Anda di halaman 1dari 31

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DALAM KEPERAWATAN

PERUBAHAN-PERUBAHAN DAN PENGKAJIAN PSIKOLOGIS

MAKALAH

oleh :
kelompok 12
Siti Zainab Fawzyah Azhari (142310101011)
Faizah wahyuningprianti

(142310101025)

Puspita wati. S

(142310101028)

Novela Imania Rosa

(142310101031)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai suatu disiplin ilmu, psikologi amat penting bagi kehidupan manusia, mengingat
obyek kajian psikologi adalah perilaku manusia. Dapat dikatakan bahwa mempelajari
perilaku manusia berarti melakukan pengkajian yang amat mendasar dalam hidup manusia.
Manusia eksis dan membangun diri, membangun masyarakat dan melahirkan karya besar
bagi peradaban dunia, yang keseluruhannya tidak dapat terlepas dari perilaku manusia.
Sebaliknya, manusia bisa terpuruk pada kehancuran, kemunduran dan keterbelakangan juga
karena ulah perilakunya sendiri.
Pengkajian terhadap perilaku manusia merupakan upaya untuk mengungkapkan makna
asasi dari eksistensi kehidupan manusia. Hal ini berkaitan dengan latar belakang kehidupan,
motivasi, harapan-harapan, tujuan manusia sebagai individu maupun tujuan dan harapan dari
lingkungan, kondisi psikis, dan bahkan keyakinan yang dianut oleh individu. Oleh karena itu,
pengkajian dan interpretasi terhadap perilaku manusia dalam kenyataannya amat dipengaruhi
oleh aspek ontologis yang dianut oleh orang atau kelompok yang melakukan penelaahan
terhadap perilaku manusia. Perbedaan sudut pandang dalam melihat makna hakiki fenomena
perilaku, atau perbedaan pandangan filosofis mengenai eksistensi manusia, dengan sendirinya
akan melahirkan interpretasi yang amat berbeda dalam menelaah perilaku manusia. Maka
dari itulah kami melakukan studi literatur untuk membahas Perubahan-Perubahan dan
Pengkajian Psikologis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan belajar?
2. Apa yang dimaksud dengan berpikir?
3. Apa yang dimaksud dengan ingatan?
4. Apa yang dimaksud dengan kepribadian?
5. Apa yang dimaksud dengan perilaku?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan berpikir.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ingatan.
4. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kepribadian.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perilaku.
1.4 Manfaat
1. Dapat menjelaskan dan memahami pengertian belajar dengan benar.
2. Dapat menjelaskan dan memahami pengertian berpikir dengan benar.
3. Dapat menjelaskan dan memahami pengertian ingatan dengan benar.

4. Dapat menjelaskan dan memahami pengertian kepribadian dengan benar.


5. Dapat menjelaskan dan memahami pengertian perilaku dengan benar.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Belajar
2.1.1 Kegiatan Belajar
Setiap kegiatan belajar diharapkan akan ada perubahan pada diri individu, seperti dari
tidak tahu menjadi tahu, dan tidak mengerjakan menjadi dapat mengerjakan. Ciri-ciri dari
kegiatan belajar yaitu :

terjadi perubahan baik aktual maupun potensial pada diri individu yang belajar
perubahan diperoleh karena usaha dan perjuangan
perubahan didapat karena kemampuan baru yang berlangsung relatif lama

2.1.2 Teori belajar


Teori konsep belajar menurut Notoatmodjo bahwa teori belajar dapat dikelompokkan
menjadi dua kelompok, yaitu :
1. teori yang hanya memperhitungkan faktor yang datang dari luar individu (faktor
eksternal), dikenal dengan teori stimulus dan respons.
2. teori yang memperhitungkan faktor yang berasal dari dalam individu (faktor internal),
maupun yang berasal dari luar individu (faktor eksternal), dikenal dengan teori
transformasi.
2.1.2.1 Konsepsi Spekulatif
a.

Teori ini hanya pendapat para ahli, tanpa dibuktikan melalui penelitian. Teori yang

b.

masuk ke dalam konsepsi ini


Pendapat ahli scolastic; bahwa belajar itu pada intinya adalah mengulangi materi

c.

yang harus dipelajari.


Kontrareformasi; proses belajar yang menjadi pokok atau induk adalah

d.

mengulangi, atau dikenal dengan repetitio est master studiorum


Konsep psikologi daya atau faculty psychogy; dipelopori oleh Christian Van Volf.
Dasar dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa jiwa manusia terdiri dari
berbagai daya (daya pikir, mengenal, mengingat, mengamati, merasakan, maupun
khayal). Daya ini dapat berkembang dan berfungsi dengan baik apabila dilatih
berulang kali.

2.1.2.2 Pendekatan eksperimental


Pelopornya adalah Ebbinghaus. Dari penelitiannya, disimpulkan bahwa inti
belajar adalah ulangan.
2.1.2.3 Teori belajar asosiasi
Pelopornya adalah Thorndike. Proses belajar pada intinya adalah penguatan
antara stimulus-respons. Sifat belajar menurut teori ini adalah Trial and error
learning.
2.1.2.4 Classical conditioning (Ivan Petrovich Pavlov)
Pavlov mengamati fungsi perut anjing ketika anjing sedang makan. Anjing tidak
hanya mengeluarkan air liur ketika sedang makan, tapi baru melihat makanan saja
sudah mengeluarkan air liur. Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang
memungkinkan organisme memberikan respon terhadap stimulus / rangsang yang
sebelumnya tidak (mungkin) menimbulkan respon itu (rangsang netral). Dari
percobaan yang dilakukan oleh Pavlov, maka yang terjadi :
a.
Bunyi bel = conditioning stimulus (CS) = perangsang bersyarat.
b.
Makanan = unconditioning stimulus (US) = perangsang tak bersyarat.
c. Keluarnya air liur karena bunyi bel disebut conditioning reflex (CR).
d.
Keluarnya air liur karena makanan disebut unconditioning reflex (UR).

2.1.2.5 Behaviorism
Teori behaviorism pelopornya adalah Watson. Pendapat yang dikemukakan, yaitu:
a.
b.
c.

Teori stimulus dan respons


Pengamatan dan kesan; bahwa adanya kesan motoris ditujukan terhadap stimulus.
Perasaan, tingkah laku, dan afektif; ditemukan tiga reaksi emosional yang dibawa
sejak lahir, yaitu takut, marah, dan cinta.

d.

Teori berpikir; berpikir harus merupakan tingkah laku sensomotoris dan berbicara

e.

dalam hati adalah tingkah laku berpikir.


Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu; reaksi instinktif atau
kodrati yang dibawa sejak lahir jumlahnya sedikit sekali, sedangkan kebiasaankebiasaan yang terbentuk dalam perkembangan disebabkan oleh latihan dan
belajar.
2.1.2.6 Operant conditioning (B.F. Skinner)
Dalam Operant Conditioning, tingkah laku diperinci atas unit-unit kecil yang
disebut Respon, sedangkan lingkungan diperinci atas unit-unit kecil yang disebut
stimulus. Operant Behavior (Instrument Respon) merupakan tingkah laku operant
merupakan tingkah laku yang ditimbulkan organisme itu sendiri, jadi belum tentu
didahului stimulus luar. Operant behavior telah terbentuk bila frekuensi terjadinya
tingkah laku itu bertambah atau bila timbul tingkah laku operant baru yang
sebelumnya belum tampak. Frekuensi terjadinya tingkah laku operant ditentukan
oleh akibat tingkah laku itu, misalnya perilaku membaca, bahwa pengertiannya
bagaimana agar perilaku membaca itu dibuat menjadi conditioning (kebiasaan),
yaitu setiap membaca diberi reinforcement.
Berdasarkan pandangan tersebut, Skinner membedakan istilah :

Conditioning type S : Respondent Conditioning.

