Anda di halaman 1dari 12

ALAT MULUT SERANGGA

Oleh :
Nama

: Sari Zakiyah Soltief

NIM

: B1J012159

Rombongan : II
Kelompok

:4

Asisten

: Rahmah Puji Astuti

LAPORAN PRAKTIKUM ENTOMOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia dimata dunia dikenal sebagai negara agraris yang berarti sebagian besar
mata pencaharian dari sekitar

260 Juta jiwa penduduk Indonesia adalah bertani.

Namun dalam tiap kegiatan bertani, seringkali berhadapan dengan berbagai kendala,
diantaranya adalah gangguan hama. Hama adalah organisme yang menyerang tanaman
sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu,
yang berdampak turunnya kualitas dan kuantitas serta kerugian ekonomis bagi manusia
(Borror et al., 1992).
Serangga (disebut pula Insecta, dibaca "insekta") adalah kelompok utama dari
hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka
disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani, berarti "berkaki enam").

Serangga

ditemukan di hampir semua lingkungan kecuali di lautan Hewan ini juga merupakan
contoh klasik metamorfosis. Hama terdapat dalam berbagai jenis, salah satunya yaitu
hama serangga. Setiap serangga mengalami proses perubahan bentuk dari telur hingga
ke bentuk dewasa yang siap melakukan reproduksi. Pergantian tahap bentuk tubuh ini
seringkali sangat dramatis, di dalam tiap tahap juga terjadi proses "pergantian kulit"
yang biasa disebut proses pelungsungan. Tahap-tahap ini disebut instar. Ordo-ordo
serangga seringkali dicirikan oleh tipe metamorfosisnya (Borror et al., 1992).
Serangga adalah invertebrata beruas yang memiliki kerangka luar (eksoskeleton).
Eksoskeleton selain berfungsi sebagai kulit serangga juga berfungsi sebagai penyangga
tubuh, alat proteksi diri, dan tempat melekatnya otot. Kulit serangga disebut integumen
yang terdiri dari kutikula dan lapisan epidermis. Kutikula merupakan lapisan tipis yang
strukturnya sangat kompleks yang terdiri dari epikutikula dan prokutikula. Epikutikula
merupakan lapisan terluar integumen dan merupakan lapisan yang tipis, sedangkan
prokutikula merupakan lapisan tebal yang terdiri atas eksokutikula dan endokutikula
(Ananda, 1978).
B. Tujuan
Tujuan dari acara praktikum alat mulut serangga yaitu menjelaskan lima tipe alat
mulut serangga dan menggambar lima tipe alat mulut serangga serta bagian-bagiannya.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Serangga memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Bila mendengar


nama serangga, maka selalu diidentikkan dengan hama di bidang pertanian, disebabkan
banyak serangga yang bersifat merugikan, seperti walang sangit, wereng, ulat grayak,
dan lainnya. Serangga dapat merusak tanaman sebagai hama dan sumber vektor
penyakit pada manusia. Namun, tidak semua serangga bersifat sebagai hama atau vector
penyakit. Kebanyakan serangga juga sangat diperlukan dan berguna bagi manusia.
Serangga dari kelompok lebah, belalang, jangkrik, ulat sutera, kumbang, semut
membantu manusia dalam proses penyerbukan tanaman dan menghasilkan produk
makanan kesehatan (Metcalfe and William, 1975).
Serangga juga sangat berperan dalam menjaga daur hidup rantai dan jaring-jaring
makanan di suatu ekosistem. Sebagai contoh apabila benthos (larva serangga yang
hidup di perairan) jumlahnya sedikit, secara langsung akan mempengaruhi kehidupan
ikan dan komunitas hidup organisme lainnya di suatu ekosistem Sungai atau Danau.
Bidang pertanian, apabila serangga penyerbuk tidak ditemukan maka keberhasilan
proses penyerbukan akan terhambat (Jumar, 2000).
Menurut jenis pakannya serangga dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu serangga
herbivore (contohnya pada Belalang Kayu atau Valanga nigricornis), karnivora
(contohnya pada Belalang Mantis), omnivora (contohnya pada tawon baluh) dan
detritivora (contohnya pada kecoak). Beberapa serangga predator menggunakan alat
mulut untuk menggigit dan mengunyah mangsanya seperti Capung, Mantis dan
serangga predator lainnya. Beberapa dari predator juga memiliki tipe mulut penusuk dan
penghisap yang digunakan untuk menghisap cairan mangsa seperti yang dimiliki oleh
kepinding air (Borror et al., 1992).
Bagian-bagian mulut serangga dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe umum,
mandibulat (pengunyah) dan haustelat (penghisap). Bagian mulut pengunyah, mandibelmandibel bergerak secara transversal, artinya dari sisi ke sisi, dan serangga tersebut
biasanya mampu menggigit dan mengunyah makanannya. Serangga-serangga dengan
bagian-bagian mulut penghisap tidak mempunyai mandibel dari tipe ini dan tidak dapat
mengunyah makanan. Bagian mulut mereka ada dalam bentuk seperti probosis yang
panjang atau paruh melalui alat itu makanan cair dihisap. Mandibel pada bagian mulut
penghisap mungkin memanjang dan berbentuk stilet atau tidak ada (Borror et al., 1992).
Adaptasi morfologi pada serangga dapat kita lihat pada tipe mulutnya. Bagian
mulut serangga pada dasarnya terdiri atas satu bibir atas, sepasang rahang, satu
hipofaring, sepasang maksila dan satu bibir bawah. Belalang, jangkrik dan kecoa

