Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

lndonesia terletak pada jalur vulkanik memiliki sekitar 200 buah gunung api yang
dapat berpotensi menjadi sumber energi panas bumi, sehingga Indonesia merupakan
salah satu Negara di dunia yang kaya akan energi panas bumi. Total potensi panas
bumi dunia menurut World Geothermal Congress (WGC) 2010, setara dengan 40.000
GWe, sedangkan kebutuhan energi dunia setara 15.000 GWe, sehingga energi panas
bumi secara logika dapat mengatasi keperluan energi dunia. Potensi panas bumi
yang sedemikian besarnya belum dioptimalkan pemanfaatanya, bukan hanya di
Indonesia namun juga negara-negara dunia.
Dengan semakin menipisnya cadangan sumber energi yang bertumpu pada minyak
bumi, sementara kebutuhan akan energi semakin meningkat, maka pada saatnya akan
terjadi kekurangan dalam pemenuhan energi. Sementara manusia tidak dapat lepas
dari pemenuhan akan sumber energi tersebut. Maka diperlukan pencarian sumber
energi alternatip untuk menjawab permasalahan itu. Dan panasbumi merupakan salah

satu pilihan yang memberikan harapan baru bagi pemenuhan kebutuhan energi
tersebut.
Energi panas bumi berpotensi menggantikan energi fosil sebagai sumber energi.
Potensi panas bumi Indonesia yang mencapai 27 GWe jika keseluruhan
sumberdayanya dipakai akan dapat menggantikkan BBM sekitar 12 milyar barel.
Sumber daya sebesar 27.000 MWe, merupakan cadangan energy panas bumi terbesar
di dunia (40% dari seluruh cadangan sumber energi panas bumi dunia). Namun,
potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan sampai saat ini,
Indonesia baru memanfaatkan kurang dari 1.500 MWe.
Sumber panasbumi berasal dari distribusi suhu dan energi panas di bawah permukaan
bumi. Suhu di permukaan ditentukan oleh konduksi panas melalui batuan padat dan
konveksi di dalam radiasi sirkulasi fluida. Suhu bumi bertambah besar secara konstan
selaras dengan bertambahnya kedalaman pada sistem panasbumi. Suhu bumi yang
berubah tergantung dari kedalamannya yang disebut gradient geothermal.
Pada kedalaman tertentu akibat tumbukan lempengan samudra dan benua yang
disebut sebagai proses Subduksi seperti tampak pada Gambar 1, suhu bumi akan
menjadi sangat tinggi sehingga batuan padat akan menjadi magma cair, disebabkan
oleh suatu kondisi geologi tertentu maka magma cair akan menerobos ke permukaan
dan membentuk intrusi batuan beku atau kegiatan gunung api.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat menentukan manifestasi air panas di daerah Padang Cermin Way Ratai.
2. Dapat mengetahui sistem panas bumi di daerah tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Struktur Geologi
Secara regional, daerah penelitian dalam praktikum ini berada pada jalur gunung api
pulau Sumatera (vulkanis Sumatera) yaitu pada lajur bukit barisan. Ada beberapa
gunung api yang terdapat pada daerah ini yaitu gunung ratai dan gunung pesawaran,
vulkanisme yang terjadi pada daerah penelitian berlangsung pada zaman tersier yang
ditunjukkan oleh produk vulkanik gunung ratai yaitu berupa endapan gunung api
muda seperti larva dan piroklastika yang berasal dari andesit vulkanik tersier.

