Anda di halaman 1dari 28

TUGAS ILMU PENYAKIT MATA

Disusun oleh :
Ocean Stefanny Yandra. W
406117095

Pembimbing :
dr. Djoko Heru S. Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KUDUS
30 SEPTEMBER 2 NOVEMBER 2013

1. Gambar dan sebutkan bagian dari penampang sagital Bola Mata

Sklera :

Merupakan lapisan terluar dari bola mata


Terbentuk oleh jaringan fibrous dengan serat elastin
Antara lapisan sklera & koroid terdapat ruang sempit berisi sedikit air
spatium perikoroid

Kornea :

Merupakan lanjutan dari sklera, transparan, tebal 0,5-1 mm, tidak mengandung
pembuluh darah
Terdiri dari 5 lapisan :
- Lapisan epitel (berbatasan dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris)
- Lapisan Bowman
- Stroma
- Membran Descemet
- Lapisan endotel
Nutrisi didapat dari a.ciliaris anterior, humor aqueous, dan air mata
Dipersarafi oleh cabang pertama (ophtalmicus) nervus kranialis (trigeminus)

Traktus uvealis :

Terdiri dari :
Iris
-

Permukaan pipih dengan apertura bulat, terletak ditengah pupil


Memisahkan bilik mata depan dan belakang, tdd sfingter dan

otot dilator, mempunyai lapisan berpigmen pekat


Kerja : mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke

dalam mata
Corpus Ciliare
- Tdd : zona posterior, pars plicata proc. Ciliaris, pars plana
Koroid
- Segmen posterior uvea, diantara retina dan sklera
Lensa crystalina :

Bentuknya bikonveks, avaskular, tidak berwarna, transparan, bagian belakang


lebih cembung, diameter 9 mm, tebal 4 mm, terletak di belakang iris & di

depan corpus vitreum


Digantung oleh zonula Zinnii pada proc.ciliaris
Sebelah anterior terdapat aqueous humor, di sebelah posterior terdapat vitreus
Fungsi : untuk memfokuskan cahaya di retina sehingga terjadi gambaran yang
sempurna

Humor aqueous :

Merupakan larutan garam yang encer, mengisi COA


Diproduksi oleh proc.ciliaris pada corpus ciliare

Merupakan lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan


Bagian - bagiannya : pars coeca, pars optica, & ora serrata
Lapisannya tdd : membran limitans interna, lapisan serat saraf, lapisan

Retina :

ganglion, lapisan ppleksiform dalam, lapisan inti dalam, lapisan pleksiform


luar, lapisan inti luar, membran limitans eksterna, lapisan fotoreseptor batang

dan kerucut, epitel pigmen retina (membran Bruch)


Ke arah belakang menerus sebagai nervus optikus

Corpus vitreus :

Badan gelatin jernih dan avaskular, membentuk 2/3 volume dan berat mata
Mengandung 99% air dan 1% kolagen dan asam hialuronat
Fungsi : untuk menyangga bola mata supaya tidak mudah mengkerut
Tidak mengandung pembuluh darah, nutrisinya dari pembuluh darah retina &
corpus ciliare

Conjunctiva :

Merupakan membran yang menutup sklera & kelopak bgn belakang


Mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet

Terdiri dari 3 bagian : c.palpebra (melapisi bgn dalam palpebra), c.bulbi

(melapisi bola mata), c.forniks (peralihan antara c.palpebra & c.bulbi)


Disarafi oleh n.trigeminus
Pada tepi bebas palpebra ada cilia (bulu mata)

2. Gambarkan dan jelaskan Lintasan Penglihatan / Visual Pathway

Lintasan visual merupakan lintasan yang dilalui impuls saraf sejak dari
terbentuknya bayangan di retina sampai terbentuknya kesadaran mengenai adanya obyek
yang dilihat. Lintasan visual mencakup retina, saraf optik, khiasma optikum, traktus
optikus, korpus genikulatum laterale, radiasio optika (traktus genikulokalkarina), korteks
visual (area striata/area 17), dan tingkat kesadaran melihat.
Retina sebagai Film negatif
Agar suatu obyek dapat dilihat maka harus terjadi bayangan di retina dan
bayangan ini harus dapat dihantarkan ke otak, yaitu ke korteks visual di fissura kalkarina
untuk selanjutnya disadari. Dengan demikian kita melihat obyek dengan mata dan dengan
otak. Mekanisme melihat ini sangat rumit dan meliputi melihat bentuk, ruang dan warna.

