Anda di halaman 1dari 4

Nama

Nim
Tugas

: Budi Ramanda
: I31112035
: Imun dan Hematologi Kasus 3

Definisi
Penyakit Virus yang disebabkan oleh Corona Virus yaitu MERS-Cov, menyerang saluran
pernafasan mulai dari ringan sampai dengan berat bahkan fatal
MERS-CoV adalah penyakit sindroma pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona yang
menyerang saluran pernapasan mulai dari yg ringan s/d berat. (The Coronavirus Study Group
of the International Committee on Taxonomy of Viruses , May 2012)
Penyakit Mers (Middle Eastern Respiratory Syndrome Corona Virus) adalah penyakit saluran
pernafasan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, tingkat mortalitasnya
mencapai 30-50 %. Penyakit Mers disebabkan oleh Virus dari golongan Coronavirus, ciri
virus ini pada permukaan tubuhnya diselimuti mirip mahkota. Virus sangat dekat jenisnya
dengan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang pernah mewabah dari
Hongkong dan daratan China.
Ciri-Ciri dan Cara Penyebaran Virus
Penyakit Mers merupakan penyakit pernafasan dengan penularan yang cepat, dengan kontak
langsung maupun tidak langsung, Penularan dapat melalui udara yang tercemar virus mers,
maupun kontak langsung seperti terkena cairan dari hidung atau mulut penderita Mers.
Dalam banyak kasus, penderita MERS mengalami komplikasi serius Acute Respiratory
Distress Syndrome (ARDS) yang menyebabkan kegagalan multiorgan, gagal ginjal,
koagulopati konsumtif, dan perikarditis serta pneumonia berat yang berjung pada kematian.
Virus mematikan Middle East Respiratory Sindrome Coronavirus (MERS-CoV) tengah
menjadi bahasan dunia. Penting sekali untuk mengetahui bagaimana cirri-ciri atau gejala
virus MERS agar dapat mengambil tindakan yang tepat dan cepat untuk menghindari
kesalahan fatal. Pada umumnya, gejala dari infeksi MERS mirip dengan influenza, sehingga
diistilahkan "flu like syndrome". Karenanya sangat susah untuk dibedakan, tanpa adanya
pemeriksaan medis di rumah sakit. Ciri-ciri dari MERS adalah memiliki kemiripan dengan
sindrom pernapasan akut berat (SARS). Keduanya sama-sama pneumonia yang disebabkan
oleh virus. Meskipun gejala pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dan virus sama, namun
virus lebih berbahaya daripada bakteri. Ini karena virus penyebab pneumonia tinggi sekali
virulensinya. Virulensi merupakan kemampuan virus menyebabkan penyakit. Pada
pneumonia yang disebabkan virus, perkembangan penyakit bisa hanya dalam hitungan jam,
bukan hari lagi. Sehingga sekali gejala muncul, pasien perlu segera memeriksakan diri untuk
mencegah perkembangan penyakit semakin luas. Masa inkubasi dari virus hingga
menyebabkan penyakit adalah dua hingga 14 hari. Sehingga mungkin saja seseorang
terinfeksi virus corona MERS di Timur Tengah dan kemudian gejala baru timbul begitu sudah
kembali ke negara asal. Ada beberapa hal yang bisa kita ketahui dalam rangka mengenali apa
saja yang menjadi tanda-tanda orang terkena virus yang satu ini.

Manifestasi Klinis
Karena menyerang saluran pernafasan maka berikut tanda-tanda penyakit MERS antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Gangguan pernapasan (napas pendek dan susah bernapas)
2. Demam tinggi di atas 38 derajat celcius, bukan panas dalam yang biasa
3. Batuk-batuk dan bersin-bersin berkelanjutan
4. Keluar mucus (lendir) yang berlebihan dari hidungnya
5. Sakit dada dan sering terasa nyeri
6. Mengalami pneumonia
7. Mengalami diare
8. Gagal ginjal
Namun, tidak semua gejala tersebut akan terjadi pada setiap orang. Seperti diare dan gagal
ginjal, hanya beberapa orang saja yang mengalaminya. Virus ini akan menyerang penderita
yang miliki kekebalan tubuh rendah. Mereka seperti lansia, orang yang mudah lelah, anak
kecil, serta mereka yang sedang dalam perjalanan. Sampai saat ini, masih terus dilakukan
investigasi mengenai pola penularan MERS-Cov. Virus ini dapat menular antar manusia
secara terbatas, dan tidak terdapat transmisi penularan antar manusia yang berkelanjutan.
Kemungkinan penularannya dapat melalui media sebagai berikut yaitu : 1. Langsung melalui
percikan dahak (droplet) pada saat pasien batu atau bersin. 2. Kontak langsung dengan
penderita 3. Tidak Langsung melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.
Gejalanya adalah demam, batuk dan sesak nafas, bersifat akut, biasanya pasien memiliki
penyakit ko-morbid.
Median usia 61 tahun (range 2-94 tahun)
kasus laki laki : Perempuan = 1 : 1
47% kasus laki laki dengan usia >40 tahun
Masa inkubasi 2-14 hari.
Pemeriksaan Laboratorium
1. Spesimen Klinis Rutin
Kultur mikroorganisme sputum dan darah pada pasien dengan pneumonia
2. Spesimen dari saluran napas atas dan bawah
Dilakukan pemeriksaan Virus Influenza A dan B, virus influenza A subtype H1 dan H3
dan H5, dan H5N1
3. Pemeriksaan Spesimen Corona Virus Baru ( Pemeriksaan Untuk Konfirmasi Diagnosa)
Dilakukan dengan menggunakan Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction
(RT-PCR)
Bahan Pemeriksaan :
Spesimen dari saluran napas atas (hidung/nasofaring/dan atau swab
Tenggorokan
Spesimen saluran nafas bawah ( Sputum , aspirat endotracheal, kurasan
bronkoalveolar)