Gambar 1. Peta Kabupaten Pesawaran

III. TEORI DASAR

Sistem panasbumi tersusun oleh beberapa parameter kebumian seperti sumber panas,
reservoar, batuan penudung, sumber fluida dan siklus hidrologi, yang diperlihatkan
Gambar 2. air hujan (rain water) akan merembes ke dalam tanah melalui saluran
pori-pori atau rongga-rongga diantara butir-butir batuan, sehingga air dengan leluasa
menerobos turun ke batuan panas (hot rock). Air tersebut terakumulasi dan
terpanaskan oleh batuan panas (hot rock), akibatnya suhu air meningkat, volume
bertambah dan tekanan menjadi naik. Tekanan yang terus meningkat menyebabkan
air panas naik ke atas melalui celah, retakan dan pori-pori yang berhubungan di
dalam permukaan.
Lapisan litospera (lithosphere) adalah lapisan yang memiliki ketebalan yang tidak
sama di setiap tempat, di bawah benua memiliki ketebalan 100 km dan di bawah
samudera memiliki ketebalan sekitar 50 km (Stacey, 1977). Lapisan di bawah
litospera adalah astenospera (asthenosphere) merupakan lapisan plastis yang
mencapai kedalaman 500 km di dalam selubung. Tumbukan (subduction) kerak benua
dan kerak samudera menyebabkan litospera akan menyusup masuk ke astenosfer
yang bersuhu tinggi, sehingga dapat meleburkan kerak samudera yang berada di atas
litospera. Hasil peleburan kerak samudera akan menghasilkan magma.

3
3

4
2

4
2

Gambar 2. Model sistem panas bumi secara umum (dimodifikasi dari geothermal figure
google 18 Agustus 2010). (1) sumber panas, (2) reservoar, (3) lapisan penutup, (4)
patahan, (5) daerah resapan (recharge area) (google geothwrmal, 1020). Magma merupakan
lelehan material yang bercampur mineral-mineral dan gas-gas tertentu terjadi ketika suhu
naik cukup tinggi. Ketika magma mencapai permukaan bumi melalui pipa-pipa gunung api,
maka hancuran batuan dan mineral serta gas.

Gambar 3. Model sistem panas bumi lapangan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung
(PGE, 2008)

akan disemburkan keluar. Magma yang keluar dan meleleh di permukaan bumi
disebut lava. Di permukaan bumi lava tersebut akan mengalami proses pendinginan
dengan cepat, sehingga membentuk kerak batuan di permukaan, sedangkan di bawah
yang tetap cair panas akan tertahan di bawah permukaan jika tidak memiliki tekanan
yang cukup untuk menerobos. Magma yang terperangkap di bawah permukaan ini
akan mengalami pendinginan dengan lambat, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
sumber panas bumi (Skinner, 1989).

Sistem panas bumi dikontrol oleh adanya:


1. Sumber panas (heat source) berupa plutonik.
2. Batuan berporos atau reservoar (reservoar) tempat uap panas terjebak di
dalamnya.
3. Lapisan penutup, berupa batu lempung.
4. Keberadaan struktur geologi (patahan, perlipatan, collapse, rekahan dan
ketakselarasan).
5. Daerah resapan air atau aliran air bawah permukaan (recharge area).

Gambar 4. Madel sistem panas bumi di lapangan Gunung Salak (Gunung Salak Geothermal
Project Guide Book, 1996), dari Teknik Panasbumi, Nenny Miryani Saptadji.

Gambar 1 meunjukkan model sistem panas bumi secara umum, yang memenuhi lima
syarat terbentukknya sistem panas bumui, Gambar 2 adalah model sistem panas bumi
lapangan Ulubelu (di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung), Gambar 3 adalah
model sistem panas bumi lapangan Gunung Salak (di Kabupaten Sukabumi dan
Bogor), Gambar 4 adalah model sistem panas bumi lapangan Suoh (di Kabupaten
Lampung Barat Provinsi Lampung).
Keberadaan suatu sistem panas bumi biasanya dicirikan oleh adanya manifestasi di
permukaan, yaitu berupa:
1. Mata air panas (hot spring)
Batuan dalam dapur magma dapat menyimpan panas sampai ribuan tahun. Air tanah
yang turun dan bersentuhan dengan magma akan terpanaskan dan cenderung naik ke

permukaan melalui rekahan-rekahan pada batuan dan membentuk sumber mata air
panas, lihat Gambar 5.

Gambar 5. Mata air panas yang luas di lapangan panas bumi Suoh, Lampung Barat
Provinsi Lampung, pH 7, suhu 100 oC, (Foto: Suharno, 2010).

2. Fumarola dan solfatara


Merupakan lubang asap tempat dikeluarkannya gas-gas yang dihasilkan oleh
gunung api. Umumnya fumarola terletak di sekitar gunung api atau pada terobosan
melalui

rekahan-rekahan.

Sedangkan

solfatara

merupakan

fumarola

yang

mengeluarkan gas belerang (sulfur), seperti SO2, H2S, dan S. Sering juga dijumpai
belerang yang mengendap sebagai kristal dan melapisi rekahan-rekahan pada batuan
yang dilaluinya, lihat Gambar 6, 7 dan 8.

