Anda di halaman 1dari 12

Anabaptis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Protestanisme

Reformasi
Sejarah
Gerakan pra-Reformasi
Albigensis (Per.)
Hussit (Boh.)
Lollard (Ing.)
Waldensis (Per./Ita./Jer.)
Gereja-gereja Reformasi
Anabaptis
Anglikanisme (Inggris)
Calvinisme (Swiss)
Lutheranisme (Jer.)
Reform
Socinianisme (Pol.)
Zwinglianisme (Swi.)
Gerakan pasca-Reformasi
Amish (Ame.)
Baptis (Ing.)
Konggregasional
Mennonit (Bel./Swi./Ame./Kan.)
Metodisme (Ing.)
Pietisme
Presbyterianisme (Skot./Ame.)
Puritanisme (Ing.)
Universalisme
"Kebangunan Besar"
Injili
Pentakosta
Revivalisme

Restorasionisme
Gerakan Restorasi
Advent
Kotak ini:
lihat
bicara

sunting

Anabaptis (bahasa Yunani: - dibaptis kembali) adalah orang Kristen yang


dimasukkan ke dalam kategori Reformasi Radikal. Mereka tidak memiliki suatu organisasi yang
resmi dan memiliki berbagai-bagai variasi. Sepanjang sejarah ada banyak kelompok Kristen
yang disebut sebagai Anabaptis, namun istilah Anabaptis khususnya menunjuk kepada kelompok
Anabaptis pada abad ke-16 di Eropa.
Saat ini dari kelompok abad ke-16 tersebut yang masih tertinggal adalah kaum Amish, Hutterit,
Mennonit, Gereja Persaudaraan, Persaudaraan Kristen, dan beberapa variasi Gereja Baptis
Jerman lainnya.
Baptisan orang percaya merupakan salah satu ciri utama kepercayaan kaum Anabaptis, dan
mereka menolak baptisan untuk anak bayi oleh orang tua mereka. Kepercayaan ini ditentang
keras oleh kelompok Kristen Protestan lainnya pada periode itu, oleh sebab itu anggota
kelompok ini dianiaya dan banyak yang dihukum mati selama abad ke-16 hingga abad ke-17.

Daftar isi

1 Anabaptis dan Reformasi Protestan


o 1.1 Kepercayaan Anabaptis
2 Gerakan Anabaptis mula-mula
o 2.1 Penyebar ajaran Anabaptis mula-mula
o 2.2 Pengikut ajaran Anabaptis mula-mula
3 Penganiayaan terhadap Anabaptis
o 3.1 Episode Mnster
4 Menno Simmons dan kaum Mennonit
5 Pembagian Anabaptis selanjutnya
6 Referensi
7 Pranala luar

Anabaptis dan Reformasi Protestan


Pada masa Reformasi Protestan banyak muncul sayap-sayap kekristenan yang baru, yang
terkenal di antaranya Gereja Lutheran dan Gereja Reformasi dan Gereja Presbiterian dapat

dikategorikan sebagai sayap yang konservatif. Mereka dapat dikatakan merupakan kelanjutan
dari Gereja yang Katolik di wilayah mereka masing-masing. Pada prinsipnya, Lutheranisme
hanya menolak hal-hal di dalam Gereja Katolik Roma yang dianggap terang-terangan dilarang di
Alkitab. Gereja Reform bertindak lebih jauh lagi dengan hanya mengambil dari Gereja Katolik
Roma hal-hal yang mereka anggap didasarkan dari Alkitab. Masing-masing berusaha untuk
menjadi gereja untuk seluruh komunitas. Keduanya melanjutkan tradisi baptisan anak dan
dengan hal tersebut maka mereka menganggotakan ke dalam gereja yang nampak (atau gereja
yang kelihatan, yakni suatu gereja yang spesifik) seluruh orang yang lahir di komunitas tersebut.
Tentang hal tersebut, sebenarnya Luther tidak sepenuhnya setuju karena hal tersebut tidak
sepenuhnya sejalan dengan keyakinan dasarnya, yakni sola fide atau keselamatan hanya karena
iman saja. Kalvin, yang teologinya menjadi dasar Gereja Reform, mengajarkan bahwa banyak
yang dibaptis dengan cara demikian tidak berarti mereka orang-orang yang dipilih dan banyak di
antara mereka yang tidak termasuk ke dalam gereja yang tak kelihatan (yakni mereka yang
diselamatkan, atau masuk ke surga), yang keanggotaannya hanya diketahui oleh Allah saja.
Namun masing-masing, baik Luther maupun Kalvin, menginginkan agar gereja yang terlihat
dapat menjangkau seluruh komunitas di wilayah mereka masing-masing.
Dalam hubungannya dengan negara, meskipun mereka mengetahui bahwa negara tidaklah
sempurna dan dipenuhi dosa, namun keduanya menjaga hubungan yang dekat dengan
pemerintah negara, karena mereka percaya bahwa negara diberi kekuasaan oleh Allah. Kalvin
dan Gereja Reform secara umum selangkah lebih jauh dari Luther dan menginginkan pemisahan
Gereja dan negara. Namun keduanya bekerja sama dengan negara.

