Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

Lesi meniscus merupakan kelainan pada lutut yang paling sering menyebabkan
pasien datang ke dokter spesialis ortopedi. Pengetahuan mengenai lesi meniskus telah
meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.1, 2
Secara anatomis, meniskus merupakan struktur fibrocartilago yang terletak di
antara condylus femoralis dan tibia. Meniscus terdiri atas dua bagian yaitu bagian
meniskus medialis dan meniskus lateralis.3 Meniscus medialis memiliki bentuk seperti
huruf C sedangkan bagian lateral memiliki bentuk lingkaran tidak sempurna yang
lebih pendek dengan jarak lebih dekat menyerupai Tanduk. Meniscus medialis lebih
sering mengalami robekan, sebagian disebabkan oleh bentuknya yang berbeda, tetapi
juga disebabkan oleh hubungannya terhadap ligamen kolateral medial, sedangkan
bagian lateral tertarik keluar dari kompresi antara femur dan tibia oleh popliteus.2
Meniscus lutut memiliki fungsi : (1) Menyerap getaran dan menyalurkan beban
yang ada pada sendi; (2) meningkatkan stabilitas sendi; (3) memberikan nutrisi untuk
kartilago sendi; (4) membatasi fleksi dan ekstensi yang berlebihan; dan (5) mengontrol
gerakan sendi lutut.2, 4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi dan Fisiologi


Secara embriologis, meniskus terbentuk dari jaringan mesenkim dan tampak
sebagai struktur yang jelas pada minggu ke delapan hingga ke sembilan masa
kehamilan. Pada tahap awal struktur ini terdiri dari jaringan yang memiliki selularitas
yang tinggi. perubahan progresif dan bertahap terjadi dari saat lahir hingga masa remaja,
terjadi penurunan selularitas, penurunan vaskularisasi, dan peningkatan kandungan
kolagen. Semakin bertambahnya usia, serat kolagen menjadi berorientasi disebabkan
oleh adanya adaptasi terhadap berat badan dan stres.1
Meniscus merupakan struktur fibrocartilago yang terletak diantara condylus
femoralis dan tibia.5 Meniscus terdiri atas dua bagian yaitu bagian meniskus medialis
dan meniskus lateralis.3 Meniscus medialis memiliki bentuk seperti huruf C (Gambar
1), sedangkan bagian lateral memiliki bentuk lingkaran tidak sempurna yang lebih
pendek dengan jarak lebih dekat menyerupai U(Gambar 1).2, 3

Gambar 1. Tampakan Superior6

Meniscus lutut mendapatkan suplai perdarahan dari cabang superior dan inferior
arteri genikulata medial dan lateral menyuplai bagian perifer meniskus melalui pleksus
kapilaris perimeniscus.2
Mensiscus memiliki fungsi diantaranya :7

Berkontribusi menjaga stabilitas sendi lutut


Menyerap 40% - 70% beban berat pada sendi lutut
Beraksi sebagai penyerap kejutan
Menyediakan nutrisi bagi tulang rawan sendi melalui distribusi cairan sinovial
Membantu lutut dalam mekanisme penguncian pada sendi lutut
Membantu pengontrolan gerakan sendi lutut.

2. Epidemiologi
Lesi meniskus merupakan kelainan pada lutut yang paling sering menyebabkan
pasien datang memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah tulang 3. Diantara kedua
meniskus, yaitu meniskus medialis dan lateralis, meniskus medialis merupakan bagian
yang paling sering mengalami cedera, dengan angka kejadian cedera meniskus medialis
sebesar 71 persen dari kasus.7
Robekan meniskus terjadi karena suatu gaya geser antara femur dan tibia. Pada
pasien yang lebih muda, hal ini biasanya terjadi karena adanya gaya memutar pada lutut
yang fleksi dengan beban berat. Hal ini sering kali menimbulkan robekan bucket
handle(Gambar 2), dimana terdapat robekan vertikal atau oblik di bagian posterior
tanduk menuju tanduk anterior, membentuk bagian yang bebas yang masih tetap
melekat pada bagian anterior dan posteriornya. Pada pasien yang lebih tua, robekan
umumnya disebabkan oleh degenerasi yang berkaitan dengan usia dan menimbulkan
robekan horizontal. Perbedaan tipe robekan antara populasi-populasi tersebut dapat
dijelaskan dengan struktur jaringan fibrosa tiga dimensi meniskus : delaminasi
horizontal terjadi pada cedera degeneratif, sementara struktur fibrosa ruptur dalam
bentuk vertikal pada pasien yang lebih muda. Kejadian robekan meniskus dapat
mencapai 6 per 1000 populasi dengan 2,5-4 diantaranya didominasi oleh laki-laki. Usia
puncak cedera terjadi pada usia 20-29 tahun. Meniscusektomi parsial (pengangkatan

bagian robekan) merupakan salah satu prosedur bedah ortopedi yang paling sering
dilakukan.2

