Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH KOMUNIKASI,INFORMASI DAN EDUKASI

PELAYANAN INFORMASI OBAT

Oleh :
Dwi Kartika Sari (1301025)
Kelompok III
Anggota :
Ade Magdalena (1301001)
Della Aprila (1301018)
Eka Saputri (1301029)
Elsa Miaqsa (1301030)
M. Ridho Abru Jiwantoro (1301046)
Junida (1101045)
Linda Hedianti (1101048)
Mutia Setiadi (1101060)
S1 VI-A
DOSEN :
Septi Muharni, M.Farm,Apt
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

1 | Pelayanan Informasi Obat

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
atas rahmat dan petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis berupa makalah
yang berjudul Pelayanan Informasi Obat.
Sumber dari makalah ini diambil dari buku-buku yang berhubungan dengan
Pelayanan Informasi Obat, dan lainnya yang ditambah dengan informasi yang didapat
dari pencarian (browsing) di internet dan sumber-sumber lainnya. Diantara sumbersumber tersebut kami susun semua informasi dalam satu makalah sehingga menurut
kami makalah ini sudah cukup informatif.
Terimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian
makalah ini terutama kepada dosen pegampu mata kuliah Komunikasi, Edukasi dan
Informasi, Ibu Septi Muharni, M.Farm, Apt. Makalah ini dibuat agar bisa menjadi
salah satu sumber bacaan yang dapat menambah wawasan pembaca dan juga dalam
memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Komunikasi, Edukasi dan Informasi.
Dalam penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang kami temui
namun kami berhasil menghadapinya dan menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Akhir kata jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaklumi.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Pekanbaru, 16 Maret 2016

Penyusun

2 | Pelayanan Informasi Obat

DAFTAR ISI
Kata pengantar........................................................................................................... i
Daftar isi..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
Latar Belakang............................................................................................... 4
Rumusan masalah.......................................................................................... 6
Tujuan Masalah.............................................................................................. 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 7
Definisi Pelayanan Informasi Obat................................................................ 7
Alasan perlunya Pelayanan Informasi Obat................................................... 9
Sumber Pelayanan Informasi Obat................................................................ 10
Metoda Pelayanan Informasi Obat................................................................. 15
Tujuan Pelayanan Informasi Obat.................................................................. 15
Manfaat Pelayanan Informasi Obat............................................................... 16
Fungsi Pelayanan Informasi Obat.................................................................. 17
Sasaran Pelayanan Informasi Obat................................................................ 17
Kategori Pelayanan Informasi Obat............................................................... 19
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat.............................................................. 20
Pentingnya Pemberian Informasi dan Komunikasi Obat............................... 21
BAB III PENUTUP.................................................................................................... 22
Kesimpulan.................................................................................................... 24
Daftar Pustaka............................................................................................................ 25

3 | Pelayanan Informasi Obat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Seiring dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Indonesia semakin


menyadari akan pentingnya kesehatan. Kondisi tersebut memicu perubahan perilaku
pada masyarakat seperti perilaku masyarakat yang lebih memilih untuk menjaga
kesehatan sebelum terjangkit oleh suatu penyakit, sehingga masyarakat cenderung
lebih aktif untuk mencari informasi tentang kesehatan yang selama ini dianggap
informasi tersebut hanya diketahui oleh praktisi kesehatan.
Pengetahuan dan informasi tentang obat-obatan menjadi salah satu informasi
kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar pengobatan rasional dapat
tercapai dengan baik. Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat dimana
pasien menerima terapi sesuai dengan kebutuhan klinis pasien, dalam dosis yang
memenuhi kebutuhan individual selama periode waktu yang memadai, dan
memberikan biaya terendah bagi mereka dan lingkungan sekitarnya. Penggunaan obat
yang rasional yang meliputi tepat pasien, tepat obat, tepat waktu, tepat dosis, tepat
rute, dan tepat dokumentasi dapat dicapai jika terdapat interaksi yang komprehensif
antara dokter, pasien dan farmasis. Bentuk interaksi antara pasien dan farmasis adalah
dalam bentuk konseling tentang pelayanan informasi obat. Pelaksanaan pelayanan
obat merupakan kewajiban farmasis komunitas yang diatur dalam PP No 51 Tahun
2009 Pasal 1 (Ayat) 1.
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh
farmasis untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias, dan terkini kepada
dokter, farmasis lain, perawat, dan profesional lainnya serta kepada pasien. Pelayanan
informasi obat bertujuan untuk menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien

4 | Pelayanan Informasi Obat

dan tenaga kesehatan lainnya, meningkatkan profesionalisme farmasis, serta


menunjang farmakoterapi dalam rangka penggunaan obat yang rasional. Jenis
kegiatan dari pelayanan informasi dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk,
diantaranya secara langsung maupun tidak langsung. Leaflet, brosur, majalah, tv
merupakan beberapa contoh bentuk kegiatan pelayanan informasi obat dalam bentuk
tidak langsung (pasif), karena memakai media tertentu dalam melaksanakan
pelayanan informasi obat. Sedangkan contoh bentuk kegiatan pelayanan informasi
obat secara langsung (aktif) adalah melalui bentuk penyuluhan, wawancara dan
konseling.
Informasi obat yang baik adalah akurat, obyektif, dan netral. Oleh karena itu
untuk menjamin kualitas informasi obat, maka informasi obat harus disampaikan oleh
sumber yang mempunyai pengetahuan yang memadai yaitu seorang farmasis. Selain
itu sebaiknya informasi obat didapatkan dari tempat dan pelayanan kesehatan seperti
apotek, rumah sakit, puskesmas, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya. Apotek
menjadi salah satu tempat layanan kesehatan yang ideal untuk mengembangkan dan
melaksanakan pelayanan informasi obat.
Pelayanan informasi obat yang baik mengacu pada standar asuhan
kefarmasian (pharmaceutical care) dimana pelayanan yang berorientasi pada
kepuasan dan kebutuhan pasien, sehingga dalam pelaksanaan pelayanan informasi
obat harus didasarkan pada kondisi dan kebutuhan pasien. Oleh karena itu perlu
adanya kesesuaian antara farmasis dan pasien akan jenis informasi obat yang
dibutuhkan, sehingga memperkecil terjadinya kesalahpahaman dalam pelayanan
informasi obat yang mengakibatkan informasi yang diterima oleh pasien tidak sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan pasien, serta tidak dapat dimengerti oleh pasien.
Berdasarkan hal tersebut perlu diketahui kesesuaian antara harapan dengan kepuasan
yang dirasakan oleh konsumen terhadap informasi obat yang didapatkan. Selain itu
juga penting untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen dalam menerima informasi obat.

5 | Pelayanan Informasi Obat

1.2

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Pelayanan Informasi Obat (PIO)?
2. Apa alasan perlunya Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
3. Apa saja sumber Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
4. Bagaimana metode Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
5. Apa tujuan Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
6. Apa manfaat Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
7. Bagaimana fungsi Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
8. Siapa sasaran Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
9. Jelaskan kategori Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
10. Apa saja kegiatan dari Pelayanan Informasi Obat (PIO) ?
11. Apa Pentingnya Pemberian Informasi dan Komunikasi Obat pada Pelayanan
Informasi Obat (PIO) ?

1.3

Tujuan Masalah
1. Agar mahasiswa/i mengetahui definisi dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
2. Agar mahasiswa/i memahami alasan perlunya Pelayanan Informasi Obat
(PIO).
3. Agar mahasiswa/i mengetahui sumber dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
4. Agar mahasiswa/i dapat mengaplikasikan metode dari Pelayanan Informasi
Obat (PIO).
5. Agar mahasiswa/i memahami tujuan dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
6. Agar mahasiswa/i mengetahui manfaat dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
7. Agar mahasiswa/i mampu menjelaskan fungsi dari Pelayanan Informasi Obat
(PIO).
8. Agar mahasiswa/i mengetahui sasaran dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
9. Agar mahasiswa/i mengetahui kategori dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
10. Agar mahasiswa/i memahami kegiatan dari Pelayanan Informasi Obat (PIO).
11. Agar mahasiswa/i memahami akan pentingnya infornasi dan komunikasi obat
pada Pelayanan Informasi Obat (PIO).

6 | Pelayanan Informasi Obat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

PENGERTIAN PELAYANAN INFORMASI OBAT


PIO (Pelayanan Informasi Obat) didefinisikan sebagai kegiatan
penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen,

7 | Pelayanan Informasi Obat

akurat, komprehensif, terkini oleh apoteker kepada pasien, masyarakat maupun


pihak yang memerlukan (Kurniawan dan Chabib, 2010).
Unit ini dituntut untuk dapat menjadi sumber terpercaya bagi para
pengelola dan pengguna obat, sehingga mereka dapat mengambil keputusan
dengan lebih mantap (Juliantini dan Widayanti, 1996).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No
1197/MENKES/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah
Sakit, Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan
oleh apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias, dan terkini
kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.
Ada berbagai macam definisi dari informasi obat, tetapi pada
umumnya maksud dan intinya sama saja. Salah satu definisinya adalah,
informasi obat adalah setiap data atau pengetahuan objektif, diuraikan secara
ilmiah dan terdokumentasi mencangkup farmakologi, toksikologi, dan
farmakoterapi obat. Informasi obat mencangkup, tetapi tidak terbatas pada
pengetahuan seperti nama kimia, struktur dan sifat-sifat, identifikasi, indikasi
diagnostik atau indikasi terapi, mekanisme kerja, waktu mulai kerja dan durasi
kerja, dosis dan jadwal pemberian, dosis yang direkomendasikan, absorpsi,
metabolisme detoksifikasi, ekskresi, efek samping danreaksi merugikan,
kontraindikasi, interaksi, harga, keuntungan, tanda, gejala dan pengobatan
toksisitas, efikasi klinik, data komparatif, data klinik, data penggunaan obat,
dan setiap informasi lainnyayang berguna dalam diagnosis dan pengobatan
pasien (Siregar, 2004).
Definisi pelayanan informasi obat adalah; pengumpulan, pengkajian,
pengevaluasian, pengindeksan, pengorganisasian, penyimpanan, peringkasan,
pendistribusia, penyebaran serta penyampaian informasi tentang obat dalam
berbagai bentuk dan berbagai metode kepada pengguna nyata dan yang
mungkin (Siregar, 2004).
2.2

