Anda di halaman 1dari 17

PERSAMAAN LAPLACE, PERSAMAAN POISON, SYARAT BATAS, METODE BAYANGAN, METODE PEMISAHAN VARIABEL

FENOMENA Banyaknya fenomena mengenai listrik statis, salah satunya fenomena berdirinya rambut lengan ketika lengan didekatkan dengan layar televisi. Fenomena ini terjadi karena adanya perbedaan jenis muatan antara rambut lengan dan permukaan layar televisi. Karena adanya perbedaan muatan maka tentu ada potensial listrik di dalamnya, walaupun nilainya sangat kecil. Untuk mengetahui besar potensial listrik yang terjadi sangat sulit untuk dihitung dengan matematis yang sederhana. Hal ini dikarenakan sebaran muatan pada fenomena ini tidak merata. Untuk dapat menghitung besar potensial listrik dan jenis muatan diperlukan metode khusus untuk melakukannya. Salah satunya dengan menggunakan persamaan laplace dan persamaan poisson. Fenomena berdirinya rambut lengan saat didekatkan dengan layer televisi memiliki sebaran muatan yang tidak merata. Hal ini dikarenakan intensitas elektron yang ditembakkan tabung katode pada layar televisi berubah-ubah. Jumlah elektron yang ditembakkan disesuaikan dengan gambar yang ditampilkan. Kemudian lengan manusia juga memiliki bentuk yang kurang sempurna dan sebaran muatan di rambut lengan juga tidak merata. Permasalahan yang serupa dengan fenomena ini akan dapat terselesaikan dengan menggunakan persamaan laplace dan persamaan poison.

1. PERSAMAAN LAPLACE

2

V

x

2

2

V

y

2

2

V

z

2

0

1.1)

Persamaan 1.1) merupakan persamaan laplace secara umum (Suyoso, 2003).

Persamaan Laplace dalam Satu Dimensi Jika V hanya bergantung pada variabel x saja, maka persamaan umum Laplace menjadi sebagai berikut:

2

V

x

2

0

1.2)

Dengan penyelesaian umum dari persamaan tersebut memenuhi:

V = mx + b

1.3)

Dari penyelesaian umum tersebut m dan b merupakan besaran umum yang tidak diketahui nilainya, yang merupakan jawaban dari persamaan differensial orde dua yang dicari menggunakan syarat batas (Suyoso, 2003). Misalnya V = V 1 pada saat x = x 1 dan V = V 2 pada saat x = x 2 maka melalui persamaan 1.3) akan diperoleh:

dan

V 1 = m x 1 + b, V 2 = m x 2 + b

V

1

V x

V

2

,

b

2

1

V x

1

2

x

1

x

2

 

x

1

x

2

 

V

1

x

x

2

V

2

x

x

1

 

x

1

x

2

m

V

1.4)

Jika diperoleh syarat batas V = 0 untuk x = 0, dan V = V 0 pada x = d, maka:

Sehingga

m

V

0

d

,

b

V

V x

0

d

0

1.5)

1.6)

Persamaan Laplace dalam Dua Dimensi Dalam persamaan Laplace dua dimensi maka nilai V bergantung pada dua variable yakni x dan y sehingga persamaannya menjadi sebagai berikut:

2

V

x

2

2

V

y

2

0

1.7)

Penyelesaian yang didapat akan memiliki dua sifat, yaitu:

a) Nilai V ditulis (x, y) adalah rata-rata dari sekeliling titik jika digambarkan lingkaran dengan jari-jari R yang terkait dengan titik (x, y) maka harga rata-rata V pada lingkaran adalah sama dengan harga pada pusat lingkaran.

V

x

,

y

1

2R

Vdl

circle

1.8)

b) V tidak ada lokasi maksimum atau minimal, harga ekstrem terjadi pada batas (Suyoso,

2003).

