Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA An. U DENGAN


TETANUS DI RUANG KANAK-KANAK (ASTER)
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

DISUSUN OLEH:
SATRIYO BAYU DWI KRISNA, S.Kep. 15.0103.1028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2015

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA An. U DENGAN


TETANUS DI RUANG KANAK-KANAK (ASTER)
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

DISUSUN OLEH:
SATRIYO BAYU DWI KRISNA, S.Kep. 15.0103.1028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2015
LAPORAN PENDAHULUAN
TETANUS
A. PENGERTIAN
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa
disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan kuman secara langsung,
tetapi sebagai dampak eksotoksin (tetanoplasmin) yang dihasilkan oleh kuman pada
sinaps ganglion sambungan sumsum tulang belakang, sambungan neuro muscular
(neuro muscular jungtion) dan saraf autonom (Pramuditya, 2014)
B. ETIOLOGI
Penyebab tetanus adalah bakteri anaerob pembentuk spora bernama
Clostridium Tetani.Basil gram positif ini ditemukan dalam feses manusia dan hewan,
serta di tanah. Spora dapat dorman selama bertahun-tahun, tetapi jika terkena luka,
spora akan berubah menjadi bentuk vegetative yang menghasilkan toksin. (Tanto,
2014).
C. KLASIFIKASI

Klasifikasi tetanus berdasarkan bentuk klinis yaitu:


Tetanus local: Biasanya ditandai dengan otot terasa sakit, lalu timbul rebiditas dan
spasme pada bagian proksimal luar. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu
dan menghilang.
1. Tetanus sefalik: Varian tetanus local yang jarang terjadi. Masa inkubasi 1-2
hari terjadi sesudah otitis media atau luka kepala dan muka. Paling menonjol
adalah disfungsi saraf III, IV, VII, IX, dan XI tersering saraf otak VII diikuti
tetanus umum.
2. Tetanus general: yang merupakan bentuk paling sering. Spasme otot, kaku
kuduk, nyeri tenggorokan, kesulitan membuka mulut, rahang terkunci
(trismus), disfagia. Timbul kejang menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi
ekstremitas bagian bawah. Pada mulanya, spasme berlangsung beberapa detik
sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi.
3. Tetanus neonatorum: biasa terjadi dalam bentuk general dan fatal apabila
tidak ditanggani, terjadi pada anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak
imunisasi secara adekuat, rigiditas, sulit menelan ASI, iritabilitas, spasme.
Klasifikasi beratnya tetanus :
1. Derajat I (ringan): trismus (kekakuan otot mengunyah) ringan sampai
sedang, spasitas general, tanpa gangguan pernafasan, tanpa spasme,
sedikit atau tanpa disfagia
2. Derajat II (sedang): trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas, spasme
singkat ringan sampai sedang, gangguan pernapasan sedang RR 30x/
menit, disfagia ringan.
3. Derajat III (berat): trismus berat, spastisitas generaisata, spasme reflek
berkepanjangan, RR 40x/ menit, serangan apnea, disfagia berat,
takikardia 120.
4. Derajat IV (sangat berat): derajat tiga dengan otomik berat melibatkan
sistem kardiovaskuler. Hipotensi berat dan takikardia terjadi perselingan
dengan hipotensi dan bradikardia, salah satunya dapat menetap
(Pramuditya, 2014).

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Tetanus Generalisata
Tetanus generalisata merupakan bentuk yang paling dijumpai.Awalnya dapat
berupa tetanus local yang berkembang luas setelah beberapa hari. Gejala yang
sering muncul :
a. Hipertonus otot
b. Spasme
c. Trismus: perasaan kaku pada rahang dan leher, biasanya penderita sulit
membuka mulutnya.
d. Kaku dileher, bahu, serta ekstremitas (biasanya terekstensi)
e. Abdomen papan (Abdomen terasa keras dan rata)
f. Risus sardonicus: kontraksi pada otot wajah (otot bibir mengalami
retraksi, mata tertutup parsial karena kontraksi M. orbicularis oculi alis
terelevasi karena spasme otot frontalis).
g. Opistotonus: kontraksi pada otot punggung sehingga menyebabkan
perubahan bentuk menjadi melengkung.
h. Spasme pada otot-otot pernafasan
2. Tetanus Lokal
Tetanus local merupakan yang paling ringan dibandingkan tetanus
lainnya.Biasanya gejala yang muncul berupa rasa kaku, kencang, dan nyeri
pada otot disekitar luka.Seringkali terjadi spasme dan twitching dari otot yang
terkena.
3. Tetanus Sefalik
Tetanus sefalik biasanya terjadi setalah adanya luka pada kepala atau
wajah.Periode inkubasi biasanya pendek, hanya sekitar 1-2 hari.Terjadi
kelemahan dan paralisis otot-otot wajah.Pada periode spasme, otot wajah
biasanya berkontraksi.Spasme bisa melibatkan lidah dan tenggorokan
sehingga terjadi disartria, disfonia, dan disfagia.Seringkali tetanus sefalik
berkembang menjadi tetanus generalisata (Tanto, 2014).
E. DIAGNOSIS
1. Anamneses
a. Pertanyaan seputar luka sangat penting, terutama waktu terkena luka serta
waktu dari luka sampai muncul gejala. Selain itu tanyakan lokasi luka,
jenis luka (kotor atau bersih).
b. Port dentre lain seperti penggunaan jarum suntik, adanya otitis media
supuratif kronik berulang, dan lainnya.
c. Riwayat imunisasi tetanus