Bola mata merupakan suatu sistem kamera yang mempunyai sistem lensa, diafragma, dan
film. Sebagai sistem lensanya adalah kornea, cairan akuos, lensa mata dan vitreum.
Sebagai diafragma adalah palpebra dan pupil. Sebagai filmnya ialah retina.
Suatu obyek dapat terlihat paling jelas jika cahaya dari obyek jatuh tepat pada
retina, yaitu makula lutea. Dapat tidaknya cahaya dari jauh tak terhingga terfokus pada
retina saat mata istirahat tergantung pada kekuatan refraksi mata dan panjang aksis bola
mata. Apabila fokus tepat di retina, maka mata tersebut dikatakan emetrop. Apabila fokus
jatuh di depan retina maka dikatakan miop, dan apabila fokus jatuh di belakang retina
maka dikatakan hipermetrop. Jadi agar bayangan jelas, maka dibutuhkan media refrakta
yang jernih dengan kekuatan refraksi yang cocok dengan panjang sumbu bola mata, serta
retina sebagai penangkap bayangan yang baik.
Suatu obyek dapat dilihat jika obyek tersebut mengeluarkan cahaya atau
memantulkan cahaya. Terjadinya bayangan di retina serta timbulnya impuls saraf untuk
dikirim ke fissura kalkarina menyangkut perubahan kimia fotoreseptor di sel sel konus
dan basilus. Bayangan yang terjadi di retina dibandingkan dengan obyeknya adalah lebih
kecil, terbalik, hitam dan dua dimensi ( panjang dan lebar, atau datar)
Nervus optikus
Bayangan dari retina akan dibawa mula-mula oleh saraf optik untuk menuju
fissura kalkarina. Satu nervus optikus tersusun kira kira oleh 1,2 juta axon yang berasal
dari sel sel ganglion di retina. Yang disebut nervus optikus adalah serabut saraf yang
terletak antara papil nervus optikus sampai khiasma optikum, sedangkan yang dari
khiasma optikum sampai korpus genikulatum lateral disebut traktus optikus. Sebenarnya
serabut saraf tadi sejak dari sel ganglioner sampai korpus genikulatum laterale adalah
traktus dan bukan saraf tepi, dan memiliki sifat fisiologis maupun patologis sebagai
traktus. Namun demikian nama nervus optikus tetap dipakai untuk menamai bagian saraf
yang terletak antara papil N II dan khiasma optikum, walaupun sebenarnya ini salah.
Yang merupakan nervus optikus yang sebenarnya hanyalah serabut saraf yang sangat
pendek yang berupa sel bipolar yang terletak pada retina yang menghubungkan
fotoreseptor dengan sel ganglioner.
Nervus optikus memiliki panjang kira kira 50 mm dari bola mata hingga khiasma
optikum dan dibagi menjadi empat bagian yaitu bagian intraokular ( disebut sebagai papil
nervus optikus), bagian intraorbita, bagian intraosea, dan bagian intrakranial. Papil N II
( diskus optikus, optic disc, optic nerve head, atau bintik buta) merupakan tempat

berkumpulnya serabut serabut saraf yang berasal dari sel sel ganglioner dari seluruh
permukaan retina. Panjang papil saraf optik adalah 1 mm, dengan diameter 1,5 mm.
Bentuk papil tergantung pada besarnya foramen skleralis posterior. Pada orang miopik,
kanalis tadi besar sehingga papil tadi besar dan datar, dan terdapat cekungan yang lebih
dalam. Pada mata hiperopik kanalis tadi lebih kecil sehingga papil tampak lebih
menonjol. Hal ini disebabkan karena jumlah serabut saraf tiap orang relatif sama,
sehingga pada mata miopik lubang yang dilewati adalah longgar dan pada mata hiperopik
lubang yang dilewati lebih sempit sehingga pada mata hiperopik serabut sarafnya lebih
berdesakan dan tampak seperti tergencet oleh kanalis skleralis dan tampak menonjol.
Nervus optikus intraorbita panjangnya kira kira 20-30 mm, memanjang antara
bola mata sampai foramen optikum, berbentuk huruf S dengan diameter 3-4 mm. Karena
bentuknya seperti huruf S dan panjang, maka bola mata bisa bergerak bebas tanpa
menyebabkan ketegangan nervus optikus. Nervus optikus intraosea adalah nervus optikus
yang berjalan pada kanalis optikus, dan panjangnya kira kira 5 mm. Nervus optikus
intrakranial merupakan bagian nervus optikus setelah keluar dari kanalis optikus ke
kavum kranii sampai khiasma optikum, dan panjangnya kira kira 10 mm.