3. Klasifikasi
Lesi meniskus medialis (Gambar 2) merupakan lesi pada meniskus yang paling sering
terjadi dengan insiden lebih dari 71 persen kasus. Lima persen diantaranya merupakan
lesi meniskus medialis bilateral. Meniscus lateralis lebih jarang mengalami cedera
dibandingkan dengan meniskus medialis karena strukturnya memiliki diameter yang
lebih kecil, lebih tebal disisi perifer, lebih lebar, lebih mobile, melekat pada kedua
ligamentum cruciatum dan stabil secara posterior terhadap condylus femoralis melalui
popliteus.

Gambar 2. Tipe-tipe cedera meniskus (A) Robekan Longitudinal, (B) Robekan Radial, (C) Robekan
Horizontal, (D) Bucket Handle tear, (E) Robekan parot beak, dan (F) Robekan segmental7

3. Diagnosis
Diagnosis klinis terhadap lesi meniskus sangat bergantung pada kemampuan dan
pengalaman dari dokter yang menangani, baik dalam melakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiografi.

3.1 Anamnesis
Dalam melakukan anamnesis penting kiranya ditanyakan mengenai keluhan dan
gejala yang dialami oleh pasien, dan mekanisme terjadinya cedera (Bagan 1). Pasien
dengan kelainan meniskus biasanya datang dengan gejala-gejala yang timbul pada garis
sendi, baik medial atau lateral. Pada kasus-kasus trauma, cedera terjadi ketika lutut
dalam posisi fleksi, menahan beban disertai dengan gerakan rotasi. Suatu letupan dapat
dirasakan ataupun tidak dirasakan. Gejala biasanya memburuk ketika pasien melakukan
gerakan fleksi pada lutut dan mendapatakan beban pada sendi lutut, dan pada saat
aktivitas seperti jongkok dan berlutut yang tidak dapat ditoleransi dengan baik. Pasien
sering kali akan mengeluhkan sensasi meletup dan lengket yang terjadi pada saat
menggerakkan lutut yang menyebabkan keterbatasan dalam ROM.1

Untuk cedera pada meniskus medialis, pasien biasanya mengalami keluhan pada
sendi lutut yang terkena berupa pembengkakan ringan dan rasa nyeri. Pada keadaan
akut, penting untuk diketahui apakah gangguan ekstensi penuh yang dialami terjadi
pada saat cedera terjadi [locking
knee (40%) akibat fragmen yang
mengalami displasi] atau hari
berikutnya setelah cedera terjadi
(pseudolocking

akibat

harmstring

Dalam

spasm).

kondisi kronis, rekuren locking


biasanya

terjadi.

Bila

tidak,

gejala yang timbul dapat berupa


slipping atau catching pada garis
sendi.1, 2, 5 Mekanisme terjadinya
cedera pada usia muda terjadi
akibat adanya gerakan memutar
atau jongkok,2, 5 sedangkan pada
usia tua, fibrosis menyebabkan
menurunnya mobilitas meniskus
dan oleh karena itu robekan
dapat terjadi meskipun dengan
gaya yang kecil. Selain itu, faktor predisposisi yang berperan dalam terjadinya cedera
pada meniskus yaitu bentuk meniskus yang abnormal, stres abnormal yang disebabkan
oleh kelemahan ligamen kronik. 7
Sedangkan cedera pada meniskus lateralis, keluhan yang dialami pasien hampir
sama dengan cedera yang terjadi meniskus medialis. Namun, terkadang rasa nyeri yang
dirasakan lebih hebat, dan menimbulkan gejala mekanik yang lebih sedikit
dibandingkan

dengan

robekan

pada

meniskus

medialis.

