Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mayoritas penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di
lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia.
Pertanian dalam arti sempit, juga diartikan sebagai kegiatan budidaya jenis tanaman
tertentu, terutama yang bersifat semusim.
Lingkungan merupakan sebuah sistem kompleks yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Untuk mempelajari pengaruh lingkungan
terhadap pertumbuhan tanaman maka perlu dilakukan penggolongan faktor-faktor
lingkungan tersebut. Faktor-faktor lingkungan dapat digolongkan menjadi faktor
biotik dan abiotik. Faktor abiotik terdiri atas tanah, air, udara, kelembaban udara,
angin, cahaya matahari, dan suhu. Sedangkan lingkungan biotik terdiri dari
organisme-organisme hidup di luar lingkungan abiotik (manusia, tumbuhan, hewan
dan mikroorganisme).
Pertanian dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu
ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Untuk
mendapatkan produksi yang optimal seperti yang diharapkan, banyak hal yang perlu
diperhatikan dalam bertani, diantaranya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi dan
teknik tepat dalam bertani. Untuk mengetahui bagaimana teknik dan perlakuan yang
tepat dalam bertani, maka sudah barang tentu kita harus mengetahui dan memahami
sifat, dan kejadian apa saja yang terjadi baik pada tanaman itu sendiri maupun pada
lingkungan sekitarnya.

Analisis agroekosistem merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam


Pengelolaan Hama Terpadu. Kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan
terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan
lahan atau kebunnya. Keputusan pengelolaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi,
pemangkasan, pemupukan, dan teknik pengendalian.
Ekosistem yang terjadi di suatu lahan pertanian disebut sebagai
agroekosistem. Di dalam agroekosistem sebenarnya keberadaan suatu organisme
sudah tidak dalam keadaan yang stabil atau seimbang. Suatu lahan yang tadinya
merupakan hutan tempat hidup hewan-hewan liar dialih fungsikan menjadi suatu
lahan pertanian monokultur yang hanya ditanami satu jenis tanaman untuk
kepentingan manusia, maka dalam kasus ini berlaku skema berikut:
Hutan beralih fungsi sawah tanaman monokultur ekosistem
tidak stabil
Gangguan-gangguan yang timbul dari ketidakstabilan ekosistem itu, membuat
manusia mulai memikirkan bagaimana cara untuk menstabilkan kembali suatu
agroekosistem tersebut. Disamping itu, manusia tetap berpikir untuk meningkatkan
produksinya secara signifikan sehingga manusia menggunakan bahan-bahan kimia
untuk mengendalikan populasi hama dilahannya sehingga hama akan mati. Namun,
hal ini justru menjadikan suatu agroekosistem menjadi lebih tidak stabil ditambah
dengan rusaknya suatu ekosistem karena kandungan residu dan efek dari bahan kimia
itu sendiri. Maka berlaku skema sebagai berikut:

Sawah terserang hama pengendalian dengan bahan kimia


kerusakan ekosistem
Untuk dapat memahami bagaimana hubungan yang terjadi antara suatu
organisme dengan lingkungannya, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap pertanian,
maka kita perlu mempelajari ekologi pertanian, yakni suatu ilmu yang menerapkan
prinsip-prinsip ekologi di dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi sistem
pertanian yang produktif dan lestari, yang di sana akan dipelajari tentang
agroekosistem. Pertanian sebagai suatu ekosistem buatan, mempunyai hubungan
saling mempengaruhi antara makhluk hidup.
B. Tujuan
Praktikum Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu acara Agroekosistem dan
Analisis Agroekosistem bertujuan untuk :
1.
2.
3.
4.

Mengetahui jenis dan fungsi agroekosistem.