ALASAN PERLUNYA PELAYANAN INFORMASI OBAT

8 | Pelayanan Informasi Obat

1. Dokter sering menghadapi situasi klinik yang memerlukan informasi untuk


mengambil kesimpulan tentang pengobatan tertentu. Suatu PIO dapat
melayani informasi dengan segera atau agak lama, tergantung pada
kerumitan pertanyaannya. Karena ketidakadaan suatu PIO, dokter harus
mencari dan meneliti, atau meminta pustakawan melakukan pencarian bagi
dokter tersebut. Hal ini kurang menguntungkan, karena akan menghabiskan
waktu dokter dan kurang optimal, kecuali dokter mengetahui secara tepat
artikel yang akan ditelusuri kembali.
2. Pengadaan suatu PIO berkaitan dengan pelaksanaan sistem formularium
rumah sakit yang efisien. Staf PIO menyiapkan monografi evaluasi obat
untuk ditambahkan atau dihapuskan dari formalurium rumah sakit. Proses ini
dapat memberikan pengkajian yang lengkap dari studi yang relevan dan hasil
yang terdoumentasi merupakan dasar untuk diskusi PFT. Hal ini akan
meminimalkan keputusan yang didasarkan hanya pada pengalaman pribadi
dan klinis anggota PFT.
3. PIO selalu membantu memutakhirkan dan memelihara formularium rumah
sakit.
4. Pelayanan PIO penting untuk mendukung apoteker farmasi klinik di unit
pasien (bangsal) dirumah sakit. Apoteker farmasi klinik menerima
pertanyaan dari profesional kesehatan lain dan apoteker tersebut dapat
berkonsultasi dengan PIO. Jika apoteker farmasi klinik beum ada,
keberadaan suatu PIO dapat memperluas pelayanannya secara aktif, dengan
menjunjungi daerah perawatan penderita setiap hari, membantu staf
profesional kesehatan dengan informasi obat. Kegiatan ini juga dapat
menuju kepada pengembangan pelayanan farmasi klinik desentralisasi yang
lebih formal.
5. Suatu PIO adalah sumber materi edukasi dan konseling bagi profesional
kesehatan dan penderita. PIO dapat mempublikasikan buletin yang secara

9 | Pelayanan Informasi Obat

berkala meringkas informasi tentang obat yang diterima masuk kedalam


formularium, memberitahu staf rumah sakit tentang obat yang dihapus dari
formularium,

mendiskusikan

teknik

baru

pemberian

obat,

dan

mengumumkan program farmasi yang baru dirumah sakit. Staf PIO dapat
berfungsi sebagai sumber edukasi yang signifikan bagi staf medik, perawat,
dan staf lain dengan memberikan kuliah, penyaji dalam seminar dan
berpartisipasi aktif dalam kunjungan ke daerah perawatan penderita
(bangsal). Staf PIO dapat mengkoordinasikan pelaporan reaksi obat
merugikan yang meliputi rumah sakit secara keseluruhan bekerja sama
dengan perawat, apoteker klinik, dan staf medik.
6. PIO juga berfungsi sebagai sumber informasi ilmiah yang dapat membantu
kegiatan penelitian dirumah sakit. PIO dapat melayani informasi yang
diperlukan untuk penelitian obat secara klinik, investigasi obat baru, dan
penelitian farmasetik.
2.3

SUMBER-SUMBER INFORMASI
Sumber informasi obat digolongkan menjadi (Kurniawan dan Chabib, 2010) :

1. Sumber informasi primer


Sumber informasi primer adalah artikel original yang dipublikasikan atau yang
tidak dipublikasikan oleh peulis/peneliti, yang memperkenalkan pengetahuan baru
atau peningkatan pengetahuan yang telah ada tentang suatu persoalan.
Sumber pustaka primer antara lain hasil penelitian, laporan kasus, studi
evaluative, dan laporan deskriptif. Pustaka primer memberikan dasar untuk pustaka
sekunder dan tersier.
Contoh dari sumber pustaka primeryang popular diantaranya artikel dalam
majalah ilmiah. Contoh lainnya yaitu prosiding seminar, buku catatan laboratorium,
korespodensi seperti surat dan memo, tesis, disertasi, dan laporan teknis.
Sumber pustaka primer memberikan informasi tentang pokok bahasan tertentu
pada waktu tertentu karena karya tersebut merupakan refleksi pengamatan penulis
saja, hasilnya tidak diinterpretasikan. Keterbatasan utama sumber pustaka primer