Perlu

ditekankan bahwa pada perjalanannya serabut saraf dalam nervus optikus sampai di
korpus genikulatum laterale terjadi perubahan perubahan letak atau penataan yang rumit.
Kiasma optikum
Ukuran anteroposterior khiasma kira-kira 8 mm, dan ukuran kanan kirinya kira
kira 12 mm, serta tingginya 4 mm. Khiasma optikum merupakan setengah silang
(hemidekuassio) nervus optikus kanan dan kiri. Pada khiasma ini serabut saraf dari retina
temporal tidak menyilang, sedangkan yang dari nasal mengadakan persilangan. Pada
khiasma tidak terjadi pergantian neuron.
Traktus optikus
Kedua traktus optikus mulai dari tepi posterior khiasma, kemudian berjalan
divergen, melingkupi pedunkuli serebri untuk berakhir pada korpus genikulatum laterale.
Korpus genikulatum lateral
Korpus genikulatum lateral merupakan akhir serabut aferen lintasan visual
anterior. Di sini serabut yang menyilang maupun tidak tersusun sebagai lapisan berselang
seling. Dari korpus genikulatum lateral akan terdapat neuron visual akhir yang akan

membentuk radiasio optika (traktus genikulokalkarina) untuk menuju korteks visual


primer di fissura kalkarina
Radiasio optika
Radiasio oprika berjalang meyebar dari korpus genikulatum laterale inferior,
melingkupi bagian depan kornu ventrikel lateral, kemudian ke belakang dan berakhir
pada korteks kalkarina atau area striata di lobus oksipital.
Korteks visual
Pada fissura kalkarina lobus oksipital terdapat korteks visual atau area 17. Di
sinilah berakhir impuls dari retina. Funssi korteks visual primer adalah untuk deteksi
organisasi ruang atau pemandangan visual, yaitu deteksi bentuk obyek, kecerahan bagian
bagian obyek, bayangan dan sebagainya. Pada korteks visual terdapat penataan
retinotopik, artinya bahwa titik titik tertentu pada retina mempunyai hubungan yang pasti
dengan titik titik tertentu pada korteks visual primer. Separuh kanan kedua retina
berhubungan dengan korteks visual kanan, dan separuh kiri kedua retina berhubungan
dengan korteks visual kiri. Selanjutnya makula sesuai dengan polus oksipital dan retina
perifer sesuai dengan daerah konsentris di depan polus oksipital. Bagian atas retina sesuai
dengan bagian atas korteks visual dan bagian bawah sesuai dengan bagian bawah korteks
visual.
Fossa yang kecil itu, karena fungsinya amat penting, yaijtu untuk ketajaman
penglihatan dan penglihatan detil, maka menempati daerah seluas 35% korteks visual
primer. Pada korteks visual primer terdapat sel sel untuk deteksi cahaya bulat, deteksi
garis, orientasi garis, perubahan orientasi, deteksi panjang garis, dsb. Disamping itu, juga
terdapat deteksi warna. Rangsang dari kedua mata juga disatukan di sini. Di luar area 17
terdapat area 18 dan area 19. kedua area ini disebut sebagai korteks visual sekunder. Area
area ini berfungsi untuk pemrosesan visual lebih lanjut.
Tingkat kesadaran penglihatan
Tingkat kesadaran penglihatan belum jelas benar, mungkin di korteks serebri
tertentu, atau mungkin juga secara difus atau juga ada asosiasinya dengan korteks
temporal. Mungkin juga proses psikologis ikut berperan dalam kesadaran penglihatan.
Memang dalam proses melihat ini masih tersangkut pula bagian-bagian dari otak
yang lain yang ikut berperan. Ini terbukti dari adanya kerusakan bagian-bagian tersebut

akan disertai gangguan dalam kesadaran penglihatan. Bagian=bagian tadi disebut sebagai
pusat visual sekunder, yang meliputi kolikulus superior, thalamus, lobus parietal, lobus
frontal, lobus temporal, dan korpus kalosum.
Setelah seluruh proses melihat ini berlangsung maka akan timbul kesadaran akan
adanya obyek yang dilihat dan obyek tadi akan bersifat lebih besar, tegak lurus, tiga
dimensi dan berwarna warni. Disamping itu juga dikenal namanya, kegunaannya.

3. Gambarkan produksi & sirkulasi humor aqueous

Cairan akuos diproduksi oleh badan silier, yaitu pada prosesus siliaris. Humor
aquos berjalan dari Kamera Okuli Posterior ke Kamera Okuli Anterior, kemudian
melewati trabekulum untuk menuju ke kanan Schlemm, kemudian ke kanal kolektor
akhirnya ke sistem vena episklera untuk kembali ke jantung.
Outflow dari humor aqueous tergantung pada:
Lebar sudut bilik mata depan (COA)
Kerapatan jaringan trabekulum Meshwork

4. Sebutkan pembagian jenis Katarak beserta gejala dan tanda pada tiap stadium

Berdasarkan usia, katarak dapat diklasifikasikan menjadi:


