Anda di halaman 1dari 12

I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Penampakan ekspresi potensi ternak secara mendasar dipengaruhi oleh dua
faktor utama yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yakni faktor genetik
dan

lingkungan

termasuk

didalamnya

manajemen

pemeliharaan

secara

menyeluruh. Dengan demikian kedua faktor tersebut harus menjadi perhatian


yang serius dalam pemeliharaan komoditas temak yang dilakukan.
Perkawinan ternak yang mempunyai nilai genetik tinggi disertai dengan
manajemen yang baik tentunya akan memberikan hasil yang optimal baik dari
segi produksi dan efisiensi usaha. Untuk itu perlu dipahami tentang prinsipprinsip pemuliaan ternak khususnya terkait dengan gen yang mempunyai peranan
penitng dalam menjaga ketahanan penyakit unggas agar tidak menurunkan
produktibvitas unggas tersebut.
1.2.Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi poultry breeding.
2. Untuk mengetahui dan memahami peranan genetic pada ayam raspedaging
dan petelur.
3. Untuk mengetahui peranan Gen Toll-like Receptor 4 pada ketahanan
penyakit pada ayam.

II
PEMBAHASAN

2.1.Poultry Breeding
Poultry breeding dalam produksi ternak ungags adalah penerapan prinsipprinsip genetika dalam upaya mengembangkan bibit unggul untuk menghasilkan
ayam pedaging maupun petelur yang unggul. Genetika merupakan ilmu yang
berkaitan dengan mekanisme hereditas yaitu transmisi sifat-sifat tetua kepada
keturunannya. Gena merupakan unit hereditas adalah suatu unit informasi genetic
yang dibawa seekor hewan untuk mempengaruhi karakter spesifik. Setiap genan
menempati lokus pda kromosom.
Kromosom yaitu pembawa informasi genetik yang terdapat pada inti sel
materi genetic terpenting dalam inti sel adalah DNA (Deoxyribo Nucleic Acid).
Pada sel normal kromosom slalu berpasangan. Sepasang kromosom mengandung
karakter yang secara anatomis, fisologis dan psikologis diurunkan kepada
keturunannya. Ayam memiliki 39 pasang kromosom. Kromosom sex ayam
berbeda dengan manusia, dimana : - Manusia
- Ayam

: XY pria

XX wanita

: ZZ jantan ZW betina

Ada dua macam breeding yaitu : Ekstensif breeding adalah kegiatan


breeding tanpa adanya campur tangan manusia dan mewariskan sifat-sifat
kualitatif, sedangkan intensif breeding kegiatan breeding yang melibatkan campur
tangan manusia dan mewariskan sifat kualitatif dan kuantitatif.

Sifat Kualitatif
Sifat kulaitatif hanya ditentukan oleh satu atau dua pasang gena, tidak

dipengaruhi oleh lingkungan. Kurang memiliki nilai ekonomis seperti warna bulu,
kecepatan pertumbuhan bulu dan bentuk jengger. Contohnya pewarisan sifat

pertumbuhan bulu, dimana sifat bulu tumbuh lambat (slow feathering) bersifat
dominan terhadap bulu tumbuh cepat (rapid feathering).

RF

>< SF .

Pada saat menetas : anak ayam jantan bulu primer tumbuh kurang baik,
bulu sekunder kadang-kadang tumbuh kurang baik sedngkan anak ayam betina
bulu-bulu primer dan sekunder tumbuh baik.

Sifat Kuantitatif
Sifat kuantitatif merupakan sifat yang pewarisannya ditentukan oleh

banyak pasangan gena dan sifat dari tetua tidak sesederhana sifat kualitatif serta
sifat yang secara ekonomis sangat penting. Contohnya produksi telur, laju
pertumbuhan, bobot elur, dll. Sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, contoh :
betina dengan produksi telur 300 butir/tahun tidak akan dapat mengekspresikan
kemampuan tersebut tanpa pemberian ransum yang baik. Manusia (beerder)
sangat berperan dalamproses

persilangan untuk mendapatkan sifat yang

dikehendaki yaitu ayam unggul.