Pasien

mungkin

memberitahukan adanya riwayat lesi kistik secara langsung pada garis sendi lateral. Dan
untuk mekanisme terjadinya cedera sama dengan mekanisme cedera pada meniskus
medialis. 5

3.2 Pemeriksaan
3.2.1 Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan fisik selalu mulai dengan pengukuran tinggi badan dan berat badan.
Indeks masa tubuh pasien sebaiknya dihitung untuk adanya kemungkinan beban yang
didapat oleh lutut dipengaruhi oleh berat badan dan kemungkinan karakteristik robekan
yang terjadi pada masing-masing individu yang berbeda. Sebagai contoh, robekan
meniskus degeneratif terjadi dalam keadaan obesitas. Selanjutnya, wanita dengan indeks
masa tubuh yang tinggi memiliki kecenderungan untuk terjadinya avulsi akar meniskus.
Pasien sebaiknya diminta untuk menggunakan celana pendek sehingga pemeriksaan
pada kedua lutut dapat dilakukan. Pakaian yang digunakan sebaiknya nyaman dan
berada di atas lutut untuk memudahkan pemeriksa selama pemeriksaan berlangsung.8
3.2.2 Inspeksi
Inspeksi pada lutut dimulai dengan mengevaluasi cara berjalan pasien. Lutut
harus digerakkan secara halus sesuai dengan siklus berjalan normal (Gambar 3).
Selama fase saing, quadricep berkontraksi untuk mengekstensikan lutut dan memulai
akselerasi ekstremitas bawah dari posisi fleksi. Pada titik tengah fase swing, paha
belakang mulai berkontraksi untuk mendeselerasi tungkai bawah mempersiapkan
tapakan tumit. Lutut mencapai ekstensi penuh pada saat tapakan tumit dan kemudian
kembali fleksi pada saat telapak kaki dalam posisi datar dan porsi tengah fase stance.
Dorongan kemudian menandai akhir dari fase stance dan mulainya fase swing
berikutnya. Pasien dengan robekan meniskus atau perubahan degeneratif pada lutut
sering kali merasakan nyeri selama fase stance (sikap) siklus berjalan. Push off dapat
menjadi suatu masalah bagi pasien dengan kondrosis berat.8
Pemeriksa selanjutnya harus mengevaluasi alignment sendi lutut. Lutut yang
normal sedikit valgus dengan sudut tibiofemoral sekitar 6o. Kelainan varus dapat
meningkatkan stres pada meniskus medialis sedangkan kelainan valgus dapat
meningkatkan tekanan kontak pada meniskus lateralis. Secara respektif, cedera
meniskus medialis dan lateralis berkaitan dengan malalignment valgus dan varus
(Gambar 4).

Gambar 3. Siklus Berjalan Normal


(sumber : http://epomedicine.com/wp-content/uploads/2014/05/gait-cycle-1-1-1-1.png)

Gambar 4. Lutut Normal, Varus dan Valgus


Sumber : http://www.wsiat.on.ca/images/mlo/knee_fig3abc.gif

Inspeksi pada lutut juga harus menilai kulit dan tonus otot. Kelainan kulit seperti
abrasi, laserasi, ekimosis, dan eritema dapat memberikan informasi penting tentang
etiologi nyeri lutut. Kontur otot di atas lutut, terutama atrofi quadricep, dapat
mengindikasikan tidak pernah digunakan dan dapat membantu klinisi untuk
menjelaskan suatu kronisitas.8