Katarak

Bayi berusia kurang dari 1 tahun

Kongenital

Katarak kongenital digolongkan:


-

Kapsulolentikular : katarak kapsular dan katarak


Polaris

Katarak lentikular : mengenai korteks / nucleus lensa


saja

Pada pupil mata bayi akan terlihat bercak putih


(leukokoria)

Komplikasi :
o

Ambliopia sensoris (ambyopia ex anopsia) : macula


lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan
walau diekstraksi visus tidak akan mencapai 6/6

Nistagmus dan strabismus


Terbentuknya pada usia 3 bulan - 9 tahun

Katarak yang lembek

Katarak
Juvenil

Katarak Senil

Biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital


Usia di atas 50 tahun

Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti


Katarak Insipien
Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan
posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak
subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat pada anterior subkapsular posterior,

celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda
Morgagni) pada katarak insipient. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh
karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadangkadang menetap untuk waktu yang lama.
Ciri :

Visus masih cukup baik

Bertambah kabur bila bertambah usia

Fundus reflek masih positif

Kekeruhan ditepi lensa.

Katarak Intumesen
Kekeruhan lensa disertai dengan pembengkakan lensa akibat lensa yang
degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa
menjadi bengkak dan besar yang mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal. Pencembungan lensa ini dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak
intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan
myopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan
mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang mengakibatkan miopisasi. Pada
pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat
lensa.
Katarak Imatur
Sebagian lensa keruh. Dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya
tekanan osmotic bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa mencembung
akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaucoma sekunder.
Ciri :
Visus bertambah kabur t.u sore-malam
Kekeruhan belum merata, bisa dinukleus atau di kapsul posterior
Fundus reflek mulai suram
Bisa terjadi komplikasi glaucoma

Katarak Matur
Telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi
ion kalsium yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan
maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal.
Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang dapat mengakibatkan kalsifikasi lensa.
Kedalaman bilik mata depan akan normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada
lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
Ciri :

Kekeruhan lensa merata

Visus 1/300 1/

Fundus reflek (-)

Katarak Hipermatur
Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau
lembek dan mencair. Masa lensa berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga
lensa mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata
dalam dan lipatan kapsul lensa. Terkadang pengkerutan berjalan terus sehingga
hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berlanjut disertai
kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar,
korteks akan berbentuk seperti sekantung susu disertai nucleus yang terbenam di
dalam korteks lensa karena lebih berat (katarak Morgagni).
Ciri :

Kekeruhan lensa merata

Daerah kortek mulai mencair

Nukleus mengendap kebawah

Bisa terjadi glaucoma

Perbedaan Stadium Katarak Senil


Keterangan
Kekeruhan
Cairan Lensa

Insipien
Ringan
Normal

Imatur
Sebagian
Bertambah
(air masuk)

Matur
Seluruh
Normal

Hipermatur
Masif
Berkurang (air dan
masa lensa keluar)

Iris
Bilik Mata

Normal
Normal

Terdorong
Dangkal

Normal
Normal

Tremulans
Dalam

Depan
Sudut Bilik

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Mata
Shadow Test
Penyulit

Negatif
-

Positif
Glaucoma

Negatif
-

Pseudopos
Uveitis + glaukoma

5. Sebutkan pembagian secara klinis Glaukoma beserta gejala dan tanda


Glaucoma primer

Sudut terbuka (Simpleks) akut


1. Peningkatan TIO.
2. Perubahan lapangan pandang
3. Mata terasa sakit pada pagi hari
Sudut Tertutup /Sudut Sempit kronik
1. Peningkatan TIO
2. Bilik mata depan dangkal
3. Edema kornea
4. Dilatasi pupil

Glaucoma kongenital

5. Kemerahan di badan silier.


Primer atau infantile : epifora, fotofobia,

Glaucoma sekunder

mata besar, kornea buram.


Menyertai penyakit kongenital lainnya
o Kelainan lensa : luksasi, pembengkakan,
fakoltik
o Kelainan uvea : uveitis, tumor
o Trauma: perdarahan dalam bilik mata
depan (hifema), perforasi kornea dan
prolaps iris
o Pembedahan : bilik mata depan yang tidak
cepat
katarak

