasan, kemampuan bergaul dan mandiri). Penemuan dini sangat penting agar tindakan
untuk mengejar kelambatan perkembangan dapat segera dilakukan, dan apabila ditemui
penyimpangan perkembangan dapat segera dikoreksi.
Ada 4 bidang kemampuan perkembangan anak yang perlu dipantau (dan distimulasi)
yaitu :
a) Kemampuan gerak kasar kemampuan untuk melakukan gerakan yang tampak jelas, mis:
tengkurap, merangkak, berjalan, melompat, berlari.
b) Kemampuan gerak halus kemampuan melakukan gerakan yang halus dan memerlukan
kecermatan, mis: menjimpit, mengancing, mengerlingkan mata, menulis.
c) Kemampuan berbicara, bahasa dan kecerdasan kemampuan mengungkapkan perasaan,
keinginan, dan pendapat melalui kata-kata, memahami perkataan orang lain, dan
kemampuan memecahkan masalah.
d) Kemampuan bergaul dan mandiri, kemampuan berteman, mengenal sopan santun, bermain,
mengikuti peraturan, dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Pada saat ini telah diperoleh indikator perkembangan anak yang sesuai dengan keadaan
anak di Indonesia. Selanjutnya indikator tersebut dipergunakan untuk patokan dalam
melakukan pemantauan perkembangan anak.
Pemantauan perkembangan anak dilakukan setiap bulan sekali untuk bayi berusia 0-3 bulan,
selanjutnya setiap 3 bulan sekali untuk bayi berusia 3 bulan sampai 1 tahun, dan setiap 6 bulan
sekali untuk anak berusia 1-5 tahun.
2. Deteksi dini kelainan perilaku anak pra sekolah
Pada anak pra sekolah (usia 3-6 tahun) telah dapat dideteksi adanya perilaku yang berrisiko
tinggi untuk terjadinya kelainan/gangguan jiwa di kemudian hari. Pada dasarnya deteksi dini
tersebut dilakukan terhadap perilaku anak untuk menggambarkan derajat agresivitas-hostilitas,
anxietas, dan hiperaktivitas-distraktibilitas.
Deteksi
dini
dilakukan
dengan melakukan pengamatan terhadap perilaku
anak (dilakukan oleh orang tua, guru TK, pengasuh) dan kemudian dinilai dengan
Kuesioner Perilaku Anak Pra sekolah (KPAP). KPAP adalah kuesioner yang berisi daftar
29 macam perilaku yang sering didapatkan pada anak pra sekolah.
Untuk setiap macam perilaku anak diberi nilai berskala 0-2. Bila jumlah nilai kurang
dari 11, maka anak tak perlu dirujuk (anak tidak berisiko tinggi), namun bila jumlah anak 11
atau
lebih,
maka
perlu
dirujuk
ke
psikiater
(anak
berisiko
tinggi). Pemeriksaan ini dilakukan setiap 6 bulan sekali.
3. Deteksi dini retardasi mental
Retardasi mental dapat dikenali secara dini dan selanjutnya dapat dilakukan intervensi dini
sesuai dengan penyebab dan kondisinya. Untuk mengenali secara dini kondisi tersebut, disamping dilakukan Pemantauan Perkembangan Anak secara berkala dan berkelanjutan mulai
dari bayi sampai berusia 5 tahun, juga perlu dilakukan pemeriksaan skrining (pemeriksaan di
tengah masyarakat untuk menemui adanya penyakit/ gangguan) pada bayi yang baru lahir,
terhadap penyakitpenyakit yang dapat merupakan etiologi terjadinya retardasi mental. Penyakit