Persamaan Laplace dalam Tiga Dimensi Jika V bergantung dari segitiga variabel x, y, dan z maka persamaan Laplace seperti persamaan umumnya, yaitu:

2

V

x

2

2

V

y

2

2

V

z

2

0

1.9)

Penyelesaian V yang diperoleh akan memiliki dua sifat, yaitu:

a) Nilai V pada titik P adalah merupakan nilai rata-rata pada permukaan bola berjari-jari

R dengan titik pusat P.

V P

1

4

R

2

Vda

luarbola

1.10)

b) Sebagai konsekuensinya, V dapat tidak ada lokasi maksimum atau minimum sedangkan nilai ekstrem V terjadi pada batas. Jika V di P, maka dapat digambarkan suatu bola yang mengelilingi P yang semua harga dari V akan lebih kecil dari pada harga V di P (Suyoso,

2003).

2. PERSAMAAN POISON Untuk menentukan metode khusus dalam penentuan potensial, dapat digunakan persamaan poison. Untuk itu perlu di bahas mengenai Hukum Gauss. Di mana secara matematis Hukum Gauss dinyatakan sebagai berikut (Suyoso.2003):

s

E

.

da

Q

0

2.1)

Dengan menggunakan teorema divergensi (teorema Gauss), integral permukaan pada persamaan 2.1) dapat dinyatakan sebagai berikut:

Sementara itu Q

v

.

E dV

Q

0



v

dV , sehingga persamaan 2.2) menjadi:

atau dapat diperoleh:

v

. EdV

1

0

.

E

0

v

dV

2.2)

2.3)

2.4)

Persamaan 2.4) sering disebut sebagai persamaan dari hukum Gauss dalam bentuk diferensial. Dalam persamaan sebelumnya dinyatakan sebagai berikut:

2.5)

Sehingga, jika persamaan 2.4) di kombinasikan dengan persamaan 2.5) maka akan diperoleh:

E V

.

E

0

 V

.

0

 V 

.

0

2

V  

0

2.6)

Persamaan 2.6) disebut sebagai persamaan Poison, dimana ρ adalah rapat muatan total. Jika ρ = 0, maka persamaannya akan menjadi:

2.7)

Persamaan 2.7) dikenal sebagai persamaan Laplace, persamaan ini memiliki penyelesaian yang lebih sederhana yang dapat digunakan dalam rangka penyelesaian kasus tentang potensial. Persamaan 2.7) dapat ditulis dalam koordinat kartesian adalah sebagai berikut:

2

V 0

2

V

x

2

2

V

y

2

2

V

z

2

0

2.8)

3. SYARAT BATAS Persamaan Laplace tidak langsung dengan sendirinya dapat digunakan untuk menentukan V, tetapi harus ditambah dengan seperangkat syarat batas sehingga penyelesaian V menjadi lengkap. Untuk persamaan Laplace satu dimensi pencarian V adalah mudah, sebab penyelesaian umum persamaan Laplace V = mx + b, yang mengandung dua konstanta, dan selanjutnya dibituhkan dua syarat batas (Suyoso, 2003). Dalam persamaan Laplace dua atau tiga dimensi dijumpai persamaan diferensial dan hal itu tidak mudah untuk diproleh syarat batas. Demikian juga syarat batas yang lain juga dapat digunakan. Bukti bahwa seperangkat syarat batas dapat digunakan akan dinyatakan dalam bentuk teorema keunikan. Teorema keunikan tersebut sebagai berikut:

1)

Teorema Keunikan Pertama Penyelesaian persamaan Laplace dalam suatu daerah ditentukan secara unik (khusus) jika harga V merupakan fungsi yang dinyatakan pada seluruh batas dalam daerah tersebut (Suyoso, 2003). Pembuktian teorema keunikan pertama ini adalah:

2003). Pembuktian teorema keunikan pertama ini adalah: Gambar 3.1 Suatu daerah dengan perbatasan yang akan

Gambar 3.1 Suatu daerah dengan perbatasan yang akan ditentukan

Misalnya ada dua penyelesaian persamaan Laplace, V 1 dan V 2 yang keduanya merupakan fungsi dari koordinat yang digunakan, maka:

