Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ALIRAN ALIRAN PENDIDIKAN

Disusun oleh

Dosen Pembimbing

: 1. Ayu Shelli Mardiana


2. Rahma Zuriyatina
3. Rina Ayudya
4. Zuhairia
: Dr. Effendi Nawawi, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014/2015
ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji tentang filsafat pendidikan aliran Nativisme, Empirisme,
Konvergensi, Naturalisme, Progresivisme, Konstruktivisme. Aliran nativisme

adalah aliran yang menyatakan bahwa perkembangan seseorang merupakan


produk dari pembawaan yang berupa bakat. Aliran empirisme adalah aliran
mengutamakan perkembangan manusia dari segi empirik yang secara eksternal
dapat diamati dan mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia. Aliran
konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran
nativisme. Aliran naturalisme dalam filsafat pendidikan mengajarkan bahwa guru
paling alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Aliran
progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah,
melainkan harus terintegrasi dalam unit. Aliran konstruktivisme adalah Aliran
yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang
wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan,
ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya.
Tetapi aliran yang sampai sekarang masih di anut oleh masyarakat adalah
aliran konvergensi, karena merupakan aliran yang menggabungkan antara aliran
nativisme dan empirisme dan juga merupakan aliran yang sempurna.
Sedangkan masyarakat Indonesia mayoritas juga menganut aliran konvergensi

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dari dulu sampai sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling
penting untuk membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah
sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari faktor pembawaan dan lingkungan.
Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan
sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit.
Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi
dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban,
tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada
pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini penulis akan memaparkan
beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik, di antaranya aliran nativisme,
naturalisme, empirisme dan konvergensi, serta pengaruhnya terhadap pemikiran
dan praktek pendidikan di Indonesia, serta pandangan islam terhadap pendidikan.

B. RUMUSAN MASALAH
Apa pengertian Aliran Nativisme, Empirisme, Konvergensi, Naturalisme,
Progresivisme, Konstruktivisme.?

C. TUJUAN
Dalam pembahasan kali ini pemakalah mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat aliran-aliran pendidikan.
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar Dasar Pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A . Aliran Nativisme
Aliran nativisme (aliran pesimistik). Aliran nativisme menyatakan bahwa
perkembangan seseorang merupakan produk dari pembawaan yang berupa bakat.
Bakat yang merupakan pembawaan seseorang akan menentukan nasibnya. Aliran
ini merupakan kebalikan dari aliran empirisme. Orang yang berbakat tidak baik
akan tetap tidak baik, sehingga tidak perlu dididik untuk menjadi baik. Orang
yang berbakat baik akan tetap baik dan tidak perlu dididik, karena ia tidak
mungkin akan terjerumus menjadi tidak baik.
1. Tokoh tokoh aliran nativisme
ArthurSchopenhauer
Dilahirkan di Danzig pada tanggal 22 Februari 1788. Schopenhauer
dibesarkan oleh keluarga pembisnis. Ia merupakan seorang jenius dengan
karyanya yang terkenal adalah The World as Will and Representation. Ia
mempunyai pandangan bahwa Pembawaanlah yang maha kuasa, yang
menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa
mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Perkembangan
ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh
anak itu sendiri
ImmanuelKant
Di lahirkan di Konigsberg pada 22 April 1724. Ia merupakan filsof
Jerman dan karyanya yang terkenal adalah Kritik der Reinen Vernunft. Ia
berpendapat bahwa :
1. Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan
panca indra. Lain daripada itu merupakan ilusi saja, hanyalah ide.
2. Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi
sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah imperatif
kategoris. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal

ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang


mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
3. Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah
yang memutuskan pengharapan manusia.

Gottfried Wilhemleibnitz
Merupakan filsuf Jerman yang lahir di Leipzig, pada 1 Juli 1646.
Gottfried mempunyai pandangan bahwa perkembangan manusia sudah
ditentukan sejak lahir. Manusia hidup dalam keadaan yang sebaik
mungkin karena dunian ini diciptakan oleh Tuhan.