Mengenal komponen ekosistem pertanian.
Menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem.
Memberi kesempatan praktikan menjadi ahli dilahannya sendiri.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan


lingkungannya. Ekosistem tersusun atas semua makhluk hidup, yaitu individu,
populasi dan komunitas. Setiap ekosistem mempunyai ciri ciri khas yang
menyebabkan suatu ekosistem berbeda dengan ekosistem yang lainnya (Supriyono,
2002). Komponen komponen ekosistem antara lain:
1. Lingkungan biotik (makhluk hidup)
Komponen ini terdiri atas produsen, konsumen, dan pengurai.
2. Lingkungan abiotik (makhluk tak hidup)
Komponen ini yaitu segala sesuatu yang terdapat di sekitar makhluk hidup,
misalnya air, tanah, udara, sinar matahari, dan lain lain (Abdurachman, 1984).
Ekosistem dibagi menjadi dua macam, yaitu ekosistem alami dan ekosistem
buatan (pertanian). Ekosistem alami merupakan ekosistem yang proses pembentukan
dan perkembangannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Terdapat
diversitas (keragaman) organisme yang tinggi dengan populasi yang rendah di
ekosistem ini. Sedangkan ekosistem buatan, dalam hal ini merupakan ekosistem
pertanian/Agroekosistem,

adalah

ekosistem

yang

proses

pembentukan

dan

perkembangannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan


produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia (Kurnia, 2004).
Agroekosistem adalah komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan
dengan lingkunganya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah oleh manusia

untuk menghasilkan pangan, pakan, serat, kayu bakar, dan produk-produk lainnya.
Pengertian lain tentang agroekosistem adalah, bahwa agroekosistem merupakan salah
satu bentuk ekosistem binaan manusia yang bertujuan menghasilkan produksi
pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia. Konsep agroekosistem adalah sistem
ekologi yang terdapat di dalam lingkungan pertanian, yang biasanya merupakan
sistem alami yang terjadi setelah dibentuk oleh manusia (Taufiq, 2011).
Agroekosistem adalah sebuah sistem lingkungan yang telah dimodifikasi
dan dikelola oleh manusia untuk kepentingan produksi pangan, serat dan berbagai
produk pertanian lain (Conway, 1987). Manusia, dalam hal ini sering disebut petani,
melakukan

intervensi

terhadap

system

lingkungan

dengan

tujuan

utama

meningkatkan produktivitas sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan hidup


bagi keluarganya. Dalam perspektif yang lebih luas, masyarakat juga ikut mendukung
intervensi semacam itu karena kepentingan yang lain, yakni untuk menghasilkan
pangan dengan harga yang terjangkau bagi mereka-mereka yang tidak bekerja di
sektor pertanian, seperti para pekerja di sektor-sektor industri di perkotaan. Ada dua
komponen penting keanekaragaman hayati yang dikenal dalam agroekosistem.
Komponen pertama adalah keanekaragaman hayati yang terencana, meliputi tanaman
dan hewan yang secara sengaja dimasukkan oleh petani ke dalam agroekosistem,
variasinya tergantung dari manajemen dan pengaturan tanaman secara sementara.
Komponen kedua adalah gabungan keanekaragaman hayati, terdiri dari seluruh
tumbuhan dan hewan, herbivora, karnivora, pengurai, dan lain-lain, dari lingkungan

sekitar yang berkoloni dalam agroekosistem, yang saling berhubungan atau


berinteraksi. Hal ini melibatkan manajemen dan perencanaan yang baik dalam
agroekosistem karena banyak hubungan penting antara tanah, mikroorganisme,
tanaman, serangga herbivora, dan musuh alami (Kurniawan, 2010).
Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang
berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktivitas atau
campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem. Istilah pertanian
dapat diberi makna sebagai kegiatan masyarakat yang mengambil manfaat dari alam
atau tanah untuk mendapatkan bahan pangan, energi dan bahan lain yang dapat
digunakan untuk kelangsungan hidupnya (Pranaji, 2006).
Menurut Basri (2002) di dalam suatu tatanan agroekosistem, terdapat empat
aspek penting yang dapat mendukung terciptanya keseimbangan agroekosistem,
yaitu:
1. Produktivitas
Produktivitas dapat didefinisikan sebagai suatu tingkat produksi atau keluaran
berupa barang atau jasa, misalnya produktivitas padi/ha/tahun. Produktivitas selalu
diukur dalam pendapatan per hektar, atau total produksi barang dan jasa per rumah
2.

tangga atau negara.