terbentuk

setelah

pembedahan

o Lainnya: akibat trombosis vena retina


sentral

(rubeosis

iridis),

penggunaan

kortikosteroid berlebih
Glaukoma sudut tertutup :
a. Stadium prodromal/subakut
Gejala : sakit kepala sebelah pada mata yang sakit ( timbul pada waktu sore hari/
ditempat gelap), penglihatan sedikit menurun, melihat hallo disekitar
lampu, mata merah
Tanda : injeksi silier ringan, edema kornea ringan, TIO meningkat
b. Stadium akut/ inflamasi
Gejala : sakit kepala hebat sebelah pada mata yang sakit, kadang disertai mual
muntah, mata merah, penglihatan kabur, melihat hallo
Tanda : injeksi silier, edema kornea, COA dangkal, Tyndall effect (+), pupil
melebar/ lonjong, reflek pupil (-), TIO sangat tinggi.
c. Stadium kronis
Gejala : sakit kepala hebat sebelah pada mata yang sakit, kadang disertai mual
muntah, mata merah, penglihatan kabur, melihat hallo
Tanda : terdapat sinekia closure persisten, injeksi silier, edema kornea, COA
dangkal, Tyndall effect (+), pupil melebar /lonjong, reflek pupil (-), TIO
sangat tinggi
d. Absolut
Gejala dan tanda : penglihatan buta (visus = 0), sakit kepala, mata merah, TIO
sangat tinggi, kesakitan
e. Degenerative
Gejala dan tanda : visus = 0, degenerasi kornea ( bullae,vesikel), mata perih
sekali, TIO tinggi tanpa rasa sakit.
Pembagian Glaukoma Menurut Martin Doyle
Keterangan
Serangan
Tipe
Penderita
COA
Sudut COA

Glaucoma Sudut

Glaucoma Simpleks
(Glaukoma Sudut

Glaucoma Infantil

Decade ke 5

Terbuka)
Decade ke 6

Bayi

Emosional

Arteriosklerotik

Laki-laki > perempuan

Dangkal
Sempit

Normal
Biasa terbuka

Dalam sekali
Kelainan kongenital

Tertutup

Halo
Papil
Tekanan
Kampus
Pengobatan

+ serangan
Ekskavasi bila lanjut
Naik bila diprovokasi
+ bila lanjut
Dini, iridektomi

Prognosis

Dini, baik

+ dini
Variasi diurnal tinggi
Bjerrum, konstriksi
Obat, bila gagal,
trabekulektomi
Sedang/buruk

Dalam sekali
Tinggi
Goniotomi
Buruk

6. Sebutkan pembagian secara klinis berdasarkan letak anatomis Uveitis beserta


gejala dan tanda

Uveitis Anterior
Uveitis anterior disebut juga iritis bila inflamasi mengenai bagian iris dan iridosiklitis
jika inflamasi mengenai iris dan bagian anterior badan silier.
Gejala : fotofobia, nyeri, mata merah, penurunan tajam penglihatan dan lakrimasi.
Tanda : injeksi perikorneal, presipitat keratik, nodul iris, sel-sel aquous, flare,
sinekia posterior, dan sel-sel vitreus anterior.
Uveitis Intermedia
Uveitis intermedia jika peradangan mengenai bagian posterior badan silier dan bagian
perifer retina. Uveitis intermedia disebut juga pars planitis.
Gejala

: floaters (benda apung), penurunan tajam penglihatan yang disebabkan


oleh edema macular kistik kronik.

Tanda

: terdapat infiltrasi sel ke vitreus (vitritis) dengan sedikit sel pada ruang
anterior dan tidak ada lesi inflamasi fokal pada fundus.

Uveitis Posterior

Uveitis posterior jika peradangan mengenai uvea di belakang vitreus.


Gejala :

floaters dan penurunan tajam penglihatan, pandangan sedikit kabur pada


pasien dengan lesi di perifer, pada koroiditis aktif dengan keterlibatan
fovea atau macula, penglihatan sentral bisa hilang.

Tanda :
-

Perubahan vitreus meliputi sel, flare, opasitas, dan yang tersering adalah lepasnya
bagian posterior vitreus.

Koroiditis bercak kuning atau keabu-abuan dengan garis demarkasi yang jelas.

Retinitis retina menjadi putih berawan. Garis demarkasi antara retina yang
sehat dan yang mengalami inflamasi susah dibedakan.

Vaskulitis : inflamasi pada pembuluh darah retina. Bila terkena vena disebut
periflebitis. Bila terkena arteriola disebut periarteritis. Periflebitis > periarteritis.
Periflebitis aktif : gambaran seperti bulu putih yang mengelilingi pembuluh darah.
Ada 3 bentuk uveitis posterior, yaitu :

Tipe unifokal yang biasa terjadi pada toxoplasma uveitis

Tipe multifocal yang biasa terjadi pada histoplasmosis ocular

Tipe geografis yang biasa terjadi pada retinitis sitomegalovirus.

Panuveitis
Merupakan kondisi terdapat infiltrasi sel kurang lebih merata di semua unsur di
traktus uvealis. Ciri morfologi khas seperti infiltrat geografik secara khas tidak ada.
7. Sebutkan pembagian secara klinis ablasio retina berdasarkan penyebab
Ablasi Retina Eksudatif (Serosa dan Hemoragik)

Etiologi : tertimbunnya cairan di bawah daerah retina sensoris tanpa robekan


retina atau tarikan vitreoretina.

Terjadi terutama karena kelainan pada RPE dan koroid.

Pada koroiditis, transudat dan eksudat aka terkumpul di dalam celah potensial
sehingga menyebabkan ablasi retina tanpa didahului oleh adanya robekan retina.

Tindakan bedah jarang diperlukan, penanganan ditujukan pada penyakit yang


menyebabkan keadaan tersebut.

Ablasi Retina Traksional

Etiologi : tarikan retina ke dalam badan kaca.

Keadaan ini ditemukan pada retinopati diabetic proliferative, vitreoretinopati


proliferative, retinopati prematuritas.

Tindakan bedah vitrektomi dan sclera buckle jika diperlukan.

Gejala dan tanda:


a. Metamorfopsi berupa makropsi dan mikropsi
b. Fotopsi (melihat adanya kilatan cahaya beberapa hari sampai beberapa minggu
sebelumnya)
c. Seolah-olah melihat suatu tirai yang bergerak ke suatu arah karena cairan ablasi
bergerak mencari tempat yang rendah
d. Visus sentral hilang jika terjadi di bagian temporal (letak makula lutea). Tetapi
jika terdapat di bagian nasal, visus sentral lebih lambat terganggu
e. Lambat laun tirai makin turun dan menutupi sama sekali matanya (karena
terdapat ablasi retina total sehingga persepsi cahayanya menjadi 0)

Ablasi Retina Rhegmatogen

Etiologi : robekan pada retina defek dari seluruh ketebalan neurosensori retina.
Sub retinal fluid yang berasal dari synchytic vitreous dapat masuk ke dalam celah
potensial dan melepas retina dari dalam.

Gejala yang dialami penderita ablasi retina dapat berupa


o Metamorfopsia yaitu distorsi bentuk, dapat disertai makropsia dan
mikropsia.
o Fotopsia yaitu melihat adanya kilatan-kilatan cahaya beberapa hari sampai
beberapa minggu sebelum ablasi.
o Melihat tirai yang bergerak menutupi pandangan ke arah tertentu, hal ini
disebabkan cairan ablasi yang bergerak ke tempat yang lebih rendah.
o Temporal (macula lutea) penglihatan sentral lenyap.
Nasal penglihatan sentral lebih lambat terganggu.
Lambat laun tirai makin turun dan menutupi sama sekali penglihatan (karena
ablasi retina total), sehingga hanya dapat melihat persepsi cahaya.

8. Sebutkan gejala dan tanda dari ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur dan
bakteri
Ulkus Kornea Bakterial

Ulkus Kornea Jamur

Lesi : bercak putih keabu-abuan yang agak kering, batas tegas irregular dan
terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik.

Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat
satelit-satelit disekitarnya.

Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi
kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.

Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar


disertai hipopion.

9. Sebutkan gejala dan tanda konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri, virus atau
alergi
Bakteri
Purulen
Non purulen
Kotoran/secret
Air mata/lakrimasi
Gatal
Injeksi
Nodul preaurikular
Pewarnaan
Usapan
Sakit tenggorokan&panas

Mengucur
Sedang
Sedikit
Umum
Jarang
Bakteri
PMN
Jarang

Sedikit
Sedang
Local
Lazim
Bakteri
PMN
-

Virus

Alergi

Sedikit
Mengucur
Sedikit
Umum
Lazim
Monosit
Limfosit
Sewaktu-waktu

Sedikit
Sedang
Mencolok
Umum
Eosinofil
-

10. Sebutkan diagnosa banding dari mata merah serta jelaskan gejala dan tandanya
a. Mata merah, Visus Normal
i. Sekret (-)
1. Pinguekula
2. pterigium
3. Hematoma subkonjungtiva
4. Episkleritis- skleritis
ii. Sekret (+)

: Konjungtivitis

b. Mata merah, Visus turun


i. Keratitis
ii. Ulkus kornea
iii. Uveitis
iv. Glaucoma
v. Endoftalmitis
vi. Panoftalmitis

Sering
Tidak ada
Sedikit kabur

Glaucoma
Akut
Jarang
Tidak ada
Sangat kabur

Trauma atau
Infeksi Kornea
Sering
Encer / purulen
Biasanya kabur

Tidak ada

Sedang

Berat

Injeksi
Konjungtiva
Kornea

Difus, lebih ke
arah fornices
Jernih

Terutama
sirkumkorneal
Biasanya jernih

Terutama
sirkumkorneal
Berkabut

Ukuran Pupil

Normal

Kecil

Respon
Cahaya Pupil
Tekanan
Intraokular
Sediaan Apus

Normal

Buruk

Dilatasi sedang
dan terfiksasi
Tidak ada

Sedang sampai
berat
Terutama
sirkumkorneal
Perubahan
kejernihan
sesuai
penyebabnya
Normal atau
kecil
Normal

Normal

Normal

Meningkat

Normal

Organisme
penyebab

Tidak ada
organisme

Tidak ada
organisme

Organisme
hanya
ditemukan pada
ulkus kornea
akibat infeksi

Insidensi
Sekret
Ketajaman
Penglihatan
Nyeri

Konjungtivitis
Akut
Sangat sering
Sedang-banyak
Tidak ada efek

Iritis Akut

11. Apakah fungsi dari obat-obat berikut :


Mydriasil

Pantocain

Timolol

Pylocarpin

Asetazolamid

Melebarkan pupil
Melumpuhkan otot sfingter iris sehingga terjadi dilatasi
pupil dan mengakibatkan paralisis otot siliar sehingga
melumpuhkan akomodasi.
Diagnostik pemeriksaan tonometer, uji anel, pemeriksaan
dengan goniolens
Untuk bedah pengeluaran benda asing pada kornea atau
konjungtiva.
Menghambat rangsangan simpatis
Menurunkan tekanan bola mata
Tidak mempengaruhi pupil tidak mempengaruhi
akomodasi
Melawan efek obat midriatika
Untuk mengobati glaucoma sudut terbuka dan tertutup
Menurunkan tekanan intraocular.
Mengecilkan pupil pasca bedah lensa
Menurunkan sekresi cairan mata (karena menghambat enzim
karbonik anhidrase sehingga terjadi dieresis).
Menurunkan tekanan bola mata.

Manitol

Gentamicin
Chloramphenic
ol
Efrisel (tetes)

Atropin (tetes)

Mengakibatkan cairan ekstraseluler hiperosmotik sehingga


terjadi dehidrasi sel dan diuresis.
- Mengatur tekanan bola mata dengan mengatur tekanan
osmotik cairan mata.
Efektif untuk bakteri kokus gram positif, gram negative basil,
dan pseudomonas
Efektif untuk kuman gram negative dan positif, klamidia, dan
riketsia.
-Menambah pengaliran keluar cairan mata.
-Menghambat produksi cairan mata pada badan silkier
-Dilatasi pupil tanpa menghambat akomodasi
-Mata menjadi putih akibat konstriksi pembuluh darah
konjungtiva yang melebar
- Melebarkan pupil
- Melumpuhkan otot sfingter iris sehingga terjadi dilatasi pupil
dan mengakibatkan paralisis otot siliar sehingga
melumpuhkan akomodasi.

12. Apakah yang dimaksud dengan :


Hipopion

Penimbunan sel radang di kamera


okuli bagian depan

Hifema

Adanya darah dalam aqueous humor


yang dapat terjadi akibat trauma
tumpul yang merobek pembuluh darah
iris atau badan silier.

Sinekia
anterior

Perlekatan antara kornea dengan iris.

Sinekia
posterior

Perlekatan antara permukaan anterior


lensa dengan iris

Ratif
presipitat

Timbunan sel di atas endotel kornea

Infiltrate

Penetrasi interstitium jaringan atau


bahan

Pterigyu
m

Pertumbuhan jaringan fibrovaskular


pada konjungtiva dan tumbuh
menginfiltrasi permukaan kornea.

Trikiasis

Penggesekan bulu mata pada kornea

Entropion

Pelipatan palpebra kearah dalam,


dapat involusional (spastic, senilis),
sikatrikal, atau kongenital.

13. Sebutkan trias akomodasi


Kemampuan lensa untuk akomodasi
Kemampuan mengkonvergensi cahaya
Kemampuan miosis pupil
14. Sebutkan cara koreksi penderita miopia
Miopia bisa dikoreksi dengan lensa sferis negatif terkecil yang memberikan visus 6/6.
Variasi koreksi yang dapat diberikan adalah:
-

Miopia ringan-sedang koreksi penuh yang harus dipakai terus menerus baik
untuk penglihatan jauh maupun dekat. Untuk orang dewasa, di mana kekuatan
miopianya kira-kira sama dengan derajat presbiopianya mungkin dapat membaca
dengan menanggalkan kacamatanya.

Miopia tinggi untuk penglihatan jauh diberikan pengurangan sedikit dari


koreksi penuh (2/3 dari koreksi penuh) untuk mengurangi efek prisma dari lensa
yang tebal. Penderita > 40 tahun, pikirkan derajat presbiopianya, sehingga
diberikan kacamata dengan koreksi penuh untuk jauh, untuk dekatnya dikurangi
dengan derajat presbiopianya.

15. Sebutkan kelainan refraksi dan definisinya

16. Apa yang dimaksud dengan :


a. Enukleasi: tindakan mengangkat seluruh bola mata dan sebagian nervus
optikus, sementara konjungtiva bulbi dan kapsula tenon dipertahankan.

b. Eviscerasi: tindakan membuang seluruh isi bola mata dengan tetap


mempertahankan sclera, kapsula tenon, konjungtiva dan nervus optikus.
c. Afakia: keadaan dimana tidak adanya lensa pada bola mata yang disebabkan
karena dilakukannya tindakan pengangkatan lensa tersebut.
d. Pseudofakos: keadaan dimana lensa yang terdapat pada bola mata merupakan
lensa palsu yang ditanamkan di dalamnya.
e. Endopthalmitis: peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat infeksi
setelah trauma atau bedah atau endogen akibat sepsis.
f. Exenterasi: pengangkatan seluruh isi orbita.
17. Sebutkan pembagian secara klinis dari Retinopathy DM serta gambar
funduskopinya
Derajat I : terdapat mikroaneurisme dengan atau tanpa eksudat lemat pada fundus
okuli

Derajat II : terdapat mikroaneurisme, perdarahan bintik dan bercak dengan atau


tanpa eksudat lemak pada fundus okuli

Derajat III : terdapat mikroaneurisme, perdarahan bintik dan bercak, terdapat


neovaskularisasi dan proliferasi pada fundus okuli.

Derajat IV : vena- vena melebar, sianosis, tampak sebagai sosis.

Derajat yang lebih berat : jika pada gambaran fundus mata kiri tidak sama beratnya
dengan mata kanan.

18. Sebutkan pembagian secara klinisi dari Retinopathy Hipertensi serta gambar
funduskopinya

Mild Hypertensive Retinopathy. Nicking


AV (panah putih) dan penyempitan focal
arterioler (panah hitam) (A). Terlihat AV
nickhing (panah hitam) dan gambaran
copper wiring pada arterioles (panah
putih) (B).
Moderate Hypertensive Retinopathy. AV
nicking (panah putih) dan cotton wool
spot (panah hitam) (A). Perdarahan
retina (panah hitam) dan gambaran
cotton wool spot (panah putih) (B).

Multipel cotton wool spot (panah putih)


dan perdarahan retina (panah hitam) dan
papilledema

19. Sebutkan perbedaan konjungtiva injeksi dan perikorneal injeksi\

Etiologi

Injeksi konjungtiva
Injeksi perikorneal (siliar)
Mekanis, alergi atupun infeksi Radang kornea, tukak kornea,
pada jaringan konjungtiva

benda

asing

radang

pada

jaringan

glaukoma,
Asal
Memperdarahi
Lokalisasi
Warna
Arah aliran/lebar
Konjungtiva
digerakkan

a. konjungtiva posterior
Konjungtiva bulbi
Konjungtiva
Merah
Ke perifer
Mudah digerakkan dari dasarnya.

kornea,
uvea,

endoftalmitis

maupun panoftalmitis
a. siliar
Kornea segmen anterior
Dasar konjungtiva
Ungu
Ke sentral
Tidak ikut serta dengan

Hal ini disebabkan arteri

pergerakan konjungtiva bila

konjungtiva posterior melekat

digerakkan karena melekat erat

longgar pada konjungtiva bulbi

dengan jaringan perikornea

yang mudah lepas dari dasarnya


Dengan epinefrin
1:1000
Sekret
Gejala

sklera
Menciut
+
Gatal

Tidak menciut
Fotofobia
Sakit tekan yang dalam

Pupil
Penglihatan
Gambar

Normal
Normal

sekitar kornea
Pupil iregular kecil (iritis)
dan lebar (glaukoma)
Menurun

20. Sebutkan lapisan-lapisan air mata (tear film) serta sumbernya

Sumber
Lapisan superfisial /
Film lipid
monomolekular
Lapisan akueosa
tengah

Keterangan

Kelenjar meibom

Menghambat penguapan
Membentuk sawar kedap air
saat palpebra ditutup

Kelenjar lakrimal
mayor dan minor

Mengandung substansi larut air


(garam dan protein)
meningkatkan
penyebaran
selaput air mata
meningkatkan penanganan
atas penyebab infeksi
meningkatkan
pengaturan
osmosis
Melapisi sel-sel epitel kornea
dan konjungtiva
meningkatkan lapisan tahan air
meratakan penyebaran air mata

Lapisan musinosa

Sel goblet
konjungtival