Kepercayaan Anabaptis
Anabaptisme, dalam berbagai wujudnya, merupakan sayap yang lebih radikal dari Lutheranisme
maupun Kalvinisme, dan berada lebih jauh dari definisi umum iman kekristenan daripada cabang
kekristenan yang lain. Namun pengikut Anabaptis mereka memiliki beberapa persamaanpersamaan. Pada umumnya mereka percaya pada Alkitab, terutama Perjanjian Baru sebagai
otoritas tertinggi mereka dan membuang segala yang tidak dapat mereka temukan di dalam
kumpulan tulisan-tulisan tersebut. Mereka ingin untuk kembali ke bentuk kekristenan purba
(gereja mula-mula) pada abad pertama, maka dari itu mereka cenderung menolak banyak hal
dalam kekristenan yang datangnya dari Gereja Katolik Roma, lebih daripada Gereja Lutheran
dan Reform. Mereka percaya kepada gereja yang "dikumpulkan", berbeda dari komunitas pada
umumnya, namun terdiri dari orang-orang yang telah mengalami kelahiran baru. Mereka
menolak baptisan anak karena bertentangan dengan Kitab Suci, karena mereka menganggap
satu-satunya baptisan yang sah adalah yang dilakukan pada orang percaya yang memiliki
kesadaran. Dari situlah mereka mendapat julukan "Anabaptis", yang membaptis dua kali,
walaupun bagi mereka julukan tersebut sebenarnya tidak tepat, karena menurut mereka baptisan
bayi bukan merupakan baptisan. Mengenai bentuk baptisan, di mata mereka bukan merupakan
hal yang terpenting. Bagi kebanyakan, bentuk yang mereka pakai bukanlah baptisan selam,
melainkan baptisan percik.
Kebanyakan Anabaptis tidak berurusan dengan negara. Beberapa terang-terangan menolak
bekerja sama dengan negara. Banyak di antaranya yang percaya bahwa orang Kristen tidak

selayaknya maju perang. Mereka biasanya mengundurkan diri dari masyarakat dan membentuk
komunitas tersendiri yang tidak terkontaminasi oleh dunia di sekitar mereka. Bentuk kebaktian
mereka sederhana. Pada zaman keemasannya gerakan ini menciptakan banyak himne baru.
Beberapa di antara mereka menantikan hari terakhir dalam sejarah dan datangnya Yesus yang
kedua kalinya untuk mendirikan kerajaan seribu tahun-Nya. Banyak yang percaya bahwa pada
mereka digenapi nubuat dan bahwa Roh Kudus terus memimpin dan berbicara. Beberapa
menolak ketuhanan Yesus dan menganggapnya hanya sebagai pemimpin dan contoh. Banyak
yang menjadi misionaris, tidak hanya untuk menarik orang Kristen ke ajaran mereka, melainkan
juga mencita-citakan agar Injil dapat disebarkan kepada seluruh umat manusia. Ajaran moral
mereka sangat ketat dan makanan, pakaian, dan perkataan mereka sangat sederhana.
Kaum Anabaptis memiliki tolok ukur moralitas yang tinggi. Tolok ukur tersebut tidak hanya
berasal dari ajaran agama, tetapi juga etika. Mereka tidak percaya keselamatan dapat diperoleh
melalui usaha manusia, namun mereka mengajarkan bahwa jika keselamatan tersebut murni,
maka dengan sendirinya akan membuahkan perbuatan-perbuatan yang baik. Mereka
mengeluarkan dari persekutuan mereka orang-orang yang tidak memenuhi tolok ukur mereka. Di
antara kritikus-kritikus mereka yang paling kritis pun tidak dapat membantah bahwa kaum
Anabaptis adalah orang-orang yang jujur, cinta damai, mampu mengendalikan diri dalam hal
makan dan minum, menjauhi bahasa dan kata-kata kasar, memiliki moral yang baik, lemah
lembut, dan tidak memiliki rasa iri, tamak, dan sombong. Banyak di antara mereka sama sekali
tidak menyentuh minuman beralkohol. Mereka sungguh-sungguh berusaha untuk hidup menurut
tolok ukur etika yang diajarkan Yesus dalam apa yang disebut sebagai Khotbah di Bukit. Usaha
mereka hampir sama dengan biarawan Katolik, yakni sama-sama mencari kesempurnaan melalui
komunitas yang terpisah dari dunia, namun mereka tidak hidup selibat seperti biarawan,
melainkan menikah dan berkeluarga.
Tidak jarang kaum Anabaptis dianiaya oleh kaum Protestan dan Katolik, karena bagi mereka
Anabaptis dianggap kaum revolusioner yang membahayakan dan mengganggu aturan yang telah
tertata. Beberapa wujud Anabaptis kemungkinan merupakan kelanjutan dari kelompok-kelompok
yang dianggap sesat pada abad-abad pra-Reformasi. Penganiayaan yang mereka alami tidak
menghapuskan jejak mereka di benua Eropa, dan beberapa dari mereka masih bertahan. Lebih
lanjut, mereka juga berkontribusi terhadap kemunculan atau perkembangan gerakan-gerakan di
Britania, terutama kaum Independen, Baptis, dan Quaker. Melalui kaum-kaum ini, terutama dua
yang pertama, wajah kekristenan pada abad ke-18 dan ke-19 akan dipengaruhi secara besarbesaran.