10 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

adalah ketidakpastian. Seseorang tidak dapat mencari informasi khusus secara efisien
di dalam pustaka primer, kecuali ornag tersebut memiliki pengetahuan yang
mendalam tentang organisasi dan jenis pustaka.
Pada banyak situasi, apoteker harus menelusuri kembali pustaka primer untuk
menjawab suatu pertanyaan spesifik penderita. Kemampuan penelusuran kembali dan
interpretasi pusstaka primer memerlukan pengalaman melalui praktik yang terus
menerus. Agar apoteker terbiasa dengan pustaka primer maka harus membaca sendiri
pustaka tersebut.
Semua apoteker harus memenuhi suatu komitmen professional, yaitu tetap
mutakhir. Salah satu cara untuk mencapai hal ini (kemutakhiran) adalah dengan
membaca majalah ilmiah secara rutin/berkala.
Contoh pertanyaan informaisobat ynag sering muncul antara lain tentang
penggunaan obat yang baru dipasarkan atau obat yang baru-baru ini dilaporkan
menimbulkan efek merugikan. Untuk menjawab pertanyaam imi diperlukan pustaka
primer.
Contoh beberapa sumber informasi primer Annals of Pharmacotherapy, British
Medical Journal, Journal of American Medical Association (JAMA), The Lnacet,
New England Journal of Medicine.
Sumber informasi primer terbagi menjadi:
a. Studi evaluativ
Eksperimental
- Uji coba klinik
- Penelitian farmasetik
- Pengkajian pendidikan
Pengamatan (observasional)
- Studi pengendalian kasus
- Studi kelompok
- Studi tindak lanjut
- Studi contoh yang representatif
b. Laporan deskriptif
Laporan kasus atau rangakaian kasus
Praktik farmasi
Rangkaian klinik
Program

11 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

Populasi

2. Sumber informasi sekunder


Pustaka sekunder memuat berbagai abstrak yang merupakan sistem penelusuran
kembali untuk pustaka primer dan digunakan untuk menemukan artikel pustaka
primer.
Informasi yang diperoleh dari pustaka sekunder jarang digunakan untuk
keputusan klinik. Dengan pustaka sekunder memungkinkan apoteker memasuki multi
sumber informasi secara cepat dan efisien. Informasi dalam pustaka sekunder
diindekskan dari dari sumber pustaka primer. Saat ini, sumber sekunder dapat
diperoleh dari internet.
Sistem abstrak ini perlu digunakan dengan hati-hati, meskipun isinya akurat dan
mnyediakan beberapa hal yang rinci, tetapi terdapat kemungkinan beberapa hal yang
diabaikan sehingga memungkinkan trjadinya bias dan kesalahpahaman terhadap data
yang ada didalamnya. Oleh karena itu, pustaka sekunder sebaiknya digunakan
sebagai alat bantu untuk menyeleksi dan mengakses sumber informasi primer yang
terkait. Sistem indeks yang terdapat dalam sumber informasi sekunder ini dapat
dijumpai dalam benutk cetakan dan media elektronik (CD0-ROM).
Contoh beberapa informasi sekunder yakni Inpharma,

International

Pharmaceutical Abstract (IPA), Iowa Drug Information Service (IDIS), Medline,


Pharmline, Royal Pharmaceutical Society Electronic Pharmacy Information Covrage
(RPS e-PIC).
Sumber informasi sekunder terbagi menjadi:
Sistem penelusuran manual
Sistem penelusuran terkomputerisasi.
3.

Sumber Informasi Tersier


Pustaka tersier biasanya dikaitkan dengan buku

teks atau acuan umum.

Sumber ini (pustaka tersier) menyoroti data yang diterima secara luas dari pustaka
primer, mengevaluasi informasinya, dan menerbitkan hasilnya. Yang termasuk

12 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

sumber pustaka tersier : buku teks atau data base, kajian artikel, kompendia, dan
pedoman praktis.
Sumber pustaka tersier adalah acuan pustaka yang paling umum digunakan,
mudah dimasuki, dan biasanya dapat memenuhi kebanyakan permintaan informasi
obat spesifik penderita. Sumber tersier memberikan informasi yang disusun dan
dievaluasi dari acuan pustaka yang banyak dan dinyatakan dalam suatu cara yang
praktis. Biasanya dalam pustaka tersier terdapat banyak ahli yang memberi
kontribusi.
Keterbatasan utama pustaka tersier adalah ketinggalan waktu beberapa bulan sampai
mungkin beberapa tahun. Jika dibutuhkana informasi atau pandangan paling mutakhir
diperlukan sumber pustaka sekunder dan primer. Penulis memiliki hak prerogatif
untuk memasukkan dan mengeluarkan informasi sehingga tidak semua bagian dari
pustaka primer perlu menajdi bagian dari pustaka primer perlu menjadi bagian
pustaka tersier.
Contoh beberapa sumber informasi tersier : AHFS Drug Information, Handbook of
Injectable Drug, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Meylers Side Effect of
Drugs, British National Formulary, Martindale : The Complete, Drug Reference.
Sumber Informasi Tersier :

4.