Disebut demikian karena timbulnya respon karena stimulus yang mendahului,


jadi timbulnya respon karena ada stimulus.

Conditioning type R : Operant Conditioning

Disebut demikian karena lebih menekankan pada respon sehingga Conditioning


type R mirip dengan yang dilakukan Thorndike.
2.1.2.7 Teori kognitif Gestalt (organis)
Teori ini mengemukakan bahwa jiwa manusia merupakan holistik, bersifat
hidup dan dinamis atau aktif berinteraksi dengan lingkungan. Belajar berarti
bereaksi, mengalami, berbuat, berpikir secara kritis.
Beberapa asas belajar antara lain:

a.
Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian.
b.
Belajar tidak lain adalah proses perkembangan.
c.
Belajar adalah reorganisasi pengalaman.
d.
Belajar akan lebih berhasil apabila ada minat atau keinginan dan bertujuan.
e.
Belajar merupakan proses yang berlangsung terus-menerus.
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
Terdapat tiga persoalan fundamental dalam setiap kegiatan belajar, terdiri dari input,
proses, dan output. Dari ketiga sistem tersebut, maka belajar dapat dipengaruhi oleh :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
2.1.4

Fisik dan psikologis


Ingatan dan berpikir
Intelegensi
Metode / cara belajar
Sarana
Efisiensi waktu
Bahasa dan budaya
Motivasi dan minat
Gangguan Dalam Proses Blajar
Gangguan Belajar (Learning Disorder) adalah suatu gangguan neurologis yang

mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan


informasi. Anak dengan Gangguan Belajar mungkin mempunyai tingkat intelegensia yang
sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya, tetapi
seringberjuang untuk belajar secepat orang di sekitar mereka. Masalah yang terkait dengan
kesehatan mental dan gangguan belajar yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja,
mengingat, penalaran, serta keterampilan motorik dan masalah dalam matematika.
Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi
kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih daripada teman-teman mereka, tetapi
tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. Demikian pula, Learning
Disorderyang tidak di terapi dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang besar untuk
orang dewasa.
Jenis gangguan belajar:
Disleksia (Dyslexia)

adalah gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan /atau kemampuan menulis.
Ini adalah cacat bahasa berbasis di mana seseorang memiliki kesulitan untuk memahami
kata-kata tertulis.
Diskalkulia (Dyscalculia)
adalah gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang
dengan diskalkulia sering mengalami kesulitanmemecahkan masalah matematika dan
menangkap konsep-konsep dasar aritmatika.
Penyakit Gangguan Belajar:
Disgrafia (Dysgraphia): adalah ketidakmampuan dalam menulis, terlepas dari
kemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang dengan menulis
bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai
dengan gangguan motorik halus.
Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders):
adalah gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun anak tersebut
mungkin dapat melihat dan / atau mendengar secara normal, gangguan ini
menyulitkan mereka dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan sering
memiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau
keduanya).
Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities): adalah
gangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan
organisasi. Umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi
nonverbal dan interaksi, yang dapat mengakibatkan masalah sosial.
Gangguan bahasa spesifik (Specific Language Impairment (SLI)) : adalah gangguan
perkembangan yang mempengaruhi penguasaan bahasa dan penggunaan.
Gejala Gangguan Belajar Pada Anak Pra-Sekolah:

Gangguan bicara dan bahasa


sulit mengucapkan kata-kata dan memahami kalimat
Mengalami masalah dalam belajar huruf, angka, warna, bentuk, hari.
Kesulitan mencari ekspresi kata yang tepat.
Sulit mengikuti perintah, membedakan kanan dan kiri.
Mengalami problem untuk menulis, memegang gunting, mewarnai dalam

kotak.
Sulit mengikat tali sepatu, mengancingkan kancing, ritsleting.
Kesulitan mengikuti rutinitas belajar.

2.2 Berpikir
Telah kita ketahui bahwa organ tubuh untuk berpikir adalah otak, dan fakta yang menjadi
masalah untuk berpikir itu berada di lingkungan. Jadi informasi dari lingkungan itu masuk ke
dalam otak, dan dalam hal ini pelakunya adalah sistem indera. Dengan indera kita
mengidentifikasi masalah di lingkungan, selanjutnya kita olah. Dalam berpikir juga
membutuhkan alat, alat itu tidak lain adalah konsep-konsep, pengalaman, dan semua
informasi yang tersimpan dalam ingatan. Setelah semua bahan lengkap, maka dapat
dilakukan proses pemecahan masalah yakni dengan membandingkan, menganalisis, dan
menggabungkan informasi sebelumnya untuk menyimpulkan suatu penjelasan atau solusi.
Terdapat beberapa konsep dalam berpikir, antara lain:
a. Entitas dan identitas
Entitas adalah sesuatu yang eksis oleh dirinya sendiri (berwujud), baik itu objek fisik
maupun abstrak.
b. Definisi dan deskripsi
Secara fungsional, definisi adalah satu atau beberapa kalimat berupa penjelasan (ciri atau
batasan) tentang suatu objek yang mampu mengantarkan pemikiran seseorang kepada
objek yang didefinisikan itu.
c. Himpunan dan hirarki
Himpunan merupakan kumpulan objek-objek (elemen). Himpunan-himpunan tertentu
dapat membentuk hirarki.
d. Analogi
Analogi ialah membandingkan faktor-faktor dari masalah yang dihadapi dengan faktorfaktor dari masalah atau kasus lain yang telah kita ketahui prinsip atau solusinya.
e. Dualisme dan dikotomi
Dualisme merupakan paham bahwa setiap hal di dunia ini tercipta secara berpasangpasangan. Sedangkan dikotomi merupakan pengklasifikasian menjadi dua entitas yang
berlawanan.
f. Kekeliruan (fallacy)
Kekeliruan adalah kesalahan pengambilan kesimpulan
Logika atau penalaran adalah proses memecahkan permasalahan dengan menggunakan
pengetahuan dan metodologi berpikir. Metode berpikir dapat digolongkan menjadi analisis
dan sintetis.
2.3 Ingatan
2.3.1 Definis Ingatan

