Anda di halaman 1dari 31

42

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis

penelitian

ini

adalah

penelitian

eksperimen

semu

(quasi

eksperimental) yang akan membandingkan keefektifan hasil perlakuan dua model


pembelajaran yaitu model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran
berbasis masalah.
B. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian pretest-posttest design yaitu
dua kelas terpilih sebagai sampel yang dipilih secara random cluster sampling,
satu kelas sebagai kelompok eksperimen I yaitu dengan penerapan model
pembelajaran berbasis proyek dan satu kelas lainnya sebagai kelompok
eksperimen II dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah.
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Kelompok
Random

Pretest

Treatment

Posttest

E1

O1

T1

O3

E2

O2

T2

O4

Keterangan :
E1 : Kelas dengan penerapan model pembelajaran berbasis proyek.
E2 : Kelas dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah.
T1 : Perlakuan (treatment) model pembelajaran berbasis proyek.
T2 : Perlakuan (treatment) model pembelajaran berbasis masalah.

43

O1: Kemampuan awal


berbasis proyek.
O2: Kemampuan awal
berbasis masalah.
O3: Kemampuan akhir
berbasis proyek.
O4: Kemampuan akhir
berbasis masalah.

peserta didik sebelum penerapan model pembelajaran


peserta didik sebelum penerapan model pembelajaran
peserta didik setelah penerapan model pembelajaran
peserta didik setelah penerapan model pembelajaran

C. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini akan dilakukan di seluruh kelas VIII SMP
Negeri Akreditasi A di Kota Makassar, Semester genap/2016, serta pemilihan
sampel secara cluster random sampling.
D. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis proyek dan model
pembelajaran berbasis masalah. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
keefektifan pembelajaran, sedangkan sub variabel terikatnya adalah hasil belajar,
aktivitas belajar peserta didik, respon peserta didik, dan minat belajar peserta
didik.
E. Definisi Operasional Variabel
Untuk memberikan gambaran operasional dari variable-variabel yang
diselidiki dalam penelitian ini, maka dikemukakan definisi operasional untuk
masing-masing variabel tersebut.

44

1. Model Pembelajaran berbasis proyek (project based learning) adalah suatu


model pembelajaran yang melibatkan suatu proyek dalam proses pembelajaran.
Proyek yang dikerjakan oleh peserta didik dapat berupa proyek perorangan
atau kelompok dan dilaksanakan

dalam jangka waktu tertentu secara

kolaboratif, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan


ditampilkan atau dipresentasekan.
2. Model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu
model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu
masalah melaui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan
sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.
3. Hasil belajar adalah skor yang dicapai peserta didik setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran, melalui model pembelajan berbasis proyek dengan model
pembelajaran berbasis masalah yang diukur dengan tes hasil belajar yang
dikembangkan oleh peneliti.
4. Aktivitas belajar peserta didik adalah suatu kegiatan peserta didik yang yang
dilakukan dalam proses pembelajaran, dimana aktivitas peserta didik sangat
berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik, yakni dalam kemampuan
pemecahan masalah matematika peserta didik, dengan adanya aktivitas yang
tinggi ditandai dengan hal-hal berikut ini: (a) peserta didik bertanya jika ada
sesuatu yang tidak dipahami, (b) peserta didik merespon semua perintah atau
pertanyaan yang diajukan, (c) peserta didik terlibat aktif dalam diskusi atau
kerja kelompok, (d) peserta didik berani mengemukakan pendapatnya, dan (e)

45

peserta didik berani dan beraktivitas untuk melakukan presentasi di depan


kelas.
5. Respons peserta didik adalah perasaan tentang kesukaan, ketertarikan, atau
kesenangan peserta didik setelah mengikuti pelajaran yang dilakukan dengan
menggunakan

model

pembelajaran

berbasis

proyek

(project

based

learning)dengan model pembelajaran berbasis masalah (problem based


learning).
6. Minat belajar peserta didik adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh disertai rasa
senang. Seseorang yang mempunyai minat pada suatu obyek, dia akan tertarik
dengan obyek tersebut. Biasanya orang tersebut akan selalu mengikuti
perkembangan informasi tentang obyek tersebut.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini akan dilakukan melalui beberapa tahap, di
antaranya:
1. Tahap Persiapan Penelitian
Adapun persiapaan penelitian yang akan dilakukan yaitu:
a. Mengadakan observasi awal di lokasi penelitian. Kegiatan ini akan dilakukan
setelah mendapat izin dari pihak sekolah untuk menentukan kelas yang akan
menjadi sampel dalam penelitian ini.
b. Menganalisis standar isi untuk melihat kompetensi inti dan kompetensi dasar
berdasarkan kurikulum sekolah tersebut sehingga diperoleh informasi
mengenai materi yang hendak diajarkan.
c. Merancang dan membuat perangkat pembelajaran yaitu rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) menggunakan model pembelajaraan berbasis proyek dan

46

model pembelajaran berbasis masalah serta menyusun lembar kegiatan peserta


didik (LKS) untuk masing-masing kedua model tersebut.
d. Membuat instrumen penelitian yang terdiri dari lembar observasi aktivitas
peserta didik, angket respon peserta didik, tes hasil belajar kognitif dan lembar
observasi keterlaksanaan pembelajaran.
e. Melakukan analisis instrumen yang meliputi uji validitas ahli dan dilanjutkan
dengan refisi instrumen berdasarkan hasil analisis validasi ahli.
f. Melakukan diskusi bersama guru matematika mengenai langkah-langkah
pembelajaran yang akan diterapkan pada dua kelas eksperimen dengan tujuan
agar guru sebagai observer dapat memahami cara pengisian lemar observasi.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Tahap pelaksanaan penelitian yang dilakukan yaitu

tindakan utama,

dimana dilakukan penerapan model pembelajaran berbasis proyek dengan model


pembelajaran

berbasis

masalah.