Gambar 6. Fumarola di lapangan panas bumi Ulubelu Kabupaten Tanggamus


Provinsi Lampung, (Foto: Suharno, 2010).

Gambar 7. Fumarola di lapangan panas bumi Suoh (Srirejo) Lampung Barat Provinsi
Lampung, (Foto: Suharno, 2010).

Gambar 8. Solfatara di lapangan panas bumi Sekincau (Wai Balirang) Kabupaten


Lampung Barat Provinsi Lampung, (Foto: Suharno, 2010)

3. Geyser
Adalah air tanah yang tersembur keluar sebagai kolam uap dan air panas, terbentuk
oleh adanya celah yang terisi air dari kawah. Semakin besar akumulasi air dalam
celah, maka makin tinggi tekanan uap air yang menekan air di atasnya, sehingga air
akan tersembur keluar, lihat Gambar 9.

Gambar 9. Geyser Pohutu di daerah Whakarewarewa Rotorua New Zealand (Nenny,


1993)

4. Uap Tanah (Steaming Ground)


Di beberapa daerah lapangan panas bumi sering ditemukan tempat-tempat yang
mengeluarkan uap panas (steam) Nampak keluar dari permukaan tanah. Manifestasi
seperti ini biasa disebut steaming ground (uap tanah).

Gambar 10. Uap tanah (Steaming ground) dekat lapangan panas bumi Ulubelu
Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. (Foto Suharno, 2002).

Jenis-jenis Sistem Panas Bumi


Energi panasbumi dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber panasnya menjadi lima
bagian: (1) energi magma (magma energy), (2) energy panas batuan kering (hot dry
rock energy), (3) energi bumi (earth energy), (4) energy tekanan bumi (geopresure
energy), dan (5) energi hidrotermal (hydrothermal energy).
Dari ke lima sumber energi tersebut, akhirnya yang paling berkembang dan produktif
adalah sumber energi hidrotermal (hydrothermal energy). Karena sumber energy
panas bumi yang lain tidak begitu popular, sehingga pada umunya yang dikenal
sebagai energy panas bumi adalah energi hidroterma. Padahal energy hidrotermal
hanyalah salah satu dari beberapa jenis energy panasbumi.

Oleh karena hal tersebut, maka dalam buku ini hanya akan membahas jenis-jenis
sistem panas bumi dari energy hdrotermal. Hidrotermal adalah air panas, maka akan
dibahas berdasarkan pada jenis fluida produksi dan jenis kandungan fluidanya.
Berdasarkan kandungan fluidanya, sistim hidrotermal dibedakan menjadi dua: (1)
sistim satu fasa (fluidanya terdiri atas air saja atau uap saja), (2) sistim dua fasa
(fluidanya terdiri atas air dan uap bersamaan). Pada sistim satu fasa, biasanya sistim
reservoarnya berisi air yang mempunyai suhu 90 s.d. 180 oC contohnya seperti sistem
hidrotermal di Waiwera New Zealand. Pada sistem dua fase dapat dibedakan menjadi
dua: (1) sistem dominasi air (water dominated system) dan sistem dominasi uap
(vapor dominated system).
(1) Sistem dominasi air (water dominated system) adalah sistem panasbumi
hidrotermal yang fluidanya sebagian besar terdiri atas air. Sistem ini ditandai
oleh sumur-sumurnya yang menghasilkan fluida dua fasa berupa campunm uap
air. Lapangan panas bumi Awibengkok termasuk merupakan contoh lapangan
panas bumi sistem dua fase dominasi air, karena sumur-sumurnya sebagian besar
menghasilkan uap dan air. Contoh lain, adalah lapangan panas bumi Ululubelu.
Berdasarkan data bor eksplorasi (slim hole) ditemukan reservoar dua fase.
(2) Sistem dominasi uap (vapor dominated system) adalah sistem panasbumi
hidrotermal yang fluidanya sebagian besar terdiri atas uap air. sistem panas bumi
ini diketahui dari sumur-surnurnya yang memproduksikan urp (uap kering
maupun uap basah). Hal ini disebabkan oleh banyaknya uap panas yang mengisi
sebagian besar rongga-rongga batuan reservoarnya. Dalam sistim ini, diprediksi

bahwa uap air mengisi bagian rongga-rongga permeabel, sedangkan air mengisi
pori-pori batuan. Air terperangkap di dalam pori-pori karena jumlah air yang
terkandung di dalam pori-pori relatif sedikit, sehingga air terperangkap dalam
pori-pori batuan dan tidak bergerak. Lapangan panas bumi Kamojang merupakan
contoh lapangan panas bumi sistem dua fase dominasi uap, karena sumursumurnya sebagian besar menghasilkan uap kering.