Mungkin banyak orang berpendapat bahwa orang dari peradapan yang lalu tidak
mengalami masalah dengan ingatan, karena pada zaman mereka belum mengenal telepon,
jadi mereka tidak khawatir mengingat nomor telepon seseorang. Mereka juga tidak perlu
mengingat-ingat ibu kota negara dan provinsi juga tidak ada tugas dan ujian yang
menuntut mereka mengahafal.
Dalam kamus psikologi ingatan diartikan sebagai fungsi mental yang komplek untuk
mengingat kembali apa yang pernah dialami dan dipelajari dan bisa melakukan
retetion.Retetion sendiri bermakna sebagai penyimpanan dalam ingatan terhadap sesuatu
yang telah dipelajari suapaya dapat dipakai dalam recall.
Ingatan dalam The New Encylopedia Britania (1994) diartikan sebagai kemampuan
menyimpan dan mendapatkan infromasi setelah pikiran manusia mendapat pengalamanpengalaman.
Menurut Atan Long (1968), ingatan boleh diartikan sebagai kebolehan seseorang
dalam pemilihan dan penerimaan rangsangan sebagai maklumat dan pengalaman untuk
disimpan dalam otaknya. Berdasarkan uraian-uraian ingatan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa ingatan merupakan proses kebolehan manusia untuk menerima
maklumat, memproses dan menyimpan dalam otak, kemudian mengeluarkannya ketika
diperlukan.
2.3.2 Tiga Tahapan Memori
Dalam proses mengingat infromasi, ingatan memakai tiga tahap yaitu:
a. Penyadian (encoding) adalah pemasukan pesan dalam ingatan, dibagi menjadi tiga
macam:
1. Penyadian akustik, infromasi yang disandikan dalam memori, memasuki
penyadian tertentu dan informasi yang diterima dari butiran-butiran verbal seperti
angka, huruf, dan kata.
2. Penyandian visual, yakni informasi yang disandikan dalam memori berdasarkan
apa yang dilihat.
3. Penyandian makna, dalam penyandia ini materi verbal didasarkan pada makna
setiap kata. Penyandian ini terjadi jika butir itu adalah kata yang terisolasi, tetapi
akan lebih jelas jika butir-butir ini adalah kalimat. Dengan begitu ingatan
disimpan dalam bentuk jaringan-jaringan diseluruh bagian otak sesuai dengan
pengkodeannya.

b. Penyimpanan (storange), yaitu penyimpanan informasi dalam ingatan, diperkirakan


proses ini berjalan dengan sendirinya tanpa pengarahan langsung dari subjek dan
biasanya sangat sukar untuk melupakannya.
c. Pemanggilan (retrieval), memanggil kembali apa yang telah disimpan atau proses
mendapatkan informasi yang disimpan, seperti membawa kembali pengalaman masa
lalu.
2.3.3 Jenis-Jenis Ingatan
Secara umum, banyak konsep yang dikemukakan oleh para ahli mengenai macammacam ingatan. Hal ini tergantung dari mana ingatan tersebut dilihat, sebagian ada yang
melihat dari sudut pandang jenis tugas mengingat, lamanya waktu mengingat atau jenis
informasi yang di ingat. Berikut enam macam jenis macam ingatan yang sering dibahas
oleh beberapa para ahli yaitu:
a. Ingatan Jangka Pendek (short term memory)
Santrock menyatakan memori jangka pendek membutuhkan penyimpanan informasi
selama 15 hingga 20 detik dengan asumsi tidak ada latihan pengulangan. Tetapi,
walaupun dalam situasi dimana hanya mengingat informasi hanya untuk beberapa
detik, memori tetap menggunakan tiga tahap yaitu:
1. Penyandian: untuk menyandikan infromasi menjadi jangka pendek, harus
memperhatikan informasi tersebut, karena memori jangka pendek hanya
menampung apa yang kita pilih.
2. Penyimpanan, fakta yang paling jelas tentang memori jangka pendek adalah
kapasitas yang sangat terbatas, rata-rata batasannya adalah tujuh butir atau kurang
lebih dua butir
3. Pengambilan, banyak bukti menyatakan bahwa semakin banyak butir yang berada
dalam memori jangka pendek semakin rendah pengambilannya, yaitu kira-kira 40
mili/detik.
Menurut Atkinson dan Shiffin (1993) dalam Suharnan ingatan jangka pendek
diproses oleh indera (ingatan sensorik) menuju pada ingatan jangka panjang akan
dikendalikan oleh perhatian. Jika proses informasi dalam ingatan jangka pendek sudah
dikendalikan, maka informasi itu akan melakukan fungsi ingatan. Ada pula yang
menyakatakan ingatan jangka pendek dapat menyimpan suatu informasi sampai 20 detik
atau juga lebih dari 20 detik apabila informasi tersebut diberi tanda-tanda khusus atau
diulang-ulang. Pengulangan informasi didalam ingatan dapat juga disebut aktifitas
mengingat-mengingat kembali apa saja yang telah diterima oleh pikiran (rehearsal) yang
memiliki dua fungsi yaitu: untuk memelihara atau mempertahankan informasi dalam

ingatan dan untuk memindahkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka
panjang.
b. Ingatan Jangka Panjang (long term memory)
Ingatan jangka panjang adalah suatu tipe memori yang relatif tetap dan tidak terbatas.
Memori jangka panjang bertambah seiring bertambahnya usia selama masa
pertengahan dan akhir-akhir kanak-kanak. Dua aspek memori yang terkait dengan
peningkatan memori jangka panjang adalah: pengendalian (control processes) dan
karakteristik murid. Control processes adalah proses kognitif yang tidak terjadi secara
otomatis, tetapi memerlukan usaha dan upaya. Proses ini ada dibawah kendali
kesadaran murid-murid dan dapat digunakan untuk memeperbaiki memori, proses ini
juga secara tepat disebut strategi-strategi. Tetapi dalam ingatan jangka panjang
menggunakan dua tahap dalam proses memori yaitu:
1. Penyandian: penyandian informasi menurut maknanya terjadi jika butir itu
terisolasi, tetapi lebih jelas jika informasi itu berupa makna.
2. Pengambilan: sering kali melupakan memori jangka panjang berasal dari
hilangnya akses informasi artinya kegagalan dalam pengambilan bisa diakibatkan
oleh daya ingat yang buruk dan kegagalan dalam menyimpan informasi.
c. Ingatan Episodik
Suharnan menyatakan ingatan episodik menyimpan informasi mengenai kejadian dan
hubungan masing-masing kejadian itu. Ingatan episodik berhubungan dengan hal-hal
yang bersifat temporer dan perubahan-perubahan peristiwa. Ingatan episodik dipicu
oleh tempat dan lingkungan. Dengan menggunakan konteks suatu peristiwa sebagai
pemicu, kita mengaktifkan kembali ingatan tersebut dengan berbagai kejadian,
kegiatan, perasaan, wajah dan tempat yang terkait akan bermunculan dan membentuk
ingatan.
Dari pendapat diatas dapat ditarik suatu pengertian, ingatan episodik merupakan jenis
ingatan yang sangat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik serta emosi dan
perasaan dalam proses penerimaan informasi.
d. Ingatan Sematik
Ingatan sematik merupakan pengetahuan yang terorganisasi mengenai segala suatu
yang ada dalam kehidupan. Ingatan sematik berisikan susunan pengetahuan yang
bersifat lebih konstan atau hampir tidak berubah sepanjang waktu, yang meliputi
pengetahuan mengenai kata-kata yang memiliki makna.
e. Ingatan implisit
Ingatan implisit atau disebut juga non deklaratif artinya ingatan tersebut dicapai
secara organis atau secara otomatis, ingatan ini bersifat mendasar, yang membantu
manusia agar tetap selamat dan menjamin kelangsungan hidup mereka.

f. Ingatan eksplisit
Ingatan eksplisit disebut juga ingatan deklaratif artinya ingatan tersebut diperoleh
melalui suatu maksud dan usaha tertentu, misalnya yang membutuhkan perhatian,
pemusatan perhatian, dan pelatihan mengingat. Dengan begitu jenis situasi memori
yang paling dipahami pengingatan itu dialami dan terjadi di waktu dan tempat
tertentu, jenis ini yang dinamakan ingatan eksplisit.
2.3.4

2.3.5

Faktor-faktor yang mempengaruhi ingatan


Suharma menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi ingatan yaitu:
a. Efek posisi serial (the serial psition effects)
b. Keahlian (expertise)
c. Pemberian kode khusus (encoding specificity)
d. Emosi dan efek
Gangguan Ingatan
Gejala Gangguan Mental Pada Memori / Daya Ingat Memori adalah proses

pengelolaan informasi, meliputi perekaman, penyimpanan dan pemanggilan kembali.