Adapun

Aktivitas-aktivitas

pada

tahap

pelaksanaan penelitian akan dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah


disusun. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP
sedangkan observer melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran dan
aktivitas peserta didik. Tindakan yang akan dilakukan sifatnya fleksibel dan
terbuka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di kelas. Perubahanperubahan tersebut akan dicatat dalam lembar obeservasi. Proses yang akan
dilakukan adalah sebagai berikut:
Tindakan utama; aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan selama proses
belajar mengajar berlangsung dengan menerapkan model pembelajaran berbasis
proyek dengan model pembelajaran berbasis masalah.
Aktivitas yang akan dilakukan dalam kelas yang menerapkan model
pembelajaran berbasis proyek (project based learning), antara lain:
a. Penentuan Proyek

47

Sebelum memulai penentuan proyek guru menyampaikan tujuan


pembelajaran. Selanjutnya, guru meninjau kembali materi yang telah dibahas
pada pertemuan sebelumnya yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
pada pertemuan tersebut, seperti memberikan beberapa pertanyaan tentang materi
yang berkaitan serta memotivasi peserta didik mengenai pentingnya materi-materi
yang hendak dipelajari. Serta guru menyampaikan proyek yang akan dilaksanakan
dalam

pembelajaran,

memberikan

kesempatan

kepada

peserta

didik

memilih/menentukan proyek yang akan dikerjakan baik secara mandiri maupun


kelompok berdasarkan tugas proyek yang diberikan oleh guru.
b. Perencanaan langkah-langkah penyelesaian proyek
Peserta didik merancang langkah-langkah kegiatan penyelesaian proyek
dari awal sampai akhir beserta pengelolaannya dengan materi SPLDV, Kegiatan
perencanaan proyek ini peserta didik diberikan kesenpatan untuk membuat aturan
main dalam pelaksanaan tugas proyek,seperti mengumpulkan data-data yang
berkaitan dengan tugas proyek yang diberikan oleh guru, pemilihan aktivitas yang
akan dilakukan selama kegiatan proyek berlangsung baik secara mandiri atau
kelompok.
c. Menyusun jadwal pelaksanaan proyek
Adapun aktivitas yang dilakukan yaitu: pertama-tama, peserta didik
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 orang sesuai
dengan banyaknya peserta didik dalam kelas tersebut. Peserta didik dibawah
pendampingan guru melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah
dirancangnya, guru menegaskan kepada peserta didik kegiatan proyek yang
dilakukan dalam kelas, untuk setiap tugas proyek dimana sesuai indikator materi

48

SPLDV yakni 2 kali pertemuan, dalam seminggu untuk setiap tugas proyek,
dalam pengumpulan data peserta didik diberi kesempatan bekerja dilapangan
dengan jam diluar pelajaran atau sebagai tugas rumah. Setelah peserta didik
diberikan tugas dalam pengumpulan data, pertemuan berikutnya peserta didik
diberikan kesempatan untuk berdiskusi dengan rekan kelompok untuk
menyelesaikan proyek dengan data yang sudah disiapkan sebelumnya.
d. Penyelesaian proyek dengan fasilitasi dan monitoring guru
Langkah ini merupakan pengimplementasian rancangan proyek yang telah
dibuat,. Aktivitas yang dilakukan adalah peserta didik mengikuti pembelajaran
berlangsung, mendengarkan penjelasan materi dari guru.

Guru bertanggung

jawab memonitor aktivitas peserta didik dalam menyelesaikan tugas proyek


mulai dari awal hingga penyelesaian proyek.
e. Penyusun laporan dan presentase/publikasi hasil proyek
Aktivitas yang dilakukan adalah peserta didik berkumpul bersama anggota
kelompok, peserta didik berdiskusi mengerjakan hasil produk karya tulis,
melakukan presentase hasil proyek dimana guru memilih salah satu kelompok
yang diberikan kesempatan untuk mempresentasikan, berhubung waktu yang
sangat terbatas, dan kelompok peserta didik lainnya mengerjakan tugas mereka
untuk dikumpul sebagai masukan tugas peserta didik.
f. Evaluasi proses dan hasil proyek
Guru melakukan refleksi materi secara singkat kemudian bersama-sama
dengan peserta didik menyimpulkan materi pembelajaraan yang telah dibahas.
Pada tahap evaluasi ini peserta didik diberikan kesempatan untuk menyampaikan
pengalaman mereka selama menyelesaikan tugas proyek, pada aktivitas ini peserta
didik juga diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik kepada teman
teman yang lain pada produk yang dihasilkan. Selain itu, guru juga memberikan