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

tersebut sebagian besar merupakan penyakit metabolisme (inborn error metabolisme) seperti
fenilketonuria, hipotiroidisme, galaktosemia, idiopatik, hiperkalsemia, defisiensi piridoxin,
hipoglikemia. Skrining tersebut dilakukan dengan sample darah bayi yang baru lahir dan
dilakukan pemeriksaan dengan reagens tertentu.
Kondisi patologik lainnya yang perlu dideteksi sedini mungkin sebelum terjadi progresi retardasi mental lebih lanjut adalah: Hiperbilirubinemia, ensefalopati bilirubin, hidrosefalus, prematur
sinostosis sutura pada tengkorak, subdural hematom, meningitis bakterial, sifilis kongenital,
hipertensi nefritis, keracunan timah.
4. Deteksi dini gangguan jiwa/masalah psiko sosial lainnya
Gangguan jiwa / masalah psikososial yang sering dijumpai pada anak balita adalah:

Masalah tidur
Masalah ini sering dijumpai pada anak usia 2,5-3 tahun. Mula-mula pada
tahun pertama kehidupannya anak dapat tidur walaupun tidak ada kontak fisik dengan
ibu/pengasuhnya. Tetapi beberapa bulan selanjutnya ia tidak dapat tidur bila tidak ditemani
oleh ibunya. Walaupun kecapaian ia tidak dapat tidur. Anak merasa kurang aman bila tanpa
ibunya. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi dapat menimbulkan gangguan tidur pada anak.
Intervensi: Beri kesempatan pada anak untuk tidur dengan rasa aman dan tenang.

Masalah makan
Masalah ini
berlangsung secara perlahan-lahan. Bentuk masalahnya beraneka
ragam, mulai dari tidak suka makan, bersikap marah terhadap makanan yang diberikan
padanya, kurang berani makan, kurang me-nikmati makanan, atau sebaliknya anak rakus atau
sering makan karena takut kelaparan.
Intervensi: Pastikan
kondisi tersebut bukan
karena penyakit fisik. Beri penjelasan pada
ibunya/orang tua bahwa proses makan pada anak mengalami perkembangan sejalan dengan
perkembangan
jiwanya. Di samping itu proses makan juga berkaitan erat dengan
rasa aman dan percaya terhadap lingkungannya. Berikan pengalaman yang menyenangkan
pada waktu memberi makan pada anak.

Masalah ketakutan
Yang dimaksud dengan ketakutan disini adalah ketakutan yang primitif, yaitu suatu kecemasan
pada anak usia 3-6 tahun yang memang sudah ada sebelum anak berkembang. Anak sering
merasa takut pada tempat yang gelap, kesepian, hal-hal yang baru atau asing bagi anak
seperti melihat kilat, mendengar guruh.
Intervensi: Jelaskan pada orang tua bahwa ketakutan ini akan hilang dengan sendirinya setelah
anak mengalami perkembangan dirinya lebih mantap, seperti kemampuan menilai realita dan
daya ingatnya sudah berkembang lebih baik Berikan suasana yang menyenangkan anak.

Masalah tingkah laku


Yang dimaksud disini adalah kesulitan yang ditimbulkan oleh tingkah laku anak pada usia 3-6
tahun. Banyak orang tua mengeluh tidak mampu mengendalikan tingkah laku
anaknya. Manifestasi tersebut erat hubungannya dengan ciri-ciri perkembangan jiwa anak
pada usia tersebut seperti: suka merusak barang, tidak suka diam, mengamuk, merengek, tidak
mau pisah dari ibunya.
Intrevensi: Jelaskan pada orang tua bahwa tingkah laku demikian akan hilang dengan sendirinya
bila anak diberi kesempatan menyalurkan keinginan atau dorongan dalam dirinya sesuai dengan
tugas perkembangannya. Untuk memastikan apakah tingkah laku tersebut merupakan risiko
tinggi
terjadinya gangguan jiwa/tingkah laku dikemudian
hari maka perlu
dilakukan observasi dan nilainya dengan KPAP.