Gerakan Anabaptis mula-mula


Tepatnya kapan Anabaptis dimulai sejarah tidak mencatatnya. Seperti yang telah disebutkan,
beberapa kelompok Anabaptis kemungkinan berasal dari gerakan-gerakan sesat (heretikal)
sebelum abad ke-16. Ada pula dari antara mereka yang mengaku merupakan kelanjutan tak
terputuskan dari kekristenan pada abad pertama, namun berbeda dengan suksesi kerasulan yang
diklaim oleh Paus Gereja Katolik. Tetapi hal ini belum terbukti dan diterima secara umum. Jika
memang merupakan suatu kelanjutan banyak sekali terjadi perbedaan di antara mereka.

Penyebar ajaran Anabaptis mula-mula

Salah satu pusat gerakan Anabaptis mula-mula adalah Zrich. Di sana, di kota tempat Zwingli
berkontribusi begitu besar terhadap Gereja Reform, Konrad Grebel dan Felix Manz, dua orang
putra keluarga terpandang, memimpin gerakan radikal yang jauh melampaui Zwingli. Pada masa
Grebel bersekolah di Basel, Wina, dan Paris, ia dipengaruhi oleh ideologi humanisme yang
populer pada masa itu. Sekembalinya ke Zrich, ia dan Zwingli berkenalan. Perpindahan
keyakinannya terjadi pada 1522-1523, namun detilnya tidak diketahui. Dari luar ia merupakan
seorang teman yang baik dan pengikut ajaran reformasi yang sungguh-sungguh. Pada musim
gugur 1523 ia mulai berpisah dari Zwingli. Zwingli tidak mau mendesak lebih lanjut dalam
penghapusan misa dan penggunaan gambar di dalam gereja kepada dewan kota, sedangkan
Grebel percaya bahwa otoritas sipil tidak seharusnya mengatur gereja.

Thomas Mntzer
Di sekitar Grebel berkumpullah orang-orang yang kemudian disebut sebagai Kelompok
Persaudaraan Swiss. Mereka mengingini Gereja direformasi dengan tidak tanggung-tanggung,
lebih dari yang Zwingli ajarkan. Mereka menghubungi Carlstadt yang merupakan salah satu
radikal yang bertindak lebih jauh dari Luther. Mereka juga ingin menghubungi, namun tidak
berhasil, Thomas Mntzer yang cenderung lebih mengutamakan kekerasan. Grebel juga menulis
surat kepada Luther, menghimbaunya supaya menerapkan Kitab Suci tanpa kompromi, lebih
jauh dari yang saat itu dilakukan oleh Luther. Di banyak tempat di Swiss dan bagian barat daya
Jerman dasar Kitab Suci untuk baptisan anak mulai dipertanyakan. Pada musim gugur 1524
Grebel dan rekan-rekannya mulai menolak baptisan anak, dan walaupun mereka juga
menyatakan penolakan mereka terhadap perpuluhan yang dikumpulkan oleh negara untuk
membiayai para pendeta (minister) dan untuk "riba", namun konflik yang timbul dengan otoritas
Zrich terutama berasal dari kepercayaan baptisan tersebut. Pada Januari 1525, dewan kota
memutuskan untuk membela praktik baptisan bayi dan memerintahkan Grebel dan kolompok
Persaudaraan untuk menghentikan gerakan mereka. Meksipun diperintahkan demikian oleh
dewan kota, Grebel dan rekan-rekannya membaptis orang-orang percaya yang menghendaki

baptisan. Kelompok Persaudaraan tersebut juga melakukan Perjamuan Kudus dengan ritual yang
sangat sederhana.