49

homework/pekerjaan rumah kepada peserta didik sebagai latihan untuk


meningkatkan pemahamannya mengenai materi tersebut,
Adapun aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dalam kelas yang
menerapkan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)
meliputi:
1) Pendahuluan
Sebelum

memulai

pembelajaran,

guru

menyampaikan

tujuan

pembelajaran. Selanjutnya, guru meninjau kembali materi yang telah dibahas


pada pertemuan sebelumnya yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
pada pertemuan tersebut, seperti memberikan beberapa pertanyaan tentang materi
yang berkaitan serta memotivasi peserta didik mengenai pentingnya materi-materi
yang hendak dipelajari yakni berkaitan dengan dunia nyata. Serta guru
menyampaikan bahwa model pembelajaran yang akan dilaksanakan selama proses
kegiatan di dalam kelas.
2) Pengorientasikan peserta didik terhadap masalah
Tahap 1, pada tahap ini guru memberikan penjelasan kepada peserta didik
bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran ini adalah
berbasis masalah, peserta didik dibentuk dalam kelopok, setiang kelompok
beranggotakan 4-5 orang sesuai jumlah kelas tersebut, peserta didik diarahkan
dengan masalah-masalah dunia nyata, dengan kondisi kelas yang memungkinkan
terjadi pertukaran ide dan mendorong peserta didik mengekspresikan ide-ide
secara terbuka. Serta guru memberikan informasi materi yang akan dipelajari
yaitu SPLDV.
3) Mengorganisasi peserta didik untuk belajar

50

Pada tahap 2 ini: guru membantu peserta didik dalam menemukan konsep
berdasarkan masalah, mendorong keterbukaan proes-proses demokrasi dan cara
belajar peserta didik aktif serta menguji pemahaman peserta didik atas konsep
yang ditemukan sesuai dengan indikator materi SPLDV.
4) Membimbing penyelidikan individual maupun kelomok
Pada tahap 3 : guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah, peserta didik mengikuti
pembelajaran berlangsung, guru menjelaskan materi yang berkaitan dengan
masalah dunia nyata.
5) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Tahap 4 ; Guru membimbing peserta didik dalam mengerjakan Lembar
kerja Peserta didik (LKS), sedangkan peserta didik diberikan kesempatan untuk
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Guru memantau proses
kegiatan belajar.
6) Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Pada tahap terakhir ini, tahap 5; guru membantu peserta didik mengkaji
ulang hasil pemecahan masalah setiap kelompok, serta memotivasi peserta didik
agar terlibat dalam pemecahan masalah dan kegiatan akhir guru mengevaluasi
materi.
3. Tahap akhir penelitian
Proses yang akan dilakukan pada tahap akhir penelitian adalah sebagai
berikut:

51

a.
b.
c.
d.

Memberikan angket respons kepada setiap peserta didik


Mengolah data
Penarikan kesimpulan
Penulisan laporan.
G. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument tes hasil

belajar, pada preetes dan posttes soal tertulis (essay), lembar observasi aktivitas
belajar

peserta

didik,

untuk

mengukur

kemampuan

pemecahan

masalah`matematika. Sebelum digunakan, instrument harus valid ditunjukkan


dengan hasil validasi oleh validator.
1. Lembar observasi aktivitas peserta didik (LOAPD)
Lembar observasi aktivitas peserta didik merupakan instrumen penelitian
yang digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas peserta didik selama
proses pembelajaran berlangsung, dengan menyesuaikan keterlibatan minat
peserta didik, baik pada penerapan model pembelajaran berbasis proyek maupun
model pembelajaran berbasis masalah. Kategori-kategori yang diobservasi
barkaitan dengan aktivitas peserta didik mengacu pada aktivitas guru berdasarkan
pada sintaks model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran
berbasis masalah.
Lembar observasi yang digunakan dikembangkan oleh peneliti dengan
melalui tahap-tahap, sebagai berikut:
1) Menyusun Lembar Observasi Aktivitas Peserta didik (LOAPD)
2) Validasi oleh ahli dan praktisi
3) Revisi LOAPD.

52

Setelah divalidasi oelh ahli dan praktisi, sebelum diujikan, instrument


tersebut direvisi dengan memperhatikan masukan, komentar, dan saran-saran
validator. Tahapan pengembangan LOAPD dapat dilihat pada gambar 3.1

53

Penyusun
LOAS

Validasi Pakar

Revisi

Apakah
Tidak LOAPD Valid/ Layak digunakan ?

ya
LOAPD Layak digunakan

Keterangan:

Urutan kegiatan
Kegiatan Siklus
Proses Kegiatan
Pertanyaan
Hasil

Gambar 3.1 Tahapan Pengembangan Lembar Observasi Aktivitas Peserta didik


2. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar yang digunakan berupa tes uraian (essay), tes ini terdiri
atas pretest dan posttest. Pretest adalah tes untuk mengukur kemampuan
pemecahan masalah peserta didik sebelum penerapan model pembelajaran
berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah, dan posttest adalah tes
untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah peserta didik setelah penerapan
model pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah.

54

Tes hasil belajar yang digunakan pada awal dan akhir pembelajaran,
disusun sendiri oleh peneliti dengan melalui tahap-tahap, sebagai berikut: 1)
Menyusun kisi-kisi tes hasil belajar, 2) Menyusun butir soal, 3) Validasi oleh ahli,
dan 4) praktisi
1) Revisi soal. Setelah divalidasi oleh ahli dan praktisi, sebelum diujikan,
perangkat tes tersebut direvisi dengan memperhatikan masukan, komentar, dan
saran-saran validator.Tahapan pengembangan Tes hasil belajar dapat dilihat
pada gambar 3. 2Penyusunan Kisi-kisi Tes Hasil belajar

Penyusunan Butur Soal

Validasi Pakar

Apakah THB Valid/Layak digunakan ?