Buku teks atau data base


Kajian artikel
Kompendia
Pedoman Praktis
Sumber Informasi Lain
Yang dimaksud dengan sumber informasi lain adalah sumber informasi yang

tidak termasuk kategori sumber pustaka primer, sekunder, tersier yang mencakup
antara lain : komunikasi dengan tenaga ahli, industri farmasi, dan brosur peneliti.

13 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

Komunikasi tenaga ahli terdiri atas informasi yang tidak dipublikasikan yang
diperoleh khusus dari seoarang tenaga ahli. Komunikasi ini dapat berupa suatu
pendapat didasarkan pada pengalaman tenaga ahli tersebut atau berdasarkan data dari
suatu studi evaluatif pendahuluan yang dipublikasikan.
Sumber sumber Lain :

2.4

Komunikasi tenaga ahli


Brosur investigator
Industri farmasi

METODE PELAYANAN INFORMASI OBAT


Pada umumnya, ada dua jenis metode utama dalam pelayanan informasi obat

kepada pasien, yaitu dengan metode lisan dan tertulis. Apoteker, perlu memutuskan
kapan suatu jenis dari metode itu digunakan untuk memberikan informasi obat
dengan lebih tepat. Dalam banyak situasi klinik, pemberian informasi lisan biasanya
diikuti dengan pemberian informasi tertulis.
a. Informasi tertulis
Informasi tertulis merupakan dokumentasi informasi tertentu yang diberikan
kepada pasien. Keuntungan dari format tertulis adalah memungkinkan pasien
untuk

membaca

ulang

informasi

tersebut

dan

secara

pelan-pelan

menginterpretasikan informasi tersebut (Siregar, 2006). Pemberian informasi


obat secara tertulis dapat dilakukan oleh apoteker dengan jalan memberikan
buletin, leaflet, dan label obat kepada pasien (Anonim, 2004).
b. Informasi lisan
Setelah ditetapkan bahwa informasi lisan adalah tepat, apoteker perlu
memutuskan jenis metode informasi lisan yang digunakan. Ada dua jenis
metode pemberian informasi secara lisan, yaitu komunikasi tatap muka dan
komunikasi telepon. Komunikasi tatap muka dengan pasien lebih disukai,

14 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

komunikasi tatap muka dengan pasien dapat lebih membantu apoteker dalam
menilai keberhasilan pemberian informasi yang dilakukan (Siregar, 2006).
2.5

TUJUAN DAN PRIORITAS PELAYANAN INFORMASI OBAT


Pelayanan informasi obat memiliki tujuan : (Kurniawan dan Chabib, 2010).
a. Menunjang ketersediaan dan penggunaan obat yang rasional,
berorientasi pada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.
b. Menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga
kesehatan, dan pihak lain.
c. Menyediakan informasi

untuk

membuat

kebijakan-kebijakan

yang

berhubungan dengan obat terutama bagi PFT/KFT (Panitia/Komite Farmasi


dan Terapi).
Prioritas Pelayanan Informasi Obat
Sasaran utama pelayanan informasi obat adalah penyempurnaan perawatan
pasien melalui terapi obat yang rasional. Oleh karena itu, prioritas harus
diberikan kepada permintaan informasi obat yang paling mempengaruhi
secara langsung pada perawatan pasien. prioritas untuk permintaan informasi
obat diurutkan sebagai berikut (Siregar,2004) :
Penanganan/pengobatan darurat pasien dalam situasi hidup atau mati
Pengobatan pasien rawat tinggal dengan masalah terapi obat khusus
Pengobatan pasien ambulatori dengan masalah terapi obat khusus
Bantuan kepada staf profesiional kesehatan untuk penyelaesaian tanggung

2.6

jawab mereka
Keperluan dari berbagai fungsi PFT
Berbagai proyek penelitian yang melibatkan penggunaan obat

MANFAAT PELAYANAN INFORMASI OBAT


1. Bagi staf farmasis :
Citra farmasis meningkat
Kepuasaan kerja meningkat
Mendukung kegiatan pharmaceutical care terutama world pharmacist
2. Bagi pasien
Kesalahan penggunaan obat menurun