Terdapat beberapa jenis gangguan memori/daya ingat, yaitu:
a) Amnesia: adalah ketidakmampuan untuk mengingat sebagian atau seluruh
pengalaman masa lalu. Amnesia dapat disebabkan oleh gangguan organik di otak,
misalnya; pada kontusio serebri. Namun dapat juga disebabkan faktor psikologis
misalnya pada gangguan stres pasca trauma individu dapat kehilangan memori dari
peristiwa yang sangat traumatis. Berdasarkan waktu kejadian, amnesia dibedakan
menjadi:
1. Amnesia

anterograd,

yaitu

apabila

hilangnya

memori

terhadap

pengalaman/informasi setelah titik waktu kejadian. Misalnya; seorang


pengendara motor yang mengalami kecelakaan, tidak mampu mengingat
peristiwa yang terjadi setelah kecelakaan.
2. Amnesia retrograd, yaitu hilangnya memori terhadap pengalaman/informasi
sebelum titik waktu kejadian. Misalnya, seorang gadis yang terjatuh dari atap
dan mengalami trauma kepala, tidak mampu mengingat berbagai peristiwa
yang terjadi sebelum kecelakaan tersebut.
b) Paramnesia: Sering disebut sebagai ingatan palsu, yakni terjadinya distorsi ingatan
dari informasi/pengalaman yang sesungguhnya. Dapat disebabkan oleh faktor
organik di otak misalnya pada demensia. Namun dapat juga disebabkan oleh faktor
psikologis misalnya pada gangguan disosiasi. Beberapa jenis paramnesia, antara
lain:

1. Konfabulasi: adalah ingatan palsu yang muncul untuk mengisi kekosongan


memori. Biasa terjadi pada orang dengan demensia.
2. Deja Vu: adalah suatu ingatan palsu terhadap pengalaman baru. Individu
merasa sangat mengenali suatu situasi baru yang sesungguhnya belum
pernah dikenalnya.
3. Jamais Vu: adalah kebalikan dari Deja Vu, yaitu merasa asing terhadap
situasi yang justru pernah dialaminya.
4. Hiperamnesia: adalah ingatan yang mendalam dan berlebihan terhadap
suatu pengalaman e. Screen memory: adalah secara sadar menutupi ingatan
akan pengalaman yang menyakitkan atau traumatis dengan ingatan yang
lebih dapat ditoleransi.
5. Letologika: adalah ketidakmampuan yang bersifat sementara dalam
menemukan kata kata yang tepat untuk mendeskripsikan pengalamannya.
Lazim terjadi pada proses penuaan atau pada stadium awal dari demensi.
Berdasarkan rentang waktu individu kehilangan daya ingatnya, dibedakan menjadi:
a. Memori segera (immediate memory): adalah kemampuan mengingat peristiwa
yang baru saja terjadi, yakni rentang waktu beberapa detik sampai beberapa menit
b. Memori baru (recent memory): adalah ingatan terhadap pengalaman/informasi
yang terjadi dalam beberapa hari terakhir
c. Memori jangka menengah (recent past memory): adalah ingatan terhadap peristiwa
yang terjadi selama beberapa bulan yang lalu.
d. Memori jangka panjang: adalah ingatan terhadap peristiwa yang sudah lama terjadi
(bertahun tahun yang lalu)
2.4

Kepribadian
Tinjauan secara Etimologis Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan
personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu persona yang berarti topeng dan
personare, yang artinya menembus. Istilah topeng berkenaan dengan salah satu atribut yang
dipakai oleh para pemain sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng yang
dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh
yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para
penonton.
a. GORDON W. W ALLPORT
Pada mulanya Allport mendefinisikan kepribadian sebagai What a man really is.
Tetapi definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi definisi

tersebut. (Soemadi Suryabrata, 2005:240) Definisi yang kemudian dirumuskan oleh


Allport adalah:
Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical
systems that determine his unique adjustments to his environment (Singgih
Dirgagunarso, 1998 : 11).Pendapat Allport di atas bila diterjemahkan menjadi :
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang
menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
b. KRECH dan CRUTCHFIELD
David Krech DAN Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya yang berjudul
Elelemnts of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut :
Personality is the integration of all of an individuals characteristics into a unique
organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his
continually changing environment.
(Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu
kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya
dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus)
c. ADOLF HEUKEN, S.J. dkk.
Adolf Heuken S.J. dkk. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Membina Kepribadian
(1989 : 10), menyatakan sebagai berikut.Kepribadian adalah pola menyeluruh semua
kemampuan,perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani,mental, rohani,
emosional maupun yang sosial. Semuanya ini telah ditatanya dalam caranya yang khas
di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam tingkah lakunya,dalam
usahanya menjadi manusia sebagaimanadikehendakinya.
Berdasarkan definisi dari Allport, Kretch dan Crutchfield, serta Heuken dapat
disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sebagai berikut.
Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis,
seperti : inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita,serta aspek fisik, seperti : bentuk tubuh,
kesehatan jasmani, dst.Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan
lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus-menerus,dan terwujudlah pola
tingkah laku yang khas atau unik.
Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan,tetapi dalam
perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap.Kepribadian terwujud
berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.
Ada beberapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian bahkan kadang kadang
disamakan dengan kepribadian. Konsep-konsep yang berhubungan dengan kepribadian
adalah (Alwisol, 2005 : 8-9) :

1. Character (karakter), yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai


(benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
2. Temperament (temperamen), yaitu kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan
biologis atau fisiologis.
3. Traits (sifat-sifat), yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekolompok stimuli
yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu(relatif) lama.
4. Type attribute (ciri), mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih
terbatas.
5. Habit (kebiasaan), merupakan respon yang sama dan cenderung berulang untuk
stimulus yang sama pula.
Konsep-konsep di atas sebenarnya merupakan aspek-aspek atau komponen-komponen
kepribadian karena pembicaraan mengenai kepribadian senantiasa mencakup apa saja yang
ada di dalamnya, seperti karakter, sifat-sifat, dst. Interaksi antara berbagai aspek tersebut
kemudian terwujud sebagai kepribadian.
Usaha-usaha untuk mengerti perilaku atau menyingkap kepribadian manusia sudah lama
dilakukan dimulai dengan cara yang paling sederhana, yang tergolong pendekatan nonilmiah,
sampai dengan cara-caramodern atau pendekatan ilmiah. Dari cara-cara yang sangat
sederhana