Aliran nativisme hingga kini masih cukup berpengaruh dikalangan


beberapa orang ahli, tetapi tidak semudah dulu lagi. Diantara ahli yang dipandang
sebagai nativis ialah Noam A. Chomsky kelahiran 1928, seorang ahli linguistic
yang

sangat terkenal

hingga saat ini. Chomsky menganggap

bahwa

perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan sematamata oleh proses belajar, tetapi juga (yang lebih penting) oleh adanya biological
predisposition (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir.
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh
faktor-faktor yang dibawa sejak lahir itulah yang menentukan perkembangannya
dalam kehidupan. Nativisme berkeyakinan bahwa pendidikan tidak dapat
mengubah sifat-sifat pembawaaan. Dengan demikian menurut mereka pendidikan
tidak membawa manfaat bagi manusia. Karena keyakinannya yang demikian
itulah maka mereka di dalam ilmu pendidikan disebut juga aliran Pesimisme
Paedagogis..
jawabkan.

B. Aliran Empirisme

Aliran empirisme (aliran optimisme).Aliran empirisme mengutamakan


perkembangan manusia dari segi empirik yang secara eksternal dapat diamati dan
mengabaikan pembawaan sebagai sisi internal manusia. Dengan kata lain
pengalaman adalah sumber pengetahuan, sedangkan pembawaaan yang berupa
bakat tidak diakui.
Manusia dilahirkan dalam keadaan kosong, sehingga pendidikan memiliki
peran penting yang dapat menentukan keberadaan anak. Aliran ini melihat
keberhasilan seseorang hanya dari pengalaman (pendidikan) yang diperolehnya,
bukan dari kemampuan dasar yang merupakan pembawaan lahir.Tokoh utamanya
John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah The School of British
Empircism (aliran empirisme inggris). Namun, aliran ini lebih berpengaruh
terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran
filsafat bernama environmentalisme (aliran lingkungan) dan psikologi bernama
environmental psychology (psikologi lingkungan) yang relatif masih baru
(Rober, 1988).
Doktrin aliran empirisme yang amat mashyur adalah tabula rasa,
sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong
(blank slate/blank tablet). Doktrin tabula rasa menekankan arti penting
pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu
semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya,
sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
Dalam hal ini para penganut empirisme (bukan empirisme) menganggap setiap
anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan
bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada
pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.Jika seorang siswa memperoleh
kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan
menjadi seorang poliisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik,
ia tak akan pernah menjadi pemusik, walaupun orang tuanya pemusik sejati.
Tokoh- tokoh aliran ini adalah :
Francis Bacon

Merupakan filsuf, negarawan, sekaligus penulis yang berasal dari


Inggris. Francis Bacion berpendapat bahwa "Untuk memahami
dunia ini, pertama orang mesti mengamatinya.Pertama, kumpulkan
fakta-fakta.Kemudian ambil kesimpulan dari fakta-fakta itu
dengan cara argumentasi induktif yang logis

Thomas Hobbes
Dilahirkan di Malmesbury (1588-1679). Hobbes berpendapat
bahwa filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek
atau akibat-akibat berupa fakta yang dapat diamati. Segala yang
ada ditentukan oleh sebab tertentu, yang mengikuti hukum ilmu
pasti dan ilmu alam.Yang nyata adalah yang dapat diamati oleh
indera manusia dan sama sekali tidak tergantung pada rasio
manusia(bertentangan dengan rasionalisme).
John Locke
John Locke lahir di Bristol Inggris pada tahun 1632. Jonh Lucke
terkenal dengan teori tabularasanya. Pemikiran John termuat
dalam tiga buku pentingnya yaitu Essay Concerning Human
Understanding (1600), Letters on Tolerantion (1689-1692), dan
Two Treatises on Government (1690). John berpendapat bahwa
anak yang baru dilahirkan dapat diumpamakan seperti kertas putih
yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all
characters)
DavidHume
David Humelahir di Edinburgh pada 26 April 1711. Ia merupakan
filosof Skotlandia, ekonom, dan seorang sejarawan. David Hume
berpendapat bahwa seluruh pemikiran merupakan hasil dari
pengalaman, yang disebut dengan istilah persepsi. Persepsi terdiri
atas kesan-kesan (impressions), dan gagasan (ideas).