Parameter yang harus diamati breeder yaitu :
Tipe Petelur

Tipe Pedaging

Tingkat produksi telur

Laju pertumbuhan

Tebal kerabang

Kecepatan pertumbuhan bulu

Efisiensi penggunaan ransum

Efisiensi penggunaan ransum

Kualitas albumen

Tahan terhadap penyakit

Bobot telur

Kaki harus kokoh dan kuat

Lama bertelur

Warna bulu dan kulit

Umur mencapai produksi 50%


Pada breedeng terdapat fenomena sex linkage yaitu gena yang terdapat
pada kromosom sex ilustrasi : Bila seekor memiliki gena yang linkage pada

kromosom Z, maka sifat tersebut hanya akan diturunkan pada anak : ZW


>< ZZ

ZZ
ZZ
Contoh : Warna bulu, sifat bulu barred yang linkage pada kromosom z induk
RIR

><

PR

non-barred

barred

bb

B-

Pada F1 :
barred , ada totoll bulu warna
terang pada kepala
-

non-barred

2.2.Peran Bibit Ayam Ras Pedaging dan Petelur


Bibit/benih ayam ras pedaging berupa DOC/HE yang diproduksi dari
dalam negeri maupun impor sangat berperan dalam memenuhi ketersediaan
bibit/benih ayam ras pedaging secara nasional. Strain GPS ayam ras pedaging
(Broiler) impor adalah strain Cobb, Ross 308, Ross Avia gen, Lohman meat,
Hybro PG/PN, Hubbard. Ayam Broiler PS hanya sebagian yang impor, terutama
bila diperhitungkan konsumsi ayam Broiler di dalam negeri kekurangan. Ayam
Broiler FS tidak ada impor, tetapi diproduksi di dalam negeri. Tersedianya bibit
ayam ras pedaging yang terprogram dengan baik, akan dapat membantu
menciptakan kestabilan supply dan demand ayam ras pedaging, sehingga
permintaan daging ayam Broiler dapat terpenuhi dengan harga terjangkau dan
relatif stabil.

Peranan pemerintah dalam hal ketersediaan bibit/benih ayam Broiler


adalah sebagai regulator dan fasilitator bagi industri perbibitan ayam ras, yaitu
berperan untuk:
1. terciptanya persaingan yang sehat diantara perusahaan pembibitan di pasar
dalam negeri;
2. pengembangan sistem pelaporan (produksi, distribusi dan penyakit) serta
3. menjamin transparansi dalam hal informasi produksi DOC (GPS/PS/FS)
dan kondisi pasar (permintaan, produksi, dan harga).
Bibit/benih ayam ras petelur berupa DOC/HE (GPS/PS/FS) yang
diproduksi dari dalam negeri maupun impor sangat berperan dalam memenuhi
ketersediaanbibit/benih ayam ras petelur secara nasional. Permintaan/kebutuhan
telur di Indonesia terutama dipenuhi dari telur ayam ras. Oleh karena itu, dengan
tersedianya bibit ayam ras petelur, maka pasokan telur dari ayam ras akan
terkendali sehingga dapat diperoleh telur dengan harga terjangkau dan relatif
stabil.
Hingga kini GPS ayam petelur masih impor dari luar negeri. Strain GPS
ayam petelur (Layer) dari luar negeri adalah strain Hy Line, Isa Brown/Neo
Brown, Hisex. Sementara ini, strain ayam di dunia masih terbatas jumlahnya dan
masih impor. Namun untuk ayam sebar (FS) untuk produksi telur yang dipelihara
oleh peternak telah dihasilkan oleh perusahaan pembibit dari dalam negeri.
2.3.Gen Toll-Like Receptor
Penamaan Toll-like receptors (TLRs) berasal dari kemiripan struktur dan
fungsi pada reseptor transmembran yang ditemukan pada lalat Drosophila
melanogaster. Dinamai Toll, yang dalam bahasa Jerman berarti fantastis atau
aneh. Analisis rangkaian gen memperlihatkan adanya encoded protein
transmembran dengan domain intrasitoplasmik baru yang mirip dengan reseptor
interleukin-1 (IL-1) pada tikus. Selain mengatur perkembangan tahap embrionik,
bentuk mutan Toll juga mengganggu pertahanan antijamur dari lalat. Selanjutnya
diketahui bahwa defek pada jalur Toll menyebabkan gangguan respons imun
terhadap penyebab infeksi lainnya. Janeway dkk. pada tahun 1997, menemukan

homolog reseptor Toll Drosophila pada manusia. Saat ini dikenal sebagai TLR4,
yang terdiri atas domain intrasitoplasmik Toll-like receptors/ IL-1 receptors,
namun domain ektraselular imunoglobulin (Ig) mirip dengan reseptor IL-1.
Terlihat kemiripan struktur pada reseptor lalat, yang terdiri atas leucine-rich
repeats. Kemiripan ini menunjukkan suatu metode lama reseptor pengenalan yang
dipertahankan melalui evolusi dan digunakan oleh manusia dan serangga. Saat
TLR pertama kali ditemukan untuk mengenal pathogen-associated molecular
patterns,