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai tanda dan gejala yang telah dituliskan
dalam manifestasi klinis
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium biasanya tidak menunjukkan perubahan (Tanto,
2014).

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. EKG: interval CT memanjang karena segment ST.

Bentuk takikardi

ventrikuler (Torsaderde pointters)


2. Pada tetanus kadar serum 5-6 mg/al atau 1,2-1,5 mmol/L atau lebih rendah
kadar fosfat dalam serum meningkat.
3. Sinar X tulang tampak peningkatan denitas foto Rontgen pada jaringan
subkutan atau basas ganglia otak menunjukkan klasifikasi.
G. PENATALAKSANAAN
1. Netralisasi toksin dengan tetanus antitoksin (TAT)
a. hiperimun globulin (paling baik)
Dosis: 3.000-6.000 unit IM
Waktu paruh: 24 hari, jadi dosis ulang tidak diperlukan
Tidak berefek pada toksin yang terikat di jaringan saraf; tidak dapat
menembus barier darah-otak
b. Pemberian ATS (anti tetanus)
ATS profilaksis diberikan untuk (luka yang kemungkinan terdapat
clostridium: luka paku berkarat), luka yang besar, luka yang terlambat
dirawat, luka tembak, luka yang terdapat diregio leher dan muka, dan
luka-luka tusuk atau gigitan yang dalam) yaitu sebanyak 1500 IU 4500
IU. ATS terapi sebanyak > 1000 IU, ATS ini tidak berfungsi membunuh
kuman tetanus tetapi untuk menetralisir eksotoksin yang dikeluarkan
clostridium tetani disekitar luka yang kemudian menyebar melalui
sirkulasi menuju otak.
Untuk terapi, pemberian ATS melelui 3 cara yaitu:
Di suntik disekitar luka 10.000 IU (1 ampul)
IV 200.000 IU (10 ampul lengan kanan dan 10 ampul lengan kiri)
IM di region gluteal 10.000 IU

2. Perawatan luka
a. Bersihkan, kalau perlu didebridemen, buang benda asing, biarkan
terbuka (jaringan nekrosis atau pus membuat kondisis baik C. Tetani
untuk berkembang biak)
b. Penicillin G 100.000 U/kg BB/6 jam (atau 2.000.000 U/kg BB/24 jam
IV) selama 10 hari
c. Alternatif
Tetrasiklin 25-50 mg/kg BB/hari (max 2 gr) terbagi dalam 3 atau 4
dosis
Metronidazol yang merupakan agent anti mikribial.
Kuman penyebab tetanus terus memproduksi eksotoksin yang
hanya dapat dihentikan dengan membasmi kuman tersebut.
3. Berantas kejang
a. Hindari rangsang, kamar terang/silau, suasana tenang
b. Preparat anti kejang
c. Barbiturat dan Phenotiazim
d. Sekobarbital/Pentobarbital 6-10 mg/kg BB IM jika perlu tiap 2 jam
untuk optimum level, yaitu pasien tenag setengah tidur tetapi berespon
segera bila dirangsang
e. Chlorpromazim efektif terhadap kejang pada tetanus
f. Diazepam 0,1-0,2 mg/kg BB/3-6 jam IV kalau perlu 10-15 mg/kg
BB/24 jam: mungkin 2-6 minggu
4. Terapi suportif
a. Hindari rangsang suara, cahaya, manipulasi yang merangsang
b. Perawatan umum, oksigen
c. Bebas jalan napas dari lendir, bila perlu trakeostomi
d. Diet TKTP yang tidak merangsang, bila perlu nutrisi parenteral,
hindari dehidrasi. Selama pasase usus baik, nutrisi interal merupakan
pilihan selain berfungsi untuk mencegah atropi saluran cerna.
e. Kebersihan mulut, kulit, hindari obstipasi, retensi urin
H. PENCEGAHAN
1. Imunisasi tetanus
Dipertimbangkan proteksi terhadap tetanus selama 10 tahun setelah suntikan
a. DPT vaksin pada bayi dan anak-anak
b. Td vaksin digunakan pada booster untuk remaja dan dewasa.
Ada juga yang menganjurkan dilakukan imunisasi setiap interval 5 tahun
2. Membersihkan semua jenis luka setelah injuri terjadi, sekecil apapun.
3. Melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya (Pramuditya, 2014)