Pencegahan dan Penatalaksanaan


Penyakit ini dapat dicegah dengan selalu menjalankan pola hidup yang bersih dan
sehat, diantaranya yaitu mengkonsumsi makanan yang bergizi dan higienis, beristirahat yang
cukup, rajin berolahraga, selalu mencuci tangan dengan sabun menggunakan air
mengalir, memakai masker atau menutup mulut dan hidung saat mengalami flu dan
usahakan untuk tidak berada di luar rumah untuk sementara untuk mencegah penularan
terhadap orang lain. Selain itu sering-seringlah berkunjung ke dokter untuk melakukan
cek kesehatan terutama jika mengalami gejala penyakit seperti batuk, demam, dan kesulitan
bernapas dalam jangka waktu empat belas hari khususnya jika dalam waktu dekat akan
berkunjung ke tempat wabah MERS berada periksalah ke dokter setiap 6 minggu sekali
dan melakukan vaksinasi meningitis terlebih dahulu.
Namun sampai saat ini belum ada vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan
penyakit ini, yang ada hanyalah obat untuk meringankan gejala atau akibat yang ditimbulkan
dari penyakit MERS. Salah satu cara mengobati MERS adalah dengan pemberian obat vaksin
untuk pengobatan hepatitis C yang secara klinis telah teruji mampu mengurangi
frekuensi pertambahan replica virus MERS di dalam tubuh yang diujikan terhadap 6 kera
yang telah terinfeksi penyakit MERS.
Vaksin untuk hepatitis C ini merupakan perpaduan antara obat interferon-alpha 2b
dan ribavirin yang hanya digunakan sebagai tahapan awal pengobatan pada infeksi MERS.
Pada dasarnya penyakit MERS ini dapat sembuh dengan sendirinya bila dilakukan
perawatan yang mendukung terhadap kondisi pasien yang dikarenakan adanya batasan virus
MERS. Jika kondisi pasien mendukung untuk penyembuhan sampai saat batas virus ini tiba
maka penyakit ini dapat sembuh, namun kenyataannya banyak pasien yang tidak
tertolong karena tidak kuatnya kondisi tubuh untuk mencapai masa batas virus yang
dikarenakan virus ini menyerang system kekebalan tubuh sehingga banyak yang
mengalami komplikasi penyakit lainnya seperti pneumonia dan bronkhitis yang
mempercepat pengrusakan imun tubuh sampai tidak kuat lagi menahan hingga akhirnya
meninggal dunia.
Virus ini tidak mudah menular jika hanya bersimpangan. Mers-Cov berpeluang besar
menular pada kontak yang intens, seperti keluarga dari pengidap yang tinggal serumah, atau
tenaga medis yang merawat pengidap.

Sumber Referensi
id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_pernapasan_Timur_Tengah

http://www.chp.gov.hk/files/pdf/mers_indonesian.pdf
mirror.warneter.net/unduh/Tatalaksana%20klinis%20MERS%20CoV.pptx

http://www.informasi-kesehatan.net/ciri-ciri-penyakit-akibat-virus-mers.html
http://www.duniamedis.net/blog/read/1032/gejala-dan-penyebab-mers-cov.html
http://bali.tribunnews.com/2014/05/08/ini-dia-ciri-ciri-penderita-mers
http://www.poltekkes-medan.ac.id/files/2014/Mers.ppt
http://www.informasi-kesehatan.net/cara-mengatasi-virus-mers.html
http://www.informasi-kesehatan.net/cara-mengobati-penyakit-mers.html
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/05/13/n5im4i-penangananmerscovjangan-resahkan-masyarakat.