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

Enuresis fungsional
Terjadinya pengeluran air seni tanpa disadari dan berulang waktu siang atau malam hari,
paling sedikit dua kali sebulan bagi anak usia 2-6 tahun, atau sekali sebulan bagi anak
berusia 6
tahun. Harus
dipastikan
terlebih dahulu bahwa
kondisi
ini tidak disebabkan oleh gangguan fisik. Keadaan ini biasanya merupakan manifestasi ketegangan mental seperti: kecemasan yang berlebihan, ketakutan, atau agresifitas yang tidak
tersalurkan dengan baik.
Intervensi :
a. Nasehatilah si ibu untuk membangunkan anaknya buang air kecil di waktu malam, sebelum
tidur.
b. Pada waktu anak tidak ngompol berikan pujian padanya.
c. Bila perlu dapat diberikan imipramin 1 - 5 mg/kg.bb, dosis tunggal pada malam hari.
5. Deteksi dini lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan anak
Kondisi lingkungan
yang
perlu
segera dideteksi
agar
tidak
menimbulkan
hambatan/penyimpangan perkembangan adalah:
a. Suasana dalam keluarga yang tidak mampu memberikan rangsangan yang cukup
memenuhi kebutuhan intelektual, emosional dan sosial (ibu berusia di bawah 20 tahun,
ibu/pengasuhnya anak mengabaikan
kesejahteraan anak: menjelekkan anak
sering berteriak atau memukul anak untuk persoalan yang kecil, bersikap pesimis terhadap
anaknya, tidak tertarik dalam pembicaraan
mengenai anak,
tidak
mengetahui umum tentang data-data anaknya).
b. Hubungan ibu/orang tua-anak buruk (penelantaran anak, penganiayaan anak, anak
yang tidak
diinginkan, anak yang ditolak).
c. Kurangnya interaksi emosional yang hangat ibu mengalami tekanan jiwa yang berat: selalu
sedih,
putus
asa,
mudah
menangis,
tidak
acuh
terhadap sekitarnya, gelisah, bicara kacau. Ayah menderita gangguan jiwa, melakukan
tindakan kejahatan, pemabuk hubungan suami istri yang buruk: sering bertengkar didepan
anaknya, kekerasan fisik dari orang tua)
d. Rumah yang kacau dan kotor.
6. Deteksi dini pada anak usia sekolah (6-12 tahun)

Menolak pergi ke sekolah


Anak merasa ketakutan, cemas, mungkin mengeluh pusing, sakit kepala, demam, sakit
perut, capai, kurang konsentrasi dan menolak pergi ke sekolah.
Intervensi :
a.
Anak
diantar
ke
sekolah,
setelah
anak
merasa
lebih berani dan mantap, secara berangsurangsur anak didorong untuk
berani ke sekolah sendiri.
b. Cari sebabnya, mengapa anak takut ke sekolah, dan bantulah mengatasi bersama dengan
orang tua dan gurunya.

Kesulitan belajar
Anak tidak menunjukkan prestasinya engan kemampuan yang dimilikinya (IQ cukup baik/ratarata, namun prestasi di sekolah sangat kurang/buruk), atau prestasi kemampuannya di
bawah rata-rata. Setiap anak dengan kesulitan belajar harus dicari dan ditentukan
penyebabnya: Kalau ada tanda-tanda objektif penyakit/gangguan susunan saraf pusat
(SSP), berarti disebabkan oleh kelainan organik/SSP. Kalau IQ dan kemampuan adaptasi
dibawah rata-rata, berarti disebabkan oleh retardasi mental. Kalau ada keterlambatan
perkembangan spesifik, berarti disebabkan oleh gangguan perkembangan spesifik. Kalau anak

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

tidak mampu memusatkan perhatian dan tidak bisa diam, berarti gangguan pemusatan
perhatian. Kalau ada perilaku buruk yang berulang (misalnya sering membuat pelanggaran),
berarti disebabkan
gangguan tingkah laku.
Kalau ada sikap yang
selalu menentang,
berarti disebabkan gangguan menentang. Kalau tidak ada sikap salah satu di atas, berarti
disebabkan oleh gangguan mental lainnya, seperti: gangguan penyesuaian, gangguan identitas.
Kalau tidak diketemukan penyebab yang spesifik seperti di atas, berarti anak tersebut
dalam keadaan fungsi intelektual ambang, atau mengalami problem akademik.
Intervensi: dilakukan sesuai dengan penyebabnya, remedial teaching, bila perlu rujuk ke
psikolog/ psikiater.