Tabel 1. Klasifikasi sistem panas bumi berdasarkan suhu

Klasifikasi

Muffer & Cataldi

Haenel, Rybach

Benderiter &

(1978)

& Stegna (1988)

Cormy (1990)

< 90oC

< 150oC

< 100oC

90-150oC

100-200oC

>250oC

> 200oC

Sistem panas bumi


suhu rendah
Sistem panas bumi
suhu sedang
Sistem panas bumi
suhu tinggi

> 150oC

Suhu reservoar panas bumi biasanya berkisar 100 s.d. 350oC, bahkan bisa mencapai
350oC. Beberapa ahli panas bumi mengklasifikasikan sistem panas bumi berdasarkan
suhu menjadi tiga kategori: (1) sistem panas bumi suhu rendah, (2) sistem panas bumi
suhu sedang dan (3) sistem panas bumi suhu tinggi, lihat Tabel 1. Namun, pada

akhirnya yang lebih popular dipakai adalah klasifikasi Hochstein (1990): (1) sistem
panas bumi suhu rendah < 125 oC, (2) sistem panas bumi suhu sedang antara 125 s.d.
225 oC, dan (3) sistem panas bumi suhu tinggi >225 oC.
Suhu reservoar panas bumi bisa mencapai 350 oC. Hal ini jika dibandingkan dengan
suhu reservoar minyak bumi, maka terhitung sangat tinggi. Tingginya suhu reservoar
panas bumi akan berdampak terhadap kandungan energy listrik yang dapat
dihasilkan. Karena semakin tinggi suhu reservoar akan semakin tinggi pula
kandungan entalpinya. Dengan demikian kalsifikasi kandungan entalpi reservoar
panas bumi dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu sistem panas bumi memiliki
kandungan entalpi rendah (suhu reservoar < 125 oC), sistem panas bumi kandungan
entalpi sedang (suhu reservoar antara 12- s.d. 225 oC) dan sistem panas bumi
kandurnagn entalpi tinggi ( suhu reservoar > 225 oC).

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

A. Waktu dan tempat Praktukum


Praktikum ini dilakukan pada tanggal 12 Desember 2010, di daerah Way Ratai,
Padang Cermin, Pesawaran.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktiukum ini adalah sebagai berikut :
1. GPS
2. Thermometer
3. Kompas
4. Camera
5. Stopwatch

C. Cara Kerja
Cara Kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Mencari mata air panasbumi yang tersebar di daerah Way Ratai, Padang
Cermin.
2. Mencatat latitude dan longitude setiap sumber mata air panasbumi di daerah
Way Ratai, Padang Cermin.
3. Mencatat Diameter mata air panasbumi di daerah Way Ratai, Padang Cermin.
4. Melihat kondisi lingkungan di sekitar daerah mata air panasbumi di daearh
Way Ratai, Padang Cermin.
5. Mengamati mata air panas yang berada didaerah Way Ratai, Padang Cermin.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Pengukuran menggunakan GPS
Lokasi pak aceng dengan X = 517654, Y= 9384356 dan Elevasi = -15
a. Lokasi sumur 1
X = 517722, Y = 9383456 dan Elevasi = 18
b. Lokasi sumur 2
X = 517387, Y = 9383524 dan Elevasi 37
c. Lokasi sumur 3
X = 517402, Y = 9383542 dan Elevasi 33
d. Lokasi sumur 4
X = 517419, Y = 9383526 dan Elevasi 29
e. Lokasi sumur 5
X = 517526, Y = 9383566 dan Elevasi 20