3.3.3 Palpasi Sendi Lutut


Dokter harus melalukan palpasi pada tulang, struktur jaringan lunak lutut yang
cedera dan yang normal, dan memberikan perhatian pada area yang mengalami
pembengkakan dan tenderness. Palpasi pada sendi lutut paling baik dilakukan dengan
pasien berbaring dalam posisi supinasi pada meja pemeriksaan untuk memberikan
range of motion penuh. Pemeriksa dapat melakukan pemeriksaan dari bagian anterior
lutut meliputi tendon quadricep, patella, dan tendon infrapatellar. Adanya nyeri lokal
atau palpable defek selama pemeriksaan dapat menjadi indikasi adanya cedera terhadap
mekanisme ekstensor. Ketika mengevaluasi bagian anterior pemeriksaa harus mencatat
adanya tanda-tanda inflamasi yang dapat menjadi inflamasi sekunder terhadap infeksi
atau penggunaan berlebihan. 8
Setelah melakukan pemeriksaan pada struktur anterior, pemeriksa dapat
melanjutkan pemeriksaan pada bagian medial sendi lutut. Rasa nyeri pada palpasi
(Gambar 5) dapat mengindikasikan adanya cedera pada meniskus medialis, ligamen
kolateral medial, atau medial compartment ostheoartritis. Pada bagian posteromedial
lutut, tendon sartorius, gracilis, dan semitendineus dapat dipalpasi yang dapat
mengalami inflamasi dan menyebabkan nyeri pada saat lutut digerakkan. Palpasi
anteromedial garis sendi juga dapat mengindikasikan adanya subluksasi posterior tibia.
Normalnya, step-off tibio femoral sekitar 10 mm dengan tibia menjadi anterior terhadap
femur dengan lutut fleksi sebesar 90o. penurunan step-off dapat mengindikasikan cedera
pada ligamen cruciatum posterior dan struktur kapsul posterior.8
Lateral lutut juga harus dievaluasi secara hati-hati dengan palpasi. Analogi
dengan aspek medial lutut, meniskus lateral dapat dipalpasi pada bagian pinggir atas
lateral tibia (Gambar 5). Rasa nyeri pada saat palpasi dapat mengindikasikan adanya
cedera pada meniskus lateral.

10

Gambar 5. Palpasi meniskus (a) Palpasi meniskus medial (b) Palpasi meniskus lateral8
Tahap akhir dari palpasi sendi lutut adalah menilai efusi intra-artikuler. Ketika
hilangnya lekukan yang berdekatan dengan tendon infrapatellar mengimplikasikan
adanya efusi intra-artikuler yang besar, manuver pemeriksaan fisik spesifik dapat
membantu deteksi efusi yang lebih kecil. Manuver pertama yaitu terbentuknya
gelombang cairan untuk mendeteksi suatu efusi. Dengan ekstensi lutut, cairan intraartikuler dapat dikeluarkan kedalam kantung suprapatellar dengan menggeser tangan
secara proksimal pada patela bagian medial. Bengkakan cairan dapat terlihat pada
medial patela dengan kompresi lateral ini pada lutut yang mengalami efusi intraartikuler. Manuver lainnya adalah dengan pemeriksaan balotemen pada patela.8
3.4 Range of Motion
Dokter harus memeriksakan baik range of motion (ROM) sendi lutut baik secara
pasif maupun aktif. Rentang normal ekstensi sendi lutut normal adalah 0 o 10o, dan
rentang normal fleksi sendi lutut adalah sebesar 130o 150o. Patela sebaiknya
diobservasi secara aktif dan pasif. Krepitasi patellofemoral dapat diobservasi dengan
ROM ketika terdapat adanya osteoartritis patellofemoral. Krepitasi dan/atau nyeri pada
awal fleksi mengindikasi kelainan pada bagian lebih distal patela. Nyeri sendi terjadi
selama pemeriksaan ROM aktif dan pasif seringkali berhubungan dengan patologi intraartikuler sedangkan nyeri yang hanya timbul pada pemeriksaan ROM aktif memiliki
hubungan yang lebih erat terhadap kelainan jaringan lunak ekstra-artikuler.8
3.5 Stabilitas Sendi
Cedera akut dan kronik pada lutut dapat mengakibatkan ketidakstabilan sendi.
Disarankan bahwa lutut yang cedera diperiksa stabilitasnya secepat mungkin setelah

11

cedera. Tes-tes seperti ini sebaiknya dilakukan hanya oleh tenaga yang sudah terlatih
dan profesional secara baik. Lutut cedera dan lutut yang tidak cedera dites dan
dibandingkan atau dibedakan untuk menentukan suatu perbedaan dalam tingkat
stabilitasnya.9
Tes tekanan valgus dan varus merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan
untuk memeriksa tingkat kestabilan dari sendi lutut. Gerakan valgus adalah gerakan ke
sisi luar/samping (lateral), sedangkan gerakan varus adalah gerakan ke sisi
dalam/tengah (medial) dari sendi yang terjadi secara mendadak. Tes tekanan valgus dan
varus dimaksudkan untuk menampakkan kelemahan kompleks kestabilan lateral dan
medial, khususnya serabut ligamen colateral.9
Selain itu, untuk mengetahui stabilitas sendi lutut juga dilakukan pemeriksaan terhadap
ligamen cruciatum anterior dengan pemeriksaan test lachman, anterior drawer, dan pivot shift
(Tabel 1), dan pemeriksaan terhadap ligamen criciatum posterior berupa pemeriksaan posterior
sag sign, posterior drawer, quadriceps active test, dan dial test (Tabel 2).8
Tabel 1. Pemeriksaan fisik ligamen cruciatum anterior 8