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas


Tingkah laku dalam kelas: Sulit konsentrasi, sulit duduk, diam dan suka jalan-jalan, suka
mengganggu, sering bengong, gagal menyelesaikan tugas.
Sikap/Tanggapan guru: Guru menjadi sangat
repot, menganggap anak tersebut
sebagai "anak nakal" sering menghukum anak namun merasa diremehkan.
Tingkah laku di rumah: Selalu bergerak dan lari-lari, tingkah lakunya sering sulit diduga,
(suka ngambeg, eksplosif dan labil), kalau bermain cepat bosan, keinginannya harus segera
dipenuhi, sulit konsentrasi waktu menyelesaikan tugas.
Sikap tanggapan orang tua: Menganggap anak malas belajar dan sulit diatur, sering memberi
hukuman namun tak bermanfaat, menganggap anak sebagai penyulit (trouble maker),
menjadi frustasi karena tingkah laku anak tersebut.
Intervensi:
metilfenidat
0,3
mg/kg.BB/hari,
remedial
teaching,
terapi
perilaku, rujuk ke psikiater.

Gangguan Perkembangan Pervasive


Paling sedikit ada 3 hal dari yang berikut ini :
a. Kecemasan yang mendadak dan berlebihan, tidak dapat ditenangkan atau dihibur, bereaksi
secara dahsyat terhadap peristiwa yang biasa terjadi.
b. Afek yang terbatas atau tidak wajar.
c. Menolak perubahan lingkungan, atau selalu memaksa untuk mengerjakan hal yang sama
dengan cara yang sama setiap saat.
d. Gerakan motorik janggal.
e. Cara bicara abnormal.
f. Hyper atau hypo sensitifitas terhadap rangsang sensoris.
g. Mutilasi diri: membenturkan kepala, memukul diri sendiri, menggigit diri sendiri
Intervensi: Pemberian psikofarmaka haloperidol 0.5-16 mg/hari, dengan dosis terbagi 1 - 2 kali
/ hari. Rujuk ke Psikiater.

Gangguan Tingkah Laku.


Didapatkan adanya pola tingkah laku yang berulang dan menetap sehingga terjadi pelanggaran
hak-hak azazi orang lain, atau pelanggaran peraturan, atau norma sosial penting yang sesuai
dengan umurnya.
Intervensi :
a. memberi perhatian dan pengawasan kepada anak lebih baik,
b. sikap lingkungan harus konsisten,
c. berikan konsistensi yang jelas terhadap setiap perbuatan anak,
d. pada kondisi agresif atau eksplosif dapat diberikan klorpromazin 10-200 mg/hari, dengan
dosis terbagi 1 - 3 kali /hari.

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

STIMULASI DINI PERKEMBANGAN ANAK


Stimulasi dini perkembangan anak bertujuan untuk membantu anak agar ia dapat mencapai
tingkat perkembangan yang optimal, sesuai dengan usianya. Kegiatan ini meliputi pelbagai
kegiatan untuk merangsang perkembangan anak, antara lain: latihan gerak, bicara, berpikir,
mandiri serta bergaul. Stimulasi perkembangan dapat dilakukan oleh orang tua atau anggota
keluarga lainnya setiap saat ketika bersama dengan anak. Kegiatan ini pada hakekatnya
diberikan setiap ada kesempatan bersama anak, melalui kegiatan sehari-hari di dalam rumah
atau di luar rumah. Setiap orang tua diberi kebebasan untuk mengembangkan cara stimulasi
yang diberikan kepada anaknya, dengan memperhatikan jenis kemampuan yang perlu dilatihkan
kepada anak sesuai dengan umurnya dan prinsip-prinsip stimulasi.
Prinsip-prinsip dalam melakukan stimulasi perkembangan.
Stimulasi perkembangan dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Sebagai ungkapan rasa cinta dan kasih sayang, bermain dengan anak sambil menikmati
kebahagiaan bersama anak.
2. Bertahap dan berkelanjutan, serta mencakup 4 bidang kemampuan perkembangan.
3. Dimulai dari tahapan perkembangan yang telah dicapai oleh anak.
4. Dilakukan dengan wajar, tanpa paksaan, hukuman, atau bentakan bila anak tidak mau
melakukan kegiatan yang dilatihkan.
5. Anak selalu diberi pujian atas keberhasilannya.
6. Alat bantu stimulasi, bila perlu, dicari yang sederhana dan mudah didapatkan. Misalnya
mainan yang dibuat sendiri dari bahan bekas, alat-alat yang ada disekitar rumah, atau bendabenda yang terdapat di alam sekitarnya.
7. Suasana dibuat menyenangkan, segar, dan bervariasi, agar tidak membosankan.