2

V 0

1

dan

2

V 0

2

Keduanya dianggap memberikan nilai V tertentu pada permukaan, dan keduanya memiliki nilai seimbang/sama (V 1 = V 2 ). Pembuktiannya adalah:

Misalnya diambil perbedaan antara keduanya,

V V V

3

1

2

dan memenuhi persamaan Laplace

V  V  V 0

3

1

2

2

2

2

3.1)

Dan nilai nol untuk semua untuk semua perbatasa. Sekali lagi persamaan Laplace

tidak menghendaki nilai maksimum dan minimum di suatu lokasi, harga ekstrim terjadi pada perbatasan. Oleh karena itu nilai maksimum dan minimum dari V 3 = 0, selanjutnya V 3 = 0 dimana saja, akibatnya adalah:

V 1 = V 2 Penerapan teorema keunikan pertama ini dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Penyelesaiannya memenuhi persamaan Laplace.

b. Penyelesaiannya memiliki nilai pada semua perbatasan (Sujanem, 2001).

3.2)

Teorema keunikan pertama ditetapkan untuk daerah yang tidak ada muatan, sehingga memenuhi persamaan Laplace. Teorema keunikan pertama juga dapat digunakan untuk daerah yang ada muatannya, sehingga dalam hal ini menggunakan persamaan Poisson

2

V 

0

. Adapun cara penyelesaiannya sama, yaitu diambil V 3 = V 1 V 2 dengan V 1

dan V 2 sebagai solusinya. Dengan demikian berlaku:

2)

V  V  V

3

1

2

2

2

2

2 V

3



2

V 

3

0

0

  

0

0

3.3)

V 3 merupakan solusi dari persamaan Laplace, di mana V 3 = 0 pada semua perbatasan. Kemudian diperoleh V 1 = V 2 seperti sebelumnya. Disimpulkan bahwa potensial di suatu daerah dapat ditentukan secara khusus (unik) bila memenuhi ketentuan sebagai berikut:

a. Rapat muatan diketahui diseluruh daerah,

b. Nilai Vdiketahui disemua perbatasan (Sujanem, 2007).

2

V 0

3

Teorema Keunikan Kedua Suatu cara yang sederhana dalam menetapkan seperangat syarat batas adalah dengan memberikan ahrga V pada semua permukaan yang mengelilingi suatu daerah tertentu. Kondisi tersebut sering terjadi dalam praktek. Prakteknya di laboratorium, misalkan kawat konduktor dihubungkan baterai dengan potensial teetentu, atau dihubungkan dengan tanah (V = 0). Tetapi, ada keadaan dimana potensial diperbatasan tidak diketahui, melainkan rapat muatan pada berbagai permukaan konduktor diketahui harganya. Misalnya muatan Q 1 pada konduktor 1, Q 2 pada konduktor ke 2, dan seterusnya. Daerah antara konduktor diketahui juga rapat muatannya ρ pada Gambar 3.2 (Suyoso, 2003).

Gambar 3.2 Daerah dengan muatan pada berbagai konduktor Untuk menyelesaikan masalah tersebut digunakan teorema keunikan

Gambar 3.2 Daerah dengan muatan pada berbagai konduktor

Untuk menyelesaikan masalah tersebut digunakan teorema keunikan kedua yaitu sebagai berikut:

Di dalam daerah yang mengandung konduktor yang diantaranya berisi pula muatan tertentu dengan kerapatan ρ, maka medan listrik dapat ditentukan secara unik, bila muatan total pada setiap konduktor diketahui. Bukti teorema tersebut adalah:

Misalkan terdapat dua medan

2 yang memenuhi persyaratan dan merupakan

E

1

dan

E

solusi persamaan diferensial. Hukum Gauss

E

.

1

0

dan

E

.

2

0

. Dalam bentuk

integral dengan mengambil permukaan Gauss mengelilingi setiap konduktor, maka dapat ditulis:

S

i

E

1

.

da

Q

Total

0

dan

S

i

E

2

.

da

Q

Total

0

dengan S i = permukaan konduktor yang ke-i

Perbedaan kedua medan datang dinyatakan

E

penghantar-penghantar

E

3

.

da

0

dan

3

E

1

E

meliputi

2

, dimana

E

.