Tabel 2. Pemeriksaan fisik ligamentum cruciatum posterior

12

3.6 Evaluasi Meniscus


Setelah selesai melakukan pemeriksaan stabilitas sendi, dokter dapat
mengevaluasi sendi untuk membuktikan adanya cedera pada meniskus. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan diawali dengan evaluasi
meniskus medialis dan meniskus lateralis. Teknik teknik pemeriksaan meniskus yang
dapat digunakan terangkum pada Tabel 3 dan Gambar 6.8
Tabel 3. Teknik pemeriksaan fisik untuk mendeteksi cedera meniskus8

13

14

15

3.7 Pemeriksaan Radiografi


Pada pencitraan dengan foto polos biasanya akan menunjukkan hasil yang
tampak normal, kecuali robekan meniskus telah terjadi untuk waktu yang signifikan.
Setelah hal waktu tersebut, gambaran foto polos mungkin akan menunjukkan adanya
spurrin dan/atau narrowing garis sendi. MRI merupakan modul pencitraan yang saat ini
digunakan menggantikan artrogram untuk mendiagnosis cedera meniskus. Untuk
meniskus medialis, MRI memiliki sensitivitas yang tinggi hingga 94% (Gambar 7).
Sedangkan untuk cedera pada meniskus lateralis, MRI memiliki sensitivitas yang lebih
rendah yaitu sekitar 78% untuk mendeteksi adanya robekan pada meniskus.5

Gambar 7. Kiri : MRI normal lutut ditunjukkan oleh panah


Kanan : posterior horn meniskus medial (panah) yang terpisah dari permukaan
(diagnosis robekan meniskus).1

16

4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non operatif merupakan bagian penting penatalaksanaan
terhadap semua pasien, walaupun tindakan bedah merupakan penatalaksanaan yang
perlu dipertimbangkan. Penatalaksanaan konservatif yang dapat dilakukan adalah
dengan regimen RICE :2

Rest (dengan penyanggah beban)


Ice
Compression bandaging
Elevation ekstremitas yang terkena untuk meminalisasi pembengkakan akut dan
inflamasi.
Penatalaksanaan konservatif jangka panjang meliputi modifikasi, penggunaan

anti inflamasi non steroid (NSAID) dan fisioterapi. NSAID sering direkomendasikan
untuk digunakan selama 8 12 minggu, meskipun paracetamol dapat dipertimbangkan
apabila NSAID di kontra indikasikan atau tidak dapat diteleransi dengan baik oleh
pasien. Yang saat ini juga tersedia, fisioterapi intensif sangat berguna dan sebaiknya
mencakup ROM, aktivitas proprioseptif dan latihan peregangan otot. Fisioterapi 2 kali
per minggu selama sekurangnya 8 minggu sangat dianjurkan.2
Penatalaksanaan non operatif sering kali berhasil pada pasien dengan tipe
robekan tertentu pasien yang tidak kehilangan fungsi sendi, mengalami nyeri atau
pembengkakan minimal dan mampu menurunkan aktivitasnya bersifat sementara atau
jangka panjang.2
Penatalaksanaan bedah biasanya diberikan pada pasien lebih muda dengan
robekan vertikal longitudinal yang di dalam sepertiga luar vaskularisasi meniskus. Hal
ini diistilahkan dengan red-red zone (menunjukkan area vaskular). Perbaikan redwhite zone (area perbatasan antara vascular dan avascular meniskus) bersifat
kontroversial dengan teknik bedah yang berbeda. Robekan pada white-white zone
(zona avaskuler) sangat jarang diperbaiki oleh karena itu segemen yang rusak
diangkat (meniscectomy). Meniscus avaskuler yang rusak harus diangkat. Namun,
meniscectomy menyebabkan osteoartritis jangka panjang, sehingga hanya dilakukan
ketika pasien mengalami locking atau nyeri meniskus yang refrakter terhadap
penatalaksanaan konservatif. Untuk pasien yang memerlukan meniscectomy, autograf