INDIKATOR PERKEMBANGAN ANAK MENURUT UMUR


Umur 0 - 3 bulan
1. Menggerakkan kedua tungkai dan lengan sama mudahnya.
2. Memberikan reaksi dengan melihat kearah sumber cahaya.
3. Mengeluarkan suara (mengoceh).
4. Membalas tersenyum.

Umur 3 - 6 bulan
1. Mempertahankan posisi duduk dengan kepala tegak.
2. Meraih mainan yang ada di dekatnya.
3. Tertawa/berteriak/memekik.
4. Mengenali orang lain dan takut pada orang yang belum dikenal.

Umur 6 - 9 bulan
1. Duduk tanpa penyangga.
2. Memindahkan benda dari tangan atau ke tangan yang lain.
3. Tertawa/berteriak/memekik.
4. Makan biskuit tanpa dibantu.

Umur 9 - 12 bulan
1. Berjalan dengan berpegangan.
2. Mengambil benda kecil dengan jari telunjuk dan ibu jari.
3. Menyebut satu kata atau lebih.
4. Memanggil ayah atau ibu.

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

Umur 12 - 18 bulan
1. Berjalan sendiri dengan baik (tanpa jatuh)
2. Mengambil benda kecil dengan jari telunjuk dan ibu jari atau menyusun tiga buah kubus
tanpa jatuh.
3. Menirukan ucapan orang lain.
4. Minum dari cangkir atau gelas tanpa dibantu.

Umur 18 - 24 bulan
1. Berjalan mundur atau berjalan naik tangga dengan berpegangan.
2. Menyusun tiga buah kubus tanpa jatuh.
3. Menirukan ucapan orang lain atau menunjukkan menyebutkan nama satu bagian tubuh.
4. Menirukan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Umur 2 - 3 tahun
1. Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan.
2. Mencontoh membuat garis lurus.
3. Menunjuk dan menyebutkan nama tiga bagian tubuh.
4. Buang air besar dan buang air kecil pada tempatnya atau bermain bersama dengan temanteman.

Umur 3 - 4 tahun
1. Berjalan jingjit.
2. Membuat garis lurus.
3. Mengenal satu warna.
4. Mematuhi peraturan-peraturan sederhana.

Umur 4 - 5 tahun
1. Menangkap bola yang dipantulkan.
2. Membuat gambar lingkaran.
3. Memahami pengertian besar dan kecil.
4. Mencuci dan mengeringkan tangan tanpa dibantu.

KUESIONER PERILAKU ANAK PRA SEKOLAH


Kuesioner perilaku anak prasekolah adalah sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan
sebagai alat untuk mendeteksi secara dini kelainan-kelainan perilaku anak prasekolah.
Kegunannya: Dengan alat ini ditemukan kelainan perilaku anak secara dini, sehingga tindakan
tepat dapat segera dilakukan.
Cara melakukannya:
Selain dapat digunakan oleh petugas kesehatan lapangan, kuesioner ini dapat dilakukan pula
oleh kader, guru dan orang tua
1. Lengkapi data dasar dengan mengisi formulir yang disediakan.
2. Lengkapi data perilaku anak dengan mengisi formulir yang tersedia.
Cara menilai
1. Berikan nilai untuk setiap
- Tidak terdapat
- Kadang-kadang terdapat
- sering terdapat

jawaban dalam data perilaku anak :


: bernilai 0
: bernilai 1
: bernilai 2

2. Jumlah nilai jawaban dari data perilaku anak


Bila jumlah nilai kurang dari 17, maka anak tak perlu dirujuk.
Bila jumlah nilai adalah 17 atau lebih, maka anak perlu dirujuk.