Die Wa(h)rheit is untdtlich, kebenaran tidak akan mati, motto Balthasar Hbmaier
Dengan semangat bernyala-nyala seorang misionaris, Grebel berpindah ke kota-kota lain. Di
Schaffhausen, beberapa mil di sebelah utara Zrich, mula-mula ia menemukan dukungan. Di
Waldshut di dekatnya, Balthasar Hbmaier merupakan rekan sepikirannya. Di pusat-pusat yang
lain, yang terutama di St. Gall, Grebel dan rekan-rekannya mendapat sambutan yang antusias.
Meskipun demikian, Grebel, Manz, dan lain-lain ditangkap, diadili oleh otoritas sipil di Zrich,
dan dihukum penjara seumur hidup karena tidak menaati keputusan dewan kota. Setelah
beberapa bulan mereka berhasil melarikan diri. Manz yang tertangkap kembali dihukum mati
dengan cara ditenggelamkan (25 Januari 1527), rupanya merupakan martir pertama bagi gerakan
Anabaptis. Grebel telah meninggal beberapa bulan sebelumnya.
Balthasar Hbmaier, seorang lulusan universitas, pendeta, dan mantan murid Eck yang berdebat
dengan Luther di Leipzig, dan seorang pengkotbah yang handal, pada 1523 telah menjadi
penganut ajaran Refmasi. Dengan perpindahan keyakinannya, ia turut membawa beberapa paroki
yang dipimpinnya di Waldshut. Mula-mula bersahabat dengan Zwingli dan rekan-rekannya, pada
1525 ia menolak baptisan anak. Pada tahun yang sama ia dibaptis dan pada Paskah tahun itu ia
membaptis sekitar tiga ratus orang dan dilanjutkan dengan baptisan lainnya, Perjamuan Kudus,
dan pencucian kaki. Selama beberapa waktu ia berada di Zrich dan di sana ia dipenjara dan
disiksa. Setelah dilepaskan, ia pergi ke Nikolsburg di Moravia dan berkotbah dengan begitu luar
biasanya sehingga ribuan orang dibaptiskan. Ia ditangkap oleh perintah Adipati Agung Ferdinand
dari Austria, dibawa ke Wina, diadili, dinyatakan bersalah, dan dibakar (10 Maret 1528).
Pada 1520-an pandangan Anabaptis menyebar dengan cepat dan luas di bagian Swiss yang
berbahasa Jerman, Austria, dan tenggara Jerman. Strassburg merupakan salah satu pusat mulamula yang penting dan di barat laut pandangan Anabaptis mulai mengalami kemajuan di Negaranegara Bawah (bawah delta sungai Rhein, Scheldt, dan Maas). Di tempat-tempat lainnya jalan
telah dipersiapkan untuk kepercayaan Anabaptis oleh kaum Sahabat Tuhan dan kelompok mistik
abad ke-15 lainnya, dan kemungkinan juga oleh komunitas seperti Beguine dan Beghard.
Misionaris bagi gerakan ini sangatlah banyak. Melchior Hoffmann, seorang pengrajin kulit dari
Livonia yang lahir di Swabia, berkelana luas di Baltik, Skandinavia, Negara-negara Bawah, dan
Strassburg, berkotbah ke manapun ia pergi, dan di beberapa tempat mendapatkan pengikut dan
mendirikan komunitas-komunitas. Namun bahkan Strassburgh yang toleran sekalipun tidak dapat
mentolerirnya, dan ia akhirnya mati di dalam penjara di kota tersebut.
Hans Denck, seorang sarjana humanis, lulusan dari Universitas Ingolstadt, dan selama beberapa
waktu merupakan bagian dari klik-Erasmus di Basel, dipengaruhi oleh Tauler, mahir berbahasa
Yunani dan Ibrani, mendamakan reformasi internal dengan mendengarkan suara Roh di dalam
kita, Kristus yang berdiam di dalam manusia, dan Kitab Suci, dan menjauhi kekerasan, singgah

di beberapa kota, di antaranya Nuremberg, St. Gall, Strassburg, Worms, dan Augsburg, dan pada
usia tiga puluhan meninggal karena wabah di Basel.
Salah satu teman Denck, yang selama beberapa waktu juga merupakan teman Zwingli, Ludwig
Hetzer dari Swiss, yang mendapat pendidikan humanis dan telah dipengaruhi secara mendalam
oleh tulisan-tulisan mistik seperti Theologia Germanica, diusir dari Zrich karena ajaran
Anabaptisnya. Selama beberapa bulan pada 1525 ia mengepalai kaum radikal di Augsburg, dan
selama beberapa waktu berada di Basel di rumah Oecolampadius, di Strassburg sebagai tamu
Wolfgang Capito, seorang pengikut Zwingli dengan kecenderungan Anabaptis, bekerja sama
dengan Denck dalam menterjemahkan kitab-kitab nubuatan Perjanjian Lama ke dalam bahasa
Jerman, dan dengan Denck dipaksa untuk lari dari Worms, dan pada awal 1529 diadili dan
dieksekusi di Constance dengan dakwaan, kemungkinan palsu, perzinahan.
Beberapa orang di atas hanyalah sebagian dari tokoh-tokoh Anabaptis yang lebih dikenal dari
antara penyebar ajaran Anabaptis mula-mula.