mulutnya dilengkapi dengan rahang atas dan rahang bawah yang sangat kuat. Tipe
mulut seperti pada serangga tersebut dinamakan tipe mulut penggigit. Kutu dan nyamuk
mulutnya mempunyai rahang yang panjang dan runcing, sehingga memungkinkan untuk
menusuk kulit manusia atau hewan lain. Tipe mulut seperti itu dinamakan tipe mulut
penusuk pengisap. Kupu-kupu mulutnya dilengkapi dengan alat, seperti belalai yang
panjang dan dapat digulung. Tipe mulut seperti pada kupu-kupu tersebut dinamakan tipe
mulut pengisap. Lebah madu dan lalat mulutnya dilengkapi dengan alat untuk menjilat
atau bibir. Tipe mulut seperti itu disebut tipe mulut pengisap penjilat (Sunarjo, 1991).

III.
A. Materi
1.1. Alat

MATERI DAN METODE

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum alat mulut serangga adalah


bak preparat, pinset, mikroskop stereo, mikroskop binokuler, gunting, cawan
petri dan object glass.
1.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum morfologi umum
serangga adalah Belalang Kayu (Valanga nigricornis), Kupu-kupu (Saturnia
povania), Lebah madu (Apis mellifera), Lalat rumah (Musca domestica),
Nyamuk (Anopheles sp.) kloroform, alkohol 70% dan kapas.
B. Metode
Alat dan bahan dipersiapkan

Serangga dilumpuhkan dengan cara


dimasukkan ke dalam botol yang berisi
kloroform
Serangga yang mati kemudian diangkat,
dicelupkan ke alkohol 70% lalu
dipotong bagian caput dan diamati
bagian alat mulutnya
Diletakkan di object glass kemudian
diamati dibawah mikroskop

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 3.1. Morfologi Umum Belalang Kayu (Valanga nigricornis)

Gambar 3.2. Alat Mulut Belalang Kayu (Valanga nigricornis) Tipe Penggigit dan
Pengunyah