3

0

masing-masing

3.4)

dalam daerah

permukaan

perbatasan. Meskipun tidak mengetahui bagaimana distribusi muatan tersebut maka dapat diketahui bahwa masing-masing konduktor merupakan equipetensial, sehingga V 3 tidak perlu nol, sebab V 1 dan V 2 harganya boleh tidak sama. Selanjutnya dengan berdasarkan aturan dalam identitas vektor, yaitu hukum perkalian

.fAf . AA.f

, maka dapat dinyatakan pula bahwa:

. V E

3

3

V .E E . V

3

3

3

3

3.5)

Karena

sebagai berikut:

E

.

3

0

dan

E V

3

3

(gradien potensial), maka persamaan 3.5) menjadi

. V E

3

3



E .E

3

3

atau dalam bentuk integral dituliskan, yakni:

.

volume

V E

3

3

dv



E

3

E

3

2



volume

2

dv

3.6)

3.7)

Integral ruas kiri pada persamaan 3.7) melalui teorema divergensi dapat diubah menjadi

integral permukaan, sehingga:

3.8)

V E

3

3

.

da

E

3

2

dv



S volume

Dengan S meliputi semua permukaan batas daerah ruang, termasuk semua permukaan konduktor dan batas luar. Karena V 3 konstan meliputi setiap permukaan, (jika batas luar adalah tak hingga, V 3 = 0), maka persamaan 3.8) menjadi sebagai berikut:

3.9)

V E

3

3

.

dv

E

3

2

dv

0



S volume

Tetapi integralnya tidak pernah negatif, namun integral dapat diabaikan jika

E

3

0

di

setiap tempat, akibatnya

E

1

E

2

(Sujanem, 2007).

4. METODE BAYANGAN Dengan mempergunakan syarat batas, bahwa diasumsikan semua muatan ada pada permukaan konduktor, dan permasalahan elektrostatik di mana rapat muatan bukan nol di

daerah yang ditempati konduktor. Maka dalam hal ini yang akan dikaji secara detail adalah muatan titik dan muatan garis. Untuk menyelesaikan masalah ini tentu tidak cukup hanya dengan menggunakan syarat batas, maka selanjutnya permasalahan ini dapat dipecahkan dengan menggunakan metode bayangan. Untuk mencari solusi permasalahan ini, maka harus memperhatikan hal-hal dibawah ini:

1. Kesesuaian syarat batas equipotensial hanya pada permukaan konduktor.

2. Kesesuaian Persamaan Laplace atau Poisson di mana di dalam ruang.

Jika muatan berkedudukan di luar permukaan konduktor diperlukan Persamaan Poisson yang ekivalen dengan pernyataan bahwa bagaian dari solusinya harus sedemikian sehingga sesuai dengan muatan di dalam ruang (Sujanem, 2001).

Muatan Titik dan Batang Konduktor Menganggap muatan titik dan sebuah muatan q pada jarak zdi atas sebuah bidang pelat konduktor yang sangat luas (seperti pada Gambar 4.1). jika bidang tersebut dihubungkan dengan bumi, maka akan memiliki nilai potensialnya nol. Maka dari itu untuk mencari nilai potensial dan medan listrik dilakukan di dalam ruang yang berisi q. Pada Gambar 4.1 tersebut adalah daerah dari ruang z ≥ 0. Dengan menempatkan sementara muatan q di bawah titik asal dari permukaan konduktor.