17

meniscal diketahui memberikan hasil yang baik, tetapi tindakan ini hanya dilakukan di
pusat spesialistik.2
Saat ini, salah satu strategi penggantian meniskus berfokus pada regenerasi
jaringan meniskus. Teori regenerasi didasarkan pada skenario yang sama untuk
regenerasi kulit pada pasien luka bakar, seperti regenerasi saraf.1

5. Indikasi Rujuk ke Spesialis Ortopedi


Indikasi absolut untuk merujuk pasien ke spesialis adalah adanya locking pada
lutut hilangnya fungsi sendi yang membutuhkan intervensi bedah. Perujukan juga
diindikasikan apabila diagnosis yang belum pasti sehingga memerlukan pemeriksaan
lebih lanjut oleh spesialis dan penilaian dengan MRI. Pada pasien usia tua, perujukan
cocok dilakukan apabila penatalaksanaan konservatif gagal untuk memperbaiki gejala.
Risiko osteoartritis meningkat apabila struktur meniskus tidak secara berfungsi dengan
optimal, hal ini juga cocok untuk dijadikan pertimbangan untuk dilakukannya perujukan
ke dokter spesialis. Pada pasien yang usia muda, perujukan juga perlu dilakukan apabila
gejala yang dialami pasien tidak membaik dengan cepat.2

18

BAB III
KESIMPULAN

Lesi meniskus merupakan kelainan pada lutut yang paling sering terjadi. Lesi ini
dapat terjadi pada usia muda yang sering disebabkan oleh adanya trauma dan juga dapat
terjadi pada usia tua akibat adanya proses degenerasi.
Diagnosis yang optimal perlu dilakukan untuk mencegah sekuele jangka panjang
pada lutut baik dari segi anatomis dan fungsional lutut. Pemeriksaan yang hati-hati
harus dilakukan baik pada saat melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan radiografi. Dibutuhkan pemeriksa yang memiliki pengetahuan, keahlian
dan pengalaman yang baik untuk dapat menjamin tegaknya diagnosis yang tepat.
Pencitraan menggunakan MRI saat ini merupakan modul pencitraan yang paling
potensial untuk dapat digunakan mendeteksi adanya lesi pada meniskus, namun tidak
bisa menggantikan pemeriksaan klinis berupa anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Penatalaksanaan terhadap lesi meniskus dapat dilakukan secara konservatif dan
operatif. Penatalaksanaan konservatif dengan regimen RICE menunjukkan hasil yang
baik pada lesi meniskus tipe tertentu. Pemberian NSAID untuk menangani proses
inflamasi dan nyeri dapat diberikan pada pasien dari 8 10 minggu, dan dapat diganti
dengan penggunaan paracetamol bagi pasien-pasien yang kontraindikasi dengan
NSAID.

19

DAFTAR PUSTAKA

17

1.

Fan RSP, Ryu RKN. Meniscal Lesions : Diagnosis and Treatment. 2016.

2.

Shiraev T, anderson SE, Hope N. Meniscal Tear : Presentation, diagnosis, and


management. Australian Family Physician. 2012;41(4):182-7.

3.

Mordecai SC, Al-Hadithy N, Ware HE, Gupte CM. Treatment of meniscal tears:
An evidence based approach. World journal of orthopedics. 2014;5(3):233.

4.

Miller RH, Azar FM. Knee Injuries. In: Canale ST, Beaty JH, editors.
Campbell's operative orthopaedics Seventh ed: Elsevier Health Sciences; 2012.

5.

Thompson JC. Netter's concise orthopaedic anatomy: Elsevier Health Sciences;


2009.

6.

Drake R, Vogl AW, Mitchell AW. Gray's anatomy for students: Elsevier Health
Sciences; 2014.

7.

Ebnezar J. Textbook of Orthopedics: With Clinical Examination Methods in


Orthopedics: Boydell & Brewer Ltd; 2010.

8.

McHale KJ, Park MJ, Tjoumakaris FP. Physical Examination fo Meniscus Tears.
Springer Science Business Media New York. 2014.

9.

Priyonoadi B. Berbagai macam tes untuk menentukan tingkat kestabilan sendi


lutut.

18

20