Aliran empirisme dipandang berat sebelah, sebab hanya mementingkan


peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan
dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena
berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.
Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman, sedangkan
kemampuan dasar yang di bawa anak sejak lahir, di kesampingkan. Padahal ada
anak yang berbakat dan berhasil meskipun lungkungan tidak terlalu mendukung.
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor
lingkungan atau pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil.
Manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik atau kearah yang
buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dengan
demikian pendidikan diyakini sebagai sebagai maha kuasa bagi pembentukan
anak didik. Karena pendapatnya yang demikian, maka dalam ilmu pendidikan
disebut juga Aliran Optimisme Paedagogis. Tokoh aliran ini yaitu John Locke.

C. Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi (convergence) merupakan gabungan antara aliran
empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting
hereditas

(pembawaan)

dengan

lingkungan

sebagai

factor-faktor

yang

berpengaruh dalam perkembangan manusia.


Aliran filsafat yang dipeloporinya disebut personali.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah:

WilliamStrern
William Strern lahir pada 29 april 1871, ia merupakan penemu
konsep intelligence quotient atau IQ. William berpendapat bahwa
anak dilahirkan dengan pembawaan baik maupun buruk. Baik
buruknya seseorang tergantung dari pembawaan dan lingkungan.

Al Ghazali

Al Ghazali lahir pada tahun 450 H atau 1058 M di desa Thus. Al


Ghazali berpendapat bahwa batas awal berlangsungnya pendidikan
adalah sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian
manusia. Adapun mengenai batas akhir pendidikan adalah tidak
ada karena selama hayatnya manusia dituntut untuk melibatkan
diri

dalam

pendidikan

sehingga

menjadi

insan

kamil.

Kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada


sejauhmana

keberhasilan

pengajaran. Selain

itu,

dalam

bidang

pendidikan

pengajaran dan pendidikan

dan
harus

dilaksanakan secara step by step.sme, sebuah pemikiran filosofis


yang sangat berpengaruh terhadap disiplin-disiplin ilmu yang
berkaitan dengan manusia. Di antara disiplin ilmu yang
menggunakan asas personalisme adalah personologi yang
mengembangkan teori yang komprehensif (luas dan lengkap)
mengenai kepribadian manusia (Rober, 1988).
Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang
berhubungan dengan proses perkembangan diatas, penyusun pandangan bahwa
factor yang memengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada
dasarnya terdiri atas dua macam:

Faktor Internal yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang
meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut
mengembangkan dirinya sendiri.

Faktor Eksternal yaitu hal-hal yang datang atau ada diluar diri siswa
yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman
berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.
Penganut

aliran

ini

berpendapat

bahwa

dalam

proses

perkembangan anak, baik factor pembawaan maupun factor lingkungan


sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa
pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya
dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu.
Sebaliknya,

lingkungan

yang

baik

tidak

dapat

menghasilkan

perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak
terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai
contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata,
adalah juga hasil konvergensi.
Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan
kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah
berkembangnya potensi yang kurang baik.
Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang
tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat
variasi pendapat tentang factor mana yang paling penting dalam menentukan
tumbuh-kembang itu. Dari sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai
pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator
ataukah informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau
tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada
peran tknologi pengajaran (The Teaching Machine, belajar berprogram, dan lainlain). dan sebagainya.
D. Aliran Naturalisme
Nature artinya alam atau yang di bawa sejak lahir. Aliran ini di pelopori
oleh seorang filusuf Prancis JJ. Rousseau(1712-1778). Berbeda dengan nativisme
naturalisme berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai
pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Bagaimana hasil
perkembangannya kemudian sangant di tentukan oleh pendidkan yang di
terimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengeruh itu baik maka akan
baiklah ia akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya. seperti
dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J.J. Rousseausebagai berikut:semua anak
adalah baik pada waktu baru datang dari sang pencipta, tetapi semua rusak di
tangan manusia. Oleh karena itu sebagai pendidik Rousseau mengajukan
pendidikan alam artinya anak hendaklah di biarkan tumbuh dan berkembang
sendiri

menurut

mencampurinya.

alamnya,

manusia

atau

masyarakat

jangan

banyak

Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang di berikan orang


dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu, aliran ini juga di
sebut negativisme.
Jadi menurut aliran ini pendidikan harus di jauhkan dari anak-anak,
seperti di ketahui, gagasan naturalism yang menolak campur tangan pendidikan,
sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin di
perlukan.
Tokoh aliran ini adalah J.J. Rousseau. la adalah filosof Prancis yang hidup
tahun 1712-1778. Naturalisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang
lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan
menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Naturalisme sering
disebut Negativisme.

Dalam aliran Naturalisme memiliki tiga prinsip tentang

proses pembelajaran dintaranya adalah :


a)

Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi


interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan
perkembangan didalam dirinya secara alami.

b)

Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan.


Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan
lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik ke arah
pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk
memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab
belajar terletak pada diri anak didik sendiri.

c)

Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan


bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada
pola belajar anak didik. Anak didik secara bebas diberi kesempatan untuk
menciptakan lingkungan belajarnya sendiri sesuai dengan minat dan
perhatiannya.
Aliran filsafat naturalisme didukung oleh tiga aliran besar yaitu realisme,

empirisme dan rasionalisme. Pada dasarnya, semua penganut naturalisme


merupakan penganut realisme, tetapi tidak semua penganut realisme merupakan

penganut naturalisme. Imam Barnadib menyebutkan bahwa realisme merupakan


anak dari naturalisme. Oleh sebab itu, banyak ide-ide pemikiran realisme sejalan
dengan naturalisme. Salah satunya adalah nilai estetis dan etis dapat diperoleh
dari alam, karena di alam tersedia kedua hal tersebut
Dimensi utama dan pertama dari pemikiran aliran filsafat naturalisme di
bidang

pendidikan

adalah

pentingnya

pendidikan

itu

sesuai

dengan

perkembangan alam. Manusia diciptakan dan ditempatkan di atas semua


makhluk, karena kemampuannya dalam berfikir. Peserta didik harus dipersiapkan
kepada dan untuk Tuhan. Untuk itu pendidikan yang signifikan dengan
pandangannya adalah pendidikan ketuhanan, budi pekerti dan intelek. Pendidikan
tidak hanya sebatas untuk menjadikan seseorang mau belajar, melainkan juga
untuk menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana..
Naturalisme dalam filsafat pendidikan mengajarkan bahwa guru paling
alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Oleh karena itu,
pendidikan bagi penganut paham naturalis perlu dimulai jauh hari sebelum proses
pendidikan dilaksanakan. Sekolah merupakan dasar utama dalam keberadaan
aliran filsafat naturalisme karena belajar merupakan sesuatu yang natural, oleh
karena itu fakta bahwa hal itu memerlukan pengajaran juga merupakan sesuatu
yang natural juga. Paham naturalisme memandang guru tidak mengajar subjek,
melainkan mengajar murid.
Terdapat lima tujuan pendidikan paham naturalisme yang sangat terkenal
yang diperkenalkan Herbert Spencer melalui esai-esainya yang terkenal berjudul
Ilmu Pengetahuan Apa yang Paling Berharga?. Kelima tujuan itu adalah (1)
Pemeliharaan diri; (2) Mengamankan kebutuhan hidup; (3) Meningkatkan anak
didik; (4) Memelihara hubungan sosial dan politik; (5) Menikmati waktu luang.
Spencer juga menjelaskan tujuh prinsip dalam proses pendidikan beraliran
naturalisme, adalah (1) Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam; (2)
Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik; (3) Pendidikan harus
berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak; (4) Memperbanyak ilmu pengetahuan
merupakan bagian penting dalam pendidikan; (5) Pendidikan dimaksudkan untuk

membantu perkembangan fisik, sekaligus otak; (6) Praktik mengajar adalah seni
menunda; (7) Metode instruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif;
(Hukuman dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan.
Kalaupun dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara simpatik.

E . Aliran Progresivisme
Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuankemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang
bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya.
Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai akal dan kecerdasan. Hal
itu ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika
dibanding makhluk lain.
Manusia memiliki sifat dinamis dan kreatif yang didukung oleh kecerdasannya sebagai bekal menghadapi dan memecahkan masalah. Peningkatan
kecerdasan menjadi tugas utama pendidik, yang secara teori mengerti karakter
peserta didiknya. Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai kesatuan jasmani
dan rohani, namun juga termanifestasikan di dalam tingkah laku dan perbuatan
yang berada dalam pengalamannya. Jasmani dan rohani, terutama kecerdasan,
perlu dioptimalkan. Artinya, peserta didik diberi kesempatan untuk bebas dan
sebanyak mungkin mengambil bagian dalam kejadian-kejadian yang berlangsung
di sekitarnya, sehingga suasana belajar timbul di dalam maupun di luar sekolah.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum.
Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala.
tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut
progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman
baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar
berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.
Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum
yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan


memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar naturalistik,
hasil belajar dunia nyata dan juga pengalaman teman sebaya
Tokoh-tokoh Progresivisme
1. William James (11 Januari 1842 26 Agustus 1910)
James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari
eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup.
Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian
dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong
untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di
atas dasar ilmu perilaku.
2. John Dewey (1859 1952)
Teori Dewey tentang sekolah adalah Progressivism yang lebih
menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri.
Maka muncullah Child Centered Curiculum, dan Child Centered School.
Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum
jelas
3. Hans Vaihinger (1852 1933)
Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis.
Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran
bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi
kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata;
jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar,
asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang
berguna saja.

Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir,
guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya,
tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu
filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab,
pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai
pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan
daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes
(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai
dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan
jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core
Curriculum.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman

atau kurikulum eksperimental

didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan


yang komplek.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan
terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core
curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan
yaitu problem solving.
Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan
anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek
kognitif, afektif, maupun psikomotor.

F . Aliran Konstruktivisme
Jean Piaget psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme,
teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Menurut Piaget

setiap organisme harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat


bertahan hidup. Analog dengan hal tersebut manusia (siswa) pada kenyataanya
berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus
ditanggapinya secara kognitif. Maka siswa harus mengembangkan skema
pemikiran yang lebih umum atau rinci atau perlu perubahan, menjawab,
menginterpretasikan pengalaman tersebut. Dengan cara ini pengetahuan
seseorang terbentuk dan selalu berkembang.
Konstruktivisme menekankan perkembangan dan konsep dan pengertian
yang lebih mandalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa.
Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua
tetap tidak akan berkembang pengetahuannya.
Pengetahuan berguna jika pengetahuan tersebut mampu memecahkan
persoalan yang ada. Pengetahuan merupakan proses yang terus berkembang.
( Great News: 2008) Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan
yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan
himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan
seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Konstruktivisme
didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta suatu makna dari apa yang dipelajari ( Wikipedia : 2008).
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang
berbudaya modern. (Whandi:2008).Senada dengan pengertian sebelumnya
Callahan juga mengatakan bahwa konstruktivisme menginginkan adanya
perbaikan kondisi manusia pada umumya ( Pidarta :2000).
Penerapan pendidikan dengan pola konstruktivisme diwujudkan dengan
mengajak siswa secara aktif membangun konsep-konsep kognitif. Guru tidak
sekedar memberi, namun siswa mencari secara aktif, dan mengembangkannya.
Satu contoh misalnya dalam pembelajaran sain. Siswa terlebih dahulu diajak
untuk mengamati fenomena-fenomena alam yang ada seperti pelangi, banjir,
merebaknya hama tanaman tertentu. Melalui fenomena yang ada, guru

mengarahkan siswa untuk mencari penyebabnya. Siswa menemukan sendiri


penyebab terjadinya pelangi, banjir ataukah hama.
Pengetahuan tidak berhenti sampai di sini, pengetahuan siswa tentang
penyebab terjadinya banjir, digunakan siswa untuk mencari solusi pencegahan
banjir yang banyak terjadi. Penerapan solusi pencegahan banjir, memerlukan
pengetahuan-pengetahuan yang baru, disinilah terlihat dinamikan pengetahuan.
Pengetahuan semakin berkembang pada diri siswa, dan dicari sendiri secara aktif
oleh siswa. Pengetahuan baru ini juga menciptakan perbaikan, banjir berkurang.
Dan pengetahuan baru jelas merupakan tindakan bermakna, sebab memberikan
manfaat pada perbaikan lingkungan.

ciri-ciri konstruktivisme dalam pembelajaran

1. Siswa aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.


2. Siswa membina sendiri pengetahuan
3. Proses pembinaan pengetahuan pada siswa melalui proses saling
mempengaruhi antara pembelajaran yang terdahulu dengan pembelajaran
yang terbaru
4. Membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang sudah ada
5. Ketidak-seimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama
6.Bahan pengajaran dikaitkan dengan pengalaman siswa untuk menarik minat
belajarnya
Pembelajaran

konstruktivisme

sebaiknya

melibatkan

guru

yang

konstruktif pula. Guru tidak hanya memberi pengetahuan kepada siswa, tetapi
guru membantu siswa membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya, dengan
memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide
mereka sendiri. Guru memberikan kepada siswa anak tangga untuk membawa

siswa kepada pemahaman yang lebih tinggi dan siswa harus memanjat
sendirianak tangga tersebut.

Guru yang konstruktivisme memiliki ciri- ciri:

1. Mendukung dan menerima inisiatif dan otonomi siswa.


2. Mencari tahu tentang pengertian siswa akan konsep yang diberikan
sebelum membagi pengertian mereka akan konsep tersebut.
3. Mendukung siswa untuk terlibat dalam dialog, baik dengan guru atau
sesama siswa.
4. Memberikan pertanyaan terbuka untuk mendorong siswa bertanya.
5. Mencari perluasan dari tanggapan siswa.
6. Mengajak siswa terlibat dalam pengalaman yang mungkin bertentangan
dengan hipotesa awal mereka dan kemudian mendorongnya untuk diskusi.
7. Memberi waktu bagi siswa untuk membentuk hubungan dan menciptakan
metafora atau perumpamaan.
8. Mengembangkan keinginan dari siswa dengan sering menggunakan model
lingkaran belajar atau siklus belajar.
Pendidikan dengan pola konstruktivisme, akan menciptakan pengalaman baru
yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata yang mendorong
siswa untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemonstrasikan. Siswa yang
kreatif, akan mudah menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Tentunya ini
akan berkaitan pula dengan kemampuannya menjawab soal-soal ujian akhirnya.
NEM akan meningkat, siswa putus sekolah akan berkurang. Pembelajaran yang
berorientasi pada permasalahan yang ada di lingkungan, dan selalu mengikuti
perkembangan, akan memperluas pandangan siswa, sehingga pengetahuannya
tidak terbatas pada apa yang didapat di kelas. Pengetahuannya berkembang sesuai

tuntutan zaman, sehingga pada saatnya nanti harus bekerja, aplikasi ilmunya
sesuai dengan apa yang diperlukan saat itu. Lulusan sekolah siap bekerja,
pengangguran akan berkurang.
1. Konstruktivisme Menurut J. Piaget
Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa kecakapan
kognitif atau intelektual anak dan orang dewasa mengalami kemajuan melalui
empat tahap (dalam Hudojo, 2003), yaitu sensori-motor (lahir sampai 2 tahun);
pra-operasional (2 sampai 7 tahun): operasi konkret (7 sampai 11 atau 12 tahun),
dan operasi formal (lebih dari 11 atau 12 tahun). Dalam pandangan Piaget
pengetahuan didapat dari pengalaman, dan perkembangan mental siswa
bergantung pada keaktifannya berinteraksi dengan lingkungan (Slavin, 2000).
Pada tahap pra-operasional karakteristiknya merupakan gerakan- gerakan
sebagai akibat langsung. Pada tahap operasi konkret siswa didalam berpikirnya
tidak didasarkan pada keputusan yang logis melainkan didasarkan kepada
keputusan yang dapat dilihat seketika. Pada tahap operasi konkret ditandai
dengan siswa mulai berpikir matematis logis berdasar pada manipulasi fisik dari
obyek-obyek. Pada tahap operasi formal siswa dapat memberikan alasan-alasan
dengan menggunakan simbol-simbol atau ide daripada obyek-obyek yang
berkaitan dengan benda-benda di dalam cara berpikirnya. (Hudojo, 2003).