I. PATHWAY
(Nurarif, 2015).
tetanolisin
Masuk & menyebar ke SSP
Ke SSP
Menghambat pelepasan
asetilkolin
Tonus otot meningkat &
kontraksi otot meningkat
Spasme otot

Spora bentuk vegetative


masuk dalam tubuh

Invasi kuman melalui, otitis media,


luka tusuk, luka bakar, infesi gigi,
ulkus kulit kronis, tali pusat

Tetanospasmin
Mengenai system saraf
simpatis

Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
Otot ekstremitas

Hipoksia berat

Retensi urine & alvi


Penurunan O2 diotak
Gangguan eliminasi
Kesadaran menurun
Otot rahang trimus

Otot faring dan laring


Peningkatan secret, ronchi

Keringat berlebihan,
peningkatan suhu,
takikardia, aritmia

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Akumulasi secret saliva,
reflex batuk menurun,
kesulitan menelan
Otot tubuh, otot muka,
perut seperti papan

Penurunan kapasitas
adaptif intrakranial

Risiko aspirasi

Otot leher kaku kuduk

Fleksi tangan & ekstensi


kaki
Risiko cedera
J. MASALAH KEPERAWATAN
Gangguan rasa nyaman
1.hospitalisasi
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
jalan
nyeri
Cortek serebri
Kejang umum spontan
napas
ansietas
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi)
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
penurunan reflek menelan, intake kurang (Nurarif, 2015)

K. RENCANA TINDAKAN KEPERAWTAN


1. Diagnosa: hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan:suhu tubuh normal
Kriteria Hasil:36-37oC, hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.00010.000/mm3
INTERVENSI
1. Lakukan manajemen termoregulasi
a. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
b. Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
c. Kompres sesuai kondisi
d. Atur suhu ruangan

Iklim

RASIONAL
lingkungan

dapat

mempengaruhi kondisi dan suhu


tubuh individu sebagai suatu proses
adaptasi melalui proses evaporasi
dan konveksi
Cairan-cairan

membantu

menyegarkan badan dan merupakan


kompresi badan dari dalam
Identifikasi perkembangan gejala-

2. Monitor dan evaluasi


a. TTV
gejala ke arah syok exhaution.
b. tanda-tanda hipotermia dan
hipertermia
3. berikan
informasi
tentang Informasi
yang
akurat
perawatan
klien
gangguan
meningkatkan kerja sama perawat
termoregulasi
dan keluarga dalam mengatasi
4. kolaborasi
berikan antibiotik dan antipiretik
sesuai indikasi

masalah keperawtan yang terjadi


Obat-obat
antibakterial
dapat
mempunyai spektrum lluas untuk
mengobati bakteri gram positif atau
bakteria gram negatif. Antipieretik
bekerja

sebagai

proses

termoregulasi untuk mengantisipasi


panas.
2. Diagnosa: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
obstruksi jalan napas
Tujuan: Jalan nafas efektif
Kriteria hasil:Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada
- Pernafasan 16-18 kali/menit

- Tidak ada pernafasan cuping hidung


- Tidak ada tambahan otot pernafasan
- Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam batas
normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-100 mmHg)
INTERVENSI
RASIONAL
1. Lakukan manajemen bersihan
jalan nafas
2. Monitor dan evaluasi
Dyspneu, sianosis merupakan tanda
a. TTV
terjadinya gangguan nafas disertai
b. Timbulnya gagl nafas
dengan kerja jantung yang menurun
timbul takikardia dan capilary refill
time yang memanjang/lama.
Ketidakmampuan tubuh dalam
proses

respirasi

intervensi

yang

diperlukan
kritis

dengan

menggunakan alat bantu pernafasan


(mekanical ventilation).
3. Berikan
informasi
tentang Informasi
yang
akurat
bagaimana
pentingnya
oral
meningkatkan kerja sama perawat
hygiene
dan keluarga dalam mengatasi
4. Kolaborasi
berikan