15 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

Efek obat yang tidak diinginkan menurun


3. Bagi dokter/paramedic dll
Meningkatkan penggunaan obat rasional
Menjamin keamanan dan efektivitas pengobatan
Membantu pemecahan masalah
2.7
FUNGSI PELAYANAN INFORMASI OBAT
Bidang pelayanan :
a. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang masuk (tugas pasif).
b. Memberi masukan kepada KFT/SKFT dalam merumuskan kebijakan
penggunaan obat.
c. Menerbitkan buletin, brosur, leaflet informasi obat.
d. Memberi masukan pada pembuatan atau revisi formularium/PDT.
Bidang pendidikan :
a. Melaksanakan kegiatan pendidikan kepada mahasiswa tingkat profesi,
perawat, PPDS.
b. Mengisis acara simposium/seminar/lokakarya.
Bidang penelitian :
a. Melakukan penelitian penggunaan obat baru dan lain-lain, secara mandiri
maupun bekerja sama dengan pihak lain (misalnya bersama-sama dengan
SKFT melakukan penelitian tentang Drug Utilization Study (DUS) dan
b. Melakukan monitoring efek samping obat (MESO).
2.8

SASARAN PELAYANAN INFORMASI OBAT


Yang dimaksud dengan sasaran informasi obat adalah orang, lembaga,

kelompok orang, kepanitiaan, penerima informasi obat, seperti yang tertera dibawah
ini;
a.

Dokter
Dalam proses penggunaan obat, pada tahap penetapan pilihan obat serta

regimennya untuk seorang pasien tertentu, dokter memerlukan informasi dari


apoteker agar ia dapat membuat keputusan yang rasional. Informasi obat diberikan
langsung oleh apoteker, menjawab pertanyaan dokter melalui telepon atau sewaktu
apoteker menyertai tim medis dalam kunjungan ke ruang perawatan pasiean atau
dalam konferensi staf medis (Siregar, 2004).

16 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

b.

Perawat
Dalam tahap penyampaian atau distribusi oabt kepada PRT dalam rangkaian

proses penggunaan obat, apoteker memberikan informasi obat tentang berbagai aspek
oabt pasien, terutama tentang pemberian obat. Perawat adalah profesional kesehatan
yaang paling banyak berhubungan dengan pasien karena itu, perawatlah yang pada
umumnya yang pertama mengamati reaksi obat merugikan atau mendengar keluhan
mereka. Apoteker adalah yang paling siap, berfungsi sebai sumber informasi bagi
perawat. Informasi yang dibutuhkan perawat pada umumnya harus praktis, seera, dan
ringkas, misalnya frekuensi pemberian dosis, metode pemberian obat, efek samping
yang mungkin, penyimpanan obat, inkompatibilitas campuran sediaan intravena, dll
(Siregar, 2004).
c.

Pasien
Informasi yang dibutuhkan pasien, pada umumnya adalah informasi praktis

dan kurang ilmiah dibandingkan dengan informasi yang dibutuhkan profesional


kesehatan. Informasi obat untuk PRT diberikan apoteker sewaktu menyertai
kunjungan tim medik ke ruang pasien; sedangkan untuk pasien rawat jalan, informasi
diberikan sewaktu penyerahan obatnya. Informasi obat untuk pasien pada umumya
mencangkup cara penggunaan obat, jangka waktu penggunaan, pengaruh makanan
pada obat, penggunaan obat bebas dikaitkan dengan resep obat, dan sebagainya
(Siregar, 2004).
d.

Apoteker
Setiap apoteker suatu rumah sakit masing-msaing mempunyai tugas atau

fungsi tertentu, sesuai dengan pendalaman pengetahuan pada bidang tertentu.


Apoteker yang langsung berinteraksi dengan profesional kesehatan dan pasien, seing
menerima pertanyaan mengenai informasi obat dan pertanyaan yang tidak dapat
dijawabnya dengan segera, diajukan kepada sejawat apoteker yang lebih mendalami

17 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

pengetahuan informasi obat. Apoteker apotek dapat meminta bantuan informasi obat
dari sejawat di rumah sakit (Siregar, 2004).
e.

Kelompok, Tim, Kepanitiaan, dan Peneliti


Selain kepada perorangan, apoteker juga memberikan informasi obat kepada

kelompok profesional kesehatan, misalnya mahasiswa, masyarakat, peneliti, dan


kepanitiaan yang berhubungan dengan obat. Kepanitiaan di rumah sakit yang
memerlukan informasi obat antara lain, panitia farmasi dan terapi, panitia evaluasi
penggunaan obat, panitia sistem pemantauan kesalahan obat, panitia sistem
pemantauan dan pelaporan reaksi obat merugikan, tim pengkaji penggunaan oabt
retrospektif, tim program pendidikan in-service dan sebagainya (Siregar, 2004).
2.9