Konduktor P r + zz ’ r -zz ’ ’ - q z ’ 0
Konduktor
P
r + zz ’
r -zz ’
- q
z ’
0
z
q
z

Gambar 4.1 Muatan q pada Jarak zdi Atas Sebuah Bidang Pelat Konduktor

Untuk mengkaji permasalahan ini, maka akan menggunakan koordinat silinder karena simetris terhadap sumbu z. Dengan menanggap z = 0 pada permukaan konduktor, kemudian jumlah potensial yang disebabkan oleh q dan muatan bayangan q yang terletak z di bawah bidang z = 0. Maka dari itu, potensial dan medan listrik untuk z ≥ 0 adalah sederhana terhadap dua muatan titik q dan q yang terpisah pada jarak 2z . Sehingga solusinya adalah (Sujanem, 2001):

V



r

    1 q  q    4  ^ ^
1
q
 q
4

^
^
'
'
0
r
z
z
r
z
z

, untuk z ≥ 0

4.1)

Dalam

koordinat

silinder,

^

'

^

r z z , dan

'

r z

^

z

2

z z

'

2

.

Untuk

mencari nilai dari medan listrik dapat menggunakan persamaan ErVratau secara

langsung dari Hukum Coulumb untuk dua muatan titik (Sujanem, 2001).

Bila z = 0,

 ^ ^     ' '  q  r  z
^
^
'
'
q
r
z
z
 q
 
r
z
z
1
E r 

, untuk z ≥ 0
3
3
4

^
^
0
'
'
r
z
z
r
z
z
^
r  , maka diperoleh:
^
^
^
 
^ 
 
'
'

 z
z
 

 z
z
^ 
'
q
q
  2
z
z
E r 

 
3/ 2
3/ 2
3/ 2
4

 
2
2
2
2
'
 
2
'
4

2
'
0
  z
 z
0
 z
   
 

4.2)

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditentukan kerapatan muatan

permukaan aktual pada z = 0 muka dari konduktor diberikan oleh:

 

0

E

^

z

z

0

'

q

z

2

2

'

2

z

3/ 2

4.3)

Muatan induksi adalah berharga negatif. Muatan induksi mempunyai harga

maksimum pada ρ = 0, dan jatuh mengikuti 1/ ρ 3 , maka ρ menjadi besar dibandingkan z

(Gambar 4.2). Ini berarti muatan induksi ditambah muatan q asal yang menghasilkan solusi

yang aktual, sama dengan pemikiran bahwa solusinya sesuai dengan q dan “muatan

bayangan” –q.

σ 1/ ρ 3 ρ
σ
1/ ρ 3
ρ

Gambar 4.2 Grafik muatan induksi

Untuk menunjukkan muatan permukaan induksi total Q adalah sama dengan q, termasuk bahwa semua garis gaya berakhir pada konduktor. Maka dapat diperoleh dengan mengintegrasikan rapat muatan, yaitu:

Q

2

  

d



qz

0

 

d

2

z

'

2

3/ 2

  q

4.4)

Muatan q mengalami gaya yang menariknya kepermukaan konduktor. Gaya itu mempunyai besar yang ditentukan oleh medan listrik dari muatan permukaan induksi. Karena medan ini identik dengan medan muatan bayangan, gaya dengan mudah diperoleh seperti gaya antara dua muatan titik yaitu:

^ 2

4.5)

z

q

4



0

2z

'

2

F

 

Konduktor
Konduktor
- +
-
+

Gambar 4.3 Gaya Bayangan

Gaya bayangan ini memberikan kontribusi yang besar dalam mengukur pencegahan elektron keluar dari permukaan konduktor yang diasosiasikan dengan fungsi kerja bahan konduktor (Sujanem, 2001).

Muatan Titik Dengan Suatu Bola Konduktor

P(r, r r 1 R 1 R 2 r 2 a θ +q O b-q
P(r,
r
r 1
R 1
R 2
r 2
a
θ
+q
O
b-q 2
d
V= 0

Gambar 4.4 Muatan titik dengan Suatu Bola Konduktor

Terdapat dua muatan titik q 1 dan q 2 , dengan q 1 > -q 2 , dan dengan posisi (0, d) dan (0,b). Apabila potensial pada permukaan bola dianggap mempunyai harga V = 0, maka rumus potensial:

maka adapun hubungan

q

1

q

2

R 1 R

2

V

1

q

1

q

2

4



0

R

1

R

2

  0

,

Nyatakan titik asal koordinat kutub (r, θ), dan berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui adanya ketentuan:

Karena V= 0, maka diperoleh:

q

1

q

2

2

R

1

R

1

2

2

  a a

2

2

R  

 

1

R

2

2

  d d

2

2

 

ad ab

2

2

coscos

d a

a

2

d

d

/ 2

a

cos

a

d

b

/ 2

a

cos

2

4.6)

Persamaan 4.6) berlaku untuk setiap θ, bila dinyatakan bahwa:

1.

2.

a 2 = db

q

2

d

1

q

2

b

, karena d > b, maka q 1 > q 2

4.7a)

4.7b)

Selanjutnya terdapat kasus di mana bola konduktor dengan jejari a diberi potensial nol, dan pada sejarak d dipasang muatan q 1 dari pusat bola. Menurut metode bayangan, maka bola tersebut dapat digantikan dengan muatan titik. Gunakanlah ketentuan persamaan (4.7b), untuk menetapkan muatan q 2 sebagai pengganti bola.

q

2

 

d bq 1
d
bq
1

  a

/

d q ,

4.8)

Pada posisi b = (a 2 /d) dari pusat bola dan potensial di titik p dengan koordinat (r, θ) di luar bola:

Jadi,

V (

r

,

)

q

1

4



0

 

V

(

P

)

V

1

q

1

q

2

 
 

V

(

P

)

V

r

,

1

4

q



0

1

r

1

a

/

r

2

d

     

r

1

2

r

1

r

,

4



0

r

1

r

2

2

  r r   b d   2rbcos2d cos

2

2

2

1/ 2

1/ 2

 

ad

 

r

2

d

2

2

rd

cos

1/ 2

r

2

a

2

/

d

2

2

r a

2

/

d

cos

1/ 2

Selanjutnya, medan listrik dapat ditentukan yaitu:

E r

V r

dan

E r



1 V

r

4.9)

4.10)

4.11)

Khusus pada permukaan bola, di mana r = a, maka nilai medan listriknya arahnya radial sehingga:

dan

Karena E r =

konduktor, adalah:

E r

q

1

4



0

d

2

a

2

a a

2

d

2

2

ad

cos

3/ 2

,

E θ = 0

4.12)

, sehingga diperoleh muatan induksi per satuan luas pada bola

0

q

1

4

a

a a

 

d

2

a

2

2

d

2

2

ad

cos

3/ 2

 

4.13)

Sedangkan gaya antara bola dengan muatan q 1 adalah:

F

1

q q

1

2

4 

0

d

b

2

 

1

aq

1

2

4



0

d d

b

2

4.14)

Persamaan 4.14) menyatakan gaya antara muatan q 1 dengan bola konduktor yang dihubungkan dengan tanah (Sujanem, 2001).

Muatan Garis dengan Silinder Bermuatan

P(r, θ) r r a x 0 θ d -λ +λ V=0
P(r, θ)
r
r
a
x
0
θ
d
V=0

Gambar 4.5 Muatan Garis dengan Silinder Bermuatan

Terdapat 2 muatan garis saling sejajar terpisah dengan jarak d. Misalkan muatan per satuan panjang untuk masing-masing muatan garis adalah λ dan +λ. Potensial titik P akibat adanya λ dan + λ adalah:

VP

2



0

'

ln r

2



0

ln r C

4.15)

Dengan memperhatikan ada konduktor silinder dengan jari-jari a seperti pada Gambar 4.5 Agar V = 0 untuk semua permukaan silinder, yaitu:

Dengan memisalkan,

r

r

,

2

r

2

d

2

2

rd

cos

r

2

m

C



2 

0

ln(

'

r

/

r

)

2

2 , konstan pada rentangan 0 < m < ∞.