lahirlah

pengetahuan-pengetahuan

yang

bersifat

spekulatif,

dalam

arti

kebenarannya tidak bisadipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada beberapa pengetahuan


yang menjelaskan kepribadian secara spekulatif. Pengetahuan seperti ini disebut juga ilmu
semu (pseudo science). Yang termasuk ilmu-ilmu semu antara lain sebagai berikut (Sumadi
Suryabrata, 2005: 7-8).
1. Chirologi, yaitu pengetahuan yang berusaha mempelajari kepribadian manusia
berdasarkan gurat-gurat tangan.
2. Astrologi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar
dominasi benda-benda angkasa terhadap apa yang sedang sedang terjadi di alam,
termasuk waktu kelahiran seseorang.
3. Grafologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar
tulisan tangan.
4. Phisiognomi, adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar
keadaan wajah.
5. Phrenologi, merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian
berdasarkan keadaan tengkorak.
6. Onychology, pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan
kuku.
Cara mempelajari kepribadian yang dipandang lebih maju (Sumadi Suryabrata, 2005 : 11)
menghasilkan bermacam-macam tipologi. Sedangkan usaha mempelajari kepribadian dengan
pendekatan ilmiah menghasilkan bermacam-macam teori kepribadian.

Latar belakang kepribadian seseorang dapat terganggu oleh berbagai faktor external dan
internal, gangguan yang timbul dari faktor lingkungan yang buruk atau trauma masa lalu
dapat membuat kepribadian seseorang terganggu secara fisik maupun mental. Gangguan
kepribadian merupakan salah satu bagian dalam ilmu psikologi, studi mengenai psikologi
abnormal atau menyimpang menghadapkan seseorang pada berbagai perilaku, pikiran dan
perasaan yang tidak bisa terjadi atau tidak normal.
Gangguan kepribadian border-line
Individu pada gangguan ini umumnya mengarah kepada gangguan depresi yang di
latar belakangi trauma atau berbagai bentuk penolakan.
Gangguan kepribadian dependen
Individu memiliki masalah seumur hidup mereka, trauma berkaitan dengan
kehidupanya dalam berelasi dengan orang lain.
Gangguan kepribadian avoidant
Individu dengan gangguan kepribadian ini memiliki keinginan untuk berinteraksi
dengan lingkungan sosial tetapi berbeda dengan gangguan kepribadian skizoid yang
memang ingin sendirian
2.5

Perilaku
2.5.1 Pengertian perilaku sehat menurut beberapa ahli:
Soekidjo Notoatmojo (1997): adalah suatu respon seseorang/organisme
terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem

pelayanan kesehatan,makanan, serta lingkungan.


Dalam wikipedia disebutkan perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku
yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap,emosi, nilai,
etika, kekuasaan, persuasi, dan atau genetika. Perilaku seseorang
dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku
aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi,perilaku dianggap
sebagai sesuatu yang tidak ditunjukkan kepada orang lain dan oleh

karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar


Skinner sebagaimana dikutip oleh Soekidjo Notoatmojo(2010: 21)
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari

luar (stimulus). Perilaku dapat dikelompokkan menjadidua:


1. Perilaku tertutup (covert behaviour), perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap
stimulus tersebut masih belum bisa diamati orang lain (dari luar) secara jelas.
Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, dan
sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk unobservabel behavior atau
covert behavior apabila respons tersebut terjadi dalam diri sendiri, dan sulit

diamati dari luar (orang lain) yang disebut dengan pengetahuan(knowledge) dan
sikap (attitude).
2. Perilaku Terbuka (Overt behaviour), apabila respons tersebut dalam bentuk tindakan
yang dapat diamati dari luar (orang lain) yang disebut praktek (practice) yang
diamati orang lain dati luar atauobservabel behavior.Perilaku terjadi melalui
proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespon, maka teoriSkinner ini disebut teori S-O-R (Stimulus-OrganismeRespons).Berdasarkan batasan dari Skinner tersebut, maka dapat didefinisikan
bahwa perilaku adalah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam
rangka pemenuhan keinginan, kehendak, kebutuhan,nafsu, dan sebagainya. Kegiatan
ini mencakup :
a. Kegiatan kognitif: pengamatan, perhatian, berfikir yang disebut Pengetahuan
b. Kegiatan emosi: merasakan, menilai yang disebut sikap (afeksi)
c. Kegiatan konasi: keinginan, kehendak yang disebut tindakan(practice)
Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 118) perilaku adalah suatu aktivitas dari
manusia itu sendiri. Dan pendapat diatas disimpulkan bahwa perilaku (aktivitas) yang
ada pada individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi akibat dari adanya rangsang
yang mengenai individu tersebut.
Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 120-121) perilaku dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu :
a. Perilaku pasif adalah respon internal, yaitu yang terjadi dalam diri manusia dan
yang tidak secara langsung dapat terlihat orang lain.(tanpa tindakan: berfikir,
berpendapat, bersikap) artinya seseorang yang memiliki pengetahuan positif
untuk mendukung hidup sehat tetapi ia belum melakukannya secara kongkrit.
b. Perilaku aktif adalah perilaku yang dapat diamati secara langsung (melakukan
tindakan), misalnya: seseorang yang tahu bahwa menjaga kebersihan amat
penting bagi kesehatannya ia sendiri melaksanakan dengan baik serta dapat
menganjurkan pada orang lain untuk berbuat serupa.
Perilaku sinonim dari aktivitas, aksi, kinerja, respons, atau reaksi. Dengan kata lain,
perilaku adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan oleh manusia. Secara teknis,
perilaku adalah aktivitas glandular, muscular, atau elektrikal seseorang. Termasuk perilaku
adalah tindakan-tindakan sederhana (simple actions), seperti mengedipkan mata,
menggerakkan jari tangan, melirik, dan sebagainya.

Terdapat dua kelompok besar perilaku, yaitu perilaku yang tampak atau dapat
diobservasi (overt, observable) dan yang tidak tampak, tersembunyi, atau tidak dapat
diobservasi (covert, not directly observable). Perilaku yang nampak, adalah perilaku
yang dapat diamati oleh orang lain misalnya berbicara, berjalan, lari, menangis,
melempar bola, berteriak, dsb. Sedangkan perilaku yang tidak dapat diamati secara
langsung oleh orang lain misalnya berfikir dan merasakan. Untuk mengetahui perilaku
yang tersembuyni harus disimpulkan dari respon-respon yang terbuka (covert behavior
must be inferred from overt responses). Perilaku juga dapat diartikan sebagai semua
aktivitas yang merupaan reaksi terhadap lingkungan, apakah itu reaksi yang bersifat
motorik, fisiologis, kognitif, ataupun afektif.
Hal yang tidak termasuk perilaku adalah :
1. Deskripsi penafsiran dari sifat-sifat kepribadian / interpretive descriptions of a
personality trait. Termasuk deskripsi sifat-sifat kepribadian seseorang misalnya
pendiam, jujur, rajin, cemas, peduli, taat, pekerja keras, mandiri, setia, egois,
menyenangkan, gugup, minder dan sejenisnya. Kata-kata sifat tersebut bukan
menunjuk pada perilaku tertentu tetapi merupakan label yang diberikan sebagai
kesimpulan dari beberapa tindakan. Misalnya, apabila menyatakan bahwa jujur, orang
lain yang mendengarkan akan memahami apa maksudnya dan dapat membayangkan
bagaimana ciri-ciri perilaku orang tersebut.
2. Label-label diagnostik / diagnostic labels: Termasuk label diagnostik, misalnya autis,
lerning disability, ADHD
3. Hasil (akibat) perilaku / outcome of behavior: Sedangkan termasuk akibat/hasil
perilaku, misalnya kaya, segar, sehat, dan sebagainya.
Secara umum yang termasuk perilaku, adalah apa yg dilakukan dan dikatakan
seseorang.Perilaku dapat memiliki satu / lebih dimensi yang dpt diukur yaitu frekuensi,
durasi,

dan

atau

intensitasnya.