Keterangan:

Tidak
Revisi

ya
LOAS Layak digunakan

Urutan kegiatan
Kegiatan Siklus
Proses Kegiatan
Pertanyaan
Hasil

Gambar 3.2 Tahapan Pengembangan Hasil Belajar Peserta didik


3. Angket respon peserta didik
Angket adalah salah satu instrument yang digunakan untuk mengetahui
respons peserta didik mengenai proses pembelajaran menggunakan model
pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah. Adapun
penyusunan pedoman observasi (Suprijono, 2014: 149) meliputi: (i) mengacu
pada indikator pencapaian, (ii) mengidentifikasi perilaku atau langkah kegiatan

55

yang diobservasi, (iii) menentukan model skala yang dipakai, yakni skala
penilaian (rating scale) atau daftar cek (check list) dan (iv) membuat rubrik atau
pedoman penskoran.
Langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut:
a. Menyusun ksi-kisi angket
b. Menyusun pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk jawaban yang diinginkan,
berstruktur atau tak berstruktur.
c. Membuat pedoman atau petunjuk cara menjawab pertanyaan, sehingga
memudahkan peserta didik untuk menjawabnya.
d. Jika angket sudah tersusun dengan baik, perlu dilakukan uji angket (validasi
ahli) sehingga dapat diketahui kelemahan-kelemahannya.
e. Angket yang sudah di uji dan terdapat kelemahan perludirevisi, baik dilihat
dari bahasa, pertanyaannya maupun jawabannya.
f. Menggandakan angket sesuai dengan banyaknya jumlah peserta didik
Perangkat pembelajaran dalam penelitian ini adalah RPP, LKS dan buku
peserta didik. Perangkat pembelajaaran juga akan divalidasi oleh validator untuk
mengetahui kelayakan penggunaanya.
Data yang diperoleh dari hasil validasi akan dianalisis secara kuantitatif
untuk mengetahui kesahihan perangkat pembelajaraan dan instrument penelitian.
data hasil validasi perangkat pembelajaran meliputi RPP, LKS dan instrumen
penelitian yang terdiri dari lembar aktivitas peserta didik, angket respons peserta
didik dan tes hasil belajar minimal akan berada pada kategori valid.

56

H. Teknik Analisis Data


Data penelitian yang dianalisis adalah data pretest dan posttest serta data
hasil observasi dan respos peserta didik. Data pretest untuk mengetahui gambaran
kemampuan awak kedua kelompok peserta didik kemudian selanjutnya data
pretest

dan

posstest

secara

bersama-sama

untuk

mendeskripsikan

dan

membandingkan keefektifan model pembelajaran yaitu model pebelajaran


berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah. Sedangkan data
observasi digunakan untuk mengetahui gambaran aktiitas peserta didik serta
keterlaksanaan pebelajaran dan data respons peserta didik untuk mengeahui
respons peserta didik terhadap model pembelajaran yang digunakan. Adapun
analisis data yang dimaksud adalah sebagai berikut: Data Kuantitatif
1. Analisis statistik deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar
peserta

didik

matematika

pada

setiap

kelompok

eksperimen

dengan

menggunakan mean, standar deviasi, varians, skor minimum dan skor maksimum.
a. Hasil belajar
Data hasil belajar peserta didik dianalisis untuk menentukan peningkatan
ketuntasan hasil belajar. Peningkatan ketuntasan hasil belajar mengikuti indicator
keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu indikator untuk ketuntasan
belajar secara individu adalah nilai KKM yang ditetapkan sekolah sedangkan
secara klasikal apabila 85 % dari jumlah peserta didik yang telah tuntas belajar
secara individu, (Fahturroman & Sutikno, 2009: 114). Presntase ketuntasan
belajar peserta didik secara klasikal ditentukan dengan rumus berikut:

57

Persen (%) ketuntasan =

banyak siswa yang tuntas


banyak siswa

x 100 %

Selanjutnya, nilai nilai tersebut dikonversikan sesuai dengan kriteria tabel


3.2 berikut:
Tabel 3.2 Kategori Tingkat Penguasaan Hasil Belajar
Nilai

Kategori

91 100
81 90

Amat Baik
Baik

71 80
60 70
< 60

Cukup
Kurang
Sangat Kurang

Sumber : Kunandar (2013: 129)


Data hasil observasi yang diperoleh berdasarkan lembar observasi
dianalisis dengan menggunakan empat kategori yaitu kategori sangat aktif (SA)
akan diberi nilai 4, kategoro aktif (A) akan diberi nilai 3, kategori cukup aktif
(CA) akan diberi nilai 2 dan kategori kurang aktif (KA) akan diberi nilai 1.
Ketegori tersebut digunakan ntuk pernyataan positif yang mencangkup butir
pertama sampai butir kelima sedangkan untuk butir terakhir yaitu butir keenam
berlaku sebaliknya; kategori sangan aktif (SA) akan diberi nilai 1, kategoro aktif
(A) akan diberi nilai 2, kategori cukup aktif (CA) akan diberi nilai 3 dan kategori
kurang aktif (KA) akan diberi nilai 4. Data dianalisis dengan menggunakan
rumus presentase frekuensi aktivitas peserta didik, yaitu :
Ti =