Pengikut ajaran Anabaptis mula-mula


Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pengikut Anabaptis terdiri dari berbagai ragam.
Mereka kebanyakan direkrut dari anggota masyarakat kelas bawah, namun mereka juga berhasil
meyakinkan orang-orang terpelajar. Orang-orang tersebut kebanyakan berasal dari kawasan
perkotaan, namun tidak dikelompok-kelompokkan menurut pemimpin tertentu. Bagi kebanyakan
dari mereka penolakan baptisan bayi dan kepercayaan mereka atas baptisan orang percaya hanya
merupakan suatu kebetulan. Beberapa sama sekali menolak penggunaan kekerasan, meskipun
dalam bertahan melawan penganiayaan. Beberapa yang lain menginginkan penggunaan
kekerasan. Beberapa, seperti Hans Hetz, yang mengganggu Hbmaier di Nickelsburg,
memmproklamirkan bahwa harinya Tuhan telah dekat, dan para orang-orang suci merupakan
orang-orang pilihan yang, seperti keturunan Israel yang menaklukkan Palestina, bertugas untuk
menyiangi orang-orang jahat sebelum pemerintahan Kristus didirikan di atas bumi.
Michael Sattler, mantan biarawan, yang setelah dikuliti dan lidahnya dipotong, dibakar pada Mei
1527, sebelumnya, pada Februari tahun tersebut, telah memimpin penulisan kredo (artikel) iman
kepercayaan Anabaptis. Kredo tersebut mengganggap Gereja sebagai gabungan satuan-satuan
lokal orang-orang yang telah dibaptis sebagai orang percaya. Setiap satuan lokal memilih sendiri
pemimpinnya dan disatukan oleh sebuah Perjamuan Kudus. Kredo kepercayaan itu menolak
ibadah kaum Katolik Roma, Lutheran, dan Zwinglian sebagai "perbudakan daging", yakni tubuh
jasmaniah mereka. Namun tidak semua pengikut Anabaptis mengakui pernyataan iman tersebut.

Penganiayaan terhadap Anabaptis


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Penganiayaan terhadap orang Kristen
Pemimpin Katolik Roma, Lutheran, dan Zwinglian menganggap kaum Anabaptis sebagai orangorang radikal yang berbahaya, yang mengancam timbulnya anarki di gereja dan negara. Di antara
ketiganya ada beberapa yang berusaha menyingkirkan mereka dengan kekerasan. Di akhir 1520-

an dan awal 1530-an, ratusan Anabaptis dibunuh, sebagian dengan cara ditenggelamkan,
beberapa dipenggal, dan lainnya dibakar.
Penganiayaan terhadap Anabaptis semakin meningkat karena mereka dipercaya bertanggung
jawab secara sebagian di dalam pemberontakan para petani tahun 1524-1525. Tuduhan tersebut
memiliki alasan yang kuat. Thomas Mntzer merupakan salah satu otak di balik pemberontakan
di Saxony. Ia biasanya dikategorikan sebagai Anabaptis, karena walaupun ia tidak terlalu
mempersoalkannya sebagaimana Anabaptis yang lain, ia menolak baptisan bayi, dan menurut
definisi Anabaptis secara inklusif ia dapat dikelompokkan dengan mereka. Tentunya orang-orang
yang merasa was-was dengan ketertiban publik merasa perlu untuk bertindak dengan lebih
bengis terhadap kaum Anabaptis karena adanya ketakutan bahwa, karena melihat bahwa
kebanyakan dari mereka berasal dari kelas yang kurang beruntung, mereka dapat menimbulkan
pemberontakan.