Suatu

perilaku

dapat

diamati,

digambarkan,

dicatat/direkam, diukur oleh orang lain atau pelaku itu sendiri. Setiap perilaku
mempunyai dampak/pengaruh pada lingkungan, dan perilaku mengikuti hukum (lawful)
prinsip belajar.
Dalam pandangan behavioral diasumsikan bahwa perilaku itu, apakah baik atau
buruk merupakan hasil belajar. Perilaku maladaptif merupakan hasil belajar yang keliru
dan dapat diubah melalui proses belajar.

2.5.2 Pengertian Modifikasi Perilaku


Modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai:
a. upaya, proses, atau tindakan untuk mengubah perilaku.
b. aplikasi prinsip-prinsip belajar yg teruji secara sistematis untuk mengubah perilaku
tidak adaptif menjadi perilaku adaptif.
c. penggunaan secara empiris teknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki
perilaku melalui penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman.
d. usaha untuk menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip
psikologi hasil eksperimen pada manusia.
Beberapa pandangan tentang modifikasi prilaku
a. Pandangan kaum behavioristik aliran klasik, modifikasi perilaku dapat
diartikan sebagai penggunaan secara sistematik teknik kondisioning pada
manusia

untuk

menghasilkan

perubahan

frekuensi

perilaku

tertentu/mengontrol lingkungan perilaku tersebut. Jika teknik kondisioning


diterapkan secara ketat, dengan stimulus, respon dan akibat konsekuensi
diharapkan terbentuk perilaku lahiriah yg diharapkan.
b. Pandangan aliran operan, modifikasi perilaku akan terbentuk ketika penguat /
pengukuh diberikan berupa reward / punishment.
c. Pandangan aliran behavior analist, modifikasi perilaku merupakan penerapan
dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium. Proses, emosi,
problema, prosedur, semua diukur. Pengubahan perilaku dilaksanakan
dengan rancangan eksperimen dibuat dengan cermat. Perilaku dihitung
secara cacah untuk mendaparkan data dasar. Variabel bebas dimanipulasi,
metode statistik digunakan untuk melihat perubahan perilaku, pengulangan
jika perlu dilakukan hingga terjadi perubahan perilaku secara jelas.
d. Pandangan para ahli:
Eysenk modifikasi Perilaku adalah upaya mengubah perilaku dan emosi
manusia dengan cara yang menguntungkan berdasarkan teori yg modern

dalam prinsip psikologi belajar.


Wolpe yaitu penerapan prinsip-prinsip belajar yg telah teruji secara
eksperimental untuk mengubah perilaku yang tidak adaptif, dengan
melemahkan atau menghilangkannya dan perilaku adaptif ditimbulkan atau

dikukuhkan.
Hana Panggabean, modifikasi perilaku adalah penerapan dari teori Skinner,
sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari

shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement


secara selektif, dan extinction.
Karakteristik Modifikasi Perilaku
Ciri utama modifikasi perilaku, yaitu:
1. Fokus pada perilaku (focuses on behavior)
2. Menekankan pengaruh belajar dan lingkungan (emphasizes influences of learning
and the environment)
3. Mengikuti pendekatan ilmiah (takes a scientific approach)
4. Menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku (uses
pragmatic and active methods to change behavior).
Fokus pada perilaku artinya menempatkan penekanan pada perilaku yang dapat diukur
berdasar atas dimensi-dimensinya, seperti frekuensi, durasi, dan intensitasnya. Karena itu
metode modifikasi perilaku selalu mengamati dan mengukur setiap tahap perubahan
sebagai indikator dari berhasil atau tidaknya program bantuan yang diberikan.
Dalam modifikasi perilaku, mengkategorikan apakah suatu perilaku sebagai berlebihan
atau kekurangan merupakan langkah yang mutlak, sehingga dapat dipahami secara pasti
mana perilaku yang termasuk excesses atau berlebihan dan akan dikurangi atau yang
termasuk deficit atau berkekurangan dan akan ditingkatkan. Identifikasi ini harus dilihat
dalam konteks di mana perilaku tersebut muncul.
Behavioral exceses adalah perilaku target yang negatif (tidak layak) yang ingin
dikurangi frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk perilaku ini misalnya:
a. Perilaku anak yang tidak bisa diam, seperti keluar masuk rumah, naik turun tangga,
membuang pakaian ke lantai.
b. Perilaku anak yang selalu mengomentari orang lain, mengejek, berlama-lama
ngobrol menggunakan telepon.
c. Perilaku anak yang selalu mengganti chanel TV atau berlama-lama duduk di depan
TV.
Contoh dalam kasus anak autis, perilaku berlebihan ini tampak misalnya pada perilaku
stimulasi diri (menatap jari jemari, mengepak-ngepak tangan), self-abuse (memukul
menggigit, mencakar diri sendiri), tantrum (menjerit, mengamuk), atau agresif
(menendang, memukul,mencubit, menggigit orang lain).
Sedangkan Behavioral deficit adalah aladah target perilaku yang positif (lanyak) yang
ingin ditingkatkan frekuensi, durasi, atau intensitasnya. Termasuk dalam perilaku yang
kurang, misalnya:

a. Anak yang tidak dapat menghitung atau menjumlahkan angka-angka dengan tepat.
b. Siswa yang tidak pernah mengerjakan tugas-tugas sekolah
c. Siswa yang selalu melanggar aturan dan tatatertib sekolah
d. Siswa yang sering melakukan pencurian, suka merokok, dsb.
Contoh pada kasus anak autis, termasuk perilaku yang berkekurangan ini misalnya
tidak mau atau sedikit bicara, secara sosial cenderung mengganggap orang lain sebagai
benda atau bahkan tidak ada, ketika bermain hanya senang memutar roda mobil-mobilan,
tidak mau merespon stimulus dari lingkungan, sehingga sering disangka tuli-buta,
kehidupan emosinya yang datar (misal, hanya bengong ketika dikelitiki), dsb.
Modifikasi perilaku juga menekankan pengaruh belajar dan lingkungan, artinya bahwa
prosedur dan teknik tritmen menekankan pada modifikasi lingkungan tempat dimana
individu tersebut berada, sehingga membantunya dalam berfungsi secara lebih baik dalam
masyarakat. Lingkungan tersebut dapat berupa orang, objek, peristiwa, atau situasi yang
secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap kehidupan seseorang.
Mengikuti pendekatan ilmiah artinya bahwa penerapan modifikasi perilaku memakai
prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, dengan penempatan orang, objek, situasi, atau
peristiwa sebagai stimulus, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sedangkan
menggunakan metode-metode aktif dan pragmatik untuk mengubah perilaku maksudnya
bahwa dalam modifikasi perilaku lebih mengutamakan aplikasi dari metode atau teknikteknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan.
Modifikasi perilaku sebagai salah satu metode dalam memberikan bantuan pada klien,
menerapkan metode yang berbeda. Martin dan Pear (2003) menyatakan modifikasi
perilaku tidak hanya sekedar terapi biasa yang mengandalkan pembicaraan terapis kepada
kliennya. Bedanya dengan psikoterapi, psikolog yang melakukan modifikasi perilaku:
1. terlibat secara aktif dalam mengkonstruksi ulang lingkungan kehidupan
sehari-hari klien dalam rangka memperkuat perilaku yang tepat.
2. seringkali memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien untuk
memfasilitasi perubahan perilaku ini.
3. metode dan tahap demi tahapnya dapat dibuat dengan jelas, sehinga orang
lain dapat menggunakan dan menjalankan program yang dibuat orang lain.
4. dapat dilakukan sendiri secara perseorangan atau paling tidak dapat
dilakukan oleh orang tua, guru, mentor untuk membantu perubahan perilaku
anak-anak atau bawahannya.
5. selalu berlandaskan pada prinsip belajar umum dan operant, khususnya
conditioning dari Pavlov.