TLR

merupakan

reseptor

terpenting

dalan

pengenalan

pola

mikroorganisme pada sistem imunitas alami (Petry dan Gaspari, 2006)


TLR merupakan reseptor transmembran yang dikodekan oleh germline
dengan karakteristik berupa leucinrich domain (LRR) ekstraselular dan domain
intraseluler atau sitoplasmik yang homolog dengan interleukin-1 receptor (TIR)
(Albiger et al, 2007). LRR ditemukan pada sejumlah protein dan terlibat dalam
pengenalan ligan dan transduksi sinyal. Domain LRR dipisahkan dari region
transmembran oleh domain LRR carboxy-terminal. Domain TIR dibutuhkan
untuk intracellular signaling. TLR diekspresikan oleh berbagai sel misalnya
makrofag dan sel dendritic (Carpenter dan ONeill, 2007). TLR berfungsi sebagai
pathogen

recognition

receptors

(PRRs),

mengenali

pathogenassociated

molecular patterns (PAMPs) yang unik pada mikroba dan penting dalam
pertahanan diri mikroba. Ligasi PAMPs pada TLR akan menginduksi sel imun
dan mengaktifkan sejumlah jalur dalam imunitas alami yaitu inflamasi, koagulasi
dan kematian sel (Elson et al, 2006). Pengenalan PAMPs ini menyebabkan sistem
imunitas alami mampu membedakan antara bahan self dan non-self (Vallins et al,
2010).
Sebagian besar spesies mamalia diperkirakan memiliki 10 hingga 15 tipe
TLR. Tiga belas TLR ditemukan pada manusia dan tikus (Emertcan et al, 2011).
Tabel 1 memperlihatkan 11 TLR yang telah diketahui, dengan ligan dan
spesiesnya.
Tabel 1. Klasifikasi TLR, ligan, dan spesies yang dikenali

TLR
subfamily
TLR1 + TLR2
TLR2
TLR3
TLR4
TLR5
TLR6+ TLR2
TLR7
TLR8
TLR9
TLR 10
TLR11

Ligan

Spesies

Triacyl
lipopeptides
Zymosan
dsDNA
Lipopolysaccharid
e
Flagellin
Diacyl lipopeptides
ssRNA
ssRNA
DNA, hemozin

Bakteri

Tidak diketahui
Profilin-like
protein

Jamur
Virus
Bakteri negatif-Gram
Bakteri
Mikoplasma
Virus, pejamu
Virus, pejamu
Bakteri, virus,
plasmodium
Bakteri
Toksoplasma, bakteri

Jurnal yang kami dapat membahas mengenai pengaruh Gen Toll-like


Receptor 4 (TLR4) terhadap ketahanan penyakit yang disebabkan oleh
Salmonella sp. yang menyerang pada ayam ras pedaging, petelur, maupun ayam
lokal. Gen Toll-like Receptor 4 (TLR4) adalah salah satu gen yang mengontrol
ketahanan ayam terhadap serangan Salmonella sp, melalui respon immun nonspecific. Gen ini dapat digunakan sebagai marka genetik pada ayam. Oleh karena
itu penelitian ini bertujuan mengevaluasi polimorfisme genetik gen TLR4 pada
beberapa jenis ayam (Ayam Tolaki, Ayam Ras pedaging dan petelur).
Motede penelitian ini melalui 3 tahapan yakni ekstraksi DNA, amplifikasi
PCR (dengan ukuran DNA 220 pb pada ekson 2), dan metode RFLP
menggunakan enzim MscI. Hasilnya didapat bahwa pada ayam Tolaki dan ayam
broiler, frekuensi alel didominasi oleh alel G. Pada ayam petelur, gen TLR4
didominasi oleh alel A (80%). Nilai frekuensi alel G pada ketiga jenis ayam
tersebut berkisar antara 0.20-0.87. Ulupi (2014) menyatakan bahwa alel G pada
gen TLR4 ayam Kampung adalah membawa sifat resisten, dengan dihasilkannya
respons fisiologis yang lebih tinggi dari pada alel A. Dengan demikian frekuensi
alel pembawa sifat resisten terhadap Salmonella sp. pada ayam Tolaki adalah
sangat tinggi (82%), demikian juga pada ayam broiler (87%).