Sehingga:

r

2

d

2

2

2rd cosm r

2

, apabila x = rcosθ, y = rsinθ, maka diperoleh:

x

d

1

2

m

2

y

2

2

m

d

2

m

2

1

2

4.16)

md

m

Persamaan 4.16) menyatakan rumus permukaan silinder yang jari-jarinya

2

1

dan titik pusat silinder di posisi

x 

d

m 2

1

dan y = 0. Sedangkan, untuk m > 1, silinder

md

m

dengan harga potensial V = 0 sumbunya terletak pada jarak

2

1

di kiri titik 0 (yang

dianggap sebagai titik asal koordinat kutub). Dalam hal ini, jarak sumbu silinder hingga +λ adalah (Sujanem, 2001):

dan jarak

d m 2 d p  d   m    m 
d m
2 d
p 
d
 m
 m
2
 1
2  1
d
x
a
/
m
a
2 /
p
m
2
 1

ma

.

4.17)

5. METODE PEMISAHAN VARIABEL Metode ini digunakan untuk pemecahan persamaan Laplace yang berkaitan dengan medan potensial yang berubah terhadap lebih dari satu koordinat. Dalam penyelesaiannya akan melibatkan fungsi matematika lanjut, seperti fungsi Bessel, fungsi harmoni bola, fungsi harmoni tabung. Pembahasan yang ditekankan bukan pada fungsi matematika, tetapi pada metode pemecahan persoalan elektrostatik (Suyoso, 2003). Misalkan potensial V merupakan fungsi x dan y, maka persamaan Laplace dapat dinyatakan:

2

V

2

V

x

2

2

V

y

2

0

5.1)

Jika diasumsikan bahwa penyelesaiannya merupakan perkalian dan besarnya tiap-tiap fungsi maka,

5.2)

Jika persamaan 5.2) didistribusi ke persamaan 5.1) diperoleh:

V x, yX xYy

2

x

2

XY

2

y

2

XY 0

dapat ditulis,

Y

2

x

2

X

X

2

2

y

Y 0

5.3)

Karena X tidak mengandung y dan Y tidak mengandung x maka dapat ditulis sebagai berikut:

Y

d

2

X

dx

2

X

d

2

Y

dy

2

0

5.4)

Persamaan 5.3) dibagi dengan XY, akan diperoleh:

1

d

2

X

1

d

2

Y

X

dx

2

Y

dy

2

0

atau

1

d

2

X

X

dx

2

 

1

d

2

Y

Y

dy

2

5.5)

Agar ruas kiri dan ruas kanan dalam persamaan 5.5) sama, maka

1

d

2

X

X

dx

2

tidak

boleh merupakan fungsi x dan

2

d dy Y

1

Y

2

tidak boleh merupakan fungsi y. Oleh karena itu agar

sama, maka kedua-duanya harus merupakan konstanta atau tetapan (Griffiths dan Reed College. 1999). Misalkan tetapan tersebut = k 2 , maka:

1

d

2

X

X

1

dx

d

2

2

Y

Y

dy

2

k

k

2

, sehingga

2

, sehingga

d

2

X

dx

d

2

2

Y

dy

2

k

2

X

 k

2

 

5.6)

Y

5.7)

(k 2 = tetapan pemisah, karena dipakai untuk memisahkan suatu persamaan menjadi dua persamaan yang lebih sederhana). Penyelesaian persamaan 5.6) dan 5.7) masing-masing adalah:

Sehingga,

X

x

Ae

kx

Be

kx

YyCsin kyDcosky

Vx y

,

Ae

kx

Be

kx

C

sin

ky

D

cos

ky

5.8)

Penyelesaian akhirnya menggunakan syarat batas.

DAFTAR PUSTAKA

Griffiths, J. David dan Reed College. 1999. Introduction to Electrodynamics: Third Edition. United States of America: Prentice-Hall. Sujanem, Rai. 2001. Bahan Ajar Listrik Magnet. Singaraja: IKIP Negeri Singaraja. Sujanem, Rai. 2007. Bahan Ajar Listrik Magnet Bagian I. Singaraja: Undiksha. Suyoso. 2003. Listrik Magnet. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.