6. menekankan bahwa pendekatan tertentu cocok untuk perubahan perilaku


tertentu pula.
7. melibatkan semua pihak, klien, administrator, konsultan, dll.
2.5.3 Gangguan Perilaku
Jenis gangguan dapat dilihat dari sudut pandang, salah satunya adalah melalui peranan
ego. Ada tiga fungsi ego yang tergolong terganggu yaitu meliputi:
1. Ego yang lemah tetapi masih utuh
Ego ini sangat rentan, baik terhadap tekanan dari luar maupun dorongan dari
dalam. Ego akan melahirkan gangguan neoruss (neorusteni) yaitu adanya syaraf
yang lemah.
2. Ego yang retak
Dengan ego yang retak, maka ego terpecah dalam bagian-bagian yang terpisah oleh
parti-parti (sulcus/sulci) seperti dalam otak akibatnya dalam informasi dari suatu
bagian kebagian lainnya berjalan meloncat-loncat/ tidak menyambung. Begitulah
terjadi gangguan seperti pada penderita skizofrenia. Ego ini melahirkan psikosis,
yaitu retak dalam jiwa sehingga antara rangsang dan tanggapan tidak sesuai. Dalam
satu aliran psikologis, ego diartikan sebagai komponen penting dalam kepribadian
yang justru berfungsi untuk menghubungkan jiwa individual dengan dunia luar
atau dunia nyata. Dalam pengertian yang lebih jelas, egolah yang menentukan
penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya
3. Ego yang bolong (pourous)
Yang dimaksud dengan ego bolong adalah adanya lubang atau bolong ditempattempat tertentu. Seperti kita ketahui, ego ini dapat diibaratkan sebagai filter
(penyaring) informasi dari luar kedalam dan tindakan sebaliknya. Dari luar diolah,
diartikan melalui proses yang disebut persepsi sehingga informasi itu mempunyai
makna tertentu. Pada kejadian ego bolong ini, pada tempat-tempat tertentu terdapat
lubang sehingga rangsang dari luar atau dorongan dari dalam keluar begitu saja tanpa
ada saringan. Ego ini melahirkan psikopat, yaitu gangguan dalam mempertimbangkan
suatu prilaku.
2.5.4

Bentuk-bentuk gangguan perilaku

a. Personality disoreder
Personality disorder adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan
dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat. Pemahaman ini bersumber pada
masalah perkembangan, yaitu bahwa manusia berkembang dari sejak lahir dalam
suatu proses dimana terjadi interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Proses
inilah yang menyebabkan kondisi di dalam diri seseorang (inner world)
menimbuklan adanya perkembangan kepribadian, termasuk didalamnya tugastugas perkembangan dan moralitas dalam berperilaku.
b. Penyimpangan perilaku
Semua tingkah laku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam
masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, dan lain-lain)
dapat disebut sebagai perilaku menyimpang (Sarwono, 1989:197). Perilaku
menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku
dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha darimereka yang berwenang dalam
sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.Menurut jenisnya terdapat dua
kategori perilaku menyimpang, yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan
sekunder:
1. Penyimpangan Primer (Primary Deviation) Penyimpangan yang dilakukan
seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri
penyimpangan ini bersifat temporer atausementara, tidak dilakukan secara
berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat.Contohnya :
menunggak iuran listrik, telepon, BTN dsb. melanggar rambu-rambu lalu
lintas, ngebut di jalanan.
2. Penyimpangan Sekunder (secondary deviation) Penyimpangan yang berupa
perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai
perilaku menyimpang. Pelaku didominasioleh tindakan menyimpang tersebut,
karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya.
Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Contohnya : pemabuk,
pengguna

obat-obatan

terlarang.-

pemerkosa,

pelacuran.

(Robert

M.

Z.Lawang).
Bentuk-bentuk gangguan perilaku digolongkan ke dalam empat dimensi
kemanusiaan, yaitu: dimensi individualitas, sosialitas, moralitas, dan religiusitas.

Permasalahan dimensi individualitas, seperti prestasi rendah, motivasi belajar menurun,


atau kesulitan alat pelajaran. Permasalahan dimensi sosialitas, seperti bentrok dengan
guru, pendiam, sering bertengkar, sukar menyesuaikan diri, pemalu, penakut, kurang
bergaul, kasar, dan manja. Permasalahan dimensi moralitas, seperti melanggar tata tertib
sekolah, membolos, tidak senonoh, minggat, nakal, kasar, terlibat narkoba, atau terlambat
masuk sekolah. Permasalahan dimensi religius, seperti tidak melakukan salat atau
perbuatan-perbuatan lain yang menyimpang dari agama yang dianutnya.( Prayitno dan
Amti,2005:46).
Bentuk-bentuk gangguan perilaku dapat dibagi menjadi dua sifat, yaitu perilaku
regresif dan agresif. Contoh-contoh bentuk gangguan perilaku yang bersifat regresif
antara lain: suka menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk, atau tak mau masuk sekolah,
sedangkan bentuk yang bersifat agresif, antara lain: berbohong, membuat onar, memeras
teman, dan prilaku-prilaku lain yang dapat menarik perhatian orang lain atau merugikan
orang lain seperti mengganggu orang lain. (Dalyono, 2001:265). Seseorang yang
cenderung suka mengganggu sesamanya memperlihatkan keadaan jiwa yang tidak stabil,
kurang sehat, atau sedang dilanda kegelisahan. Dalam usaha membebaskan diri dari
berbagai belenggu tersebut, ia tak menemukan cara lain selain melakukan perbuatan yang
menyimpang seperti mengganggu orang lain disekitarnya.
Kecenderungan anak mengganggu sesama teman menunjukkan bahwa adanya
ketidaksenangan serta ketidakpuasan si pelaku terhadap kondisi hidupnya. Misalnya, ia
tidak menyukai sikap keras kedua orang tuanya, merasa dirinya tidak aman, di rumah atau
di sekolah acapkali diganggu orang lain, tengah menghadapi masalah besar, atau tak
mampu membalaskan dendamnya.