Episode Mnster
Ketakutan terbesar para kritikus Anabaptis menjadi kenyataan dalam episode Mnster pada
1533-1535. Mnster, sebuah kota di Wesphalia, tidak jauh dari perbatasan Belanda, pada Abad
Pertengahan merupakan anggota terkemuka Liga Hanseatik, merupakan pusat kedudukan
seorang uskup. Di sana pada 1529 seorang pendeta (chaplain) muda bernama Bernhard
Rothmann mulai mengkotbahkan tentang pembenaran karena iman. Ia berhasil meyakinkan
banyak di antara massa tersebut yang seyogyanya telah merasa tidak puas di bawah eksploitasi
para penguasa dari kaum gerejawan. Walaupun mendapat tentangan dari pihak uskup dan
bangsawan-bangsawan di sekitarnya, kota tersebut dinyatakan menjadi Protestan dan didaftarkan
ke dalam Liga Schmalkaldik. Namun Rothmann tidak pernah terlihat seperti seorang Lutheran, ia
lebih dekat kepada Anabaptis. Pada 1533 ia telah menjadi yakin bahwa baptisan anak adalah
salah. Karenan ia menolak membaptiskan anak bayi, maka tokoh-tokoh masyarakat setempat,
semuanya Lutheran, berusaha menjatuhkannya dari jabatannya, namun terhenti karena
ketenarannya yang jauh melampaui kekuasaan mereka. Pada sebuah perselisihan pendapat di
muka umum dengan seorang Lutheran dan seorang Katolik Roma, populasi kota tersebut
menyatakan Rothmann sebagai pemenangnya.

David Joris, salah satu murid Melchior Hoffman dari Belanda.


Kemudian tersebarlah kabar bahwa Mnster telah menjadi Anabaptis dan berbondong-bondong
datanglah pengikut Melchior Hoffman ke kota tersebut. Hoffmann telah meramalkan bahwa

setelah ia dipenjara dan setelah kematiannya ia akan kembali, pada 1533, bersama dengan
Kristus di tengah-tengah awan di surga, dan orang-orang jahat akan dihakimi, dan Yerusalem
Baru akan didirikan di Strassburg. Tahun 1533 berlalu dan Hoffman masih dipenjarakan, dan
akhir zaman belum juga tiba. Salah satu imigran yang terkenal adalah Jan Matthys, seorang
pembuat roti dari Haarlem, di Belanda, yang percaya bahwa dirinya adalah seorang nabi dan
yang percaya bahwa di Mnster-lah, bukan Strassburg, tempat didirikannya Yerusalem yang baru
tempat orang-orang suci memerintah. Seorang yang lain adalah Jan Beukelssen, seorang penjahit
dari Leiden. Para Anabaptis menguasai Mnster dan di sana mereka berusaha untuk menciptakan
suatu masyarakat Kristen menurut kepercayaan mereka. Sang Uskup Mnster mengepung kota
tersebut. Dengan dibantu pihak Lutheran dan Katolik ia mengambil alih kota tersebut (24 Juni
1535). Matthys telah tewas dalam sebuah pertempuran awal. Para pemimpin yang tertinggal,
termasuk Jan dari Leiden, disiksa dan dibunuh, dan kepemimpinan sang uskup dipulihkan
kembali.

Jan Matthys
Efek dari episode Mnster tersebut adalah semakin kuatnya nama buruk yang dikaitkan dengan
nama Anabaptis. Laporan-laporan bertebaran tentang tindakan-tindakan ekstrem yang dilakukan
oleh para fanatik Anabaptis selama bulan-bulan tersebut terhadap hak-hak milik pribadi,
poligami, dan tekanan terhadap orang-orang yang melawan. Seperti biasanya laporan-laporan
semacam itu semakin berkembang semakin mereka diceritakan dan diceritakan lagi, dan semakin
lama semakin jauh dari kenyataannya. Sebenarnya hak milik pribadi tidak dihapuskan, dan
walaupun beberapa pemimpinnya melakukan poligami, namun hukuman berat menanti bagi
mereka yang berzinah dan yang bersetubuh di luar nikah. Walaupun hanya sebagian kecil dari
kaum Anabaptis yang terlibat, terutama dari kelompok yang dihubungkan dengan Hoffmann,
secara umum dipercayai, terutama di antara kelas penguasa dan kelas atas lainnya, bahwa semua
Anabaptis menimbulkan kekacauan di pemerintahan, masyarakat, moral, dan agama.

Menno Simmons dan kaum Mennonit


Bagian Anabaptis yang terbesar yang selamat dari penganiayaan di daratan benua Eropa adalah
kaum Mennonit. Mereka mendapatkan nama tersebut dari Menno Simons. Menno Simons
dilahirkan di Negara-negara Bawah, disekolahkan sebagai calon pendeta, menguasai
pengetahuan mendalam di bidang bahasa Latin dan sedikit di bidang bahasa Yunani, dan
ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1524. Pada mulanya ia terlihat tidak berbeda dengan
pemuka-pemuka agama lainnya pada masa itu yang umumnya materialistis. Namun hawa
perubahan mulai berhembus, dan bahkan sebelum ia ditahbiskan, nama Luther telah menjadi
terkenal. Belum setahun memangku jabatannya Menno Simons telah mulai ragu terhadap