Gambar 3.3. Alat Mulut Nyamuk (Anopheles sp.) Tipe Penusuk dan Penghisap

Gambar 3.4. Alat Mulut Kupu-kupu (Saturnia povania) Tipe Penghisap

Gambar 3.5. Alat Mulut Lebah (Apis mellifera) Tipe Penggigit dan Penghisap

Gambar 3.6. Alat Mulut Lalat Rumah (Musca domestica) Tipe Penjilat dan
Penghisap

B. Pembahasan
Bagian-bagian alat mulut serangga secara umum terdiri atas labrum atau bibir atas
adalah gelambir yang lebar yang terletak di bawah pada sisi anterior kepala di depan
bagian-bagian alat mulut lainnya, labrum dapat digerakkan dan digunakan untuk
membantu memegang dan memasukkan makanan kedalaman rahang. Labrum terdapat
pada daerah yang membengkak yang dinamakan epifaring. Sepasang mandible adalah
rahang yang jumlahnya sepasang, sangat bersklerotisasi dan tidak beruas. Mandibel
terletak tepat dibelakang labrum, pangkal mandible berbentuk segitiga dan secara
bertahap memipih kea rah luar, pada bidang untuk menggigit ada daerah insisor (gigi
seri) pada daerah molar (geraham) (Borror et al., 1992).
Maksila adalah struktur yang berpasangan dan terletak di belakang mandible
dan digunakan untuk memegang dan mengunyah makanan, maksila terdiri dari beberapa
bagian yaitu kardo (pangkal maksila yang berbentuk segitiga, tempat maksila melekat
pada kepala), stipes (adalah ruas kedua), palpifer (adalah gelambir stipes tempat
timbulnya palpus), lasinia (struktur yang memanjang seperti geraham dan galea
(struktur seperti gelambir) adalah dua julur yang keluar pada ujung stipes) dan palpus
maksila adalah bagian yang berfungsi sebagai organ perangsang. Labium terletak pada
bagian belakang alat mulut dan membentuk bibir bawah. Labium terbentuk dari
sepasang embelan yang bersatu. Labium terdiri dari bagian-bagian yaitu submentum,
mentum dan ligula (Borror et al., 1992).

Serangga memiliki tipe mulut yang beragam. Perbedaan ini akibat dari makanan
tiap serangga yang berbeda. Sebenarnya semua mulut serangga memiliki bentuk yang
sama hanya saja ada yang mengalami modifikasi saliva. Pembagian mulut serangga
tergantung dari stadium perkembangan, bentuk makanan dan jenis makanannya (Krenn,
2007). Macam-macam tipe mulut serangga menurut Pedigo (1989), adalah sebagai
berikut:
1. Mulut Penghisap, merupakan tipe yang khusus yaitu labrum yang sangat kecil, dan
maksila palpusnya berkembang tidak sempurna. Labium mempunyai palpus labial
yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen. Bagian alat mulut ini yang dianggap
penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan
galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung. Contohnya
yaitu Ordo Lepidoptera, yaitu kupu-kupu dewasa (Saturnia pavonia).
2. Mulut Penusuk dan Penghisap, memiliki labium sangat menonjol, ada 4 stylet yang
sangat runcing, untuk menusuk dan mengisap cairan dari maxilla dan mandibula.
Stylet menempel pada labium. Contohnya yaitu nyamuk (Anopheles sp.).
3. Mulut Penggigit dan Pengunyah, Terdiri dari sepasang bibir, organ penggiling untuk
menyobek dan menghancur serta organ tipis sebagai penyobek. Makanan disobek
kemudian dikunyah lalu ditelan. Struktural alat makan jenis ini terdiri dari:
a. Labrum, fungsinya untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut.
b. Efifaring, fungsinya sebagai pengecap.
c. Mandibel, fungsinya untuk mengunyah, memotong dan melunakkan makanan.
d. Maksila, alat bantu untuk mengambil makanan.
e. Labium, fungsinya untuk menutup atau membuka mulut. Contohnya yaitu ordo
Ortoptera Belalang Kayu.
4. Mulut Penjilat dan Penghisap, tipe ini teridiri dari probosis yang kuat. Probosis terdir
dari rostrum, haestum dan oral disk. Ordo Diptera memiliki banyak probois yang
sepenuhnya dapat ditarik ke dalam rongga mulut dan dilengkapi dengan satu atau
bahkan dua sendi dimana pada saat istirahat dapat dilipat. Beberapa spesies memilki
probosis yang tidak dapat ditarik baik dari bagian depan maupun belakang bawah
abdomen, biasanya berukuran pendek tidak sepanjang atau lebih panjang dari tubuh.
Oleh karena itu, beberapa spesies memiliki bagian mulut yang belum sempurna
sehingga tidak mengambil makanan dalam tahap dewasa (Smith, 1980). Contohnya
yaitu lalat rumah (Musca domestica).
5. Mulut Penggigit dan Penghisap, Tipe mulut ini memiliki tiga bagian yaitu mandibula,
maksila dan labium mengalami modifikasi seperti sendok. Maksila terdiri dari kardo