BAB 3. PENUTUP

2.6

Kesimpulan
Proses belajar, berfikir, ingatan, kepribadian dan prilaku merupakan suatu

proses yang saling berhubungan dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Belajar
adalah suatu kegiatan yang di lakukan dan diharapkan akan ada perubahan pada diri
individu, perubahan baik aktual maupun potensial seperti dari tidak tahu menjadi
tahu, dan tidak mengerjakan menjadi dapat mengerjakan, Yang di peroleh melalui
usaha, perjuangan, proses berfikir dan melekat dalam otak sebagai suatu ingatan
yang akan merubah prilaku individu dalam tiap proses tumbuh kembangnya sebagai
suatu ciri kepribadian.
2.7 Saran
Di harapkan makalah ini dapat membantu sebagai bahan referensi dan ilmu
pengetahuan bagi pembaca tentang bagaimana Proses belajar, berfikir, ingatan,
kepribadian dan perilaku merupakan suatu proses yang saling berhubungan dan
memiliki keterkaitan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA
Sunaryo. 20013. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Dali Gulo, kamus Psikologi, (Bandung. Tonis, 1982)
David M. Hamberg, Strategi Meningkatkan Kecerdasan, Memori dan Kreatifitas,
terjemahan, (Jakarta: Prestasi pustaka, 2006).
John W. Santrock , Perkembangan Masa Hidup Jilid 2,(Jakarta: Erlangga, 1995).
Surhaman, Psikologi Kognitif, (Surabaya: Srikandi, 1005).
https://alfara27.files.wordpress.com/2012/09/my-map-iin1.pdf
https://books.google.co.id/books?
id=a5PDCAyRgpcC&printsec=frontcover&dq=kepribadian&hl=id&sa=X&ei=hyovVfbxF8
fIuASXgYHACA&ved=0CBsQ6AEwAA#v=onepage&q=kepribadian&f=false
https://ebekunt.files.wordpress.com/2009/11/psikologi-kepribadian.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_ilmu_antropologi/bab3_kepribadian.
pdf
http://eprints.uny.ac.id/7507/2/BAB%202.pdf
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196002011987031SUNARDI/karya_tls-materi_ajar_pdf/KONSEP_DASAR_MODIFIKASI_PERILAKU.pdf
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/10/tipe-kepribadian1.pdf
http://psikologi.or.id/mycontents/uploads/2010/11/thinking.pdf
http://psikologid.com/gangguan-belajar
http://www.psikoterapis.comfilesrangkuman-gejala-gangguan-psikologis.pdf
http://thesis.binus.ac.id/Asli/Bab2/2009-2-00312-JP%20Bab%202.pdf
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCAQFjAB&url=http
%3A%2F%2Fwardalisa.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F24478%2FMateri
%2B01-%2BPengantarDan
%2BTeoriBehavior.pdf&ei=NGZLVZjfFtCfuQSA6YDYBw&usg=AFQjCNHVQmvbX7nw
Bur0vf-0bC4CWHnnPg&sig2=RDUcuYXBXNvV30x6DHvSyQ&bvm=bv.92765956,d.c2E

https://www.scribd.com/doc/132364159/Konsep-Berpikir-edisi-cetak-pdf (diakses pada 16


April 2015)

CONTOH SOAL
1. Tuan X sedang mengikuti kursus bahasa di salah satu lembaga bimbingan belajar di kota
jember, setelah 2bulan mengikuti bimbingan tersebut, tuan X mengalami perubahan baik
aktual maupun potensial pada diri tuan X. Dari kasus tersebut tuan X sedang melalui
perubahan proses....
a. Berpikir
b. Ingatan
c. Kepribadian
d. Perilaku
e. Belajar
2. Nino setiap hari belajar bersama dengan ayahnya, ayah nino selalu memiliki cara dan trik
saat menemani nino agar nino semangat belajar. Nino selalu menolak saat orang lain
menemaninya, dalam situasi tersebut maka Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
belajar adalah...
a. Metode / cara belajar
b. Sarana
c. Efisiensi waktu
d. Bahasa dan budaya
e. Motivasi dan minat
3. Naura adalah mahasiswa PSIK angkatan 2014, ia merupakan mahaiswa yang pandai dan
aktif, menurut teman dekatanya naura seorang anak yang baik,rajin dan ramah, semua
orang senang dekat denganya. Konsep yang berhubungan dengan kepribadian adalah....
a. Character (karakter)
b. Temperament (temperamen)
c. Traits (sifat-sifat)

d. Type attribute (ciri)


e. Habit (kebiasaan)
4. Suatu tipe memori yang relatif tetap dan tidak terbatas. Memori jangka panjang
bertambah seiring bertambahnya usia selama masa pertengahan dan akhir-akhir kanakkanak disebut dengan ingatan . . .
a. Ingatan eksplisit
b. Ingatan Jangka Pendek (short term memory)
c. Ingatan Sematik
d. Ingatan Jangka Panjang (long term memory)
e. Ingatan implisit
5. Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan,perbuatan serta kebiasaan
seseorang, baik yang jasmani,mental, rohani, emosional maupun yang sosial. Pernyataan
tersebut dikemukakan oleh . . .
a. ADOLF HEUKEN, S.J. dkk
b. Soekidjo Notoatmojo
c. KRECH dan CRUTCHFIELD
d. Martin dan Pear
e. GORDON W. W ALLPORT
6. Respon seseorang/organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan disebut . . .
a. Ingatan
b. Berpikir
c. Kepribadian
d. Perilaku
e. Behaviorism
7. Suatu hari nona A pergi ke tempat wisata di rembangan. Ketika nona A sedang menikmati
salah satu pemandangan disana, dia merasa seperti pernah ke tempat tersebut dan
mengalami kejadian yang padahal sebenarnya nona A belum pernah sama sekali pergi
kesana. Dari kasus tersebut termasuk jenis paramnesia apakah pada gangguan disosiasi
tersebut?
a. Jamais vu
b. Hiperamnesia
c. Deja vu
d. Letologika
e. Konfabulasi

8. Andin adalah seorang siswi kelas 3 SMA, setiap andin pulang dari sekolah ketika ia di
rumah ia selalu membuka pelajaran yang telah di ajarkan di sekolah dengan tujuan agar
ani dapat mengingat pelajaran tersebut ketika menghadapi UAS. Dari kasus di atas dalam
teori memory merupakan proses...
a. proses encoding
b. proses storage
c. proses retrieval
d. short-term memory
e. long-term memory
9. Ahmad adalah seorang siswa kelas 2 SMP. Ia sangat suka menghayal tentang masa
depannya. Ia selalu berpikir suatu saat bisa menjadi seorang dokter, yang bisa mengobati
pasiennya.Jika dilihat dari macam-macam berpikir, maka apa yang dilakukan ahmad
adalah
a. Berpikir altruistik
b. Berpikir autistic
c. Berpikir ilmiah
d. Berpikir alamiah
e. Berpikir irasional
10. Suatu hari An. M mengikuti UH B.indo, dan hasilnya dibawah rata-rata. Namun ketika
UH matematika dibagikan, dia mendapat nilai yang paling bagus. Dalam hal ini An. M
memiliki ...... tinggi
a. IQ
b. SQ
c. EQ
d. Motivasi