B. Pembahasan
1. Sumur pertama

Gambar 11. Sumur 1


Pada sumur 1, Lingkungan yang berada di sekitar sumur banyak tumbuh pohon
kelapa, dan tumbuhan- tumbuhan liar seperti ilalang dan sejenisnya. Namun pada
daerah sumur 1 tumbuhan yang berada didekat sumur tersebut kurang baik karena
daun pada tumbuhan banyak yang berwarna kuning atau tidak bisa ditumbuhi oleh
pepohonan dan tanaman bahkan ada yang tidak dapat bertahan hidup karena faktor
mata air panas dan suhu yang tinggi. Suhu pada sumur 1 diperkirakan sebesar 120c,
dengan diameter mata air 5 cm, dan mempunyai ketinggian semburan sekitar 1 meter
dan semburan mempunyai periode 35 menit dengan tinggi semburan bervariasi.

Pada sumur 1 terdapat silica sinter yang dapat dilihat dari batuan di sekitar semburan
sumur berwarna kekuningan hingga berwarna hijau dengan mengeluarkan bau pada
asap semburan.

Gambar 12. Sumur 2


Pada Sumur 2 diameter diperkirakan 3 m dengan suhu sebesar 90 c, dengan
mengeluarkan uap namun tidak menunjukkan sumur mendidih. Dimana sumur ini
dikelilingi oleh pepohonan.

Gambar 13. Sumur 3


Pada sumur 3 diameter diperkirakan sebesar 2 m dengan suhu yang sama dengan
sumur 2 yaitu sebesar 80c. sumur yang ketiga ini tidak mengeluarkan semburan,
namun air nya berwarna bening. Tumbuhan yang berada disekitar nya tidak ada
karena tanah yg tandus dan juga pengaruh dari suhu tinggi yang berada disekitarnya.

Gambar 14. Sumur 4

Pada sumur 4 diameter diperkirakan sebesar 30 cm dengan suhu sebesar 100 c, tidak
mengeluarkan semburan namun di dalam sumur mata air seperti air mendidih. Sumur
ini terlihat kecil, namun mata air panas masih aktif didalamnya yang tidak bisa dilihat
secara kasat mata.

Gambar 15. Sumur 5


Pada sumur 5 diameter diperkirakan 60 cm, tidak mengeluarkan semburan, dan suhu
pada sumur 2 diperkirakan 80c. dimana sumur yang terakhir ini memiliki diameter
yang cukup besar dibandingkan dengan sumur-sumur yang lain.
Semua sumur diatas mengandung chlorite yang dapat dilihat dari warna air yang
berwarna sangat bening.

Gambar 16. Batuan yang ada di sekitar mata air panasbumi Way Ratai
Keberadaan suatu sistem panas bumi di Way Ratai yang baru diketahui untuk
manifestasi panasbumi adalah :

1. Mata air panas (hot spring)


Batuan dalam dapur magma dapat menyimpan panas sampai ribuan tahun. Air tanah
yang turun dan bersentuhan dengan magma akan terpanaskan dan cenderung naik ke
permukaan melalui rekahan-rekahan pada batuan dan membentuk sumber mata air
panas
2. Fumarola dan solfatara

Merupakan lubang asap tempat dikeluarkannya gas-gas yang dihasilkan oleh


gunung api. Umumnya fumarola terletak di sekitar gunung api atau pada terobosan
melalui

rekahan-rekahan.

Sedangkan

solfatara

merupakan

fumarola

yang

mengeluarkan gas belerang (sulfur), seperti SO2, H2S, dan S. Sering juga dijumpai

belerang yang mengendap sebagai kristal dan melapisi rekahan-rekahan pada batuan
yang dilaluinya.
Dengan demikian sistem panas bumi ini merupakan sistem yang dapat dijadikan
sebagai manifestasi pada daerah-daerah yang memiliki mata air panas dengan
tingkatan yang lebih baik lagi.

VI. KESIMPULAN

Dari penelitian praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Manifestasi yang ada di Way Ratai Berupa Mata air panas (hot spring),
Fumarola dan solfatara.
2. Pada Daerah Way Ratai mempunyai Potensi Panasbumi yang cukup baik.
3. Mata air panasbumi di sekitar Way Ratai mengandung Chlorite karena air
yang berwarna bening.
4. Adanya perbedaan antara sumur satu dengan sumur yang lain yaitu pada
diameter dan suhu pada masing-masing sumur tersebut.