kecil, stipes agak membesar, serta galea dan palpus maksilaris membentuk tonjolan
kecil labium memanjang. Contohnya yaitu Lebah Madu (Apis mellifera).
Tipe mulut penggigit dan pengunyah pada serangga merupakan tipe mulut paling
primitif karena bagian-bagiannya belum mengalami modifikasi. Tipe penusukpenghisap, maksila dan mandible termodifikasi menjadi alat penusuk. Tipe penghisap,
maksila dan galea termodifikasi menjadi probosis. Tipe penggigit-penghisap, maksila
dan labium berubah menjadi panjang dan menyatu. Tipe ini ditemukan lidah berbulu
atau flabellum, sedangkan pada tipe penjilat dan penghisap terjadi modifikasi pada
labrum yang menjadi tabung panjang bercelah (Jumar, 1995).
Klasifikasi Kupu-kupu dewasa menurut Pedigo (1989), adalah sebagai berikut :
Phylum
Classis
Ordo
Familia
Genus
Species

: Arthopoda
: Insecta
: Lepidoptera
: Saturniidae
: Saturnia
: Saturnia pavonia

Klasifikasi Belalang Kayu menurut Pedigo (1989), adalah sebagai berikut :


Phylum

: Arthropoda

Class

: Insecta

Ordo

: Orthoptera

Familia

: Acridoidea

Genus

: Valanga

Species
: Valanga nigricornis
Klasifikasi Lebah Madu menurut Pedigo (1989), adalah sebagai berikut :
Phylum

: Arthropoda

Class

: Insecta

Ordo

: Hymenoptera

Familia

: Apidae

Genus

: Apis

Species

: Apis mellifera

Klasifikasi lalat rumah menurut Pedigo (1989), adalah sebagai berikut :


Phylum

: Arthropoda

Class

: Hexapoda

Ordo

: Diptera

Familia

: Muscidae

Genus

: Musca

Spesies

: Musca domestica
Klasifikasi Nyamuk menurut Borror et al. (1992), adalah sebagai berikut :

Phylum

: Arthropoda

Class

: Hexapoda

Ordo

: Diptera

Familia

: Culicidae

Genus
Species

: Anopheles
: Anopheles sp.
V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Menurut cara makannya, alat mulut serangga dibagi menjadi lima tipe, diantaranya
penggigit pengunyah, penusuk penghisap, penghisap, penggigit penghisap, dan
penjilat penghisap.
2. Tipe mulut penggigit pengunyah merupakan tipe yang paling primitif karena bagianbagiannya belum termodifikasi.
B. Saran
Seharusnya pada saat proses pembunuhan dan pemotongan kaput serangga dapat
dilakukan disaat praktikum agar praktikan mengetahui cara dan pada proses pengamatan
morfologi menggunakan serangga yang lain supaya bisa membandingkan.

DAFTAR REFERENSI
Ananda, K., 1987. Taksonomi Serangga. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakutas
Pertanian Universitas Gadjah Mada.
Borror, D.J., Tripheron, C.A and Johnson, N.F. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Edisi Keenam. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Jumar, D Sartitiek., 1995. Dasar-dasar Ilmu Serangga. Jakarta: Amirco.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta : Rineka Cipta.
Krenn, Harald. W. 2007. Evidence from Mouthpart Structure on Interordinal
Relationships in Endopterygota. Arthropod Systematics & Phylogeny, 65, pp. 714.
Metcalfe, R. L dan William H. L. 1975. Introduction to insect pest management. New
York : Wiley.
Pedigo, L.P. 1989. Entomology and Pest Management. New York: Macmillan
Publishing Company.
Smith, John B., 1890. A Contribution toward a Knowledge of the Mouth Parts of the
Diptera. Transactions of the American Entomological Society, 17(4), pp. 319339.
Sunarjo, P. I., 1991. Biologi dan Ekologi Serangga. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.