kemujaraban misa. Ia mulai mempelajari Kitab Suci secara mendalam pada saat penghukuman
mati seorang Anabaptis di kampung halamannya Friesland Barat mengguncangkannya.
Walaupun masih melayani sebagai seorang imam di Gereja Katolik Roma, namun ia mencapai
kesimpulan bahwa gereja tersebut, dan Luther, Zwingli, dan Kalvin telah salah dalam
mengadakan baptisan bayi, dan bahwa hanya baptisan orang percayalah yang memiliki
kewenangan Kitab Suci. Namun ia juga menentang gerakan Anabaptis Mnster dan percaya
bahwa mereka dan pengikut Hoffman salah dalam hal menggunakan pedang dan senjata untuk
membela diri. Walaupun demikian, kepahlawanan mereka di bawah tekanan penganiayaan telah
mengetuk pintu hatinya atas keputusannya menerima pos keimaman yang serba mudah dan
aman. 30 Januari 1536, ia secara terang-terangan memutuskan diri dari hubungannya dengan keKatolikan Roma dan tidak lama sesudahnya ia dibaptis oleh Obbe Phillips, seorang Anabaptis
yang sebelumnya dipengaruhi oleh Hoffmann tetapi yang tidak punya hubungan dengan gerakan
Mnster, seorang Anabaptis yang juga dikejutkan oleh klaim dari Matthys dan tokoh-tokoh lain
di sekitarnya yang mengaku memiliki karunia bernubuat, dan berpegangan erat pada Kitab Suci.
Menno Simons tahu bahwa langkahnya ini, dengan pemutusan hubungannya dengan dunia, akan
berujung pada penganiayaan.
Tebakan Menno Simons atas penganiayaan yang akan menimpa dirinya akhirnya benar-benar
terjadi. Ia diangkat menjadi seorang pendeta Anabaptis, dikirim sebagai misionaris keliling untuk
gerakan Anabaptis, dan selama bertahun-tahun tinggal di Belanda sebagai buronan dan orang
yang dicari dengan ancaman hukuman mati. Namun, ia menikah dan memiliki anak. Pada tahun
1543 ia memperluas usaha pengabaran Injilnya hingga ke Jerman, hampir selalu diiringi dengan
penganiayaan yang mengancamnya baik dari pihak Katolik Roma maupun dari pihak Lutheran.
Akhirnya ia menemukan tempat perlindungan di sebuah rumah bangsawan di Holstein,
Denmark, yang terkesan akan keberanian kaum Anabaptis yang ia lihat sendiri mati secara
martir, yang percaya bahwa mereka orang-orang yang tidak berbahaya, dan melindungi mereka.
Di sana Menno Simmons tinggal selayaknya di rumahnya sendiri hingga akhir hayatnya, namun
masih sering berkelana ke Belanda dan Jerman. Hingga pada saat kematiannya, melalui tulisantulisannya yang sangat banyak, kotbah-kotbahnya, pengaturan jemaat-jemaatnya, dan perjalananperjalanannya, ia telah menjadi seorang pemimpin Anabaptis yang ternama di Belanda dan
Jerman Utara.
Jumlah kaum Mennonit sangat banyak di Belanda, Bahkan, sebelum menyebar luasnya gerakan
Gereja Reform, barangkali jumlah mereka merupakan mayoritas di antara orang-orang Protestan.
Jumlah mereka juga berlipat ganda di berbagai bagian di Jerman. Mereka sulit untuk menyetujui
suatu doktrin bersama, dan beberapa buah pengakuan iman telah mereka tulis. Kita mengetahui
pengakuan iman yang bertanggal mulai dari 1577, 1579, 1582, 1591, 1600, dan 1627. Pengakuan
Dortrecht, 1632, merupakan sebuah usaha untuk mempersatukan berbagai bentuk gerakan
tersebut dan banyak digunakan di dalam jemaat Flemish (Flanders), Frisia, dan Alsace.
Perbedaannya umumnya di sekitar tingkat hukuman yang diterima oleh anggota jemaat yang
dikucilkan. Kaum Mennonit sangat peduli akan taraf hidup kekristenan yang tinggi dan untuk itu
memberlakukan hukuman pengucilan bagi mereka yang dianggap bersalah di komunitas mereka.