Keterangan :

Xi
x 100
%
N

58

Ti : Presentase aktiias peserta didik


Xi : skor aktivitas peserta didik yang muncul.
N : total seluruh skor aktiitas peserta didik
Selanjutnya, nilai terseut dikonversikan sesuai dengan criteria tabel 3. 3 berikut :
Tabel 3. 3 Kategori Tingkat Keaktifan Peserta didik
1,00
1, 50

Nilai
x < 1, 50
x < 2, 50

2, 50
3, 50

Kategori
Kurang aktif
Cukup aktif

< 3, 50

Aktif

4, 00

Sangat aktif

Sumber : Ayuningrum dkk. (2014)

Data

hasil

respon

peserta

didik

dianalisis

untuk

menentukan

tahapan/respon peserta didik terhadap pembelajaran yang berlangsung. Data hasil


respon yang diperoleh berdasarkan angket respon peserta didik dianalisis dengan
menggunakan 4 kategori yaitu kategori Positif (P) akan diberi nilai 4, kategori
cenderung positif (CnP) akan diberi nilai 3, kategori cenderung negative (CnN)
akan di beri nilai 2 dan kategori negatif di beri nilai 1.
Data hasil respon tersebut dianalisis dengan menggunakan rumus :
Ti =

Xi
x 100
%
N

Keterangan :
Ti : Presentase respon peserta didik
Xi : skor respon peserta didik yang muncul.
N : total seluruh skor respon peserta didik
Selajutnya, nilai terseut dikonversikan sesuai dengan kreteria tabel 3. 4 berikut :

59

Tabel 3. 4 Kategori Tingkat Respon Peserta didik


Nilai
1,0 1,4
1,5 2,4
2,5
3,5

Kategori
Negatif
Cenderung Negatif

3,4

Cenderung Positif

4,0

Positif

Sumber : (Ardin, 2012)


Data hasil minat peserta didik dianalisis untuk menentukan tahapan/minat
peserta didik terhadap pembelajaran yang berlangsung. Data hasil minat yang
diperoleh berdasarkan angket minat belajar peserta didik dianalisis dengan
menggunakan empat kategori yaitu kategori sangat tidak berminat (StB) akan
diberi nilai 1, kategori tidak berminat (TB) akan diberi nilai 2, Kurang berminat
(KB) akan diberi nilai 3, Berminat (B) akan diberi nilai 4 dan Sangat berminat
(SB) akan diberi nilai 5.
Ti =

Xi
x 100
%
N

Keterangan :
Ti : Presentase minat peserta didik
Xi : skor minat peserta didik yang muncul.
N : total seluruh skor minat peserta didik
Gain adalah selisih antara nilai pretest dan posttest. Gain menunjukkan
peningkatan hasil belajar matematika peserta didik setelah pembelajaran
dilakukan guru. Hal ini dilakukan untuk mengindari hasil kesimpulan penelitian
bias. Kelebihan penggunaan pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar
peserta didik ditinjau berdasarkan perbandingan nilai gain yang dinormalisasi,
yang dapat dihitung dengan persamaan (Redhana: 2010)

60

g=

nilai posttestnilai pretest


nilai maksimal ( ideal )nilai pretest

Tinggi rendahnya gain yang dinormalisasi (N-gain) dapat diklasifikan


sebagai berikut:
Tabel 3.5. Pengkategorian Nilai Gain
Interval Nilai gain (g)
g 0,7
0,3 g < 0,7
g < 0,3
Sumber: Redhana : 2010

Kategori
Tinggi
Sedang
Rendah

Jenis data berupa hasil belajar peserta didik selanjutnya dikategorikan


secara kuantitatif. Menurut Arikunto (dalam Kahabuddin: 2016), mengemukakan
bahwa skala lima adalah suatu pembagian tingkatan yang terbagi atas lima
kategori yaitu sebagai berikut:
2.

Analisis statistik inferensial


Statistik Inferensial digunakan untuk menguji hipotesis: (1) rata-rata hasil

belajar matematika peserta didik melebihi KKM, (2) ada peningkatan nilai (gain)
rata-rata hasil belajar peserta didik, (3) ketuntasan belajar peserta didik secara
klasikal diatas 84%, (4) respons peserta didik cenderung positif, serta (6) melihat
perbedaan model yang terapkan dalam proses pembelajaran. Karena hipotesis
yang diuji adalah kesamaan tiga rata-rata, maka digunakan analisis varians
(anova) satu jalur dengan syarat (1)

populasi berdistribusi normal, variansi

populasi homogen dan variabel terikat berskala rasio/interval, Siregar (2014: 268).

a. Menguji normalitas

61

Uji normalitas merupakan langkah awal dalam menganalisis data secara


spesifik. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berdistribusi
normal atau tidak. Pada penelitian ini digunakan uji Kolmogorov-Smirnov atau uji
Shapiro-Wilk dengan menggunakan taraf sigifikansi 5% atau 0,05,
H 0 : Populasi berdistribusi normal.
H 1 : Populasi tidak berdistribusi normal..
dengan syarat:
Jika pvalue 0,05 maka distribusinya adalah normal.
Jika Pvalue < 0,05 maka distribusinya adalah tidak normal.
b.