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

Data Perilaku Anak :


Dibawah ini tertera 30 macam tingkah laku yang mungkin dapat di temukan pada usia
prasekolah (3 - 6 tahun). Baca dengan teliti kemudian perhatikan apakah tingkahlaku ini
terdapat pada anak yang sedang dibina/diasuh. Tentukan apakah tingkah laku ini tidak
terdapat, kadang-kadang terdapat, atau sering kali terdapat. Kemudian beri tanda X pada tempat
yang sudah desediakan.
Diisi oleh petugas penilai diisi oleh orang tua,guru,kader, petugas petugas
NO

PERILAKU ANAK

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tidak bisa duduk diam, lari-lari atau loncat


Tidak bisa tenang gugup, gelisah
Merusak barang (milik sendiri atau milik orang lain)
Berkelahi dengan anak lain
Tidak disukai anak lain. Kuatir mengenai banyak
hal.
Lebih suka bekerja dan bermain sendiri
Lebih suka belajar dan bermain sendiri
Mudah tersinggung dan cepat marah
Tampak murung, sedih dan tertekan (tidak gembira)
Terdapat
gerakan-gerakan
tak
terkendali
(tik,kedutan) pada wajah dan badan.
Menggigit kuku atau jari.
Tidak menurut bila disuruh.
Sukar memusatkan perhatian atau konsentrasi.
Takut menghadapi situasi atau barang baru.
Rewel atau banyak menuntut.
Berbohong.
Masih ngompolatau berak di celana.
Gagap.
Mempunyai kesulitan bicara.
Suka mengganggu atau menyakiti anak lain.
Takadaperhatian terhadap lingkungannya.
Tidak mau meminjamkan memberi mainan pada
anak lain
Menangis, cengeng
Menyalahkan orang lain
Mudah putus asa
Tidak memperhatikan kepentingan orang lain
Menunjukkan gangguan dalam perilaku seksual
Menendang, menggigit Suka mengganggu atau
memukul anak lain
Suka bengong, melamun
Apakah anda menganggap anak ini mempunyai
masalah tingkah laku

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta

Tidak
terdapat

Kadang
terdapat

Sering
terdapat

DETEKSI DINI PADA REMAJA


Risiko Tinggi Gangguan Kepribadian
Adanya sifat dan sikap yang dimulai sejak remaja dan relatif menetap, seperti :
a. Tidak dapat belajar dari pengalaman hidup;
b. Selalu menderita oleh perbuatannya sendiri, dan membuat orang lain ikut menderita;
c. Tidak merasa bersalah/berdosa walaupun melakukan perbuatan yang tercela;
d. Melakukan tindak kekerasan tanpa perasaan menyesal atau iba melihat oarang lain
menderita;
e. Dalam bergurau sering melampui batas kewajaran, sehingga membuat orang lain menderita;
f. Sering berbuat sesuatu yang mengejutkan orang lain disekitarnya, atau berbuat yang tidak
biasa diperbuat orang pada umumnya;
g. Tidak mampu mengendalikan impuls/dorongan dalam dirinya;
h. Tidak memiliki rasa tanggung jawab, santai, tidak mau bekerja, mudah terseret dalam
tindakan yang merugikan;
i. Selalu ingin menarik perhatian orang lain, sehingga tidak segan berpura-pura, bergaya yang
menyolok dan berlebihan.

Rh Budhi Muljanto, dr., SpKJ RSJD Surakarta