Pembagian Anabaptis selanjutnya

Kaum Anabaptis terus menerus terbagi-bagi. Kaum Menonit merupakan yang terbanyak, namun
bahkan di antara mereka tidak bersatu dalam suatu persekutuan bersama melainkan berbeda-beda
sendiri di antara mereka. Satu cabang, kaum Amish, yang memperoleh namanya dari Jacob
Ammann, dari akhir abad ke-17, berusaha untuk kembali ke hidup yang lebih disiplin lagi. Kaum
Hutterit, atau Persaudaraan Hutterit, dari Jacob Hutter, yang disiksa dan dibakar pada 1536,
selama bergenerasi-generasi mempraktikkan sebuah komunitas berdasarkan barang-barang.
Berbasis di Moravia, mereka sangat menderita dalam Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648).
Sisa-sisa mereka mencari perlindungan di Hungaria. Pada akhir abad ke-18 banyak dari mereka
yang mendiami Rusia Selatan, yang menyambut mereka karena keuletan dan kegigihan mereka.
Didorong oleh penganiayaan dan penolakan untuk mengangkat senjata membela diri, kaum
Mennonit tersebar ke mana-mana. Pada abad ke-17 banyak dari kaum Mennonit Swiss, didesak
oleh penganiayaan, terutama di Bern dan Zrich, mendapatkan tempat tinggal di Palatinate. Pada
akhir abad ke-18 di bawah kepemimpinan Katarina Agung yang berkerohanian skeptis, banyak
dari mereka yang pindah ke Rusia Selatan, tertarik akan janji tanah yang bebas dan kebebasan
dari membayar pajak selama beberapa kurun waktu. Sebagian dari mereka juga mendiami
Amerika Utara dan Selatan, terutama di Amerika Serikat.
Sekelompok orang yang memiliki prinsip-prinsip Anabaptis namun yang sejarahnya berbeda
dengan mereka adalah Gereja Persaudaraan atau Taufers. Pendirinya adalah Alexander Mack.
Pembentukannya dapat dibilang terjadi pada tahun 1708 ketika delapan pria dan wanita yang
tergerak karena gerakan Pietisme, dan ingin menjadikan Perjanjian Baru sebagai satu-satunya
hukum dan petunjuk hidup mereka, dibaptiskan di Sungai Eder. Pusat-pusat awal mereka adalah
Schwarzenau, Palatinate, dan Marienborn. Memasuki 1750, beberapa kelompok yang digerakkan
karena penganiayaan, mencari perlindungan di Pennsylvania yang toleran.
Dalam kurun waktu sejarah mereka, kaum Mennonit dan keturunan kaum Anabaptis yang lain
menjadi kelompok yang hanya memperoleh anggota baru melalui kelahiran. Pada awalnya
merupakan pengabar Injil yang berkobar-kobar, penganiayaan telah membuat mereka semakin
menarik diri dan menambahkan jumlah anggota mereka melalui kelahiran bukan pertobatan. Di
beberapa tempat, terutama di Belanda, mereka menjadi sukses dan tidak lagi menganut
pasifisme. Di tempat lainnya, mereka tetap memegang teguh keyakinan dan cara hidup historis
mereka.

Referensi
Kenneth Scott LaTourette, A History of Christianity: Reformation to the Present (A History
of Christianity Volume II: A.D. 1500-A.D. 1975), Peabody, MA, Prince Press, 1975, Cetakan
keenam - Januari 2005, Bab 34, hal. 778-787.
Bibliografi Bab 34:
R. H. Bainton, The Travail of Religious Liberty. Nine Biographical Studies, Philadelphia,
The Westminster Press, 1981, hal. 772.
E. B. Bax, Rise and Fall of the Anabaptists, New York, The Macmillan Co., 1903, hal.
407. (tentang bab Mnster).
H. S. Bender, Conrad Grebel, c.1498-1526, the Founder of the Swiss Brethren Sometimes
Called Anabaptists, Goshen, IN, The Mennonite Historical Society, 1950, hal. xvi, 326.

H. S. Bender, Menno Simon's Life and Writings. A Quadricentennial Tribute 1536-1936,


Scottdale, PA ,Mennonite Publishing House, 1936, hal viii, 110.
A. Coutts, Hans Denck, 1495-1527, Humanist and Heretic, Edinburgh, Macniven &
Wallace, 1927, hal. 262.
H. E. Dosker, The Dutch Anabaptists, Philadelphia, The Westminster Press, 1921, hal.
310.
R. Friedmann, Mennonite Piety Through the Centuries, Its Genius and Literature,
Goshen, IN, The Mennonite Historical Society, 1949, hal. xv, 287.
J. Horsch, Menno Simons, His Life, Labors, and Teachings, Scottdale, PA, Mennonite
Publishing House, 1916, hal 324.
J. Horsch, Mennonites in Europe, Scottdale, PA, Mennonite Publishing House, 1942, hal
xiii, 425.
R. J. Smithson, The Anabaptists: Their Contribution to Our Protestant Heritage, London,
James Clarke & Co., foreword, 1935, hal 228.
H. C. Vedder, Balthazar Hbmaier, The Leader of the Anabaptists, New York, G. P.
Putnam's Sons, 1905, hal. xxiv, 333.