Stabilitas
Stabilitas diartikan sebagai tingkat produksi yang dapat dipertahankan dalam
kondisi konstan normal, meskipun kondisi lingkungan berubah. Suatu sistem dapat
dikatakan memiliki kestabilan tinggi apabila hanya sedikit saja mengalami

fluktuasi ketika sistem usaha tani tersebut mengalami gangguan. Sebaliknya,


sistem itu dikatakan memiliki kestabilan rendah apabila fluktuasi yang dialami
sistem usaha tani tersebut besar.
3.
Keberlanjutan
Kemampuan agroekosistem untuk memelihara produktivitas ketika ada gangguan
besar. Gangguan utama ini berkisar dari gangguan biasa seperti salinasi tanah,
sampai ke yang kurang biasa dan lebih besar seperti banjir, kekeringan atau
terjadinya introduksi hama baru. Aspek keberlanjutan sebenarnya mengacu pada
4.

bagaimana mempertahankan tingkat produksi tertentu dalam jangka panjang.


Pemerataan
Aspek ekuitabilitas digunakan untuk menggambarkan bagaimana hasil-hasil
pertanian dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat. Contoh apabila suatu sistem
usaha tani dapat dikatakan memiliki sesuatu ekuitabilitas atau pemerataan sosial
yang tinggi apabila penduduknya memperoleh manfaat pendapatan, pangan, dan
lain-lain yang cukup merata dari sumber daya yang ada.
Lingkungan tanaman merupakan gabungan dari berbagai macam unsur yang

dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu unsur penyusun lingkungan diatas
tanah dan lingkungan dalam tanah. Bagian unsur ini khususnya yang terdapat dalam
tanah dapat dikendalikan, sedang unsur yang terdapat diatas tanah pada umumnya
sulit untuk dikendalikan. Unsur-unsur penyusun tersebut sering terdapat dalam
kuantitas yang bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain sehingga lingkungan
merupakan sumber potensial sebagai penyebab keragaman tanaman di lapangan
(Sitompul,1995).

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


tanaman dibedakan menjadi dua yaitu faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik
terdiri dari tanah, air, udara, kelembaban udara, angin, cahaya matahari dan suhu,
sedangkan faktor biotik terdiri dari organisme-organisme hidup di luar lingkungan
abiotik yaitu manusia, tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Suhu merupakan
faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Pertumbuhan tanaman akan baik pada suhu antara 15oC sampai 40oC. Suhu
akan mengaktifkan proses fisik dan kimia pada tanaman. Energi panas akan
menggiatkan reaksi biokimia pada tanaman atau reaksi fisiologis dikontrol oleh
selang suhu tertentu (Hasan, 2001).
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup organisme. Air dibutuhkan tumbuhan dalam pertumbuhan,
perkecambahan, dan penyebaran biji. Air mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai
daya pelarut unsur-unsur yang diambil oleh tanaman, mempertinggi reaktivitas
persenyawaan yang sederhana/kompleks, berperan dalam proses fotosintesis,
penyangga tekanan di dalam sel yang penting dalam aktivitas sel tersebut,
mengabsorbsi temperatur dengan baik/mengatur temperatur di dalam tanaman,
menciptakan situasi temperatur yang konstan. Air merupakan substrat fotosintesis,
tetapi hanya 0,1% dari jumlah air total digunakan oleh tumbuhan untuk fotosintesis.
Transpirasi meliputi 99% dari seluruh air yang digunakan oleh tumbuhan, kira-kira
1% digunakan untuk membasahi tubuh, mempertahankan tekanan turgor dan
memungkinkan terjadinya pertumbuhan (Suwasono, 2001).