Pada penelitian ini, gen TLR4 pada ayam Tolaki teridentifikasi tiga
macam genotipe, yaitu AA, AG, dan GG. Masing-masing genotipe tersebut
frekuensinya 0.02, 0.31, dan 0.67. Pada ayam petelur dan ayam broiler hanya
ditemukan 2 genotipe. Genotipe gen TLR4 pada ayam petelur adalah AA dan AG,
yang frekuensinya didominasi oleh AA (60%). Adapun genotipe gen TLR4 pada
ayam broiler adalah AG dan GG. Frekuensi genotipe GG pada ayam broiler
adalah sangat tinggi, yaitu 75%. Tabelnya dapat dilihat di bawah ini.
Tabel 2. Hasil uji chi-square (x2) frekuensi genotipe gen TLR4 ayam Tolaki, ayam
petelur dan ayam broiler
Jenis ayam
Tolaki
Petelur komersial
Broiler

Nilai x2
0.19tn
0.06td
0.45td

Suatu populasi dinyatakan dalam keadaan keseimbangan HardyWeinberg, apabila frekuensi genotipe (p2, 2pq, q2) dan frekuensi alel (p dan q)
adalah konstan dari generasi ke generasi, akibat penggabungan gamet yang
terjadi secara acak dalam populasi yang besar (Vasconcellos et al. 2003).
Keseimbangan genotipe dalam populasi yang cukup besar terjadi jika
tidak ada seleksi, mutasi, migrasi dan genetic drift. Genetic drift adalah
perubahan frekuensi genotipe yang diakibatkan oleh fluktuasi acak akibat adanya
peluang dalam pola perkawinan, kesalahan pengambilan sampel, dan perubahan
frekuensi mendadak akibat adanya faktor lingkungan (misalnya bencana alam).
Sebaliknya jika terjadi akumulasi genotipe, populasi yang terbagi, mutasi,
seleksi, migrasi dan perkawinan dalam kelompok yang sama (endogami), dapat
menimbulkan ketidakseimbangan frekuensi genotipe atau frekuensi alel dalam
populasi tersebut.
Keseimbangan genotipe gen TLR4 lokus MscI pada ayam Tolaki ini,
memperlihatkan bahwa intersitas kejadian mutasi, endogami, seleksi yang
intensif serta migrasi pada kedua rumpun ayam lokal tersebut bisa dikatakan
sangat rendah. Ayam Tolaki selama ini dipelihara oleh masyarakat secara

ekstensif (dengan diumbar), hal ini memungkinkan terjadinya perkawinan secara


acak dari generasi ke generasi.
Jadi, untuk memenuhi permintaan daging ayam Tolaki yang rasanya
terkenal lezat, dapat dicoba dengan mengembangkan final stock dari persilangan
ayam Tolaki dan broiler yang keduanya memiliki alel G sebagai pembawa sifat
tahan terhadap Salmonella sp dengan frekuensi tinggi. Dengan demikian
penurunan populasi ayam Tolaki bisa ditekan. Tidak dianjurkan melakukan
persilangan antara ayam Tolaki dengan ayam petelur karena ayam petelur
didominasi genotipe gen TLR4 pembawa sifat peka
bakteri tersebut.

(AA) terhadap infeksi

III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

3.2.Saran

DAFTAR PUSTAKA

Albiger B, Dahlberg S, Henriques-Normark B, Normark S. 2007. Role of the


innate immune system in host defence against bacterial infections: fokus
on the Toll-like receptors. Journal of Internal Medicine. 2007;261:1-10.
Carpenter S, O'Neill L. 2007. How important are Toll-like receptors
forantimicrobial responsses? Journal compilation. 2007;9:1891-901.
Petry V, Gaspari A. 2006. Toll-like receptors and dermatology. International
Journal of Dermatology. 2006:558-70.
Ulupi, Niken dan Muhammad Amrullah Pagala. 2014. Identifikasi Keragaman
Gen Toll-Like Receptor-4 Pada Ayam Tolaki, Ayam Petelur Komersial Dan
Ayam Broiler. Jurnal Vol.1 No.1
Valins W, Amini S, Berman B. 2010. The expression of Toll-like receptors in
dermatological diseases and the therapeutic effect of current and newer
topical Toll-like receptor modulators. J Clin Aesthet Dermatol. 2010;9:20
9.
Emertcan A, ztrk F, Gndz K. 2011. Toll-like receptors and skin. Journal of
the European Academy of Dermatology and Venereology. 2011;11:1-7.

LAMPIRAN

Pendahuluan: Fachlevi Reyno Ajisaka


Materi Poultry Breeding: Novita Endayani
Materi Peranan Genetik pada Ayam Ras Pedaging dan Petelur: Restu Fathimatuz
Zahra Ramdhani
Materi Gen Toll-Like Receptor: Hadi Setiadi
Penutup: Afif Adi Nugroho
Print: Nnada Yuditia