2. Konstruktivisme Menurut von Glasersfeld


Berkaitan dengan pembelajaran, von Glasersfeld (dalam Yackel, Cobb,
Wood, dan Merkel; 2002) menyatakan pandangannya sebagai berikut. Jika
mempercayai bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh setiap individu yang
belajar, maka pembelajaran menjadi sangat berbeda dengan pembelajaran
tradisional yang meyakini pengetahuan ada di kepala guru dan guru harus
mencari

cara

untuk

mentransfer

pengetahuan

tersebut

kepada

siswa.

Pembelajaran menurut konstruktivisme radikal memandang bahwa pengetahuan


harus dikonstruksi oleh individu. Jadi berdasar informasi yang masuk ke diri
siswa, siswa aktif belajar mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman

sendiri. Hal ini, pada awal penyerapan pengetahuan, dimungkinkan terjadinya


perbedaan konsepsi antar siswa terhadap hasil pengamatan.
Apa yang disampaikan guru belum tentu diterima siswa sebagaimana apa
yang diharapkan guru. Tugas guru utamanya bukan mentransfer pengetahuan
tetapi memfasilitasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa memiliki kesempatan
aktif belajar dengan cara mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman
siswa sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran guru perlu mempertimbang adanya
perbedaan tingkat konsepsi siswa terhadap apa yang yang diamati. Dalam
memahami suatu konsep sering terjadi konflik kognitif disebabkan oleh adanya
problematika perbedaan tingkat konsepsi akibat beragamnya pengalaman siswa.
Dalam hal seperti ini, guru perlu membuat kesepakatan-kesepakatan konseptual
misalnya melalui diskusi kelas.

3. Konstruktivisme Menurut Vygotsky


Psikolog Rusia Lev Semionovich (meninggal tahun 1934), berkaitan
dengan perkembangan intelektual siswa mengemukakan dua ide. Pertama bahwa
perkembangan intelektual siswa dapat dipahami hanya dalam konteks budaya dan
sejarah pengalaman siswa (van der Veer dan Valsiner dalam Slavin, 2000) dan
mempercayai bahwa perkembangan intelektual bergantung pada sistem tanda
(sign sistem) yang individu berkembang dengannya (Ratner dalam Slavin, 2000:
43). Sistem tanda adalah simbol-simbol yang secara budaya diciptakan untuk
membantu orang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya
budaya bahasa, sistem tulisan dan sistem perhitungan.

BAB III

PENUTUP
A. SIMPULAN
Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia,karena
setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya
yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orangtuanya.
Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa aliran yang sampai
sekarang masih di anut oleh masyarakat adalah aliran konvergensi, karena
merupakan aliran yang menggabungkan antara aliran nativisme dan empirisme
dan juga merupakan aliran yang sempurna.
Sedangkan masyarakat Indonesia mayoritas juga menganut aliran konvergensi
Di dalam proses belajar pembelajaran , guru harus memilih teori yang
sesuai dengan karakter siswanya agar kesuksesan dapat tercapai dengan
baik.dengan itu antar guru dan siswa akan terbentuk suatu hubungan yang aktif
dan interaktif.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarno,wiji.2006.Dasar Dasar Ilmu Pendidikan.Yogyakarta:Ar-ruzz media


Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), cet, 15

http://rimmu.wordpress.com/2010/02/08/AliranAliran pendidikan.

http://7assalam9.wordpress.com/2012/01/28/AliranAliran pendidikan
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati.2001.Ilmu Pendidikan.jakarta:PT Rineka Cipta

Effendi, Mukhlisun.2008.Ilmu Pendidikan.Yogyakarta:Nadi


Offsethttp://kuwatpamuji.blogspot.com/aliran-filsafat-pendidikan/html