Secara ringkas diagram alur penerapan program PHT adalah sebagai berikut:
1. Pengamatan agroekosistem, merupakan kegiatan pengumpulan data dan informasi
terhadap beberapa sampel atau contoh tanaman yang dipilih secara acak yang
hasilnya adalah data keadaan masing-masing komponen agroekosistem.
2. Analisis agroekosistem.
3. Pengambilan keputusan, berdasarkan potensi masalah yang sudah teridentifikasi,
maka kegiatan petani dari berbagai kelompok kecil tadi menyusun berbagai
alternatif pemecahan masalah yang dapat ditetapkan sebagai tindakan dalam
pengelolaan.
4. Tindakan

pengelolaan

agroekosistem,

merupakan

kegiatan

petani

untuk

melaksanakan keputusan yang telah memperhitungkan berbagai faktor baik


ekonomi, ekologis dan aspek teknis (Tobing, 2009).

III. METODE PRAKTIKUM


A. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain pertanaman
perkebunan kopi, kamera, kertas plano, dan alat tulis.

B. Prosedur Kerja
1. Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil sesuai dengan pembagian dalam setiap
rombongan.
2. Bahan dan alat yang akan digunakan, dipersiapkan.
3. Komponen agroekosistem yang meliputi agroekosistem tanaman perkebunan
kakao dan kopi diamati secara langsung dilapangan.
4. Keadaan umum agroekosistem yang diamati kemudian digambar.
5. Hasil pengamatan dituliskan pada kertas plano.
6. Serangga / binatang yang bertindak sebagai hama dan musuh alami serta tanaman /
bagian tanaman yang bergejala sakit diamati.
7. Hasil pengamatan dipresentasikan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan
1. Terdapat 2 jenis ekosistem, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan
(Agroekosistem).
2. Agroekosistem terdiri atas komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup
(abiotik).
3. Kegiatan Analisis Agroekosistem mendasari petani / praktikan dalam menentukan
keputusan pengelolaan Agroekosistem.
4. Kegiatan Analisis Agroekosistem mengantarkan petani / praktikan untuk menjadi
ahli di lahan / kebunnya sendiri.
5. Agroekosistem pada lahan kakao di Desa Gandatapa Kecamatan Sumbang
memiliki sistem pertanaman kebun campur dengan kondisi tanah yang subur dan
kelembaban yang baik, namun kondisinya kurang terawat.

B. Saran
Kegiatan analisis agroekosistem sebaiknya dilakukan perencanaan yang lebih
baik lagi, supaya hasil yang didapatkan sesuai dengan tujuan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, A.S. Abuyamin, dan U. Kurnia. 1984. Pengelolaan Tanah dan


Tanaman untuk Usaha Konservasi. Pemb.Tanah dan Pupuk. Pusat Penelitian
Tanah, Bogor.
Altieri, M.A. 1999. The Ecological Role of Biodiversity in Agroecosystem.
Agriculture, Ecosystems and Environment 74:19-31.
Basri., IH, A. Darmadi, Yanfirwan Yanuar, D.Aprizal, W.Mikasari. 2011. Pengkajian
Teknologi Konservasi Metode Vegetatif pada Perkebunan Kopi Rakyat. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu. Bengkulu.
Basri, Jumin Hasan. 2002 Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali Pers,
Jakarta.
Conway, G.R. 1987. Agroecosystem Analysis for Reserach and Development,
Winrock International. Bangkok, Thailand.
Yanto, 2008. Manajemen Agroekosistem, Analisa Agroekosistem Talun di Desa
Suka Mukti, Tanjung Medar, Sumedang. Jurnal Pertanian 14(2): 8-9
Kurnia, Undang. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim Lahan
Kering. Balai Penelitian Tanah, Jakarta.
Kurniawan, S. dan Christanti A. 2010. Manajemen Agroekosistem. Universitas
Brawijaya. Malang.
Pranaji, T. 2006. Pengembangan Kelembagaan dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan
dan Air. Analisis Kebijakan Pertanian, 3(3) : 236-255.
Sitompul. 1995. Ekologi Umum. Gita Media Press. Jakarta.
Supriyono. 2002. Pengantar Ilmu Pertanian. UNS, Surakarta.
Sowasono, Haddy. 2001. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Taufiq, Arminuddin dan Indah Permanasari. 2011. Ekologi Pertanian. Suska Press,
Pekanbaru.

Tobing. 2009. Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama dalam


Agroekosistem. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang
Entomologi Pertanian. USU Medan.