Menguji homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah ketiga kelompok

data populasi mempunyai variansi atau keragaman nilai yang sama atau tidak. Uji
homogenitas merupakan salah satu prasyarat analisis data statistik parametrik
pada teknik komparasional. Pada penelitian ini digunakan uji homogenitas dengan
menggunakan taraf sigifikansi = 5%.
H0:
H1:

2
1 =

2
1

2
2

dengan syarat:
Jika Pvalue 0,05 maka kedua variansi sama.
Jika Pvalue < 0,05 maka kedua variansi berbeda.
c. Pengujian hipotesis
Pengujian hipotesis ini menggunakan onesample test uji T (Tiro: ) dengan
taraf signifikan 5% pada aplikasi SPSS versi 18.

62

I. Hipotesis Kerja
Untuk pengujian secara statistik maka dirumuskan hipotesis Statistik
yaitu:
1. Hipotesis statistik kerja dengan model pembelajaran berbasis proyek
a. Hasil belajar peserta didik
1) Rata-rata hasil belajar peserta didik setelah diajar dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis proyek lebih besar dari 74,9 (KKM)
H 0 : 1 74,9
H 1 : 1 >74,9
lawan
1

: Proporsi skor rata-rata hasil belajar peserta didik

H0:

Hasil belajar peserta didik kurang dari atau sama dengan KKM

(74,9) dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.


H 1 : Hasil belajar peserta didik lebih dari KKM (74,9) dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.
2) Rata-rata gain ternormalisasi peserta didik setelah diajar dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek lebih besar dari 74,9
(KKM)
H 0 : g 0,29
g

lawan

H 1 : g >0,29

: Proporsi rata-rata gain ternormalisasi peserta didik

H 0 : Peningkatan nilai peserta didik kurang dari atau sama dengan 0,29
(kategori sedang) dengan menggunakan model pembelajaran berbasis
proyek.
H 1 : Peningkatan nilai peserta didik lebih dari 0,29 (kategori sedang)
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.
3) Ketuntasan

belajar

peserta

didik

dengan

menggunakan

pembelajaran berbasis proyek secara klasikal lebih besar dari 84%:


H 0 : 84

lawan

H 1 : >84

model

63

: Proporsi ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal.

H0:

Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal kurang dari atau

H1:

sama dengan 84% dengan menggunakan model pembelajaran


berbasis proyek.
Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal lebih dari 84%
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.

b. Respons peserta didik


Skor rata-rata respons peserta didik setelah diajar dengan menggunakan
model pembelajaran

berbasis proyek lebih efektif dari model pembelajaran

berbasis masalah lebih besar dari 3,49 (kategori positif).


c. Minat belajar peserta didik
Skor rata-rata minat belajar peserta didik setelah diajar dengan
menggunakan model pembeajaran berbasis proyek lebih efektif dari model
pembelajaran berbasis masalah kategori tinggi.
2. Hipotesis statistic kerja model pembelajaran berbasis masalah
a. Hasil belajar peserta didik
1) Rata-rata hasil belajar peserta didik setelah diajar dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah lebih besar dari 74,9 (KKM)
H 0 : 1 74,9
H 1 : 1 >74,9
lawan
1

: Proporsi skor rata-rata hasil belajar peserta didik

H0:

Hasil belajar peserta didik kurang dari atau sama dengan

H1:

KKM (74,9) dengan menggunakan model pembelajaran berbasis


masalah.
Hasil belajar peserta didik lebih dari KKM (74,9) dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

64

2) Rata-rata gain ternormalisasi peserta didik setelah diajar dengan menggunakan


model pembelajaran berbasis masalah lebih besar dari 74,9 (KKM)
H 0 : g 0,29
g

lawan

H 1 : g >0,29

: Proporsi rata-rata gain ternormalisasi peserta didik

H 0 : Peningkatan nilai peserta didik kurang dari atau sama dengan 0,29
(kategori sedang) dengan menggunakan
berbasis masalah.

model pembelajaran

H 1 : Peningkatan nilai peserta didik lebih dari 0,29 (kategori sedang)


dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
3) Ketuntasan belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah secara klasikal lebih besar dari 84%:
H 0 : 84

lawan

H 1 : >84

: Parameter ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal.

H0:

Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal kurang dari atau

H1:

sama dengan 84% dengan menggunakan model pembelajaran


berbasis masalah.
Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal lebih dari 84%
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

b. Respons peserta didik


Skor rata-rata respons peserta didik setelah diajar dengan menggunakan
model pembelajaran

berbasis proyek lebih efektif dari model pembelajaran

berbasis masalah lebih besar dari 3,49 (kategori positif).


c. Minat belajar peserta didik

65

Skor rata-rata minat belajar peserta didik setelah diajar dengan


menggunakan model pembeajaran berbasis proyek lebih efektif dari model
pembelajaran berbasis masalah kategori tinggi.

66

3. Hipotesis statistik k e r j a model pembelajaran berbasis proyek dan model


pembelajaran berbasis masalah.
a. Hasil belajarpeserta didik
1) Skor rata-rata posttest peserta didik setelah diajar dengan model pembelajaran
berbasis proyeek dan model pembelajaran berbasis masalah.
H 0: 1 2
H1:
1 > 2
lawan
1
2

: Proporsi skor rata-rata posttes peserta didik dengan model


pembelajaran berbasis proyek.
: Proporsi skor rata-rata posttes peserta didik dengan model

pembelajaran masalah.
H 0 : skor rata-rata posttest peserta didik setelah diajar dengan model
pembelajaran berbasis proyek kurang atau sama efektif dari model
pembelajaran berbasis masalah.