KATEGORI PELAYANAN INFORMASI OBAT


Lingkup jenis pelayanan informasi obat disuatu rumah sakit, antara lain

seperti tertera dibawah ini:


a. Pelayanan Informasi Obat untuk Menjawab Pertanyaan
Penyedia informasi obat berdasarkan permintaan, biasanya merupakan salah satu
pelayanan yang pertama dipertimbangkan. Pelayanan seperti ini memungkinkan
penanya dapat memperoleh informasi khusus yang dibutuhkan tepat pada
waktunya. Sumber informasi dapat dipusatkan dalam suatu sentra informasi obat
di instalasi farmasi rumah sakit.
b. Pelayana Informasi Obat untuk Evaluasi Penggunaan Obat
Evaluasi penggunaaan obat adalah suatu program jaminan mutu pengguna obat di
suatu rumah sakit. Suatu program evaluasi penggunaan obat memerlukan standar
atau kriteria penggunaan obat yang digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi
ketepatan atau ketidak tepatan penggunaan obat. Oleh karena itu, biasanya
apoteker informasi obat memainkan peranan penting dalam pengenbangan standar
atau criteria penggunaan obat.
c. Pelayanan Informasi Obat dalam Studi Obat Investigasi

18 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

Obat investigasi adalah obat yang dipertimbangkan untuk dipasarkan secara


komersial, tetapi belum disetujui oleh BPOM untuk digunakan pada manusia.
Berbagai pendekatan untuk mengadakan pelayanan ini bergatung pada berbagai
sumber rumah sakit. Tanggung jawab untuk mengkoordinasikan penambahan,
pengembangan, dan penyebaran informasi yang tepat untuk obat investigasi
terletak pada suatu pelayanan informasi obat.
d. Pelayanan Informasi Obat untuk Mendukung Kegiatan Panitia Farmasi dan Terapi
Partisipasi aktif dalam panitia ini merupakan peranan instalasi farmasi rumah
sakit yang vital dan berpengaruh dalam proses penggunaan obat dalam rumah
sakit. Hal ini dapat disiapkan dengan memadai oleh suatu pelayanan informasi
obat.
e. Pelayanan Informasi Obat dalam bentuk publikasi
Upaya mengkomunikasikan informasi tentang kebijakan penggunaan obat dan
perkembangan mutakhir dalam pengobatan yang mempengaruhi seleksi obat
adalah suatu komponen penting dari pelayanan informasi obat. Untuk mencapai
sasaran itu, bulletin farmasi atau kartu informasi yang berfokus kepada suatu
golongan obat, dapat dipublikasikan dan disebarkan kepada professional
kesehatan
Ruang lingkup jenis pelayanan informasi rumah sakit, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pelayanan informasi obat untuk menjawab pertanyaan


Pelayanan informasi obat untuk mendukung kegiatan panitia farmasi dan terapi
Pelayanan informasi obat dalam bentuk publikasi
Pelayanan informasi obat untuk edukasi
Pelayanan informasi obat untuk evaluasi penggunaan obat
Pelayanan informasi obat dalam studi obat investigasi

2.10

KEGIATAN PELAYANAN INFORMASI OBAT


Kegiatan PIO berupa penyediaan dan pemberian informasi obat yang bersifat

aktif atau pasif. Pelayanan bersifat aktif apabila apoteker pelayanan informasi obat
memberika informasi obat dengan tidak menunggu pertanyaan melainkan secara
aktif memberikan informasi obat, misalnya penerbitan buletin, brosur, leaflet,

19 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

seminar dan sebagainya. Pelayanan bersifat pasif apabila apoteker pelayanan


informasi obat memberikan informasi obat sebagai jawaban atas pertanyaan yang
diterima (Anonim, 2006).
Menjawab pertanyaan mengenai obat dan penggunaannya merupakan
kegiatan rutin suatu pelayanan informasi obat. Pertanyaan yang masuk dapat
disampaikan secara verbal (melalui telepon, tatap muka) atau tertulis (surat melalui
pos, faksimili atau e-mail). Pertanyaan mengenai obat dapat bervariasi dari yang
sederhana sampai yang bersifat urgen dan kompleks yang membutuhkan penelusuran
literatur serta evaluai secara seksama (Anonim, 2006).

2.11

PENTINGNYA PEMBERIAN INFORMASI DAN KONSULTASI OBAT


Informasi tentang suatu obat dan promosi yang dilakukan sangat

20 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

mempengaruhi penggunaan obat tersebut dan tinggi rendahnya pemahaman


konsumen mengenai produk tergantung pada tingkat kebenaran informasi yang
disampaikan penjual atau pengusaha serta daya tangkap konsumen yang bersangkutan
(Siregar, 1994).
Untuk menjaga dan memajukan kesehatan, kekuatan mental dan fisik rakyat
adalah pemberian informasi yang cukup mengenai obat pada orang yang memerlukan
informasi oleh orang yang dalam kedudukannya cakap memberikan informasi
tersebut dan orang yang diharapkan tahu banyak tentang obat adalah apoteker. Karena
hal tersebut adalah bidangnya dan menjadi tanggung jawabnya (Anief, 2001).
Pasien perlu informasi obat karena :
a.
b.
c.
d.
e.