masalah keperawtan yang terjadi


Obat mukolitik dapat mengencerkan
obat

sekresi(mukolitik)

pengencer

sekret

yang

mempermudah

kental

sehingga

pengeluaran

dan

memcegah kekentalan
3. Diagnosa: Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi)
Tujuan:Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol
Kriteria hasil: Pasien dapat tidur dengan tenang Mengungkapkan penurunan
rasa sakit.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Lakukan menajemen nyeri
Menurunkan reaksi terhadap rangsangan
Ajarkan
teknik
non
ekternal atau kesensitifan terhadap
farmakologis: nafas dalam,
relaksasi, distraksi, kompres cahaya dan menganjurkan pasien untuk

hangat atau dingin


2. Monitor dan evaluasi
Reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
Pengkajian nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
3. Berikan informasi tentang nyeri
sperti penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan berkurang dan
antisipasi ketidaknyaman dari
prosedur
4. Kolaborasi:
Berikan
analgetik

untuk

mengurangi nyeri

beristirahat
Untuk
mengetahui

dan

sebagai

intervensi selanjutnya

Informasi yang akurat meningkatkan


kerja sama perawat dan keluarga dalam
mengatasi masalah keperawtan yang
terjadi
Mungkin diperlukan untuk menurunkan
rasa

sakit.

merupakan
berdampak

Catatan

kontraindikasi
pada

status

Narkotika
karena
neurologis

sehingga sukar untuk dikaji.


4. Diagnosa: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan penurunan reflek menelan, intake kurang
Tujuan:Nutritional Status
Kriteria hasil:Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan, Berat
badan ideal sesuai dengan tinggi badan, Mampu mengidentifikasi kebutuhan
nutrisi, Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Keterangan Skala :
INTERVENSI
1. Lakukan manajemen nutrisi

RASIONAL
1. keadaan faal yang sangat lemah,
kondisi fisik yang lemah dapat
mengurangi intake nutrisi berkurang
2. Monitor dan evaluasi
2. sebagai indikasi keberhasilan
a. BB, TB, LiLa, Lk, LD
tindakan yang telah dilakukan
b. Intake dan output nutrisi
selama perawatan
3. Berikan
informasi
kepada 3.Dampak dari tetanus adalah
keluarga tentang pemenuhan adanya
kekakuan
dari
otot
nutrisi pada anak dengan tetanus pengunyah
sehingga
klien
mengalami kesulitan menelan dan
kadang timbul refflek balik atau
kesedak.
Dengan
tingkat
pengetahuan
yang
adequat

4. Kolaborasi
Pemberian diit TKTP cair, lunak

diharapkan
klien
dapat
berpartsipatif dan kooperatif dalam
program diit.
Diit yang diberikan sesuai dengan
keadaan klien dari tingkat membuka

atau bubur kasar, Pemberian

mulut dan proses mengunyah.


cairan perinfus diberikan pada Pemberian cairan perinfus diberikan
klien dengan ketidakmampuan pada klien dengan ketidakmampuan
mengunyak

atau

tidak

bisa mengunyak atau tidak bisa makan

makan lewat mulut sehingga lewat mulut sehingga kebutuhan


kebutuhan

nutrisi

terpenuhi, nutrisi terpenuhi.


NGT dapat berfungsi sebagai
Pasang NGT bila perlu.
masuknya makanan juga untuk
memberikan obat.
(Rohmah, 2012), (Doenges, 2000), (Intianur, 2013)

DAFTAR PUSTAKA

Doenges Marilyn E, Moorhouse Mary F, Geissler Alice C, (2000). Rencana Asuhan


Keperawatan. EGC.
Intianur,

F. (2013). Laporan Pendahuluan Tetanus.http: //firwanintianur93


.blogspot.co.id/2013/05/laporan-pendahuluan-tetanus.html.diakses tanggal 7
november 2015

Nurarif AH, Kusuma H, (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkn diagnosa


medis & NANDA NIC NOC. Edisi revisi. jilid 3. Mediaction, Yogyakarta.
Pramuditya, A, (2014).Laporan Pendahuluan Tetanus.http: //arindracase
.blogspot.co.id/2014/10/laporan-pendahuluan-tetanus.html. Diakses tanggal7
november 2015
Rohmah & Walid, (2012).Proses Keperawatan. Ar-Ruzz Media, Jogyakarta.
Tanto, C. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta.