Anda di halaman 1dari 26

MISSION : PROSPEK DAN TANTANGAN HMI KEKINIAN

DAN DIMASA DATANG DALAM DUNIA GLOBAL

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kegiatan Intermediate Training


/ LK 2 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor

Oleh :
KASANG HERU COKRO F

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


(HMI)
CABANG JEMBER

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan ke hadirat Allah SWT
atas limpahan nikmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dengan mudah.
Shalawat serta salam selalu penulis haturkan kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW, serta para keluarga dan sahabatnya yang telah memberi
tauladan kebaikan dan berkat perjuangan mereka bisa menghantarkan dunia pada
zaman yang beradab.
Dewasa ini seluruh aspek kehidupan manusia telah mengalami perubahan
akibat adanya arus globalisasi. Perubahan tersebut menyentuh bidang ekonomi,
sosial, budaya dan politik. Gelobalisasi merupakan gejalan mengglobalnya sosiokultur antar bangsa sehingga kultur antar bangsa di dunia seolah olah telah
melebur menjadi kultur dunia (global), akibatnya hubungan antar bangsa semakin
dekat. HMI sebagai organisasi mahasiswa harus menentukan posisi dan arah
pergerakkan di tengah arus globalisasi, sehingga terus bisa eksis dan menawarkan
gagasan gagasan baru.
Makalah ini disusun untuk membedah dan merumuskan konsep untuk
HMI . Syukur Alhamdulillah, Makalah yang bertema MISSION : PROSPEK
DAN TANTANGAN HMI KEKINIAN DAN DIMASA DATANG DALAM
DUNIA GLOBAL mampu terselesaikan dengan baik. Didalam makalah ini,
penulis berusaha menyajikan gambaran umum globalisasi, potensi, tantangan
organisasi dan relevansi gerakan HMI dalam dunia globalisasi.
Penulis menyadari sepenuhnya akan kekurangan penyusunan makalah ini
dan masih jauh dari sempurna, maka dengan kerendahan hati penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna
penyempurnaan makalah ini.
Demikian penyusunan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca, Amin.

Jember, 28 September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
1.4 Metodologi ............................................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN ..................................................................................... 2
2.1 Globalisasi ................................................................................................ 4
2.2 Kondisi HMI Masa Kini ........................................................................... 8
2.3 Tantangan Yang Dihadapi HMI ............................................................... 10
2.4 Prospek dan Masa Depan HMI dalam Dunia Global ............................... 12
BAB 3 PENUTUP .............................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 19
3.2 Saran ......................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 21

ii

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini, peradaban manusia telah mengalami perubahan yang sangat
pesat seiring perkembangan ilmu dan teknologi. Hadirnya tawaran teknologi
informasi dan teknologi produksi industri, menyebabkan terjadinya perubahan
yang menyentuh aspek multikultural. Munculnya gatged dengan segala fitur dan
kecanggihan membuat manusia sebagai makhluk sosial bisa bersosialisasi dengan
manusia yang lain di seluruh dunia tanpa ada batasan ruang dan waktu. Selain itu,
mulai ditemukkannya berbagai penemuan penemuan dalam bidang pengetahuan
alam dan sosial atau diantara keduanya membuat arus perubahan sosio-kultur
semakin masif. Semua perubahan itu merupakan perwujudan dari sebuah arus
globalisasi yang terjadi dekade ini.
Globalisasi merupakan kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan
masyarakat domestik atau lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang.
Adanya pertukaran barang dan jasa, pertukaran dan perkembangan ide ide
mengenai demokratisasi, hak asasi manusia (HAM) dan lingkungan hidup,
migrasi dan berbagai fenomena kemanusiaan lainnya yang melintas batas batas
lokalitas dan nasional hingga menyentuh tingkat komunitas paling lokal
sekalipun. Sederhananya, komunitas domestik atau lokal kini adalah bagian dari
rantai perdagangan, pertukaran ide dan perusahaan transnasional1. Fazlul dan
Mohammadand Fuad (2010), mengatakan bahwa globalisasi mengacu pada
meningkatnya level saling ketergantungan antara negara negara dengan
sejumlah cara seperti arus bebas barang dan jasa, pergerakkan bebas tenaga kerja,
keterbukaan sektoral dan politik yang berbeda, aliansi militer,dll. Seakan akan
bumi ini bagai sebuah desa dunia di mana manusia telah saling didekatkan dan
mendekatkan dengan metodologi penyempitan ruang (Marshal Mcluhan dalam
safiudin, 2003). Terjadinya penyeragaman, cara pandang, berfikir, bertindak,
berprilaku, berpakaian, bernyayi, berseni, berilmu, makan, minum, berbudaya,
beragama dan berperadaban dalam kehidupan manusia.

Sebagai bagian dari umat islam dunia, mahasiswa islam yang terhimpun
dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan subjek yang berkaitan
dengan globalisasi. Trend trend globalisasi sedikit banyak akan mempengaruhi
aktivitas dan pergerakan HMI. Sebagai organisasi mahasiswa berlingkup nasional
pertama dan tertua di indonesia (Tanja, 1982:4; Sitompul, 2010:5), HMI sekali
lagi diuji untuk menterjemahkan tantangan tantangan internal atau eksternal
organisasi, bahkan individu dalam oragnisasi. Sebagai organisasi perjuangan
makan HMI harus terus berjuang dengan dinamika yang terjadi. Selain itu sebagai
kader umat dan bangsa maka HMI harus mencetak kader yang survive untuk terus
mewujudkan tujuan HMI yaitu Terbinanya
pengabdi

yang

bernafaskan

Islam

dan

insan

akademis,

bertanggung

pencipta,

jawab

atas

terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu


wataala. Dengan segala potensi yang dimiliki HMI, maka rumusan konsep
action harus disusun dalam sebuah gerakan yang terstruktur dan sistematis. peran
sebagai cendikiawan mesti di upgrade ke titik maksimal dan bersiap pada seluruh
dinamika kebangsaan dan juga pada skala global. Sebab kecenderungan
berkembangnya globalisasi semakin tak terbendung, saat yang sama kita belum
bisa merumuskan bagaimana HMI menghadapi hal tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang yang ingin dinampakkan dalam kajian makalah ini
sebagai berikut :
1) Bagaimana pengaruh globalisasi di indonesia ?
2) Bagaimana kondisi HMI kekinian ?
3) Tantangan apa yang dihadapi HMI kini dan yang akan datang ?
4) Agenda agenda perubahan apa yang urgent dilakukan untuk untuk
menguatkan relevansi HMI ?
1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini untuk memenuhi persyaratan keikutsertaan
kegiatan Intermediate Ttraining atau LK 2 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Cabang Bogor.

1.4 Metodologi
Dalam penyusunan makalah yang berjudul MISSION : PROSPEK DAN
TANTANGAN HMI KEKINIAN DAN DIMASA DATANG DALAM
DUNIA GLOBAL ini, penulis menggunakan metode pustaka, berbagai referensi
dari artikel koran serta pencarian situs website.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Globalisasi
Globalisasi adalah proses penyebaran unsur unsur baru akibat adanya arus
pertukaran informasi melalui media cetak dan elektronik melampaui batas ruang
dan waktu. Globalisasi menciptakan kondisi perubahan yang cepat, semua jalan
perubahan dari revolusi cyber hingga liberalisasi perdagangan, homogenisasi
barang-barang konsumsi dan jasa di seluruh dunia dan ekspor berorientasi
pertumbuhan, semua merupakan komponen dari fenomena globalisasi (Hucysnki
et al., 2002). Globalisasi terbentuk karena adanya perkembangan teknologi
informasi yang semakin pesat, sehingga memudahkan setiap individu untuk
berkomunikasi satu dengan yang lain meski di pisahkan oleh letak geografis yang
jauh. Artinya dengan perkebangan teknologi informasi menyebabkan hilangnya
batas ruang dan waktu yang berlaku di seluruh dunia. Kemudian, penemuan
penemuan alat komunikasi, transportasi, produksi, dll, telah mengakselerasi
proses globalisasi sehingga memunculkan perubahan sosial akibat dari
perkembangan teknologi yang memfasilitasi terjadinya pertukaran budaya dan
transaksi ekonomi internasional. Dalam konteks ini, gagasan globalisasi tampak
sering dipakai untuk memaknai perluasan dan pendalaman arus perdagangan,
modal, teknologi, informasi internasional dalam sebuah pasar global yang saling
terintegrasi. Pandangan lain dari globalisasi yang dikemukakan oleh held (2000:
397), menyatakan bahwa globalisasi dapat dipahami sebagai perubahan
perubahan dalam bidang ekonomi dan sosial yang berkombinasi dengan
pembentukan kesalinghubungan regional dan global yang unik, yang lebih
ekstensif dan intensif dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang menantang
dan membentuk kembali komunitas politik, dan secara spesifik, negara modern.
Perubahan yang dimaksud di antaranya adalah bidang hak asasi manusia,
yang memastikan bahwa kedaulatan nasional tidak dapat menjamin legitimasi
suatu negara dalam hukum internasional; fenomena lingkungan, dalam bentuk
pemanasan global akibat kebocoran lapisan ozon dan meningkatnya gas emisi;
revolusi di bidang informasi dan teknologi informasi yang semakin memperluas

jangkauan dan intensitas semua alat jaringan sosiopolitik dalam lintas batas
teritorial negara bangsa; dan deregulasi pasar pasar kapital yang semakin
memperkuat kekuasaan kapital dengan memberinya sejumlah pilihan untuk
keluar (exit) dalam hubunganya dengan buruh dan negara (Winarno, 2007)
Bila semua pandangan itu kombinasikan, idea atau gagasan globalisasi
dapat kita pahami sebagai suatu kecenderungan umum terintegrasinya kehidupan
masyarakat domestik/lokal ke dalam komunitas global di berbagai bidang.
Artinya, bahwa suatu bentuk perilaku kehidupan, seperti pertukaran barang dan
jasa, tidak hanya pertukaran modal, tetapi juga hal-hal lain semacam
perkembangan ide-ide mengenai demokratisasi, hak asasi manusia (HAM) dan
lingkungan hidup, migrasi atau berbagai fenomena human trafficking yang
melintas batas-batas lokalitas dan nasional kini merupakan fenomena umum yang
berlangsung hingga ke tingkat komunitas paling lokal sekalipun (Arfani 2010: 1).
Globalisasi terjadi bila mana beberapa faktor penyebabnya sudah
mengalami perubahan. Globalisasi terjadi karena faktor faktor nilai budaya luar,
seperti :
a) Selalu meningkatkan pengetahuan
b) Patuh hukum
c) Kemandirian
d) Keterbukaan
e) Rasional
f) Kemampuan memprediksi
g) Efisiensi dan produktifitas
h) Keberanian bersaing
i) Manajemen resiko.
Globalisasi dapat terjadi melalui berbagai saluran. Dimana saluran tersebut
akan mempermudah pengaruh yang akan berpontensi menimbulkan perubahan
perubahan dalam sosial-kultur, individu kelompok, masyarakat umat. Saluran
tersebut di antaranya :
a) Lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan
b) Lembaga keagamaan
c) Indutri internasional dan lembaga perdagangan

d) Wisata mancanegara
e) Saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional
f) Lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional.
Akibat yang ditimbulkan dari sebuah fenomena globalisasi tidak
sepenuhnya negatif. Ada sisi lain yang bernilai positif dari globalisasi. Berikut
adalah dampak yang bernilai positif dan negatif dari globalisasi :
A. Globalisasi bidang hukum, pertahanan, dan keamanan
Dampak positif globalisasi bidang hukum, pertahanan, dan keamanan :
1. Semakin menguatnya supremasi hukum, demokratisasi, dan tuntutan
terhadap dilaksanakannya hak-hak asasi manusia.
2. Menguatnya regulasi hukum dan pembuatan peraturan perundang
undangan yang memihak dan bermanfaat untuk kepentingan rakyat
banyak.
3. Semakin menguatnya tuntutan terhadap tugas-tugas penegak hukum yang
lebih profesional, transparan, dan akuntabel.
4. Menguatnya supremasi sipil dengan mendudukkan tentara dan polisi
sebatas penjaga keamanan, kedaulatan, dan ketertiban negara yang
profesional.
Dampak negatif globalisasi bidang hukum, pertahanan, dan keamanan :
1. Peran masyarakat dalam menjaga keamanan, kedaulatan, dan ketertiban
negara semakin berkurang karena hal tersebut sudah menjadi tanggung
jawab pihak tentara dan polisi.
2. Perubahan dunia yang cepat, mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat
secara global. Masyarakat sering kali mengajukan tuntutan kepada
pemerintah dan jika tidak dipenuhi, masyarakat cenderung bertindak
anarkis sehingga dapat mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional
bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
B. Globalisasi bidang sosial budaya
Dampak positif globalisasi bidang sosial budaya :
1. Meningkatkan pembelajaran mengenai tata nilai sosial budaya, cara hidup,
pola pikir yang baik, maupun ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa
lain yang telah maju.

2. Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin,


mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagtainya.
Dampak negatif globalisasi bidang sosial budaya :
1. Semakin mudahnya nilai-nilai barat masuk ke Indonesia baik melalui
internet, media televisi, maupun media cetak yang banyak ditiru oleh
masyarakat.
2. Semakin memudarnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal yang
melahirkan gaya.
3. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka
merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang
mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk social.
4. Semakin lunturnya semangat gotong-royong, solidaritas, kepedulian, dan
kesetiakawanan sosial sehingga dalam keadaan tertentu/ darurat, misalnya
sakit,kecelakaan, atau musibah hanya ditangani oleh segelintir orang.
C. Globalisasi bidang ekonomi sektor perdagangan
Dampak positif globalisasi bidang ekonomi sektor perdagangan :
1. Liberalisasi perdagangan barang, jasa layanan, dan komodit lain memberi
peluang kepada Indonesia untuk ikut bersaing merebut pasar perdagangan
luar negeri, terutama hasil pertanian, hasil laut, tekstil, dan bahan tambang.
2. Di bidang jasa kita mempunyai peluang menarik wisatawan mancanegara
untuk menikmati keindahan alam dan budaya tradisional yang beraneka
ragam.
Dampak negatif globalisasi bidang ekonomi sektor perdagangan :
1. Arus masuk perdagangan luar negeri menyebabkan defisit perdagangan
nasional.
2. Maraknya penyelundupan barang ke Indonesia.
3. Masuknya wisatawan ke Indonesia melunturkan nilai luhur bangsa
4. Kurang bersaingnya produk-produk lokal dengan produk luar yang
membanjiri pasar di masyarakat.

2.2 Kondisi HMI Masa Kini


Ibarat seorang manusia yang memiliki masa masa optimal dalam
hidupnya, begitu juga dengan HMI. Diusia yang tidak muda lagi yaitu 69 tahun
HMI saat ini telah memasuki masa dimana mengalami banyak kejumudan dan
permasalah yang semakin kompleks. Prof. DR. H. Agussalim Sitompul dalam
bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI, telah mengungkapkan secara gamblang
kemunduran yang dialami HMI sejak tahun 1980, selama 26 tahun. Banyaknya
persoalan yang dihadapi HMI termasuk konflik internal. Namun regenerasi
organisasi tidak akan sama dengan manusia. Organisasi akan kembali muda lagi
bergantung dengan komitmen dan konsistensi pengurusnya mulai dari pengurus
besar (PB), cabang hingga komisariat serta kader dan aggota HMI.
Apabila satu generasi diukur setiap 25 tahun, berarti anggota aktif HMI
(Himpunan Mahasiswa Islam) sekarang sudah di ujung generasi ketiga; dan jika
masih terus eksis 7 tahun lagi, HMI mulai memasuki generasi keempat di usi 75
tahun. Pengurus HMI hari ini akan menuai kesuksesan hasil perkaderan yang telah
dilakukannya sekitar 10 20 tahun mendatang, atau beberapa diantaranya bisa
lebih cepat lagi (Aziz, 2016).
Tiap generasi HMI memiliki tantangan dan peluangnya masing masing,
karakter zaman berbeda dan berubah (Chaldun, 1962: 38). Pada generasi pertama,
anggota dan alumni HMI membangun fondasi organisasi dan secara bersamaan
ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa dalam pancaroba politik negara muda,
yakni Indonesia (Sitompul, 2010:2). Pada generasi kedua, organisasi ini mulai
menujukkan kedewasaanya dan ikut berperan membangun bangsa. Agussalim
Sitompul (2010), menyatakan bahwa generasi kedua berkiprah sejak 1969 sampai
sekarang pada fase ketujuh, yaitu fase partisipasi HMI dalam pembangunan. Pada
generasi ketiga HMI, baik alumni maupun mahasiswa aktif, menghadapi
perubahan yang tidak terbayang sebelumnya: complicated, interconnected, dan
globalized (Aziz, 2016). Dunia menyatu, jarak dan waktu menyempit, tetapi
sekaligus terpisah (Piliang, 2011b). Bila pada generasi pertama, semangat
komunal menonjol: maka generasi ketiga, budaya dan kopetensi individu
mengkristal (Aziz, 2016). Teknologi memang telah membuat manusia menjadi

individu, dan informasi masuk ke ruang individu dengan carav yang sangat
individualistik (Piliang, 2011b:109-111).
Kado manis untuk generasi ketiga HMI yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.
Nurcholish Madjid, memberikan peringatan keras terhadap HMI ketika menjelang
Kongres ke-23 HMI di Balikpapan tahun 2002. Nurcholish dalam peringatan itu
mengatakan bahwa apabila HMI tidak bisa melakukan perubahan, lebih baik
membubarkan diri (Sitompul, 2010). Peringatan itu sebagai shock therapy, dengan
harapan, HMI dapat dan mampu melakukan perubahan terhadap dirinya yang
banyak kalangan dipandang bahwa dalam tubuh HMI ditemukan berbagai
kekurangan yang sifatnya negatif (Sitompul, 2010).
Kondisi demikian membuat bermunculan stigma negatif terhadap HMI yang
meliputi berbagai aspek seperti tetang keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan,
keorganisasian, keHMIan, kedisiplinan, kurang respon terhadap berbagai masalah
yang berkembang dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan beragama,
HMI tidak diminati lagi oleh mahasiswa, HMI hanya pandai berpendapat, HMI
tidak bisa melahirkan gagasan nyata (action), HMI sangat lemah dalam hal
networking (jaringan), HMI sangat lemah dalam bidang informasi, publikasi,
dokumentasi, banyak anggota HMI tidak memiliki sifat amanah, pamrih dalam
berjuang, kurang dilandasi dengan semangat ikhlas.
Kemunduran HMI telah ditulis oleh Didik J. Rachbini, sudah terjadi sejak
tahun 1980, berarti sudah 26 tahun. Seperempat abad lebih HMI tidak dapat
mengikuti perkembangan realitas sosial budaya yang berkembang pesat. HMI
tidak bisa benar benar hadir ditengan keresahan masyarakat akan persoalan
persoalan yang meraka hadapi. Sebagai organisasi perjuangan HMI seakan akan
kabur atas apa yanng di perjuangkan karna hari ini HMI tidak memiliki musuh
bersama (Commoun Enemy). Agusalim Siompul (2010),

Menyatakan bahwa

walaupun HMI ada, tetapi laksana bergerak di tempat dan sangat lamban memberi
respon terhadap setiap perkembangan yang muncul, dengan bermacam macam
perubahan. HMI seakan berada di pinggiran, tidak mampu tampil lagi dalam orbit
yang semestinya, malah dengan keberadaan serta akses yang lemah jika
dibandingkan terhadap supra sistemnya, yaitu masyarakat yang terus berkembang
dan mengalami perubahan.

Selain itu kemunduran yang sangat terasa adalah minimnya gagasan


gagasan intelektual kader HMI yang ditawarkan untuk persoalan kemahasiswaa,
keislaman dan keindonesiaan. Hal ini karena tradisi intelektual ditinggalkan oleh
kader. Tradisi intelektual itu adalah berkurangnya kemauan membaca, menulis
dan berdikusi seorang aktivis HMI. Mengutip ungkapan Anas Urbaningrum:
ketika garis politik menjadi mainstream (arus utama), maka dinamika akademisintelektual menjadi menyempit. Sebaliknya, ketika garis intelektual menjadi
mainstream, terlihat bahwa kecerdasan dan ketajaman politik organisasi tidak
pernah tumpul,18 Ibnu Khaldun pun mengingatkan bahwa tanda-tanda sebuah
peradaban adalah ketika berkembangnya ilmu pengetahuan, namun hal itu tidak
berkembang dan hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya.
Perlu dilakukan pembinaan dan pemeliharaan kesadarannya bahwa segala
sesuatu di luar organisasi tengah mengalami perubahan dengan berbagai
konsekuensi dan pengaruh yang lebih besar. Perlu disadari oleh HMI, bahwa
perubahan perubahan yang terjadi dalam masyarakat, bisa merupakan kekuatan
untuk mengembangkan organisasi (Sitompul, 2010).

2.3 Tantangan Yang Dihadapi HMI


HMI sebagai organisasi perjuangan tentunya memiliki berbagai tantangan
yang menghalang. Apalagi di masa depan tantangan itu semakin besar dan berat.
Tantangan besar yang dihadapi HMI ada 2 yaitu tantangan internal dan eksternal.
Agussalim sitompul mencoba memetakan tantangan tersebut. Tantangan yang
berasal dari internal yaitu :
1. Masalah eksistensi dan keberadaan HMI
2. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI, untuk melakukan perbaikan
dan perubahan mendasar terhadap berbagai masalah yang dihadapi bangsa
Indonesia.
3. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil
dalam barisan terdepan sebagai avant garde bangsa, dalam melakukan
berbagai perubahan yang dibutuhkan masyarakat.
4. Masalah efektifitas HMI memecahkan masalah yang dihadapi bangsa,
karena banyak organisasi sejenis maupun yang lain, dapat tampil lebih

10

efektif mengambil inisiatif terdepan memberi solusi terhadap problem


yang dihadapi bangsa Indonesia.
Perlu adanya pemecahan yang dilakukan oleh kader, pengurus dan anggota
HMI, yang mana pemecahan tersebut bersifat teoritis dan praktis, akan tetapi
semuanya bersifat konseptual, integratif, dan inklusif. Bebrbagai tantangan
eksternal juga juga dihadapkan kepada HMI yang tidak kalah besar dan rumitnya
dari tantangan internal, antara lain (Sitompul, 2016) :
1. Tantangan menghadapi perubahan zaman yang jauh berbeda dari abad ke20, yang muncul pada abad ke-21 saat ini, serta abad Globalisasi.
2. Tantangan terhadap peralihan generasi yang hidup dalam zaman dan situasi
berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya yang dijalani generasi
muda bangsa.
3. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI, yang akan
menggantikan alumni-alumni HMI yang saat

ini menduduki berbagai

posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Karena regenerasi, suka tidak suka, mau tidak mau pasti berlangsung.
4. Tantangan menghadapi bahaya abadi Komunis.
5. Tantangan kerawanan aqidah.
6. Tantangan menghadapi golongan lain, yang mempunyai missi berbeda dari
umat Islam.
7. Tantangan menghadapi masa depan yang beum dapat diketahui bentuk dan
coraknya. Masa depan tidak mungkin ditolak dan ditangguhkan, karena
masa depan tidak mengenal tapal batas waktu dan perubahan.
8. Kondisi umat Islam Indonesia yang dalam kondisi belum bersatu.
9. Kondisi dan keadaan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan,
kepemudaan, yang penuh dengan berbagai pe rsoalan dan problematika
yang sangat kompleks.
10. Tantangan menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang
terus berkembang tanpa berhenti sejenakpun.
Oleh karena itu, untuk mengatasi tantangan yang frontal maka diperlukan
kesadaran, kader dan pengurus secara simultan dan sinergi. Untuk menumbuhkan
kesadaran simultan dan sinergis makan NDP, 5 kualitas insan cita, 5 ciri kader

11

HMI, 8 macam karakter/kekuatan HMI perlu di transformasikan betul kedalam


diri kader dan pengurus. Organisasi organisasi yang mendasarkan gerakannya
pada doktrin doktrin suci. HMI Memiliki prinsip yang sama dan bersifat tunggal
tetapi kemungkinan manifestasinaya atau bentuk gerakan yang berbeda. Doktrin
doktrin suci yang dipandang sebagai prinsip atau sumber inspirasi gerakan pada
dasarnya adalah arah gerakan itu sendiri, yang karena itu, dengan sendirinya
menjadi tempat bergantung dan ekstensi gerakan. Bagi HMI, doktrin doktrin
gerakan islam dipandang sebagai sumber prinsip, prinsip dan arah bagi gerakan
itu sendiri. Karena itu keberadaanya bagi HMI merupakan conditio sine quo non,
dan tanpa doktrin doktrin Islam (Suharsono,1997).

2.4 PROSPEK DAN MASA DEPAN HMI DALAM DUNIA GLOBAL


Masa depan merupakan proyeksi keadaan di masa yang akan datang dengan
segala kondisi zaman yang berbedah. HMI sebagai organisasi perkaderan tentunya
memiliki banyak alumni yang telah tersebar diberbagai bidang. Dengan melihat
kondisi HMI masa dulu dan masa kini serta tantangan eksternal maupun internal
yang dihadapi sangat kompleks sekali, maka keberadaan HMI di masa depan ada
3 kemungkinan (Sitompul, 2010) :
Pertama, HMI akan tetap eksis dan bangkit kembali dari kemunduran dan
keterpurukan yang melandanya selama 29 tahun. Hal itu dapat dicapai
apabila HMI mampu melakukan perubahan, dengan agenda-agenda perubahan.
Kedua, HMI Status Quo. Keadaan HMI akan tetap seperti yang sekarang
dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Hal itu terjadi karena HMI enggan
melakukan perubahan, dan tantangan yang dihadapinya pun tidak kunjung
terselesaikan. Bahkan kondisi saat ini akan lebih parah lagi untuk di masa-masa
mendatang, apabila HMI tetap merasa dirinya sebagai organisasi mahasiswa
terbesar

dan

tertua,

sebagai

kesombongan

historis

yang

kini

menghinggapinya. Lebih dari itu, HMI tidak mau mendengar dan memperhatikan
kritik yang konstruktif baik dari luar maupun dari intern HMI yang banyak
dialamatkan pada HMI. Kritikan dan saran perbaikan itu oleh PB HMI dan
cabang-cabang HMI seluruh Indonesia dianggap angin lalu saja.

12

Ketiga, HMI akan hilang dari peredaran untuk tidak dikatakan bubar.
Hal itu terlihat, terdapatnya 44 indikator kemunduran HMI, yang hingga kini
belum ada tanda-tanda perubahan ke arah perbaikan yang semestinya sesuai
dengan tuntutan kontemporer. Hal ini lebih diperparah lagi karena saat ini
HMI sedang mengalami krisis kepemimpinan, yang antara lain ditandai dengan
pecahnya HMI menjadi dua kubu, pada dua periode terakhir PB HMI yang
masing-masing kelompok mengklaim dirinya yang paling benar. Tentu hal ini
tidak diinginkan oleh HMI sendiri. Akan tetapi mengapa para pemegang kendali
pimpinan HMI saat ini, tidak kunjung mampu melakukan langkah-langkah
strategis, sehingga dalam waktu singkat mampu mencegah HMI dari ancaman
bubar.
Ada empat hal yang yang perlu dilaukan berkaitan tentang masa depan HMI
menghadapi globalisasi. Yaitu, menciptakan aktivis yang baik, menciptakan
akademisi yang baik, memiliki sifat profesionalisme serta harus menghasilkan
entrepreneur (kalla dalam hasan, 2015).
Pertama, sebagai aktivis, kader HMI akan menjadi politisi dan mewarnai
dunia politik Tanah Air. Melihat suasan politik negeri hari ini, selalu identik
dengan politik trasaksional, sarat money politic, politikus populer, korupsi, politisi
pemburu rente,dll. Masyarakat sepertinya menjadi objek politik yang digunakan
untuk mensukseskan salah satu kandidat untuk duduk di posisi yang di
perebutkan. Ketika politisi tersebut sudah duduk di posisi trategis, maka prioritas
memperjuangkan rakyat lebih sedikit dibanding mengejar keuntungan pribadi.
Memang tidak semua politisi negri ini seperti itu, ada beberapa oknum yang
terjerat dan melakukan hal tersebut. HMI hadir sebagai candradimuka yang
seharusnya bisa mencetak politisi poilitisi yang memiliki kapasitas, kapabilitas,
dan akuntabilitas dengan kuatnya akar muslim, intelektual, dan profesional.
Sebagai seorang politisi muslim maka kader HMI yang terjun di dunia
politik negeri ini tentunya harus menghindari segala macam suap atau fasilitas
yang hanya memperkaya diri sendiri. Namun, perjuangan mereka adalah murni
untuk rakyat atau kaum mustadafin serta mewujudkan masyarakat adil dan
makmur.

13

Kedua, HMI harus menciptakan kader akademisi yaitu dia yang akan
menjadi pendidik dan peneliti dengan berbagai hasil karya ilmiah. Dalam era
globalisasi berbagai kemajuan teknologi banyak datang dari dunia barat. Maka
terkadang kemajuan tersebut sangat terpengaruh oleh mainsteam kapitalisme,
liberalisme, dan neo-kapitali-liberal. Kader HMI yang sebagai akademisi juga
harus menawarkan berbagai penemuan yang lahir dari buah pikiran seorang
muslim. Dimana penemuan yang diciptakan harus memberikan kemaslahatan
ummat.
Ketiga, kader harus bisa memimpin institusi secara profesional dengan
segala aspek keilmuan yang kemampuan yang dimilikinya. Sifat profesional ini
harus dibangun dan ditanamkan saat menjadi mahasiswa dan berproses di HMI.
Kader yang profesional akan bertindak sesuai dengan kewenangan dan
kapasitasnya dengan totalitas pengabdian pada bidang yang akan ditekuni.
Profesional berkaitan dengan sifat kepemimpinan dalam setiap posisi di bidang
yang ditekuni. Seorang kader HMI harus mampu menjadi pemimpin yang
paripurna dan mampu memimpin secara profesional. Menjadi pemimpin itu bukan
soal kecerdasan, karisma, komunikasi, tampilan, dan segala macam atribut yang
biasa dilekatkan pada figur pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak ini adalah
soal ada atau tidaknya yang mengikuti. Hadirmya pengakuan kepengikutan itu
yang mengubah seseorang menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin adalah soal
pengakuan dari yang menjadi pemimpin (Anis Baswedan dalam Hasan, 2016).
Dunia kerja yang digeluti alumni HMI pun beragam, mulai dunia politik, baik
politik partai, negara, maupun daerah; birokrasi di pemerintah pusat dan lembaga
negara serta pemerintah daerah termasuk RW (Ruku Warga) dan RT (Rukun
Tetangga); dunia pendidikan dan pendidikan tinggi dengan menjadi guru, dosen,
dan guru kader; dunia usaha dengan menjadi pengusaha kecil, menengah, dan
besar; serta di dunia profesional sebagai kaum profesional (Effendy, 2011).
Keempat, pengusaha di indonesia menujukan perubahan yang tidak terlalu
signifikan, angka pengusaha di indonesia mencapai 0,7% dari jumlah penduduk
indonesia. Negara dikatakan mandiri dengan penduduknya yang berwirausaha
sebesar 1%. Ini peluang bagi kader HMI untuk turut mengentaskan kemiskinan
melalui pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat. Tentunya selain modal,

14

dalam berwirausaha diperlukan insting dan kegigihan berusaha. Maka bentuk


kegiatan di komisariat tentunya juga harus memiliki orientasi kesana.
Mewujudkan masa depan HMI yang lebih baik maka perlu ada agenda
agenda yang perlu dilakukan oleh pengurus, anggota dan alumni secara bersama
sama dan sinergi. Beberapa langkah langkah pokok dan mendasar untuk
membawah perubahan dalam tubuh HMI, antara lain :
1. Memiliki Kesadaran Individu dan Kolektif
Oleh karenanya segenap anggota, aktivis, kader, dan pengurus HMI
dituntut untuk memiliki kesadaran kolektif bahwa HMI sedang mengalami
kemunduran dan harus dibangkitkan kembali.seluruh element HMI harus
menemukan obat terhadap 44 macam penyakit yang diderita HMI,
sehingga sehat dan bugar kembali seperti sediakala.

2. Mengisih Ruh dan Semangat Keislaman dalam tubuh HMI serta


Anggotanya
Terdapat titik lemah dalam HMI, tentang pengetahuan, pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan Islam. Hakekat Islam itu adalah pertama,
Iman (6 rukun Iman), 1) percaya kepada Allah, 2) percaya kepada Nabi dan
Rasul Allah, 3) percaya Malaikat Allah, 4) percaya kepada kitab-kitab yang
diturunkan Allah, 5) percaya kepada hari akhirat, dan 6) percaya kepada
Qadla dan Qadar; kedua, Islam (5 rukun Islam), 1) mengucapkan dua
kalimat Syahadat, 2) Shalat, 3) Puasa, 4) Zakat, 5) menunaikan ibadah Haji
apabila sanggup; ketiga, Akhlak atau moral. (Sesungguhnya aku diutus kata
Nabi Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak). Ketiga Hakikat
agama Islam itu tergambar jelas dalam lambang HMI. Semestinya
pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan hakekat Islam itu
bagi setiap anggota HMI harus mendarah daging dan kental, sempurna atau
secara kaffah baik yang menyangkut rukun Iman dengan segala totalitasnya,
maupun yang menyangkut

rukun Islam secara totalitas,

maupun yang

menyangkut masalah akhlaq atau moral. Hakekat Islam yang meliputi 3 aspek
itu harus menjadi sumber inspirasi, sumber motivasi, sumber berbuat dan

15

bertindak dalam setiap melakukan apapun dalam kehidupan sehari-hari


maupun dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara.
Dalam prespektif Islam, gerakan intelektual HMI dilakukan dengan manifestasi
prinsip prinsip Islam secara intelektual ke dalam aspek aspek kehidupan
umat manusia. Karena itu, ketika HMI telah memiliki pendekatan intelektual
sebagai model gerakan, tak dapat tidak. Harus membuat dua buah langkah
besar. Pertama, menyajikan tafsiran dan pemanifestasian prinsip prinsip
ajaran islam sedemikian rupa sehingga hal tersebut cukup aplikable dalam
aspek aspek kehidupan manusia. Kedua, menyiapkan aspek aspek
kehidupan yang riil untuk menerima ajaran ajaran islam, termasuk di
dalamnya adalah mengembangkan kemampuan intelektual umat manusia, agar
siap menerima ajaran ajaran Islam yang sempurna.

3. Merekontruksi dan Meningkatkan Tradisi Intelektual HMI


Forum forum diskusi dan pertemuan HMI hari ini jauh akan tradisi
intelektual yang dulu pernah ada. Lunturnya minat baca, diskusi dan menulis
serta berkarya bagi anggota HMI. Kurangnya program kerja pengurus
komisariat yang menitik beratkan pada hasil karya ilmiah. Keunggulan tradisi
intelektual HMI harus dikembalikan, sehingga kiprah HMI di bidang
intelektual ini harus dikembangkan dan ditingkatkan lagi, sehingga reputasi
tradisi intelektual HMI baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional
dengan bukti nyata. Qua Ilmiah anggota-anggota HMI harus menonjol,
semangat belajarnya harus prima, pemikiran ilmiah dan karya ilmiahnya harus
dibina dan ditingkatkan, sehingga terhindar dari

kemiskinan intelektual.

Kelulusannya harus mencapai prestasi yang paling tinggi.

4. Mempelajari dan Memperdalamm Pengetahuan Ke-HMI-an tanpa


Batas
Karena tradisi intelektual anggota HMI dengan kunci persoalan utama
bahwa budaya membaca
Akibatnya,

di

gerak organisasi

kalangan anggota
menjadi

HMI

sangat

lamban, terjebak

lemah.
rutinitas,

bahkanstagnan. Oleh sebab itu seluruh jajaran HMI, harus mengagendakan

16

untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan penghayatan ke-HMI-an


bagi seluruh anggota, dengan setiap gerakannya. Rendahnya

kualitas

pengetahuan ke-HMI-an anggota, kader, aktivis, maupun pengurus sejak dari


pengurus komisariat sampai PB HMI ini terjadi turun temurun selama 26
tahun. melakukan diskusi-diskusi rutin, kajian intensif, penyediaan bukubuku perpustakaan. Peningkatan pengetahuan ke-HMI-an ini sebagai prasyarat
untuk majunya organisasi dalam setiap gerakannya. Rendahnya

kualitas

pengetahuan ke-HMI-an anggota, kader, aktivis, maupun pengurus sejak dari


pengurus komisariat sampai PB HMI ini terjadi turun temurun selama 26
tahun.

5.

Melakukan

Perombakan

Perkaderan,

Sesuai

dengan

Tuntutan

Kontemporer
Titik pusat kelemahan HMI saat ini terletak pada kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang kurang berkualitas, untuk tidak dikatakan tidak
berkualitas, baik di kalangan pengurus, sejak dari PB HMI sampai pengurus
Komisariat, maupun anggota-anggotanya. Turunnya kualitas anggota dan
para Pengurus HMI sudah berlangsung secara berkesinambungan dan turuntemurun selama 26 tahun, 1980-2006. Realitas ini menyebabkan terdapatnya 44
Indikator Kemunduran HMI. Sesuai dengan fungsi HMI sebagai organisasi
kader, dan merupakan urat nadi kehidupan HMI. Maka pembaharuan
perkaderan sesuai dengan tuntutan kontemporer mutlak dilakukan di sini dan
kini, yang meliputi antara lain, 1) Tujuan dan arah perkaderan, 2) Sistem dan
Metode Perkaderan, 3) Pendekatan, 4) Jenjang Training, 5) Kurikulum dan
Silabi Perkaderan, 6) Kompetensi Kader, 7) Tenaga Pengajar (Instruktur), 8)
Sarana dan Prasarana Perkaderan, 9) LPL, 10) Literatur Perkaderan, 11)
Follow Up Perkaderan dan 12) Evaluasi Perkaderan.
6. Menggembalikan Basis Pergerakan Melalui HMI BackTo Campus
dan HMI untuk Rakyat
HMI memiliki banyak komisari, cabang dan badko dari setiap element
memiliki rutinitas kegiatan yang berbeda. Berbagai seremonial pelantikan,

17

workshop, seminar, diskusi, dialog publik, intermediet dan advance training.


Dalam konteks ini, maka harus ada pelurusan pergerakan ke arah yang
semestinya.
Melalui arah gerakan tersebut HMI dapat kembali menunjukkan
eksistensinya untuk dilakukan ke depan. Pertama, gerakan HMI Back To
Campus tidak bisa terelakkan menjadi kebutuhan dalam mempertahankan
status organisasi. Dibutuhkan kebijakan dari setiap level kepengurusan untuk
membawa segala aktivitas HMI ke dalam kampus, atau menyesuaikan aktivitas
kampus untuk mendorong prestasi kader kader HMI. Diskusi, rapat, dan
kegiatan yang lain harus bisa ditarik kedalam ruang ruang kampus.
Kedua, gerakkan HMI untuk Rakyat adalah kemestian yang tak
terelakkan dari setiap level kepengurusan. Model pembinaan dan pemberdayaan
masyarakat madiri harus menjadi ladang garapan HMI. Karna penggerak
perubahan dalam masyarakat jika bukan mahasiswa lantas siapa, jika bukan
dimulai dari kader HMI kita akan kehilangan momentum untuk turut andil
menentukan perbaikan kehidupan masyarakat (hasan, 2016).
Agenda agenda diatas mutlak dilakukan oleh seluruh element HMI, mulai
dari anggota, aktivis, kader, dan pengurus serta alumni. Dengan agenda agenda
tersebut setiap aktivitas yang dilakukan oleh anggota dan pengurus maupun aparat
organisasi HMI akan memiliki dampak.

18

BAB 3. PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan makalah tersebut dapat penulis simpulkan sebagai

berikut :
1. Globalisasi

merupakan

arus

arus

perubahan

pembaruan

yang

menyebabkan manusia sedunia saling terintegrasi dan mempengaruhi satu


dengan yang lain akibat berkembangnya teknologi informasi yang
mendorong manusia untuk menjalin komunikasi dan kerjasama tanpa ada
batas ruang dan waktu. Berubahnya masyarakat lokal menjadi global. Di
indonesia globalisasi telah membawah berbagai perubahan yang bernilai
postif dan negatif karna adanya ketidak sesuaian dengan karakter dan
kepribadian bangsa serta norma, perundang undangan yang berlaku.
2. Selama 69 tahun HMI sebagai organisasi mahasiswa islam tertua mengalami
berbagai persoalan yang perlu diselesaikan oleh seluruh anggota dan
pengurus dilevel bawah hingga atas. HMI telah mengalami degradasi
kualitas dan kuantitas dalam bentuk karya dan gagasan intelektual dalam
spektrum pergerakan yang berorientasi pada keislaman, keindonesiaan, dan
kemahasiswaan.
3. Tantangan HMI Kedepan sangat berat karna adanya perubahan zaman yang
membuat terjadinya pergeseran pergeseran dalam segi kehidupan
berbangsa dan bernegara serta kehidupan masyarakat dan umat. HMI
dimasa depan harus bisa mencetak aktivis yang baik, akademisi yang baik,
profesional yang memiliki profesionalitas tinggi dan harus mampu
melahirkan seorang entrepreneur yang baik.
4. Dalam menjawab tantangan masa depan HMI harus menyusun gerakan
pembangunan dan perbaikan terhadap organisasi secara institusi dan
element organisasi (anggota, pengurus, kader, aktivis, alumni) terstuktur dan
sinergi.

19

3.2

Saran
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam segi kepenusan, kutipana,

dan kebaruan kebaruan gagasan dalam penyusunan. Sehingga penulis sangat


mengharap koreksi dan masukan yang bisa membangun spirit penulis untuk
menghasilkan karya yang lebih baik.

20

DAFTAR PUSTAKA

Arfani, Riza noer. 2004. Globalisasi : karateristik dan Implikasi Ekonomi Politik.
Digital jaournal Al-manar edisi 1.
Budi,Winarno. Globalisasi dan Masa Depan Demokrasi. Artikel online. UGM
Press.
Hasan, Arif Rosyid. 2015. Merebut Optimisme : HMI dan Masa Depan Indonesia.
PB HMI Publishing.
Held, David, 2000. Regulating Globalization? The Reinvention Politics.
International Sociology, 15 (2): 394-408.
Safinuddin, Ahmad Syafii. 2003. HMI dan Revolusi Sosial. Hijau Hitam Press.
Sitompul, Agussalim. (2010). Refl eksi 63 Tahun Perjuangan HMI, Mendiagnosa
Lima Zaman Perjalanan HMI: Suatu Tinjauan Historis dan Kritis terhadap
Fase-fase Perjuangan HMI dalam Menjawab Tantangan Masa Depan.
Makalah dipresentasikan dalam Latihan Kader II Tingkat Nasional HMI
[Himpunan Mahasiswa Islam] Cabang Malang, Jawa Timur. Diakses 27
september 2016.
Suharsono. 1997. HMI Pemikiran dan Masa Depan. CIIS Press.
Tanja, Victor. (1982). Himpunan Mahasiswa Islam: Sejarah dan Kedudukannya
di Tengah Gerakangerakan Muslim Pembaharu di Indonesia. Jakarta:
Penerbit Sinar Harapan.
Urbaningrum, Anas. 1997. Tradisi intelektual Vs tradisi politik perlunya
reorientasi dalam HMI dan KAHMI Menyosong Perubahan, Menghadapi
Pergantian Zaman, Jakarta: Penerbit Majaelis Nasional KAHMI, 1997,
hal.114 19.
Aziz, Harry Azhar. 2016. Himpunan Mahasiswa Islam dan Kesejahteraan:
Konteks Indonesia. INSANCITA: Journal of Islamic Studies in Indonesia
and Southeast Asia, 1(1) February 2016. Tersedia online.
Satria, Hariqo Wibawa. 2010. Lafran Pane, Jejak Hayat dan Pemikirannya.
Penerbit Lingkar : Jaksel

21

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Photo

Curriculum Vitae

Data Pribadi / Personal Details


Nama / Name

: Kasang Heru Cokro F

Alamat / Address

: Jalan Jawa VII No.50 Rt 01/Rw 24


Kel. Sumbersari Kec. Sumbersari
Kab. Jember

Nomor Telepon / Phone

: 085655041755

Email

: kasangheru07@gmail.com

Jenis Kelamin / Gender

: Laki - laki

Tanggal Kelahiran / Date of Birth

: 07 Februari 1994

Riwayat Pendidikan dan Pelatihan

Educational and Professional Qualification


Jenjang Pendidikan

Education Information
Periode

Sekolah / Institusi / Universitas

2001

- 2006

SDN Negeri Ngoro II, Mojokerto

2006

- 2009

SMP Negeri 1 Ngoro, Mojokerto

2009

- 2012

SMA Negeri 1 Puri, Mojokerto

2013

- 2017

S1 Teknologi Hasil Pertania, Universitas Jember

Pendidikan Non Formal / Training Seminar


1. LK 1 HMI Cabang Jember Komisariat At-Taqwa
2. MOK HMI Cabang Jember
3. LKMM-TD FTP
4. Malang Leaders Summit

Riwayat Pengalaman Kerja Organisasi


Periode

Sekolah / Institusi / Universitas

2014

- 2015

Dept. SOSMA BEM FTP UNEJ

2015

- 2016

Ketua BEM FTP UNEJ

2015

- 2016

2016

- 2017

Dept. Perguruan Tinggi HMI Komisariat


Teknologi Pertanian
Ketua Umum HMI Komisariat Teknologi
Pertanian

Demikian CV ini saya buat dengan sebenarnya.