Interpretasi pasien beragam terhadap etiket/label obat (signa)


Tingkat pemahaman pasien beragam
Tingkat kepatuhan pasien beragam
Efek samping obat yang mungkin terjadi
Obat populer untuk terapi penyakit tertentu dipakai untuk penyakit lain
(Kimia Farma, 2003).
Informasi obat bagi para pelaku pelayanan berfungsi untuk menyegarkan

kembali pengetahuan mengenai obat dan meningkatkan pengambilan keputusan


dalam memberikan informasi tentang penggunaan obat pada waktu melayani pasien.
Informasi obat juga penting untuk meningkatkan pengetahuan obat dan
penggunaannya secara rasional (Trisna & Yulia, 2001).
Dasar dari konsep pengobatan adalah untuk memberikan kebutuhan pasien
dengan tepat, yakni kebutuhan yang sesuai dengan keadaan kesehatan pasien yaitu
kebutuhan akan pengobatan dan diagnosa yang tepat, dan terakhir adalah kebutuhan
akan informasi dan konsultasi (Santoso, 1994).
Pengalaman menunjukkan bahwa informasi yang tidak proporsional dan benar
akan menyebabkan masalah yang terpendam. Akibatnya akan terjadi kegagalan
terapi. Konsultasi yang diberikan kepada pasien tidak hanya bertujuan untuk
memberikan pengetahuan dan informasi mengenai keadaan dan pengobatan yang
diresepkan, tetapi juga untuk mengajak pasien menuju kebiasaan dan perilaku yang
baik untuk kesehatan. Hasil dari tindakan ini akan lebih baik jika diimbangi dengan

21 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

pengertian dan penerimaan yang baik (Santoso, 1994).

BAB III
KESIMPULAN
1. PIO

(Pelayanan

Informasi

Obat)

didefinisikan

sebagai

kegiatan

penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen,


akurat, komprehensif, terkini oleh

apoteker kepada pasien, masyarakat

maupun pihak yang memerlukan.


2. Sumber informasi obat terdiri dari sumber pustaka primer, sumber pustaka
sekunder,sumber pustaka tersier dan sumber informasi lainnya.
3. Pada umumnya, ada dua jenis metode utama dalam pelayanan informasi obat
kepada pasien, yaitu dengan metode lisan dan tertulis.
4. Salah satu tujuan dari pelayanan informasi obat adalah Menunjang
ketersediaan

dan

penggunaan

obat

yang

rasional, berorientasi pada

pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.


5. Prioritas pelayanan informasi obat harus diberikan kepada permintaan
informasi obat yang paling mempengaruhi secara langsung pada perawatan
pasien.
6. Salah satu fungsinya adalah Memberikan jawaban atas pertanyaan yang
masuk (tugas pasif) serta memberi masukan kepada KFT/SKFT dalam
merumuskan kebijakan penggunaan obat.
7. Sasaran informasi obat adalah orang, lembaga, kelompok orang, kepanitiaan,
penerima informasi obat.

22 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

8. Kegiatan PIO berupa penyediaan dan pemberian informasi obat yang bersifat
aktif atau pasif.
9. Informasi obat bagi para pelaku pelayanan berfungsi untuk menyegarkan
kembali pengetahuan mengenai obat dan meningkatkan pengambilan
keputusan dalam memberikan informasi tentang penggunaan obat pada waktu
melayani pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, M., 2001, Manajemen Farmasi, 2-3, Penerbit Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Anonim, 2004, Keputusan Menkes RI nomor 1027 tahun 2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 2006, Pedoman Pelayanan Informasi Obat Di Rumah Sakit, Dirjen
Pelayanan Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Depkes RI 2006.
Juliantini, E., dan Widayanti, S., 1996, Pelayanan Informasi Obat Rumah Sakit
Umum Daerah Dr Soetomo, Prosiding Kongres Ilmiah XI ISFI, 3-6 juli 1996,
Jawa Tengah.
Kimia Farma, 2003, Pharmaceutical Care diantara Tuntutan Profesionalitas dan
Bisnis, Disampaikan dalam Diskusi Keprofesian 23 April 2003, UGM
Yogyakarta.
Kurniawan, W. K., dan Chabib, L., 2010, Pelayanan Informasi Obat Teori dan
Praktik, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Santoso, 1994, Importance of Patient Counseling, Guest Editorial, Medical Progress
November Supplement, 6-8, Department of Clinical Pharmacology, Fakultas
Farmasi UGM, Yogyakarta.

23 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t

Siregar, 1994, Pelayanan Farmasi yang Baik, Disampaikan dalam The 4th Pan
Pacific Asian Congress on Clinical Pharmacy, 10-14 Juli 1994, Jakarta.
Siregar, Charles. JP., 2004. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Cetakan I,
Penerbit EGC, Jakarta.
Siregar, Charles J.P., dan Endang, K. (2006). Farmasi Klinik: Teori dan Penerapan.
Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Trisna & Yulia, 2001, Pelayanan Informasi Obat, Makalah, 1.

24 | P e l a y a n a n I n f o r m a s i O b a t