Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkembangan pasar modal di Indonesia saat ini mengalami
kemajuan yang sangat pesat dan memiliki peranan penting dalam
menghubungkan kebutuhan investor dalam melakukan kegiatan investasi
di pasar modal. Di samping itu pasar modal juga mampu mendorong
terciptanya alokasi dana yang efisien karena dengan adanya pasar modal
ini maka pihak investor dapat memilih mana yang memberikan return
yang paling tinggi dengan risk yang rendah.
Dalam

melakukan

investasi,

investor

dapat

melakukan

pendekatan investasi yaitu berupa analisis teknikal dan fundamental


sebagai langkah dalam penilaian tingkat pengembalian saham yang akan
diperoleh investor. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah
analisis fundamental. Analisis fundamental (rasio) merupakan alat yang
digunakan untuk membantu menganalisis

laporan

keuangan

perusahaan sehingga dapat diketahui kekuatan dan kelemahan suatu


perusahaan.

Analisis

fundamental

mengidentifikasikan

prospek

perusahaan lewat analisis faktor faktor. Analisis rasio juga menyediakan


indikator yang dapat mengukur tingkat profitabilitas, likuiditas,
pendapatan, pemanfaatan aset dan kewajiban perusahaan (Munawir,
2004).
Memaksimalisasi harga pasar saham perlu mempertimbangkan
faktor- faktor yang mempengaruhi harga saham. Alwi (2003: 87)
berpendapat

bahwa salah faktor yang mempengaruhi pergerakan harga

saham adalah pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti


peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal,

Earning Per Share (EPS) dan Dividen Per Share (DPS), price earning
ratio, net profit margin, Return On Assets (ROA), dan lain-lain. Menurut
Arifin (2001: 116), faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham antara
lain: kondisi fundamental perusahaan, hukum permintaan dan penawaran,
tingkat suku bunga, kurs valuta asing, dana asing di bursa, indeks
harga saham, news and rumors, dividen, laba perusahaan, dan faktor
lain. Faktor-faktor

fundamental

merupakan faktor

yang berkaitan

dengan kinerja perusahaan itu sendiri. Harga suatu sekuritas akan


dipengaruhi oleh kinerja perusahaan (misalnya tingkat penjualan dan laba
usaha). Kinerja perusahaan itu sendiri akan dipengaruhi oleh kondisi
industri

dan

perekonomian

secara umum. Banyak indikator yang

digunakan dalam analisis kinerja perusahaan antara lain likuiditas,


profitabilitas, solvabilitas, dan ukuran perusahaan.
Likuiditas merupakan salah satu faktor yang yang dapat
mendorong terjadi perubahan harga saham. Likuiditas tinggi menunjukan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Likuiditas perusahaan dapat diukur dengan rasio lancar. Rasio lancar
menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar utang lancar
dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki (Sudana, 2009: 24).
Suryani (2007) meneliti pengaruh faktor fundamental terhadap harga
saham pada pada perusahaan LQ45 menunjukan bahwa terdapat
pengaruh signifikan antara variabel rasio lancar terhadap harga saham.
Profitabilitas

merupakan

kemampuan

perusahaan

untuk

menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki


perusahaan, seperti aktiva, modal atau penjualan (Sudana, 2009: 25). Jika
kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan
keuntungan di masa mendatang maka banyak investor yang akan
menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan, tentu saja
mendorong harga saham naik menjadi lebih tinggi. Profitabilitas dapat
diukur dengan return on assets (ROA). ROA menunjukan kemampuan

perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk


menghasilkan laba.
Solvabilitas mengukur seberapa besar penggunaan utang dalam
pembelanjaan perusahaan. Solvabilitas dapat diukur dengan Debt to
equity Ratio (DER). Menurut Darsono (2005: 54), rasio ini menunjukkan
persentase penyediaan dana oleh pemegang saham kepada pemberi
pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan
yang disediakan oleh pemegang saham. Brigham dan Weston (1997: 2627) berpendapat bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pergerakan harga saham adalah proporsi utang perusahaan terhadap
ekuitas.
Peneliti menggunakan PT Unilever Indonesia Tbk sebagai obyek
penelitian karena melihat laba dari perusahaan tersebut mengalami
kenaikan setiap tahunnya begitu pula dilihat dari pembagian dividen yang
diberikan kepada pemegang saham mengalami peningkatan setiap
tahunnya. PT Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia, telah berdiri selama 80 tahun, memiliki
40 brand products, mendapat 133 penghargaan di tahun 2013, sudah
memiliki 8 pabrik yang ada di Indonesia dengan total karyawan 6.719
yang merupakan perusahaan fast moving consumer goods (FMCG)
tersebar di Indonesia tentunya memiliki kinerja keuangan yang relatif
stabil dengan pertumbuhan laba yang meningkat setiap tahunnya
dibandingkan dengan perusahaan lainnya, menjadikan PT Unilever
Indonesia Tbk tumbuh menjadi perusahaan terdepan dan banyak menarik
minat para investor untuk menanamkan modalnya di PT Unilever
Indonesia Tbk.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan diatas,
maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas memiliki pengaruh
terhadap tingkat pengembalian saham pada perusahan PT Unilever
2.

Indonesia Tbk ?
Secara parsial manakah yang lebih berpengaruh terhadap tingkat
pengembalian saham, apakah likuiditas, profitabilitas, atau solvabilitas
pada perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk ?

1.3.

Batasan Masalah
Lingkup penilitian/batasan penelitian ini dilakukan agar peneliti
lebih terfokus terhadap perumusan masalah atau pokok permasalahan,
tujuan serta manfaat penelitian. Batasan masalah dalam penelitian ini
adalah hanya tentang likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas dari PT
Unilever Indonesia Tbk.

1.4.

Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas dan
Rasio Solvabilitas Terhadap Tingkat Pengembalian Saham PT Unilever
Indonesia Tbk.
2. Untuk mengetahui Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas dan
Rasio Solvabilitas Terhadap Tingkat Pengembalian Saham PT Unilever
Indonesia Tbk secara parsial.

1.5.

Manfaat Penelitian
a. Bagi pembaca dan penelitian lain
Penelitian ini diharapkan dapat

menambah

wawasan

dan

memperdalam pengetahuan pembaca dan peneliti lain tentang


pengaruh likuiditas, profitabilitas, dan Solvabilitas terhadap tingkat
pengembalian saham serta hasil penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai bahan referensi dan panduan untuk pembaca dan

mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitianpenelitian di masa


yang akan datang.
b. Bagi perusahaan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan bahan
pertimbangan bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan dimasa
yang akan datang yang berhubungan dengan laporan keuangan
perusahaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1.

Laporan Keuangan

Menurut Sutrisno (2013:18) laporan keuangan merupakan hasil


akhir dari proses akuntansi

yang meliputi dua laporan utama yakni (1)

Neraca dan (2) Laporan laba rugi. Laporan keuangan disusun dengan
maksud untuk menyediakan informasi keuangan suatu perusahaan kepada
pihakpihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam
mengambil keputusan. Pihakpihak yang berkepentingan tersebut antara
lain manajemen, pemilik kreditor, investor dan pemerintah.
2.2.

Jenis Laporan Keuangan


Menurut Samryn (2011:30) laporan keuangan yang lengkap terdiri
dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan
modal/ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan. Tiap laporan keuangan
saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Karakteristik umum tiap
laporan keuangan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Neraca, merupakan suatu laporan yang menggambarkan posisi
keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu yang terdiri dari aktiva,
kewajiban, dan ekuitas.
b. Laporan laba rugi, merupakan suatu ikhtisar yang menggambarkan
total pendapatan dan total biaya, serta laba yang diperoleh perusahaan
dalam satu periode akuntansi tertentu. Laba atau rugi yang dihasilkan
dari ikhtisar ini menjadi bagian dari kelompok ekuitas dalam neraca.
c. Laporan arus kas, menunjukkan saldo kas akhir perusahaan yang
dirinci atas arus kas bersih dari aktivitas operasi, arus kas bersih dari
aktivitas investasi, serta arus kas bersih dari aktivitas pendanaan. Hasil
penjumlahan ketiga kelompok arus kas tersebut dijumlahkan dengan
saldo awal kas akan menghasilkan saldo kas pada akhir periode
akuntansi yang dilaporkan. Saldo kas menurut laporan ini harus sama
dengan saldo kas yang ada dalam kelompok aktiva dalam neraca.
Laporan ini dapat dibuat dengan menggunakan data dari laporan laba
rugi tahun berjalan dan perubahan saldo akun neraca sebuah
6

perusahaan dari dua periode akuntansi yang disajikan secara


komparatif.
d. Laporan perubahan modal, merupakan ikhtisar yang menunjukkan
perubahan modal dari awal periode akuntansi menjadi saldo modal
akhir tahun setelah ditambah dengan laba tahun berjalan dan dikurangi
dengan pembagian laba seperti prive dalam perusahaan perorangan
atau dividen dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas.
Perubahan juga bisa bersumber dari pengaruh koreksi kesalahan dan
perubahan metode akuntansi yang digunakan. Laba atau rugi yang
dihasilkan dari laporan laba rugi pada periode yang sama juga menjadi
bagian dari laporan perubahan modal .
e. Catatan atas laporan keuangan, yang menjelaskan tentang gambaran
umum perusahaan kebijakan akuntansi perusahaan serta penjelasan
atas pos-pos signifikan dari laporan keuangan perusahaan. Oleh
karena itu, dalam laporan-laporan keuangan hasil audit atau yang
dipublikasikan secara resmi selalu terdapat catatan di bawahnya yang
berbunyi: Catatan atas laporan keuangan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
2.3.

Tujuan Laporan Keuangan


Menurut Samryn (2011:32) para pemakai laporan keuangan dapat
menggunakan informasi tersebut sebagai dasar dalam memilih alternatif
penggunaan sumber daya perusahaan yang terbatas. Namun, sejalan
dengan perkembangan kepentingan kelompok pemakai informasi maka
pelaporan keuangan diperluas dengan tujuan sebagai berikut:
a. Membuat keputusan investasi dan kredit. Informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan
untuk membuat keputusan investasi atau keputusan kredit tanpa harus
membuat lebih dari satu laporan keuangan untuk satu periode
akuntansi
7

b. Menilai prospek arus kas. Informasi yang disajikan dalam laporan


keuangan dapat digunakan untuk menilai potensi arus kas di masa yang
akan datang.
c. Melaporkan sumber daya perusahaan, klaim atas sumber daya tersebut,
dan perusahaan-perusahaan di dalamnya. Informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan dapat menjelaskan kekayaan perusahaan,
kepemilikan dan/atau pihak-pihak yang masih berhak atas sumber daya
tersebut. Informasi yang disajikan juga dapat menjelaskan perubahanperubahan yang terjadi atas sumber daya tersebut selama satu periode
akuntansi yang dilaporkan.
d. Melaporkan sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas para
pemilik
e. Melaporkan kinerja dan laba perusahaan. Laporan keuangan digunakan
untuk mengukur prestasi manajemen denan selisih antara pendapatan
dan beban dalam periode akuntansi yang sama.
f. Menilai likuidasi, solvabilitas, dan arus dana. Laporan keuangan dapat
digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan melunasi utang
jangka pendek, jangka panjang, dan arus dana.
g. Menilai pengelolaan dan kinerja manajemen
h. Menjelaskan dan menafsirkan informasi keuangan.

2.4.

Neraca
Menurut

Sutrisno

(2013:19)

neraca

adalah

laporan

yang

menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu. Neraca


mempunyai dua sisi, sisi debit dan sisi kredit. Pada sisi debit menunjukkan

posisi kekayaan perusahaan (aktiva) yang terdiri dari aktiva lancar dan
aktiva tetap. Aktiva lancar adalah aktiva yang masa perputarannya kurang
atau maksimal dalam satu tahun. Termasuk dalam kelompok ini antara
lain:

Kas, Efek, Piutang Dagang, Piutang Wesel Persediaan dan

Perlengkapan. Aktiva tetap adalah aktiva yang masa manfaatnya lebih dari
satu tahun atau berjangka panjang. Termasuk dalam kelompok ini antara
lain: tanah, bangunan dan gedung, mesin, peralatan, kendaraan, dan
inventaris. Sedangkan pada sisi kredit menunjukkan sumber kekayaan
perusahaan yang terdiri dari dua sumber yakni hutang dan modal. Hutang
terdiri dari dua macam hutang yaitu hutang jangka pendek dan hutang
jangka panjang. Hutang jangka pendek adalah hutang yang masa jatuh
temponya kurang dari satu tahun, seperti hutang dagang, hutang gaji,
hutang pajak, dan hutang bank jangka pendek. Hutang jangka panjang
adalah hutang yang berjangka waktu lebih satu tahun, seperti hutang bank
jangka panjang, hutang obligasi, maupun hutang hipotik. Sisi pasiva
lainnya adalah modal yang terdiri dari modal saham, agio saham, laba
ditahan dan cadangancadangan.
2.5.

Laporan Laba Rugi


Menurut Samryn (2011:39) laporan laba rugi merupakan sebuah
laporan yang menyajikan informasi tentang pendapatan, beban dan laba
atau rugi yang diperoleh sebuah organisasi selama satu periode waktu
tertentu. Laporan laba rugi dapat disajikan dengan bentuk multiple step.
Dalam laporan laba rugi seperti ini pendapatan dikelompokkan atas
pendapatan utama dan pendapatan lain-lain secara terpisah. Demikian juga
biaya disajikan dari biaya operasional dan biaya yang tidak berasal dari
kegiatan utama perusahaan atau nonoperasi. Laporan ini menghasilkan
informasi tentang laba bruto, laba usaha, laba sebelum pajak, dan laba
bersih secara bertahap. Laporan laba rugi dapat juga disajikan dengan
bentuk single step. Laporan ini hanya menghasilkan satu informasi laba
bersih yang berasal dari hasil pengurangan semua pendapatan dan semua

biaya melalui satu kali pengurangan. Dalam laporan laba rugi seperti ini
pendapatan utama dan pendapatan lain-lain dijumlahkan sekaligus dalam
satu kelompok. Demikian juga biaya disajikan dalam satu kali
penjumlahan untuk kelompok biaya operasional dan biaya yang tidak
berasal dari kegiatan utama perusahaan atau nonoperasi. Laporan ini tidak
menghasilkan informasi tentang laba bruto,

laba usaha, laba sebelum

pajak, dan laba bersih secara bertahap.


2.6.

Saham
Menurut Husnan (2009:29) saham merupakan secarik kertas yang
menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut)
untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang
menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan
pemodal tersebut menjalankan haknya.
Saham yang merupakan bukti pemilikan perusahaan mempunyai
beberapa hak sebagai berikut :
a. Hak untuk berpartisipasi dalam menentukan arah dan tujuan
perusahaan, yaitu melalui hak suara dalam rapat pemegang saham.
b. Hak untuk memperoleh laba dari perusahaan dalam bentuk dividen
yang dibagi oleh perusahaan.
c. Hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan perusahaan agar
proporsi pemilikan saham masing-masing pemegang saham dapat tidak
berubah.
d. Hak untuk menerima pembagian aktiva perusahaan dalam hal
perusahaan dilikuidasi.
Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang akan diperoleh oleh
investor dengan memiliki dan membeli saham yaitu :
a. Dividen
10

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan


perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan seluruh pemegah
saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai
artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang
tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula
berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham
diberikan dividen sejumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan
bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.
b. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual.
Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di
pasar sekunder.
2.6.1. Tingkat pengembalian saham
Downes

dan

Goodman

(1999:143)

menyatakan

tingkat

pengembalian saham atau return saham adalah suatu jumlah yang


dinyatakan sebagai suatu persentase dan diperoleh atas investasi saham
biasa perusahaan untuk suatu masa tertentu. Jumlah itu dihitung dengan
membagi ekuitas saham biasa kekayaan bersih pada awal periode
akuntansi kedalam pendapatan bersih setelah deviden saham preferen
tetapi sebelum dividen saham biuasa untuk masa tersebut. Laba atas
modal memberi tahu para pemegang saham biasa seberapa efektif uang
mereka di gunakan. Membandingkan persentase periode berjalan dengan
persentase periode kali akan mengungkapkan kecenderungan dan
membandingkannya dengan komposit industri mengungkapkan apakah
peruasahaan telah bertahan dengan baik, terhadap pesaing-pesaingnya.
a. Jenis-jenis tingkat pengembalian saham.

11

Menurut Jogiyanto (2009:243-246) return saham dibagi


menjadi dua macam yaitu:
-

Return Realisasian

yaitu return yang telah terjadi dihitung

berdasarkan data historis


-

Return Expectation yaitu return yang diharapkan akan diperoleh


investor pada masa yang akan datang.

b. Rumus menghitung return saham


Menurut Jogiyanto (2009:201) rumus menghitung return
saham adalah sebagai berikut :
Return Total = Capital Gain + Yield
P
( tPt1 )+ Dt
P t1

Keterangan :
Pt

= Harga saham periode t

Pt-1 = Harga saham period t -1


Dt = Dividen kas yang dibayarkan
Mengingat tidak selamanya perusahaan membagikan dividen kas
secara periodik kepada pemegang sahamnya, maka return saham
dapat dihitung sebagai berikut :
Return Saham=

Pt Pt1
Pt1

Keterangan:

12

= return sekarang

Pt

= Harga saham sekarang

Pt-1 = Harga saham periode lalu


Jika harga saham sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga saham
periode sebelumnya (Pt-1), maka pemegang saham mengalami
Capital Gain. Namun jika harga saham sekarang (Pt) lebih rendah
dari harga saham sebelumnya (Pt-1), maka pemegang saham
mengalami Capital Loss
2.7.

Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar
kewajiban-kewajibannya yang harus segera dipenuhi. Kewajiban yang
harus segera dipenuhi adalah hutang jangka pendek, oleh karena itu rasio
ini bisa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka
pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak terganggu bila
kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas terdiri
dari tiga alat ukur.
a. Current Ratio
Current ratio adalah rasio yang membandingkan antara aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Aktiva
lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan
aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi
hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang
lainnya yang segera harus dibayar. Rumus current ratio adalah:
Current Ratio=

b. Quick Ratio atau Acid Test Ratio

13

Aktiva Lancar
Hutang Lancar

Quick ratio merupakan rasio antara aktiva lancar sesudah dikurangi


persediaan dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya alat
likuid yang paling cepat yang bisa digunakan untuk melunasi hutang
lancar. Persediaan dianggap aktiva lancar yang paling tidak lancar,
sebab untuk menjadi uang tunai memerlukan dua langkah yakni
menjadi piutang terlebih dahulu sebelum menjadi kas. Rumus quick
ratio atau acid test ratio yaitu :
Quick Ratio=

Aktiva Lancar Persediaan


Hutang Lancar

c. Cash Ratio
Cash Ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan
aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar.
Aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas adalah efek atau
surat berharga. Dengan demikian rumus untuk menghitung cash ratio
adalah sebagai berikut:
Cash Ratio=

2.8.

kas+ efek
hutang lancar

Rasio Profitabilitas
Menurut Sutrisno (2013:228) Keuntungan merupakan hasil dari
kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen. Rasio keuntungan untuk
mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh
perusahaan. Semakin besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik
manajemen dalam mengelola perusahaan. Rasio keuntuk dapat diukur
dengan beberapa indikator yakni:
a. Profit Margin

14

Profit

margin

merupakan

kemampuan

perusahaan

untuk

menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang


dicapai. Rumus yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:
Gross Profit Margin=

Profit Margin=

laba kotor
x 100
Penjualan

E AT
x 100
Penjualan

Net Profit Margin=

EB IT
x 100
Penjualan

b. Return on Asset
Return on asset juga sering disebut sebagai rentabilitas ekonomis
merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini laba
yang dihasilkan adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT.
Return on Asset=

E BI T
x 100
Total Aktiva

c. Return On Equity
Return on equity ini sering disebut dengan rate of return on Net
Worth yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungna
dengan modal sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang
menyebut

sebagai

rentabilitas

modal

sendiri.

Laba

yang

diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong pajak atau EAT.


Dengan demikian rumus yang digunakan adalah:

15

Return on Equity=

E AT
x 100
Modal Sendiri

d. Return on Investment
Return on Investment merupakan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup
investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur
rasio ini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT.
Return on Investment=

E AT
x 100
Investasi

e. Earning Per Share


Pemilik menginginkan data mengenai keuntungan yang diperoleh
untuk setiap lembar sahamnya. Earning per share atau laba per lembar
saham merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan per lembar saham pemilik. Laba yang digunakan sebagai
ukuran adalah laba bagi pemilik atau EAT.
Earning per Share=

2.9.

E AT
Jumlah Lembar Saham

Rasio Solvabilitas
Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi
semua

kewajibannya

apabila

perusahaan

dilikuidasi.

Biasanya

permasalahan yang muncul apabila perusahaan dilikuidasi (ditutup)


menyangkut apakah kekayaan yang dimiliki perusahaan mampu menutup
semua hutang-hutangnya. Apabila semua kekayaan perusahaan mampu
menutup semua hutang-hutangnya berarti perusahaan dalam keadaan
solvable, sebaliknya apabila pada saat dilikuidasi kekayaan perusahaan
tidak bisa menutup semua hutangnya, maka perusahaan menjamin dengan

16

semua kekayaannya (aktiva), dengan demikian solvabilitas perusahaan


dapat dihitung dengan cara membagi total aktiva dengan total hutangnya.
Solvabilitas=

total aktiva
total hutang

Permasalahan lain yang muncul adalah neraca mana yang akan


diambil, apakah neraca berjalan atau neraca likuidasi. Pada dasarnya jika
kita menggunakan neraca likuidasi tidak salah, sebab dalam menilai
solvabilitas mendasarkan pada nilai penjualan aktiva pada saat perusahaan
ditutup. Namun untuk menilai solvabilitas perusahaan tentunya tidak
selalu pada saat perusahaan dilikuidasi, sehingga perusahaan yang berjalan
pun bisa dinilai solvabilitasnya dengan menggunakan nilai aktiva yang
sedang berjalan.
2.10.

Hubungan antara Likuiditas dengan Tingkat Pengembalian

Saham
Ukuran utama likuiditas menurut Fabozzi (1999) adalah besarnya
selisih hasil antara harga penawaran (harga yang diinginkan) dengan harga
yang diminta (harga yang disetujui pembeli) atau yang disebut dengan bidask spread. Semakin besar bid-ask spread suatu saham berarti semakin
likuid saham tersebut dan semakin besar spread maka semakin rendah
likuiditasnya. Spread antara harga bid dan harga ask ini mencerminkan
biaya yang harus dikeluarkan untuk mengubah saham menjadi kas atau
sebaliknya. Saham yang likuiditasnya rendah memiliki spread yang besar
yang berarti semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mengubah
saham menjadi kas atau sebaliknya. Adanya kondisi tersebut, maka para
investor pasti mengharapkan tingkat pengembalian yang tinggi supaya
besarnya spread dapat terkompensasi. Dengan demikian, terdapat
hubungan antara likuiditas saham dan tingkat pengembalian saham.

17

2.11.

Hubungan antara Profitabilitas dengan Tingkat Pengembalian

Saham
Menurut Sartono, rasio profitabilitas untuk mengukur efektivitas
manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan oleh besar kecilnya
tingkat keuang yang diperoleh dalam hubungan dengan penjualan maupun
investasi. ROI adalah rasio antara laba setelah pajak dengan total
aktiva,untuk mengukur tingkat keuangan yang dihasilkan dari investasi.
Menghitung ROI dengan membagi laba setela pajak dengan total aktiva
dengan alasan karena investasi dibiayai dengan modal saham dan utang.
2.12.

Hubungan antara Solvabilitas dengan Tingkat Pengembalian

Saham
Menurut Darsono (2005:54), rasio ini menunjukkan persentase
penyediaan dana oleh pemegang saham. Semakin tinggi rasio, semakin
rendah pendanan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham.
2.13.

Hasil Penelitian Terdahulu


Hasil penelitian Ilham Reza Fahlevi (2013) dengan judul penelitian

Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas


Terhadap Harga saham (studi empiris pada industry perbankan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008 -2010 menujukkan bahwa
profitabilitas dan likuiditas berpengaruh terhadap harga saham, sehingga
para investor, masyarakat, kreditor dan pemakai laporan keuangan yang
lainnya

dapat

menjadikan

profitabilitas

dan

likuiditas

sebagai

pertimbangan dalam hal pengambilan keputusan untuk melakukan


investasi.
Hasil penelitian I G. K. A. Ulupui (2010) dengan judul penelitian
Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas, dan Profitabilitas
terhadap Return Saham (studi empiris pada perusahaan makanan dan
minuman industry barang konsums yang terdaftar pada BEI tahun 1999-

18

2005) yang menyatakan bahwa variabel return on asset berpengaruh


positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hasil
ini konsisten dengan teori dan pendapat Mogdiliani dan Miller (MM) yang
menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari
aset perusahaan.

2.14.

Kerangka Teoritis
Variabel Independent

Variabel Dependent

Rasio Likuiditas

Tingkat Return Saham

Rasio Profitabilitas

Rasio Solvabilitas

19

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kuantitatif
deskriptif

yaitu

metode

penelitian

dengan

mengembangkan

dan

menggunakan model-model matematis untuk menyoroti hubungan antara


variabel likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas dengan teori-teori untuk
menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya dengan fokus
terletak pada penjelasan hubungan antar variabel tersebut.
3.2.Data Penelitian
A. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data
kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka yang terdiri dari data
laporan keuangan perusahaan yang berbentuk laporan laba rugi dan
neraca periode 2009 sampai dengan 2014. Dilihat dari sumber datanya,
penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu dapat berupa
dokumentasi yang merupakan data tertulis yang berhubungan dengan
objek penelitian yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan
neraca dan laporan laba rugi tahun 2019-2014 digunakan untuk

20

mengetahui pengaruh likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas


terhadap tingkat pengembalian saham. Adapun prosedur pengumpulan
dan sumber data dalam penelitian dilakukan guna mendapatkan data
yang relevan dengan permasalahan yang diteliti.
B. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang benar-benar akurat dan hasil
penelitian yang objektif, maka teknik pengumpulan data yang
digunakan peneliti adalah dengan melakukan dokumentasi yaitu
metode dengan cara pengumpulan data dengan membaca dan
mempelajari literatur-literatur dan catatan-catatan kuliah terkait yang
berhubungan dengan penelitian ini secara keseluruhan agar dapat
menambah materi permasalahan yang dibahas.
3.3. Populasi Dan Sampel
a. Populasi
Menurut Warsito (1992:49), populasi adalah keseluruhan objek
penelitian yang dapat terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, gejala,
nilai tes atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki
karakteristik tertentu dalam sebuah penelitian. Populasi yang penulis
gunakan sebagai objek adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI).
b. Sampel
Menurut Arikunto (2002:29) sampel adalah sebagian atau wakil
populasi yang diteliti. Sampel yang digunakan oleh peneliti yaitu PT
Unilever Indonesia Tbk dengan laporan keuangan tahun 2009-2014.
3.4.Metode Analisis
3.4.1. Uji Statistik Deskriptif

21

Menurut Wibowo (2012:24) uji statistik deskriptif adalah


pengujian statistik dengan menjelaskan suatu data yang telah dikumpulkan
dan di ringkas pada aspek-aspek penting yang berkaitan dengan data
tersebut. Uji statistik deskriptif ini biasanya meliputi gambaran atau
mendeskripsikan hal-hal dari suatu data, misalnya adalah mean, median,
modus, range, varian, frekuensi, nilai maksimum, nilai minimum, dan
standar deviasi. Pengujian statistik deskriptif meliputi kegiatan berupa
penyajian data dan penjelasan data, berupa letak, bentuk data dan variasi
data.
3.4.2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.
Seperti diketahui bahwa uji T dan F mengasumsikan bahwa nilai
residual mengikuti distribusi normal. Apabila asumsi ini dilanggar
maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada
dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau
tidak yaitu dengan analisis grafik atau uji statistik. Apabila
menggunakan grafik, normalitas umumnya di deteksi dengan melihat
tabel histogram. Namun demikian, dengan hanya melihat tabel
histogram biasanya menyesatkan, khususnya untuk jumlah sampel
yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal
probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari
distribusi normal. Menurut Ghozali (2006:112) dasar pengambilan
dengan menggunakan probability plot adalah sebagai berikut :
1. Jika data menyebar di sekitar garis dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi
normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

22

2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak


mengikuti arah garis diagonal atau garis histogram tidak
menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak
memenuhi asumsi normalitas.
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hatihati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa
sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi
dengan uji statistik. Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji
normalitas residual adalah uji statistic non-parametik 9ariable9vsmirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis sebagai
berikut :
H0 : Data residual berdistribusi normal
H1 : Data residual tidak berdistribusi normal.
Menurut Wibowo (2012:72), jika nilai Asymp. Sig. atau
signifikansi atau nilai probabilitas >0.05 distribusi adalah normal.
b. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas digunakan dengan tujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling
berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel
ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar Iariab
variabel independen sama dengan nol. Menurut Ghozali (2006:91)
untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model
regresi digunakan metode sebagai berikut:
1. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris
sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-variabel independen
banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel independen.
23

2. Menganalisa matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika


antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi
(umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya
multikolonieritas. Multikolonieritas dapat disebabkan karena
adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen.
3. Multikolonieritas dapat juga dilihat dari (1) nilai tolerance dan
lawannya. (2) variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini
menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan
oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana
setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan
diregresi

terhadap

variabel

independen

lainnya.

Tolerance

mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak


dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi, nilai tolerance
yang

rendah

sama

dengan

VIF

yang

tinggi

(karena

VIF=1/tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk


menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance <
0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10. Setiap peneliti harus
menentukan tingkat kolonieritas yang masih dapat ditolerir.
Sebagai missal nilai tolerance 0,10 sama dengan tingkat
multikolonieritas 0.95.
c. Uji Autokorelasi
Menurut Ghozali (2006:95) uji autokorelasi bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara
kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan pengganggu
pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan
ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang
berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini
timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu
observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtun waktu

24

(time series) karena gangguan pada seseorang individu atau


kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data crossection
(silang waktu), masalah autokorelasi Iariable jarang terjadi karena
gangguan

pada

observasi

yang

berbeda

berasal

dari

individu/kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah


regresi yang bebas dari autokorelasi.
Dalam penelitian ini, uji yang digunakan ada atau tidaknya
autokorelasi adalah uji Durbin Watson (DW test). Uji Durbin
Watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first order
autocorrelation) dan mensyaratkan adanya konstanta (intercept)
dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel
independen. Panduan mengenai angka D-W (Durbin Watson) untuk
mendeteksi autokorelasi dapat dilihat dengan pengambilan keputusan
sebagai berikut :
1. Jika nilai DW berada diantara 0 dan dl atau 0<DW<dl, maka
signifikan tidak terdapat autokorelasi positif yang artinya
keputusan tersebut di tolak.
2. Jika nilai DW berada diantara dl dan du atau dl DW du, maka
signifikan tidak ada autokorelasi positif yang artinya tidak ada
keputusan.
3. Jika nilai DW berada diantara 4-dl dan 4 atau 4-dl DW 4, maka
signifikan tidak ada autokorelasi Iariable yang artinya keputusan
ditolak.
4. Jika nilai DW berada diantara 4-du dan 4-dl atau 4-duDW 4-dl,
maka signifikan tidak ada autokorelasi Iariable yang artinya tidak
ada keputusan.

25

5. Jika nilai DW berada diantara du dan 4du atau duDW4-du, maka


signifikan tidak ada autokorelasi positif atau Iariable yang artinya
keputusan diterima.
Hipotesis yang akan diuji adalah:
H0: tidak ada autokolerasi (r = 0)
Ha: ada autokolerasi (r 0)

d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas betujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas karena
data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (kecil,
sedang dan besar).
Dalam penelitian ini, uji yang digunakan untuk mendeteksi ada
atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESD dan ZPRED
dimana sumbu Y adalah yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah
residual (Y prediksi-Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Dasar
analisinya adalah sebagai berikut:
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik (bergelombang, melebar,
kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi
heteroskedastisitas.

26

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan
dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka terjadi heteroskedastisitas.
3.4.3. Uji Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh rasio likuidtas,
profitabilitas dan solvabilitas terhadap tingkat pengembalian saham pada
PT Unilever Indonesia Tbk, untuk itu perlu diketahui besarnya rasio
likuiditas, profitbalitas dan solvabilitas sebagai sarana untuk mengetahu
berapa tingkat pengembalian saham yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan. Data rincian neraca dan laporan laba rugi yang diperlukan itu
sendiri sesuai dengan tahun penelitian selama 6 tahun mulai tahun 2009
sampai dengan 2014 sehingga dapat diketahui pengaruh antara rasio
likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas terhadap tingkat pengembalian
saham. Sedangkan alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan teknik analisi regresi berganda. Alat analisis ini digunakan
untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel (X) dengan variabel
terikat (Y). Data yang digunakan untuk melakukan regresi linier berganda
yaitu data efisiensi masing-masing indikator Iariable bebas yaitu rasio
likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas kemudian variabel terikat yaitu
tingkat pengembalian saham.
Rumus regresi linier berganda menurut Sujarweni dalam bukunya
yang berjudul SPSS Untuk Penelitian (2014:149) ditunjukkan oleh
persamaan:

Y = a + b1X1 + b2X + b3X3


Keterangan :
Y

= Variabel terikat

= Konsanta (nilai Y apabila X1,X2=0)

27

b1 = Koefisien regersi berganda parsial variabel bebas ke-1, yaitu


kenaikan atau penurunan Y dalam satuan jika X1
satu satuan dan X

naik atau turun

dianggap konstan.

B2 = Koefisien regresi berganda parsial variabel bebas ke-2,


kenaikan atau penurunan Y dalam satuan jika X2

yaitu

naik atau turun

satu satuan dan X2 dianggap konstan.


B3 = Koefisien regresi berganda parsial variabel bebas ke-3,
kenaikan atau penurunan Y dalam satuan jika X3

yaitu

naik atau turun

satu satuan dan X1 dan X2 dianggap konstan.


X1 = Variabel bebas 1
X2 = Variabel bebas 2
X3 = Variabel 3
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diambil yaitu apakah
rasio likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas berpengaruh secara simultan
dan parsial terhadap tingkat pengembalian saham PT Unilever Indonesia
Tbk, maka penulis menggunakan uji statistic uji global (uji f) dan uji
parsial (uji t). Uji global (uji f) digunakan untuk mengetahui apakah rasio
likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas berpengaruh secara simultan
terhadap tingkat pengembalian saham PT Unilever Indonesia Tbk,
sedangkan uji parsial (uji t) digunakan untuk mengetahui signifikan dari
pengaruh rasio likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas berpengaruh secara
parsial terhadap tingkat pengembalian saham PT Unilever Indonesia Tbk.
a. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Dalam regresi linier berganda, analisis determinasi digunakan
untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel berikut.
Koefisien ini menunjukkan seberapa besar persentase variabel-

28

variabel beban yang digunakan dalam model yang dapat menjelaskan


variabel-variabel terikat.
Jika R2 02 berarti tidak ada sedikitpun persentase sumbangan
pengaruh yang diberikan variabel bebas terhadap variabel berikut
atau variabel-variabel terkait atau variable bebas yang digunakan
dalam model tidak menjelaskan sedikitpun variabel-variabel terkait.
Sebaliknya jika R2 1, berarti persentase sumbangan pengaruh yang
diberikan variabel terikat terhadap variabel bebas yang digunakan
model, menjelaskan 100% variasi variabel terikat. Rumus yang biasa
digunakan untuk melakukan uji koefisien determinasi (R 2) menurut
Suharyadi dan Purwanto (2009:210) ditunjukkan oleh rumus sebagai
berikut:
R2=

b1 X 2 Y +b2 X 2 Y +b3 X 3 Y

Y2

b. Uji Koefisien Korelasi


Uji koefisien dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan
antara dua atau lebih variabel bebas secara serentak. Nilai R berkisar
antara 0 sampai 1, jika nilai semakin mendekati 1 berartu hubungan
yang terjadi semakin kuat, sebaliknya jika nilai semakin mendekati 0
maka hubungan yang terjadi semakin lemah. Adapun menurut
Sugiyono (2008:250) pedoman untuk memberikan interpretasi
koefisien kolerasi adalah :
0,00 0,199 = sangat rendah
0,20 0,399 = rendah
0,40 0,599 = sedang
0,60 0,799 = kuat

29

0,80 1,000 = sangat kuat


Rumusan yang digunakan adalah :
R=

R2

c. Uji Global (F)


Menurut Ghozali (2006:84) uji global atau uji F dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui besarnya dampak atau pengaruh secara
nyata antar variabel bebas terhadap variabel terikat secara bersama.
Hipotesis nol (H0) yang akan diuji adalah apakah semua parameter
dalam model sama dengan nol.
Atau H0:b1=b2= . Bk=0, artinya apakah semua variabel
independen bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap
variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (Ha) : b1 b2 b3
bk bi 0, artinya semua variabel independen

secara simultan

merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.


d. Uji Signifikan Parsial (Uji t)
Uji signifikan parsial atau individual digunakan menguji apakah
rasio likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas berpengaruh nyata atau
tidak terhadap tingkat pengembalian saham secara individual atau
parsial. Nyata atau tidaknya pengaruh suatu variabel bebas terhadap
variabel terikatnya juga bergantung pada hubungan variabel tersebut
dan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Untuk melakukan uji
signifikan parsial atau individual atau uji t ada beberapa langkah yang
perlu dilakukan, diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Menentukan Hipotesis
Hipotesis pertama :

30

H0 :B1 = 0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan


antara likuiditas terhadap tingkat pengembalian saham.
H1 :B2 = 0, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara
likuiditas terhadap tingkat pengembalian saham.
Hipotesis kedua :
H0 :B1 = 0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan
antara profitabilitas terhadap tingkat pengembalian saham.
H1 :B2 = 0, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara
profitabilitas terhadap tingkat pengembalian saham.
H0 :B1 = 0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan
antara solvabilitas terhadap tingkat pengembalian saham.
H1 :B2 = 0, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara
solvabilitas terhadap tingkat pengembalian saham.
2) Menentukan Daerah Kritis
Daerah kritis ditentukan oleh nilai t-tabel dengan derajat
bebas n-k dan taraf nyata pada 5%. Dengan menggunakan uji
dua arah sehingga taraf nyata 5%/2 = 2,5%.
3) Menentukan Nilai t-hitung
Menurut Suharyadi dan Purwanto (2009:229) nilai t-hitung
untuk koefisien b1 dan b2 dapat dirumuskan sebagai berikut :
t-hitung = b B
Sb
Dimana :
b

= koefisien regresi

31

= parameter populasi

Sb = standar error koefisien regresi


4) Menentukan Daerah Keputusan
Daerah keputusan untuk menerima H0 atau menolak H0.
5) Menentukan Keputusan
-

t-tabel< t-tabel untuk = 5%, maka H0 diterima.

t-tabel< t-tabel atau t-hitung > t-tabel untuk = 5%, maka H 0


ditolak.

3.5.Pengujian Hipotesis
Langkah yang perlu dilakukan dalam pengujian hipotesis antara
lain :
1. Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas : uji Kolmogorov-Smirnov (K-S) dilakukan dengan
membuat hipotesis :
H0 : data residual berdistribusi normal apabila nilai signifikan > 5%
(0,05).
Ha : data residual tidak berdistribusi normal apabila nilai signifikan
<5% (0,05).
b. Uji Autokorelasi : hipotesis yang akan diuji dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
H0 : tidak ada autokorelasi (r = 0)

32

Ha : ada autokorelasi (r 0)
2. Analisis Regresi Berganda
a. Analisis Variance (Uji F)
Berdasarkan tabel ANOVA penentuan hipotesis sebagai berikut :
H0 :Dividen, profitabilitas dan solvabilitas tidak berpengaruh yang
dominan terhadap tingkat pengembalian saham pada PT
Uniliver Indonesia Tbk.
H1 :Dividen, profitabilitas dan solvabilitas mempunyai pengaruh
yang dominan terhadap tingkat pengembalian saham pada PT
Unilever Indonesia Tbk.
Kriteria pengujiannya :
H0 diterima apabila F hitung < F tabel
H0 ditolak apabila F hitung > F tabel
b. Uji Signifikan / Uji t
Pengujian hipotesisnya dapat ditentukan sebagai berikut :
H0 : secara parsial likuiditas berpengaruh dominan terhadap tingkat
pengembalian saham.
H1 : secara parsial profitabilitas berpengaruh dominan terhadap
tingkat pengembalian saham.
H2 : secara parsial solvabilitas berpengaruh dominan terhadap tingkat
pengembalian saham.
Kriterianya pengujiannya :
H0 diterima apabila thitung< ttabel

33

H0 ditolak apabila thitung> ttabel

Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Darsono dan Ashari. 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat.
Downes John dan Goodman Elliot Jordan. 1999. Kamus Istilah Akuntansi.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Fabozzi. 1999. Manajemen Investasi Edisi Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Fahlevi, Reza Ilham. 2013. Skripsi Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas
dan Rasio Solvabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Industry
Perbankan Yang Terdaftar di BEI tahun 2008-2010).
Husnan, Suad. 2009. Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Keempat.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

34

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivarieate dengan Program SPSS,


Cetakan IV. Semarang : ISBN Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Jogiyanto, Hartono. 2009. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi Keenam,
Cetakan I. Yogyakarta: PT BPFE.
Samryn, L.M. 2011. Pengantar Akuntansi. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suharyadi dan Purwanto. 2009. Statistik Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern.
Jakarta: Salemba Empat.
Sujarweni, V. Wiratna. 2014. SPSS untuk Penelitian. Yogyakarta: Pusaka Baru
Press.
Sutrisno. 2013. Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Kesembilan.
Yogyakarta: Ekonisia.
Ulupui, I.G.K. A (2010) Skripsi Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas
dan Profitabilitas Terhadap Return Saham (Studi Empiris Pada Perusahaan
Makanan dan Minuman Industry Barang Konsumsi Yang Terdaftar di BEI
tahun 1999-2005).
Warsito, Hermawan. 1992. Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Wibowo, Agung Edy. 2012. Aplikasi Praktis SPSS dalam Penelitian. Yogyakarta:
Gava Media

35

36