H 1 : skor rata-rata posttest peserta didik setelah diajar dengan model


pembelajaran berbasis proyek lebih efektif dari model pembelajaran
berbasis masalah
2) Skor rata-rata gain ternormalisasi model pembelajaran berbasis proyek dan
model pembelajaran berbasis masalah.
H 0 : g 1 g 2
g 1

lawan

H1:

1 > 2

: Proporsi skor rata-rata gain ternormalisasi peserta didik setelah

diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek.


g 2 : Proporsi skor rata-rata gain ternormalisasi peserta didik setelah
diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah.
H 0 : skor rata-rata gain ternormalisasi model pembelajaran berbasis
proyek kurang atau sama efektif dari model pembelajaran berbasis
masalah.

H 1 : skor rata-rata gain ternormalisasi model pembelajaran berbasis


proyek lebih efektif dari model pembelajaran berbasis masalah.

67

3) Ketuntasan secara klasikal peserta didik yang diajar dengan model


pembelajaran berbasis proyek dan model pembelajaran berbasis masalah.
H 0: 1 2
H1:
1 > 2
lawan
1 : Proporsi ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal peserta
didik setelah diajar dengan model pembelajaran berbasis proyek.
2 : Proporsi ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal peserta
didik setelah diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah.

H 0 : ketuntasan secara klasikal peserta didik yang diajar dengan model


pembelajaran berbasis proyek kurang atau sama efektif dengan model
pembelajaran berbasis masalah.

H 1 : ketuntasan secara klasikal peserta didik yang diajar dengan model


pembelajaran berbasis proyek
pembelajaran berbasis masalah..

lebih

efektif

dengan

model

b. Respons peserta didik


Skor rata-rata respons peserta didik setelah diajar dengan menggunakan
model pembelajaran

berbasis proyek lebih efektif dari model pembelajaran

berbasis masalah lebih besar dari 3,49 (kategori positi).


c. Minat belajar peserta didik
Skor rata-rata minat belajar peserta didik setelah diajar dengan
menggunakan model pembeajaran berbasis proyek lebih efektif dari model
pembelajaran berbasis masalah kategori tinggi.
J. Kriteria Keefektifan Pembelajaran Matematika
Kriteria keefektifan pembelajaran matematika secara analitik ditinjau dari
setiap indikator keefektifan pembelajaran matematika
1. Hasil belajar matematika peserta didik
a) Secara deskriptif

68

Hasil belajar matematika peserta didik dikatakan efektif apabila secara


deskriptif memenuhi kriteria sebagai berikut:
Skor rata-rata hasil belajar peserta didik untuk post-test melebihi KKM
(69,9)
Rata-rata gain ternormalisasi minimal berada pada kategori sedang
Ketuntasan peserta didik secara klasikal lebih dari 84%

b) Secara inferensial
Skor rata-rata hasil belajar peserta didik untuk post-test melebihi KKM
(69,9)
Terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik yaitu skor rata-rata
posttest lebih besar daripada skor rata-rata pretest (rata-rata gain
ternormalisasi melebihi 0,29)
Ketuntasan peserta didik secara klasikal lebih dari 84%
2. Aktivitas peserta didik dalam pembelajaran
Aktivitas peserta didik dikatakan efektif apabila secara deskriptif skor
aktivitas peserta didik minimal berada pada kategori baik atau skor aktivitas
peserta didik lebih dari 2,4
3. Respons peserta didik
Respons peserta didik dikatakan efektif apabila secara deskriptif skor
respon peserta didik berada pada kategori positif atau skor respon peserta didik
lebih dari 2,4
Untuk lebih jelasnya penjelasan kriteria keefektifan pembelajaran
matematika secara analitik diatas dapat kita lihat di tabel 3.14 sebagai berikut:
Tabel 3. 6 Matriks Kriteria Keefektifan Setiap Indikator Kefektifan Model
Pembelajaran

>69,9

gain di
kategori
Sedang

p>84%

>69,9

>84%

>69,9

>84%
>0,29

x
>2,

>83,

>2,

>2,

>83,

Ket:

x
: Skor rata-rata

x
gain

: Skor rata-rata peningkatan nilai belajar


: Ketuntasan klasikal
: Skor rata-rata posttest
: Skor rata-rata gain ternormalisasi

: Proporsi

Kriteria umum yang digunakan pada penelitian ini untuk menentukan


keefektifan suatu pendekatan pembelajaran yakni apabila tiga kriteria dari empat
indikator keefektifan yang telah ditetapkan terpenuhi, dengan syarat indikator
hasil belajar dan aktivitas terpenuhi.
4. Minat belajar peserta didik
Minat belajar siswa dikatakan efektif apabila secara deskriptif skor minat
siswa minimal berada pada kategori berminat atau skor minat belajar lebih dari
83,9 minat tinggi

Minat Belajar

>2,

Respons

Aktivitas

normalisasi Gain

Posttest

Sering(Kategori) Minat Belajar

Aktivitas (Kategori)

>0,29

Sering

p>84%

Baik

>69,9

gain di
kategori
Sedang

asikal KetuntasanKl

Peningkatan
nilai (kategori)

Posttest

Hasil Belajar
Klasikal Ketuntasan

Model Pembelajaran

Hasil Belajar

Inferensial
positif Cenderug Respons (Kategori)
positif Cenderug

Analisis
Deskriptif

Baik

masalah Berbasis
Proyrek Berbasis

No

69

70

K. Kriteria Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Matematika


Perbandingan keefektifan setiap indikator keefektifan pembelajaran
matematika, apabila minimal tiga indikator keefektifan untuk model tersebut lebih
baik dari pada tiga indikator yang sama untuk model lainnya dengan catatn
indikator hasil belajar dan aktivitas harus lebih baik
a.

Perbandingan indikator hasil belajar


untuk model pembelajaran secara deskriptif dan inferensial
Tabel 3. 7 Perbandingan Indikator Hasil Belajar Untuk Model Pembelajaran
Secara Deskriptif dan Inferensial

a.

No

Aspek

Deskriptif

1
2

Posttest
Gain
Ketuntasan

KKM (I)>KKM (II)/


Gain (I)> Gain(II)/

KKM (I)>KKM (II)/


Gain (I)> Gain(II)/

KK(I)>KK(II)/

KK(I)>KK(II)/

Ket:
KKM (I)
KKM (II)
Gain (I)
Gain (II)
KK (I)
KK (II)

b.

Klasikal

Inferensial

: hasil belajar dengan model pembelajaran berbasis proyek.


: hasil belajar dengan model pembelajaran berbasis masalah.
: peningkatan nilai dengan model pembelajaran berbasis proyek.
: peningkatan nilai dengan model pembelajaran berbasis masalah.
: ketuntasan klasikal dengan model pembelajaran berbasis proyek.
: ketuntasan klasikal dengan model pembelajaran berbasis masalah.

Perbandingan aktivitas, respons


minat belajar untuk model pembelajaran secara deskriptif.

dan

Tabel 3. 8 Perbandingan Aktivitas, Respons dan Minat Belajar Untuk Model


Pembelajaran Secara Deskriptif

b.

No

Aspek

1
2
3

Aktivitas
Minat Belajar
Respons

Ket:
A (I)
A (II)
M (I)

Deskriptif
A(I)>A (II)/
M(I)>M (II)/
R(I)>R (II)/

: aktivitas siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis proyek.


: aktivitas siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis masalah.
: minat belajar siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis proyek.

71
M (II)
R (I)
R (II)

: minat belajar siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis masalah.


: respons siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis proyek.
: respons siswa setelah pembelajaran dengan model berbasis masalah.

L. Kriteria Tingkat Keefektifan Model Pembelajaran Secara Holistik


Adapun untuk menentukan skor rata-rata untuk setiap indikator
keefektifan digunakan rubrik sebagai berikut.
Tabel 3. 9 Rubrik Penskoran Masing-Masing Indikator Keefektifan
Hasil Belajar (HB)

Aktivitas Siswa (A)

Minat Belajar (M)

Respons Siswa (R)

posttest + X
gain ( 100 ) + KKa1 A 1+ a2 A 2+ +an A n m1 M 1 +m2 M 2 ++ mnrM
X
1 Rn1 +r 2 R 2+ +r n Rn
a1 +a2 ++ an
m1+ m2 ++ m n
r 1 +r 2 ++r n
3

HB ' =

3
HB
100

'

E=

3 H B +2 AS+ MB+ R
7

Ket:

X post test = rata-rata hasil belajar siswa pada post-test


X gain

= rata-rata gain ternormalisasi

KK = persentase ketuntasan klasikal


an

= bobot aspek aktivitas siswa ke-n

An

= rata-rata aspek aktivitas siswa ke-n

mn

= bobot aspek minat belajar siswa ke-n

M n = rata-rata aspek minat belajar siswa ke-n


rn

= bobot aspek respons siswa ke-n

Rn

= rata-rata aspek respons siswa ke-n

= skor keefektifan pembelajaran

72

Rumus keefektifan pembelajaran di atas diperoleh berdasarkan pemikiran


secara rasional bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah masih mengutamakan
sasaran hasil belajar sebagai sasaran pokok sehingga bobotnya diberi 3. Sasaran
hasil belajar tentu dapat dicapai dengan aktivitas yang baik pula. Namun hasil
belajar tetap lebih diprioritaskan sehingga pemberian bobot untuk komponen
aktivitas siswa adalah 2. minat belajar siswa diberi bobot 1, Adapun respon siswa
diberi bobot 1 sebab komponen ini dipandang tidak lebih utama dari hasil belajar,
aktivitas siswa, dan minat belajar siswa.
Untuk menentukan tingkat keefektifan dari setiap pembelajaran digunakan
kategori sebagai berikut.
Tabel 3.10 Kategori Skor Keefektifan Pembelajaran
E

Kategori

1,0 1,4
1,5 2,4
2,5 3,4
3,5 4,0
Sumber: Hasmiati (2013)

Tidak Efektif
Kurang Efektif
Cukup Efektif
Sangat Efektif

Selanjutnya, kriteria yang digunakan untuk membandingkan dua


pembelajaran

misalkan

pembelajaran (I)

dan

Pembelajaran

pembelajaran (I) dikatakan lebih efektif dari pada pembelajaran (II).

(II), yakni